- Beranda
- Stories from the Heart
Balai desa merah
...
TS
achanyoe
Balai desa merah
Quote:
]
Untuk Agan agan pembaca setia thread ane terimakasih ane ucapkan atas kesetiannya. Mau menunggu dan bersabar, Ane setelah rutin nulis ini sering diteror gan, mulai dari mimpi aneh. Dan beberapa kejadian yang aneh seperti laptop rusak yang sebelumnya gak kenapa kenapa. Jatuh juga gak padahal dan kemarin sempet sakit juga. Jadi ane ucapkan terimakasih buat pembaca setia thread ane yang mau bersabar.
Dan juga ane ucapkan Mohon maaf lahir dan batin karena ini masih suasana lebaran. Terimakasih.
Yaudah gan langsung aja di nikmati threadnya gan.

Untuk Agan agan pembaca setia thread ane terimakasih ane ucapkan atas kesetiannya. Mau menunggu dan bersabar, Ane setelah rutin nulis ini sering diteror gan, mulai dari mimpi aneh. Dan beberapa kejadian yang aneh seperti laptop rusak yang sebelumnya gak kenapa kenapa. Jatuh juga gak padahal dan kemarin sempet sakit juga. Jadi ane ucapkan terimakasih buat pembaca setia thread ane yang mau bersabar.
Dan juga ane ucapkan Mohon maaf lahir dan batin karena ini masih suasana lebaran. Terimakasih.

Yaudah gan langsung aja di nikmati threadnya gan.

Balai desa merah
Quote:
Part I
Wanita penjaga pintu masuk
Wanita penjaga pintu masuk
Spoiler for Kuntilanak:

Quote:
Waktu itu, gerimis menyambut kedatanganku. Suasana gelap ditambah sepinya jalan yang kulalui membuat suasana malam itu jadi sedikit menakutkan. Supir becak yang umurnya sudah lumayan tua, mengayuh becak dengan tenaga ala kadarnya. Jadilah perjalananku menuju kampugku terasa begitu lama. Waktu itu pukul 9 malam, namun tidak ada satupun warga yang kelihatan. Mungkin faktor gerimis membuat orang orang malas keluar rumah. Jalanan yang kulalui banyak lubang sana sini. Menambah ketidaknyamanan perjalanan ku. Aku heran kenapa jalanan yang sudah hancur lebur seperti ini masih dipiara saja. Apa yang dilakukan pak lurah selama menjabat. Untuk memecah keheningan aku coba mengajak supir becak yang dari tadi susah payah mengayuh becaknya bicara
.
Aku : “Pak ini ko jalan gak dibenerin sih pak, udah ancur gini padahal?”
Pak Becak :“Oh nganu mas, ga tau juga saya udah lama gak dibenerin udah 6 tahun dibiarin gini aja mas”
Aku : “ Udah lama juga yah pak, terakhir saya kesini 6 tahun lalu pak, makannya saya bingung ko jalannya bukan nambah bagus malah nambah parah. Apa ngga ditanyain sama lurahnya Pak”
Pak becak : “ Sudah mas, tapi jawabnya ya gitu mas. Dananya belum ada katanya”
Saat asik berbicara tiba tiba ada sekelebat bayangan lewat tepat didepan becak. Tiba tiba saja aku merinding.
Aku : “ Pak tadi liat ada bayangan lewat ga pak?”
Pak becak tidak menjawab pertanyaanku. Aku coba bertanya lagi namun pak becak masih diam seribu bahasa. Tapi entah kenapa aku merasa becaknya melaju lebih cepat dari sebelumnya. Aku lihat kebelakang pak becak nampak berkeringat disekujur tubuhnya. Lantas ia memberi isyarat kepadaku untuk jangan berbicara. Aku tidak mengerti maksud pak becak. Namun aku yakin isyarat itu ada hubungannya dengan bayangan yang lewat tadi. Aku menurut saja dengan pak becak. Sepanjang jalan kami hanya diam. Dan sepanjang jalan itu juga bulu kudukku merinding bukan main. Sampai akhirnya kami melewati sebuah balai desa. Balai desa itu adalah balai desa kampungku. Balai desa yang tidak terlalu besar namun memiliki lapangan yang luas. Di sisi kanannya ada pohon beringin besar. Didepan balai desa ada 4 pohon cemara yang sudah sangat tinggi. Entah kenapa tepat sampai disini aku merasa pak becak semakin cepat mengayuh becaknya. Firasatku makin tak enak, sepertinya pak becak tau sesuatu tentang tempat ini. Becak melaju dengan cepat gerimis masih menemani perjalanan kami sepi lengang ditambah dengan suasana ganjil ini. Sampai akhirnya kita akan melewati sebuah jembatan. Aku melihat ada wanita yang sedang duduk dijembatan itu. Mengadap kebelakang sambil mengayun ayunkan kakinya. Aku tau kalau itu bukan manusia. Malam malam begini ditambah suasana ganjil ini mana mungkin wanita itu manusia. Aku merinding bukan main. Aku menengok ke pak becak. Terlihat kringat pak becak makin membanjir Dia menggeleng gelengkan kepala dan memberi isyarat kepadaku untuk tetap diam. Aku tak tau harus bagaimana jadi aku menurut saja dengan yang dikatakan oleh pak becak. Wanita itu masih ada di jembatan itu masih mengayun ayukan kakinya. Rambutnya panjang sepinggang. Baju putih yang sudah tercampur dengan tanah menjadi lusuh dan berwarna kecoklat coklatan. Hingga akhirnya kami lewat tepat dibelakangnya aku tak berani menoleh. Bau busuk menusuk hidung. Benar benar busuk baunya sampai sampai aku mau muntah. Kami makin jauh melewati wanita tadi sekarang baunya sudah tidak begitu terasa. Pak becak mulai menghela nafas, becak kembali berjalan lambat. Aku pun sudah tidak mencium bau busuk lagi. Aku mulai memberanikan diri bertanya kembali dengan pak becak.
Aku : “ Pak yang tadi itu bukan manusia kan ?”
Pak becak : “ Demit itu mas, mana mungkin manusia malem malem duduk dijembatan sendirian. Mana perempuan lagi, sebenernya bayangan yang mas liat itu perempuan yang tadi dijembatan mas’
Aku : “ Owh, saya bener bener takut pak. Hampir kencing dicelana saya. Terus tadi kenapa bapak suruh saya diem aja?
Pak Becak : “ Mas emang pas 6 tahun lalu kesini ga tau apa apa mas tentang cerita kampung mas?”
Aku : “ Gak pak, Saya kesini 6 tahun lalu kesini Cuma main beberapa hari aja. Itupun saya naik mobil tau tau udah sampai rumah nenek.”
Pak becak : “ Jalan yang pas mas liat bayangan itu pintu masuk kampung demit mas, didesa mas ini ada kampung demit mas. Nah balai desa sampai ngelewatin jembatan itu pasarnya mas. Kenapa saya suruh mas diem aja. Soalnya konon kalau kita liat penampakan perempuan tadi terus dia noleh kekita terus senyum sambil nunjukin wajah ancurnya dia bakalan buka pintu pasar demitnya mas. Dan kita bisa kesasar disana mas. Kalau kita diem dia kira kita sopan mas.
Aku : Waduh serem amat pak, terus kalau sampai masuk pasar itu gimana pak?
Pak becak : Ya kalau kita ga kuat bisa pingsan dijalan pak. Disana bakalan ditampakin penduduk desa demitnya mas,
Dalam hati aku bersyukur untung ga sampai mampir kepasar demit. Hufft,ibu ku kenapa ga cerita masalah ini yah. Kalau saja sudah diceritakan kan jadi ada persiapan, Mau kirim anaknya buat sekolah dikampung tapi ga bilang apa apa. Untung aja anakmu ga pingsan dijalan.
Pak becak : Mas kan rumahnya deket balai desa jangan aja main kesitu lebih dari jam 9 malem yah mas..
Aku : Emangnya kenapa pak ? Angker yah..
Pak becak : Entar mas juga tau dari orang sini ,, saya ga berani cerita ini masih wilayahnya soalnya mas...
Bersambung ke part II..... lanjut besok ya merinding disko nih ngetiknya
.
Aku : “Pak ini ko jalan gak dibenerin sih pak, udah ancur gini padahal?”
Pak Becak :“Oh nganu mas, ga tau juga saya udah lama gak dibenerin udah 6 tahun dibiarin gini aja mas”
Aku : “ Udah lama juga yah pak, terakhir saya kesini 6 tahun lalu pak, makannya saya bingung ko jalannya bukan nambah bagus malah nambah parah. Apa ngga ditanyain sama lurahnya Pak”
Pak becak : “ Sudah mas, tapi jawabnya ya gitu mas. Dananya belum ada katanya”
Saat asik berbicara tiba tiba ada sekelebat bayangan lewat tepat didepan becak. Tiba tiba saja aku merinding.
Aku : “ Pak tadi liat ada bayangan lewat ga pak?”
Pak becak tidak menjawab pertanyaanku. Aku coba bertanya lagi namun pak becak masih diam seribu bahasa. Tapi entah kenapa aku merasa becaknya melaju lebih cepat dari sebelumnya. Aku lihat kebelakang pak becak nampak berkeringat disekujur tubuhnya. Lantas ia memberi isyarat kepadaku untuk jangan berbicara. Aku tidak mengerti maksud pak becak. Namun aku yakin isyarat itu ada hubungannya dengan bayangan yang lewat tadi. Aku menurut saja dengan pak becak. Sepanjang jalan kami hanya diam. Dan sepanjang jalan itu juga bulu kudukku merinding bukan main. Sampai akhirnya kami melewati sebuah balai desa. Balai desa itu adalah balai desa kampungku. Balai desa yang tidak terlalu besar namun memiliki lapangan yang luas. Di sisi kanannya ada pohon beringin besar. Didepan balai desa ada 4 pohon cemara yang sudah sangat tinggi. Entah kenapa tepat sampai disini aku merasa pak becak semakin cepat mengayuh becaknya. Firasatku makin tak enak, sepertinya pak becak tau sesuatu tentang tempat ini. Becak melaju dengan cepat gerimis masih menemani perjalanan kami sepi lengang ditambah dengan suasana ganjil ini. Sampai akhirnya kita akan melewati sebuah jembatan. Aku melihat ada wanita yang sedang duduk dijembatan itu. Mengadap kebelakang sambil mengayun ayunkan kakinya. Aku tau kalau itu bukan manusia. Malam malam begini ditambah suasana ganjil ini mana mungkin wanita itu manusia. Aku merinding bukan main. Aku menengok ke pak becak. Terlihat kringat pak becak makin membanjir Dia menggeleng gelengkan kepala dan memberi isyarat kepadaku untuk tetap diam. Aku tak tau harus bagaimana jadi aku menurut saja dengan yang dikatakan oleh pak becak. Wanita itu masih ada di jembatan itu masih mengayun ayukan kakinya. Rambutnya panjang sepinggang. Baju putih yang sudah tercampur dengan tanah menjadi lusuh dan berwarna kecoklat coklatan. Hingga akhirnya kami lewat tepat dibelakangnya aku tak berani menoleh. Bau busuk menusuk hidung. Benar benar busuk baunya sampai sampai aku mau muntah. Kami makin jauh melewati wanita tadi sekarang baunya sudah tidak begitu terasa. Pak becak mulai menghela nafas, becak kembali berjalan lambat. Aku pun sudah tidak mencium bau busuk lagi. Aku mulai memberanikan diri bertanya kembali dengan pak becak.
Aku : “ Pak yang tadi itu bukan manusia kan ?”
Pak becak : “ Demit itu mas, mana mungkin manusia malem malem duduk dijembatan sendirian. Mana perempuan lagi, sebenernya bayangan yang mas liat itu perempuan yang tadi dijembatan mas’
Aku : “ Owh, saya bener bener takut pak. Hampir kencing dicelana saya. Terus tadi kenapa bapak suruh saya diem aja?
Pak Becak : “ Mas emang pas 6 tahun lalu kesini ga tau apa apa mas tentang cerita kampung mas?”
Aku : “ Gak pak, Saya kesini 6 tahun lalu kesini Cuma main beberapa hari aja. Itupun saya naik mobil tau tau udah sampai rumah nenek.”
Pak becak : “ Jalan yang pas mas liat bayangan itu pintu masuk kampung demit mas, didesa mas ini ada kampung demit mas. Nah balai desa sampai ngelewatin jembatan itu pasarnya mas. Kenapa saya suruh mas diem aja. Soalnya konon kalau kita liat penampakan perempuan tadi terus dia noleh kekita terus senyum sambil nunjukin wajah ancurnya dia bakalan buka pintu pasar demitnya mas. Dan kita bisa kesasar disana mas. Kalau kita diem dia kira kita sopan mas.
Aku : Waduh serem amat pak, terus kalau sampai masuk pasar itu gimana pak?
Pak becak : Ya kalau kita ga kuat bisa pingsan dijalan pak. Disana bakalan ditampakin penduduk desa demitnya mas,
Dalam hati aku bersyukur untung ga sampai mampir kepasar demit. Hufft,ibu ku kenapa ga cerita masalah ini yah. Kalau saja sudah diceritakan kan jadi ada persiapan, Mau kirim anaknya buat sekolah dikampung tapi ga bilang apa apa. Untung aja anakmu ga pingsan dijalan.
Pak becak : Mas kan rumahnya deket balai desa jangan aja main kesitu lebih dari jam 9 malem yah mas..
Aku : Emangnya kenapa pak ? Angker yah..
Pak becak : Entar mas juga tau dari orang sini ,, saya ga berani cerita ini masih wilayahnya soalnya mas...
Bersambung ke part II..... lanjut besok ya merinding disko nih ngetiknya
Part II Penampakan 4 pocong
Part III Indra
Part IV Si mata merah
Part V Cerita dibalik Kesurupan
Part VI Kembalinya kuntilanak
Part VII Pocong dan Kunti
Thread ane lain di SFTH Tanpa Kaca Mata.. Mampir yah gan
Part VIII - Kebenaran dukun desa
Part IX - Andi, Joni Dan Kuntilanak Merah
Part X - Kamis Sore Horror
Part XI - The Dukun Is Back
Part XII - Kesurupan Bagian Kedua
Part XIII - Penampakan Jin Pendamping
Part XIV - Teror jin pendamping
Part XV - Review Part I - Part XIV
Part XVI - Pak Joko Si Tukang kebun
Part XVII - Pertempuran pak Joko Vs jin Pendamping aka Khadam
Part XVIII - Firasat
Part XIX - Seminggu sebelum kematian pak joko
Part XX - Malam paling mencekam Part I
Part XXI - Malam paling Mencekam Part II
Part XXII - Misteri yang terpecahkan
Part XXIII - Identitas dibalik mbah ngadiman dukun desa misterius
Part XXIV - Kisah Yudi
Part XXV - Munculnya Penolong Baru
Part XXVI - Mendekati akhir cerita
Part XXVII - Bersekutu dengan jin
Part XXVIII - Hidup Atau Mati
Part XIX - Yang Nyata dan Tidak Nyata
Sekuel Balai Desa Merah
Quote:
Original Posted By pipiettripitaka►kebayang kalo jadi film, tp yg garap sineas thailand, kebayang tuh ngeri luar biasa. tengkyu udah berbagi cerita gan,, 5* buat agan,,
Quote:
Original Posted By paking.disgrace►Bagus gan critanya
Bisa membawa pembaca larut dalam alur ceritanya plus ada twist nya
Kasihan juga dengan pak joko, niat menolong nya kuat, sayang agak over PD ketika sukses menundukkan jin pendamping malah langsung nantang ke balai desa.
Udah gregetan pas agan disuruh minum tu air sumur, duh kenapa diminum sih, katanya klo ada hidangan dari jin jangan pernah disentuh.
Dari crita agan dan hasil penjelasan dari ust danu di TV, ternyata emang manusia dan jin berdampingan. Dan klo mo lawan jin, manusia/dukun akan juga mengandalkan jin juga. Mereka yg akan bertempur saling adu kuat. Dan makanan jin adalah sesaji dan memakai tumbal untuk memperbesar kekuatan mereka.
Yg paling baik emang berharap ke Allah semata, yg maha memiliki kekuatan.
Thx gan, atas critanya, jadi memperjelas apa yg selama ini ust danu sering cerita kan
Bisa membawa pembaca larut dalam alur ceritanya plus ada twist nya
Kasihan juga dengan pak joko, niat menolong nya kuat, sayang agak over PD ketika sukses menundukkan jin pendamping malah langsung nantang ke balai desa.
Udah gregetan pas agan disuruh minum tu air sumur, duh kenapa diminum sih, katanya klo ada hidangan dari jin jangan pernah disentuh.
Dari crita agan dan hasil penjelasan dari ust danu di TV, ternyata emang manusia dan jin berdampingan. Dan klo mo lawan jin, manusia/dukun akan juga mengandalkan jin juga. Mereka yg akan bertempur saling adu kuat. Dan makanan jin adalah sesaji dan memakai tumbal untuk memperbesar kekuatan mereka.
Yg paling baik emang berharap ke Allah semata, yg maha memiliki kekuatan.
Thx gan, atas critanya, jadi memperjelas apa yg selama ini ust danu sering cerita kan
Diubah oleh achanyoe 20-01-2019 16:15
arieaduh dan 37 lainnya memberi reputasi
38
146.3K
Kutip
749
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
achanyoe
#401
Quote:
Part XIX - Seminggu sebelum kematian Pak Joko
Quote:
Hari itu adalah hari pemakaman pak joko. Raut sedih terlihat di rumah duka. Istri dan 2 anaknya tampak masih terlihat beberapa kali mengusap air mata di pipinya. Ane yang juga merasakan kehilangan yang sama sempat beberapa kali tak bisa menahan air mata yang mengalir.
Seusai pemakaman ane kembali mengunjungi keluarga pak joko untuk menyampaikan langsung rasa kehilangan ane karena dari tadi istri pak joko tak ada hentinya menangis. Sehingga baru ini ane bisa ngomong langsung dengan istri pak joko.
"Ibu saya turut berduka, atas perginya pak joko. Saya juga minta maaf karena pak joko meninggal mungkin karena saya" Kata ane
"Bukan nak, ini sudah takdirnya. Pak joko pulang, bukan salah siapa siapa. ibu malah senang Suami ibu meninggal karena telah membantu orang" Kata ibu joko sambil berusaha tegar.
"Ia bu, terimakasih untuk ibu dan keluarga yang sudah mau memaafkan dan mau mengerti keadaan saya". Kata ane rada bersyukur disana karena ane agak takut juga di musuhin sama istrinya pak joko.
Setelah ane nyampaikan rasa bela sungkawa ane, ane sebenarnya ingin undur diri pulang tapi istri pak joko. Suruh ane tunggu orang orang pulang ada yang ingin disampaikan kata istri pak joko. Akhirnya ane turutin, karena ane juga penasaran apa yang mau disampaikan sama ibu joko.
Ane nunggu lumayan lama, kira kira 3 jam lebih. BT juga sih sebenernya, waktu itu ane belum punya hp android kaya sekarang jadi nunggu selama itu bener bener berasa. Setelah tamu terakhir pulang akhirnya ane dipanggil kedalam rumah.
Disana ada ibu joko dan 2 anaknya yang masih smp dan sd duduk berdekatan. Ane langsung tanya perihal apa yang ingin disampaikan ibu joko. Ibu joko bercerita sekitar hampir 1 jam. Begini ceritanya,
Malam itu setelah siangnya ane nengokin keadaan pak joko. Malamnya pak joko teriak teriak histeris dikamarnya. Dalam keadaan badannya yang tidak bisa bangun dia seperti diperlihatkan sosok yang hanya bisa diliat pak joko. Ibu joko waktu itu bingung apa yang diliat pak joko.
Pak joko terus terusan teriak, iku setanne, iku setanne.. Sambil menutup matanya dengan bantal. Sehabis teriak teriak pak joko mendadak melotot, matanya seolah olah ingin keluar. Saat ibu joko panik dan ingin meminta pertolongan. Tiba tiba tangan pak joko memegang tangan istrinya. Dan dia nampak sadarkan diri.
"Sudah bu, sudah tidak apa apa" Kata pak joko sambil menghalangi istrinya untuk meminta bantuan.
Tau suaminya seperti sudah sadarkan diri, ibu joko menanyakan apa yang barusan ia liat tadi. Yang membuat pak joko jadi histeris.
Pak joko bilang kalau yang dia liat tadi, tak lain tak bukan adalah jin penguasa balai desa. Dia mengejar pak joko sampai kerumahnya.
Pak joko bilang, kalau jin itu masih sangat marah sama pak joko karena berani beraninya mengusik balai desa tempat dimana ia berkuasa.
Pak joko juga berpesan, mungkin tak lama lagi dia akan menemui ajalnya. Karena jin yang selama ini menolong pak joko atau khadamnya telah kalah dan kini menjadi budak jin balai desa. Karena itu dia kini sudah tak punya pegangan lagi.
Mendengar itu istri pak joko menangis, karena biar bagaimanapun dia gak mau kehilangan suami yang ia cintai itu.
Lalu ibu joko, sempat menanyakan apakah ada yang bisa dilakukan untuk melawan jin itu.
Pak joko menyuruh istrinya untuk berkunjung ke gurunya di daerah gunung kidul, karena pak joko dalam kondisi yang tidak bisa bangun.
Karena itu jalan satu satunya istri pak joko besoknya berangkat sendirian. Anak - anaknya di titipkan di saudaranya.
Ane gak ngebayangin perempuan sendirian ke gunung kidul. Udah itu gak dikasih alamat lengkap cuma dikasih nama doang.
Nama gurunya mbah sarmin, Istrinya udah kesana beberapa hari dia nyari sempet putus asa, sampai akhirnya tiba tiba aja dia ketemu orang yang aneh. Dan ternyata itu jinnya mbah sarmin. Sampainya di tempat gurunya istrinya ceritain masalah yang terjadi semuanya dia ceritain.
Setelah selesai cerita istrinya, minta tolong buat supaya dibantu nolongin pak joko. Tapi istrinya dibuat kecele, gurunya bilang begini.
"Sudah pulang saja, karena saya juga tidak bisa membantu. Ini saya titipkan anak buah saya yang bakalan nemenin kamu dan anak anak kamu dari serangan jin balai desa" Kata mbah sarmin.
Istrinya pak joko sempet memohon, tapi mbah sarmin kekeh bilang gak bisa bantuin. Akhirnya bu joko pulang dengan tangan hampa.
Diperjalanan ibu joko bertanya tanya kenapa gurunya gak bisa membantu. Saat dia lagi memikirkan hal itu, dia baru sadar kalau suaminya sengaja nyuruh istrinya nyari gurunya bukan untuk nyembuhin pak joko melainkan supaya gurunya bisa kasih pelindung untuk anak dan istrinya. Sepanjang perjalanan istrinya pak joko nangis sejadi jadinya. Sampai beberapa orang ada yang nanyain kenapa ibu joko nangis. Tapi ibu joko cuma bilang gak kenapa kenapa.
Sampainya dirumah istrinya pak joko langsung nyamperin suaminya yang kondisinya semakin lemah. Ibu joko nangis sejadi jadinya.
Liat istrinya pulang dengan selamat. Pak joko meneteskan air mata bahagia.
Saat itu tiba tiba aja pak joko, kaya ada yang nyekek. Pak joko diem aja gak ngelawan, mungkin dia udah tau kalau ini waktunya.
Sampai istrinya teriak teriak kebingungan. Dan tetangganya yang juga tukang kebun dateng. Saat tetangganya dateng pak joko udah gak ada.
Itulah terakhir kali pak joko menghebuskan nafas terakhirnya. Istrinya cerita itu sambil beberapa kali ngusap air matanya yang gak berhenti mengalir.
Dan terakhir istrinya bilang kalau gurunya pak joko berpesan penguasa balai desa ingin ane jadi tumbalnya. Jadi jangan libatkan orang lain lagi. Karena ditakutkan bakalan ngerasain hal yang sama kaya pak joko.
Setelah mendengar ceritanya istrinya pak joko dan pesannya ane pamit pulang. Gak lupa ane kasih sedikit uang tabungan ane.
Ane pulang kerumah dengan perasaan sedih, terharu, sekaligus bingung. Apa yang harus ane lakuin sama jin balai desa itu.
Bersambung...
Seusai pemakaman ane kembali mengunjungi keluarga pak joko untuk menyampaikan langsung rasa kehilangan ane karena dari tadi istri pak joko tak ada hentinya menangis. Sehingga baru ini ane bisa ngomong langsung dengan istri pak joko.
"Ibu saya turut berduka, atas perginya pak joko. Saya juga minta maaf karena pak joko meninggal mungkin karena saya" Kata ane
"Bukan nak, ini sudah takdirnya. Pak joko pulang, bukan salah siapa siapa. ibu malah senang Suami ibu meninggal karena telah membantu orang" Kata ibu joko sambil berusaha tegar.
"Ia bu, terimakasih untuk ibu dan keluarga yang sudah mau memaafkan dan mau mengerti keadaan saya". Kata ane rada bersyukur disana karena ane agak takut juga di musuhin sama istrinya pak joko.
Setelah ane nyampaikan rasa bela sungkawa ane, ane sebenarnya ingin undur diri pulang tapi istri pak joko. Suruh ane tunggu orang orang pulang ada yang ingin disampaikan kata istri pak joko. Akhirnya ane turutin, karena ane juga penasaran apa yang mau disampaikan sama ibu joko.
Ane nunggu lumayan lama, kira kira 3 jam lebih. BT juga sih sebenernya, waktu itu ane belum punya hp android kaya sekarang jadi nunggu selama itu bener bener berasa. Setelah tamu terakhir pulang akhirnya ane dipanggil kedalam rumah.
Disana ada ibu joko dan 2 anaknya yang masih smp dan sd duduk berdekatan. Ane langsung tanya perihal apa yang ingin disampaikan ibu joko. Ibu joko bercerita sekitar hampir 1 jam. Begini ceritanya,
Malam itu setelah siangnya ane nengokin keadaan pak joko. Malamnya pak joko teriak teriak histeris dikamarnya. Dalam keadaan badannya yang tidak bisa bangun dia seperti diperlihatkan sosok yang hanya bisa diliat pak joko. Ibu joko waktu itu bingung apa yang diliat pak joko.
Pak joko terus terusan teriak, iku setanne, iku setanne.. Sambil menutup matanya dengan bantal. Sehabis teriak teriak pak joko mendadak melotot, matanya seolah olah ingin keluar. Saat ibu joko panik dan ingin meminta pertolongan. Tiba tiba tangan pak joko memegang tangan istrinya. Dan dia nampak sadarkan diri.
"Sudah bu, sudah tidak apa apa" Kata pak joko sambil menghalangi istrinya untuk meminta bantuan.
Tau suaminya seperti sudah sadarkan diri, ibu joko menanyakan apa yang barusan ia liat tadi. Yang membuat pak joko jadi histeris.
Pak joko bilang kalau yang dia liat tadi, tak lain tak bukan adalah jin penguasa balai desa. Dia mengejar pak joko sampai kerumahnya.
Pak joko bilang, kalau jin itu masih sangat marah sama pak joko karena berani beraninya mengusik balai desa tempat dimana ia berkuasa.
Pak joko juga berpesan, mungkin tak lama lagi dia akan menemui ajalnya. Karena jin yang selama ini menolong pak joko atau khadamnya telah kalah dan kini menjadi budak jin balai desa. Karena itu dia kini sudah tak punya pegangan lagi.
Mendengar itu istri pak joko menangis, karena biar bagaimanapun dia gak mau kehilangan suami yang ia cintai itu.
Lalu ibu joko, sempat menanyakan apakah ada yang bisa dilakukan untuk melawan jin itu.
Pak joko menyuruh istrinya untuk berkunjung ke gurunya di daerah gunung kidul, karena pak joko dalam kondisi yang tidak bisa bangun.
Karena itu jalan satu satunya istri pak joko besoknya berangkat sendirian. Anak - anaknya di titipkan di saudaranya.
Ane gak ngebayangin perempuan sendirian ke gunung kidul. Udah itu gak dikasih alamat lengkap cuma dikasih nama doang.
Nama gurunya mbah sarmin, Istrinya udah kesana beberapa hari dia nyari sempet putus asa, sampai akhirnya tiba tiba aja dia ketemu orang yang aneh. Dan ternyata itu jinnya mbah sarmin. Sampainya di tempat gurunya istrinya ceritain masalah yang terjadi semuanya dia ceritain.
Setelah selesai cerita istrinya, minta tolong buat supaya dibantu nolongin pak joko. Tapi istrinya dibuat kecele, gurunya bilang begini.
"Sudah pulang saja, karena saya juga tidak bisa membantu. Ini saya titipkan anak buah saya yang bakalan nemenin kamu dan anak anak kamu dari serangan jin balai desa" Kata mbah sarmin.
Istrinya pak joko sempet memohon, tapi mbah sarmin kekeh bilang gak bisa bantuin. Akhirnya bu joko pulang dengan tangan hampa.
Diperjalanan ibu joko bertanya tanya kenapa gurunya gak bisa membantu. Saat dia lagi memikirkan hal itu, dia baru sadar kalau suaminya sengaja nyuruh istrinya nyari gurunya bukan untuk nyembuhin pak joko melainkan supaya gurunya bisa kasih pelindung untuk anak dan istrinya. Sepanjang perjalanan istrinya pak joko nangis sejadi jadinya. Sampai beberapa orang ada yang nanyain kenapa ibu joko nangis. Tapi ibu joko cuma bilang gak kenapa kenapa.
Sampainya dirumah istrinya pak joko langsung nyamperin suaminya yang kondisinya semakin lemah. Ibu joko nangis sejadi jadinya.
Liat istrinya pulang dengan selamat. Pak joko meneteskan air mata bahagia.
Saat itu tiba tiba aja pak joko, kaya ada yang nyekek. Pak joko diem aja gak ngelawan, mungkin dia udah tau kalau ini waktunya.
Sampai istrinya teriak teriak kebingungan. Dan tetangganya yang juga tukang kebun dateng. Saat tetangganya dateng pak joko udah gak ada.
Itulah terakhir kali pak joko menghebuskan nafas terakhirnya. Istrinya cerita itu sambil beberapa kali ngusap air matanya yang gak berhenti mengalir.
Dan terakhir istrinya bilang kalau gurunya pak joko berpesan penguasa balai desa ingin ane jadi tumbalnya. Jadi jangan libatkan orang lain lagi. Karena ditakutkan bakalan ngerasain hal yang sama kaya pak joko.
Setelah mendengar ceritanya istrinya pak joko dan pesannya ane pamit pulang. Gak lupa ane kasih sedikit uang tabungan ane.
Ane pulang kerumah dengan perasaan sedih, terharu, sekaligus bingung. Apa yang harus ane lakuin sama jin balai desa itu.
Bersambung...
Diubah oleh achanyoe 15-05-2017 16:28
johny251976 dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Kutip
Balas
Tutup