Kaskus

Story

bunbun.orenzAvatar border
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):


And I know
There's nothing I can say
To change that part

But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak

I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead



- Famous Last Words by MCR -


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha


Quote:


Spoiler for Special Thanks:


***



Spoiler for From Me:


Versi PDF Thread Sebelumnya:

MyPI PDF

Credit thanks to Agan njum26



[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)

Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini


Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
drakenssAvatar border
snf0989Avatar border
ugalugalihAvatar border
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.6KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
glitch.7
#3693
PART 55


Hanya sekilas pandangan kami saling bertemu tanpa bisa saling menyapa. Setelah beberapa bulan kebelakang, dan kini, hari ini Gua kembali melihatnya, Seorang wanita yang pernah Gua cintai. Tapi sepertinya sang waktu belum memberikan kami kesempataan untuk saling berbicara, saling bertemu secara sengaja dan membicarakan hal-hal yang belum sempat kami selesaikan.

"Seriously Za.. Vera ?", tanya istri Gua tidak percaya dengan cerita Gua.

Gua menatap jalan di samping kiri dari dalam cafe, lalu kembali mengingat kejadian tadi. "Iya, aku yakin itu Vera..", jawab Gua tanpa menoleh kepada istri Gua yang duduk dihadapan Gua itu.

"Apa dia juga lagi liburan ? atau tinggal di sini jangan-jangan..", terka istri Gua sambil menatap ke luar jendela.

Gua menggelengkan kepala pelan lalu memejamkan mata sesaat. "I don't know Cha, tapi kesempataan tadi harusnya bisa buat aku nemuin dia.. Mmm.. Maksud aku, maaf..", lanjut Gua kali ini menatap wajah Echa.

"Sssttt.. Enggak apa-apa Za, aku ngerti kok.. Ada hal yang memang belum sempat kalian selesaikan toh ?", jawab istri Gua sambil menaruh tangannya di atas tangan Gua dan tersenyum.

Gua bersyukur memiliki istri seperti Echa, wanita yang paling memahami dan mengerti Gua saat ini. Dan Gua pun harus lebih bisa menjaga perasaan Gua lagi. Karena andaikan tadi Echa tidak berada di samping Gua saat melihat kepergian Vera di dalam bus, mungkin saja Gua mengejarnya, entah bagaimanapun caranya. Ketika tadi Gua masih terpaku menatap bus yang semakin jauh, Gua tersadar kalau Gua tidak bisa memaksakan diri ini untuk mengejar Vera, karena sekarang Gua sudah memiliki pendamping hidup. Hati Gua memang menginginkan mengejar dan bertemu lagi dengan Vera, tapi bersyukurlah Gua, logika dalam otak ini mengingatkan bahwasannya Gua tidak bisa sembarangan mengejar wanita lain.

"Seenggaknya kita tau informasi rute bus tadi Za, lain waktu kita bisa cari Vera lagi.. Sabar ya sayang", ucap istri Gua lagi seraya tersenyum kepada Gua.

...

Hari ini kami harus pulang lagi ke Indonesia, karena memang sudah jadwalnya kami hanya berlibur di singapura hanya tiga hari dua malam. Saat kami berdua meninggalkan cafe itu, Echa sempat mengajak Gua untuk kembali ke toko dimana Vera membeli kebutuhannya, Echa menanyakan sosok wanita yang beberapa menit lalu datang ke toko tersebut, tentunya dengan memberikan ciri-ciri sosok Vera yang Gua lihat. Wanita yang mengenakan busana muslim dengan hijab yang berwarna biru muda, senada dengan busananya. Dan beruntunglah kami, si pemilik toko tersebut ingat dengan Vera. Ternyata Vera memang cukup sering membeli kebutuhannya di toko tersebut, dan kunjungan dia ke toko itu adalah kunjungan keempat kalinya dalam enam minggu terakhir ini.

Walaupun kami berdua belum mengetahui alamat dimana Vera tinggal, setidaknya Gua dan Echa sudah menyimpulkan bahwa Vera sepertinya memang menetap di negara Singapura.

Mungkin di lain hari, ya mungkin.. Gua bisa menemuinya lagi. Semoga saja...

...
...
...

Setelah kepulangan Gua dan Echa dari Singapura, Gua tidak lagi bertemu dengan Vera. Tapi Gua sempat menanyakan kepada Gusmen, sekaligus memberitahukan kepada sepupunya itu kalau Vera berada di Singapura, tapi sekali lagi, entah dia benar tidak mengetahui atau hanya menutupi, Gusmen tidak tau sama sekali perihal Vera yang berada di Singapura. Gua pun akhirnya memilih kembali membiarkan semuanya berjalan apa adanya lagi. Mungkin memang sudah harus seperti ini jalannya. Untuk Gua dan Vera.

Puasa ramadhan tahun 1428 H telah memasuki hari kedua ketika Gua dan Echa sudah kembali menjalani rutinitas perkuliahan kami. Saat itu Gua sedang mengikuti pelajaran mata kuliah bahasa mandarin di dalam kelas.

Tidak ada yang menarik pada perkuliahan Gua saat ini untuk diceritakan. Selesai menjalani perkuliahan, sekitar pukul dua siang Gua sudah pulang, tapi hari ini Gua sedang ingin bertemu Kinan. Gua berada di apartemen tante Gua itu dan menceritakan liburan Gua selama di Singapura, dan ujungnya jelaslah Gua lebih menceritakan pertemuan tidak sengaja dengan Vera di sana.

"Vera tinggal di singapur Za ?", tanyanya sedikit terkejut.

"Kayaknya sih gitu Kak, tapi gak tau juga..", jawab Gua sambil merebahkan tubuh di sofa.

"Jadi kalian cuma saling liat aja ? Gak sempat ngobrol ?".

Gua menggelengkan kepala pelan sambil menatap langit-langit apartmennya ini. "Enggak Kak, enggak sempat..".

Lalu Kinan duduk di samping Gua. "Za.. Kamu gak ngarepin Vera lagi kan ?", tanya Kinan dengan nada suara yang pelan.

Gua melirik kepadanya, lalu menegapkan tubuh untuk duduk dengan tegap, tangan kanan Gua menopang dagu dan mata Gua terpejam. "Aku cuma berharap ada penjelasan soal kepergiannya tanpa pamit waktu itu..", jawab Gua dengan nada suara yang tak kalah pelan.

Gua mendengar Kinan menghela nafasnya dengan perlahan.

"Yakin cuma itu ?".

Gua membuka mata, lalu menyerongkan tubuh kearah Kinan, menatapnya dengan ekspresi wajah yang datar.

"Kenapa nanya gitu Kak ?".

"Jangan bohong Za, hati kamu belum sepenuhnya lupain dia",
"Dan.. Perasaan cinta kamu ke dia gimana ? Heum ?".

"Huuuftt...",
"Entahlah... Aku bingung dan gak yakin".

Tepp...tangan kanan Kinan menepuk paha kiri Gua. "Inget Echa Za.. Dia udah jadi pasangan yang sah untuk kamu sekarang", ucap tante Gua itu, lalu dia bangkit dari duduk dan berjalan ke arah dapur.

Gua memikirkan kata-kata Kinan barusan, tersadar akan status hubungan Gua dengan Echa saat ini. Benar apa yang dikatakan tante Gua itu, Gua tidak boleh sembarangan mengejar Vera dengan perasaan yang masih ada di dalam hati untuk dia.

"Za, kamu udah ngabarin Echa ada disini sekarang ?", tanya Kinan sambil mengeluarkan bahan masakan dari kulkas.

"Oh.. Udah kok, pulang kuliah tadi aku sms dia dulu dan gak apa-apa katanya", jawab Gua sambil memperhatikan Kinan yang mulai mencuci sayuran di wastafel.

"Oh syukur kalo gitu..",
"Inget selalu ngabarin istri kamu Za kalo pergi kemana-kemana", lanjutnya yang masih mencuci sayuran dan membelakangi Gua.

"Iya Kak..".

Tidak lama kemudian hp Gua berdering, sebuah nada panggilan masuk dari kontak yang Gua beri nama 'My Wife'.

Quote:


Gua menaruh hp diatas meja setelah selesai menerima telpon, lalu membuka jas kampus dan menaruhnya di sisi kasur, kemudian Gua berdiri seraya membuka kancing lengan kemeja dan menggulungnya hingga sesiku.

"Echa mau kesini ?", tanya Kinan kali ini sambil memotong ayam.

"Iya Kak, biar sekalian ngabuburit katanya", jawab Gua sambil menggulung lengan kemeja satunya lagi.

"Yaudah kalo gitu buka puasa disini aja, kita makan bareng-bareng", ucapnya memberi saran.

"Boleh juga tuh..",
"Yaudah aku shalat dzuhur dulu ya Kak, abis itu aku bantuin kamu masak".

"Yee.. Kirain udah shalat kamu, dasar. Yaudah sana cepetan shalat, udah mau abis tuh waktunya, bentar lagi adzan ashar".

Gua pun bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. "Hehehe... Iya iya, lupa tadi di kampus..", jawab Gua sambil memutar keran air.

Singkat cerita setelah melaksanakan ibadah empat raka'at, Gua kembali ke dapur, sekarang Gua sedang memasak sayur dan beberapa menu makanan untuk buka puasa nanti bersama tante dan istri Gua.

Setengah jam kemudian, kami berdua sudah selesai memasak, lalu kami melaksanakan ibadah shalat ashar di tempat terpisah. Beres melakukan ibadah lagi. Gua duduk di ruang depan, menonton Tv, sedangkan Kinan memilih berisitirahat di kamarnya.

Sekitar pukul empat lebih, Echa sudah datang, Gua membukakan pintu untuknya dan mempersilahkannya masuk.

"Sepi sih Za, Kinan kemana ?", tanya istri Gua seraya mencium tangan Gua lalu menaruh tasnya di sofa dan duduk.

"Kinan lagi istirahat dikamarnya, tidur kayaknya sih", jawab Gua yang ikut duduk di samping Echa.

"Ooh.. Tadinya aku mau ajak kalian jalan-jalan sambil nunggu buka puasa",
"Oh ya, kita buka puasa diluar aja ya, ajak Kinan sekalian".

Gua merangkulkan tangan kiri ke bahu istri Gua itu. "Aku sama Kinan udah masak tadi, kita makan disini aja ya, masakannya enak kok.. Kinan sih tadi yang ajak, mau kan ?".

"Oh ya ? Boleh-boleh, kita belum pernah makan bertiga juga kan..", jawab Echa sambil tersenyum.

"Iya, makanya.. Oh ya, kamu mau istirahat dulu ?", tanya Gua.

"Nanti aja, aku mau shalat ashar dulu Za".

Kemudian Gua menunjukkan letak kamar mandi untuk Echa mengambil wudhu, setelah itu Echa mengambil mukena yang memang sering dia bawa saat berpergian dari dalam tasnya, lalu melaksanakan ibadah di kamar depan.

Selesai istri Gua melaksanakan ibadah, Echa duduk bersama Gua di sofa, kami berdua menonton Tv yang tidak lama kemudian Kinan keluar dari dalam kamar. Wajahnya terlihat sekali baru bangun tidur yang membuat Gua terkekeh pelan.

"Hai Nan..", sapa Echa sambil berdiri.

"Eh Echa, udah dari tadi ?", tanya Kinan sambil menyambut cipika-cipiki Echa.

"Iya, maaf ya jadi ganggu istirahatnya", jawab Echa setelah melepaskan pelukkannya.

"Ah enggak kok, sebentar ya, aku ke kamar mandi dulu", jawab Kinan lalu berlalu menuju kamar mandi.

Gua dan Echa menawarkan Kinan untuk ikut jalan-jalan keluar, sekedar menunggu waktu berbuka puasa, tapi sepertinya Kinan memang sedang tidak ingin kemana-kemana, jadilah Gua dan istri pergi berdua.

Kami berdua tidak menggunakan kendaraan ketika jalan-jalan, hanya berjalan di sekitaran apartemen Kinan, ternyata cukup banyak yang sudah berjualan makanan pembuka puasa di pinggir jalan ini. Echa membeli es buah serta kolak sebagai menu awal buka puasa untuk kami bertiga. Setelah itu kami hanya duduk santai menikmati sore hari di taman yang terletak di dalam bagian bawah apartmen itu. Sekitar pukul setengah enam sore, Gua dan Echa kembali naik ke lantai atas, menuju kamar Kinanti.

Sesampinya di kamar Kinanti, Echa dan tante Gua itu menyiapkan hidangan untuk berbuka puasa. Gua kembali duduk di sofa sambil menunggu mereka mempersiapkan makanan. Tidak lama setelah itu, adzan maghrib berkumandang dari salah satu stasiun Tv yang menyala.

Singkat cerita, kami bertiga berbuka puasa bersama di apartemen ini. Selesai menyantap menu pembuka yang manis-manis dan menghabiskan masakan yang dibuat oleh tante Gua itu, Echa membantu Kinan mencuci piring kotor di dapur apartemennya. Pukul tujuh malam kami berdua pamit pulang kepada Kinan dan tidak lupa mengucapkan terimakasih.

...
...
...

Skip..

Sudah tiga minggu bulan ramadhan tahun 2007 ini Gua lalui dengan kehidupan Gua yang baru, berumah tangga. Sejauh itu pula kehidupan Gua bersama istri terbilang masih hangat dan belum ada pertengkaran diantara kami, bukannya berharap seperti itu, tapi yang namanya suami istri kan terkadang ada saja yang diperdebatkan, wajarlah, hampir sama juga biasanya sama yang masih pacaran. Cuma bedanya kan hal yang diperdebatkan lebih serius dalam rumah tangga.

Hari minggu menjelang satu minggu sebelum lebaran, kami sudah memasuki libur kuliah, bahkan istri Gua sudah libur terlebih dahulu satu minggu sebelumya. Memang jadwal perkuliahan kami berbeda sih, dan perkuliahan Gua itu tidak seperti fakultas lain pada umumnya. Gua seolah-seolah kuliah dengan jadwal seperti anak SMA, terjadwal rapih dari pagi hingga menjelang sore hari. Tidak ada mata kuliah yang rentang waktunya berjarak beberapa jam seperti fakultas lain. Semuanya padat layaknya anak SMA pokoknya.

Saat itu sore hari, Gua sedang mencuci si Black di halaman rumah Nenek, sedangkan Echa dan Nenek pergi ke supermarket berdua menggunakan mobil Echa. Masih asyik dengan aktifitas mencuci mobil, sebuah sedan memasuki halaman rumah dan berhenti tepat di depan teras kamar Gua. Lalu Gua menghentikan sejenak kegiatan mencuci mobil ini, dan menunggu siapa gerangan yang datang bertamu.

"Sore Za", ucap seorang wanita yang turun dari pintu kemudi sambil tersenyum.

Gua cukup terkejut melihatnya. Sudah lama, bahkan cukup lama rasanya kami tidak bertemu. Sudah satu tahun rasanya terakhir kali kami bertemu, dan saat itu di rumah ini. Ya Gua tidak lupa, pertemuan terakhir kami di rumah ini pada malam hari.

"Eh.. Hai juga", jawab Gua masih terkejut akan kehadirannya.

"Kaget banget kayaknya Za, hihihi..", ucapnya seraya tertawa pelan.

"Eeuu.. Ya iya sih.. Hahah..", ucap Gua salah tingkah,
"Wajarlah, kita terakhir ketemu setahun yang lalu, sekarang kamu tiba-tiba datang kesini, kemana aja ?", tanya Gua.

"Oh jadi aku gak boleh nih main kesini ?", tanyanya dengan nada bercanda.

"Hahaha.. Bukan, maksud aku.. Kamu tuh selalu datang tiba-tiba gini dari dulu, sebelumnya gak ada kabar, eh tiap tahun nongol sekali hahaha..", jawab Gua.

"Iya sih ya.. Hahaha.. Maaf ya Za, aku sibuk kuliah juga, lagian kita kan emang gak ada kontak masing-masing, susah mau hubungin kamu, ini aja aku lagi libur kuliah baru pulang ke rumah, sekalian mampir kesini, inget kamu sama Nenek", jawabnya.

"Iya juga, eh makasih masih inget sama Nenek", jawab Gua,
"Eh duduk dulu deh, di teras aja ya gak apa-apa kan.. Aku sebentar lagi beres nyuci mobil nih", lanjut Gua.

"Ah santai aja Za",
"Nenek kamu kemana ?", tanyanya.

"Oh Nenek lagi pergi sama istri ku ke supermarket, beli bahan masakan untuk buka puasa", jawab Gua.

"Istri ? Istri kamu ?", teman lama Gua ini terkejut mendengar jawaban Gua itu.

"Oh iya, kamu belum tau ya, hahaha.. Maaf maaf, aku bukannya gak mau undang kamu, aku gak ada kontak kamu dan enggak tau rumah mu, jadi bingung mau kasih undangan kemana", jawab Gua.

"Hmmm.. Iya enggak apa-apa sih, cuma kok kamu udah nikah Za, emang... Mmm.. Maaf ya, ada apa sampai kamu nikah muda ?".

Gua akhirnya menghentikan aktifitas mencuci mobil, lalu Gua mencuci tangan dan mengajaknya duduk di sofa teras depan kamar.

"Mau minum apa ? Kamu enggak puasa kan ?", tawar Gua.

"Eh gak usah, enggak perlu nyediain minum Za, aku udah makan juga sebelum kesini kok", jawabnya sungkan.

"Ah enggak apa-apa, gak perlu gak enak gitu, cuek aja lah, sebentar ya aku bikinin sirup aja".

"Za, gak perlu, udah sini aja.. Cerita sama aku..".

Gua tersenyum kepadanya, lalu Gua duduk di sofa sebrangnya. Dan Gua pun mulai bercerita kepada teman lama Gua ini. Gua hanya menceritakan garis besar ketika Gua ditinggalkan Vera beberapa bulan lalu, tapi tidak menceritakan kejadian yang dialami Vera. Gua menceritakan terpuruknya Gua karena ditinggal pergi oleh Vera saat itu dan membuat Gua stres lalu Echa lah yang selama ini menemani Gua hingga akhirnya kami menikah.

"Segitu hancurnya kamu ditinggal perempuan ?", tanyanya heran setelah mendengar cerita Gua.

"Mmm.. Bukan sekedar ditinggal sih, tapi ada satu kejadian yang.. Maaf aku gak bisa ceritain sama kamu, tapi intinya ya begitu.. Aku memang hancur ketika dia pergi tanpa pamit dan akhirnya aku memilih Echa untuk menjadi istri aku", jawab Gua.

"Echa ya.. Mmm.. Yang waktu itu aku ketemu sama dia di rumah ini kan ? Sehabis lebaran tahun kemarin kalau gak salah ya..".

Gua mengangguk sambil tersenyum kepadanya. "Iya.. Yang waktu itu ketemu kamu sekali di ruang tamu", jawab Gua membenarkan.

"Tapi rasanya berat banget ya Za disaat kamu nikahin Echa, Ayah kamu juga meninggal di waktu yang bersamaan..", ucapnya lagi.

"Ya, gitulah.. Mungkin udah takdirnya harus seperti itu...".

"Hmmm.. Ya aku cuma bisa mendo'a kan yang terbaik untuk kamu dan keluarga kamu sekarang".

"Iya, makasih ya..".

"Oh iya Za, kamu sekarang kerja atau gimana ?", tanyanya lagi.

"Enggak, aku masih kuliah kok, istri ku juga masih kuliah.. Tapi ya aku ada usaha kecil-kecilan sih, beli franchise gitu, lumayan untuk kebutuhan aku sama istri, hahaha".

"Oh syukur deh kalo gitu, tetap semangat ya Za, kuliahnya jangan sampai terbengkalai", ucapnya memberi semangat.

Gua tersenyum dan mengangguk mendengar ucapannya itu.

Tidak lama kemudian, mobil istri Gua datang. Lalu Gua meminjam kunci mobil teman Gua itu agar mobil istri Gua bisa masuk dulu ke halaman parkir rumah. Setelah Echa memundurkan mobil dan Gua mengeluarkan mobil teman Gua, barulah Echa memarkirkan mobilnya di samping si Black, dan Gua memarkirkan mobil teman Gua di depan teras lagi.

"Ada siapa Za ?", tanya istri Gua ketika sudah turun dari mobilnya.

"Teman lama..", jawab Gua sambil tersenyum dan membantu membawakan plastik belanjaan dari tangannya.

"Siapa teman kamu Za ?", tanya Nenek kali ini.

"Luna..", jawab Gua.
dany.agus
fatqurr
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.