- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•2Anggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#3673
PART 54
Sekitar pukul setengah sepuluh malam Gua dan Echa sudah berada di kamar hotel, di lantai enam, dan kamar ini ternyata memang sudah disulap sedemikian rupa oleh pihak E.O pernikahan kami, diubah menjadi kamar pengantin, banyak potongan bunga mawar merah di atas kasur, lilin di beberapa sudut kamar, ucapan happy wedding pada dinding kamar dan beberapa balon yang dibiarkan tergeletak di lantai.
Gua menggaruk kepala bagian belakang ketika melihat itu semua.
"Ini apaan sih Cha..? Pesta ulang tahun ?", tanya Gua kepada Echa yang berada di samping.
"Udah gak usah protes, ayo masuk", ajaknya sambil mengaitkan tangannya ke lengan Gua.
Istri Gua langsung mengambil pakaian dari tasnya, sedangkan Gua masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih, ya walaupun tadi setelah maghrib sudah mandi, tapi rasanya mulut Gua bau asap rokok dan muka sedikit berminyak setelah makan malam di restoran hotel tadi. Lalu selesai gosok gigi dan mencuci muka, Gua keluar kamar mandi dan menuju kasur.
Brugh..
Wah empuk banget ini kasur, boleh juga nih buat di rumah, pikir Gua iseng. Lalu Gua menyalakan Tv, sementara istri Gua ke kamar mandi untuk ganti pakaian. Gua masih asyik memindahkan saluran Tv yang ternyata acara luar negeri semua. Tidak lama kemudian Echa membuka kamar mandi sedikit lalu melongokkan kepalanya.
"Sayang".
"Ya ?".
"Maaf, Lampu kamarnya tolong dimatiin dulu dong", pintanya.
Gua sedikit heran. "Loch emang kenapa ?", tanya Gua.
"Udah jangan banyak tanya, tolong dimatiin dulu lampunya".
"Iya iyaa..", Gua pun bangun dari kasur dan berjalan ke salah satu dinding kamar untuk mematikan lampu. "Udah tuh, terus mau ngapain ?", tanya Gua lagi masih berdiri di dekat saklar lampu.
"Tolong nyalain lampu tidurnya ya, hehehe..", jawabnya.
Gua kembali ke kasur dan menyandarkan punggung ke sandaran kasur di belakang tubuh Gua, kemudian barulah Gua menyalakan lampu tidur yang berada di samping, di atas meja kecil.
Ceklek..pintu kamar mandi terbuka lagi, istri Gua keluar dan berjalan kearah sisi kasur sebrang Gua.
"Ngapain pake acara minta matiin lampu kamar Cha ?", tanya Gua yang menengok kepadanya.
"Malu tau pakai baju tidur di depan kamuuu..", jawabnya malu-malu.
Lalu istri Gua naik keatas kasur dan menarik bed covers untuk menutupi sebagian tubuh kami.
"Malu-malu sih, sama suami sendiri ini", goda Gua setelah tubuhnya merapat ke tubuh Gua.
"Hihihi.. Kan belum pernah pakai baju tidur gini di depan kamuuu..", jawabnya sambil melingkarkan tangannya ke tangan Gua.
"Dulu waktu kecil, malah sering liat kamu pake kaos dalem doang ama cangcut kan, hehehe...", ledek Gua.
"Ya beda dong.. Sekarang emang kita masih anak-anak apa..?".
"Sama aja, kan aku udah jadi suami kamu, bebas lah liat istri sendiri dalam keadaan apapun", jawab Gua sambil menyeringai dan menaikkan kedua alis.
"Iiih.. Dasar.. Huuu..", balasnya seraya mencolek hidung Gua.
Gua terkekeh melihat wajahnya yang merona karena malu-malu. Lalu Gua kecup keningnya. "I love you", ucap Gua.
Echa tersenyum dalam redupnya cahaya lampu di kamar ini. "I love you too sayang", balasnya.
Gua memegang dagunya dengan ibu jari dan jari telunjuk, lalu mengangkatnya sedikit agar wajahnya mendongak keatas.
Cupp.. Gua kecup bibirnya lalu tersenyum.
Kemudian tangan kirinya melingkar ke belakang tengkuk Gua dan menariknya kearah wajahnya.
.
.
.
.
.
.
.
Gua menggaruk kepala bagian belakang ketika melihat itu semua.
"Ini apaan sih Cha..? Pesta ulang tahun ?", tanya Gua kepada Echa yang berada di samping.
"Udah gak usah protes, ayo masuk", ajaknya sambil mengaitkan tangannya ke lengan Gua.
Istri Gua langsung mengambil pakaian dari tasnya, sedangkan Gua masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih, ya walaupun tadi setelah maghrib sudah mandi, tapi rasanya mulut Gua bau asap rokok dan muka sedikit berminyak setelah makan malam di restoran hotel tadi. Lalu selesai gosok gigi dan mencuci muka, Gua keluar kamar mandi dan menuju kasur.
Brugh..
Wah empuk banget ini kasur, boleh juga nih buat di rumah, pikir Gua iseng. Lalu Gua menyalakan Tv, sementara istri Gua ke kamar mandi untuk ganti pakaian. Gua masih asyik memindahkan saluran Tv yang ternyata acara luar negeri semua. Tidak lama kemudian Echa membuka kamar mandi sedikit lalu melongokkan kepalanya.
"Sayang".
"Ya ?".
"Maaf, Lampu kamarnya tolong dimatiin dulu dong", pintanya.
Gua sedikit heran. "Loch emang kenapa ?", tanya Gua.
"Udah jangan banyak tanya, tolong dimatiin dulu lampunya".
"Iya iyaa..", Gua pun bangun dari kasur dan berjalan ke salah satu dinding kamar untuk mematikan lampu. "Udah tuh, terus mau ngapain ?", tanya Gua lagi masih berdiri di dekat saklar lampu.
"Tolong nyalain lampu tidurnya ya, hehehe..", jawabnya.
Gua kembali ke kasur dan menyandarkan punggung ke sandaran kasur di belakang tubuh Gua, kemudian barulah Gua menyalakan lampu tidur yang berada di samping, di atas meja kecil.
Ceklek..pintu kamar mandi terbuka lagi, istri Gua keluar dan berjalan kearah sisi kasur sebrang Gua.
"Ngapain pake acara minta matiin lampu kamar Cha ?", tanya Gua yang menengok kepadanya.
"Malu tau pakai baju tidur di depan kamuuu..", jawabnya malu-malu.
Lalu istri Gua naik keatas kasur dan menarik bed covers untuk menutupi sebagian tubuh kami.
"Malu-malu sih, sama suami sendiri ini", goda Gua setelah tubuhnya merapat ke tubuh Gua.
"Hihihi.. Kan belum pernah pakai baju tidur gini di depan kamuuu..", jawabnya sambil melingkarkan tangannya ke tangan Gua.
"Dulu waktu kecil, malah sering liat kamu pake kaos dalem doang ama cangcut kan, hehehe...", ledek Gua.
"Ya beda dong.. Sekarang emang kita masih anak-anak apa..?".
"Sama aja, kan aku udah jadi suami kamu, bebas lah liat istri sendiri dalam keadaan apapun", jawab Gua sambil menyeringai dan menaikkan kedua alis.
"Iiih.. Dasar.. Huuu..", balasnya seraya mencolek hidung Gua.
Gua terkekeh melihat wajahnya yang merona karena malu-malu. Lalu Gua kecup keningnya. "I love you", ucap Gua.
Echa tersenyum dalam redupnya cahaya lampu di kamar ini. "I love you too sayang", balasnya.
Gua memegang dagunya dengan ibu jari dan jari telunjuk, lalu mengangkatnya sedikit agar wajahnya mendongak keatas.
Cupp.. Gua kecup bibirnya lalu tersenyum.
Kemudian tangan kirinya melingkar ke belakang tengkuk Gua dan menariknya kearah wajahnya.
.
.
.
.
.
.
.
Spoiler for Malam pertama:
***
Tiga hari kemudian, Gua dan Echa sudah kembali masuk kuliah, tentunya ke kampus kami masing-masing. Aktifitas Gua setelah menikah tidak banyak berubah, kecuali adanya sosok istri yang menjadi pelengkap keseharian Gua, lainnya tetap berjalan normal. Gua saat ini tinggal bersama Echa di rumah Nenek, awalnya sih Papahnya Echa ingin kami berdua tinggal di rumah mereka, tapi kan Gua juga tidak mungkin meninggalkan Nenek sendirian di rumah, apalagi semenjak dari awal Gua kuliah, Gua hanya satu minggu dua kali pulang ke rumah Nenek.
Jadi menurut Gua dengan adanya Echa yang sudah menjadi cucu menantu Nenek saat ini, Echa bisa lebih dulu pulang ke rumah dan menemani Nenek. Karena sekalipun Gua sekarang pulang-pergi dan tidak kost lagi, sudah pasti Gua pulang sehabis maghrib, paling cepat setengah enam sore, berbeda dengan istri Gua yang jadwal kuliahnya paling lama pukul satu siang, dan pukul empat sore biasanya istri Gua sudah berada di rumah.
Pandangan banyak orang mungkin melihat rumah tangga kami dipaksakan, karena melihat kami yang masih kuliah semester awal dan umur yang belum genap dua puluh tahun sudah menikah. Bahkan tidak sedikit Gua mendengar kabar yang mengatakan Echa sudah hamil duluan karena Gua. Tapi kami berdua tidak mau ambil pusing soal masalah itu, toh kami yang menjalani ini semua.
Ada lagi yang menanyakan, bisa bertanggungjawab atau tidak Gua kepada istri Gua, maksudnya, bagaimana Gua menghidupi istri Gua karena status Gua yang masih mahasiswa. Intinya nafkah kan ?
Pertama, bukan bermaksud sombong atau apapun, tapi ini sebagai contoh saja, bisnis atau sebut saja tanah yang diberikan oleh alm. Ayahanda kepada Gua masih ada, dan kontrak tanahnya masih berjalan sampai satu tahun setengah kedepan, lalu uang sewanya pun masih mengendap di rekening pribadi Gua tanpa sepeserpun pernah Gua pakai. Dan kalau mau di jelaskan lagi, itu bukan uang warisan, kecuali tanahnya. Dan sebenarnya menurut Gua pribadi, tanah tersebut juga bukan warisan dari alm. Ayahanda, beda lah antara pemberian secara langsung dengan warisan yang jelas ada suratnya, yang biasanya dititipkan kepada pengacara. Kedua, setelah Gua menikahi Echa, om dan tante Gua memberikan saran agar Gua menggunakan uang tabungan tersebut untuk membuka bisnis baru, ya sebagai pemasukkan dan juga nafkah keluarga. Saat itu Gua menginvestasikan uang tabungan beberapa rupiah ke sebuah bisnis kuliner, jajanan lebih tepatnya, yang sistemnya franchise. Tau kan ? Nah makanannya apa, ada deh ya, kalian juga tau pasti saat tahun 2007 franchise apa yang sedang booming. Gua merekrut dua pegawai sekaligus saat itu, yang orangnya masih tetangga rumah juga, untuk dua franchise tentunya. Terkadang di hari minggu, Gua dan Echa suka ikut jualan dan melayani pembeli. Dari situlah Gua bisa menafkahi istri Gua, sekalipun uang yang Gua hasilkan masih tergolong sedikit tapi cukuplah untuk makan kami berdua selama sebulan.
Ada hal lain sih, dan ini pandangan Gua karena pernah melihat suatu hadis yang Gua baca. Ketika kalian menikahi seorang wanita, dan ternyata kalian belum memiliki pekerjaan, itu bukanlah suatu halangan, dan bukan pula suatu keharusan memiliki pekerjaan terlebih dahulu baru menikah. Gua rasa soal yang satu ini harus benar-benar dipahami. Inti dari hadis tersebut yang Gua tangkap adalah, selama kalian masih memiliki orangtua dan belum memiliki pekerjaan pada saat sudah berumah tangga, tidak ada larangannya kalian bernaung kepada mereka (orangtua), meminta bantuan. Tapi ingat, bukan berarti kalian hanya terus menerus meminta kepada orangtua, tetap harus mencari pekerjaan, sampai benar-benar mendapatkan penghasilan sendiri dan lepas dari bantuan orangtua.
Dah kebanyakan ceramah tar Gua jadi ustad lagi...
Beralih ke beberapa hari setelah Gua melaksanakan acara resepsi dan menjalani rutinitas perkuliahan. Semenjak Gua menikah dengan Echa, alhamdulilah dirinya sudah tidak cemburu lagi dengan tante Gua. Ya kalau kalian baca MyPI tau lah alasannya apa kan, hehehe.. Cemburu Gais. Dan ini bukan berarti Echa membenci Kinan, salah besar kalau kalian beranggapan begitu.
...
Bulan september sudah tiba, perkuliahan Gua yang sempat terbengkalai karena kejadian saat Nona Ukhti hilang dan cuti satu bulan untuk acara pernikahan tidak banyak memberikan dampak buruk pada nilai mata kuliah apapun di kampus. So far I'm on the right track (again).
Kehadiran Echa sebagai istri dalam kehidupan Gua yang baru benar-benar memberikan energi positif kepada Gua, jujur saja, Gua tidak lagi berani menggoda perempuan lain, di kampus maupun saat berpergian sendiri. Entah apa karena merasa sudah memiliki hubungan yang sudah sah atau memang alam bawah sadar Gua yang mengingatkan bahwa sekarang Gua sudah memiliki pendamping hidup yang halal atau ada faktor lain, yang jelas tanpa Gua sadari, saat Gua melirik perempuan lain, seketika itu juga sosok Echa langsung hadir di dalam benak Gua.
Ada hal-hal yang sulit untuk diungkapkan oleh kata-kata, layaknya perasaan yang benar-benar murni keluar dari dalam jiwa kita untuk seseorang yang kita sayangi. Dan kemurnian perasaan tersebut tidaklah mungkin salah. Jauh dari dalam hati kita, ternyata kita sudah meyakini bahwasannya dia lah yang terbaik diantara banyaknya pilihan.
...
September 2007, suatu hari di bulan tersebut Gua bersama istri sedang mengepak pakaian di kamar Gua, rumah Nenek. Kami berencana untuk berlibur ke singapore esok hari. Tiket, paspor dan kelengkapan administrasi sudah beres, tinggal pakaian saja yang masih kami siapkan. Rencananya, kami berdua akan berlibur selama dua malam tiga hari di negara tersebut. Tentunya kami berdua mengorbankan kuliah kami selama satu hari, tapi gak apa lah ya bolos sekali-sekali.
Selesai mengepak barang yang diperlukan, kini Gua mengajak istri tercinta dan Nenek ke salah satu restoran di ibu kota, sekitar pukul delapan malam kami sudah sampai di sana. Tidak lama kemudian kami memesan makanan dan langsung mulai menyantapnya ketika pesanan kami sudah datang.
"Alhamdulilah kenyang", ucap Gua sambil menyandarkan punggung ke bahu kursi.
"Ini minumnya sayang", Echa menyodorkan segelas es teh manis kepada Gua.
"Makasih sayang..", jawab Gua setelah menerima gelas tersebut lalu meminum es teh tersebut.
"Nenek mau nambah lagi ?", tanya istri Gua kepada Nenek.
Nenek Gua tersenyum sambil menggelengkan kepalanya kepada istri Gua itu. "Makasih Cha, Nenek sudah kenyang".
"Kalo gitu, Echa ambilkan minum aja ya Nek", ucap istri Gua lagi seraya berdiri dari duduknya, membawa gelas minum Nenek, dan berjalan kearah counter refill minuman.
"Istri mu baik kan ? Tidak salah toh kami menyarankan kamu menikahinya Za..", Nenek tersenyum kepada Gua lalu melirik kepada Echa yang masih mengisi gelas Nenek dengan minuman dingin.
Gua mengangguk kepada Nenek. "Iya Nek, alhamdulilah..", jawab Gua.
"Jaga keutuhan rumah tangga kalian ya Za, yang namanya berumah tangga pasti ada saja pasang surutnya. Tapi itu semua sebagai ujian dan cobaan dalam membina rumah tangga, dan kamu sebagai kepala keluarga harus bisa membawa keluarga mu ke jalan yang baik.. Mulailah bersikap lebih dewasa dan menahan emosi mu mulai sekarang ya", Nenek memberikan wejangan kepada Gua dengan tetap tersenyum dan nada yang halus.
"Iya, insha Alloh Eza ingat kata-kata Nenek, dan semoga Eza bisa menjadi kepala keluarga yang baik, bertanggungjawab dan amanah", jawab Gua.
"Aamiiin..", balas Nenek.
Tidak lama kemudian Echa kembali dengan segelas minuman dingin yang sudah terisi penuh untuk Nenek, dan duduk kembali di samping Gua.
"Mas..", panggil Echa kepada pelayan resto.
"Iya Mba, mau pesan lagi ?", tanya si pelayan ketika sudah berdiri di samping istri Gua.
"Oh enggak, saya cuma mau minta tolong makanan yang ini di bungkus ya Mas", jawab istri Gua sambil mengangkat sebuah piring yang masih berisi makanan favoritnya itu.
"Oh oke Mba..",
"Sebentar saya bawa dulu ya Mba", jawab pelayan kali ini sambil menerima piring berisi makanan itu dan berlalu kearah dapur.
"Itu yang kamu bungkus nama makanannya apa Cha ?", tanya Nenek penasaran.
"Tempura Nek...".
...
...
...
Singapore, september 2007.
Sepuluh hari sebelum menjelang puasa ramadhan di tahun 1428 Hijriyah, Gua bersama istri sedang menikmati liburan, hari itu adalah hari pertama Gua dan Echa berada di negara singapura, untuk hari pertama ini kami berjalan-jalan ke beberapa tempat yang menjadi icon negara tersebut, dari mulai esplanade, patung merlion dan furlethon.
Tidak lupa kami berdua melakukan sesi foto di depan esplanade, menuju merlion park melewati esplanade Bridge. Dan seperti kebanyakan turis lainnya, rasanya tidak afdol kalau tidak mengabadikan momen ini di depan patung merlion dengan background esplanade diseberang kanal dan furlethon hotel, juga gedung yang menjulang tinggi di sisi lain.
Setelah puas di merlion park, kami menyeberang kanal di samping furlethon hotel, melewati quay atau jalan setapak dipinggir kanal sampai dengan raffles landing site, yang katanya di klaim sebagai tempat pertama kali raflles menginjakan kaki di singapura. Menjelang sore hari, kami berdua makan di sebuah resto, kami memesan nasi hainan serta bebek panggang sebagai lauknya.
Selesai makan dan sedikit jalan-jalan, kami berdua kembali ke hotel untuk beristirahat. Keesokan harinya kami kembali jalan-jalan, untuk hari kedua ini, sepertinya Gua yang menemani sang istri, karena dia ingin membeli ehm, tas. Siang hari Gua menemani Echa ke beberapa pusat perbelanjaan untuk memburu tas yang ia inginkan, tidak banyak tempat yang kami sambangi di siang itu karena Gua hanya menemani Echa menuntaskan hasrat belanjanya.
Barulah ketika malam hari kami bertolak ke wahana baru di sentosa island yang berlokasi di siloso beach, di depan beach station. Sebelumnya wahana ini berlokasi di magic fontain. Kami berdua antri cukup lama. Quite manifique, opera dengan kecanggihan 3-D berlayar air mancur. Setelah pertunjukan kami kembali pulang ke hotel, lelah rasanya.
Di hari terakhir, Gua dan Echa berjalan-jalan ke little India, sekedar melihat-lihat orang keling di sana, sambil makan siang di restoran india, makan curry dan roti prata di dunloop street. Lalu setelah itu kami berdua mengunjungi china town, untuk membeli souvenir kecil-kecil dan kaos sebelum pulang ke tanah air.
Saat masih berjalan-jalan di china town, Gua dan Echa masih asyik melihat barang-barang yang dijajakan oleh para penjual souvenir. Lalu Gua iseng untuk mengabadikan lagi momen liburan kami ini menggunakan kamera pocket. Gua asyik meng-capture kegiatan istri Gua dari berbagai sudut, yang tentunya istri Gua tidak menyadari. Setelah itu masih sambil berjalan ke tempat lainnya, Gua meng-capture suasana china town, tidak begitu ramai memang, karena saat itu bukanlah hari liburan. Gua masih menyapukan kamera ke berbagai spot sampai akhirnya, ketika Gua tidak sengaja membidik sebuah toko atau gerai, Gua melihat seorang wanita dalam bidikkan kamera pocket yang Gua genggam ini.
Jari tangan Gua secara tidak disengaja menekan tombol capture.
Cklik..foto ter-capture.
Gua langsung menurunkan kamera dan menatap tidak percaya ke objek di depan sana. Objek yang baru saja Gua abadikan dalam kamera pocket yang Gua genggam. Objek itu masih berada di depan toko tersebut, dia seorang diri, mungkin sedang bernegosiasi dengan si penjual.
Lalu tidak lama, ia pergi meninggalkan toko itu setelah menerima sebuah kantung berwarna cokelat dari penjual dan memeluknya di depan dadanya. Dia mulai berjalan menjauh kearah lainnya. Gua masih terpaku, berdiri terdiam melihatnya yang perlahan semakin jauh dari pandangan Gua. Sampai akhirnya sebuah senggolan dari seorang bule yang tidak sengaja berjalan dari arah belakang Gua mengenai lengan kanan ini.
"Oh.. Sorry sir..", ucap si bule.
Gua menengok kearahnya. "Oh ya, no problem..", balas Gua.
Lalu Gua tidak memperdulikan lagi si bule yang kembali berjalan, Gua kembali menengok kepada wanita yang tadi Gua foto, tapi sosoknya sudah tidak ada dari pandangan Gua. Pada akhirnya Gua berlari, ya Gua berlari mengejar sosok wanita yang menjadi objek foto Gua.
Cukup jauh jarak antara tempat Gua berdiri hingga ke toko dimana ia tadi Gua foto. Gua masih berlari untuk mengikuti arahnya berjalan. Lalu ketika Gua sudah berada di jalan lainnya, Gua melihatnya, melihat dia yang baru saja menaiki sebuah bus dari shelter yang berjarak kurang lebih lima belas meter dari tempat Gua berada.
Dia memasuki bus itu, lalu ketika Gua baru saja sampai di shelter, pintu bus tertutup. Gua menatapnya.. Ya Gua menatap dia yang baru saja masuk dan berada di dalam bus.
Entah ini hanya kebetulan semata atau hal lainnya yang tidak dapat Gua mengerti saat itu. Mungkin Tuhan masih memberikan keempatan untuk Gua melihatnya lagi, sekalipun kami belum sempat untuk bertemu dan berbicara seperti dulu. Tidak dapat dipercaya rasanya, seperti sebuah adegan film, tapi apa yang Gua alami dan rasakan benar-benar terjadi, nyata adanya.
Dia membalikkan badan dan tidak sengaja menatap keluar dari dalam bus, hanya sekian detik, ya hanya sekian detik saja mata kami saling bertemu. Wajahnya yang selama ini selalu Gua tatap dari jarak dekat, kini hanya bisa Gua lihat dari luar. Dimana Gua masih berdiri terpaku melihatnya yang terkejut seraya menempelkan kedua tangannya di balik jendela bus itu. Dan... Seiring bus yang kian cepat berjalan meninggalkan shelter ini, sosoknya kembali pergi, pergi dan menghilang lagi dari hadapan Gua.
"Zaaa...",
"Hey.. Haduh.. Kamu ngapain ? Aku panggilin gak nengok.. Hey..", ucap istri Gua yang sudah berada di samping dengan nafas yang sedikit terengah-engah.
Gua masih terpaku menatap bus itu yang kian menjauh.
"Za.. Sayang... Kamu liatin apa sih ?".
"Vera...", jawab Gua tanpa menoleh kepada Echa.
Jadi menurut Gua dengan adanya Echa yang sudah menjadi cucu menantu Nenek saat ini, Echa bisa lebih dulu pulang ke rumah dan menemani Nenek. Karena sekalipun Gua sekarang pulang-pergi dan tidak kost lagi, sudah pasti Gua pulang sehabis maghrib, paling cepat setengah enam sore, berbeda dengan istri Gua yang jadwal kuliahnya paling lama pukul satu siang, dan pukul empat sore biasanya istri Gua sudah berada di rumah.
Pandangan banyak orang mungkin melihat rumah tangga kami dipaksakan, karena melihat kami yang masih kuliah semester awal dan umur yang belum genap dua puluh tahun sudah menikah. Bahkan tidak sedikit Gua mendengar kabar yang mengatakan Echa sudah hamil duluan karena Gua. Tapi kami berdua tidak mau ambil pusing soal masalah itu, toh kami yang menjalani ini semua.
Ada lagi yang menanyakan, bisa bertanggungjawab atau tidak Gua kepada istri Gua, maksudnya, bagaimana Gua menghidupi istri Gua karena status Gua yang masih mahasiswa. Intinya nafkah kan ?
Pertama, bukan bermaksud sombong atau apapun, tapi ini sebagai contoh saja, bisnis atau sebut saja tanah yang diberikan oleh alm. Ayahanda kepada Gua masih ada, dan kontrak tanahnya masih berjalan sampai satu tahun setengah kedepan, lalu uang sewanya pun masih mengendap di rekening pribadi Gua tanpa sepeserpun pernah Gua pakai. Dan kalau mau di jelaskan lagi, itu bukan uang warisan, kecuali tanahnya. Dan sebenarnya menurut Gua pribadi, tanah tersebut juga bukan warisan dari alm. Ayahanda, beda lah antara pemberian secara langsung dengan warisan yang jelas ada suratnya, yang biasanya dititipkan kepada pengacara. Kedua, setelah Gua menikahi Echa, om dan tante Gua memberikan saran agar Gua menggunakan uang tabungan tersebut untuk membuka bisnis baru, ya sebagai pemasukkan dan juga nafkah keluarga. Saat itu Gua menginvestasikan uang tabungan beberapa rupiah ke sebuah bisnis kuliner, jajanan lebih tepatnya, yang sistemnya franchise. Tau kan ? Nah makanannya apa, ada deh ya, kalian juga tau pasti saat tahun 2007 franchise apa yang sedang booming. Gua merekrut dua pegawai sekaligus saat itu, yang orangnya masih tetangga rumah juga, untuk dua franchise tentunya. Terkadang di hari minggu, Gua dan Echa suka ikut jualan dan melayani pembeli. Dari situlah Gua bisa menafkahi istri Gua, sekalipun uang yang Gua hasilkan masih tergolong sedikit tapi cukuplah untuk makan kami berdua selama sebulan.
Ada hal lain sih, dan ini pandangan Gua karena pernah melihat suatu hadis yang Gua baca. Ketika kalian menikahi seorang wanita, dan ternyata kalian belum memiliki pekerjaan, itu bukanlah suatu halangan, dan bukan pula suatu keharusan memiliki pekerjaan terlebih dahulu baru menikah. Gua rasa soal yang satu ini harus benar-benar dipahami. Inti dari hadis tersebut yang Gua tangkap adalah, selama kalian masih memiliki orangtua dan belum memiliki pekerjaan pada saat sudah berumah tangga, tidak ada larangannya kalian bernaung kepada mereka (orangtua), meminta bantuan. Tapi ingat, bukan berarti kalian hanya terus menerus meminta kepada orangtua, tetap harus mencari pekerjaan, sampai benar-benar mendapatkan penghasilan sendiri dan lepas dari bantuan orangtua.
Dah kebanyakan ceramah tar Gua jadi ustad lagi...

Beralih ke beberapa hari setelah Gua melaksanakan acara resepsi dan menjalani rutinitas perkuliahan. Semenjak Gua menikah dengan Echa, alhamdulilah dirinya sudah tidak cemburu lagi dengan tante Gua. Ya kalau kalian baca MyPI tau lah alasannya apa kan, hehehe.. Cemburu Gais. Dan ini bukan berarti Echa membenci Kinan, salah besar kalau kalian beranggapan begitu.
...
Bulan september sudah tiba, perkuliahan Gua yang sempat terbengkalai karena kejadian saat Nona Ukhti hilang dan cuti satu bulan untuk acara pernikahan tidak banyak memberikan dampak buruk pada nilai mata kuliah apapun di kampus. So far I'm on the right track (again).
Kehadiran Echa sebagai istri dalam kehidupan Gua yang baru benar-benar memberikan energi positif kepada Gua, jujur saja, Gua tidak lagi berani menggoda perempuan lain, di kampus maupun saat berpergian sendiri. Entah apa karena merasa sudah memiliki hubungan yang sudah sah atau memang alam bawah sadar Gua yang mengingatkan bahwa sekarang Gua sudah memiliki pendamping hidup yang halal atau ada faktor lain, yang jelas tanpa Gua sadari, saat Gua melirik perempuan lain, seketika itu juga sosok Echa langsung hadir di dalam benak Gua.
Ada hal-hal yang sulit untuk diungkapkan oleh kata-kata, layaknya perasaan yang benar-benar murni keluar dari dalam jiwa kita untuk seseorang yang kita sayangi. Dan kemurnian perasaan tersebut tidaklah mungkin salah. Jauh dari dalam hati kita, ternyata kita sudah meyakini bahwasannya dia lah yang terbaik diantara banyaknya pilihan.
...
September 2007, suatu hari di bulan tersebut Gua bersama istri sedang mengepak pakaian di kamar Gua, rumah Nenek. Kami berencana untuk berlibur ke singapore esok hari. Tiket, paspor dan kelengkapan administrasi sudah beres, tinggal pakaian saja yang masih kami siapkan. Rencananya, kami berdua akan berlibur selama dua malam tiga hari di negara tersebut. Tentunya kami berdua mengorbankan kuliah kami selama satu hari, tapi gak apa lah ya bolos sekali-sekali.

Selesai mengepak barang yang diperlukan, kini Gua mengajak istri tercinta dan Nenek ke salah satu restoran di ibu kota, sekitar pukul delapan malam kami sudah sampai di sana. Tidak lama kemudian kami memesan makanan dan langsung mulai menyantapnya ketika pesanan kami sudah datang.
"Alhamdulilah kenyang", ucap Gua sambil menyandarkan punggung ke bahu kursi.
"Ini minumnya sayang", Echa menyodorkan segelas es teh manis kepada Gua.
"Makasih sayang..", jawab Gua setelah menerima gelas tersebut lalu meminum es teh tersebut.
"Nenek mau nambah lagi ?", tanya istri Gua kepada Nenek.
Nenek Gua tersenyum sambil menggelengkan kepalanya kepada istri Gua itu. "Makasih Cha, Nenek sudah kenyang".
"Kalo gitu, Echa ambilkan minum aja ya Nek", ucap istri Gua lagi seraya berdiri dari duduknya, membawa gelas minum Nenek, dan berjalan kearah counter refill minuman.
"Istri mu baik kan ? Tidak salah toh kami menyarankan kamu menikahinya Za..", Nenek tersenyum kepada Gua lalu melirik kepada Echa yang masih mengisi gelas Nenek dengan minuman dingin.
Gua mengangguk kepada Nenek. "Iya Nek, alhamdulilah..", jawab Gua.
"Jaga keutuhan rumah tangga kalian ya Za, yang namanya berumah tangga pasti ada saja pasang surutnya. Tapi itu semua sebagai ujian dan cobaan dalam membina rumah tangga, dan kamu sebagai kepala keluarga harus bisa membawa keluarga mu ke jalan yang baik.. Mulailah bersikap lebih dewasa dan menahan emosi mu mulai sekarang ya", Nenek memberikan wejangan kepada Gua dengan tetap tersenyum dan nada yang halus.
"Iya, insha Alloh Eza ingat kata-kata Nenek, dan semoga Eza bisa menjadi kepala keluarga yang baik, bertanggungjawab dan amanah", jawab Gua.
"Aamiiin..", balas Nenek.
Tidak lama kemudian Echa kembali dengan segelas minuman dingin yang sudah terisi penuh untuk Nenek, dan duduk kembali di samping Gua.
"Mas..", panggil Echa kepada pelayan resto.
"Iya Mba, mau pesan lagi ?", tanya si pelayan ketika sudah berdiri di samping istri Gua.
"Oh enggak, saya cuma mau minta tolong makanan yang ini di bungkus ya Mas", jawab istri Gua sambil mengangkat sebuah piring yang masih berisi makanan favoritnya itu.
"Oh oke Mba..",
"Sebentar saya bawa dulu ya Mba", jawab pelayan kali ini sambil menerima piring berisi makanan itu dan berlalu kearah dapur.
"Itu yang kamu bungkus nama makanannya apa Cha ?", tanya Nenek penasaran.
"Tempura Nek...".
...
...
...
Singapore, september 2007.
Sepuluh hari sebelum menjelang puasa ramadhan di tahun 1428 Hijriyah, Gua bersama istri sedang menikmati liburan, hari itu adalah hari pertama Gua dan Echa berada di negara singapura, untuk hari pertama ini kami berjalan-jalan ke beberapa tempat yang menjadi icon negara tersebut, dari mulai esplanade, patung merlion dan furlethon.
Tidak lupa kami berdua melakukan sesi foto di depan esplanade, menuju merlion park melewati esplanade Bridge. Dan seperti kebanyakan turis lainnya, rasanya tidak afdol kalau tidak mengabadikan momen ini di depan patung merlion dengan background esplanade diseberang kanal dan furlethon hotel, juga gedung yang menjulang tinggi di sisi lain.
Setelah puas di merlion park, kami menyeberang kanal di samping furlethon hotel, melewati quay atau jalan setapak dipinggir kanal sampai dengan raffles landing site, yang katanya di klaim sebagai tempat pertama kali raflles menginjakan kaki di singapura. Menjelang sore hari, kami berdua makan di sebuah resto, kami memesan nasi hainan serta bebek panggang sebagai lauknya.
Selesai makan dan sedikit jalan-jalan, kami berdua kembali ke hotel untuk beristirahat. Keesokan harinya kami kembali jalan-jalan, untuk hari kedua ini, sepertinya Gua yang menemani sang istri, karena dia ingin membeli ehm, tas. Siang hari Gua menemani Echa ke beberapa pusat perbelanjaan untuk memburu tas yang ia inginkan, tidak banyak tempat yang kami sambangi di siang itu karena Gua hanya menemani Echa menuntaskan hasrat belanjanya.
Barulah ketika malam hari kami bertolak ke wahana baru di sentosa island yang berlokasi di siloso beach, di depan beach station. Sebelumnya wahana ini berlokasi di magic fontain. Kami berdua antri cukup lama. Quite manifique, opera dengan kecanggihan 3-D berlayar air mancur. Setelah pertunjukan kami kembali pulang ke hotel, lelah rasanya.
Di hari terakhir, Gua dan Echa berjalan-jalan ke little India, sekedar melihat-lihat orang keling di sana, sambil makan siang di restoran india, makan curry dan roti prata di dunloop street. Lalu setelah itu kami berdua mengunjungi china town, untuk membeli souvenir kecil-kecil dan kaos sebelum pulang ke tanah air.
Saat masih berjalan-jalan di china town, Gua dan Echa masih asyik melihat barang-barang yang dijajakan oleh para penjual souvenir. Lalu Gua iseng untuk mengabadikan lagi momen liburan kami ini menggunakan kamera pocket. Gua asyik meng-capture kegiatan istri Gua dari berbagai sudut, yang tentunya istri Gua tidak menyadari. Setelah itu masih sambil berjalan ke tempat lainnya, Gua meng-capture suasana china town, tidak begitu ramai memang, karena saat itu bukanlah hari liburan. Gua masih menyapukan kamera ke berbagai spot sampai akhirnya, ketika Gua tidak sengaja membidik sebuah toko atau gerai, Gua melihat seorang wanita dalam bidikkan kamera pocket yang Gua genggam ini.
Jari tangan Gua secara tidak disengaja menekan tombol capture.
Cklik..foto ter-capture.
Gua langsung menurunkan kamera dan menatap tidak percaya ke objek di depan sana. Objek yang baru saja Gua abadikan dalam kamera pocket yang Gua genggam. Objek itu masih berada di depan toko tersebut, dia seorang diri, mungkin sedang bernegosiasi dengan si penjual.
Lalu tidak lama, ia pergi meninggalkan toko itu setelah menerima sebuah kantung berwarna cokelat dari penjual dan memeluknya di depan dadanya. Dia mulai berjalan menjauh kearah lainnya. Gua masih terpaku, berdiri terdiam melihatnya yang perlahan semakin jauh dari pandangan Gua. Sampai akhirnya sebuah senggolan dari seorang bule yang tidak sengaja berjalan dari arah belakang Gua mengenai lengan kanan ini.
"Oh.. Sorry sir..", ucap si bule.
Gua menengok kearahnya. "Oh ya, no problem..", balas Gua.
Lalu Gua tidak memperdulikan lagi si bule yang kembali berjalan, Gua kembali menengok kepada wanita yang tadi Gua foto, tapi sosoknya sudah tidak ada dari pandangan Gua. Pada akhirnya Gua berlari, ya Gua berlari mengejar sosok wanita yang menjadi objek foto Gua.
Cukup jauh jarak antara tempat Gua berdiri hingga ke toko dimana ia tadi Gua foto. Gua masih berlari untuk mengikuti arahnya berjalan. Lalu ketika Gua sudah berada di jalan lainnya, Gua melihatnya, melihat dia yang baru saja menaiki sebuah bus dari shelter yang berjarak kurang lebih lima belas meter dari tempat Gua berada.
Dia memasuki bus itu, lalu ketika Gua baru saja sampai di shelter, pintu bus tertutup. Gua menatapnya.. Ya Gua menatap dia yang baru saja masuk dan berada di dalam bus.
Entah ini hanya kebetulan semata atau hal lainnya yang tidak dapat Gua mengerti saat itu. Mungkin Tuhan masih memberikan keempatan untuk Gua melihatnya lagi, sekalipun kami belum sempat untuk bertemu dan berbicara seperti dulu. Tidak dapat dipercaya rasanya, seperti sebuah adegan film, tapi apa yang Gua alami dan rasakan benar-benar terjadi, nyata adanya.
Dia membalikkan badan dan tidak sengaja menatap keluar dari dalam bus, hanya sekian detik, ya hanya sekian detik saja mata kami saling bertemu. Wajahnya yang selama ini selalu Gua tatap dari jarak dekat, kini hanya bisa Gua lihat dari luar. Dimana Gua masih berdiri terpaku melihatnya yang terkejut seraya menempelkan kedua tangannya di balik jendela bus itu. Dan... Seiring bus yang kian cepat berjalan meninggalkan shelter ini, sosoknya kembali pergi, pergi dan menghilang lagi dari hadapan Gua.
"Zaaa...",
"Hey.. Haduh.. Kamu ngapain ? Aku panggilin gak nengok.. Hey..", ucap istri Gua yang sudah berada di samping dengan nafas yang sedikit terengah-engah.
Gua masih terpaku menatap bus itu yang kian menjauh.
"Za.. Sayang... Kamu liatin apa sih ?".
"Vera...", jawab Gua tanpa menoleh kepada Echa.
Diubah oleh glitch.7 15-05-2017 09:55
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 
