- Beranda
- Stories from the Heart
Pelangi Sebelum Hujan
...
TS
8313090
Pelangi Sebelum Hujan
Quote:
Quote:
Diubah oleh 8313090 15-05-2017 09:43
anasabila memberi reputasi
1
6.1K
45
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
8313090
#41
Part 6
Kumandang adzan yang menggema membangunkan aku dari mimpi yang hanya terisi hitam. Aku bangkit dan langsung menuju dapur. Ibuku sudah bangun dan sedang memasak air dan memanaskan nasi. Gelas aku ambil dan aku isi air putih dari tempatnya, terasa air sedikit hangat.
Ibuku melihat ke arahku dan tersenyum, “Temen kamu pulang jam berapa?” tanyanya sambil menuangkan nasi ke dalam langseng.
“Jam sembilanan kayanya, Bu.” Aku lalu pergi menuju kamar mandi untuk mandi dan bersuci. Kebiasaanku memang mandi waktu-waktu shubuh, walau dingin benar-benar menusuk sampai ke tulang.
Sekitar lima belas menit aku selesai dan keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Secangkir minuman dalam cangkir bergagang sudah ada di atas meja makan, aku belum tahu itu isinya apa tapi masih terlihat asap mengepul keluar ke atas gelas dan menghilang.
Aku langsung ke kamarku, memakai baju lalu sembahyang. Setelah beberapa menit aku mengambil ponselku dan melihat pesan yang masuk. Teman-temanku memang iseng, beberapa pesan dari temanku yang mengingatkan aku hari ini untuk kerja, padahal kejadian itu sudah lama dan mereka masih ingat saja. Sedangkan pesan dari Windi yang aku harapkan, tidak ada sama sekali, masih pesanku yang terakhir. Mungkin dia belum bangun sepagi ini, aku berpikir positif.
Aku lalu kembali ke dapur, ponsel aku simpan di atas meja. Ibuku terlihat sudah menyiapkan beberapa makanan di atas sana. Nasi pun seperti belum terlalu panas, namun itu bukan masalah. Lauknya pun lauk kemarin pagi, ya aku maklumi karena semalam sakit Ibuku kumat, sehingga dia tidak bisa masak hari ini.
“Maaf ya Dri, lauknya yang kemarin, belum Ibu hangatkan tapi belum basi juga,” ucapnya sambil mencium bau dari makanan tersebut.
“Iya enggak apa-apa kok, Bu, yang pentingkan aku bisa sarapan.” Aku memang terbiasa makan jam setengah enam pagi jika hari kerja, agar aku bisa hemat tidak membeli sarapan di luar.
Biasanya saat sarapan seperti ini, aku dan Ibu pasti ngobrol tentang hal apa pun denganku. Tentang teman-teman pengajiannya, tentang harga sembako yang mahal, atau pun tentang masa depan aku, dan mungkin pagi ini pasti Ibuku akan membicarakan tentang Putri.
“Kamu udah menentukan siapa yang mau jadi istri kamu?” tanya Ibuku tanpa basa basi.
Aku dengan tenang menggelengkan kepala, karena mulutku sekarang masih penuh dengan makanan.
“Terus temen kamu yang semalam gimana?” lanjut tanya Ibuku.
“Putri?, dia udah tunangan,” ucapku singkat.
“Tapi buktinya dia enggak pakai cincin,” bela Ibuku.
“Aku waktu tunangannya datang kok, Bu,” ucapku.
Ibu lalu terlihat memainkan cangkir yang berisi minuman di depannya, aku yakin itu teh, karena tidak mungkin Ibuku meminum kopi. Tatapan matanya terlihat menuju piringku, walau tersisa tinggal sedikit lagi, mungkin dia menunggu aku menghabiskannya.
“Tapi kenapa cincinnya tidak dipakai?” tanya Ibuku.
“Ya, mungkin lupa kali, Bu.”
“Emang kamu enggak berharap punya istri dia?” tanya Ibuku serius.
“Iya, kalau jodoh sih mau aja,” jawabku sambil tersenyum malu.
“Mungkin aja-kan dia udah putus, dan sekarang enggak pakai cincin itu terus enggak bilang-bilang sama orang lain karena malu.”
“Jangan mendo’akan yang enggak baik, Bu ... nanti kalau aku nikah sama dia malah jadi enggak bahagia,” jawabku sedikit bijak, namun ucapanku telak membuat Ibu terdiam.
Ibu benar-benar terdiam, pandangannya melihat ke dalam cangkir yang dia pegang. Tak lama, butir air jatuh ke atas meja, sebuah air mata. “Ibu, kok nangis,” ucapku polos.
Apakah ucapanku menyakiti hatinya?, aku tidak tahu, karena sejak kecil aku tidak pernah diceritakan bagaimana keluarga yang membuat aku terlahir ke dunia ini, apakah keluarga Ibu yang dulu bahagia atau tidak, aku tidak pernah tahu.
Aku bangkit dan berdiri disamping Ibuku, mengusap-usap pundaknya. “Jangan nangis, Bu ... maafin aku yah kalau nyakitin hati Ibu,” ucapku pelan.
“Udah sana kamu berangkat, udah jam enam,” ucapnya dalam tangis.
“Jangan lupa minum obatnya ya, Bu, nanti,” ucapku sambil menuju kamarku.
Aku berganti pakaian dengan pakaian biasa aku kerja, kemeja dan celana panjang. Sampai aku kembali keluar dari kamarku, Ibu masih tertunduk lesu. Aku mendekatinya dan mencium tangannya tanda akan pergi, namun pandangannya masih kosong menatap ke arah cangkir.
Sebenarnya aku tidak tega untuk meninggalkan dia seorang diri dalam keadaan seperti ini, tapi jika aku tidak menuruti perintahnya, aku bisa terlambat dan bahkan membuat hatinya tambah sedih.
“Permisi, Bu!” teriakku di depan rumah tetanggaku.
“Iya ... Eh, ada apa Mas Andri?” ucap seorang wanita paruh baya dengan menggunakan daster. Namanya Ibu Wulan, aku biasa menitipkan Ibuku padanya. Dia baik, mau menemani Ibuku walau sampai Ibuku kembali tertidur.
“Mau nitip Ibu, enggak apa-apa?” ucapku meminta izinnya.
“Oh, iya enggak apa-apa ... Mas mau kerja, ya?” tanyanya basa basi.
“Iya, maaf ya, Bu, sering ngerepotin.”
Aku menuju motorku dan pergi menuju tempat aku bekerja, walau dengan hati yang berat tapi aku paksakan.
Ibuku melihat ke arahku dan tersenyum, “Temen kamu pulang jam berapa?” tanyanya sambil menuangkan nasi ke dalam langseng.
“Jam sembilanan kayanya, Bu.” Aku lalu pergi menuju kamar mandi untuk mandi dan bersuci. Kebiasaanku memang mandi waktu-waktu shubuh, walau dingin benar-benar menusuk sampai ke tulang.
Sekitar lima belas menit aku selesai dan keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Secangkir minuman dalam cangkir bergagang sudah ada di atas meja makan, aku belum tahu itu isinya apa tapi masih terlihat asap mengepul keluar ke atas gelas dan menghilang.
Aku langsung ke kamarku, memakai baju lalu sembahyang. Setelah beberapa menit aku mengambil ponselku dan melihat pesan yang masuk. Teman-temanku memang iseng, beberapa pesan dari temanku yang mengingatkan aku hari ini untuk kerja, padahal kejadian itu sudah lama dan mereka masih ingat saja. Sedangkan pesan dari Windi yang aku harapkan, tidak ada sama sekali, masih pesanku yang terakhir. Mungkin dia belum bangun sepagi ini, aku berpikir positif.
Aku lalu kembali ke dapur, ponsel aku simpan di atas meja. Ibuku terlihat sudah menyiapkan beberapa makanan di atas sana. Nasi pun seperti belum terlalu panas, namun itu bukan masalah. Lauknya pun lauk kemarin pagi, ya aku maklumi karena semalam sakit Ibuku kumat, sehingga dia tidak bisa masak hari ini.
“Maaf ya Dri, lauknya yang kemarin, belum Ibu hangatkan tapi belum basi juga,” ucapnya sambil mencium bau dari makanan tersebut.
“Iya enggak apa-apa kok, Bu, yang pentingkan aku bisa sarapan.” Aku memang terbiasa makan jam setengah enam pagi jika hari kerja, agar aku bisa hemat tidak membeli sarapan di luar.
Biasanya saat sarapan seperti ini, aku dan Ibu pasti ngobrol tentang hal apa pun denganku. Tentang teman-teman pengajiannya, tentang harga sembako yang mahal, atau pun tentang masa depan aku, dan mungkin pagi ini pasti Ibuku akan membicarakan tentang Putri.
“Kamu udah menentukan siapa yang mau jadi istri kamu?” tanya Ibuku tanpa basa basi.
Aku dengan tenang menggelengkan kepala, karena mulutku sekarang masih penuh dengan makanan.
“Terus temen kamu yang semalam gimana?” lanjut tanya Ibuku.
“Putri?, dia udah tunangan,” ucapku singkat.
“Tapi buktinya dia enggak pakai cincin,” bela Ibuku.
“Aku waktu tunangannya datang kok, Bu,” ucapku.
Ibu lalu terlihat memainkan cangkir yang berisi minuman di depannya, aku yakin itu teh, karena tidak mungkin Ibuku meminum kopi. Tatapan matanya terlihat menuju piringku, walau tersisa tinggal sedikit lagi, mungkin dia menunggu aku menghabiskannya.
“Tapi kenapa cincinnya tidak dipakai?” tanya Ibuku.
“Ya, mungkin lupa kali, Bu.”
“Emang kamu enggak berharap punya istri dia?” tanya Ibuku serius.
“Iya, kalau jodoh sih mau aja,” jawabku sambil tersenyum malu.
“Mungkin aja-kan dia udah putus, dan sekarang enggak pakai cincin itu terus enggak bilang-bilang sama orang lain karena malu.”
“Jangan mendo’akan yang enggak baik, Bu ... nanti kalau aku nikah sama dia malah jadi enggak bahagia,” jawabku sedikit bijak, namun ucapanku telak membuat Ibu terdiam.
Ibu benar-benar terdiam, pandangannya melihat ke dalam cangkir yang dia pegang. Tak lama, butir air jatuh ke atas meja, sebuah air mata. “Ibu, kok nangis,” ucapku polos.
Apakah ucapanku menyakiti hatinya?, aku tidak tahu, karena sejak kecil aku tidak pernah diceritakan bagaimana keluarga yang membuat aku terlahir ke dunia ini, apakah keluarga Ibu yang dulu bahagia atau tidak, aku tidak pernah tahu.
Aku bangkit dan berdiri disamping Ibuku, mengusap-usap pundaknya. “Jangan nangis, Bu ... maafin aku yah kalau nyakitin hati Ibu,” ucapku pelan.
“Udah sana kamu berangkat, udah jam enam,” ucapnya dalam tangis.
“Jangan lupa minum obatnya ya, Bu, nanti,” ucapku sambil menuju kamarku.
Aku berganti pakaian dengan pakaian biasa aku kerja, kemeja dan celana panjang. Sampai aku kembali keluar dari kamarku, Ibu masih tertunduk lesu. Aku mendekatinya dan mencium tangannya tanda akan pergi, namun pandangannya masih kosong menatap ke arah cangkir.
Sebenarnya aku tidak tega untuk meninggalkan dia seorang diri dalam keadaan seperti ini, tapi jika aku tidak menuruti perintahnya, aku bisa terlambat dan bahkan membuat hatinya tambah sedih.
“Permisi, Bu!” teriakku di depan rumah tetanggaku.
“Iya ... Eh, ada apa Mas Andri?” ucap seorang wanita paruh baya dengan menggunakan daster. Namanya Ibu Wulan, aku biasa menitipkan Ibuku padanya. Dia baik, mau menemani Ibuku walau sampai Ibuku kembali tertidur.
“Mau nitip Ibu, enggak apa-apa?” ucapku meminta izinnya.
“Oh, iya enggak apa-apa ... Mas mau kerja, ya?” tanyanya basa basi.
“Iya, maaf ya, Bu, sering ngerepotin.”
Aku menuju motorku dan pergi menuju tempat aku bekerja, walau dengan hati yang berat tapi aku paksakan.
0