- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#3610
PART 53
Wedding Day
Hari ini datang juga, hari dimana Gua dan Echa akan berada di atas pelaminan. Tak pernah sedikitpun terlintas dalam fikiran Gua bahwa di usia semuda ini sudah menikah, memperistri seorang wanita yang juga sahabat masa kecil Gua. Beberapa bayangan kenangan menari-nari di dalam fikiran ini, memutar setiap kepingan kenangan saat bersamanya.
Echa, teteh tercinta Gua, si bapau, yang bekulit putih, gendut, chubby, anak gadis yang selalu menangis ketika teman sekolah kami meledeknya, dan selalu berlindung di balik adik kelasnya, ya Gua lah yang menjadi tameng pertama untuknya ketika itu. Dimana saat dia menjadi bahan olok-olok teman lain, Echa selalu berlari ke kelas Gua dan mengadukan setiap perlakuan iseng teman-temannya. Tak ayal Gua selalu berkelahi dengan teman kelasnya itu, yang juga kakak kelas Gua. Lucu, bukan perkelahian seperti saat Gua di SMA, melainkan perkelahian yang membuat guru tertawa, karena kami malah memperagakan adegan dalam film dragon ball, berlaga seperti super saiyan lalu mengeluarkan jurus kameha-meha. Hahahaha... Salah satu kenangan yang indah untuk Gua.
Pada akhirnya, Echa yang dulu selalu Gua lindungi kini sudah menjadi istri Gua. Penantiannya yang tak pernah surut akhirnya membuahkan sebuah hubungan yang lebih dari apa yang ia harapkan sebelumnya, lebih dari sekedar sepasang kekasih. Tapi kini kami sudah menjadi suami-istri.
Masih beberapa jam sebelum tamu undangan datang, beberapa pekerja catering masih hilir-mudik untuk mempersiapkan prasmanan. Istri Gua masih berada di kamar rias, kamar atau ruangan di bagian belakang pelaminan. Sedangkan Gua yang memang tidak pernah mau di rias, berada di halaman belakang gedung, menghisap sebatang rokok dan menikmati secangkir kopi hitam. Gua duduk di tangga bersama Unang, Dewa dan Icol. Ketiga sahabat rumah Gua itu memang sudah datang dari pagi, sedangkan Rekti dan Robbi harus datang siang karena masih bergelut dengan pekerjaan mereka masing-masing. Hanya obrolan santai seputar resepsi hari ini yang kami bicarakan.
Gua melirik jam pada pergelangan tangan kiri, dan ternyata masih satu jam lebih acara baru akan di mulai. Tidak ada perasaan cemas atau deg-dega'an lagi hari ini, karena akad nikah sudah Gua lalui beberapa minggu lalu. Saat ini Gua hanya tinggal duduk lalu berdiri terus menerus sambil memberikan senyuman kepada setiap tamu undangan, pasti lelah fikir Gua nanti.
"Asyik ya Za, beres resepsi langsung nginep di hotel nih, hehehe..", ucap Icol.
"Perlu obat kuat Bro ?", timpal Unang kali ini.
"Hahaha.. Lemah amat Gua sampe perlu minum obat kuat segala..", jawab Gua sambil terkekeh,
"Gua sebenernya bingung, buat apa disewain kamar hotel, padahal di rumahnya atau di rumah Gua juga gak masalah, lagian pasti capek, molor yang ada Gua", lanjut Gua.
"Gua siap jadi seksi dokumentasi Za buat tar malem", ucap Dewa kali ini.
"Kampret bener, buat apaan di videoin hahaha..", jawab Gua.
"Tapi enaklah, fasilitasnya oke banget, mana ni gedung megah pula Za", ucap Unang lagi.
"Berlebihan ini Nang, malu Gua sebenernya ma.. Sayang aja ini keluarganya mau hamburin duit, hadeuh".
"Laah, namanya juga anak semata wayang, anak perempuan satu-satunya, sekali seumur idup ini Za", ucap Icol kali ini sambil mengambil gelas kopinya.
"Iya Za, tamu undangan dari pihak keluarganya juga kan bukan tamu biasa, kayak gak tau aja Lu ma", timpal Dewa sambil menghembuskan asap rokok.
Ya apa yang dikatakan sahabat Gua ada benarnya, selain memang istri Gua adalah anak satu-satunya, Papahnya pasti mengundang relasi dan orang-orang yang memiliki jabatan penting di pemerintahan. Jadi Gua rasa memang masih wajar mungkin dengan apa yang ia inginkan dalam resepsi pernikahan anaknya ini. Belum lagi tahun ini beliau akan pensiun dari pekerjaannya, seperti yang istri Gua katakan, acara resepsi ini sekaligus sebagai acara perpisahan Papah mertua Gua dengan rekan kerjanya.
Tanpa terasa acara sudah akan di mulai dalam waktu kurang dari satu jam, Gua dipanggil oleh pihak E.O untuk segera berganti pakaian, dan akhirnya mau tidak mau, suka tidak suka Gua pun dengan pasrah merelakan diri ini di rias. Saat itu busana yang Gua kenakan untuk pertama kali dalam acara ini adalah busana adat jawa, sesuai dengan kota kelahiran kedua orangtua istri Gua. Beres di rias dan mengenakan busana adat solo yang tanpa pakaian bagian atas, Gua berjalan ke luar ruangan dan mulai mengikuti proses acara yang sudah disusun dan dibawakan oleh seorang mc.
Untuk pertama kalinya Gua melihat Echa mengenakan busana adat jawa itu, dirinya terlihat cantik dengan apa yang ia kenakan, belum lagi riasan pada wajahnya dari hasil karya seus ayu. Gua akui, itu mahluk satu jago banget ngerias pengantin, pro dan expert lah. Rambut istri Gua disanggul sedemikian rupa dengan ditambah bunga-bunga serta sedikit bunga yang entah apa Gua tidak tau namanya, belum lagi riasan warna hitam dikeningnya yang membentuk sudut-sudut. "Paesan" kalo gak salah namanya ya ?
Gua skip langsung dimana saat itu Gua dan Echa sudah berada di atas pelaminan, di sisi kiri Echa, sudah duduk kedua orangtuanya, sedangkan di sisi kanan Gua, ada om dan tante Gua sebagai perwakilan dari alm dan almh orangtua Gua.
Sekitar pukul sepuluh pagi tamu undangan sudah mulai berdatangan, apa yang awalnya Gua perkirakan ternyata meleset, tiba-tiba saja Gua jadi sedikit gugup, bukan apa-apa, ini lama-lama tamu undangan jadi membludak, entah berapa lembar surat undangan yang disebar oleh kedua orangtua Echa diluar undangan untuk teman-teman Gua dan Echa. Jadi pusat perhatiaan untuk pertama kalinya itu tidak enak ternyata, ada sedikit rasa risih, dan tampaknya, istri tercinta Gua menyadari hal tersebut.
"Kenapa ?", tanyanya sambil menaruh tangan kanannya itu ke paha kiri Gua.
"Eh.. Enggak apa-apa, cuma.. Banyak ternyata yang datang ya", jawab Gua sambil memperhatikan tamu undangan yang mulai berjalan kearah pelaminan.
"Alhamdulilah kan.. Rejeki dan silaturahmi kita baik berarti sayang", ucapnya,
"Tuh udah ada yang naik ke pelaminan, yuk diri Za", ajaknya sambil mulai bangkit dari duduk.
Ya akhirnya mulailah Gua berdiri untuk menyambut para tamu undangan itu, mengucapkan terimakasih atas do'a dan ucapan selamat dari mereka sambil bersalaman. Cukup lama Gua berdiri sambil menyalami tamu-tamu undangan sampai akhirnya salah satu teman masa SD Gua dan Echa ada diantara antrian tamu undangan itu. Dewi, yang merupakan saudara dari istri Gua adalah teman kami yang pertama mengucapkan selamat diatas pelaminan ini setelah sebelumnya tamu dari Papahnya Echa yang datang.
Kemudian setelah itu barulah Unang, Dewa, Meli, Icol, Desi dan Mba Yu naik keatas pelaminan dan mengucapkan selamat kepada kami berdua. Saat itu Mba Yu menjadi orang terakhir yang mengucapkan selamat diantara sahabat Gua tadi.
"Mas..", ucap Mba Yu ketika berada dihadapan Gua.
Gua membalas senyumannya.
"Selamat ya.. Semoga pernikahan kamu sama Echa selalu dalam kebahagiaan. Jangan lupa ya Mas, sekarang kamu punya tanggungjawab yang besar untuk keluarga kecil mu.. Sayangi Echa sepenuh hati kamu ya", ucap Mba Yu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Saat itu, Mba Yu mengenakan kebaya berwarna pink, riasan diwajahnya benar-benar membuatnya cantik dan sangat berbeda. Mantan Gua yang satu ini memang paling berjasa untuk kelangsungan acara pernikahan Gua dan Echa. Terimakasih banyak Mba atas segala apa yang sudah kamu lakukan sampai detik ini.
"Iya Mba, terima kasih ya.. Dan..", Gua berfikir sejenak lalu memejamkan mata sebentar. "Maaf untuk janji aku yang gak pernah bisa aku tepati..", lanjut Gua pada akhirnya.
Mba Yu pun akhirnya tidak bisa menahan air mata yang memang sudah menggenang pada kedua sudut matanya sedari tadi, akhirnya air mata itu membasahi pipinya, dan sebuah pelukkan menandakan bahwa Gua dan dirinya kini benar-benar merelakan apa yang pernah kami impikan dulu.
"Makasih ya Mas, untuk waktu yang pernah kita lalui bersama.. Aku juga minta maaf", ucapnya dalam pelukkan Gua.
"Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu Mba, sampai detik ini kamu selalu bantu aku.. Maafin aku ya Mba", jawab Gua sambil mengusap punggungnya.
"Udah ah, pokoknya kamu harus bisa jagain istri kamu loch Mas, awas aja, aku gak mau denger Echa nangis karena kamu!", ucapnya kali ini sambil melepaskan pelukkan.
"Hehehe iya iya, makasih sekali lagi, cepet nyusul Mba hehehe"
"Aku mau fokus kuliah dulu Za, kerja, baru nikah", jawabnya.
Kemudian Mba Yu berjalan ke samping Gua lalu memeluk istri Gua.
"Selamat ya sayaaang.. Adikkuuu.. Semoga kamu bisa jadi istri yang selalu menyayangi suami kamu.. Jangan ragu-ragu suruh Eza tidur di luar kalo dia nakal ya Dek", ucap Mba Yu setelah melepaskan pelukkannya pada istri Gua.
Echa tertawa sambil melirik kepada Gua. "Iya Mba, makasih ya untuk do'a nya, makasih juga Mba udah mau bantuin aku untuk acara hari ini", jawab Echa kepada Mba Yu.
"Iya, pokoknya aku ikut bahagia untuk kalian berdua, sekali lagi selamat ya sayang, semoga jadi keluarga yang bahagia..", lalu Mba Yu memberikan kecupan pada kedua pipi Echa.
Tidak lama kemudian Mba Yu pun bersalaman dengan kedua orangtua Echa, lalu turun dari pelaminan dan kembali bergabung bersama teman-teman kami semua untuk menikmati hidangan yang sudah disajikan. Gua dan Echa kembali duduk karena tamu undangan belum ada yang naik lagi ke atas pelaminan.
"Cha, aku pingin kopi", ucap Gua kepada istri tercinta.
"Oh sebentar..", lalu mencari sosok art nya yang memang ikut ke acara hari ini. Tapi baru saja dia menemukan sosok art nya itu, Echa seperti tersadar sesuatu. "Eh.. Bukannya kamu udah ngopi tadi pagi Za ?", tanyanya.
Gua tersenyum sambil mengangguk dan menggaruk alis yang tidak gatal.
"Hmm.. Nanti lagi ya ngopinya sayang, siangan aja", ucapnya kemudian yang langsung membuat Gua memutar bola mata seraya memalingkan muka dari istri Gua itu.
"Jangan kebanyakan ngopi ah, ya ?", ucapnya lagi.
"Iya iya.. Yaudah sini air minumnya, aku minta", jawab Gua yang langsung diberikan segelas air kemasan oleh Echa yang dia ambil dari dalam tas kecil di sisi sofa pelaminan ini.
Semakin siang semakin banyak tamu undangan yang hadir, saat itu masih ramai tamu dari rekan kerja Papahnya Echa, dan teman-teman kampus Echa. Sekitar pukul setengah dua belas, Echa diminta berganti pakaian, yang membuat Gua duduk di pelaminan sendirian sebagai salah satu pasangan pengantin. Gua pun menyambut beberapa teman SD kami sendirian saat Echa masih belum kembali, baru sekitar setengah jam lebih giliran Gua yang berganti pakaian setelah Echa duduk kembali di pelaminan ini, Gua lihat dia mengenakan kebaya berwarna hijau tosca. Singkat cerita Gua pun sudah berganti pakaian dengan warna senada dengan istri Gua itu, entah apa nama pakaian yang Gua kenakan, yang jelas cukup simpel karena tidak banyak aksesoris yang Gua pakai saat itu.
Kemudian setelah tidak lama Gua kembali ke pelaminan, Kakak dan Ibunda almh. Dini datang dan naik keatas pelaminan, mereka berdua mengucapkan selamat serta do'a untuk Gua dan Echa. Sempat Ibundanya terharu dengan sedikit meneteskan airmatanya waktu memeluk Gua, dan seketika itu pula perasaan Gua langsung memicu otak Gua untuk mengingat sedikit kenangan yang pernah Gua lalui bersama mantan pacar pertama Gua dulu, seorang gadis yang baik hati dan telah berpulang kepada Sang Pencipta.
...
"Za, tuh teman SMP kita pada datang", ucap Echa kepada Gua.
Gua melirik kearah pintu utama gedung yqng berada cukup jauh dari pelaminan ini, dan benar apa yang istri Gua katakan, disana sudah ada banyak teman SMP kami yang sedang berkumpul dan berjalan kearah kami. Sepertinya mereka memang datang secara bersamaan dari kota kami ke jakarta ini. Setelah semua teman SMP kami menyalami dan memberikan ucapan selamat, Gua melihat ada Shinta, Arya, Wildan, Suci, Erna dan Wulan. Saat itu Wulan datang bersama Yudha, teman SMA Gua yang kini menjadi pacarnya Wulan.
"Selamat ya A'..", ucap Wulan setelah sebelumnya sahabat SMP Gua yang lain mengucapkan selamat.
"Ah iya makasih ya Neng", jawab Gua.
"Semoga jadi suami yang bertanggungjawab A', gak boleh nakal lagi sekarang, udah punya pendamping yang sah", pesannya kepada Gua.
Gua terkekeh pelan mendengarnya sambil mengangguk. "Iya, insya Alloh aku bisa jaga amanat sebagai suami Neng", jawab Gua lagi.
"Iih dikasih tau malah cengengesan, yaudah pokoknya semoga bahagia ya untuk kamu A'..".
Barulah Wulan menyalami istri Gua dan berlalu bersama Yudha.
"Mantan yaa.. Ciiee.. Masih banyak lagi ya Za, ehm..", ucap Echa menggoda Gua.
"Hehehe.. Banyak gak ya yang pada datang ?", tanya Gua sambil berbalik menggodanya.
"Mana aku tauuu..",
"Oh ya, nanti kasih tau aku ya siapa aja perempuan yang pernah deket selama ini sama kamu selain yang udah aku kenal", jawabnya.
"Hahaha.. Ngapain coba, gak perlu ah, buat apa tau juga, hehehe".
"Iiiih, pokoknya kasih tau, aku cuma pernah liat kamu deket sama Mia waktu kamu kelas dua SMA, selingkuh dari Mba Yu ya waktu itu ?!", cecarnya.
Ealah, ini istri Gua mata-matanya banyak apa ya, bisa tau aja Gua sempet deket ama adek kelas.
"Sok tau ah, enggak kok", kilah Gua sambil memalingkan muka.
Kyuutt..lengan kiri Gua dicubit.
"Ngaku gak ?!"
"Iyaa.. Iya iya iya.. Ampun sakit Cha".
"Huh! Dasar..".
Akhirnya waktu yang Gua tunggu datang juga, makan siang. Gua lapar ini dari pagi baru makan bubur ayam doang di rumah. Tapi dasarnya lagi acara resepsi, malu juga makan di pelaminan dengan porsi yang banyak, jadinya Gua makan sepiring berdua dengan istri Gua di pelaminan ini. Makanannya enak, dan gara-gara salah satu menu hidangan disini lah Gua menyukai rolade sapi. Beres makan kembali lagi Gua harus duduk berdiri untuk menyambut undangan. Banyak bener ini yang datang, kata Gua dalam hati. Oh ya Kinan, Mba Laras dan keluarganya sudah datang dari pagi.
Dan sekarang Gua melihat kedatangan para mantan, aslinya sih mereka datang tidak bersamaan, cuma biar sekalian ajalah Gua ceritanya.
Saat itu ada Olla dan Indra beserta keluarganya, Papah dan Mamahnya juga datang bersama sahabat Gua di SMA, Bernat bersama pacarnya, lalu disusul kemudian ada Mba Siska dengan seorang lelaki yang Gua tidak kenal sama sekali, tapi sepertinya satu rekan kerjanya, mungkin pacarnya.
Lalu ada sahabat Gua yang lain, Rekti dan Robbi, kemudian datang lagi Rara, Astrit, Mia, Devi yang kebanyakan adik kelas Gua dan Echa di SMA dulu, ada juga teman sebangku Gua pada saat kelas tiga, Elvi. Kemudian ada Airin, Gusmen, Gladis, Sandhi, Ibunya alm. Topan serta adik-adiknya. Bianca juga datang bersama Mas Berri, mereka datang bersama Lisa, Veronica dan juga Mat Lo serta teman kampus Gua yang lain, dosen-dosen kampus Gua, seperti Pak Boy. Sore hari Nindi, Dian, serta Papahnya juga hadir ke acara resespsi Gua saat itu.
Dari sekian banyak tamu undangan yang hadir, satu orang yang selama ini Gua cari dan Gua tunggu tidak pernah tampak pada hari itu. Ya, Nona Ukhti yang Gua harapkan bisa bertemu lagi atau sekedar melihatnya tidak hadir, sekalipun Gua sempat menanyakannya kepada sepupunya, yang tidak lain adalah sahabat Gua, Gusmen. Entahlah, Gusmen berbohong atau tidak kepada Gua, dia mengatakan kalau dirinya juga tidak mengetahui keberadaan Nona Ukhti.
"Za..".
"Ya sayang ?".
Istri Gua tersenyum lalu mengelus pipi ini. "Sabar ya, mungkin belum waktunya kamu ketemu dia hari ini", ucap istri Gua dengan tatapan yang seolah-olah mengerti apa isi fikiran Gua.
"Iya Cha, maaf ya", jawab Gua sendu.
"Enggak apa-apa, aku ngerti kok",
"Yuk, kita ganti pakaian, udah selesai acaranya..", ajak istri Gua seraya berdiri dan menarik tangan kanan Gua lembut.
...
...
...
Pukul delapan malam Gua sedang makan malam bersama istri Gua di sebuah restoran salah satu hotel di ibu kota. Kami duduk di bagian luar restoran yang berada di dekat kolam renang. Selesai menyantap makan malam, Gua mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya.
"Sayang, mau kopi ?", tawar istri Gua.
"Kopi disini emang enak ya ?", tanya Gua seraya menghembuskan asap rokok.
"Ya kalo kamu mau kopi kesukaan kamu, enggak ada sayang...",
"Atau mau aku beliin keluar ? Biar nanti kita seduh di kamar aja", jawab Echa.
Gua terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepala pelan. "Enggak usah, lagian kamu keluar hotel mana ada warung di depan tadi.. Udah gak apa-apa kopi dari hotel aja Cha", ucap Gua lagi.
Kemudian istri Gua pun masuk ke dalam resto dan memesan secangkir kopi hitam untuk Gua dan satu lemon tea hangat untuk dirinya sendiri. Setelah itu Echa kembali duduk bersama Gua, tapi kali ini dia menarik kursinya merapat ke samping Gua. Echa menyandarkan kepalanya ke bahu kiri Gua lalu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang ini. Kami sama-sama menatap kolam renang di depan kami.
"Za".
"Ya Cha..".
"Kamu sayang kan sama aku ?", tanyanya.
Gua melingkarkan tangan kiri ke belakang kepalanya lalu mengelus rambutnya lembut. "Kok nanyanya gitu ?", tanya Gua balik.
"Enggak apa-apa.. Cuma nanya aja".
Kami berdua masih tetap menatap ke depan sana.
"Aku sayang sama kamu Cha, sayang banget... Enggak mungkin hati ku nolak kamu setelah apa yang udah kamu korbankan selama ini Cha..", jawab Gua,
"Maafin aku ya..", lanjut Gua sambil memainkan rambutnya dengan jemari tangan kiri.
Echa mendongakkan kepala keatas, menatap mata Gua. "Maaf untuk apa ?", tanyanya.
Gua tersenyum tipis, lalu mematikan rokok pada jari tangan kanan Gua ke asbak di atas meja resto. Kemudian Gua kembali menoleh kepada Echa.
"Maaf karena sampai sekarang masih ada nama dia", jawab Gua.
Echa memeluk Gua erat lalu membenamkan wajahnya ke dada ini. Gua mengelus kepalanya perlahan sampai akhirnya Echa kembali mendongakkan kepalanya dan menatap Gua lagi, tapi kali ini sambil tersenyum lebar. "Aku tau perasaan kamu kok, gak mudah lupain dia, aku ngerti.. Semoga dia baik-baik ya Za, dimana pun Vera berada", ucap Echa dengan senyuman manisnya.
Gua menurunkan wajah, lalu mencium kening istri Gua itu dalam-dalam sambil memejamkan mata. Setelah Gua lepas ciuman pada keningnya, Gua pegang kedua pipinya, menatap matanya lekat-lekat.
"Makasih banyak atas semuanya", ucap Gua.
Lalu Gua memiringkan wajah dan mendekati wajahnya. Kedua kelopak mata kami semakin turun ketika bibir kami semakin dekat... Dan...
.
.
.
.
.
.
"Ehm.. Maaf Mas, Mba, ini minumannya...".
Kampret tu pramusaji, gak bisa liat orang romantis dikit apa...
Hari ini datang juga, hari dimana Gua dan Echa akan berada di atas pelaminan. Tak pernah sedikitpun terlintas dalam fikiran Gua bahwa di usia semuda ini sudah menikah, memperistri seorang wanita yang juga sahabat masa kecil Gua. Beberapa bayangan kenangan menari-nari di dalam fikiran ini, memutar setiap kepingan kenangan saat bersamanya.
Echa, teteh tercinta Gua, si bapau, yang bekulit putih, gendut, chubby, anak gadis yang selalu menangis ketika teman sekolah kami meledeknya, dan selalu berlindung di balik adik kelasnya, ya Gua lah yang menjadi tameng pertama untuknya ketika itu. Dimana saat dia menjadi bahan olok-olok teman lain, Echa selalu berlari ke kelas Gua dan mengadukan setiap perlakuan iseng teman-temannya. Tak ayal Gua selalu berkelahi dengan teman kelasnya itu, yang juga kakak kelas Gua. Lucu, bukan perkelahian seperti saat Gua di SMA, melainkan perkelahian yang membuat guru tertawa, karena kami malah memperagakan adegan dalam film dragon ball, berlaga seperti super saiyan lalu mengeluarkan jurus kameha-meha. Hahahaha... Salah satu kenangan yang indah untuk Gua.
Pada akhirnya, Echa yang dulu selalu Gua lindungi kini sudah menjadi istri Gua. Penantiannya yang tak pernah surut akhirnya membuahkan sebuah hubungan yang lebih dari apa yang ia harapkan sebelumnya, lebih dari sekedar sepasang kekasih. Tapi kini kami sudah menjadi suami-istri.
Masih beberapa jam sebelum tamu undangan datang, beberapa pekerja catering masih hilir-mudik untuk mempersiapkan prasmanan. Istri Gua masih berada di kamar rias, kamar atau ruangan di bagian belakang pelaminan. Sedangkan Gua yang memang tidak pernah mau di rias, berada di halaman belakang gedung, menghisap sebatang rokok dan menikmati secangkir kopi hitam. Gua duduk di tangga bersama Unang, Dewa dan Icol. Ketiga sahabat rumah Gua itu memang sudah datang dari pagi, sedangkan Rekti dan Robbi harus datang siang karena masih bergelut dengan pekerjaan mereka masing-masing. Hanya obrolan santai seputar resepsi hari ini yang kami bicarakan.
Gua melirik jam pada pergelangan tangan kiri, dan ternyata masih satu jam lebih acara baru akan di mulai. Tidak ada perasaan cemas atau deg-dega'an lagi hari ini, karena akad nikah sudah Gua lalui beberapa minggu lalu. Saat ini Gua hanya tinggal duduk lalu berdiri terus menerus sambil memberikan senyuman kepada setiap tamu undangan, pasti lelah fikir Gua nanti.
"Asyik ya Za, beres resepsi langsung nginep di hotel nih, hehehe..", ucap Icol.
"Perlu obat kuat Bro ?", timpal Unang kali ini.
"Hahaha.. Lemah amat Gua sampe perlu minum obat kuat segala..", jawab Gua sambil terkekeh,
"Gua sebenernya bingung, buat apa disewain kamar hotel, padahal di rumahnya atau di rumah Gua juga gak masalah, lagian pasti capek, molor yang ada Gua", lanjut Gua.
"Gua siap jadi seksi dokumentasi Za buat tar malem", ucap Dewa kali ini.
"Kampret bener, buat apaan di videoin hahaha..", jawab Gua.
"Tapi enaklah, fasilitasnya oke banget, mana ni gedung megah pula Za", ucap Unang lagi.
"Berlebihan ini Nang, malu Gua sebenernya ma.. Sayang aja ini keluarganya mau hamburin duit, hadeuh".
"Laah, namanya juga anak semata wayang, anak perempuan satu-satunya, sekali seumur idup ini Za", ucap Icol kali ini sambil mengambil gelas kopinya.
"Iya Za, tamu undangan dari pihak keluarganya juga kan bukan tamu biasa, kayak gak tau aja Lu ma", timpal Dewa sambil menghembuskan asap rokok.
Ya apa yang dikatakan sahabat Gua ada benarnya, selain memang istri Gua adalah anak satu-satunya, Papahnya pasti mengundang relasi dan orang-orang yang memiliki jabatan penting di pemerintahan. Jadi Gua rasa memang masih wajar mungkin dengan apa yang ia inginkan dalam resepsi pernikahan anaknya ini. Belum lagi tahun ini beliau akan pensiun dari pekerjaannya, seperti yang istri Gua katakan, acara resepsi ini sekaligus sebagai acara perpisahan Papah mertua Gua dengan rekan kerjanya.
Tanpa terasa acara sudah akan di mulai dalam waktu kurang dari satu jam, Gua dipanggil oleh pihak E.O untuk segera berganti pakaian, dan akhirnya mau tidak mau, suka tidak suka Gua pun dengan pasrah merelakan diri ini di rias. Saat itu busana yang Gua kenakan untuk pertama kali dalam acara ini adalah busana adat jawa, sesuai dengan kota kelahiran kedua orangtua istri Gua. Beres di rias dan mengenakan busana adat solo yang tanpa pakaian bagian atas, Gua berjalan ke luar ruangan dan mulai mengikuti proses acara yang sudah disusun dan dibawakan oleh seorang mc.
Untuk pertama kalinya Gua melihat Echa mengenakan busana adat jawa itu, dirinya terlihat cantik dengan apa yang ia kenakan, belum lagi riasan pada wajahnya dari hasil karya seus ayu. Gua akui, itu mahluk satu jago banget ngerias pengantin, pro dan expert lah. Rambut istri Gua disanggul sedemikian rupa dengan ditambah bunga-bunga serta sedikit bunga yang entah apa Gua tidak tau namanya, belum lagi riasan warna hitam dikeningnya yang membentuk sudut-sudut. "Paesan" kalo gak salah namanya ya ?

Gua skip langsung dimana saat itu Gua dan Echa sudah berada di atas pelaminan, di sisi kiri Echa, sudah duduk kedua orangtuanya, sedangkan di sisi kanan Gua, ada om dan tante Gua sebagai perwakilan dari alm dan almh orangtua Gua.
Sekitar pukul sepuluh pagi tamu undangan sudah mulai berdatangan, apa yang awalnya Gua perkirakan ternyata meleset, tiba-tiba saja Gua jadi sedikit gugup, bukan apa-apa, ini lama-lama tamu undangan jadi membludak, entah berapa lembar surat undangan yang disebar oleh kedua orangtua Echa diluar undangan untuk teman-teman Gua dan Echa. Jadi pusat perhatiaan untuk pertama kalinya itu tidak enak ternyata, ada sedikit rasa risih, dan tampaknya, istri tercinta Gua menyadari hal tersebut.
"Kenapa ?", tanyanya sambil menaruh tangan kanannya itu ke paha kiri Gua.
"Eh.. Enggak apa-apa, cuma.. Banyak ternyata yang datang ya", jawab Gua sambil memperhatikan tamu undangan yang mulai berjalan kearah pelaminan.
"Alhamdulilah kan.. Rejeki dan silaturahmi kita baik berarti sayang", ucapnya,
"Tuh udah ada yang naik ke pelaminan, yuk diri Za", ajaknya sambil mulai bangkit dari duduk.
Ya akhirnya mulailah Gua berdiri untuk menyambut para tamu undangan itu, mengucapkan terimakasih atas do'a dan ucapan selamat dari mereka sambil bersalaman. Cukup lama Gua berdiri sambil menyalami tamu-tamu undangan sampai akhirnya salah satu teman masa SD Gua dan Echa ada diantara antrian tamu undangan itu. Dewi, yang merupakan saudara dari istri Gua adalah teman kami yang pertama mengucapkan selamat diatas pelaminan ini setelah sebelumnya tamu dari Papahnya Echa yang datang.
Kemudian setelah itu barulah Unang, Dewa, Meli, Icol, Desi dan Mba Yu naik keatas pelaminan dan mengucapkan selamat kepada kami berdua. Saat itu Mba Yu menjadi orang terakhir yang mengucapkan selamat diantara sahabat Gua tadi.
"Mas..", ucap Mba Yu ketika berada dihadapan Gua.
Gua membalas senyumannya.
"Selamat ya.. Semoga pernikahan kamu sama Echa selalu dalam kebahagiaan. Jangan lupa ya Mas, sekarang kamu punya tanggungjawab yang besar untuk keluarga kecil mu.. Sayangi Echa sepenuh hati kamu ya", ucap Mba Yu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Saat itu, Mba Yu mengenakan kebaya berwarna pink, riasan diwajahnya benar-benar membuatnya cantik dan sangat berbeda. Mantan Gua yang satu ini memang paling berjasa untuk kelangsungan acara pernikahan Gua dan Echa. Terimakasih banyak Mba atas segala apa yang sudah kamu lakukan sampai detik ini.
"Iya Mba, terima kasih ya.. Dan..", Gua berfikir sejenak lalu memejamkan mata sebentar. "Maaf untuk janji aku yang gak pernah bisa aku tepati..", lanjut Gua pada akhirnya.
Mba Yu pun akhirnya tidak bisa menahan air mata yang memang sudah menggenang pada kedua sudut matanya sedari tadi, akhirnya air mata itu membasahi pipinya, dan sebuah pelukkan menandakan bahwa Gua dan dirinya kini benar-benar merelakan apa yang pernah kami impikan dulu.
"Makasih ya Mas, untuk waktu yang pernah kita lalui bersama.. Aku juga minta maaf", ucapnya dalam pelukkan Gua.
"Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu Mba, sampai detik ini kamu selalu bantu aku.. Maafin aku ya Mba", jawab Gua sambil mengusap punggungnya.
"Udah ah, pokoknya kamu harus bisa jagain istri kamu loch Mas, awas aja, aku gak mau denger Echa nangis karena kamu!", ucapnya kali ini sambil melepaskan pelukkan.
"Hehehe iya iya, makasih sekali lagi, cepet nyusul Mba hehehe"
"Aku mau fokus kuliah dulu Za, kerja, baru nikah", jawabnya.
Kemudian Mba Yu berjalan ke samping Gua lalu memeluk istri Gua.
"Selamat ya sayaaang.. Adikkuuu.. Semoga kamu bisa jadi istri yang selalu menyayangi suami kamu.. Jangan ragu-ragu suruh Eza tidur di luar kalo dia nakal ya Dek", ucap Mba Yu setelah melepaskan pelukkannya pada istri Gua.
Echa tertawa sambil melirik kepada Gua. "Iya Mba, makasih ya untuk do'a nya, makasih juga Mba udah mau bantuin aku untuk acara hari ini", jawab Echa kepada Mba Yu.
"Iya, pokoknya aku ikut bahagia untuk kalian berdua, sekali lagi selamat ya sayang, semoga jadi keluarga yang bahagia..", lalu Mba Yu memberikan kecupan pada kedua pipi Echa.
Tidak lama kemudian Mba Yu pun bersalaman dengan kedua orangtua Echa, lalu turun dari pelaminan dan kembali bergabung bersama teman-teman kami semua untuk menikmati hidangan yang sudah disajikan. Gua dan Echa kembali duduk karena tamu undangan belum ada yang naik lagi ke atas pelaminan.
"Cha, aku pingin kopi", ucap Gua kepada istri tercinta.
"Oh sebentar..", lalu mencari sosok art nya yang memang ikut ke acara hari ini. Tapi baru saja dia menemukan sosok art nya itu, Echa seperti tersadar sesuatu. "Eh.. Bukannya kamu udah ngopi tadi pagi Za ?", tanyanya.
Gua tersenyum sambil mengangguk dan menggaruk alis yang tidak gatal.
"Hmm.. Nanti lagi ya ngopinya sayang, siangan aja", ucapnya kemudian yang langsung membuat Gua memutar bola mata seraya memalingkan muka dari istri Gua itu.
"Jangan kebanyakan ngopi ah, ya ?", ucapnya lagi.
"Iya iya.. Yaudah sini air minumnya, aku minta", jawab Gua yang langsung diberikan segelas air kemasan oleh Echa yang dia ambil dari dalam tas kecil di sisi sofa pelaminan ini.
Semakin siang semakin banyak tamu undangan yang hadir, saat itu masih ramai tamu dari rekan kerja Papahnya Echa, dan teman-teman kampus Echa. Sekitar pukul setengah dua belas, Echa diminta berganti pakaian, yang membuat Gua duduk di pelaminan sendirian sebagai salah satu pasangan pengantin. Gua pun menyambut beberapa teman SD kami sendirian saat Echa masih belum kembali, baru sekitar setengah jam lebih giliran Gua yang berganti pakaian setelah Echa duduk kembali di pelaminan ini, Gua lihat dia mengenakan kebaya berwarna hijau tosca. Singkat cerita Gua pun sudah berganti pakaian dengan warna senada dengan istri Gua itu, entah apa nama pakaian yang Gua kenakan, yang jelas cukup simpel karena tidak banyak aksesoris yang Gua pakai saat itu.
Kemudian setelah tidak lama Gua kembali ke pelaminan, Kakak dan Ibunda almh. Dini datang dan naik keatas pelaminan, mereka berdua mengucapkan selamat serta do'a untuk Gua dan Echa. Sempat Ibundanya terharu dengan sedikit meneteskan airmatanya waktu memeluk Gua, dan seketika itu pula perasaan Gua langsung memicu otak Gua untuk mengingat sedikit kenangan yang pernah Gua lalui bersama mantan pacar pertama Gua dulu, seorang gadis yang baik hati dan telah berpulang kepada Sang Pencipta.
...
"Za, tuh teman SMP kita pada datang", ucap Echa kepada Gua.
Gua melirik kearah pintu utama gedung yqng berada cukup jauh dari pelaminan ini, dan benar apa yang istri Gua katakan, disana sudah ada banyak teman SMP kami yang sedang berkumpul dan berjalan kearah kami. Sepertinya mereka memang datang secara bersamaan dari kota kami ke jakarta ini. Setelah semua teman SMP kami menyalami dan memberikan ucapan selamat, Gua melihat ada Shinta, Arya, Wildan, Suci, Erna dan Wulan. Saat itu Wulan datang bersama Yudha, teman SMA Gua yang kini menjadi pacarnya Wulan.
"Selamat ya A'..", ucap Wulan setelah sebelumnya sahabat SMP Gua yang lain mengucapkan selamat.
"Ah iya makasih ya Neng", jawab Gua.
"Semoga jadi suami yang bertanggungjawab A', gak boleh nakal lagi sekarang, udah punya pendamping yang sah", pesannya kepada Gua.
Gua terkekeh pelan mendengarnya sambil mengangguk. "Iya, insya Alloh aku bisa jaga amanat sebagai suami Neng", jawab Gua lagi.
"Iih dikasih tau malah cengengesan, yaudah pokoknya semoga bahagia ya untuk kamu A'..".
Barulah Wulan menyalami istri Gua dan berlalu bersama Yudha.
"Mantan yaa.. Ciiee.. Masih banyak lagi ya Za, ehm..", ucap Echa menggoda Gua.
"Hehehe.. Banyak gak ya yang pada datang ?", tanya Gua sambil berbalik menggodanya.
"Mana aku tauuu..",
"Oh ya, nanti kasih tau aku ya siapa aja perempuan yang pernah deket selama ini sama kamu selain yang udah aku kenal", jawabnya.
"Hahaha.. Ngapain coba, gak perlu ah, buat apa tau juga, hehehe".
"Iiiih, pokoknya kasih tau, aku cuma pernah liat kamu deket sama Mia waktu kamu kelas dua SMA, selingkuh dari Mba Yu ya waktu itu ?!", cecarnya.
Ealah, ini istri Gua mata-matanya banyak apa ya, bisa tau aja Gua sempet deket ama adek kelas.

"Sok tau ah, enggak kok", kilah Gua sambil memalingkan muka.
Kyuutt..lengan kiri Gua dicubit.

"Ngaku gak ?!"

"Iyaa.. Iya iya iya.. Ampun sakit Cha".

"Huh! Dasar..".
Akhirnya waktu yang Gua tunggu datang juga, makan siang. Gua lapar ini dari pagi baru makan bubur ayam doang di rumah. Tapi dasarnya lagi acara resepsi, malu juga makan di pelaminan dengan porsi yang banyak, jadinya Gua makan sepiring berdua dengan istri Gua di pelaminan ini. Makanannya enak, dan gara-gara salah satu menu hidangan disini lah Gua menyukai rolade sapi. Beres makan kembali lagi Gua harus duduk berdiri untuk menyambut undangan. Banyak bener ini yang datang, kata Gua dalam hati. Oh ya Kinan, Mba Laras dan keluarganya sudah datang dari pagi.
Dan sekarang Gua melihat kedatangan para mantan, aslinya sih mereka datang tidak bersamaan, cuma biar sekalian ajalah Gua ceritanya.
Saat itu ada Olla dan Indra beserta keluarganya, Papah dan Mamahnya juga datang bersama sahabat Gua di SMA, Bernat bersama pacarnya, lalu disusul kemudian ada Mba Siska dengan seorang lelaki yang Gua tidak kenal sama sekali, tapi sepertinya satu rekan kerjanya, mungkin pacarnya.
Lalu ada sahabat Gua yang lain, Rekti dan Robbi, kemudian datang lagi Rara, Astrit, Mia, Devi yang kebanyakan adik kelas Gua dan Echa di SMA dulu, ada juga teman sebangku Gua pada saat kelas tiga, Elvi. Kemudian ada Airin, Gusmen, Gladis, Sandhi, Ibunya alm. Topan serta adik-adiknya. Bianca juga datang bersama Mas Berri, mereka datang bersama Lisa, Veronica dan juga Mat Lo serta teman kampus Gua yang lain, dosen-dosen kampus Gua, seperti Pak Boy. Sore hari Nindi, Dian, serta Papahnya juga hadir ke acara resespsi Gua saat itu.
Dari sekian banyak tamu undangan yang hadir, satu orang yang selama ini Gua cari dan Gua tunggu tidak pernah tampak pada hari itu. Ya, Nona Ukhti yang Gua harapkan bisa bertemu lagi atau sekedar melihatnya tidak hadir, sekalipun Gua sempat menanyakannya kepada sepupunya, yang tidak lain adalah sahabat Gua, Gusmen. Entahlah, Gusmen berbohong atau tidak kepada Gua, dia mengatakan kalau dirinya juga tidak mengetahui keberadaan Nona Ukhti.
"Za..".
"Ya sayang ?".
Istri Gua tersenyum lalu mengelus pipi ini. "Sabar ya, mungkin belum waktunya kamu ketemu dia hari ini", ucap istri Gua dengan tatapan yang seolah-olah mengerti apa isi fikiran Gua.
"Iya Cha, maaf ya", jawab Gua sendu.
"Enggak apa-apa, aku ngerti kok",
"Yuk, kita ganti pakaian, udah selesai acaranya..", ajak istri Gua seraya berdiri dan menarik tangan kanan Gua lembut.
...
...
...
Pukul delapan malam Gua sedang makan malam bersama istri Gua di sebuah restoran salah satu hotel di ibu kota. Kami duduk di bagian luar restoran yang berada di dekat kolam renang. Selesai menyantap makan malam, Gua mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya.
"Sayang, mau kopi ?", tawar istri Gua.
"Kopi disini emang enak ya ?", tanya Gua seraya menghembuskan asap rokok.
"Ya kalo kamu mau kopi kesukaan kamu, enggak ada sayang...",
"Atau mau aku beliin keluar ? Biar nanti kita seduh di kamar aja", jawab Echa.
Gua terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepala pelan. "Enggak usah, lagian kamu keluar hotel mana ada warung di depan tadi.. Udah gak apa-apa kopi dari hotel aja Cha", ucap Gua lagi.
Kemudian istri Gua pun masuk ke dalam resto dan memesan secangkir kopi hitam untuk Gua dan satu lemon tea hangat untuk dirinya sendiri. Setelah itu Echa kembali duduk bersama Gua, tapi kali ini dia menarik kursinya merapat ke samping Gua. Echa menyandarkan kepalanya ke bahu kiri Gua lalu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang ini. Kami sama-sama menatap kolam renang di depan kami.
"Za".
"Ya Cha..".
"Kamu sayang kan sama aku ?", tanyanya.
Gua melingkarkan tangan kiri ke belakang kepalanya lalu mengelus rambutnya lembut. "Kok nanyanya gitu ?", tanya Gua balik.
"Enggak apa-apa.. Cuma nanya aja".
Kami berdua masih tetap menatap ke depan sana.
"Aku sayang sama kamu Cha, sayang banget... Enggak mungkin hati ku nolak kamu setelah apa yang udah kamu korbankan selama ini Cha..", jawab Gua,
"Maafin aku ya..", lanjut Gua sambil memainkan rambutnya dengan jemari tangan kiri.
Echa mendongakkan kepala keatas, menatap mata Gua. "Maaf untuk apa ?", tanyanya.
Gua tersenyum tipis, lalu mematikan rokok pada jari tangan kanan Gua ke asbak di atas meja resto. Kemudian Gua kembali menoleh kepada Echa.
"Maaf karena sampai sekarang masih ada nama dia", jawab Gua.
Echa memeluk Gua erat lalu membenamkan wajahnya ke dada ini. Gua mengelus kepalanya perlahan sampai akhirnya Echa kembali mendongakkan kepalanya dan menatap Gua lagi, tapi kali ini sambil tersenyum lebar. "Aku tau perasaan kamu kok, gak mudah lupain dia, aku ngerti.. Semoga dia baik-baik ya Za, dimana pun Vera berada", ucap Echa dengan senyuman manisnya.
Gua menurunkan wajah, lalu mencium kening istri Gua itu dalam-dalam sambil memejamkan mata. Setelah Gua lepas ciuman pada keningnya, Gua pegang kedua pipinya, menatap matanya lekat-lekat.
"Makasih banyak atas semuanya", ucap Gua.
Lalu Gua memiringkan wajah dan mendekati wajahnya. Kedua kelopak mata kami semakin turun ketika bibir kami semakin dekat... Dan...
.
.
.
.
.
.
"Ehm.. Maaf Mas, Mba, ini minumannya...".
Kampret tu pramusaji, gak bisa liat orang romantis dikit apa...

Diubah oleh glitch.7 14-05-2017 20:05
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..


