- Beranda
- Stories from the Heart
Black Part Of Woman
...
TS
anism
Black Part Of Woman
Spoiler for Peringatan:
Spoiler for Anissa : Aku Bukan pramuria:
Spoiler for Ibu?!:
Spoiler for I Must Found a Father for You:
Wanita itu unik. Karena itu perlakuan terhadap mereka pun berbeda-beda dan spesial.
mereka selalu punya cerita menarik yang pantas disimak
Anism & (edit by) Fanzangela
Diubah oleh anism 30-05-2019 11:43
devarisma04 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
48.7K
379
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
anism
#111
Nasihat Luna
“Lupa hapus.”, jawab Ario cuek.
Ario merasa sangat bodoh membiarkan Anissa melihat foto Reni.
“Kalau begitu aku hapus boleh gak?”, Anissa mengeraskan suaranya.
Ario diam saja. Dia kemudian pergi menata peralatan tatonya. Anissa berjalan dengan langkah-langkah besar menghampiri Ario. Dia melihat Ario menundukkan kepala, seperti berusaha menghindari kontak mata dengan dirinya. Dia terus mencari mata Ario.
“Kamu sangat suka dengannya ya?”, Anissa bertanya dengan polos.
“Dia itu masa lalu dan lukaku Nis. Kamu mau mengorek lukaku lagi?”, suara Ario menjadi tajam.
“Kenapa marah? Aku cuma tanya saja. Dasar sensitif!”, Anissa meletakkan handphone Ario dengan kasar di meja.
“Itu privasiku! Kamu membongkarnya, untuk apa? Menertawaiku? Karena aku miskin dan tidak bisa bersama dengan pacarku? Ha?!”, teriak Ario.
Luna yang baru datang mendengar teriakan Ario yang keras segera menghampiri mereka. “Ada apa ini?”, tanya Luna.
“Dasar cowok bodoh!”, Anissa menangis dan berlari keluar galeri. Ia menerjang Luna yang berusaha menahannya.
“Belum pacaran udah kelahi?”, olok Luna. Ario menghela nafas.
“Kenapa Yo? Sampe kamu teriakin Anissa sekeras itu? Aku pikir kamu tidak bakal pernah naikin suaramu di depan Anissa.”, tanya Luna.
Ario menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Anissa kepada Luna. Luna mau bicara.
“Oke Lun. Kali ini dengarkan aku.”, Ario menahan Luna.
“Dia bukan siapa-siapa aku. Dan sikap ini sangat kekanak-kanakan. Dia hanya tahu sebagian dari apa yang aku alami. Kenapa dia malah mencampuri urusanku seolah-olah dia sangat mengenalku?”, ujar Ario.
“Tapi kamu suka dia kan?”, tanya Luna.
“Iya, tapi bukan berarti dia akan memiliki hak untuk mengobrak-abrik kehidupan pribadiku.”, Ario semakin nampak kesal.
Luna tertawa. “Aku rasa dia juga menyukaimu, anak busuk! Kalau tidak, untuk apa dia marah kamu tidak mau mengakui perasaanmu sebenarnya. Kamu benar sudah melupakan Reni? Kalau tidak, jangan susahkan anak perempuan orang lain. Teruslah mengkhayalkan wanita itu. Kalau iya, bersihkan otakmu dari cinta matimu itu dan perjuangkan Anissa. Dia sebenarnya terlalu bagus untukmu.”
Ario melongo melihat Luna malah membela Anissa. “Luna, jangan bilang apa-apa pada Anissa. Soal perasaanku padanya. Sampai…”
“Sampai? Kucing bertanduk? Tatomu boleh keren, koq nyalimu cemen?”, ejek Luna.
“Jadi sekarang aku harus bagaimana?”, Ario mengacak rambutnya.
“Sudah, berhenti mengacak rambutmu. Aku geli melihatnya. Gara-gara gunting rambut baru.“, Luna berpura-pura merinding.
“Aku serius, Luna.”, Ario semakin gemas melihat tingkah wanita-wanita di sekitarnya.
“Pelan-pelan. Tunjukkan kejantananmu. Buat dia jatuh padamu. Dan miliki dia.”, Luna mendesah.
Ario melongo. Dia tahu wanita ini memang sangat vulgar. Luna memang terkadang sedikit gila saat berbicara soal cinta. Dia tidak berpikir soal perasaan, tapi yang ada dipikirannya cuma hasrat.
“Lupa hapus.”, jawab Ario cuek.
Ario merasa sangat bodoh membiarkan Anissa melihat foto Reni.
“Kalau begitu aku hapus boleh gak?”, Anissa mengeraskan suaranya.
Ario diam saja. Dia kemudian pergi menata peralatan tatonya. Anissa berjalan dengan langkah-langkah besar menghampiri Ario. Dia melihat Ario menundukkan kepala, seperti berusaha menghindari kontak mata dengan dirinya. Dia terus mencari mata Ario.
“Kamu sangat suka dengannya ya?”, Anissa bertanya dengan polos.
“Dia itu masa lalu dan lukaku Nis. Kamu mau mengorek lukaku lagi?”, suara Ario menjadi tajam.
“Kenapa marah? Aku cuma tanya saja. Dasar sensitif!”, Anissa meletakkan handphone Ario dengan kasar di meja.
“Itu privasiku! Kamu membongkarnya, untuk apa? Menertawaiku? Karena aku miskin dan tidak bisa bersama dengan pacarku? Ha?!”, teriak Ario.
Luna yang baru datang mendengar teriakan Ario yang keras segera menghampiri mereka. “Ada apa ini?”, tanya Luna.
“Dasar cowok bodoh!”, Anissa menangis dan berlari keluar galeri. Ia menerjang Luna yang berusaha menahannya.
“Belum pacaran udah kelahi?”, olok Luna. Ario menghela nafas.
“Kenapa Yo? Sampe kamu teriakin Anissa sekeras itu? Aku pikir kamu tidak bakal pernah naikin suaramu di depan Anissa.”, tanya Luna.
Ario menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Anissa kepada Luna. Luna mau bicara.
“Oke Lun. Kali ini dengarkan aku.”, Ario menahan Luna.
“Dia bukan siapa-siapa aku. Dan sikap ini sangat kekanak-kanakan. Dia hanya tahu sebagian dari apa yang aku alami. Kenapa dia malah mencampuri urusanku seolah-olah dia sangat mengenalku?”, ujar Ario.
“Tapi kamu suka dia kan?”, tanya Luna.
“Iya, tapi bukan berarti dia akan memiliki hak untuk mengobrak-abrik kehidupan pribadiku.”, Ario semakin nampak kesal.
Luna tertawa. “Aku rasa dia juga menyukaimu, anak busuk! Kalau tidak, untuk apa dia marah kamu tidak mau mengakui perasaanmu sebenarnya. Kamu benar sudah melupakan Reni? Kalau tidak, jangan susahkan anak perempuan orang lain. Teruslah mengkhayalkan wanita itu. Kalau iya, bersihkan otakmu dari cinta matimu itu dan perjuangkan Anissa. Dia sebenarnya terlalu bagus untukmu.”
Ario melongo melihat Luna malah membela Anissa. “Luna, jangan bilang apa-apa pada Anissa. Soal perasaanku padanya. Sampai…”
“Sampai? Kucing bertanduk? Tatomu boleh keren, koq nyalimu cemen?”, ejek Luna.
“Jadi sekarang aku harus bagaimana?”, Ario mengacak rambutnya.
“Sudah, berhenti mengacak rambutmu. Aku geli melihatnya. Gara-gara gunting rambut baru.“, Luna berpura-pura merinding.
“Aku serius, Luna.”, Ario semakin gemas melihat tingkah wanita-wanita di sekitarnya.
“Pelan-pelan. Tunjukkan kejantananmu. Buat dia jatuh padamu. Dan miliki dia.”, Luna mendesah.
Ario melongo. Dia tahu wanita ini memang sangat vulgar. Luna memang terkadang sedikit gila saat berbicara soal cinta. Dia tidak berpikir soal perasaan, tapi yang ada dipikirannya cuma hasrat.
Diubah oleh anism 14-05-2017 11:19
mmuji1575 memberi reputasi
1