Kaskus

Story

bunbun.orenzAvatar border
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):


And I know
There's nothing I can say
To change that part

But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak

I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead



- Famous Last Words by MCR -


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha


Quote:


Spoiler for Special Thanks:


***



Spoiler for From Me:


Versi PDF Thread Sebelumnya:

MyPI PDF

Credit thanks to Agan njum26



[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)

Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini


Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
drakenssAvatar border
snf0989Avatar border
ugalugalihAvatar border
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.7KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
glitch.7
#3431
PART 50


Throwback Stories

Awal bulan juni 2007, hampir dua bulan setelah kejadian mengenaskan yang dialami seorang perempuan baik hati tersebut sudah berlalu. Dirinya kini sehat secara fisik, tapi tidak dengan mental dan depresi yang dialaminya.

Selama itu Vera hanya mengurung diri di kamar dan tidak pernah keluar rumah, Gua paham apa yang ditakutinya. Bahkan ketika awal-awal dia pulang ke rumah dan Gua ikut mengantarnya, Vera tidak mengenali Gua dan tidak ingin bertemu dengan laki-laki manapun, termasuk Papahnya sendiri. Pada akhirnya, dia di bawa oleh ibunda tercintanya ke klinik psikologi, bukan sebuah rumah sakit jiwa, tapi lebih kepada pembangunan mental secara intensif yang dilakukan oleh ibundanya. Agar rasa traumanya bisa hilang dan kepercayaan dirinya kembali lagi seperti sediakala.

Saat itu seperti yang sudah Gua jalani selama ini, setiap weekend pulang dari jakarta Gua pasti menjenguk Vera di rumahnya.

"Masih belum pulih sepertinya Za", ucap ibundanya yang di dampingi suami barunya.

Di sofa lainnya duduk sang Papah kandungnya. Gua sedang berada di ruang tamu rumah Papah kandungnya Vera. Kami berempat sedang mengobrol di ruang tamu ini.

"Tapi ada perkembangan kah Tan ?", tanya Gua lagi.

Beliau mengangguk. "Alhamdulilah ada perkembangan sedikit, dia sudah mau berbicara dengan Papahnya", jawab ibundanya, yang dimaksud beliau adalah Papah kandungnya bukan Papah tirinya.

Gua sedikit lega mendengarnya, karena Gua rasa lumayan cepat perkembangannya, seperti yang Gua bilang, awalnya Vera sama sekali tidak ingin menemui lelaki manapun. Tapi sekarang dia sudah mau berkomunikasi dengan Papahnya.

Gua berdiri dari duduk setelah dipersilahkan untuk menengok Vera di kamarnya. Gua buka pintu kamarnya perlahan dan melongok ke dalam.

Di sana, di dalam kamarnya, Gua melihat seorang perempuan yang sedang duduk di kursi kayu, dia duduk menghadap jendela yang memberikan pemandangan taman bagian samping rumahnya. Sore itu, langit cerah, cahaya senja masuk melewati jendela kamarnya. Dirinya di sinari cahaya senja tersebut hingga Gua merasakan bahwa Vera adalah seorang bidadari yang terluka, terjebak dalam dunia yang fana ini.

Hati Gua terenyuh ketika kembali mencoba mendekatinya lagi hingga sampai tepat di belakangnya, lalu dia menengok kepada Gua, dan langsung memukul tubuh Gua seperti yang sudah-sudah. Ini bukanlah hal yang aneh bagi Gua, karena memang Vera selalu seperti ini kepada lelaki yang hendak menjenguknya, dari mulai teman kampus lelakinya, Gua, hingga Papahnya sendiri pernah dilempar benda yang berada di dekatnya.

Tapi kondisinya sekarang semakin membaik, yang dulunya dia benar-benar beringas kepada Gua, kini dia hanya memukul-mukul Gua dengan tenaga yang bisa dibilang pelan. Gua membiarkannya memukul tubuh ini, tidak ada rasa sakit dari perlakuannya itu. Gua tersenyum ketika dengan wajah emosinya dia masih memukuli dada Gua.

"Hai Vee..", ucap Gua.

"Heeuuuu... Aaaa!!", teriaknya pelan.

Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
...
...


Airmata Gua kembali menetes membasahi pipi ini. Bukan karena sakit karena pukulannya, tapi hati Gua hancur melihatnya seperti itu. Gua tidak tau dia masih mengenali Gua atau tidak. Tanpa memperdulikan keadaannya, Gua langsung memeluknya dan menyandarkan kepalanya ke dada Gua. Dia meronta-ronta pelan, tanpa tenaga. Gua tetap memeluknya dan airmata ini pun membasahi bagian atas kepalanya.

Gua menciumi lembut rambutnya yang wangi itu, lalu Gua sandarkan wajah ini ke atas kepalanya, Gua masih menangis.. Tubuh Gua bergetar ketika Vera juga ikut menangis. Dan hari itu... Hari yang selalu Gua nantikan sepanjang hidup Gua akhirnya tiba.

Dia membalas pelukkan Gua, kedua tangannya memeluk tubuh Gua dengan erat, Gua tidak memperdulikkan perih yang terasa karena terlalu kuat genggaman tangannya pada lengan dan punggung Gua. Apa yang selama ini Gua harapkan benar-benar terjadi, dia membalas pelukkan Gua. Dan kebahagiaan Gua semakin bertambah ketika dirinya bersuara, bukan kalimat teriakkan, tapi...

"Zaa.. Hiks.. Hiks.. Zaa..", ucapnya dalam tangisan.

Entah sebahagia apa perasaan Gua ketika dia benar-benar memanggil nama Gua, sudah hampir dua bulan ini dia tidak menyebutkan nama Gua, bahkan ketika melihat Gua saja dia marah. Tapi sekarang, apa yang Gua harapkan benar terwujud.

Tidak henti-hentinya Vera memanggil nama Gua dalam pelukkan ini.

"Iya sayang, ini aku Eza.. Aku disini Ve", ucap Gua sambil ikut terisak dan memeluknya.

Di luar kamar, tepat di ambang pintu, orangtuanya melihat kami. Ada senyuman yang terlukis dari mereka semua ketika Vera memanggil nama Gua.

"Aku takut Za.. Aku takuuutt", ucapnya lagi.

"Iya Ve, aku disini sekarang... Aku gak akan ninggalin kamu lagi, aku janji Ve.. Aku janji", jawab Gua.

Lama kami berpelukkan dan sama-sama menangis, hingga tidak lama setelah mengatakan kalimat ketakutan tersebut, Vera mengucapkan sebuah nama dengan suara pelan, dia menyebutkan satu nama.

Salah satu nama laki-laki yang dia bilang adalah seorang baji*ngan.

...

Keesokan harinya keluarga Vera melaporkan nama yang putri mereka sebutkan itu kepada pihak penyidik, karena kondisi Vera masih trauma dan tidak mau diajak keluar rumah, maka pihak penyidiklah yang melakukan sesi tanya-jawab di rumahnya. Memang selama hampir dua bulan ini keempat pelaku itu belum tertangkap.

Hari ini Gua tidak datang ke rumah Vera, Gua tidak ikut melihat penyidik menanyakan beberapa hal soal kejadian itu di rumah Vera. Gua sedang berada di rumah teman lama.

"Ada apa Lu butuh barang kayak gitu Za", tanyanya di depan Gua.

Gua hanya tersenyum, oh bukan.. Gua ingat, Gua menyeringai kepada teman Gua itu. "Ada sedikit kejutan untuk seseorang Yo..", jawab Gua kepada Ryo.

Setelah mendapatkan apa yang Gua butuhkan, Gua langsung menyambangi kampus Vera. Gua datang ke gedung fakultasnya dan bertemu seorang satpam kampus. Gua menanyakan nama seseorang tapi satpam tersebut tidak mengenalnya. Lalu dari situ Gua pun menahan kesabaran Gua hingga esok hari.

Keesokan harinya Gua menunggu di kampus tersebut, Gua menanyai teman kampus Vera tentang nama seseorang yang Vera sebutkan dua hari lalu, tapi sayangnya nama tersebut bukanlah seorang mahasiswa di kampus ini, tapi dari beberapa teman kampusnya yang Gua tanya, Gua bersyukur ternyata ada yang mengetahuinya.

"Tapi Gue juga gak tau sih bro kalo alamatnya dimana..",
"Cuma yang kita denger sih tuh cowok preman kampung, dimananya Gue gak tau, soalnya waktu masih pacaran sama almarhumah juga gak dikenalin ke Gue dan teman lain, dia cuma suka anter-jemput ke kampus",
"Emang kenapa bro ?", tanya seorang mahasiswa teman kampus Vera.

"Enggak apa-apa.. Tapi Lu yakin dia mantan almarhumah itu ?".

"Iya, mereka baru putus akhir tahun kemarin.. Eh... Atau jangan-jangan dia yang...", ucapannya terhenti.

Orang yang namanya disebutkan Vera ternyata adalah mantan dari almarhumah, teman kampusnya yang meninggal karena bunuh diri di rumah sakit. Info yang Gua dapatkan ternyata hanya bisa memberikan sedikit keterangan, sulit rasanya mencari orang tersebut.

Dan pada akhirnya Gua terlambat, ternyata pihak yang berwajib sudah menangkapnya terlebih dahulu di daerah karawang hanya selang dua hari mereka mengantongi namanya dari keterangan Vera.

Ketika itu di dalam hati Gua berjanji.. 'Lu boleh tertangkap, tapi jangan difikir Gua tidak bisa membalaskan apa yang udah Lu buat kepada orang yang Gua cintai'.

Satu minggu sudah seorang pelaku tertangkap, yang tidak lama, ketiga pelaku lainnya ikut tertangkap dan masih mendekam di hotel prodeo salah satu polsek. Pada akhirnya Gua tau motif dari mereka semua, kejadian dan perlakuan bang*sat mereka itu hanya, ya hanya.. Hanya karena rasa cemburu salah satu pelaku kepada almh. Teman perempuan kampus Vera yang merasa dirinya diputuskan secara sepihak dan lebih memilih orang lain, yang mana sekarang sudah meninggal akibat pengeroyokkan tersebut. Gua tidak peduli dengan alasan mereka yang mengatakan bahwa awalnya tidak ada niat membunuh sampai memper**sa kedua korban perempuan. Bahkan tidak berniat membunuh laki-laki yang salah satu pelaku itu cemburui. Apapun, apapun alasan mereka, kini semuanya sudah terjadi, dua korban harus meregang nyawa akibat kelakuan mereka, dan satu korban selamat harus menerima trauma yang sangat berat.

Dan ketika Gua mengetahui hal tersebut, rencana Gua ubah. Balas dendam ini harus Gua rubah dan bagaimanapun mereka harus merasakan apa yang sudah Vera rasakan.

Sebuah handgunberwarna silver Gua simpan rapat-rapat di salah satu bagian kamar rumah Nenek. Sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menggunakannya.

...

Gua menarik nafas dalam-dalam di malam hari. Saat itu Gua sedang berada di lapangan sepak bola depan rumah. Di samping kiri Gua ada Rekti dan Robbi di kanan, ya Robbi sudah selesai pendidikan dan kini bertugas di kota kami, sama seperti Rekti.

"Sekarang Lu berdua tau kan masalahnya", ucap Gua kepada kedua sahabat rumah Gua itu.

"Tapi apa yang Lu mau sekarang Za ? Pelakunya udah ketangkep kan, tinggal nunggu sidang aja kata Lu akhir bulan nanti, dan Gua yakin mereka gak akan lolos dari hukuman Za", ucap Rekti.

"Huuffftt..",
"Bukan hukuman dari pengadilan yang Gua maksud Ti..", ucap Gua sambil menatap langit malam yang tanpa bintang di atas sana. Langit yang begitu gelap.

"Maksud Lu apa ?", tanyanya lagi.

Gua menggelengkan kepala pelan, lalu menengok kepada Rekti. Menatapnya tajam hingga ia menyadari sesuatu. Ketika itu, ketika Gua melihat wajahnya yang tersadar dengan apa yang Gua maksud, Gua pun tersenyum.

"Enggak bisa Za", ucap Rekti sambil mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya lalu membakarnya dengan gugup.

"Malam hari Ti.. Gua cuma minta satu malam aja", ucap Gua.

"Enggak mungkin, Lu gila apa! Mana bisa Gua punya kewenangan kaya gitu!", bantahnya.

"Ti...".

"Enggak Za! Lu gila!".

"Apa yang bakal Lu lakuin kalo kejadian ini menimpa Desi ?", tanya Gua dengan dingin kepada Rekti.

"......".

Rekti diam tidak bisa menjawab pertanyaan Gua.

"Za.. Apa yang Lu maksud sih ? Gw gak ngerti Za", tanya Robbi kali ini.

Gua menghela nafas pelan. "Gua cuma mau satu malem berada di dalam sel bersama si pelaku itu, Rob", jawab Gua sambil melirik kepada Robbi.

Jelaslah kedua sahabat Gua itu tidak mau mengabulkan permintaan Gua, yang Gua yakin sebenarnya mereka bisa membantu Gua. Perdebatan diantara kami pun akhirnya harus membuat Gua mengurungkan niat tersebut.

Tapi selalu ada jalan untuk memberikan balas dendam, ya Gua rasa saat itu, mungkin iblis berpihak kepada Gua.

Suatu hari, Gua menyambangi lagi rumah Ryo. Gua hanya bisa memberikan info kalau keluarga Ryo ini adalah keluarga mafia. Benar-benar mafia. Lu sakitin dia sekali, dia bakal balas dengan menghancurkan satu keluarga Lu. Ryo adalah teman masa SMP Gua, dan Gua sengaja tidak memasukkannya ke dalam cerita di MyPI. Dan saat Gua merilis part kali ini, Gua sudah mendapatkan izin untuk menceritakannya, yang pasti sudah Gua edit dan kaburkan segala fakta tentang keluarganya.

Gua hanya 'meminta bantuan' kepada Ryo agar apa yang sudah terjadi kepada Vera bisa dibalaskan ke salah satu pelaku tersebut. Ya hanya satu pelaku memang yang Gua incar. Dan... Semuanya terjadi begitu saja, Ryo memberikan apa yang Gua pinta.

Kami berdua hanya tertawa malam itu, sebuah tawa yang membuat Gua melakukan dosa lainnya di dunia ini. Dan Gua tidak pernah menyesal akan tindakan Gua tersebut. Sepadan rasanya untuk sebuah harga yang harus dibayar dalam kejadian yang menimpa seorang perempuan baik hati.

...

i just wanna say, send my regards to the devil in hell...
Agathadera.


...
...
...




Skip setelah kejadian di atas.

Sekarang fokus Gua hanya kepada Nona Ukhti Vera seorang, tidak ingin rasanya Gua meninggalkan dia lagi. Kuliah Gua pun harus Gua tinggalkan beberapa hari karena perasaan bersalah Gua kepada Vera. Gua tidak ingin menunggunya pulih tanpa keberadaan Gua di sampingnya lagi.

Sekalipun Vera sudah kembali mengenali Gua, tapi terkadang dia masih tidak bisa didekati. Gua paham dan mengerti akan hal tersebut.

Hingga akhirnya di satu hari Gua sedang menyuapinya makan di dalam kamarnya. "Ayo makan lagi Ve..", ucap Gua mencoba memberikannya satu suapan lagi.

Vera hanya terdiam menatap Gua dengan tatapan kosong. Wajahnya masih pucat. Tubuhnya kurus, beberapa luka lebam sudah sembuh dan tidak nampak dari kulitnya, luka goresan pada lehernya masih terlihat tapi sudah agak samar. Hanya lebam pada keningnya saja yang benar-benar masih terlihat dengan jelas akibat kepalanya dibenturkan ke bodi mobil.

Vera masih terdiam tanpa mau lagi membuka mulutnya untuk makan. Karena Gua rasa lumayan banyak makanan yang dia telan, akhirnya Gua taruh piring tersebut di meja dekat kasur kamarnya itu. Gua kembali duduk di kursi kayu, tepat di samping Vera yang duduk di atas kasurnya.

Gua mencoba memegang tangan kanannya dengan perlahan dan hati-hati, bahaya kalau sampai dia histeris lagi. Karena traumanya belum benar-benar sembuh. Setelah Gua berhasil memegang tangannya itu tanpa genggaman, Gua menatap Vera. Dia menengok kepada Gua. Lalu Gua tersenyum.

Gua tersenyum tapi menahan tangis yang sudah ingin meledak. Perasaan Gua hancur melihatnya seperti ini, tidak ada lagi keceriaan di wajahnya ketika bertemu Gua seperti dulu. Wajahnya selalu pucat dengan mata yang sayu. Semua orang yang melihat kondisinya saat itu Gua yakin akan terenyuh, akan menyadari bahwa perempuan cantik ini memancarkan kesedihan yang teramat dalam. Ada hal yang tidak bisa kita lihat tapi bisa kita rasakan, begitupun dengan kondisi Vera saat itu. Dia terlihat lusuh, kedua bola matanya menunjukkan tidak ada lagi harapan, harapan untuk sekedar bertahan hidup. Semuanya sirna karena sebuah prilaku manusia yang keji.

Tanpa terasa airmata Gua pun akhirnya mengalir dengan sendirinya. Lalu dengan perlahan Gua angkat tangan kanannya itu yang sedetik kemudian langsung Gua cium dalam-dalam punggung tangannya. Tubuh Gua bergetar, mata Gua terpejam, dan tangis Gua semakin menjadi.

Sebuah sentuhan pada rambut kepala Gua membuat Gua tersentak, Gua cukup terkejut ternyata Vera sedang membelai lembut rambut bagian belakang kepala Gua dengan tangan kirinya.

"Za...".

Gua mendongakkan kepala ketika Vera memanggil nama Gua dengan suara yang parau. "Iya sayang... Ini aku.. Kenapa sayang ? Kamu mau apa ? Bilang sama aku...", ucap Gua dengan suara bergetar.

"Aku gak pantes untuk kamu Za", ucapnya dengan lirih.

Gua tersentak lagi, apa yang dikatakan Vera membuat Gua tidak percaya bahwa dirinya bisa memikirkan hal seperti itu. Padahal kondisinya belum pulih dari trauma...

Gua menggelengkan kepala cepat lalu kembali mencium punggung tangannya beberapa kali. Saat itu Gua melirik ke pintu kamarnya, kedua orangtua kandung Vera masuk ke dalam kamar dan berdiri di dekat kami.

"Aku sayang kamu Ve.. Aku gak akan ninggalin kamu, kamu jangan mikirin hal itu.. Apapun kondisi kamu sekarang, kamu berhak atas segala apa yang kamu impikan selama ini.. Dan aku terima kamu apa adanya Ve...", jawab Gua masih menangis.

"Aku udah gak punya mimpi",
"Aku gak berhak jadi perempuan yang kamu sayang lagi Za".

Gua tidak bisa melukiskan betapa sakitnya hati Gua mendengarnya mengatakan hal tersebut. Harapan dan mimpi-mimpinya itu sirna baginya, tidak ada lagi keinginannya untuk berusaha mendapatkan apa yang selama ini dia harapkan.

"Nak, jangan ngomong begitu ya sayang, Mamah sayang sama kamu, Papah juga sayang sama kamu, dan Eza juga sayang sama kamu Nak... Kami semua menyayangi kamu.. Jangan berhenti untuk berharap ya sayang. Ada kami di sini yang selalu menyayangi dan menjaga kamu", ucap Ibundanya sambil mengelus lembut kakinya.

"Aku mau wujudin salah satu mimpi kamu Ve...", timpal Gua,
"Aku minta maaf selama ini udah membiarkan kamu menunggu".

Gua mengeluarkan sebuah kalung yang ingin Gua berikan sekitar dua bulan lalu kepadanya.

"Sayang..", Gua menarik nafas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak, lalu Gua melirik kepada Ibunda dan Papahnya Vera, baru kemudian Gua kembali menatap Vera. "Aku mau nikahin kamu... Kamu mau kan jadi istri aku ?".


Kini tlah kusadari
Dirimu tlah jauh dari sisi
Kutau tak mungkin kembali kuraih
Semua hanya mimpi
Ingin ku coba lagi
Mengulang yang telah terjadi
Tetapi semua sudah tak berarti
Kau tinggal pergi

Adakah kau mengerti kasih
Rindu hati ini
Tanpa kau disisi
Mungkin kah kau percaya kasih
Bahwa diri ini
Ingin memiliki lagi emoticon-norose
Diubah oleh glitch.7 13-05-2017 01:00
cykablykat
dany.agus
fatqurr
fatqurr dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.