halo-halo..
Teostra balik lagi, sekarang aku mulai thread kelanjutran dari yang lama, disini ada banyak perilaku yang ga harus di contoh ya..
tapi ga semuanya jelek, pengalaman hidupku di thread ini mungkin awal dari sebuah kedewasaan yang mungkin sudah di takdirkan untukku.
kalau ada teman-teman yang bingung tentang ceritaku yang sebelumnya karena banyak yang miss disana, mungkin di sini bisa menemukan yang miss tersebut, bisa juga tidak
untuk cerita sebelumnya bisa di baca di sini AVALANCHE
SO BUAT RULES DAN YANG LAINNYA MASIH SAMA SEPERTI YANG BIASA MERUJUK PADA RULE SFTH
DAN BUAT YANG KEPO DIKIT-DIKIT AKU SIAP MELAYANI.
aku juga tidak menolak ijo-ijonya
Spoiler for Q&A:
Q : ini cerita real apa ga gan?
A : gimana kalian menanggapinya gan, karena opini masing-masing orang itu beda
Q: namanya ko ada yang aneh gan?
A : nama nya memang aku samarin gan, privasi soalnya
Q : ini lanjutan thread awal gan?
A : yoih
Q : ga cape ngetik segitu banyak?
A : cape gan, tapi aku kuat ko
Q : gan
A : namaku Teo bukan gan, udah ah langsung baca ajah
SELAMAT MEMBACA !!
Quote:
kita memang tidak pernah tau masa depan, yang bisa kita lakukan hanya memberikan yang terbaik..
segala sesuatu yang baik menurut kita belum tentu menurut orang lain baik, begitu juga sebaliknya..
tapi semua yang kita lakukan adalah untuk diri kita sendiri, terlepas itu berimbas kepada hal-hal yang lain ataupun orang lain..
aku yakin bahwa setiap sebab pasti ada akibatnya..
setiap benih yang di tanam pasti akan di petik..
setiap awal pasti ada akhirnya..
ya setiap awal pasti memiliki akhir.. dan kita yang menentukan semua akhir dari cerita hidup kita
Akupun membuka mata, ku lihat jam sudah jam 5 pagi, hari sekolah dan hari pertama tanpa Wina. Aku pun agak malas untuk sekolah. Setelah bersiap akupun berangkat. Sesampainya di sekolah tidak terlihat ada persiapan upacara. Sesampainya di kelas suasana terasa mendung. Akupun duduk, aku melihat ke sekeliling ku, beberapa orang tampak menangis.
“ada apa”, gumamku
Tak lama Luna datang.
“pada kenapa Lun?”, kataku
“kamu sabar ya”, kata Luna
Terlihat mata Luna agak bengkak, habis menangis sepertinya.
“lu kenapa Lun?”, kataku
Dia hanya menggelengkan kepalanya, lalu mengusap punggungku. Perasaanku mulai tak enak, akupun membuka hp ternyata ada sms dari Wina dan kak Suci
“yang, kamu jangan telat sekolah”, sms Wina
“dek, awas kalo hari ini ga ketemu, kangen banget gua dek. Ga ada besok-besok”, sms dari kak Suci
Ku cek tanggal, hari ini bukan ulang tahun siapa-siapa. Jam sudah menunjukan pukul 7 tapi tidak ada suara upacara akan di mulai. Sumpah, aku bingung kenapa dengan mereka semuanya.
Lalu Luna memelukku dan menangis, dia tidak mengatakan apapun. Akupun melepas pelukan Luna, melihat ke luar. Sepi. Aku berjalan ke luar kelas dan ke kelas Wina, hal sama pun terjadi di sini, lebih tepatnya di semua kelas. Dan aku kenal mereka yang menangis. Akupun kembali ke kelas. Tangisan semakin terdengar jelas, lalu ada yang menepuk pundakku.
“ayo kumpul ke sekre semua”, kata pak Wan
Serempak anak paskib berlari ke sekre, sedangkan aku masih terdiam di pintu. Ku lihat bukan hanya anak paskib, ada juga anak PMR dan pramuka menuju ke arah sekre. Aku yang masih belum tau apa-apa hanya mengikuti mereka dari belakang. Sesampainya di depan sekre pak Wan memelukku erat.
“sabar ya Teo”, katanya
“ada apa sih pak?”, tanyaku
“jadi….”, omongan pak Wan tertahan karena menerima telepon.
Pak Wan meninggalkanku, didalam sekre tangisan semakin terdengar jelas, mereka menangis tersedu-sedu. Aku ingin bertanya tapi situasi yang tidak mendukung. Akupun pergi meninggalkan sekre, pergi ke arah kantin membeli minuman dingin, lalu ke kelas.
“kamu ga ngumpul?”, kata Luna
“pada nangis Lun, gua bingung”, kataku
“pada kenapa sih Lun?”, kataku
Lalu Rathi datang dan langsung memelukku.
“sabar ya Teo, kamu harus kuat”, katanya sambil sesegukan
“ada apa sih Thi?”, kataku
Dari belakang Rathi bisa ku lihat orang yang dari sekre sudah bubar akupun berlari mendekati pak Wan.
“pak Wan, ada apa sih?”, kataku
Lagi-lagi pak Wan memelukku dan menepuk punggungku. Apa hari ini hari pelukan sedunia?? Ada apa dengan orang-orang hari ini.
“Suci meninggal Teo”, kata pak Wan
“hah? Apa pak?”, kataku
“Suci meninggal”, kata pak Wan sambil melihatku
Deg. Meninggal? Ga mungkin. Tadi pagi kak Suci masih sms.
“bohong pak, ni ada sms dari kak Suci ko”, kataku menunjukan smsnya.
“bener, tadi pagi dia kecelakaan waktu mau sekolah”, kata pak Wan
“hari ini saya mau ketemu pak sama kak Suci, kita udah janji pak”, kataku
“Teo”, kata pak Wan
“pak beneran deh, ga mungkin pak kak Suci meninggal kita mau ketemua…”, pak Wan memelukku erat
“sabar, kamu harus kuat. Kuat Teo”, kata pak Wan.
Akupun berteriak.
“BOHONG! Kak Suci masih ada pak!! Kita janjian mau ketemu!!”, kataku
Pak Wan semakin erat memelukku. Akupun berontak, tapi pak Wan lebih kuat menahanku. Tangisanku mungkin terdengar oleh 1 sekolah, karena anak paskib langsung memelukku sekaligus menahanku. Aku pun pasrah. Badanku terasa lemas, pak Wan pun membantuku kembali ke kelas
“Teo, kamu ga apa-apa?”, kata Luna
Aku tidak menjawabnya. Aku melihat hp ku, membaca sms kak Suci, sms terakhir darinya. Tak lama Wina telepon.
“halo yang?”, katanya
“hmmp”, kataku
“kamu yang sabar yang, maaf aku ga bisa ada di sana”, katanya
“ga apa-apa”, kataku
“kamu ga belajar?”, lanjutku
“aku ada jam kosong, yang. Maaf”, kata Wina tersengar dia mulai menangis
“maaf kenapa?”, kataku
“aku ga ada di sana waktu kamu kaya gini. Maaf. Huuu huuu”, dia pun menangis
Aku tidak menjawabnya melainkan akupun ikut menangis, tertunduk di meja. Luna terus menerus menenangkanku.
“maaf Win, aku tutup ya”, kataku
Akupun terus menangis dan Luna memelukku. Aku sudah tidak peduli dengan orang sekitar.
“Teo”, kata Luna
“kak… kak Suci Lun.. kak Suci”, kataku sesegukan
“sabar ya, kamu yang sabar”, kata Luna
“padahal.. kita.. sniff.. kita mau ketemu Lun.. sniff.. hari ini”, lanjutku
Dia pun hanya bisa mengelus punggungku. Aku benar-benar hancur saat itu, cukup sering aku melukai diriku sendiri. Berharap ini mimpi dan aku segera terbangun dengan kenyataan yang lebih baik.