- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#3357
PART 49
Throwback Stories
Gua berjalan di lorong rumah sakit dengan langkah yang Gua percepat. Di minggu pagi ini, Gua benar-benar ingin menemui seorang perempuan yang Gua cintai, seorang perempuan yang baik hati, seorang perempuan yang dengan segala kesabarannya menunggu Gua selama ini.
Gua berada di depan sebuah pintu kamar rawat, tapi sayangnya Gua tidak di izinkan masuk oleh seorang aparat penegak hukum yang sedang berjaga di samping pintu tersebut. Pada akhirnya Gua pun hanya bisa duduk di kursi besi di samping pintu kamar itu, untuk menunggu Papahnya datang. Tidak lama kemudian seorang wanita paruh baya berjalan bersama seorang lelaki yang sudah pernah bertemu dengan Gua beberapa minggu lalu. Gua berdiri untuk menyambut mereka dan mencium kedua tangan orangtua tersebut.
Lalu wanita itu, ibunda tercinta Nona Ukhti menangis sambil memegangi wajah Gua.
"Sabar ya Nak, do'a kan yang terbaik untuk Vera", ucapnya dalam isakan tangisnya.
Hati Gua bergetar, mata Gua berkaca-kaca dan mencoba menguatkan jiwa ini. Gua hanya bisa mengangguk pelan, Gua sadar, yang paling berat menerima kenyataan ini adalah keluarga Vera.
Kami bertiga duduk di kursi panjang berbahan besi. Gua duduk di samping kiri ibundanya, sedangkan suaminya, Papah tiri Nona Ukhti duduk di samping kanan istrinya itu. Tangan Gua di genggam oleh sang ibunda. Kepala Gua tertunduk menahan emosi yang bercampur aduk dengan kesedihan. Gua mencoba menguatkan diri di depan keluarga Vera.
"Kejadiannya jum'at malam Za", ucap ibundanya.
"Ya Tante, saya sudah dengar dari Papahnya Vera kemarin malam", jawab Gua lemah.
Masih sambil terisak, tangan ibundanya itu mengusap punggung Gua. "Kamu harus sabar ya Nak, ini cobaan yang berat untuk kami sekeluarga", lanjutnya.
"Pelakunya belum ketemu sampai sekarang Tan ?".
Beliau menggelengkan kepala pelan sambil terus menangis. "Semoga pihak yang berwajib bisa segera menangkapnya", jawabnya lagi.
"Tan, maaf.. Apa saya boleh melihat Vera ke dalam ?".
Setelah Gua meminta izin kepada beliau, ibundanya langsung berbicara kepada seorang penjaga tadi. Lalu setelah menerima izin tersebut, Gua bersama ibundanya masuk ke dalam kamar rawat itu, sedangkan Papah tirinya menunggu di luar. Gua berjalan lebih dulu ke dalam kamar ini. Gua melihat seorang perempuan yang selama ini Gua kenal sedang terbaring diatas ranjang, dengan selang dan infusan pada tubuhnya. Gua semakin mendekatinya sampai Gua memegang sisi besi ranjang tersebut.
Airmata Gua tertumpah tanpa bisa lagi Gua tahan, hati Gua tercabik-cabik melihat kondisi Vera yang sedang tertidur tenang tapi kondisi fisiknya jelas menampakkan kekejaman sebuah penganiayaan keji seorang manusia. Banyak perban yang membalut beberapa bagian tubuhnya, hingga lehernya pun ikut di perban berikut keningnya.
Hati Gua hancur sehancur-hancurnya melihatnya tak berdaya seperti itu. Manusia macam apa yang tega memperlakukan perempuan sekeji ini. Emosi Gua mulai kembali naik, rasanya tidak bisa lagi Gua menahan segala perih di hati ini. Apa salah perempuan yang baik hati itu hingga harus menerima semua ini. Begitu kejam kah cobaan dunia yang harus dia terima ?.
Andai saja, ini hanya sebuah kecelakaan lalu lintas, mungkin ceritanya akan lain. Mungkin.. Ya mungkin Gua masih bisa mencoba sabar dan ikhlas. Tapi... Huft... Vera Tunggadewi,seorang perempuan yang beberapa tahun belakangan ini sudah Gua kenal, sosok yang baik hati, tidak pernah dia memiliki pergaulan yang salah. Ya kalian tau maksud Gua.
Apa maksud dari cobaan yang harus dihadapinya sekarang ? Apa dia berada di tempat yang salah ? Bukan.. Bukan itu. Dia hanya melakukan hal yang benar.
...
Ketika di malam minggu Gua mendengarkan cerita dari Papahnya. Dia menceritakan kalau sehari sebelumnya, di hari jum'at malam. Putrinya itu baru saja pulang dari kerja kelompok bersama teman kampusnya di sebuah tempat makan, selesai mengerjakan tugas tersebut, Vera pulang bersama teman perempuannya yang diantar oleh pacar temannya itu, otomatis mereka bertiga berada di dalam mobil tersebut.
Di dalam perjalanan pulang, sebuah telur ayam dilemparkan ke kaca bagian depan, tepat dibagian kaca pengemudi, si pengemudi yang tidak lain adalah pacar temannya itu, segera membersihkannya dengan washer otomatis dan menyalakan whipper, tapi kalian pasti tau apa yang akan terjadi jika sebuah telur ayam di campur dengan sedikit air dan digosok dengan whipper seperti itu. Sudah pasti menghalangi pandangan pengendara, akhirnya mobil pun menepi di pinggir jalan.
Pacar temannya turun dari mobil bersama teman perempuan Vera, sedangkan Vera masih duduk di bangku belakang. Setelah kedua temannya melihat dari luar kondisi kaca mobil tersebut, mereka langsung di hampiri oleh dua motor yang satu motornya dinaiki oleh dua orang. Total empat laki-laki yang menghampiri mereka tanpa basa-basi langsung menghajar pacar temannya Vera. Gua fikir saat mendengar ceritanya, ini adalah sebuah perampokkan atau semacamnya.
Pengeroyokan tersebut terjadi di sebuah jalanan yang sepi ketika mereka hendak mengantarkan Vera pulang. Tidak ada satupun kendaraan yang melintas di malam na'as tersebut. Vera yang ketakutan hanya bisa berdiam diri di bangku belakang mobil. Dan setelah keempat baji*ngan tersebut selesai menghajar pacar teman kampusnya itu, kekejaman berlanjut, pacarnya temannya sudah terkapar, lalu kini giliran teman kampus Vera, yang tidak lain adalah seorang perempuan menjadi sasaran selanjutnya. Dimana rasa kemanusiaan yang ada dalam diri keempat baji*ngan itu... Seorang perempuan yang tidak bisa berbuat apa-apa masih mereka hajar habis-habisan. Seburuk inikah kejamnya dunia ?.
Entah mungkin karena Vera yang melihat temannya itu diperlakuan kasar oleh keempat baji*ngan tersebut, memilih keluar dari mobil dan hendak meminta tolong kepada siapa saja yang melintas, tapi karena memang tidak ada satu pun kendaraan yang melintas, otomatis Vera berlari ke jalanan lain, berharap ada seseorang yang bisa membantunya. Tapi malang tidak dapat ditolak, Vera terkejar oleh kedua baji*ngan dengan menggunakan motor dan kembali dibawa ke lokasi kejadian tersebut. Di dalam mobil itu semuanya terjadi...
Dan... Sulit sebenarnya Gua menuliskan bagian ini, berat hati Gua harus menuliskannya. Maaf, Gua hanya bisa langsung menuliskan poinnya saja.
.
.
.
.
.
Siapa yang menolong mereka setelah kejadian tersebut ? Pengendara yang melintas, itu pun sudah dua jam setelahnya mereka ditemukan di lokasi tersebut. Vera jelas pingsan bersama teman perempuannya.
Korban yang selamat, hanya Vera seorang. Kedua temannya meninggal dunia, lelaki yang menjadi pacar teman kampusnya itu mengalami luka tusuk benda tajam dan banyak kehabisan darah. Sedangkan teman perempuan Vera. Dia bunuh diri di rumah sakit pada keesokkan harinya. Jangan dikira kejadian ini tidak masuk media cetak.
Setelah apa yang sudah terjadi, sudah tentulah Vera menjadi saksi kunci atas kejadian tersebut, maka dari itu sebagai saksi dan juga korban yang selamat dirinya di jaga oleh pihak yang berwenang.
Apalagi yang bisa kalian lakukan sekarang mendapati kenyataan pahit seperti ini ?.
...
Ketika Gua ingin mencoba untuk memiliki Vera, ketika Gua ingin memberikan kebahagiaan kepadanya, ketika Gua ingin menjaganya, semua itu sudah terlambat. Karena seiring berjalannya waktu, Vera memang berangsur pulih, dia mulai menunjukkan kondisi fisiknya yang sehat. Tapi... Tidak dengan mentalnya. Ini semua berat untuk dia hadapi dan dia terima. Mentalnya hancur, dan trauma dalam dirinya benar-benar sulit untuk disembuhkan. Maka keterangan apapun yang seharusnya keluar dari mulut Vera sebagai bukti dan mendapatkan informasi tentang siapa pelakunya tidak pernah bisa didapatkan.
Gua berjalan di lorong rumah sakit dengan langkah yang Gua percepat. Di minggu pagi ini, Gua benar-benar ingin menemui seorang perempuan yang Gua cintai, seorang perempuan yang baik hati, seorang perempuan yang dengan segala kesabarannya menunggu Gua selama ini.
Gua berada di depan sebuah pintu kamar rawat, tapi sayangnya Gua tidak di izinkan masuk oleh seorang aparat penegak hukum yang sedang berjaga di samping pintu tersebut. Pada akhirnya Gua pun hanya bisa duduk di kursi besi di samping pintu kamar itu, untuk menunggu Papahnya datang. Tidak lama kemudian seorang wanita paruh baya berjalan bersama seorang lelaki yang sudah pernah bertemu dengan Gua beberapa minggu lalu. Gua berdiri untuk menyambut mereka dan mencium kedua tangan orangtua tersebut.
Lalu wanita itu, ibunda tercinta Nona Ukhti menangis sambil memegangi wajah Gua.
"Sabar ya Nak, do'a kan yang terbaik untuk Vera", ucapnya dalam isakan tangisnya.
Hati Gua bergetar, mata Gua berkaca-kaca dan mencoba menguatkan jiwa ini. Gua hanya bisa mengangguk pelan, Gua sadar, yang paling berat menerima kenyataan ini adalah keluarga Vera.
Kami bertiga duduk di kursi panjang berbahan besi. Gua duduk di samping kiri ibundanya, sedangkan suaminya, Papah tiri Nona Ukhti duduk di samping kanan istrinya itu. Tangan Gua di genggam oleh sang ibunda. Kepala Gua tertunduk menahan emosi yang bercampur aduk dengan kesedihan. Gua mencoba menguatkan diri di depan keluarga Vera.
"Kejadiannya jum'at malam Za", ucap ibundanya.
"Ya Tante, saya sudah dengar dari Papahnya Vera kemarin malam", jawab Gua lemah.
Masih sambil terisak, tangan ibundanya itu mengusap punggung Gua. "Kamu harus sabar ya Nak, ini cobaan yang berat untuk kami sekeluarga", lanjutnya.
"Pelakunya belum ketemu sampai sekarang Tan ?".
Beliau menggelengkan kepala pelan sambil terus menangis. "Semoga pihak yang berwajib bisa segera menangkapnya", jawabnya lagi.
"Tan, maaf.. Apa saya boleh melihat Vera ke dalam ?".
Setelah Gua meminta izin kepada beliau, ibundanya langsung berbicara kepada seorang penjaga tadi. Lalu setelah menerima izin tersebut, Gua bersama ibundanya masuk ke dalam kamar rawat itu, sedangkan Papah tirinya menunggu di luar. Gua berjalan lebih dulu ke dalam kamar ini. Gua melihat seorang perempuan yang selama ini Gua kenal sedang terbaring diatas ranjang, dengan selang dan infusan pada tubuhnya. Gua semakin mendekatinya sampai Gua memegang sisi besi ranjang tersebut.
Airmata Gua tertumpah tanpa bisa lagi Gua tahan, hati Gua tercabik-cabik melihat kondisi Vera yang sedang tertidur tenang tapi kondisi fisiknya jelas menampakkan kekejaman sebuah penganiayaan keji seorang manusia. Banyak perban yang membalut beberapa bagian tubuhnya, hingga lehernya pun ikut di perban berikut keningnya.
Hati Gua hancur sehancur-hancurnya melihatnya tak berdaya seperti itu. Manusia macam apa yang tega memperlakukan perempuan sekeji ini. Emosi Gua mulai kembali naik, rasanya tidak bisa lagi Gua menahan segala perih di hati ini. Apa salah perempuan yang baik hati itu hingga harus menerima semua ini. Begitu kejam kah cobaan dunia yang harus dia terima ?.
Andai saja, ini hanya sebuah kecelakaan lalu lintas, mungkin ceritanya akan lain. Mungkin.. Ya mungkin Gua masih bisa mencoba sabar dan ikhlas. Tapi... Huft... Vera Tunggadewi,seorang perempuan yang beberapa tahun belakangan ini sudah Gua kenal, sosok yang baik hati, tidak pernah dia memiliki pergaulan yang salah. Ya kalian tau maksud Gua.
Apa maksud dari cobaan yang harus dihadapinya sekarang ? Apa dia berada di tempat yang salah ? Bukan.. Bukan itu. Dia hanya melakukan hal yang benar.
...
Ketika di malam minggu Gua mendengarkan cerita dari Papahnya. Dia menceritakan kalau sehari sebelumnya, di hari jum'at malam. Putrinya itu baru saja pulang dari kerja kelompok bersama teman kampusnya di sebuah tempat makan, selesai mengerjakan tugas tersebut, Vera pulang bersama teman perempuannya yang diantar oleh pacar temannya itu, otomatis mereka bertiga berada di dalam mobil tersebut.
Di dalam perjalanan pulang, sebuah telur ayam dilemparkan ke kaca bagian depan, tepat dibagian kaca pengemudi, si pengemudi yang tidak lain adalah pacar temannya itu, segera membersihkannya dengan washer otomatis dan menyalakan whipper, tapi kalian pasti tau apa yang akan terjadi jika sebuah telur ayam di campur dengan sedikit air dan digosok dengan whipper seperti itu. Sudah pasti menghalangi pandangan pengendara, akhirnya mobil pun menepi di pinggir jalan.
Pacar temannya turun dari mobil bersama teman perempuan Vera, sedangkan Vera masih duduk di bangku belakang. Setelah kedua temannya melihat dari luar kondisi kaca mobil tersebut, mereka langsung di hampiri oleh dua motor yang satu motornya dinaiki oleh dua orang. Total empat laki-laki yang menghampiri mereka tanpa basa-basi langsung menghajar pacar temannya Vera. Gua fikir saat mendengar ceritanya, ini adalah sebuah perampokkan atau semacamnya.
Pengeroyokan tersebut terjadi di sebuah jalanan yang sepi ketika mereka hendak mengantarkan Vera pulang. Tidak ada satupun kendaraan yang melintas di malam na'as tersebut. Vera yang ketakutan hanya bisa berdiam diri di bangku belakang mobil. Dan setelah keempat baji*ngan tersebut selesai menghajar pacar teman kampusnya itu, kekejaman berlanjut, pacarnya temannya sudah terkapar, lalu kini giliran teman kampus Vera, yang tidak lain adalah seorang perempuan menjadi sasaran selanjutnya. Dimana rasa kemanusiaan yang ada dalam diri keempat baji*ngan itu... Seorang perempuan yang tidak bisa berbuat apa-apa masih mereka hajar habis-habisan. Seburuk inikah kejamnya dunia ?.
Entah mungkin karena Vera yang melihat temannya itu diperlakuan kasar oleh keempat baji*ngan tersebut, memilih keluar dari mobil dan hendak meminta tolong kepada siapa saja yang melintas, tapi karena memang tidak ada satu pun kendaraan yang melintas, otomatis Vera berlari ke jalanan lain, berharap ada seseorang yang bisa membantunya. Tapi malang tidak dapat ditolak, Vera terkejar oleh kedua baji*ngan dengan menggunakan motor dan kembali dibawa ke lokasi kejadian tersebut. Di dalam mobil itu semuanya terjadi...
Dan... Sulit sebenarnya Gua menuliskan bagian ini, berat hati Gua harus menuliskannya. Maaf, Gua hanya bisa langsung menuliskan poinnya saja.
Spoiler for xxx:
.
.
.
.
.
Siapa yang menolong mereka setelah kejadian tersebut ? Pengendara yang melintas, itu pun sudah dua jam setelahnya mereka ditemukan di lokasi tersebut. Vera jelas pingsan bersama teman perempuannya.
Korban yang selamat, hanya Vera seorang. Kedua temannya meninggal dunia, lelaki yang menjadi pacar teman kampusnya itu mengalami luka tusuk benda tajam dan banyak kehabisan darah. Sedangkan teman perempuan Vera. Dia bunuh diri di rumah sakit pada keesokkan harinya. Jangan dikira kejadian ini tidak masuk media cetak.
Setelah apa yang sudah terjadi, sudah tentulah Vera menjadi saksi kunci atas kejadian tersebut, maka dari itu sebagai saksi dan juga korban yang selamat dirinya di jaga oleh pihak yang berwenang.
Apalagi yang bisa kalian lakukan sekarang mendapati kenyataan pahit seperti ini ?.
...
Ketika Gua ingin mencoba untuk memiliki Vera, ketika Gua ingin memberikan kebahagiaan kepadanya, ketika Gua ingin menjaganya, semua itu sudah terlambat. Karena seiring berjalannya waktu, Vera memang berangsur pulih, dia mulai menunjukkan kondisi fisiknya yang sehat. Tapi... Tidak dengan mentalnya. Ini semua berat untuk dia hadapi dan dia terima. Mentalnya hancur, dan trauma dalam dirinya benar-benar sulit untuk disembuhkan. Maka keterangan apapun yang seharusnya keluar dari mulut Vera sebagai bukti dan mendapatkan informasi tentang siapa pelakunya tidak pernah bisa didapatkan.
***
Kembali dimana saat Gua bersama istri menceritakan kejadian itu kepada Nindi dan Dian di depan teras kamar.
Airmata Nindi tertumpah dan membasahi pipinya, Dian yang berada di sampingnya mencoba menenangkan kakak kandungnya tersebut.
Gua mengambil secangkir kopi yang berada di atas meja lalu meneguknya sedikit. Echa mengusap-usap punggung Gua dari samping kiri.
"Ya Alloh Za, segitu beratnya cobaan yang harus dihadapi Vera.. Aku gak tau lagi kalo kejadian itu menimpa aku...", ucap Nindi sambil menangis.
Gua tidak bisa mengatakan apapun kepada kakak tiri Gua itu, Gua mengambil sebatang rokok dari bungkusnya lalu kembali membakarnya. Gua hisap dalam-dalam racun tersebut lalu menghembuskannya keatas. Sekarang Gua memundurkan tubuh hingga bersandar pada bahu sofa. Kepala Gua mendongak ke atas, menatap langit-langit teras depan ini. Pikiran Gua membawa kenangan pahit ke kejadian beberapa bulan lalu itu. Tanpa terasa airmata Gua pun mengalir dengan sendirinya.
"Apa yang sampai akhirnya kamu menikahi Echa ?", tanya Nindi kemudian.
"Karena aku hampir ngebunuh orang Kak..", jawab Gua dingin.
Lalu Gua hanya tersenyum tipis tanpa menengok kepadanya, mata Gua masih menatap langit teras.
"Ehm.. Kak, biar aku yang ceritain aja..", ucap istri Gua,
"Sayang, kamu shalat dulu ya, sebentar lagi udah mau masuk adzan ashar kan..", ucapnya kepada Gua sambil menepuk paha kiri Gua.
...
...
...
Airmata Nindi tertumpah dan membasahi pipinya, Dian yang berada di sampingnya mencoba menenangkan kakak kandungnya tersebut.
Gua mengambil secangkir kopi yang berada di atas meja lalu meneguknya sedikit. Echa mengusap-usap punggung Gua dari samping kiri.
"Ya Alloh Za, segitu beratnya cobaan yang harus dihadapi Vera.. Aku gak tau lagi kalo kejadian itu menimpa aku...", ucap Nindi sambil menangis.
Gua tidak bisa mengatakan apapun kepada kakak tiri Gua itu, Gua mengambil sebatang rokok dari bungkusnya lalu kembali membakarnya. Gua hisap dalam-dalam racun tersebut lalu menghembuskannya keatas. Sekarang Gua memundurkan tubuh hingga bersandar pada bahu sofa. Kepala Gua mendongak ke atas, menatap langit-langit teras depan ini. Pikiran Gua membawa kenangan pahit ke kejadian beberapa bulan lalu itu. Tanpa terasa airmata Gua pun mengalir dengan sendirinya.
"Apa yang sampai akhirnya kamu menikahi Echa ?", tanya Nindi kemudian.
"Karena aku hampir ngebunuh orang Kak..", jawab Gua dingin.
Lalu Gua hanya tersenyum tipis tanpa menengok kepadanya, mata Gua masih menatap langit teras.
"Ehm.. Kak, biar aku yang ceritain aja..", ucap istri Gua,
"Sayang, kamu shalat dulu ya, sebentar lagi udah mau masuk adzan ashar kan..", ucapnya kepada Gua sambil menepuk paha kiri Gua.
...
...
...
Quote:
Diubah oleh glitch.7 12-05-2017 14:14
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 
