- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#3333
PART 48
Throwback Stories
Gua sadar dengan apa yang sudah Gua lakukan untuk menunjukkan kebaikan itu tidak mudah merubah hati seseorang, sekalipun Gua memenuhi semua keinginan orang tersebut. Dan Gua yakin, ketika suatu saat hati orang tersebut mulai berubah untuk bisa menerima Gua, ada Tuhan yang merubah perasaannya. Ya, hanya Dia lah yang bisa membolak-balikkan hati kita dalam sekejap.
...
Perubahan sikap Papahnya Nona Ukhti benar-benar diluar dugaan Gua, semenjak dirinya meminta Gua untuk menjaga putri kesayangannya itu, beliau mulai welcome dengan kehadiran Gua diantara keluarga kecilnya. Tidak jarang Gua dan Nona Ukhti seharian berada di rumahnya sekedar mengobrol di ruang tamunya hanya untuk menghabiskan malam minggu, tentu saja Papahnya tau akan hal ini.
"Za, ayo makan bareng, makannya udah siap, yuk..", ajak Nona Ukhti.
Gua pun bangun dari sofa ruang tamunya dan berjalan bersamanya ke ruang makan. Disana sudah ada Papahnya, kami bertiga makan bersama. Dan rasanya kehangatan kebersamaan kali ini benar-benar berbeda dari beberapa waktu lalu. Tidak banyak obrolan diantara kami ketika menikmati makan malam, tapi cukup lah untuk Gua merasakan perubahan sikap Papahnya yang mulai menerima Gua mendekati anaknya.
Selesai makan malam bersama, Gua dan Nona Ukhti duduk di teras rumahnya. Sedangkan Papahnya memilih untuk menonton acara tv di kamar pribadinya. Saat itu baru pukul delapan malam.
"Za.. Papah udah bisa nerima kamu ya..", ucap Nona Ukhti sambil menatap ke taman rumahnya di depan sana.
Gua menengok kepada Nona Ukhti sambil menghembuskan asap rokok yang sebelumnya sudah Gua hisap. "Alhamdulilah Ve.. Tapi..", ucapan Gua terhenti lalu memandangi rerumputan di depan.
"Heum ? Tapi kenapa Za ?", tanyanya.
Gua menggelengkan kepala tanpa menoleh kepada Nona Ukhti. "Enggak apa-apa, cuma.. Kok Papah kamu bisa secepat itu berubah ya, perasaan beberapa minggu lalu beliau masih gak suka sama aku kan..", jawab Gua, lalu kembali menghisap rokok dalam-dalam.
"Mungkin Papah liat sikap kamu yang baik dan bisa menjaga amanatnya Za".
Gua sebenarnya kurang memahami perubahan sikap Papahnya itu, kenapa beliau bisa menerima Gua ketika hanya sedikit obrolan yang kami bicarakan di malam minggu beberapa waktu lalu. Kalau apa yang diucapkan Nona Ukhti benar, kok rasanya tidak berbanding lurus dengan kenyataannya. Bukan masalah sikap Gua yang baik di depan orangtuanya itu, tapi rasanya Gua masih belum bisa menjaga amanatnya dengan baik, toh ketika itu Gua mengantar putrinya pulang hampir jam setengah sepuluh malam. Pikirannya sulit di tebak, masa iya cuma karena dia tau Gua belum memacari anaknya lalu beliau berubah. Kan gak mungkin seperti itu.
"Mungkin Ve.. Entahlah", ucap Gua pada akhirnya.
"Oh ya Za, besok kan hari minggu, kamu ikut ya sama aku ketemu Mamah", ajak Nona Ukhti kali ini.
"Besok ? Oh iya besok minggu ya, waktunya nona bertemu ibunda tercinta, hehehe..".
"Iya.. Mau kan ? Kita makan siang aja sama Mamah besok", lanjutnya.
"Siaap! Bisa diatur hehehe... Perlu sekalian aku bawa bunga untuk Mamah kamu gak ? Hehehe", goda Gua.
"Yeee... Malah mau godain Mamah, buat aku aja kalo mau kasih bunga ma.. Huuu", cibirnya.
"Hahaha.. Iya iya, kalo untuk mamah kamu ma bunga bank aja yak.. Hehe", goda Gua.
...
Keesokkan harinya Gua makan siang bersama Nona Ukhti dan Ibunda tercintanya. Gua fikir kami benar-benar akan makan bertiga saja, ternyata ada dua orang lelaki lagi yang ikut makan bersama, salah satu lelaki itu adalah suami ibunda Nona Ukhti, atau Papah tirinya. Dan yang satu lainnya adalah anak bawaan Papah tirinya, adik tiri Nona Ukhti, seorang remaja yang masih duduk di bangku SMA.
Suatu saat kalian akan tau siapa adik tirinya itu, karena dia memiliki threadnya sendiri di SFTH ini Gais. Sebelum waktunya tiba, biarlah Gua selesaikan cerita ini dulu. Hahahaha
Kami hanya makan berlima di satu restoran di Jakarta, hanya obrolan santai yang kami bicarakan ketika itu. Btw, untuk Ibunda Nona Ukhti sedari awal memang orang yang baik, dalam artian beliau menerima Gua sebagai teman dekat anaknya itu, tidak ada amanat khusus yang beliau titipkan kepada Gua semenjak Gua dan putrinya itu dekat akhir-akhir ini.
Sekitar pukul dua siang kami semua selesai makan di restoran tersebut, tidak ada acara lain yang akan kami lakukan setelah itu, jadi Gua dan Nona Ukhti pergi berdua setelah Ibundanya juga pulang bersama keluarganya. Nona Ukhti mengajak Gua untuk pergi ke sebuah tempat wisata di kota kami, maka setelah dari restoran, Gua langsung mengarahkan si Black pulang ke kota kami. Pukul setengah empat lewat kami sudah sampai di tempat wisata tersebut. Gua agak bingung sebenarnya, ini bukan tempat wisata sih, karena yang di sediakan oleh tempat tersebut kebanyakan bertema outbond. Bukan taman bunga, kebun teh, air terjun atau sebagainya. Malah yang paling menonjol adalah toko tas yang besar daripada pemandangan alam.
Dan disinilah, Gua baru tau kalau wanita sama semuanya. Nona Ukhti tiba-tiba saja masuk slonong boy ke dalam toko tas tersebut, biasalah ngomongya ma cuma, "Liat-liat yuk ke dalam", eh pas keluar dari toko tersebut, dua tangannya penuh dengan kantung belanjaan yang berisi tas baru.
Sebelum maghrib kami sudah meninggalkan tempat tersebut, yang akhirnya Gua malah menemaninya belanja, sama kayak Echa ini ma. Hadeuh...
Saat adzan maghrib, Gua dan Nona Ukhti berada di rumah Nenek. Ada perasaan bahagia saat itu di dalam hati Gua, dari sekian banyak tas yang ia beli, ternyata Nona Ukhti memberikan satu tas untuk Nenek. Ya dia membelikan tas untuk Nenek Gua. Sudah tentu Nenek senang. Setelah itu kami melaksanakan ibadah tiga raka'at lalu sekitar pukul tujuh malam, Gua mengantarnya pulang lagi ke rumah Papahnya.
...
...
...
Semakin lama, kedekatan Gua dengan Nona Ukhti semakin dekat dari sebelumnya, apalagi sekarang Papahnya sudah bisa nerima Gua. Sudah tentu setiap malam minggu kami jalan bersama dengan izin Papahnya, dan Gua masih memegang amanat Papahnya dengan baik. Yang menjemput Nona Ukhti di rumahnya jika kami hendak pergi main dan pulang sebelum pukul sembilan malam.
Sikap Papahnya memang masih dingin, maksud Gua kami hanya sekedar mengobrol seadanya, tidak sesantai seperti dengan orangtua mantan-mantan Gua sebelumnya. Tapi ya, bagi Gua ini sudah lebih baik daripada sebelumnya.
Sampai di suatu hari di bulan April 2007, Gua berniat untuk menyatakan perasaan kepada Nona Ukhti, ya Gua rasa sekarang sudah waktunya kami menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman dekat. Gua yakin kali ini hubungan kami berjalan dengan baik tanpa perlu menutupinya lagi di depan Papahnya.
Saat itu Gua sudah pulang dari kampus menggunakan si Black, dengan kecepatan sedang dan berkendara santai, Gua memacu mobil menuju rumah Nenek. Sekitar pukul setengah enam sore Gua sudah sampai di rumah. Gua langsung mengganti pakaian setelah sebelumnya membilas tubuh dan bersuci untuk melaksanakan ibadah. Beres beribadah, Gua pamit kepada Nenek untuk pergi ke rumah Nona Ukhti.
Hari ini Gua memang sengaja tidak memberikan kabar kepada Nona Ukhti untuk datang ke rumahnya, sedikit kejutan yang ingin Gua berikan. Se-bucket bunga sudah berada di atas jok samping kemudi, sebuah kalung emas putih sudah terbungkus indah dan Gua simpan di saku bagian dalam blazer. Hari ini benar-benar sudah Gua persiapkan, Gua memang sudah membeli kalung berliontin hati dari dua hari yang lalu, di antar oleh Tante Gua Kinan, ke sebuah toko perhiasan di jakarta.
Pukul tujuh malam Gua hentikan mobil tepat di depan rumahnya. Saat itu langit cerah, malah bertabur banyak bintang, yang semakin membuat malam ini menunjukkan pesonanya. Semuanya perfect di mata Gua. Biarlah Gua menyatakan perasaan di rumah Nona Ukhti, karena bukan tanpa alasan Gua memilih rumahnya itu, karena disinilah bagi Gua semuanya berawal, dari restu Papahnya. Agar kedepannya Gua dan Nona Ukhti benar-benar bisa menjalin hubungan dengan baik bersama orangtuanya itu.
Gua sudah berada di depan teras rumahnya, tapi tumben.. Pintu rumahnya tertutup, mobil Nona Ukhti berada di halaman parkiran tapi tidak dengan mobil milik Papahnya. Gua mengetuk pintu sambil mengucapkan salam, sampai lima kali Gua mengetuk dan mengucapkan salam tidak ada jawaban dari dalam rumah. Lalu Gua duduk di kursi teras rumahnya dan mengeluarkan hp.
Gua menelpon nomor hp Nona Ukhti hingga lima kali tapi tidak ada jawaban dari ujung sana, yang malah akhirnya nomornya tersebut tidak aktif dan tidak bisa Gua hubungi lagi.
Aneh, tumben banget seperti ini, tidak biasanya dia sulit dihubungi seperti sekarang. Gua mulai mengingat waktu sehari sebelumnya. Saat jum'at kemarin di pagi hari, Gua bangun di apartemen Kinan, Gua sempat menerima sms dari Nona Ukhti seperti biasa, ucapan selamat pagi dan jangan lupa beribadah subuh. Sampai Gua hendak berangkat kuliah pun kami masih saling berkabar lewat sms. Barulah ketika menjelang siang hingga kini Gua berada di rumahnya, kami tidak berkomunikasi lagi.
Gua memilih untuk menunggu kedatangan Papahnya, ya siapa tau Nona Ukhti sedang pergi bersama Papahnya kan. Lama Gua menunggu hingga waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi mobil Papahnya masih belum nampak. Gua semakin khawatir ketika malam semakin larut. Entah kenapa Gua tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak enak di dalam hati. Gua takut terjadi sesuatu kepada kedua orang tersebut. Tapi Gua buru-buru menepis perasaan tersebut, Gua berusaha berfikir positif kalau semuanya akan baik-baik saja.
Gua memang sengaja mendiamkan Nona Ukhti sejak siang kemarin, karena sudah berniat untuk membuat kejutan untuk malam ini. Tapi sepertinya harapan Gua harus sirna... Ya sirna bersama perasaan yang harus Gua kubur dalam-dalam.
...
Gua berdiri dari kursi teras rumahnya dan berjalan keluar pagar, ya Gua memilih untuk pulang dan kembali esok pagi. Baru saja Gua menutup kembali pagar rumahnya, sebuah mobil berhenti tepat di samping Gua. Mobil itu, mobil milik Papahnya.
"Loch Om..", sapa Gua yang melihat Papahnya turun dari pintu kemudi.
"Za.. Kamu dari tadi di sini ?", tanya Papahnya.
Gua berjalan mendekati Papahnya lalu mencium tangan beliau. "Iya Om, saya dari jam tujuh di sini..", jawab Gua setelah mencium tangan beliau. "Vera nya kemana ya Om ?", tanya Gua.
Papahnya hanya menatap Gua dengan ekspresi wajah yang lelah, ya, beliau seperti kurang istirahat saat itu, keletihan nampak jelas dari wajah beliau. Lalu beliau mengajak Gua masuk ke dalam rumah.
Sekarang kami berdua sudah duduk berhadapan di sofa ruang tamu rumahnya. Gua menunggu beliau bercerita, cerita yang akan membuat Gua tidak akan pernah lupa hari itu, di bulan april itu, Gua harus bertahan dengan segala kenyataan yang sangat sulit bisa Gua terima.
Papahnya Nona Ukhti bercerita langsung ke masalah yang sedang ia hadapi. Gua mendengarkan beliau dengan seksama, mendengar setiap ucapannya dengan perasaan yang khawatir, dan ke khawatiran Gua berubah menjadi sebuah sakit hati yang teramat dalam. Rasanya saat itu, Gua tidak bisa lagi mendengar kata maaf dan ikhlas dari beliau.
Dengan airmata yang sudah membasahi wajahnya, beliau mencoba membuat Gua mengerti akan situasi yang sedang ia hadapi. "Saya harap kamu ikhlas Za menerima kenyataan ini", ucapnya dalam tangis.
Tangan Gua bergetar, airmata Gua ikut menetes tanpa bisa lagi Gua tahan, saat itu rasanya Gua ingin sekali berteriak karena perasaan yang sudah tidak karuan di dalam hati ini. Emosi Gua naik seketika, sulit bagi Gua menerima kenyataan tersebut.
"Selama ini...", ucap Gua yang masih berusaha menahan emosi,
"Saya menjaga dia dengan baik.. Selama ini.. Saya berusaha untuk menjadi laki-laki yang bertanggungjawab untuknya.. Dan untuk anda..", lanjut Gua dengan suara yang bercampur isak tangis,
"Om.. Siapa pelakunya ?", tanya Gua dengan tatapan membunuh bersama emosi yang sudah meledak.
Gua sadar dengan apa yang sudah Gua lakukan untuk menunjukkan kebaikan itu tidak mudah merubah hati seseorang, sekalipun Gua memenuhi semua keinginan orang tersebut. Dan Gua yakin, ketika suatu saat hati orang tersebut mulai berubah untuk bisa menerima Gua, ada Tuhan yang merubah perasaannya. Ya, hanya Dia lah yang bisa membolak-balikkan hati kita dalam sekejap.
...
Perubahan sikap Papahnya Nona Ukhti benar-benar diluar dugaan Gua, semenjak dirinya meminta Gua untuk menjaga putri kesayangannya itu, beliau mulai welcome dengan kehadiran Gua diantara keluarga kecilnya. Tidak jarang Gua dan Nona Ukhti seharian berada di rumahnya sekedar mengobrol di ruang tamunya hanya untuk menghabiskan malam minggu, tentu saja Papahnya tau akan hal ini.
"Za, ayo makan bareng, makannya udah siap, yuk..", ajak Nona Ukhti.
Gua pun bangun dari sofa ruang tamunya dan berjalan bersamanya ke ruang makan. Disana sudah ada Papahnya, kami bertiga makan bersama. Dan rasanya kehangatan kebersamaan kali ini benar-benar berbeda dari beberapa waktu lalu. Tidak banyak obrolan diantara kami ketika menikmati makan malam, tapi cukup lah untuk Gua merasakan perubahan sikap Papahnya yang mulai menerima Gua mendekati anaknya.
Selesai makan malam bersama, Gua dan Nona Ukhti duduk di teras rumahnya. Sedangkan Papahnya memilih untuk menonton acara tv di kamar pribadinya. Saat itu baru pukul delapan malam.
"Za.. Papah udah bisa nerima kamu ya..", ucap Nona Ukhti sambil menatap ke taman rumahnya di depan sana.
Gua menengok kepada Nona Ukhti sambil menghembuskan asap rokok yang sebelumnya sudah Gua hisap. "Alhamdulilah Ve.. Tapi..", ucapan Gua terhenti lalu memandangi rerumputan di depan.
"Heum ? Tapi kenapa Za ?", tanyanya.
Gua menggelengkan kepala tanpa menoleh kepada Nona Ukhti. "Enggak apa-apa, cuma.. Kok Papah kamu bisa secepat itu berubah ya, perasaan beberapa minggu lalu beliau masih gak suka sama aku kan..", jawab Gua, lalu kembali menghisap rokok dalam-dalam.
"Mungkin Papah liat sikap kamu yang baik dan bisa menjaga amanatnya Za".
Gua sebenarnya kurang memahami perubahan sikap Papahnya itu, kenapa beliau bisa menerima Gua ketika hanya sedikit obrolan yang kami bicarakan di malam minggu beberapa waktu lalu. Kalau apa yang diucapkan Nona Ukhti benar, kok rasanya tidak berbanding lurus dengan kenyataannya. Bukan masalah sikap Gua yang baik di depan orangtuanya itu, tapi rasanya Gua masih belum bisa menjaga amanatnya dengan baik, toh ketika itu Gua mengantar putrinya pulang hampir jam setengah sepuluh malam. Pikirannya sulit di tebak, masa iya cuma karena dia tau Gua belum memacari anaknya lalu beliau berubah. Kan gak mungkin seperti itu.
"Mungkin Ve.. Entahlah", ucap Gua pada akhirnya.
"Oh ya Za, besok kan hari minggu, kamu ikut ya sama aku ketemu Mamah", ajak Nona Ukhti kali ini.
"Besok ? Oh iya besok minggu ya, waktunya nona bertemu ibunda tercinta, hehehe..".
"Iya.. Mau kan ? Kita makan siang aja sama Mamah besok", lanjutnya.
"Siaap! Bisa diatur hehehe... Perlu sekalian aku bawa bunga untuk Mamah kamu gak ? Hehehe", goda Gua.
"Yeee... Malah mau godain Mamah, buat aku aja kalo mau kasih bunga ma.. Huuu", cibirnya.
"Hahaha.. Iya iya, kalo untuk mamah kamu ma bunga bank aja yak.. Hehe", goda Gua.
...
Keesokkan harinya Gua makan siang bersama Nona Ukhti dan Ibunda tercintanya. Gua fikir kami benar-benar akan makan bertiga saja, ternyata ada dua orang lelaki lagi yang ikut makan bersama, salah satu lelaki itu adalah suami ibunda Nona Ukhti, atau Papah tirinya. Dan yang satu lainnya adalah anak bawaan Papah tirinya, adik tiri Nona Ukhti, seorang remaja yang masih duduk di bangku SMA.
Suatu saat kalian akan tau siapa adik tirinya itu, karena dia memiliki threadnya sendiri di SFTH ini Gais. Sebelum waktunya tiba, biarlah Gua selesaikan cerita ini dulu. Hahahaha

Kami hanya makan berlima di satu restoran di Jakarta, hanya obrolan santai yang kami bicarakan ketika itu. Btw, untuk Ibunda Nona Ukhti sedari awal memang orang yang baik, dalam artian beliau menerima Gua sebagai teman dekat anaknya itu, tidak ada amanat khusus yang beliau titipkan kepada Gua semenjak Gua dan putrinya itu dekat akhir-akhir ini.
Sekitar pukul dua siang kami semua selesai makan di restoran tersebut, tidak ada acara lain yang akan kami lakukan setelah itu, jadi Gua dan Nona Ukhti pergi berdua setelah Ibundanya juga pulang bersama keluarganya. Nona Ukhti mengajak Gua untuk pergi ke sebuah tempat wisata di kota kami, maka setelah dari restoran, Gua langsung mengarahkan si Black pulang ke kota kami. Pukul setengah empat lewat kami sudah sampai di tempat wisata tersebut. Gua agak bingung sebenarnya, ini bukan tempat wisata sih, karena yang di sediakan oleh tempat tersebut kebanyakan bertema outbond. Bukan taman bunga, kebun teh, air terjun atau sebagainya. Malah yang paling menonjol adalah toko tas yang besar daripada pemandangan alam.
Dan disinilah, Gua baru tau kalau wanita sama semuanya. Nona Ukhti tiba-tiba saja masuk slonong boy ke dalam toko tas tersebut, biasalah ngomongya ma cuma, "Liat-liat yuk ke dalam", eh pas keluar dari toko tersebut, dua tangannya penuh dengan kantung belanjaan yang berisi tas baru.

Sebelum maghrib kami sudah meninggalkan tempat tersebut, yang akhirnya Gua malah menemaninya belanja, sama kayak Echa ini ma. Hadeuh...
Saat adzan maghrib, Gua dan Nona Ukhti berada di rumah Nenek. Ada perasaan bahagia saat itu di dalam hati Gua, dari sekian banyak tas yang ia beli, ternyata Nona Ukhti memberikan satu tas untuk Nenek. Ya dia membelikan tas untuk Nenek Gua. Sudah tentu Nenek senang. Setelah itu kami melaksanakan ibadah tiga raka'at lalu sekitar pukul tujuh malam, Gua mengantarnya pulang lagi ke rumah Papahnya.
...
...
...
Semakin lama, kedekatan Gua dengan Nona Ukhti semakin dekat dari sebelumnya, apalagi sekarang Papahnya sudah bisa nerima Gua. Sudah tentu setiap malam minggu kami jalan bersama dengan izin Papahnya, dan Gua masih memegang amanat Papahnya dengan baik. Yang menjemput Nona Ukhti di rumahnya jika kami hendak pergi main dan pulang sebelum pukul sembilan malam.
Sikap Papahnya memang masih dingin, maksud Gua kami hanya sekedar mengobrol seadanya, tidak sesantai seperti dengan orangtua mantan-mantan Gua sebelumnya. Tapi ya, bagi Gua ini sudah lebih baik daripada sebelumnya.
Sampai di suatu hari di bulan April 2007, Gua berniat untuk menyatakan perasaan kepada Nona Ukhti, ya Gua rasa sekarang sudah waktunya kami menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman dekat. Gua yakin kali ini hubungan kami berjalan dengan baik tanpa perlu menutupinya lagi di depan Papahnya.
Saat itu Gua sudah pulang dari kampus menggunakan si Black, dengan kecepatan sedang dan berkendara santai, Gua memacu mobil menuju rumah Nenek. Sekitar pukul setengah enam sore Gua sudah sampai di rumah. Gua langsung mengganti pakaian setelah sebelumnya membilas tubuh dan bersuci untuk melaksanakan ibadah. Beres beribadah, Gua pamit kepada Nenek untuk pergi ke rumah Nona Ukhti.
Hari ini Gua memang sengaja tidak memberikan kabar kepada Nona Ukhti untuk datang ke rumahnya, sedikit kejutan yang ingin Gua berikan. Se-bucket bunga sudah berada di atas jok samping kemudi, sebuah kalung emas putih sudah terbungkus indah dan Gua simpan di saku bagian dalam blazer. Hari ini benar-benar sudah Gua persiapkan, Gua memang sudah membeli kalung berliontin hati dari dua hari yang lalu, di antar oleh Tante Gua Kinan, ke sebuah toko perhiasan di jakarta.
Pukul tujuh malam Gua hentikan mobil tepat di depan rumahnya. Saat itu langit cerah, malah bertabur banyak bintang, yang semakin membuat malam ini menunjukkan pesonanya. Semuanya perfect di mata Gua. Biarlah Gua menyatakan perasaan di rumah Nona Ukhti, karena bukan tanpa alasan Gua memilih rumahnya itu, karena disinilah bagi Gua semuanya berawal, dari restu Papahnya. Agar kedepannya Gua dan Nona Ukhti benar-benar bisa menjalin hubungan dengan baik bersama orangtuanya itu.
Gua sudah berada di depan teras rumahnya, tapi tumben.. Pintu rumahnya tertutup, mobil Nona Ukhti berada di halaman parkiran tapi tidak dengan mobil milik Papahnya. Gua mengetuk pintu sambil mengucapkan salam, sampai lima kali Gua mengetuk dan mengucapkan salam tidak ada jawaban dari dalam rumah. Lalu Gua duduk di kursi teras rumahnya dan mengeluarkan hp.
Gua menelpon nomor hp Nona Ukhti hingga lima kali tapi tidak ada jawaban dari ujung sana, yang malah akhirnya nomornya tersebut tidak aktif dan tidak bisa Gua hubungi lagi.
Aneh, tumben banget seperti ini, tidak biasanya dia sulit dihubungi seperti sekarang. Gua mulai mengingat waktu sehari sebelumnya. Saat jum'at kemarin di pagi hari, Gua bangun di apartemen Kinan, Gua sempat menerima sms dari Nona Ukhti seperti biasa, ucapan selamat pagi dan jangan lupa beribadah subuh. Sampai Gua hendak berangkat kuliah pun kami masih saling berkabar lewat sms. Barulah ketika menjelang siang hingga kini Gua berada di rumahnya, kami tidak berkomunikasi lagi.
Gua memilih untuk menunggu kedatangan Papahnya, ya siapa tau Nona Ukhti sedang pergi bersama Papahnya kan. Lama Gua menunggu hingga waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi mobil Papahnya masih belum nampak. Gua semakin khawatir ketika malam semakin larut. Entah kenapa Gua tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak enak di dalam hati. Gua takut terjadi sesuatu kepada kedua orang tersebut. Tapi Gua buru-buru menepis perasaan tersebut, Gua berusaha berfikir positif kalau semuanya akan baik-baik saja.
Gua memang sengaja mendiamkan Nona Ukhti sejak siang kemarin, karena sudah berniat untuk membuat kejutan untuk malam ini. Tapi sepertinya harapan Gua harus sirna... Ya sirna bersama perasaan yang harus Gua kubur dalam-dalam.
...
Gua berdiri dari kursi teras rumahnya dan berjalan keluar pagar, ya Gua memilih untuk pulang dan kembali esok pagi. Baru saja Gua menutup kembali pagar rumahnya, sebuah mobil berhenti tepat di samping Gua. Mobil itu, mobil milik Papahnya.
"Loch Om..", sapa Gua yang melihat Papahnya turun dari pintu kemudi.
"Za.. Kamu dari tadi di sini ?", tanya Papahnya.
Gua berjalan mendekati Papahnya lalu mencium tangan beliau. "Iya Om, saya dari jam tujuh di sini..", jawab Gua setelah mencium tangan beliau. "Vera nya kemana ya Om ?", tanya Gua.
Papahnya hanya menatap Gua dengan ekspresi wajah yang lelah, ya, beliau seperti kurang istirahat saat itu, keletihan nampak jelas dari wajah beliau. Lalu beliau mengajak Gua masuk ke dalam rumah.
Sekarang kami berdua sudah duduk berhadapan di sofa ruang tamu rumahnya. Gua menunggu beliau bercerita, cerita yang akan membuat Gua tidak akan pernah lupa hari itu, di bulan april itu, Gua harus bertahan dengan segala kenyataan yang sangat sulit bisa Gua terima.
Papahnya Nona Ukhti bercerita langsung ke masalah yang sedang ia hadapi. Gua mendengarkan beliau dengan seksama, mendengar setiap ucapannya dengan perasaan yang khawatir, dan ke khawatiran Gua berubah menjadi sebuah sakit hati yang teramat dalam. Rasanya saat itu, Gua tidak bisa lagi mendengar kata maaf dan ikhlas dari beliau.
Dengan airmata yang sudah membasahi wajahnya, beliau mencoba membuat Gua mengerti akan situasi yang sedang ia hadapi. "Saya harap kamu ikhlas Za menerima kenyataan ini", ucapnya dalam tangis.
Tangan Gua bergetar, airmata Gua ikut menetes tanpa bisa lagi Gua tahan, saat itu rasanya Gua ingin sekali berteriak karena perasaan yang sudah tidak karuan di dalam hati ini. Emosi Gua naik seketika, sulit bagi Gua menerima kenyataan tersebut.
"Selama ini...", ucap Gua yang masih berusaha menahan emosi,
"Saya menjaga dia dengan baik.. Selama ini.. Saya berusaha untuk menjadi laki-laki yang bertanggungjawab untuknya.. Dan untuk anda..", lanjut Gua dengan suara yang bercampur isak tangis,
"Om.. Siapa pelakunya ?", tanya Gua dengan tatapan membunuh bersama emosi yang sudah meledak.
Diubah oleh glitch.7 12-05-2017 12:02
kadalbuntingzzz dan 2 lainnya memberi reputasi
3
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..


(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 
