- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#3294
PART 47
Throwback Stories
Sekarang sudah memasuki bulan februari 2007, dan kebersamaan Gua dengan Vera semakin dekat dari awal januari lalu. Memang kami tidak setiap hari bertemu karena Gua yang kuliah dan tinggal di Jakarta, sedangkan Vera di kota kami. Tapi hampir setiap weekend kami berdua selalu jalan bersama, malah pernah suatu hari Vera main ke apartmen Kinan.
Seperti di jum'at ini, Gua sedang berdiri di pinggir jalan, di atas motor. Gua membakar sebatang rokok sambil menunggu Nona Ukhti keluar dari stasiun sehabis pulang shalat jum'at tadi. Sudah dari kemarin Nona Ukhti ingin main ke jakarta katanya kepada Gua, jadi hari ini sepulang dia kuliah pukul dua siang tadi, Nona Ukhti langsung ke sini menggunakan kereta. Sebenarnya Gua agak heran kepadanya, ini soal kendaraannya. Selama ini dia tidak pernah menggunakan mobil selama jalan bersama Gua sejak bulan lalu. Entah alasan apa yang membuatnya tidak menggunakan mobil pribadinya itu dan memilih naik kendaraan umum jika janjian dengan Gua di satu tempat.
"Ve..", teriak Gua seraya melambaikan tangan kepadanya.
Vera menengok kepada Gua lalu tersenyum dan berjalan ke arah Gua.
"Udah lama Za ?", tanyanya ketika sudah berdiri di hadapan Gua.
"Enggak Ve, baru lima belas menitan..",
"Yuk berangkat sekarang", ajak Gua.
...
Gua, Kinan dan Nona Ukhti sedang membombardir dapur apartemen, kami memasak banyak menu hari ini. Dapur apartemen Kinan pun menjadi porak poranda dengan banyaknya bahan masakan. Hari ini menunya ayam goreng tepung asam manis, capcay goreng dan pudding. Dengan telaten Kinan mengajarkan Vera cara memasak, Nona Ukhti memang belum bisa masak, hehehe.. Paling banter bikin telor ceplok atau dadar, dan mie instan rebus. Jadi hari ini kayaknya adalah salah satu hari bersejarah untuk Nona Ukhti, karena untuk pertama kalinya lah dia memasak dengan dibantu oleh Tante Gua.
Satu jam kemudian kami selesai memasak dan semua masakan sudah tersaji penuh di atas meja. Beuuh mantep ini ma, spesial banyak makanan enak. Tidak perlu waktu lama bagi kami untuk menyapu bersih makanan tersebut karena memang sudah kelaparan sedari siang.
"Kalian udah pacaran ?", tanya Kinan setelah selesai menghabiskan makanannya.
Gua mengambil gelas yang berisi air mineral lalu meminumnya sambil melirik kepada Vera di samping kiri.
Vera menoleh kepada Kinan yang berada di depan Gua lalu melirik kepada Gua sambil tersenyum. "Tanya Eza aja Kak", jawab Vera sambil tersenyum malu dan merapihkan piring kotor bekas makan kami.
Kinan menatap Gua kali ini, menunggu jawaban dari Gua. Vera membawa piring kotor tersebut ke dapur, sedangkan Gua dan Kinan masih di ruang tv. Gua menaruh gelas lalu tersenyum kepada Kinan yang menaikkan kedua alisnya.
Lalu Gua terkekeh pelan melihat Tante Gua yang satu itu. "Belum..", ucap Gua pelan seraya bangkit dari duduk dan menuju dapur. Gua lirik Kinan yang mengerenyitkan kening dan memutar bola matanya.
...
Keesokan harinya, malam minggu. Gua sedang berada di rumah Nona Ukhti. Hujan masih saja mengguyur karena saat itu hampir perayaan imlek. Gua duduk di sofa ruang tamunya bersama Nona Ukhti di samping Gua dan Papahnya yang duduk di hadapan kami.
"Jadi kemarin anak saya main ke jakarta untuk nemuin kamu, makanya pulang larut malam ?", tanya Papahnya.
"Iya Om, saya yang mengajak Vera ke jakarta dan saya juga yang mengantarnya pulang", jawab Gua.
"Pah, kami pulang sampai rumah jam tujuh, belum larut Pah...", timpal Vera,
"Lagian aku udah bilang, aku yang mau main ke tempat Eza, bukan dia yang ajak..", lanjutnya.
"Nak Eza", Papahnya tidak memperdulikan ucapan anaknya itu,
"Saya ini orangtua dari anak perempuan yang ada di samping kamu", kali ini Papahnya melipat satu kakinya dan menyandarkan punggungnya ke bahu sofa di belakangnya,
"Dan dia anak saya satu-satunya, yang saya jaga dan rawat selama ini, saya harap kamu mengerti batas-batas yang saya tetapkan untuk mengajaknya pergi", ucapnya sambil menepuk-nepuk satu pahanya.
Gua menghela nafas pelan lalu tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Iya Om, saya mengerti, mohon maaf kalo saya mengantarkan Vera pulang terlalu malam jum'at kemarin", jawab Gua.
"Oke, kalau begitu..", kali ini Papahnya bangun dari duduknya dan mengangkat satu tangannya sebatas dada,
"Sepertinya ini juga sudah terlalu larut untuk bertamu di rumah saya", matanya menatap jam pada pergelangan tangan yang dia angkat tadi,
"Jadi kami mau istirahat dulu Nak..", lanjutnya kali ini sambil menatap Gua.
"Pah! Papah apaan sih, ini kan baru jam setengah 7 Pah..", ucap Vera sambil ikut bangun dari duduknya,
"Papah tuh engg..".
Gua potong ucapan Vera sambil memegangi ke dua bahunya dari samping. "Ve.. Udah udah ya.. Enggak apa-apa, lagian ini udah malam juga Ve..", ucap Gua menenangkan Vera yang sudah emosi.
"Kamu tuh gimana sih Za!", Vera menengok kepada Gua dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Bukan gitu Ve, mungkin Papah kamu cape, mau istirahat, nanti lain hari aku main ke sini lagi ya.. Siang hari deh.. Okey ?", jawab Gua kepada Vera sambil tersenyum.
Tapi apa yang dilakukan Nona Ukhti setelah itu, dia langsung berlari masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintunya keras-keras. Gua hanya bisa mendengus kasar sambil menggelengkan kepala.
"Mmm.. Om.. Saya pamit dulu ya",
"Mohon maaf jadi buat Vera marah", ucap Gua sambil mengulurkan tangan kepada Beliau.
Papahnya Vera mengulurkan tangannya juga yang langsung Gua cium punggung tangannya itu, tapi Beliau segera melepaskannya dengan cepat.
"Nak...".
"Ya Om ?".
"Sepertinya kehadiran kamu diantara kami membuat hubungan orangtua dan anak jadi kurang baik", ucapnya dengan nada yang sangat dingin.
Gua sempat tertegun mendengar ucapannya itu. Gua berusaha setenang mungkin dalam situasi seperti ini. "Oh.. Ehm.. Mohon maaf Om, saya benar-benar tidak tau kalau ternyata kehadiran saya membuat Vera dan Om jadi...", ucapan Gua itu tidak Gua lanjutkan.
"Saya rasa kamu mengerti dan paham apa yang saya mau..", ucapnya.
Gua mengangguk menanggapi ucapannya itu lalu Gua pamit pulang. Baru sampai di ambang pintu rumahnya, Gua berhenti melangkah dan tangan kiri Gua memegang sisi kusen pintu rumahnya itu.
"Om..", ucap Gua sambil menengok ke belakang,
"Saya rasa, saya enggak akan mundur untuk mendapatkan restu anda", lanjut Gua sambil tersenyum.
Papahnya Vera hanya tersenyum sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.
...
Gua sudah berada di dalam mobil, dan terjebak di jalan protokol dengan hujan yang cukup deras di luar sana, ditambah kemacetan kendaraan roda empat lainnya yang membuat malam minggu ini benar-benar kelabu. Gua menarik rem tangan di tengah kemacetan ini, lalu membuka kaca jendela sedikit dan membakar sebatang rokok. Pikiran Gua hanya tertuju kepada seorang perempuan yang bernama Vera, yang baru saja Gua temui sekitar tiga puluh menit yang lalu di rumahnya.
Malam minggu ini, kami berencana untuk pergi menonton sebuah film layar lebar, memang hanya jalan biasa seperti layaknya muda-mudi lainnya yang sering jalan bersama pasangan mereka masing-masing. Dan Gua rasa semua itu tidak ada yang salah. Apa yang kami rencanakan pada akhirnya harus batal terjadi karena sikap Papahnya tadi.
Gua tidak ingin menyalahkan Papahnya dan Vera. Memang Gua nya saja yang belum bisa diterima oleh Papahnya untuk mengajak anak semata wayangnya itu pergi jalan-jalan. Padahal Vera sudah mengingatkan Gua untuk tidak meminta izin dan menemui Papahnya seperti tadi. Yap, Vera sebenarnya melarang Gua untuk menjemputnya di rumah, karena dia takut kalau sampai Gua diperlakukan tidak menyenangkan secara halus seperti waktu lalu.
Dan apa yang ditakutkan Vera terjadi juga hari ini. Gua memang tidak memberitahu Vera kalau Gua akan menjemputnya ke rumahnya setelah Gua pulang dari jakarta tadi sore. Jelaslah Vera kaget setelah melihat Gua sudah duduk bersama Papahnya di ruang tamu. Bukan tanpa alasan Gua senekat itu, Gua hanya ingin menunjukkan itikad baik kepada Papahnya, walaupun Gua tau beliau tidak menyukai Gua, tapi apakah tidak lebih buruk jika Gua selalu menutupi hubungan Gua dan Vera kalau sampai Papahnya tau Gua mengajak jalan anaknya diam-diam tanpa sepengetahuan beliau ?.
Laki-laki itu kan calon kepala keluarga, penuh tanggungjawab kepada setiap tindakannya. Sebelum Gua benar-benar menjadi kepala keluarga, Gua harus bisa menunjukkan kalau Gua ini punya tanggungjawab kepada orangtua Vera, lebih tepatnya Papahnya. Yaaa.. Gua berusaha mulai mencari cara lain lagi untuk bisa melunakkan hati Papahnya itu, karena restu beliau adalah jalan terbaik demi hubungan Gua dengan anaknya dan tentu saja Papahnya.
Gua bukan lagi anak SMA sekalipun usia Gua belum cukup matang untuk bersikap secara dewasa layaknya laki-laki yang memiliki segudang pengalaman dalam hidup. Tapi mulai dari sekarang lah Gua harus bisa membekali diri untuk lebih bertanggungjawab dalam satu hubungan, Gua sudah lelah untuk sekedar bermain-main seperti di masa SMA.
Dengan segala niat baik di dalam hati, Gua berharap Tuhan menunjukkan jalan yang terbaik untuk hubungan ini, agar ucapan Gua kepada Papahnya Nona Ukhti benar-benar bisa Gua tunjukkan dan mendapatkan restunya. Ya, semoga saja...
...
...
...
Suatu hari di bulan februari, satu minggu setelah kejadian itu Gua sedang berada di dalam kamar menonton tv ketika suara perempuan memanggil nama Gua disertai ucapan salam. Gua bangun dari kasur dan membuka pintu kamar.
"Walaikumsalam.. Eh Ve.. Darimana ?", tanya Gua sambil berjalan mendekatinya yang berdiri di jalan antara teras dengan halaman rumah.
"Aku baru pulang dari kost-an teman Za", jawabnya.
Lalu dia mencium tangan Gua ketika kami sudah saling berhadapan, kemudian Gua mengajaknya masuk dan duduk di sofa teras depan kamar seperti biasa. Gua masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan minum. Gua kembali ke teras dengan secangkir teh manis hangat untuk Nona Ukhti.
"Kamu kenapa akhir-akhir ini gak pernah bawa mobil Ve ?", tanya Gua sambil duduk di salah satu sofa.
"Enggak apa-apa Za", jawabnya,
"Mmm.. Kamu gak kemana-mana hari ini ? Gak ada acara ?", tanyanya.
Gua tau ini sudah kesekian kalinya Nona Ukhti mengalihkan pembicaraan setiap Gua menanyakan soal mobilnya.
"Enggak ada Ve.. Kenapa gitu ?", tanya Gua kali ini.
"Mmm.. Nonton yuk, kan minggu kemarin gak jadi.. Heheehee..".
"Ya udah, habis maghrib aja kalo gitu ya".
Nona Ukhti mengangguk cepat sambil menunjukkan ekspresi bahagia pada wajahnya.
Kemudian Gua memanggil Nenek, untuk sekedar memberitahukan kepada beliau kalau ada teman Gua, lalu akhirnya kami mengobrol bertiga di teras ini hingga suara adzan maghrib berkumandang. Nona Ukhti melakukan ibadah duluan di kamar Gua, sedangkan Gua beribadah di kamar depan bekas kamar orangtua Gua dulu.
Selesai ibadah maghrib, Gua pergi keluar sebentar, membelikan martabak telur untuk Nenek karena beliau hari ini tidak masak. Gua hanya berjalan kaki dengan payung sebagai penghalang hujan untuk berjalan ke depan komplek rumah. Selesai membeli sebungkus martabak, Gua kembali ke rumah dan melihat Nenek bersama Nona Ukhti yang kembali asyik mengobrol di depan teras kamar.
Singkat cerita Gua dan Nona Ukhti sudah berada di dalam mobil untuk menuju salah satu mall di kota kami yang memiliki studio bioskop. Lalu sesampainya di sana kami berdua langsung naik ke lantai empat dimana bioskop tersebut berada. Gua mengantri di loket pembelian tiket, sedangkan Nona Ukhti membeli makanan untuk camilan kami di dalam studio nanti.
Selesai mendapatkan dua tiket, dan membeli makanan ringan, Gua ajak Nona Ukhti duduk di dekat pintu studio seperti pengunjung lainnya, karena memang sofa tunggu untuk pengunjung sudah terisi penuh. Maklumlah, ini malam minggu.
"Ve... Kamu bilangnya kemana hari ini ke Papah ?", tanya Gua sambil menyesap minuman dingin.
"Aku bilang pergi sama teman kampus, hihihi...", jawabnya lalu mengambil popcorn dan memakannya.
Gua tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Ve... Aku gak mau kamu bohongin Papah kamu terus terusan karena pergi sama aku Ve..", ucap Gua lagi.
"Za.. Udah deh ya, kita udah sering bahas ini.. Cape aku", jawabnya kali ini dengan wajah yang malas.
Ya kami memang sudah sering membahas soal ini, soal hubungan kami yang sering pergi berdua tanpa izin Papahnya.
"Ya seenggaknya maksud aku kan kita bisa jujur soal hubungan kita Ve ke Papah kamu", ucap Gua lagi.
"Emang hubungan kita kayak gimana sih Za ?".
Gua paham betul apa yang dimaksud Nona Ukhti, bukan Gua tidak mau menyatakan perasaan kepadanya, tapi Gua cuma ingin kalau hubungan kami direstui oleh Papahnya, minimal sebagai teman dulu sebelum masuk ke tahap selanjutnya.
"Aku ngerti Ve, tapi kalo untuk jadi teman kamu aja aku sulit dapet izin Papah kamu, gimana kedepannya ?".
"Apa salahnya sih Za kalo kita backstreet dulu ?", tanyanya lagi kali ini dengan mata yang sayu, tapi Gua bisa melihat dari kedua bola matanya bahwa ada harapan, harapan untuk hubungan ini dan penantiannya.
"Ve.. Aku gak bisa kalo kita pacaran tapi keluarga kamu gak nerima aku, maksud aku Papah kamu, gimanapun dia orangtua kamu Ve, restu orangtua itu penting", jawab Gua,
"Dan aku gak mau kalo kita nanti backstreet sampai ketauan Papah kamu, pasti yang ada kamu bertengkar lagi", lanjut Gua.
Vera langsung menggelengkan kepalanya dengan wajah yang malas. "Terserah kamu deh Za, aku gak ngerti mau kamu tuh gimana sama hubungan ini", ucapnya sambil memalingkan mukanya kearah lain.
Gua menghela nafas pelan, lalu Gua tarik tangannya dan Gua letakkan ke dada ini. "Ve.. Aku sayang sama kamu, aku serius sama kamu.. Tapi aku gak mungkin macarin kamu tanpa izin Papah kamu Ve, kasih aku waktu..".
Nona Ukhti hanya menundukkan kepalanya tanpa mau menatap mata Gua.
Tidak lama kemudian suara penanda studio telah dibuka dan film akan segera di mulai pun terdengar nyaring. Gua ajak Nona Ukhti berdiri dan masuk ke dalam studio tersebut.
Kami duduk di bangku deretan atas bagian tengah. Sepanjang film diputar, tangan kami saling menggenggam, yang tidak lama kemudian Nona Ukhti menyandarkan kepalanya ke dada Gua.
Sekitar pukul setengah sembilan malam Gua dan Nona Ukhti sudah berada di depan rumahnya. Kami berdua masih di dalam mobil. "Ve.. Aku antar kamu sampai rumah ya, sampai depan pintu maksud ku".
"Jangan deh Za, kamu kayak gak tau Papah aja deh..", jawabnya sambil melepaskan seatbelt yang melingkar pada tubuhnya.
"Hmm.. Tapi aku gak enak udah ngajak anak tercantiknya pergi tanpa izin, masa pulangnya juga gak nemuin Papah kamu Ve".
"Nanti ya sayang.. Kalo kamu anter aku pulang siang aja, biar gak ngomel-ngomel Papahnya", jawab Vera lagi kali ini sambil menggenggam tangan kiri Gua.
"Ve.. Malah sebaliknya, kan kamu pulang malam, masa iya gak ada yg anterin, aku jamin gak apa-apa deh kali ini ya".
Pada akhirnya Vera mengalah walau dengan raut wajah yang tidak setuju kepada Gua. Kami berdua turun dari mobil lalu masuk ke halaman rumahnya. Sampai di depan pintu yang memang sudah terbuka, Papahnya berjalan menghampiri kami dari ruang tamu.
"Dari mana kamu Ve ? Jam segini baru pulang ?", tanya Papahnya sambil berjalan dan berdiri tepat di hadapan kami berdua.
"Tadi pulang kuliah ke kost-an teman kampus, terus nonton bareng mereka, pulangnya sekarang diantar Eza", jawab Vera setelah mencium tangan Papahnya.
Lalu Gua pun mencium tangan beliau sambil mengucapkan salam. "Assalamualaikum Om, maaf saya antar Vera nya terlalu malam", ucap Gua setelah mencium tangan beliau.
"Heum, walaikumsalam", jawabnya singkat sambil menatap Gua tajam,
"Masuk Ve", perintah Papahnya kepada anak tercantiknya itu.
Vera melirik kepada Gua yang langsung Gua jawab dengan anggukan kepala seraya tersenyum kepadanya. Lalu Vera pun masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan terimakasih kepada Gua.
Papahnya menggelengkan kepala menatap Gua yang tersenyum.
"Maaf Om, kalo saya salah sudah terlambat mengantarkan anak Om sampai semalam ini", ucap Gua.
"Kamu tau saya tidak suka Vera dekat dengan kamu ?", tanyanya.
Gua mengangguk sambil tersenyum lagi. "Saya tau Om, tapi saya sama Vera hanya teman, kami belum pacaran", jawab Gua.
Papahnya nampak sedikit terkejut dengan kening yang berkerut. "Kamu belum menjalin hubungan dengan Vera ?", tanyanya lagi.
"Belum Om, tapi seperti yang Om tau, kami sudah berteman dekat sejak SMA".
"Dan selama itu kamu belum memacari dia ?".
"Iya Om..".
"Kenapa ?".
"Karena saya tau, anda belum merestui hubungan kami...".
Cukup lama Papahnya terdiam, hingga membuat Gua menerka-nerka apa yang sedang Papahnya fikirkan. Sampai akhirnya Gua berprasangka negatif, mungkin seperti yang sudah-sudah, sebentar lagi akan ada kalimat pengusiran secara halus yang Gua dengar.
"Okey.. Lain kali kalo kamu mau pergi dengan anak saya, jemput dia di rumah dan pulangkan dia sebelum pukul sembilan malam", ucapnya setelah lama kami terdiam berdiri di teras rumahnya ini.
Kali ini Gua yang sedikit terkejut mendengar ucapan Papahnya itu. Apakah ini sebuah awal kalau Gua boleh mendekati anaknya secara terang-terangan ?.
"Kenapa diam ?", tanyanya mengagetkan Gua karena masih terdiam oleh ucapan yang sebelumnya.
"Oh.. Eeuu.. Maaf Om.. Iya iya.. Saya pasti izin kepada anda jika nanti kami pergi dan pulang sebelum pukul sembilan malam", jawab Gua pada akhirnya walaupun sedikit gugup.
"Bagus, sekarang sudah terlalu larut malam, kamu langsung pulang saja", ucapnya lagi.
Gua pun mengangguk seraya tersenyum dan mencium tangan beliau lagi. "Terimakasih Om, selamat malam, Assalamualaikum", ucap Gua setelah mencium tangannya dan pamit pulang.
Gua baru saja melangkahkan kaki sampai ujung teras untuk menuju gerbang rumahnya di depan sana ketika suara Papahnya kembali memanggil Gua.
"Reza".
Gua menengok ke belakang. "Ya Om ?".
"Jangan kecewakan saya".
Sekarang sudah memasuki bulan februari 2007, dan kebersamaan Gua dengan Vera semakin dekat dari awal januari lalu. Memang kami tidak setiap hari bertemu karena Gua yang kuliah dan tinggal di Jakarta, sedangkan Vera di kota kami. Tapi hampir setiap weekend kami berdua selalu jalan bersama, malah pernah suatu hari Vera main ke apartmen Kinan.
Seperti di jum'at ini, Gua sedang berdiri di pinggir jalan, di atas motor. Gua membakar sebatang rokok sambil menunggu Nona Ukhti keluar dari stasiun sehabis pulang shalat jum'at tadi. Sudah dari kemarin Nona Ukhti ingin main ke jakarta katanya kepada Gua, jadi hari ini sepulang dia kuliah pukul dua siang tadi, Nona Ukhti langsung ke sini menggunakan kereta. Sebenarnya Gua agak heran kepadanya, ini soal kendaraannya. Selama ini dia tidak pernah menggunakan mobil selama jalan bersama Gua sejak bulan lalu. Entah alasan apa yang membuatnya tidak menggunakan mobil pribadinya itu dan memilih naik kendaraan umum jika janjian dengan Gua di satu tempat.
"Ve..", teriak Gua seraya melambaikan tangan kepadanya.
Vera menengok kepada Gua lalu tersenyum dan berjalan ke arah Gua.
"Udah lama Za ?", tanyanya ketika sudah berdiri di hadapan Gua.
"Enggak Ve, baru lima belas menitan..",
"Yuk berangkat sekarang", ajak Gua.
...
Gua, Kinan dan Nona Ukhti sedang membombardir dapur apartemen, kami memasak banyak menu hari ini. Dapur apartemen Kinan pun menjadi porak poranda dengan banyaknya bahan masakan. Hari ini menunya ayam goreng tepung asam manis, capcay goreng dan pudding. Dengan telaten Kinan mengajarkan Vera cara memasak, Nona Ukhti memang belum bisa masak, hehehe.. Paling banter bikin telor ceplok atau dadar, dan mie instan rebus. Jadi hari ini kayaknya adalah salah satu hari bersejarah untuk Nona Ukhti, karena untuk pertama kalinya lah dia memasak dengan dibantu oleh Tante Gua.
Satu jam kemudian kami selesai memasak dan semua masakan sudah tersaji penuh di atas meja. Beuuh mantep ini ma, spesial banyak makanan enak. Tidak perlu waktu lama bagi kami untuk menyapu bersih makanan tersebut karena memang sudah kelaparan sedari siang.
"Kalian udah pacaran ?", tanya Kinan setelah selesai menghabiskan makanannya.
Gua mengambil gelas yang berisi air mineral lalu meminumnya sambil melirik kepada Vera di samping kiri.
Vera menoleh kepada Kinan yang berada di depan Gua lalu melirik kepada Gua sambil tersenyum. "Tanya Eza aja Kak", jawab Vera sambil tersenyum malu dan merapihkan piring kotor bekas makan kami.
Kinan menatap Gua kali ini, menunggu jawaban dari Gua. Vera membawa piring kotor tersebut ke dapur, sedangkan Gua dan Kinan masih di ruang tv. Gua menaruh gelas lalu tersenyum kepada Kinan yang menaikkan kedua alisnya.
Lalu Gua terkekeh pelan melihat Tante Gua yang satu itu. "Belum..", ucap Gua pelan seraya bangkit dari duduk dan menuju dapur. Gua lirik Kinan yang mengerenyitkan kening dan memutar bola matanya.
...
Keesokan harinya, malam minggu. Gua sedang berada di rumah Nona Ukhti. Hujan masih saja mengguyur karena saat itu hampir perayaan imlek. Gua duduk di sofa ruang tamunya bersama Nona Ukhti di samping Gua dan Papahnya yang duduk di hadapan kami.
"Jadi kemarin anak saya main ke jakarta untuk nemuin kamu, makanya pulang larut malam ?", tanya Papahnya.
"Iya Om, saya yang mengajak Vera ke jakarta dan saya juga yang mengantarnya pulang", jawab Gua.
"Pah, kami pulang sampai rumah jam tujuh, belum larut Pah...", timpal Vera,
"Lagian aku udah bilang, aku yang mau main ke tempat Eza, bukan dia yang ajak..", lanjutnya.
"Nak Eza", Papahnya tidak memperdulikan ucapan anaknya itu,
"Saya ini orangtua dari anak perempuan yang ada di samping kamu", kali ini Papahnya melipat satu kakinya dan menyandarkan punggungnya ke bahu sofa di belakangnya,
"Dan dia anak saya satu-satunya, yang saya jaga dan rawat selama ini, saya harap kamu mengerti batas-batas yang saya tetapkan untuk mengajaknya pergi", ucapnya sambil menepuk-nepuk satu pahanya.
Gua menghela nafas pelan lalu tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Iya Om, saya mengerti, mohon maaf kalo saya mengantarkan Vera pulang terlalu malam jum'at kemarin", jawab Gua.
"Oke, kalau begitu..", kali ini Papahnya bangun dari duduknya dan mengangkat satu tangannya sebatas dada,
"Sepertinya ini juga sudah terlalu larut untuk bertamu di rumah saya", matanya menatap jam pada pergelangan tangan yang dia angkat tadi,
"Jadi kami mau istirahat dulu Nak..", lanjutnya kali ini sambil menatap Gua.
"Pah! Papah apaan sih, ini kan baru jam setengah 7 Pah..", ucap Vera sambil ikut bangun dari duduknya,
"Papah tuh engg..".
Gua potong ucapan Vera sambil memegangi ke dua bahunya dari samping. "Ve.. Udah udah ya.. Enggak apa-apa, lagian ini udah malam juga Ve..", ucap Gua menenangkan Vera yang sudah emosi.
"Kamu tuh gimana sih Za!", Vera menengok kepada Gua dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Bukan gitu Ve, mungkin Papah kamu cape, mau istirahat, nanti lain hari aku main ke sini lagi ya.. Siang hari deh.. Okey ?", jawab Gua kepada Vera sambil tersenyum.
Tapi apa yang dilakukan Nona Ukhti setelah itu, dia langsung berlari masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintunya keras-keras. Gua hanya bisa mendengus kasar sambil menggelengkan kepala.
"Mmm.. Om.. Saya pamit dulu ya",
"Mohon maaf jadi buat Vera marah", ucap Gua sambil mengulurkan tangan kepada Beliau.
Papahnya Vera mengulurkan tangannya juga yang langsung Gua cium punggung tangannya itu, tapi Beliau segera melepaskannya dengan cepat.
"Nak...".
"Ya Om ?".
"Sepertinya kehadiran kamu diantara kami membuat hubungan orangtua dan anak jadi kurang baik", ucapnya dengan nada yang sangat dingin.
Gua sempat tertegun mendengar ucapannya itu. Gua berusaha setenang mungkin dalam situasi seperti ini. "Oh.. Ehm.. Mohon maaf Om, saya benar-benar tidak tau kalau ternyata kehadiran saya membuat Vera dan Om jadi...", ucapan Gua itu tidak Gua lanjutkan.
"Saya rasa kamu mengerti dan paham apa yang saya mau..", ucapnya.
Gua mengangguk menanggapi ucapannya itu lalu Gua pamit pulang. Baru sampai di ambang pintu rumahnya, Gua berhenti melangkah dan tangan kiri Gua memegang sisi kusen pintu rumahnya itu.
"Om..", ucap Gua sambil menengok ke belakang,
"Saya rasa, saya enggak akan mundur untuk mendapatkan restu anda", lanjut Gua sambil tersenyum.
Papahnya Vera hanya tersenyum sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.
...
Gua sudah berada di dalam mobil, dan terjebak di jalan protokol dengan hujan yang cukup deras di luar sana, ditambah kemacetan kendaraan roda empat lainnya yang membuat malam minggu ini benar-benar kelabu. Gua menarik rem tangan di tengah kemacetan ini, lalu membuka kaca jendela sedikit dan membakar sebatang rokok. Pikiran Gua hanya tertuju kepada seorang perempuan yang bernama Vera, yang baru saja Gua temui sekitar tiga puluh menit yang lalu di rumahnya.
Malam minggu ini, kami berencana untuk pergi menonton sebuah film layar lebar, memang hanya jalan biasa seperti layaknya muda-mudi lainnya yang sering jalan bersama pasangan mereka masing-masing. Dan Gua rasa semua itu tidak ada yang salah. Apa yang kami rencanakan pada akhirnya harus batal terjadi karena sikap Papahnya tadi.
Gua tidak ingin menyalahkan Papahnya dan Vera. Memang Gua nya saja yang belum bisa diterima oleh Papahnya untuk mengajak anak semata wayangnya itu pergi jalan-jalan. Padahal Vera sudah mengingatkan Gua untuk tidak meminta izin dan menemui Papahnya seperti tadi. Yap, Vera sebenarnya melarang Gua untuk menjemputnya di rumah, karena dia takut kalau sampai Gua diperlakukan tidak menyenangkan secara halus seperti waktu lalu.
Dan apa yang ditakutkan Vera terjadi juga hari ini. Gua memang tidak memberitahu Vera kalau Gua akan menjemputnya ke rumahnya setelah Gua pulang dari jakarta tadi sore. Jelaslah Vera kaget setelah melihat Gua sudah duduk bersama Papahnya di ruang tamu. Bukan tanpa alasan Gua senekat itu, Gua hanya ingin menunjukkan itikad baik kepada Papahnya, walaupun Gua tau beliau tidak menyukai Gua, tapi apakah tidak lebih buruk jika Gua selalu menutupi hubungan Gua dan Vera kalau sampai Papahnya tau Gua mengajak jalan anaknya diam-diam tanpa sepengetahuan beliau ?.
Laki-laki itu kan calon kepala keluarga, penuh tanggungjawab kepada setiap tindakannya. Sebelum Gua benar-benar menjadi kepala keluarga, Gua harus bisa menunjukkan kalau Gua ini punya tanggungjawab kepada orangtua Vera, lebih tepatnya Papahnya. Yaaa.. Gua berusaha mulai mencari cara lain lagi untuk bisa melunakkan hati Papahnya itu, karena restu beliau adalah jalan terbaik demi hubungan Gua dengan anaknya dan tentu saja Papahnya.
Gua bukan lagi anak SMA sekalipun usia Gua belum cukup matang untuk bersikap secara dewasa layaknya laki-laki yang memiliki segudang pengalaman dalam hidup. Tapi mulai dari sekarang lah Gua harus bisa membekali diri untuk lebih bertanggungjawab dalam satu hubungan, Gua sudah lelah untuk sekedar bermain-main seperti di masa SMA.
Dengan segala niat baik di dalam hati, Gua berharap Tuhan menunjukkan jalan yang terbaik untuk hubungan ini, agar ucapan Gua kepada Papahnya Nona Ukhti benar-benar bisa Gua tunjukkan dan mendapatkan restunya. Ya, semoga saja...
...
...
...
Suatu hari di bulan februari, satu minggu setelah kejadian itu Gua sedang berada di dalam kamar menonton tv ketika suara perempuan memanggil nama Gua disertai ucapan salam. Gua bangun dari kasur dan membuka pintu kamar.
"Walaikumsalam.. Eh Ve.. Darimana ?", tanya Gua sambil berjalan mendekatinya yang berdiri di jalan antara teras dengan halaman rumah.
"Aku baru pulang dari kost-an teman Za", jawabnya.
Lalu dia mencium tangan Gua ketika kami sudah saling berhadapan, kemudian Gua mengajaknya masuk dan duduk di sofa teras depan kamar seperti biasa. Gua masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan minum. Gua kembali ke teras dengan secangkir teh manis hangat untuk Nona Ukhti.
"Kamu kenapa akhir-akhir ini gak pernah bawa mobil Ve ?", tanya Gua sambil duduk di salah satu sofa.
"Enggak apa-apa Za", jawabnya,
"Mmm.. Kamu gak kemana-mana hari ini ? Gak ada acara ?", tanyanya.
Gua tau ini sudah kesekian kalinya Nona Ukhti mengalihkan pembicaraan setiap Gua menanyakan soal mobilnya.
"Enggak ada Ve.. Kenapa gitu ?", tanya Gua kali ini.
"Mmm.. Nonton yuk, kan minggu kemarin gak jadi.. Heheehee..".
"Ya udah, habis maghrib aja kalo gitu ya".
Nona Ukhti mengangguk cepat sambil menunjukkan ekspresi bahagia pada wajahnya.
Kemudian Gua memanggil Nenek, untuk sekedar memberitahukan kepada beliau kalau ada teman Gua, lalu akhirnya kami mengobrol bertiga di teras ini hingga suara adzan maghrib berkumandang. Nona Ukhti melakukan ibadah duluan di kamar Gua, sedangkan Gua beribadah di kamar depan bekas kamar orangtua Gua dulu.
Selesai ibadah maghrib, Gua pergi keluar sebentar, membelikan martabak telur untuk Nenek karena beliau hari ini tidak masak. Gua hanya berjalan kaki dengan payung sebagai penghalang hujan untuk berjalan ke depan komplek rumah. Selesai membeli sebungkus martabak, Gua kembali ke rumah dan melihat Nenek bersama Nona Ukhti yang kembali asyik mengobrol di depan teras kamar.
Singkat cerita Gua dan Nona Ukhti sudah berada di dalam mobil untuk menuju salah satu mall di kota kami yang memiliki studio bioskop. Lalu sesampainya di sana kami berdua langsung naik ke lantai empat dimana bioskop tersebut berada. Gua mengantri di loket pembelian tiket, sedangkan Nona Ukhti membeli makanan untuk camilan kami di dalam studio nanti.
Selesai mendapatkan dua tiket, dan membeli makanan ringan, Gua ajak Nona Ukhti duduk di dekat pintu studio seperti pengunjung lainnya, karena memang sofa tunggu untuk pengunjung sudah terisi penuh. Maklumlah, ini malam minggu.
"Ve... Kamu bilangnya kemana hari ini ke Papah ?", tanya Gua sambil menyesap minuman dingin.
"Aku bilang pergi sama teman kampus, hihihi...", jawabnya lalu mengambil popcorn dan memakannya.
Gua tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Ve... Aku gak mau kamu bohongin Papah kamu terus terusan karena pergi sama aku Ve..", ucap Gua lagi.
"Za.. Udah deh ya, kita udah sering bahas ini.. Cape aku", jawabnya kali ini dengan wajah yang malas.
Ya kami memang sudah sering membahas soal ini, soal hubungan kami yang sering pergi berdua tanpa izin Papahnya.
"Ya seenggaknya maksud aku kan kita bisa jujur soal hubungan kita Ve ke Papah kamu", ucap Gua lagi.
"Emang hubungan kita kayak gimana sih Za ?".
Gua paham betul apa yang dimaksud Nona Ukhti, bukan Gua tidak mau menyatakan perasaan kepadanya, tapi Gua cuma ingin kalau hubungan kami direstui oleh Papahnya, minimal sebagai teman dulu sebelum masuk ke tahap selanjutnya.
"Aku ngerti Ve, tapi kalo untuk jadi teman kamu aja aku sulit dapet izin Papah kamu, gimana kedepannya ?".
"Apa salahnya sih Za kalo kita backstreet dulu ?", tanyanya lagi kali ini dengan mata yang sayu, tapi Gua bisa melihat dari kedua bola matanya bahwa ada harapan, harapan untuk hubungan ini dan penantiannya.
"Ve.. Aku gak bisa kalo kita pacaran tapi keluarga kamu gak nerima aku, maksud aku Papah kamu, gimanapun dia orangtua kamu Ve, restu orangtua itu penting", jawab Gua,
"Dan aku gak mau kalo kita nanti backstreet sampai ketauan Papah kamu, pasti yang ada kamu bertengkar lagi", lanjut Gua.
Vera langsung menggelengkan kepalanya dengan wajah yang malas. "Terserah kamu deh Za, aku gak ngerti mau kamu tuh gimana sama hubungan ini", ucapnya sambil memalingkan mukanya kearah lain.
Gua menghela nafas pelan, lalu Gua tarik tangannya dan Gua letakkan ke dada ini. "Ve.. Aku sayang sama kamu, aku serius sama kamu.. Tapi aku gak mungkin macarin kamu tanpa izin Papah kamu Ve, kasih aku waktu..".
Nona Ukhti hanya menundukkan kepalanya tanpa mau menatap mata Gua.
Tidak lama kemudian suara penanda studio telah dibuka dan film akan segera di mulai pun terdengar nyaring. Gua ajak Nona Ukhti berdiri dan masuk ke dalam studio tersebut.
Kami duduk di bangku deretan atas bagian tengah. Sepanjang film diputar, tangan kami saling menggenggam, yang tidak lama kemudian Nona Ukhti menyandarkan kepalanya ke dada Gua.
Sekitar pukul setengah sembilan malam Gua dan Nona Ukhti sudah berada di depan rumahnya. Kami berdua masih di dalam mobil. "Ve.. Aku antar kamu sampai rumah ya, sampai depan pintu maksud ku".
"Jangan deh Za, kamu kayak gak tau Papah aja deh..", jawabnya sambil melepaskan seatbelt yang melingkar pada tubuhnya.
"Hmm.. Tapi aku gak enak udah ngajak anak tercantiknya pergi tanpa izin, masa pulangnya juga gak nemuin Papah kamu Ve".
"Nanti ya sayang.. Kalo kamu anter aku pulang siang aja, biar gak ngomel-ngomel Papahnya", jawab Vera lagi kali ini sambil menggenggam tangan kiri Gua.
"Ve.. Malah sebaliknya, kan kamu pulang malam, masa iya gak ada yg anterin, aku jamin gak apa-apa deh kali ini ya".
Pada akhirnya Vera mengalah walau dengan raut wajah yang tidak setuju kepada Gua. Kami berdua turun dari mobil lalu masuk ke halaman rumahnya. Sampai di depan pintu yang memang sudah terbuka, Papahnya berjalan menghampiri kami dari ruang tamu.
"Dari mana kamu Ve ? Jam segini baru pulang ?", tanya Papahnya sambil berjalan dan berdiri tepat di hadapan kami berdua.
"Tadi pulang kuliah ke kost-an teman kampus, terus nonton bareng mereka, pulangnya sekarang diantar Eza", jawab Vera setelah mencium tangan Papahnya.
Lalu Gua pun mencium tangan beliau sambil mengucapkan salam. "Assalamualaikum Om, maaf saya antar Vera nya terlalu malam", ucap Gua setelah mencium tangan beliau.
"Heum, walaikumsalam", jawabnya singkat sambil menatap Gua tajam,
"Masuk Ve", perintah Papahnya kepada anak tercantiknya itu.
Vera melirik kepada Gua yang langsung Gua jawab dengan anggukan kepala seraya tersenyum kepadanya. Lalu Vera pun masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan terimakasih kepada Gua.
Papahnya menggelengkan kepala menatap Gua yang tersenyum.
"Maaf Om, kalo saya salah sudah terlambat mengantarkan anak Om sampai semalam ini", ucap Gua.
"Kamu tau saya tidak suka Vera dekat dengan kamu ?", tanyanya.
Gua mengangguk sambil tersenyum lagi. "Saya tau Om, tapi saya sama Vera hanya teman, kami belum pacaran", jawab Gua.
Papahnya nampak sedikit terkejut dengan kening yang berkerut. "Kamu belum menjalin hubungan dengan Vera ?", tanyanya lagi.
"Belum Om, tapi seperti yang Om tau, kami sudah berteman dekat sejak SMA".
"Dan selama itu kamu belum memacari dia ?".
"Iya Om..".
"Kenapa ?".
"Karena saya tau, anda belum merestui hubungan kami...".
Cukup lama Papahnya terdiam, hingga membuat Gua menerka-nerka apa yang sedang Papahnya fikirkan. Sampai akhirnya Gua berprasangka negatif, mungkin seperti yang sudah-sudah, sebentar lagi akan ada kalimat pengusiran secara halus yang Gua dengar.
"Okey.. Lain kali kalo kamu mau pergi dengan anak saya, jemput dia di rumah dan pulangkan dia sebelum pukul sembilan malam", ucapnya setelah lama kami terdiam berdiri di teras rumahnya ini.
Kali ini Gua yang sedikit terkejut mendengar ucapan Papahnya itu. Apakah ini sebuah awal kalau Gua boleh mendekati anaknya secara terang-terangan ?.
"Kenapa diam ?", tanyanya mengagetkan Gua karena masih terdiam oleh ucapan yang sebelumnya.
"Oh.. Eeuu.. Maaf Om.. Iya iya.. Saya pasti izin kepada anda jika nanti kami pergi dan pulang sebelum pukul sembilan malam", jawab Gua pada akhirnya walaupun sedikit gugup.
"Bagus, sekarang sudah terlalu larut malam, kamu langsung pulang saja", ucapnya lagi.
Gua pun mengangguk seraya tersenyum dan mencium tangan beliau lagi. "Terimakasih Om, selamat malam, Assalamualaikum", ucap Gua setelah mencium tangannya dan pamit pulang.
Gua baru saja melangkahkan kaki sampai ujung teras untuk menuju gerbang rumahnya di depan sana ketika suara Papahnya kembali memanggil Gua.
"Reza".
Gua menengok ke belakang. "Ya Om ?".
"Jangan kecewakan saya".
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 
