- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#3263
PART 46
Throwback Stories
Awal januari 2007 adalah sebuah cerita dimana Gua bertemu lagi dengan seorang perempuan cantik yang memiliki hati lembut dengan sifatnya yang sedikit menggemaskan. Saat itu adalah hari ulang tahun Gua.
"Hai Zaaa", ucapnya.
"Hai.. Maaf ya lama nungguin aku", jawab Gua seraya melepaskan jaket sambil berjalan ke arah teras,
"Eh, Assalamualaikum hehehe", ucap Gua lupa mengucapkan salam.
"Walaikumsalam", balas Nenek bersama perempuan di sampingnya,
"Berangkat jam berapa dari Jakarta Za ?", tanya Nenek kali ini.
"Tadi jam 4 Nek", jawab Gua lalu mencium tangan Beliau.
"Teman mu nunggu daritadi tuh.. Nenek ke dalam dulu ya",
"Mari Nak", ucap Nenek kepada perempuan tadi.
"Oh iya Nek, makasih udah ditemanin", balasnya sambil tersenyum manis.
Gua duduk di salah satu sofa lalu menaruh tas di lantai. "Huufft.. Capeee", ucap Gua sambil menyandarkan punggung dan juga kepala.
Gua menatap langit-langit teras sambil memainkan kunci motor di jari tengah.
"Mau aku ambilkan minum ?", tawarnya.
Gua melirik kepadanya, lalu tertawa pelan. "Emangnya... Berani gitu masuk ke dalam rumah pas ada Nenek ?", tanya Gua menggodanya.
"Berani.. Orang tadi aku ambil minum sendiri disuruh Nenek.. Weee", jawabnya sambil memeletkan lidahnya lalu berdiri dan masuk ke dalam rumah.
Nona Ukhti masuk lewat pintu utama rumah, bukan lewat pintu kamar Gua. Lalu Gua pun berdiri dan mengambil tas dan membuka kunci pintu kamar. Gua masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian santai, Gua mengenakan celana pendek dengan kaos oblong berwarna hitam. Setelah itu Gua membasuh wajah untuk sekedar membersihkan debu, karena sudah berkendara dari Jakarta tadi bersama si RR. Beres bersih-bersih, Gua keluar kamar lewat pintu yang menghubungkan kamar Gua dengan ruang tamu, lalu Gua berjalan kearah dapur.
Nona Ukhti sedang memasak air panas di dapur untuk membuatkan Gua secangkir kopi hitam. Gua berjalan mendekatinya dari belakang, lalu pelan-pelan Gua isengin dia dengan mencolek bahu kanannya, lalu Gua bergeser ke kirinya.
"Dor!", ucap Gua mengagetkannya ketika dia menengok ke kanan tapi Gua sudah berada di kiri.
"Ah! Kamu tuh jail deh..", ucapnya sambil menepuk bahu Gua dengan wajah yang kesal.
"Hahaha.. Serius amat abisnya.. Cuma masak aer doang juga", balas Gua.
"Huu.. Ngeselin ah!", jawabnya lalu mengangkat ketel dan menuangkan air panas ke cangkir yang sudah berisi bubuk kopi dan gula.
Gua cubit pipinya. "Iiihh.. Sakiit tauu!", ucapnya sambil mengaduk kopi.
"Hehehe.. Gemesin sih",
"Udah kan ? Yu ke depan lagi", ajak Gua.
Lalu kami berdua pun kembali ke teras depan kamar Gua setelah sebelumnya Nona Ukhti mengambil air mineral dari dispenser dekat kamar Nenek.
"Nih kopinya.. Nih air mineralnya... Silahkan Tuaaan..", ledeknya sambil menaruh minuman diatas meja teras.
Gua tarik tangannya pelan lalu Nona Ukhti terduduk di samping Gua. Gua pegang tangan kanannya. "Makasiiiih Nyonyaaa..", balas Gua sambil melingkarkan tangan pada pinggangnya.
"Iih.. Ih.. Ih.. Hussh", ucapnya sambil menyentil-nyentil tangan Gua,
"Nakal ini tangan meluk-meluk niih".
"Gak kangen sama aku gitu ?".
"Enggak.. Weee".
Gua tertawa melihat tingkahnya yang menggemaskan itu. Ah Veeee.. Vee. I'm falling in love Ve.
...
Selepas shalat maghrib kami berdua pergi menggunakan si Black ke salah satu tempat makan di Cibubur dengan diiringi hujan yang cukup deras. Kami duduk di meja bagian tengah di dalam resto, begitu bagus set-up meja reservasi yang dia pesan. Tidak lama kemudian makanan pun datang dan disajikan di depan kami. Singkat cerita kami berdua telah menghabiskan makanan lalu sambil menyantap hidangan terakhir, dessert, kami sedikit mengobrol soal perkuliahannya yang sudah memasuki semester 2.
"Alhamdulilah lancar Za, cuma ya paling makin banyak aja tugas dari dosennya..", ucap Vera sambil menyendok puding.
"Semangat ya Ve", jawab Gua menanggapinya,
"Oh ya, dari sini mau langsung pulang ?", tanya Gua.
Vera mengunyah puding sambil menganggukkan kepalanya, Lalu setelah menelan makanannya dia tersenyum. "Tapi kamu gak mau ngajak aku kemana dulu gitu Za ?", tanyanya sambil menaruh puding.
Gua terkekeh pelan lalu Gua pun menaruh puding juga. "Ya udah, kita pergi sekarang ya, takut kemalaman nanti", jawab Gua.
...
Gua mengajaknya ke salah satu tempat ibadah yang baru saja dibangun satu tahun yang lalu. Gua kepikiran mengajaknya ke tempat itu karena kami memang belum melaksanakan ibadah shalat isya. Jadi ya sekalian beribadah. Gua mengetahui masjid itu saat melintas ketika hendak menjemput Echa di kampusnya sebelum tahun baru beberapa minggu lalu.
Singkat cerita Gua sudah mengendarai si Black lagi bersama Nona Ukhti yang duduk dengan manis di sebelah Gua. Sekitar pukul 8 malam lewat kami sampai di sana. Ternyata banyak juga pengunjung yang datang ke masjid ini, ada yang beribadah, ada yang memang sekedar melihat keindahan salah satu bagian masjid yang memang menjadi daya tariknya, adalah kubahnya yang dilapisi emas. Kami berdua turun dari mobil setelah Gua memarkirkan mobil dan masuk ke dalam masjid.
Selesai membasuh bagian tubuh untuk berwudhu, Gua pun melaksanakan shalat isya bersama Nona Ukhti yang tentunya di bagian berbeda. Selesai beribadah 4 raka'at. Kami berdua duduk di bagian luar masjid untuk sekedar menikmati malam yang dingin, apalagi hujan masih turun walaupun tidak begitu deras seperti saat berangkat tadi.
"Ve.. Aku foto ya", ucap Gua menawarkannya untuk berfoto.
"Heum ? Emang bawa kamera ?", tanyanya.
"Ada kok di mobil", lalu Gua pun bergegas ke mobil dan mengambil kamera.
Gua kembali dengan sebuah kamera pocket di tangan, dan sesi foto ala amatir pun kami lakukan, tentunya dengan latar belakang masjid itu. Beberapa foto Nona Ukhti sudah Gua abadikan, sampai akhirnya giliran Gua yang di foto olehnya. Dan terkahir kami berdua meminta tolong kepada pengunjung lain untuk mengabadikan foto kami berdua. Tidak lama kami di sini, karena malam semakin larut dan hujan juga sepertinya belum ingin berhenti membasahi bumi ini.
Pukul 9 malam lewat kami sudah dalam perjalanan pulang lagi ke rumah. Dalam perjalanan kami sempat mengobrol sedikit.
"Ve, kamu tadi ke rumah Nenek naik angkot ?", tanya Gua tanpa menoleh kepadanya karena menatap jalan raya di depan sana.
"Iya Za, aku naik angkot tadi sore dari rumah", jawabnya.
"Tumben Ve.. Kenapa gak bawa mobil ?", tanya Gua lagi kali ini sambil melirik sekilas kepadanya.
Vera hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Gua menangkap ada hal yang dia tutupi ketika dia tidak menjawab pertanyaan Gua itu, tapi Gua buru-buru membuang pikiran negatif dalam otak Gua.
Pukul 10 malam kurang Gua sudah menghentikan mobil tepat di depan rumahnya. Nona Ukhti melepaskan seatbeltnya lalu dia membuka tas nya dan mengeluarkan sebuah hadiah yang berbentuk persegi dengan kertas kado berwarna biru muda.
"Za, ini hadiah untuk kamu", ucapnya sambil memberikan kado tersebut.
Gua tersenyum kepada Nona Ukhti lalu menerima kado tersebut. "Makasih banyak untuk hari ini Ve, makasih untuk hadiahnya juga", ucap Gua.
Vera mengangguk sambil tersenyum lalu Gua menarik kepalanya pelan dan mengecup keningnya sesaat.
"Za..".
"Ya ?".
"Kamu gak usah anter aku masuk ya, ada Papah..".
...
Setelah Nona Ukhti turun dari mobil, dia pun bergegas masuk ke dalam rumah, barulah Gua kembali menjalankan mobil untuk pulang ke rumah, Gua sempat melihat mobilnya terparkir di halaman rumahnya itu.
...
...
...
Keesokan harinya Gua sedang berada di rumah keluarga Echa, hari ini Gua tidak pergi bersama Nona Ukhti karena hari minggu seperti ini sudah jadwalnya Nona Ukhti bersama Mamah tercinta.
"Za, aku malam kerumah kamu, tapi kata Nenek kamu pergi sama Vera", ucap Echa sambil duduk di atas kasur kamarnya.
"Iya dia nungguin aku dari sore di rumah.. Hehehe.. Maaf ya, jadi aku jalan sama dia sampai malem".
"Huh.. Putus dari Siska langsung ke Vera.. Yang disini gak di lirik sama sekali apa..", ucapnya lagi sambil tiduran tengkurap dengan wajahnya yang kesal.
Gua tertawa cukup keras mendengar ucapan Teteh tercinta itu. Kemudian Gua duduk di lantai kamarnya persis di sisi kasurnya dengan kedua tangan yang Gua taruh ke atas kasur tersebut.
"Diih ada yang cemburu niiih..", goda Gua sambil memainkan rambutnya.
"Tau ah! Sebel!".
Jiiir.. Ketawa lagi deh Gua mendengarnya makin kesal dan bete gitu. Hahaha.. Kamvreeeettt..
"Maaf deh, jangan marah dong".
Echa masih diam saja, sekarang dia malah memalingkan mukanya ke sisi lain. Gua usap-usap punggungnya. "Teh, jalan yuk..", ucap Gua lagi.
"Enggak mau!", jawabnya judes.
Gua bangun dan berpindah duduk dari lantai ke sisi kasurnya, Gua condongkan tubuh agar bisa membisikan sesuatu kepada Echa, tepat di telinga kirinya.
"Japanese food...", bisik Gua lembut.
Gua dan Echa sudah berada di salah satu resto japanese food kota kami, Echa mengambil beberapa menu makanan yang memang disajikan ala prasmanan, begitupun Gua mengambil beberapa makanan dan menaruhnya ke piring makan di atas nampan. Beres mengambil makanan, kami pun duduk di salah satu meja dan mulai menyantap menu kami masing-masing.
Singkat cerita kami sudah menghabiskan makanan. Echa menaruh kedua tangannya di atas meja, lalu menatap Gua lekat-lekat. "Za.. Kamu deket sama Vera sekarang ?", tanyanya.
Gua menaruh sumpit di atas mangkuk nasi, lalu mengambil satu tissu dan mengelapkannya ke mulut ini. "Ya.. Gitu Teh", jawab Gua tanpa menatapnya balik sambil mengangkat segelas teh hijau lalu meneguknya.
"Kok bisa ?".
Gua kembali menaruh gelas, dan kali ini Gua menatap matanya balik. "Ya kita emang cukup deket Teh, tapi gak sering ketemu.. Ehm.. Bahkan saat aku pacaran sama Siska kemarin dia gak tau", jawab Gua jujur.
Echa mendengus pelan lalu menggelengkan kepalanya. "Yakin ?", tanyanya penuh penekanan.
"Apanya ?".
"Kamu ngerti maksud aku Za".
Gua menggaruk daun telingan bagian belakang lalu menatap ke meja di depan ini.
"Semoga Teh..", jawab Gua yang terdengar ragu.
Setelah selesai mengajak Echa makan dan kami berdua kini sudah kembali ke rumahnya. Gua berada di ruang tamunya, secangkir kopi hitam sudah tersaji di atas meja ruang tamunya untuk Gua, lalu sebatang rokok sudah terselip diantara jemari tangan kiri. Echa sedang berada di kamarnya ketika Gua masih asyik menikmati setiap hisapan racun tersebut. Tidak lama kemudian suara pintu kamar atas terbuka. Gua buru-buru berlari ke luar rumah sampai di terasnya, lalu melempar rokok tersebut ke taman yang basah karena guyuran air hujan.
Tidak lama kemudian suara langkah kaki yang mengenakan sandal terdengar dari arah belakang. Gua belum menengok kebelakang, mulut Gua masih meniup-niup nafas agar bau rokok hilang. Padahal itu kan percuma, mau makan permen sekalipun tetep aja bau rokok pasti masih melekat.
Bahu Gua dicolek dari belakang, barulah Gua menengok dan melihat Echa sedang tersenyum dengan kedua tangan yang memegang kotak kado cukup besar. Gua cukup terkejut melihatnya yang membawa kado itu, lalu senyuman pun mengembang dari bibir ini.
"Selamat ulang tahun Eza",
"Semoga menjadi pribadi yang lebih baik lagi ya, selalu di lindungi dalam setiap langkah oleh ALLAH SWT dan diberikan kebahagiaan..", ucapnya.
"Aamiin.. Aamiin. Aamiin.. Makasih banyak ya Teh atas do'a nya",
"Duh repot-repot segala pake kasih kado hehehe", timpal Gua.
"Iyalah, emang Vera aja yang boleh kasih kamu jam tangan..", kali ini matanya melirik ke pergelangan tangam kiri Gua dengan bibirnya yang manyun.
"Loch ? Tau dari mana Vera kasih aku kado jam tangan ?".
"Itu kan baru aku liat, lagian kamu mana pernah pakai model analog gitu, malah baru punya kan ?", tebaknya.
Gua tersenyum salah tingkah mendengar tebakkannya yang tepat sasaran itu. Duh Teteh Gua emang suka merhatiin Gua diem-diem nih. Sampai hafal dari sekian banyak jam yang Gua punya baru ini yang modelnya analog.
...
...
...
Beberapa hari setelahnya Gua berada di apartemen Kinan, setelah kami pulang dari kampus selesai menjalani kuliah tentunya. Sehabis maghrib dan beribadah, Gua sedang mengikuti petunjuk Kinan untuk memasak. Yap, tiba-tiba saja hari ini kami berdua ingin memasak sendiri dan tidak ingin membeli makanan di luar. Saat itu kami hanya memasak makanan sederhana, ayam goreng saus tiram dan sop ayam jamur.
Beberapa bahan sayuran dan daging sudah di potong oleh Kinan, lalu Gua menyiapkan bumbunya, mengikuti arahannya ketika memasukkan bahan-bahan tersebut ke wajan dan mulai memasaknya. Lumayan ilmu baru dari Tante sendiri untuk Gua praktekan suatu hari nanti. Setelah menyicipi sedikit masakan tersebut dan dirasa sudah cukup pas rasanya, Gua pun memindahkannya ke piring dan Kinan membawanya ke ruang tv yang sekaligus ruang tamu apartemennya, di situ terletak sebuah meja kayu ukuran kecil, dan Kinan menaruhnya di atas meja tersebut. Kemudian Gua mengambil nasi dari rice cooker mini lalu menaruhnya keatas dua piring makan.
Sekarang kami berdua sudah siap menyantap makanan masakan ala chef Eza, hehehe...
Nikmat rasanya menyantap makanan sendiri, apalagi sampai disanjung oleh perempuan manis di samping Gua. Ya walaupun sebenarnya dia sih yang memberikan resep dan cara memasaknya, tapi seenggaknya kan Gua yang meracik dan menggoreng masakan ini dengan tangan sendiri.
"Kak, nanti kasih resep yang laen ya..", ucap Gua setelah menelan makanan dalam mulut.
"Mau masak apalagi nanti ?", tanyanya.
"Ya yang kayak gini-gini aja, main course lah.. Menu sapi atau sayuran laen..", jawab Gua.
"Boleh, nanti kita beli bahan-bahannya lagi ya, tapi jangan di supermarket ah".
"Loch kenapa ?".
"Mahal, mending di pasar tradisional aja, jauh beda harganya..".
Gua mengangguk cepat seraya mengunyah lagi nasi dan ayam saus tiram di dalam mulut ini.
Ya, Kinan, Tante Gua yang satu ini adalah salah satu mentor Gua dalam memasak makanan. Rasanya banyak yang sudah dia ajarkan dalam memasak beberapa menu hingga Gua bisa benar-benar meracik masakan tesebut sendiri.
.
.
.
.
.
.
Semakin hari Gua semakin dekat dengan sosok perempuan yang kini selalu mengenakan hijab, memang sih sebenarnya sudah cukup lama Gua ketahui kalau Vera mengenakan hijab dari awal puasa 2006 lalu. Tapi kedekatan kami sempat renggang ketika Gua berpacaran dengan Mba Siska beberapa waktu lalu, bukan berarti dia mengetahui hubungan Gua dengan Mba Siska, tapi mungkin karena waktu dan jarak yang memisahkan kami lah yang membuat kami jarang bertemu.
Dan kini, semuanya akan berbeda bagi Gua dan dirinya. Sekalipun jarak menjadi penghalang untuk saling bertemu, tapi rasanya bukan hal yang sulit bagi Gua mendekati Vera, karena status Gua yang sekarang tidak memiliki pacar dan bebas untuk dekat dengan siapa saja membuat Gua yakin bahwa pilihan kali ini tidaklah salah. Semoga...
Vera pada akhirnya tau kalau Gua tinggal bersama Kinan di ibu kota. Bukan apa-apa, Gua hanya ingin jujur kepada Vera, apalagi dirinya kan sudah tau kalau sekarang Kinan adalah adik dari Ibu baru Gua. Awalnya tetap saja dia berprasangka negatif dan cemburu. Namun setelah Gua ajak Vera main ke apartemen Kinan dan bertemu dengan Tante Gua itu, dia baru mengerti, bahwa Gua dan Kinan benar-benar tidak ada hubungan apapun selain menjadi keluarga baru.
Tidak mudah bagi Gua untuk mengungkapkan perasaan kepada Vera. Ada banyak pertimbangan yang Gua pikirkan, dan salah satunya adalah restu dari Papahnya yang sulit Gua dapatkan. Sampai beberapa minggu kami dekat dan jalan bersama, Gua belum berani mengungkapkan perasaan Gua.
Selama Gua berpacaran dengan beberapa perempuan, Gua selalu memposisikan diri sebagai laki-laki yang bertanggungjawab dihadapan orangtua mereka. Bukan berarti Gua ingin mencari muka atau menjilat, kasarnya. Tapi Gua ingin menunjukkan bahwa anak mereka di luar sana sering berpergian dengan seorang laki-laki yang bertanggungjawab sebagai pacarnya.
Sebenarnya mendapatkan hati Vera itu tidak sulit, Gua bisa langsung menyatakan perasaan dan dengan keyakinan 99% pasti dia menerima Gua, tapi itu jika Gua berani backstreet. Masalahnya kan Gua gak mau seperti itu, Gua ingin menunjukkan bahwa ini loch Pak, saya pacarnya anak Bapak.
Hmmm... Njelimet kalau udah urusannya restu orangtua. Pusing tujuh keliling mendengar harapan Papahnya yang berharap anaknya mendapatkan pendamping sepadan dengan keluarganya itu. Apalah daya Gua yang cuma anak kuliahan semester awal harus dibandingkan dengan anak seorang konglomerat.
Dindingnya begitu kokoh dan tebal, Gua hancurkan dengan apa yang Gua punya pun rasanya belum bisa membuat retakkan pada dinding tersebut.
Beberapa hari Gua habiskan memikirkan untuk menyatakan perasaan ini kepada sosok Nona Ukhti, tapi setiap Gua sudah menemukan cara yang pas dan tempat yang romantis untuk menyatakan perasaan, lagi-lagi angan-angan Gua itu ditampar oleh bayangan Papahnya. Okelah, mungkin ini mudah bagi beberapa orang yang dengan santainya tidak ambil pusing karena merasa masih tahap remaja. Betul sih, enggak salah. Tapi lain halnya dengan sifat dan prilaku Gua yang mudah emosi dan meledak jika menghadapi masalah yang menyangkut keluarga, sudah banyak kejadian buruk yang Gua lalui karena masalah tersebut. Dan sosok Vera adalah salah satu yang bisa meredam emosi Gua, terlepas dari Echa tentunya.
Kenapa Gua tidak memilih Echa sedari awal saja ? Gais.. It's all about feelings, Is it really possible to tell someone else what one feels ?.
Awal januari 2007 adalah sebuah cerita dimana Gua bertemu lagi dengan seorang perempuan cantik yang memiliki hati lembut dengan sifatnya yang sedikit menggemaskan. Saat itu adalah hari ulang tahun Gua.
"Hai Zaaa", ucapnya.
"Hai.. Maaf ya lama nungguin aku", jawab Gua seraya melepaskan jaket sambil berjalan ke arah teras,
"Eh, Assalamualaikum hehehe", ucap Gua lupa mengucapkan salam.
"Walaikumsalam", balas Nenek bersama perempuan di sampingnya,
"Berangkat jam berapa dari Jakarta Za ?", tanya Nenek kali ini.
"Tadi jam 4 Nek", jawab Gua lalu mencium tangan Beliau.
"Teman mu nunggu daritadi tuh.. Nenek ke dalam dulu ya",
"Mari Nak", ucap Nenek kepada perempuan tadi.
"Oh iya Nek, makasih udah ditemanin", balasnya sambil tersenyum manis.
Gua duduk di salah satu sofa lalu menaruh tas di lantai. "Huufft.. Capeee", ucap Gua sambil menyandarkan punggung dan juga kepala.
Gua menatap langit-langit teras sambil memainkan kunci motor di jari tengah.
"Mau aku ambilkan minum ?", tawarnya.
Gua melirik kepadanya, lalu tertawa pelan. "Emangnya... Berani gitu masuk ke dalam rumah pas ada Nenek ?", tanya Gua menggodanya.
"Berani.. Orang tadi aku ambil minum sendiri disuruh Nenek.. Weee", jawabnya sambil memeletkan lidahnya lalu berdiri dan masuk ke dalam rumah.
Nona Ukhti masuk lewat pintu utama rumah, bukan lewat pintu kamar Gua. Lalu Gua pun berdiri dan mengambil tas dan membuka kunci pintu kamar. Gua masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian santai, Gua mengenakan celana pendek dengan kaos oblong berwarna hitam. Setelah itu Gua membasuh wajah untuk sekedar membersihkan debu, karena sudah berkendara dari Jakarta tadi bersama si RR. Beres bersih-bersih, Gua keluar kamar lewat pintu yang menghubungkan kamar Gua dengan ruang tamu, lalu Gua berjalan kearah dapur.
Nona Ukhti sedang memasak air panas di dapur untuk membuatkan Gua secangkir kopi hitam. Gua berjalan mendekatinya dari belakang, lalu pelan-pelan Gua isengin dia dengan mencolek bahu kanannya, lalu Gua bergeser ke kirinya.
"Dor!", ucap Gua mengagetkannya ketika dia menengok ke kanan tapi Gua sudah berada di kiri.
"Ah! Kamu tuh jail deh..", ucapnya sambil menepuk bahu Gua dengan wajah yang kesal.
"Hahaha.. Serius amat abisnya.. Cuma masak aer doang juga", balas Gua.
"Huu.. Ngeselin ah!", jawabnya lalu mengangkat ketel dan menuangkan air panas ke cangkir yang sudah berisi bubuk kopi dan gula.
Gua cubit pipinya. "Iiihh.. Sakiit tauu!", ucapnya sambil mengaduk kopi.
"Hehehe.. Gemesin sih",
"Udah kan ? Yu ke depan lagi", ajak Gua.
Lalu kami berdua pun kembali ke teras depan kamar Gua setelah sebelumnya Nona Ukhti mengambil air mineral dari dispenser dekat kamar Nenek.
"Nih kopinya.. Nih air mineralnya... Silahkan Tuaaan..", ledeknya sambil menaruh minuman diatas meja teras.
Gua tarik tangannya pelan lalu Nona Ukhti terduduk di samping Gua. Gua pegang tangan kanannya. "Makasiiiih Nyonyaaa..", balas Gua sambil melingkarkan tangan pada pinggangnya.
"Iih.. Ih.. Ih.. Hussh", ucapnya sambil menyentil-nyentil tangan Gua,
"Nakal ini tangan meluk-meluk niih".
"Gak kangen sama aku gitu ?".
"Enggak.. Weee".
Gua tertawa melihat tingkahnya yang menggemaskan itu. Ah Veeee.. Vee. I'm falling in love Ve.
...
Selepas shalat maghrib kami berdua pergi menggunakan si Black ke salah satu tempat makan di Cibubur dengan diiringi hujan yang cukup deras. Kami duduk di meja bagian tengah di dalam resto, begitu bagus set-up meja reservasi yang dia pesan. Tidak lama kemudian makanan pun datang dan disajikan di depan kami. Singkat cerita kami berdua telah menghabiskan makanan lalu sambil menyantap hidangan terakhir, dessert, kami sedikit mengobrol soal perkuliahannya yang sudah memasuki semester 2.
"Alhamdulilah lancar Za, cuma ya paling makin banyak aja tugas dari dosennya..", ucap Vera sambil menyendok puding.
"Semangat ya Ve", jawab Gua menanggapinya,
"Oh ya, dari sini mau langsung pulang ?", tanya Gua.
Vera mengunyah puding sambil menganggukkan kepalanya, Lalu setelah menelan makanannya dia tersenyum. "Tapi kamu gak mau ngajak aku kemana dulu gitu Za ?", tanyanya sambil menaruh puding.
Gua terkekeh pelan lalu Gua pun menaruh puding juga. "Ya udah, kita pergi sekarang ya, takut kemalaman nanti", jawab Gua.
...
Gua mengajaknya ke salah satu tempat ibadah yang baru saja dibangun satu tahun yang lalu. Gua kepikiran mengajaknya ke tempat itu karena kami memang belum melaksanakan ibadah shalat isya. Jadi ya sekalian beribadah. Gua mengetahui masjid itu saat melintas ketika hendak menjemput Echa di kampusnya sebelum tahun baru beberapa minggu lalu.
Singkat cerita Gua sudah mengendarai si Black lagi bersama Nona Ukhti yang duduk dengan manis di sebelah Gua. Sekitar pukul 8 malam lewat kami sampai di sana. Ternyata banyak juga pengunjung yang datang ke masjid ini, ada yang beribadah, ada yang memang sekedar melihat keindahan salah satu bagian masjid yang memang menjadi daya tariknya, adalah kubahnya yang dilapisi emas. Kami berdua turun dari mobil setelah Gua memarkirkan mobil dan masuk ke dalam masjid.
Selesai membasuh bagian tubuh untuk berwudhu, Gua pun melaksanakan shalat isya bersama Nona Ukhti yang tentunya di bagian berbeda. Selesai beribadah 4 raka'at. Kami berdua duduk di bagian luar masjid untuk sekedar menikmati malam yang dingin, apalagi hujan masih turun walaupun tidak begitu deras seperti saat berangkat tadi.
"Ve.. Aku foto ya", ucap Gua menawarkannya untuk berfoto.
"Heum ? Emang bawa kamera ?", tanyanya.
"Ada kok di mobil", lalu Gua pun bergegas ke mobil dan mengambil kamera.
Gua kembali dengan sebuah kamera pocket di tangan, dan sesi foto ala amatir pun kami lakukan, tentunya dengan latar belakang masjid itu. Beberapa foto Nona Ukhti sudah Gua abadikan, sampai akhirnya giliran Gua yang di foto olehnya. Dan terkahir kami berdua meminta tolong kepada pengunjung lain untuk mengabadikan foto kami berdua. Tidak lama kami di sini, karena malam semakin larut dan hujan juga sepertinya belum ingin berhenti membasahi bumi ini.
Pukul 9 malam lewat kami sudah dalam perjalanan pulang lagi ke rumah. Dalam perjalanan kami sempat mengobrol sedikit.
"Ve, kamu tadi ke rumah Nenek naik angkot ?", tanya Gua tanpa menoleh kepadanya karena menatap jalan raya di depan sana.
"Iya Za, aku naik angkot tadi sore dari rumah", jawabnya.
"Tumben Ve.. Kenapa gak bawa mobil ?", tanya Gua lagi kali ini sambil melirik sekilas kepadanya.
Vera hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Gua menangkap ada hal yang dia tutupi ketika dia tidak menjawab pertanyaan Gua itu, tapi Gua buru-buru membuang pikiran negatif dalam otak Gua.
Pukul 10 malam kurang Gua sudah menghentikan mobil tepat di depan rumahnya. Nona Ukhti melepaskan seatbeltnya lalu dia membuka tas nya dan mengeluarkan sebuah hadiah yang berbentuk persegi dengan kertas kado berwarna biru muda.
"Za, ini hadiah untuk kamu", ucapnya sambil memberikan kado tersebut.
Gua tersenyum kepada Nona Ukhti lalu menerima kado tersebut. "Makasih banyak untuk hari ini Ve, makasih untuk hadiahnya juga", ucap Gua.
Vera mengangguk sambil tersenyum lalu Gua menarik kepalanya pelan dan mengecup keningnya sesaat.
"Za..".
"Ya ?".
"Kamu gak usah anter aku masuk ya, ada Papah..".
...
Setelah Nona Ukhti turun dari mobil, dia pun bergegas masuk ke dalam rumah, barulah Gua kembali menjalankan mobil untuk pulang ke rumah, Gua sempat melihat mobilnya terparkir di halaman rumahnya itu.
...
...
...
Keesokan harinya Gua sedang berada di rumah keluarga Echa, hari ini Gua tidak pergi bersama Nona Ukhti karena hari minggu seperti ini sudah jadwalnya Nona Ukhti bersama Mamah tercinta.
"Za, aku malam kerumah kamu, tapi kata Nenek kamu pergi sama Vera", ucap Echa sambil duduk di atas kasur kamarnya.
"Iya dia nungguin aku dari sore di rumah.. Hehehe.. Maaf ya, jadi aku jalan sama dia sampai malem".
"Huh.. Putus dari Siska langsung ke Vera.. Yang disini gak di lirik sama sekali apa..", ucapnya lagi sambil tiduran tengkurap dengan wajahnya yang kesal.
Gua tertawa cukup keras mendengar ucapan Teteh tercinta itu. Kemudian Gua duduk di lantai kamarnya persis di sisi kasurnya dengan kedua tangan yang Gua taruh ke atas kasur tersebut.
"Diih ada yang cemburu niiih..", goda Gua sambil memainkan rambutnya.
"Tau ah! Sebel!".
Jiiir.. Ketawa lagi deh Gua mendengarnya makin kesal dan bete gitu. Hahaha.. Kamvreeeettt..

"Maaf deh, jangan marah dong".
Echa masih diam saja, sekarang dia malah memalingkan mukanya ke sisi lain. Gua usap-usap punggungnya. "Teh, jalan yuk..", ucap Gua lagi.
"Enggak mau!", jawabnya judes.
Gua bangun dan berpindah duduk dari lantai ke sisi kasurnya, Gua condongkan tubuh agar bisa membisikan sesuatu kepada Echa, tepat di telinga kirinya.
"Japanese food...", bisik Gua lembut.
Gua dan Echa sudah berada di salah satu resto japanese food kota kami, Echa mengambil beberapa menu makanan yang memang disajikan ala prasmanan, begitupun Gua mengambil beberapa makanan dan menaruhnya ke piring makan di atas nampan. Beres mengambil makanan, kami pun duduk di salah satu meja dan mulai menyantap menu kami masing-masing.
Singkat cerita kami sudah menghabiskan makanan. Echa menaruh kedua tangannya di atas meja, lalu menatap Gua lekat-lekat. "Za.. Kamu deket sama Vera sekarang ?", tanyanya.
Gua menaruh sumpit di atas mangkuk nasi, lalu mengambil satu tissu dan mengelapkannya ke mulut ini. "Ya.. Gitu Teh", jawab Gua tanpa menatapnya balik sambil mengangkat segelas teh hijau lalu meneguknya.
"Kok bisa ?".
Gua kembali menaruh gelas, dan kali ini Gua menatap matanya balik. "Ya kita emang cukup deket Teh, tapi gak sering ketemu.. Ehm.. Bahkan saat aku pacaran sama Siska kemarin dia gak tau", jawab Gua jujur.
Echa mendengus pelan lalu menggelengkan kepalanya. "Yakin ?", tanyanya penuh penekanan.
"Apanya ?".
"Kamu ngerti maksud aku Za".
Gua menggaruk daun telingan bagian belakang lalu menatap ke meja di depan ini.
"Semoga Teh..", jawab Gua yang terdengar ragu.
Setelah selesai mengajak Echa makan dan kami berdua kini sudah kembali ke rumahnya. Gua berada di ruang tamunya, secangkir kopi hitam sudah tersaji di atas meja ruang tamunya untuk Gua, lalu sebatang rokok sudah terselip diantara jemari tangan kiri. Echa sedang berada di kamarnya ketika Gua masih asyik menikmati setiap hisapan racun tersebut. Tidak lama kemudian suara pintu kamar atas terbuka. Gua buru-buru berlari ke luar rumah sampai di terasnya, lalu melempar rokok tersebut ke taman yang basah karena guyuran air hujan.
Tidak lama kemudian suara langkah kaki yang mengenakan sandal terdengar dari arah belakang. Gua belum menengok kebelakang, mulut Gua masih meniup-niup nafas agar bau rokok hilang. Padahal itu kan percuma, mau makan permen sekalipun tetep aja bau rokok pasti masih melekat.
Bahu Gua dicolek dari belakang, barulah Gua menengok dan melihat Echa sedang tersenyum dengan kedua tangan yang memegang kotak kado cukup besar. Gua cukup terkejut melihatnya yang membawa kado itu, lalu senyuman pun mengembang dari bibir ini.
"Selamat ulang tahun Eza",
"Semoga menjadi pribadi yang lebih baik lagi ya, selalu di lindungi dalam setiap langkah oleh ALLAH SWT dan diberikan kebahagiaan..", ucapnya.
"Aamiin.. Aamiin. Aamiin.. Makasih banyak ya Teh atas do'a nya",
"Duh repot-repot segala pake kasih kado hehehe", timpal Gua.
"Iyalah, emang Vera aja yang boleh kasih kamu jam tangan..", kali ini matanya melirik ke pergelangan tangam kiri Gua dengan bibirnya yang manyun.
"Loch ? Tau dari mana Vera kasih aku kado jam tangan ?".
"Itu kan baru aku liat, lagian kamu mana pernah pakai model analog gitu, malah baru punya kan ?", tebaknya.
Gua tersenyum salah tingkah mendengar tebakkannya yang tepat sasaran itu. Duh Teteh Gua emang suka merhatiin Gua diem-diem nih. Sampai hafal dari sekian banyak jam yang Gua punya baru ini yang modelnya analog.
...
...
...
Beberapa hari setelahnya Gua berada di apartemen Kinan, setelah kami pulang dari kampus selesai menjalani kuliah tentunya. Sehabis maghrib dan beribadah, Gua sedang mengikuti petunjuk Kinan untuk memasak. Yap, tiba-tiba saja hari ini kami berdua ingin memasak sendiri dan tidak ingin membeli makanan di luar. Saat itu kami hanya memasak makanan sederhana, ayam goreng saus tiram dan sop ayam jamur.
Beberapa bahan sayuran dan daging sudah di potong oleh Kinan, lalu Gua menyiapkan bumbunya, mengikuti arahannya ketika memasukkan bahan-bahan tersebut ke wajan dan mulai memasaknya. Lumayan ilmu baru dari Tante sendiri untuk Gua praktekan suatu hari nanti. Setelah menyicipi sedikit masakan tersebut dan dirasa sudah cukup pas rasanya, Gua pun memindahkannya ke piring dan Kinan membawanya ke ruang tv yang sekaligus ruang tamu apartemennya, di situ terletak sebuah meja kayu ukuran kecil, dan Kinan menaruhnya di atas meja tersebut. Kemudian Gua mengambil nasi dari rice cooker mini lalu menaruhnya keatas dua piring makan.
Sekarang kami berdua sudah siap menyantap makanan masakan ala chef Eza, hehehe...
Nikmat rasanya menyantap makanan sendiri, apalagi sampai disanjung oleh perempuan manis di samping Gua. Ya walaupun sebenarnya dia sih yang memberikan resep dan cara memasaknya, tapi seenggaknya kan Gua yang meracik dan menggoreng masakan ini dengan tangan sendiri.
"Kak, nanti kasih resep yang laen ya..", ucap Gua setelah menelan makanan dalam mulut.
"Mau masak apalagi nanti ?", tanyanya.
"Ya yang kayak gini-gini aja, main course lah.. Menu sapi atau sayuran laen..", jawab Gua.
"Boleh, nanti kita beli bahan-bahannya lagi ya, tapi jangan di supermarket ah".
"Loch kenapa ?".
"Mahal, mending di pasar tradisional aja, jauh beda harganya..".
Gua mengangguk cepat seraya mengunyah lagi nasi dan ayam saus tiram di dalam mulut ini.
Ya, Kinan, Tante Gua yang satu ini adalah salah satu mentor Gua dalam memasak makanan. Rasanya banyak yang sudah dia ajarkan dalam memasak beberapa menu hingga Gua bisa benar-benar meracik masakan tesebut sendiri.
.
.
.
.
.
.
Semakin hari Gua semakin dekat dengan sosok perempuan yang kini selalu mengenakan hijab, memang sih sebenarnya sudah cukup lama Gua ketahui kalau Vera mengenakan hijab dari awal puasa 2006 lalu. Tapi kedekatan kami sempat renggang ketika Gua berpacaran dengan Mba Siska beberapa waktu lalu, bukan berarti dia mengetahui hubungan Gua dengan Mba Siska, tapi mungkin karena waktu dan jarak yang memisahkan kami lah yang membuat kami jarang bertemu.
Dan kini, semuanya akan berbeda bagi Gua dan dirinya. Sekalipun jarak menjadi penghalang untuk saling bertemu, tapi rasanya bukan hal yang sulit bagi Gua mendekati Vera, karena status Gua yang sekarang tidak memiliki pacar dan bebas untuk dekat dengan siapa saja membuat Gua yakin bahwa pilihan kali ini tidaklah salah. Semoga...
Vera pada akhirnya tau kalau Gua tinggal bersama Kinan di ibu kota. Bukan apa-apa, Gua hanya ingin jujur kepada Vera, apalagi dirinya kan sudah tau kalau sekarang Kinan adalah adik dari Ibu baru Gua. Awalnya tetap saja dia berprasangka negatif dan cemburu. Namun setelah Gua ajak Vera main ke apartemen Kinan dan bertemu dengan Tante Gua itu, dia baru mengerti, bahwa Gua dan Kinan benar-benar tidak ada hubungan apapun selain menjadi keluarga baru.
Tidak mudah bagi Gua untuk mengungkapkan perasaan kepada Vera. Ada banyak pertimbangan yang Gua pikirkan, dan salah satunya adalah restu dari Papahnya yang sulit Gua dapatkan. Sampai beberapa minggu kami dekat dan jalan bersama, Gua belum berani mengungkapkan perasaan Gua.
Selama Gua berpacaran dengan beberapa perempuan, Gua selalu memposisikan diri sebagai laki-laki yang bertanggungjawab dihadapan orangtua mereka. Bukan berarti Gua ingin mencari muka atau menjilat, kasarnya. Tapi Gua ingin menunjukkan bahwa anak mereka di luar sana sering berpergian dengan seorang laki-laki yang bertanggungjawab sebagai pacarnya.
Sebenarnya mendapatkan hati Vera itu tidak sulit, Gua bisa langsung menyatakan perasaan dan dengan keyakinan 99% pasti dia menerima Gua, tapi itu jika Gua berani backstreet. Masalahnya kan Gua gak mau seperti itu, Gua ingin menunjukkan bahwa ini loch Pak, saya pacarnya anak Bapak.
Hmmm... Njelimet kalau udah urusannya restu orangtua. Pusing tujuh keliling mendengar harapan Papahnya yang berharap anaknya mendapatkan pendamping sepadan dengan keluarganya itu. Apalah daya Gua yang cuma anak kuliahan semester awal harus dibandingkan dengan anak seorang konglomerat.
Dindingnya begitu kokoh dan tebal, Gua hancurkan dengan apa yang Gua punya pun rasanya belum bisa membuat retakkan pada dinding tersebut.
Beberapa hari Gua habiskan memikirkan untuk menyatakan perasaan ini kepada sosok Nona Ukhti, tapi setiap Gua sudah menemukan cara yang pas dan tempat yang romantis untuk menyatakan perasaan, lagi-lagi angan-angan Gua itu ditampar oleh bayangan Papahnya. Okelah, mungkin ini mudah bagi beberapa orang yang dengan santainya tidak ambil pusing karena merasa masih tahap remaja. Betul sih, enggak salah. Tapi lain halnya dengan sifat dan prilaku Gua yang mudah emosi dan meledak jika menghadapi masalah yang menyangkut keluarga, sudah banyak kejadian buruk yang Gua lalui karena masalah tersebut. Dan sosok Vera adalah salah satu yang bisa meredam emosi Gua, terlepas dari Echa tentunya.
Kenapa Gua tidak memilih Echa sedari awal saja ? Gais.. It's all about feelings, Is it really possible to tell someone else what one feels ?.
The saddest thing about falling in love is that sooner or later something will go wrong.
~ Anonymous
Diubah oleh glitch.7 10-05-2017 18:23
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 
