My First Time
Quote:
“adeeeeeeekk!!!!”, teriak kak Suci Cumiakan telinga
“kangen banget gua sama lu”, katanya sambil mencubit pipiku
Aku hanya pasrah.
“gimana kabar lu selama gua tinggal?”, katanya
Akupun melirik Wina
“eh iya maaf-maaf Win, suka kelepasan deh gua, abis ngebet banget ketemu ni bocah”, kata kak Suci sambil mengacak rambutku
“ga apa-apa ko, Teo kan emang ngangenin orangnya”, katanya melirikku
“mulai deh”, kataku
“piss yang”, katanya
“sama siapa lu ke sini kak?”, kataku
“sendiri lah”, katanya
“lu ga ngelatih?”, lanjutnya
“kaga”, kataku
“kenapa?”, katanya
“aku mau pindah kak, jadi ni momen sebelum pindah”, kata Wina
“yang bener Win? Lu mau pindah kemana?”, kata kak Suci
“ngikutin kerjaan papah kak”, kata Wina
“terus kalian gimana?”, kata kak Suci
Aku hanya mengangkat bahu.
“Win?”, tanya kak Suci
“ga tau kak, aku mau nikmatin sekarang dulu, nanti di obrolin lagi”, kata Wina
“lu ga apa-apa dek?”, kata kak Suci
“kenapa emang?”, kataku
“Wina kan pindah”, katanya
“ga tau kak, gua sih ga terima tapi mau gimana kan kalo itu udah keputusan ortunya. Buat LDR gua ga pernah kepikiran deh”, kataku
“sabar ya dek”, katanya mengelus kepalaku
“sono gih kak, ngelatih”, kataku
“iya deh yang mau beduaan. Dasar”, katanya menoyor kepalaku
Kak Suci pun pergi meninggalkan kami.
“yang kamu ga mau LDR an?”, tanya Wina
“ga tau yang, aku bukannya ga mau tapi kayanya ga bisa. Tau sendiri kamu ga masuk aja kaya gimana”, kataku
“sama sih aku juga, tapi masa gantung yang”, katanya
“ga tau lah Win”, kataku
“bt ya?”, katanya
“ga, kenapa?”, kataku
“kamu tuh kalo udah manggil “Win” ke aku pasti bt yang”, katanya
“ga tau lah”, kataku bersandar di pohon
“mmmhhh”, Wina mengelus pipiku
Akupun memejamkan mata, terbayang semua yang sudah aku lalui bersama Wina. Ku buka mata dan ku lihat Wina melihatku, dia pun tersenyum.
“kamu mau makan?”, kata Wina
Akupun menggelengkan kepala
“mau apa?”, katanya
“kamu”, kataku
Wina pun mengelus kepalaku.
“udah ya sayang, aku ga mau sedih-sedih sama kamu”, kata Wina
Tanpa sadar mencium kening Wina, dia pun ikut bersandar di pohon dan memegang erat tanganku, tanpa kata-kata tapi ada suatu yang membuat kami tahu apa yang sedang dirasakan. Latihan pun selesai, semua kelas 1, 2 dan 3 medekati kami yang sedang di DPR.
“ada apa rame-rame?”, kataku
“perpisahan sama kak Wina”, kata seseorang
“aku tinggal ya yang, kamu sama mereka dulu”, kataku sambil menjauhi mereka.
Akupun duduk di bawah ring basket.
“ga ikutan dek?”, kata kak Suci yang sudah duduk di sampingku
“ga”, kataku
“gua tau lu sedih dek”, katanya
“hmmm”, kataku
“jadinya kalian LDR an?”, katanya
“ga, mungkin pisah”, kataku
“ko gitu? Yakin?”, kata kak Suci
“ga tau, tapi gua ga bisa kalo LDR an, lu tau gua kak”, kataku
“iya sih, ya keputusan ada di kalian lah ya”, katanya
“lu ada acara apa kesini?”, kataku
“gua kan udah bilang kangen sama lu”, katanya
“seriusan”, kataku
“iya dek, beberapa hari ini gua kangen banget pengen ketemu sama lu”, katanya sambil melihatku
“percaya deh percaya”, kataku
“ye dibilangin ya, lu tuh tetep ga berubah ngeselinnya”, katanya sambil mengacak rambutku
Akupun tidak mencoba melawannya, aku juga kangen kak Suci, dia sudah benar-benar ku anggap kakak sendiri. Dia mencubit pipiku, dia mengacak-ngacak wajahku.
“tumben lu diem aja dek?”, katanya
“gua juga kangen sama lu kak, Cuma kan gua mah apa atuh”, kataku
“lu kan tau gua sekolah dimana dek, ya dateng lah”, katanya
“pake baju SMP? Ogah gua yang ada di bully”, kataku
Ya ganti lah”, katanya
“males, repot”, kataku
“terserah lu lah dek”, katanya kesal
“katanya kangen gua malah marah-marah”, kataku meledek
“abisnya lu itu nyebelin banget deeeeeeekkk!!”, diapun mencibut kedua pipiku
“seru nih”, kata Wina menghampiri kami
“eh Win, nih cowo lu ngeselin”, kata kak Suci
“pipi kamu merah-merah yang”, kata Wina
“aku di bully sama anak yang baru SMA yang”, rengekku
“ngadu, bisanya ngadu”, ledek kak Suci
“bodo”, kataku bersembunyi di belakang Wina
Kak Suci pun mengejar ku dan Wina mencoba melindungiku. Ya, hari yang menyenangkan untuk di ingat. Karena menyerah kak Suci pun meninggalkan kami. Lalu aku dan Wina ke sekre mengambil tas dan berjalan ke gerbang.
“hei, anak muda”, kata kak Suci sambil mengendarai motor
“Teo, mau bareng gak?”, lanjutnya
“ga ah”, kataku
“bener nih? Jarang-jarang loh gua nawarin”, katanya
“bener, udah sono ganggu aja lu”, kataku
Lalu dia memasang standar motornya dan membisikan sesuatu kepada kami.
“apaan sih lu, ngaco dah”, kataku
“tau nih kak Suci ngaco aja”, lanjut Wina
“yaudah gua balik ya, jaga diri lu dek, inget jangan macem-macem. Gua kan dah ga bsa jagain lu lagi sekarang”, katanya
“udah sana balik”, kataku
Lalu kak Suci pun memacu motornya dan meninggalkan kami.
“yang”, kata Wina
“apa?”, kataku
“kayanya kita pisah ya”, kata Wina
Akupun memegang erat tangannya
“aku juga mikir gitu, walaupun berat yang”, kataku
“tapi sebelum pisah aku mau ngasih hadiah buat kamu, kita ke rumah aku ya”, katanya
Kamipun ke rumah Wina, di sana dia sudah menyiapkan beberapa kado dan di berikan kepadaku, ada jaket, tas dll.
“makasih yang”, kataku
Wina pun mendorongku pelan sampai aku terduduk di sofa.
“aku masih ada satu hadiah lagi buat kamu”, kata Wina memegang bibirku
“tapi yang...”, kataku
“ga ada tapi-tapi, kamu boleh bilang aku cewe bodoh, bego tau apalah yang setelah ini, tapi aku mau kamu yang pertama buat aku. Aku udah mikirin ini yang. Please”, katanya
Logikaku benar-benar tidak bisa di pakai waktu itu, aku tidak bisa, lebih tepatnya tidak mau menolaknya. Stimulus terus diberikan oleh Wina yang membuatku memberikan stimulus yang sama padanya. Sampai akhirnya.
“kamu yakin?”, kataku
“iya yang, yakin. Pelan-pelan ya”, katanya
Ini pengalaman pertamaku, dan tak semudah yang terlihat. Wina pun menuntunnya sampai kamipun menyatu dalam suatu hal yang seharusnya tidak kami lakukan saat itu.