- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#3193
PART 45
Terkadang ada hal yang tidak bisa diungkapkan lewat kalimat yang jelas dan masuk akal, tapi ada juga hal yang bisa diungkapkan lewat kalimat sekalipun kita sulit menerimanya, hanya bisa mencoba memahami dan berusaha menerima segala alasan-alasan tersebut agar semuanya kembali seperti sediakala...
...
Hampir jam 6 sore Gua masih berada di resto sunda ini. Tapi tidak lagi bersama Mba Siska, melainkan Echa.
"Kamu terima gitu aja alasannya ?", tanya Echa setelah mendengar keputusan Mba Siska dari cerita Gua.
"Ya aku gak bisa memaksa Teh", jawab Gua seraya kembali membakar sebatang rokok.
"Kenapa kamu gak berusaha untuk yakinin dia kalo kamu bisa berubah Za ?", tanya Echa lagi kali ini sambil menyantap pisang cokelat pesanannya.
Bukan hal yang biasa ketika Echa sedang makan sesuatu dia mau berbicara seperti sekarang. Tapi mungkin saat ini, apa yang jadi pembahasan kami terlalu sulit untuk dia tahan dalam hati jika harus menunggu menghabiskan pisang bakar cokelat tersebut.
"Udah Teh, aku udah bilang mau berubah, tapi dia..",
"Huufttt...", Gua menghela napas dengan kasar sambil mendongakkan kepala,
"Dia malah ungkit kejadian yang lalu", jawab Gua.
"Maksud kamu ?", tanyanya setelah mengunyah makanan,
"Kejadian yang mana ?".
"Dia bahas soal keributan di rumah Nenek waktu aku ribut sama keluarga Nindi", jawab Gua lagi.
"Loch ? Kok dia bisa tau ? Bukannya waktu itu dia gak ada ? Maksud ku dia belum pindah dinas ke sini kan ?".
"Iya, memang dia waktu itu masih di Jawa Tengah..",
"Tapi dia pasti denger dari tetangga, ah bukan, pasti Bapaknya cerita Teh, belum lagi Rekti, Dewa dan yang lainnya", jawab Gua.
"Jadi..", kali ini Echa menaruh garpu ke piring makan,
"Alasan dia gak bisa lanjutin hubungan kalian karena emosi kamu ?".
Gua mengangguk lemah. Lalu menghisap rokok dalam-dalam. "Gitulah.. Dia terlalu takut untuk ngejalanin ini semua sama aku Teh", lanjut Gua seraya menghembuskan asap rokok kebawah.
"Aku gak bisa ikut campur soal hubungan kalian Za, aku gak mau sampai Siska nganggap aku kasih masukkan yang salah sama kamu, lagi pula ini keputusan dia, seenggaknya kamu udah berusaha jelasin kan ?".
"Ya..".
Satu hal yang membuat Mba Siska memilih mengakhiri hubungan kami adalah emosi Gua yang membuat Gua selalu lepas kendali jika menghadapi masalah. Dia menganggap kalau dirinya tidak akan bisa menjadi peredam emosi Gua selama ini. Dia sempat mengungkit keributan antara keluarga Gua dengan keluarga Nindi di rumah Nenek beberapa tahun yang lalu. Dan kejadian di rumah Dewa satu minggu yang lalu adalah puncaknya. Dia menyerah, dia tidak bisa menerima keadaan Gua ini, tidak bisa menerima kekurangan yang ada dalam diri Gua. Dan disinilah akhir hubungan kami.
...
Beberapa hari setelahnya Gua masih berkomunikasi dengan baik lewat sms ke Mba Siska, kami memang belum pernah bertemu lagi sejak terakhir kali dia memutuskan hubungan kami di resto sunda, tapi Gua berusaha untuk menjaga hubungan baik, menjaga silaturahmi dengannya agar tidak ada kesalahpahaman atau jangan sampai kami berdua menjadi musuh.
Sudah hampir dua minggu lamanya Gua tinggal bersama Kinanti di apartemennya, dan Gua juga sudah mulai masuk kuliah lagi. Entah kenapa Gua enggan untuk kembali ke kost-an. Echa selalu memberikan kabar tentang Nenek yang cemas menanyakan keberadaan Gua, tapi Gua sudah bilang kepada Echa, kalau Gua baik-baik saja di Jakarta bersama adiknya Mba Laras, dan Echa pun menyampaikan pesan tersebut kepada Nenek.
Masalah lain muncul ketika Echa marah karena Gua memilih tinggal bersama Kinan di apartemen ini. Echa tidak lagi menanyakan Gua walaupun hanya sekedar sms atau telpon. Gua pun mencoba memahaminya, jadi ya maaf untuk hal satu ini. Gua biarkan Echa sementara waktu.
Beberapa minggu sudah berlalu hingga malam tahun baru sudah di depan mata. Gua menerima telpon saat itu dari Om Gua yang memberitahukan kalau Gua tidak akan dipaksa lagi untuk masuk pesantren, lega rasanya. Gua menceritakan semuanya lagi kepada Kinan yang langsung disambutnya dengan rasa senang juga. Gua sempat ingin kembali ke kost-an tapi Kinan melarang Gua, dia bilang gak ada salahnya kalau Gua tinggal bersamanya untuk sementara waktu, hitung-hitung menemani Tante katanya, hahahaha. Gua berasa brondong Gais.
Dengan segala apa yang sudah terjadi beberapa waktu ini, Gua berpikir ulang untuk menjalani hidup. Maksud Gua, sepertinya Gua tidak bisa menganggap remeh pergaulan di Jakarta ini. Gua yang berasal dari kota sebelah dengan pergaulan biasa saja sudah memiliki prilaku dan emosi yang buruk, apalagi jika ditambah pergaulan yang bebas, bisa lebih gila nanti. Untuk menghindari hal-hal yang bisa memicu emosi, Gua menjalani semuanya apa adanya. Gua mulai mawas diri, Gua lebih mendekatkan diri kepada sang pemilik alam semesta ini.
Orang mungkin beranggapan Gua dan Kinan seperti sepasang kekasih yang memiliki pergaulan bebas, anggapan mereka bisa saja melihat kami berdua layaknya sepasang suami-istri yang belum menikah, melewati batas yang ada dan di luar norma yang berlaku. Tapi Gua tidak ambil pusing soal itu, toh tetangga apartemen Kinan juga biasa saja, dan Gua cukup kenal beberapa orang tetangganya. Teman kampus ? Hmmm.. Lisa sempat sih berpikir yang enggak-enggak soal ini, tapi sepertinya Lisa tidak mau ambil pusing lagi setelah Gua ceritakan alasannya. Dan Gua bilang juga sama dia kalau jangan sampai ada yang tau perihal pindahnya Gua dari kost-an miliknya kepada anak-anak kost lain.
Dan hanya ini lah yang bisa Gua ceritakan kepada Bianca.
...
Hampir jam 6 sore Gua masih berada di resto sunda ini. Tapi tidak lagi bersama Mba Siska, melainkan Echa.
"Kamu terima gitu aja alasannya ?", tanya Echa setelah mendengar keputusan Mba Siska dari cerita Gua.
"Ya aku gak bisa memaksa Teh", jawab Gua seraya kembali membakar sebatang rokok.
"Kenapa kamu gak berusaha untuk yakinin dia kalo kamu bisa berubah Za ?", tanya Echa lagi kali ini sambil menyantap pisang cokelat pesanannya.
Bukan hal yang biasa ketika Echa sedang makan sesuatu dia mau berbicara seperti sekarang. Tapi mungkin saat ini, apa yang jadi pembahasan kami terlalu sulit untuk dia tahan dalam hati jika harus menunggu menghabiskan pisang bakar cokelat tersebut.
"Udah Teh, aku udah bilang mau berubah, tapi dia..",
"Huufttt...", Gua menghela napas dengan kasar sambil mendongakkan kepala,
"Dia malah ungkit kejadian yang lalu", jawab Gua.
"Maksud kamu ?", tanyanya setelah mengunyah makanan,
"Kejadian yang mana ?".
"Dia bahas soal keributan di rumah Nenek waktu aku ribut sama keluarga Nindi", jawab Gua lagi.
"Loch ? Kok dia bisa tau ? Bukannya waktu itu dia gak ada ? Maksud ku dia belum pindah dinas ke sini kan ?".
"Iya, memang dia waktu itu masih di Jawa Tengah..",
"Tapi dia pasti denger dari tetangga, ah bukan, pasti Bapaknya cerita Teh, belum lagi Rekti, Dewa dan yang lainnya", jawab Gua.
"Jadi..", kali ini Echa menaruh garpu ke piring makan,
"Alasan dia gak bisa lanjutin hubungan kalian karena emosi kamu ?".
Gua mengangguk lemah. Lalu menghisap rokok dalam-dalam. "Gitulah.. Dia terlalu takut untuk ngejalanin ini semua sama aku Teh", lanjut Gua seraya menghembuskan asap rokok kebawah.
"Aku gak bisa ikut campur soal hubungan kalian Za, aku gak mau sampai Siska nganggap aku kasih masukkan yang salah sama kamu, lagi pula ini keputusan dia, seenggaknya kamu udah berusaha jelasin kan ?".
"Ya..".
Satu hal yang membuat Mba Siska memilih mengakhiri hubungan kami adalah emosi Gua yang membuat Gua selalu lepas kendali jika menghadapi masalah. Dia menganggap kalau dirinya tidak akan bisa menjadi peredam emosi Gua selama ini. Dia sempat mengungkit keributan antara keluarga Gua dengan keluarga Nindi di rumah Nenek beberapa tahun yang lalu. Dan kejadian di rumah Dewa satu minggu yang lalu adalah puncaknya. Dia menyerah, dia tidak bisa menerima keadaan Gua ini, tidak bisa menerima kekurangan yang ada dalam diri Gua. Dan disinilah akhir hubungan kami.
...
Beberapa hari setelahnya Gua masih berkomunikasi dengan baik lewat sms ke Mba Siska, kami memang belum pernah bertemu lagi sejak terakhir kali dia memutuskan hubungan kami di resto sunda, tapi Gua berusaha untuk menjaga hubungan baik, menjaga silaturahmi dengannya agar tidak ada kesalahpahaman atau jangan sampai kami berdua menjadi musuh.
Sudah hampir dua minggu lamanya Gua tinggal bersama Kinanti di apartemennya, dan Gua juga sudah mulai masuk kuliah lagi. Entah kenapa Gua enggan untuk kembali ke kost-an. Echa selalu memberikan kabar tentang Nenek yang cemas menanyakan keberadaan Gua, tapi Gua sudah bilang kepada Echa, kalau Gua baik-baik saja di Jakarta bersama adiknya Mba Laras, dan Echa pun menyampaikan pesan tersebut kepada Nenek.
Masalah lain muncul ketika Echa marah karena Gua memilih tinggal bersama Kinan di apartemen ini. Echa tidak lagi menanyakan Gua walaupun hanya sekedar sms atau telpon. Gua pun mencoba memahaminya, jadi ya maaf untuk hal satu ini. Gua biarkan Echa sementara waktu.
Beberapa minggu sudah berlalu hingga malam tahun baru sudah di depan mata. Gua menerima telpon saat itu dari Om Gua yang memberitahukan kalau Gua tidak akan dipaksa lagi untuk masuk pesantren, lega rasanya. Gua menceritakan semuanya lagi kepada Kinan yang langsung disambutnya dengan rasa senang juga. Gua sempat ingin kembali ke kost-an tapi Kinan melarang Gua, dia bilang gak ada salahnya kalau Gua tinggal bersamanya untuk sementara waktu, hitung-hitung menemani Tante katanya, hahahaha. Gua berasa brondong Gais.
Dengan segala apa yang sudah terjadi beberapa waktu ini, Gua berpikir ulang untuk menjalani hidup. Maksud Gua, sepertinya Gua tidak bisa menganggap remeh pergaulan di Jakarta ini. Gua yang berasal dari kota sebelah dengan pergaulan biasa saja sudah memiliki prilaku dan emosi yang buruk, apalagi jika ditambah pergaulan yang bebas, bisa lebih gila nanti. Untuk menghindari hal-hal yang bisa memicu emosi, Gua menjalani semuanya apa adanya. Gua mulai mawas diri, Gua lebih mendekatkan diri kepada sang pemilik alam semesta ini.
Orang mungkin beranggapan Gua dan Kinan seperti sepasang kekasih yang memiliki pergaulan bebas, anggapan mereka bisa saja melihat kami berdua layaknya sepasang suami-istri yang belum menikah, melewati batas yang ada dan di luar norma yang berlaku. Tapi Gua tidak ambil pusing soal itu, toh tetangga apartemen Kinan juga biasa saja, dan Gua cukup kenal beberapa orang tetangganya. Teman kampus ? Hmmm.. Lisa sempat sih berpikir yang enggak-enggak soal ini, tapi sepertinya Lisa tidak mau ambil pusing lagi setelah Gua ceritakan alasannya. Dan Gua bilang juga sama dia kalau jangan sampai ada yang tau perihal pindahnya Gua dari kost-an miliknya kepada anak-anak kost lain.
Dan hanya ini lah yang bisa Gua ceritakan kepada Bianca.
***
Kembali saat Gua, Kinan dan Bianca berada di kost-annya.
Bianca menggelengkan kepalanya sambil menatap Gua setelah mendengar semua yang terjadi antara Gua dengan Mba Siska. Dia mengambil bungkus rokok miliknya di meja lalu membakar sebatang rokok menthol dan kembali duduk dihadapan Gua dan Kinan.
"Okey, Gue paham sekarang soal putusnya hubungan Lo sama Siska..", ucapnya seraya menghembuskan asap rokoknya,
"Nah yang Gue pertanyakan... Ehm..",
"Sorry ya Za, ini cuma asumsi Gue aja.. Apa... Mmm.. Apa Lo sama Echa itu..", ucapnya ragu-ragu.
Gua terkekeh pelan menunggunya menanyakan hal yang sudah bosan Gua jawab kepada teman lainnya, yang menanyakan hal yang sama seperti Bianca. Ya Gua tau apa yang ingin dia tanyakan.
"Gua hamilin Echa gitu ?", tembak Gua sambil tersenyum kepada Bianca.
"Eh.. Euu.. Ya.. Ya gitu bukan ? Hehe.. Maaf loch kalo salah", jawabnya.
"Santai aja Ka', Lu orang ke sekian yang ngira pernikahan Gua dan Echa karena hal itu.. Tapi sayangnya prasangka semua orang salah.. Gua sama Echa gak pernah bersetubuh loch sampai kami udah nikah sekarang", ucap Gua.
"Loch ? Kok ? Kan udah sah ?".
"Hmmm.. Saat Gua akad kemarin, Bokap Gua meninggal Ka', tepat di hari Gua menikahi Echa.. Beliau meninggal karena serangan jantung jam 4 subuh".
Bianca terbelalak dan satu tangannya menutupi mulutnya, tidak lama kemudian matanya berkaca-kaca dan airmatanya pun turun membasahi pipinya.
"Ya ampun Za..",
"Gue.. Gue enggak percaya sebenernya..",
"Di saat hari bahagia Lo, di saat itu juga Lo berduka karena kehilangan Bokap.. Ya ampun Zaa.. Gue gak bisa bayangin perasaan yang ada di dalam hati Lo saat itu..", ucap Bianca sambil menangis.
Kinan mengambilkan tissu dari tasnya lalu memberikannya kepada Bianca. Lalu Bianca pun mengusap pipi dan matanya yang sudah basah.
"Ka', alasan Gua menikahi Echa..", ucap Gua sambil memainkan bungkus rokok di lantai kamar kost-an,
"Gua lihat sosok Echa lah satu-satunya wanita yang bisa meredam emosi Gua Ka'..", lanjut Gua.
"Za..", panggil Kinan dari samping Gua.
Gua menengok kepada Kinan lalu tersenyum dan menggelengkan kepala pelan.
"Lo gak jujur sama Gue soal alasan pernikahan Lo ?!", tembak Bianca kali ini setelah melihat Gua dan Kinan barusan.
"Gua jujur, sumpah..",
"Tapi alasan lainnya Gua gak bisa cerita ke Lu Ka'.. Maaf ya.. Gak semua hal bisa Gua ceritakan sama Lu, tapi seenggaknya alasan Gua tadi adalah hal yang jujur dan benar kok", jawab Gua.
"Ya... Oke Za, Gue gak mungkin maksa Lo juga kan..", ucapnya sambil tersenyum kali ini,
"Sekarang...",
"Gue cuma bisa mendo'a kan Lo supaya bisa jadi suami yang bertanggungjawab buat istri Lo dan kalian bahagia sampai ajal menjemput yaa..", ucapnya lagi kali ini berdiri dari duduk dengan kedua tangannya yang direntangkan.
Gua tersenyum lebar menatap Bianca, lalu Gua berdiri dan menyambut pelukannya. Gua rasakan usapan tangannya yang lembut pada punggung Gua. "Makasih ya Ka', makasih atas do'a nya, semoga Lu juga bisa bahagia dengan kehidupan Lu ya..", ucap Gua dalam pelukkannya.
"Makasih Za, semoga ya...",
"Salam untuk istri Lo", ucapnya seraya melepaskan pelukkannya.
Gua menatap matanya lekat-lekat lalu menyibakkan rambut yang menghalangi wajahnya.
"Ka', Gua harap Lu menemukan pasangan yang terbaik ya... Mmm... Siapapun dia Ka', yang jelas bisa buat hidup Lu bahagia".
"Hahahah.. Eza jahat iiih", tawanya sambil menepuk dada Gua.
"Kok jahat sih ?", tanya Gua.
"Gue paham maksud Lo kaliii",
"Siapapun dia itu maksud Lo cowok atau cewek kan, hayo ngakuu ?", tanyanya sambil tersenyum lebar.
Gua tertawa ternyata Bianca menyadari maksud kalimat yang Gua ucapkan. "Hehehe.. Yaa.. Gitulah hahaha.. Sorry loch Ka'.. Hehehe".
"Za..".
"Heum ?".
"Gue udah putus dari Eshter..", jawabnya pelan.
"Loch ? Serius ? Kok bisa ?", tanya Gua cukup terkejut.
"Iya.. Sekarang Gue.. Gue pacaran sama kamar sebelah.. Hehehe...", jawabnya malu-malu kali ini.
"Sebelah ? Mba Ina ?", tebak Gua menyebutkan nama seorang perempuan yang tinggal di kamar no. 4.
"Yeee.. Enak aja! Bukanlah dodol!", jawabnya seraya menepuk kepala Gua pelan.
"Hahaha... Terus siapa dong ?".
"Mas Berry..", jawabnya sambil tersenyum lebar.
Yap, pada akhirnya inilah salah satu teman satu kost-an Gua, Bianca yang Gua kenal belum sampai setahun ternyata memiliki kelainan seksual dan setelah apa yang dia coba kepada Gua beberapa bulan lalu bisa merubah orientasinya. Gua senang mendengarnya kembali normal seperti layaknya perempuan pada umumnya. Gua berharap dia bersama pengacara muda yang bernama Berry bisa langgeng sampai menikah. Semoga yang terbaik untuk kalian berdua.
Gua dan Kinan pun pamit kepada Bianca. Tidak lupa Gua mengingatkannya untuk hadir di acara resepsi pernikahan Gua dan Echa nanti yang langsung dibalasnya dengan anggukan kepala.
Kinan berjalan duluan ke area parkiran mobil. Gua baru beberapa langkah dari depan pintu kost-an Bianca. Lalu Bianca memanggil...
"Za..".
Gua berbalik badan, melihatnya yang tersenyum di ambang pintu kamarnya. Tidak lama kemudian dia berlari dan langsung memeluk Gua.
"Makasih.. Makasih banyak atas semuanya", ucapnya lirih dengan wajah yang bersandar ke dada ini.
"Ka'.. Gua gak banyak bantu apa-apa, toh niat dari dalam hati Lu yang ngerubah semuanya kan..", balas Gua sambil mengelus punggungnya.
"Makasih ya Za..".
...
Gua dan Kinan berada di dalam mobil menuju kampus lagi, untuk mengambil mobil Gua yang terparkir disana. Dalam perjalanan ke kampus, Kinan yang mengemudikan mobil.
"Za..".
"Ya ?", jawab Gua sambil membalas sms untuk istri Gua.
"Kamu kenapa gak cerita alasan kenapa nikahin Echa ke Bianca ?", tanya Kinan.
Gua hentikan jemari Gua yang masih mengetik sms untuk sang istri, lalu tersenyum kepada Kinan.
"Gak semuanya perlu tau cerita yang satu itu Ka", jawab Gua.
Kinan mengerti maksud Gua. Dia tersenyum dan menengok kepada Gua sesaat. "Terus.. Mmm.. Kamu gak undang 'dia',ke acara nikahan kamu nanti ?".
"Aku gak tau sekarang dia dimana..",
"Aku udah nanya ke sepupunya tapi jawabannya sama, gak ada yang tau dia dimana..", jawab Gua sambil mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.
Seorang perempuan yang sempat ingin Gua miliki. Sekarang entah kamu ada dimana. Kenapa dengan kejadian itu kamu harus pergi dari aku.
.
.
.
.
.
.
Masih beberapa hari sebelum acara resepsi Gua dan Echa diselenggarakan. Saat itu Gua masih ingat dengan jelas, kami berdua baru pulang dari rumah Echa. Sekitar pukul 3 sore Gua duduk di sofa depan teras kamar, sedangkan Echa baru saja masuk ke dalam kamar Gua untuk mengganti pakaian. Gua membakar sebatang rokok sambil menyandarkan punggung ke bahu sofa ketika sebuah mobil sedan berwarna hitam masuk ke halaman rumah Nenek dan berhenti tepat di depan teras.
Seorang perempuan turun dari pintu kemudi lalu disusul perempuan lainnya dari pintu penumpang di depan. Mereka berdua berjalan kearah teras sambil tersenyum.
Gua berdiri dan menyambut kedatangan mereka.
"Assalamualaikum Za", salam salah satu perempuan itu.
"Walaikumsalam Kak..", jawab Gua,
"Ayo masuk Kak..",
"Wah ini makin cantik aja ya udah lama gak ketemu", ucap Gua kepada perempuan satunya yang berada di belakang.
"Hihihi.. Udah abg gini, makin cantiklah", jawabnya lalu mencium tangan Gua.
Mereka berdua duduk di sofa teras yang panjang, Gua duduk di sofa yang membelakangi kamar Gua.
"Dari rumah Kak ?", tanya Gua.
"Iya, waktu aku sms kamu itu baru mau berangkat",
"Oh iya, gak ganggu kan ?".
"Enggak lah, santai aja, aku juga baru pulang dari rumah mertua nih", jawab Gua.
"Oh ya, istri kamu mana ? Gak ikut kesini ?", tanyanya lagi.
"Ada, lagi ganti pakaian mungkin",
"Chaaaa...", teriak Gua dari teras,
"Ada Kak Nindi sama Dian nih..", lanjut Gua.
"Heh! Asal kamu manggil istri sendiri pake teriak-teriak gitu", sergah Nindi sambil melotot kepada Gua.
"Hahaha.. Males bangunnya ah, lagian pasti kedengaran ini hehehe".
Tidak lama kemudian pintu kamar Gua terbuka, lalu istri Gua pun keluar kamar dan menghampiri Nindi dan Dian, biasalah cipika-cipiki mereka sambil saling menanyakan kabar masing-masing.
"Gimana Kak, macet ya di jalan ?", tanya Echa sambil duduk di samping Gua.
"Enggak juga, cuma malah keluar tol aja baru macet pas arah kesini", jawab Nindi.
"Kalo weekend emang gitu, rame kendaraan yang maen ke tempat wisata...", timpal Gua.
"Oh ya mau teh atau sirup Kak ? Dian ?", tawar Echa sambil bangkit dari duduknya.
"Aku teh manis anget aja Cha", jawab Nindi.
"Aku sirup dingin deh Kak", jawab Dian sambil tersenyum lebar.
"Yaudah bentar ya..", ucap Echa seraya masuk ke dalam kamar lagi.
"Za, Nenek kemana ?", tanya Nindi sambil melepaskan cardigansnya.
"Oh Nenek lagi di Bandung, lagi di rumah Om, nanti dua hari sebelum resepsi mereka kesini", jawab Gua.
"Ooh.. Tapi Beliau sehatkan ?".
"Alhamdulilah Sehat Kak, oh ya kabar Papah mu gimana ?", tanya Gua balik.
"Alhamdulilah sehat juga",
"Za..".
"Heum ?".
"Aku mau nagih janji kamu", ucap Nindi sambil menyandarkan kedua tangannya diatas pahanya.
"Janji apa ?", tanya Gua mengingat-ingat pernah berjanji apa kepada Kakak tiri Gua itu.
"Lupa kan..",
"Waktu kamu akad nikah kemarin kan kamu janji mau cerita di lain hari", ucapnya.
"Cerita ? Soal apa ?",
"Ooh.. Ya ya ya... Aku inget hahaha... Sorry sorry", Gua pun akhirnya mengingat janji tersebut.
Tidak lama berselang, Echa kembali dari dalam rumah dengan nampan yang diatasnya berisi dua gelas minuman untuk Kakak dan adik tiri Gua. Lalu Echa duduk di samping Gua. Gua menoleh kepada istri Gua dan membelai rambutnya hingga ke pundaknya.
"Cha..", panggil Gua.
"Ya ?".
"Aku mau ceritain kenapa aku harus sampai nikahin kamu ke Kak Nindi sama Dian", ucap Gua.
Istri Gua tersenyum lalu mengangguk, dan kami berdua menengok kepada Nindi yang tidak sabar mendengarkan cerita dari kami. Cerita yang membuat Gua kehilangan seseorang dan nyaris membuat gila.
Bianca menggelengkan kepalanya sambil menatap Gua setelah mendengar semua yang terjadi antara Gua dengan Mba Siska. Dia mengambil bungkus rokok miliknya di meja lalu membakar sebatang rokok menthol dan kembali duduk dihadapan Gua dan Kinan.
"Okey, Gue paham sekarang soal putusnya hubungan Lo sama Siska..", ucapnya seraya menghembuskan asap rokoknya,
"Nah yang Gue pertanyakan... Ehm..",
"Sorry ya Za, ini cuma asumsi Gue aja.. Apa... Mmm.. Apa Lo sama Echa itu..", ucapnya ragu-ragu.
Gua terkekeh pelan menunggunya menanyakan hal yang sudah bosan Gua jawab kepada teman lainnya, yang menanyakan hal yang sama seperti Bianca. Ya Gua tau apa yang ingin dia tanyakan.
"Gua hamilin Echa gitu ?", tembak Gua sambil tersenyum kepada Bianca.
"Eh.. Euu.. Ya.. Ya gitu bukan ? Hehe.. Maaf loch kalo salah", jawabnya.
"Santai aja Ka', Lu orang ke sekian yang ngira pernikahan Gua dan Echa karena hal itu.. Tapi sayangnya prasangka semua orang salah.. Gua sama Echa gak pernah bersetubuh loch sampai kami udah nikah sekarang", ucap Gua.
"Loch ? Kok ? Kan udah sah ?".
"Hmmm.. Saat Gua akad kemarin, Bokap Gua meninggal Ka', tepat di hari Gua menikahi Echa.. Beliau meninggal karena serangan jantung jam 4 subuh".
Bianca terbelalak dan satu tangannya menutupi mulutnya, tidak lama kemudian matanya berkaca-kaca dan airmatanya pun turun membasahi pipinya.
"Ya ampun Za..",
"Gue.. Gue enggak percaya sebenernya..",
"Di saat hari bahagia Lo, di saat itu juga Lo berduka karena kehilangan Bokap.. Ya ampun Zaa.. Gue gak bisa bayangin perasaan yang ada di dalam hati Lo saat itu..", ucap Bianca sambil menangis.
Kinan mengambilkan tissu dari tasnya lalu memberikannya kepada Bianca. Lalu Bianca pun mengusap pipi dan matanya yang sudah basah.
"Ka', alasan Gua menikahi Echa..", ucap Gua sambil memainkan bungkus rokok di lantai kamar kost-an,
"Gua lihat sosok Echa lah satu-satunya wanita yang bisa meredam emosi Gua Ka'..", lanjut Gua.
"Za..", panggil Kinan dari samping Gua.
Gua menengok kepada Kinan lalu tersenyum dan menggelengkan kepala pelan.
"Lo gak jujur sama Gue soal alasan pernikahan Lo ?!", tembak Bianca kali ini setelah melihat Gua dan Kinan barusan.
"Gua jujur, sumpah..",
"Tapi alasan lainnya Gua gak bisa cerita ke Lu Ka'.. Maaf ya.. Gak semua hal bisa Gua ceritakan sama Lu, tapi seenggaknya alasan Gua tadi adalah hal yang jujur dan benar kok", jawab Gua.
"Ya... Oke Za, Gue gak mungkin maksa Lo juga kan..", ucapnya sambil tersenyum kali ini,
"Sekarang...",
"Gue cuma bisa mendo'a kan Lo supaya bisa jadi suami yang bertanggungjawab buat istri Lo dan kalian bahagia sampai ajal menjemput yaa..", ucapnya lagi kali ini berdiri dari duduk dengan kedua tangannya yang direntangkan.
Gua tersenyum lebar menatap Bianca, lalu Gua berdiri dan menyambut pelukannya. Gua rasakan usapan tangannya yang lembut pada punggung Gua. "Makasih ya Ka', makasih atas do'a nya, semoga Lu juga bisa bahagia dengan kehidupan Lu ya..", ucap Gua dalam pelukkannya.
"Makasih Za, semoga ya...",
"Salam untuk istri Lo", ucapnya seraya melepaskan pelukkannya.
Gua menatap matanya lekat-lekat lalu menyibakkan rambut yang menghalangi wajahnya.
"Ka', Gua harap Lu menemukan pasangan yang terbaik ya... Mmm... Siapapun dia Ka', yang jelas bisa buat hidup Lu bahagia".
"Hahahah.. Eza jahat iiih", tawanya sambil menepuk dada Gua.
"Kok jahat sih ?", tanya Gua.
"Gue paham maksud Lo kaliii",
"Siapapun dia itu maksud Lo cowok atau cewek kan, hayo ngakuu ?", tanyanya sambil tersenyum lebar.
Gua tertawa ternyata Bianca menyadari maksud kalimat yang Gua ucapkan. "Hehehe.. Yaa.. Gitulah hahaha.. Sorry loch Ka'.. Hehehe".
"Za..".
"Heum ?".
"Gue udah putus dari Eshter..", jawabnya pelan.
"Loch ? Serius ? Kok bisa ?", tanya Gua cukup terkejut.
"Iya.. Sekarang Gue.. Gue pacaran sama kamar sebelah.. Hehehe...", jawabnya malu-malu kali ini.
"Sebelah ? Mba Ina ?", tebak Gua menyebutkan nama seorang perempuan yang tinggal di kamar no. 4.
"Yeee.. Enak aja! Bukanlah dodol!", jawabnya seraya menepuk kepala Gua pelan.
"Hahaha... Terus siapa dong ?".
"Mas Berry..", jawabnya sambil tersenyum lebar.
Yap, pada akhirnya inilah salah satu teman satu kost-an Gua, Bianca yang Gua kenal belum sampai setahun ternyata memiliki kelainan seksual dan setelah apa yang dia coba kepada Gua beberapa bulan lalu bisa merubah orientasinya. Gua senang mendengarnya kembali normal seperti layaknya perempuan pada umumnya. Gua berharap dia bersama pengacara muda yang bernama Berry bisa langgeng sampai menikah. Semoga yang terbaik untuk kalian berdua.
Gua dan Kinan pun pamit kepada Bianca. Tidak lupa Gua mengingatkannya untuk hadir di acara resepsi pernikahan Gua dan Echa nanti yang langsung dibalasnya dengan anggukan kepala.
Kinan berjalan duluan ke area parkiran mobil. Gua baru beberapa langkah dari depan pintu kost-an Bianca. Lalu Bianca memanggil...
"Za..".
Gua berbalik badan, melihatnya yang tersenyum di ambang pintu kamarnya. Tidak lama kemudian dia berlari dan langsung memeluk Gua.
"Makasih.. Makasih banyak atas semuanya", ucapnya lirih dengan wajah yang bersandar ke dada ini.
"Ka'.. Gua gak banyak bantu apa-apa, toh niat dari dalam hati Lu yang ngerubah semuanya kan..", balas Gua sambil mengelus punggungnya.
"Makasih ya Za..".
...
Gua dan Kinan berada di dalam mobil menuju kampus lagi, untuk mengambil mobil Gua yang terparkir disana. Dalam perjalanan ke kampus, Kinan yang mengemudikan mobil.
"Za..".
"Ya ?", jawab Gua sambil membalas sms untuk istri Gua.
"Kamu kenapa gak cerita alasan kenapa nikahin Echa ke Bianca ?", tanya Kinan.
Gua hentikan jemari Gua yang masih mengetik sms untuk sang istri, lalu tersenyum kepada Kinan.
"Gak semuanya perlu tau cerita yang satu itu Ka", jawab Gua.
Kinan mengerti maksud Gua. Dia tersenyum dan menengok kepada Gua sesaat. "Terus.. Mmm.. Kamu gak undang 'dia',ke acara nikahan kamu nanti ?".
"Aku gak tau sekarang dia dimana..",
"Aku udah nanya ke sepupunya tapi jawabannya sama, gak ada yang tau dia dimana..", jawab Gua sambil mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.
Seorang perempuan yang sempat ingin Gua miliki. Sekarang entah kamu ada dimana. Kenapa dengan kejadian itu kamu harus pergi dari aku.
.
.
.
.
.
.
Masih beberapa hari sebelum acara resepsi Gua dan Echa diselenggarakan. Saat itu Gua masih ingat dengan jelas, kami berdua baru pulang dari rumah Echa. Sekitar pukul 3 sore Gua duduk di sofa depan teras kamar, sedangkan Echa baru saja masuk ke dalam kamar Gua untuk mengganti pakaian. Gua membakar sebatang rokok sambil menyandarkan punggung ke bahu sofa ketika sebuah mobil sedan berwarna hitam masuk ke halaman rumah Nenek dan berhenti tepat di depan teras.
Seorang perempuan turun dari pintu kemudi lalu disusul perempuan lainnya dari pintu penumpang di depan. Mereka berdua berjalan kearah teras sambil tersenyum.
Gua berdiri dan menyambut kedatangan mereka.
"Assalamualaikum Za", salam salah satu perempuan itu.
"Walaikumsalam Kak..", jawab Gua,
"Ayo masuk Kak..",
"Wah ini makin cantik aja ya udah lama gak ketemu", ucap Gua kepada perempuan satunya yang berada di belakang.
"Hihihi.. Udah abg gini, makin cantiklah", jawabnya lalu mencium tangan Gua.
Mereka berdua duduk di sofa teras yang panjang, Gua duduk di sofa yang membelakangi kamar Gua.
"Dari rumah Kak ?", tanya Gua.
"Iya, waktu aku sms kamu itu baru mau berangkat",
"Oh iya, gak ganggu kan ?".
"Enggak lah, santai aja, aku juga baru pulang dari rumah mertua nih", jawab Gua.
"Oh ya, istri kamu mana ? Gak ikut kesini ?", tanyanya lagi.
"Ada, lagi ganti pakaian mungkin",
"Chaaaa...", teriak Gua dari teras,
"Ada Kak Nindi sama Dian nih..", lanjut Gua.
"Heh! Asal kamu manggil istri sendiri pake teriak-teriak gitu", sergah Nindi sambil melotot kepada Gua.
"Hahaha.. Males bangunnya ah, lagian pasti kedengaran ini hehehe".
Tidak lama kemudian pintu kamar Gua terbuka, lalu istri Gua pun keluar kamar dan menghampiri Nindi dan Dian, biasalah cipika-cipiki mereka sambil saling menanyakan kabar masing-masing.
"Gimana Kak, macet ya di jalan ?", tanya Echa sambil duduk di samping Gua.
"Enggak juga, cuma malah keluar tol aja baru macet pas arah kesini", jawab Nindi.
"Kalo weekend emang gitu, rame kendaraan yang maen ke tempat wisata...", timpal Gua.
"Oh ya mau teh atau sirup Kak ? Dian ?", tawar Echa sambil bangkit dari duduknya.
"Aku teh manis anget aja Cha", jawab Nindi.
"Aku sirup dingin deh Kak", jawab Dian sambil tersenyum lebar.
"Yaudah bentar ya..", ucap Echa seraya masuk ke dalam kamar lagi.
"Za, Nenek kemana ?", tanya Nindi sambil melepaskan cardigansnya.
"Oh Nenek lagi di Bandung, lagi di rumah Om, nanti dua hari sebelum resepsi mereka kesini", jawab Gua.
"Ooh.. Tapi Beliau sehatkan ?".
"Alhamdulilah Sehat Kak, oh ya kabar Papah mu gimana ?", tanya Gua balik.
"Alhamdulilah sehat juga",
"Za..".
"Heum ?".
"Aku mau nagih janji kamu", ucap Nindi sambil menyandarkan kedua tangannya diatas pahanya.
"Janji apa ?", tanya Gua mengingat-ingat pernah berjanji apa kepada Kakak tiri Gua itu.
"Lupa kan..",
"Waktu kamu akad nikah kemarin kan kamu janji mau cerita di lain hari", ucapnya.
"Cerita ? Soal apa ?",
"Ooh.. Ya ya ya... Aku inget hahaha... Sorry sorry", Gua pun akhirnya mengingat janji tersebut.
Tidak lama berselang, Echa kembali dari dalam rumah dengan nampan yang diatasnya berisi dua gelas minuman untuk Kakak dan adik tiri Gua. Lalu Echa duduk di samping Gua. Gua menoleh kepada istri Gua dan membelai rambutnya hingga ke pundaknya.
"Cha..", panggil Gua.
"Ya ?".
"Aku mau ceritain kenapa aku harus sampai nikahin kamu ke Kak Nindi sama Dian", ucap Gua.
Istri Gua tersenyum lalu mengangguk, dan kami berdua menengok kepada Nindi yang tidak sabar mendengarkan cerita dari kami. Cerita yang membuat Gua kehilangan seseorang dan nyaris membuat gila.
Diubah oleh glitch.7 09-05-2017 21:53
fatqurr memberi reputasi
1
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 
