- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80.2K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#135
PART III
"Kau ambil yassin dan baca,” perintah Kakek. Saya pun terus membaca yassin dengan perlahan‐lahan, pembacaan saya sering terganggu dan tidak selancar pembacaan Kakek. Akhirnya, beberapa orang kampung yang berdekatan datang sembahyang subuh di masjid tersebut. Mereka merasa agak aneh kenapa saya dan Kakek tidak turut serta sembahyang berjamaah bersama mereka. Dari gerakan dan kedipan mata mereka membayangkan kesangsian. Agaknya, mereka mengira saya dan Kakek berlainan mazhab atau menerima ajaran agama yang sesat. Bila mereka selesai sembahyang, Mohammad Tammat menghampiri Kakek.
“Kenapa tidak berjamaah sekalian?” tanya Mohammad Tammat.
”Kami sudah sembahyang berjamaah"
“Dengan siapa?”
“Tadi ramai orang-orang datang penuhi satu masjid”
“Haa..!”
“Tidak aneh. Saya tadi berbicara dengan pak imam. Saya bertukar senyum dengan bilal muda”
Mohammad Tammat mengerutkan keningnya. Dia termenung sejenak. Cepat‐cepat dia menuju ke sudut masjid sebelah kanan dan mengambil sebotol air jernih. Dia datang pada Kakek kembali.
“Kamu bermimpi sepertinya?”
“Saya berbicara sebenarnya. Air dalam botol yang kamu ambil itu pemberian pak imam”
“Aneh”
Saya lihat muka Mohammad Tammar berubah lagi. Bibirnya digigit sekuat hati hingga menimbulkan bekas pada bibir sebelah bawah.
“Kamu berjamaah dengan jin”
"Alhamdulillah, saya bersyukur atas kebesaran Allah,” Kakek pun menadahkan ke dua belah tangannya.
Orang‐orang kampung pun mulai meninggalkan masjid begitu juga dengan Mohammad Tammat.
Bila matahari mulai terbit di kaki langit, saya dan Kakek pun keluar untuk mandi embun. Kami melangkah ke bagian belakang masjid yang berdekatan dengan kawasan pekuburan.
Lubang telinga Kakek dan saya mulai dipenuhi dengan suara orang menjerit dan menangis. Saya dan Kakek menuju ke arah bunyi suara itu. Matahari pagi mulai memancarkan sinarnya yang lembut, air embun di ujung daun yang terkena sinaran matahari nampak bermanik‐manik. Burung‐burung mulai melompat dari dahan ke dahan sambil berkicau riang.
Bila saya dan Kakek sampai ke kuburan anak Omari, saya lihat Mohammad Tammat terbunguk ‐bungkuk menyiramkan air dari dalam botol ke atas tanah kubur. Saya dan Kakek terus menghampiri Mohammad Tammat. Dia tidak memperdulikan kedatangan kami.
Kakek terus duduk di bagian kepala kubur. Kakek membaca sesuatu. Air yang di siram oleh Mohammad Tammat habis satu botol. Mohammad Tammat pun meletakkan botol kosong itu dekat batu nisan. Saya terkejut, botol kosong itu bergerak‐gerak bagaikan disentuh oleh manusia, akhirnya botol itu hilang.
"Kejadian itu satu hal biasa,” kata Mohammad Tammat memberitahu saya yang keheranan.
Suara dari dalam kubur tidak sekuat tadi. Tetapi saya dapat mendengar dengan jelas apa yang keluar dari dalam perut bumi itu.
"Aduh panasnya. Ampunkan saya emak, ampunkan saya,” itulah yang dapat ditangkap oleh gendang telinga saya di pagi yang hening itu. Kakek masih membisu seribu bahasa. Sinaran matahari yang memancar ke atas kuburan cukup keras, walaupun hari masih pagi benar. Saya perhatikan dengan penuh teliti, memang terdapat kepulan asap tipis keluar dari tanah kuburan. Di bagian kaki yang berdekatan dengan batu nisan saya lihat tanah di situ bagaikan retak-retak kecil.
Saya segera menyatakan apa yang saya lihat itu pada Kakek.
Kakek menyuruh saya diam.
Mohammat Tammat meninggalkan kami berdua di situ. Kakek terus membaca ayat‐ayat suci. Saya tetap berada di samping Kakek. Bila Kakek selesai membaca ayat‐ayat suci dan menoleh ke kiri, saya dapati pak imam yang berjubah hijau berdiri disisinya. Pak imam bersalam dengan Kakek sambil berkata,“Dia anak durhaka”
Pak imam itu lalu hilang. Suasana di tanah pekuburan terasa cukup sepi. Kicau burung tidak kedengaran, apa yang saya alami ialah rasa seram. Bulu tengkuk saya meremang tidak menentu. Suara dari dalam kubur terus hilang. Saya dan Kakek lalu pulang ke rumah Omari. Di rumah Omari Kakek duduk di ruang tengah memakai baju dan celana hitam siap dengan tanjaknya sekali. Kakek melihat ke arah matahari terbit.
Sebelah kanan lututnya tersusun beberapa batang pohon kayu kecil. Sebelah kiri lututnya terletak mangkuk putih tanpa air. Kakek bertafakur kira‐kira sepuluh menit. Semua yang Kakek lakukan itu diperhatikan oleh Omari dan saya penuh teliti. Kakek memejamkan matanya rapat ‐rapat. Saya mendengar suara orang batuk. Entah dari mana datangnya saya tidak tahu.
“Kau benar‐benar mau menolongnya?” terdengar suara ghaib.
”Ya, pak imam"
“Dosanya akan hilang sesudah diampuni oleh ibu yang melahirkannya”
“Lagi pak imam?”
“Dia harus juga meminta ampun pada ibu tirinya”
Begitu suara itu hilang, Kakek membukakan matanya. Di tangan kanan Kakek tergenggam sehelai kain berwarna hijau. Kain itu terus dibelitkan ke lehernya. Kakek melihat ke wajah Omari tepat‐tepat.
“Kau sayang anakmu?” tanya Kakek.
“Tentu”
Maka berceritalah Omari bahwa anaknya itu pernah menendang dan memaki ibunya sesuka hati. Malah pernah melukai perasan ibunya yang melarang dia bergaul dengan perempuan-perempuan nakal. Larangan itu tidak diperdulikan oleh anaknya. Akhirnya anak itu terlibat dalam group penghisap ganja dan jadi penggila ekor tiga nomor (masa itu judi empat nomor masih belum ada).
"Anak saya itu membuat perbuatan-perbuatan syirik. Menyembah pohon, pergi ke kuburan kuna untuk mencari nomor ekor yang akan keluar,” kata Omari dengan wajah yang amat muram.
Kakek hanya mendengarkan penuh teliti. Omari juga menyatakan, ibunya menentang perbuatan itu hingga timbul pertengkaran. Anaknya tidak dapat menjaga perasaan dan emosi lalu memaki ibunya sendiri. Tiga bulan selepas peristiwa itu Omari bercerai dengan isterinya, lalu kimpoi lagi.
“Anak saya akhirnya bengkak kakinya dan tidak bisa berjalan. Isteri kedua saya merawatnya. Sewaktu merawat itulah anak saya melempar isteri muda saya dengan kayu hingga dahinya luka, isteri muda saya pun meninggalkan saya”
“Selepas itu apa yang terjadi?” tanya Kakek.
“Anak saya dimasukan ke rumah sakit Batu Pahat dan meninggal dunia”
“Kamu terlalu memanjakan anak,” keluh Kakek lagi.
"Memang. Dialah satu‐satunya anak saya,” suara Omari tersengal-sengal dan menangis.
Setelah mengadakan musyawarah dengan Omari, Kakek berusaha mencari isteri tuanya. Akhirnya, isteri tua Omari ditemukan di Pontian sudah menikah dengan saudara berketurunan Pakistan. Kakek membawa isteri tua ke rumah Omari. Isteri muda tidak dapat ditemukan. Menurut beberapa orang kampung di situ, isteri muda Omari sudah pulang ke kampung halamannya di Tanjung Balai Indonesia. Semua peristiwa yang terjadi diceritakan oleh Kakek pada isteri tua Omari. Perempuan itu menangis tersedu‐sedu. Hatinya merasa pilu atas perbuatan bekas suaminya yang tidak memberitahukan tentang kematian anaknya.
Malam itu, saya dan Kakek tidur di masjid jin lagi. Kali ini kami datang ke masjid agak lewat. Kira‐kira pukul satu tengah malam. Kedatangan kami disambut oleh pak imam berjubah hitam di muka pintu masjid.
“Kau sudah jumpa emaknya?” tanya imam itu.
“Ya, pak imam”
“Mana dia?"
“Dia ada di rumah adik Omari”
"Kita ke sana,” jawab pak imam berjubah hijau.
Kami pun menuju ke rumah adik Omari. Pak imam tetap berada di antara saya dengan Kakek. Suatu perkara aneh yang saya alami, orang lain tidak dapat memandang tubuh pak imam. Mereka hanya mendengar suaranya saja, sedangkan saya dan Kakek dapat melihat gerak‐gerik pak imam. Pak imam melakukan sembahyang dua rakaat di rumah adik Omari. Kemudian dia mengajak Kakek dan saya membaca surah Yassin hingga subuh. Sebelum matahari terbit pak imam itu memberi sebotol air jernih kepada Kakek.
"Kau ajak ibunya ke kubur pada waktu pagi. Suruh dia siramkan air ini di atas tanah kubur itu dan suruh dia baca ayat ini,” pak imam beritahu pada Kakek sambil menyerahkan sehelai kertas yang bertulis jawi.
“Lagi pak imam?”
“Sesudah selesai semuanya itu, ibunya harus melakukan sembahyang tahajud tengah malam minta Allah mengampunkan dosa anaknya. Tetapi, dia terlebih dahulu dengan hati yang suci mesti mengampuni perbuatan anaknya itu terhadapnya”
Janda Omari dan iparnya termangu‐mangu mendengar suara gaib itu. Mereka hanya nampak sekilas pandangan bentuk tubuh imam yang berjubah hijau waktu berdiri di muka tangga sebelum menghilangkan diri dari kami semua.
Apa yang ditunjukkan oleh imam berjubah hijau itu dilaksanakan oleh janda Omari dengan sempurna. Kakek tidak banyak campur tangan dalam urusan tersebut, kecuali menemani janda Omari pergi ke kuburan selama delapan pagi berturut‐turut. Masuk hari yang ke empat belas, suara tangisan dari kubur sudah tidak kedengaran lagi. Dan janda Omari pun menyatakan hasratnya pada Kakek untuk pulang ke Pontian.
"Tangguhkanlah dulu,” kata Omari pada jandanya.
“Kenapa?”
“Selepas mengadakan kenduri syukuran malam jumaat ini, kau pulanglah. Aku minta padamu demi kasih sayang kita pada anak,” Omari menyatakan hasratnya.
Janda Omari termenung. Dalam hati dia menghitung hari. Dia menggigit bibir. Kalau dia memenuhi permintaan Omari berarti dia terpaksa bermalam lagi di Kampung Jorak Ilahi.
"Hari ini suami saya datang mengambil saya, tak dapat menunaikan hajat baik itu,” jawab janda Omari.
Kakek melihat muka Omari yang dijamah sinar matahari pagi.
“Kapan suami kamu datang?” Kakek bertanya wanita yang berwajah lembut.
Kedua belah kelopak matanya agak hitam karena kurang tidur dan terlalu banyak menangis mengenangkan perbuatan bekas suaminya.
"Tengah hari ini,” jawabnya pendek.
"Hari ini hari kamis. Dia tidak marah kalau kau tidur semalam lagi di sini,” celah Kakek.
Wanita yang berwajah lembut menyimpan seribu penderitaan itu melihat wajah Kakek. Dalam sinaran mata yang redup itu tersembunyi seribu ketegasan diri yang tidak bisa diubah oleh siapapun. Begitulah firasat Kakek bila melihat bola mata wanita itu.
"Saya bisa menunaikan permintaan itu kalau mendapat izin dari suami saya. Tugas isteri membuat apa yang disukai oleh suami dan menjauhkan segala perbuatan yang tidak disukainya. Inilah ibadah dan pendirian saya untuk suami saya,” ujar perempuan itu dengan tenang.
Kakek tesenyum dalam hal ini ternyata Kakek kalah. Kakek bisa berhadapan dengan jin dan setan dengan gagah dan berani. Tetapi, Kakek terpaksa tunduk dengan wanita yang kuat iman dan mengikut perintah Allah.
"Itulah yang terbaik, memang yang baik itu untuk Allah dan yang jahat untuk setan dan nafsu,” suara Kakek lemah.
Kemudian Kakek dan Omari turun ke tanah. Wanita berwajah lembut duduk dimuka pintu menanti kedatangan suaminya.
Lebih kurang pukul sebelas pagi, suaminya datang dengan sebuah taksi. Kakek segera menemui suami perempuan itu. Berbicara sesuatu dengannya.
"Tak jadi halangan kalau untuk kebaikan,” balas suami perempuan itu.
Dengan tenang suami perempuan itu membayar ongkos taksi dan meminta taksi itu datang menjemputnya selepas sembahyang Jumat pada hari esoknya.
Malam itu, kenduri syukuran pun diadakan. Sebelum majlis dijalankan, Kakek berbicara dengan Omari sebentar. Tanpa memberitahu saya Kakek pun menghilangkan diri. Bila tetamu sudah penuh di anjung, Kakek secara mendadak saja tersembul dalam barisan orang kampung bersama seorang lelaki berjubah hijau. Lelaki itu saya lihat tidak banyak bicara. Dia hanya bersalam saja dengan orang yang datang. Kemudian duduk tunduk memutar tasbih.
Atas permintaan Kakek, orang yang berjubah hijau membacakan doa. Bila orang ramai menjamah hidangan, orang berjubah hijau tidak menjamahnya. Dia terus memutar tasbih. Bila semua orang selesai makan dan minta diri untuk pulang, orang berjubah hijau terus bangun dan berjabat salam. Tidak ada orang yang berani bertanya tentang dirinya baik kepada Kakek atau pada Omari. Mulut orang ramai bagaikan terkunci. Akhirnya, tinggallah saya, Kakek, Omari dan jandanya bersama suami dalam rumah itu melihat ke arah lelaki berjubah hijau.
"Bertaqwalah kamu semua kepada Allah, dan Allah akan memberikan kamu semua pengetahuan dan petunjuk yang baik,” ujar orang yang berjubah hijau itu.
Kemudian dia bagaikan kilat hilang dari pengelihatan kami. Karena semuanya sudah selesai, Kakek dan saya meninggalkan Kampung Jorak Ilahi. Kakek menolak pemberian Omari seperti kelapa, pisang dan uang sebanyak lima puluh ringgit.
"Saya tidak hidup atas ini. Saya melakukan pekerjaan karena Allah semata‐mata. Bersyukurlah pada Allah atas limpahan kurniaNya yang kita terima,” kata Kakek.
“Tapi ini pesan saudara saya. Lagi pula di sini perkara bagi duit pada orang yang berhasil macam kamu ini sudah jadi perkara biasa”
“Saya bukan orangnya. Sedekahlah pada anak‐anak yatim”
"Maafkan saya,” ujar Omari.
Kami pun berpamitan pulang...
Quote:
"Kau ambil yassin dan baca,” perintah Kakek. Saya pun terus membaca yassin dengan perlahan‐lahan, pembacaan saya sering terganggu dan tidak selancar pembacaan Kakek. Akhirnya, beberapa orang kampung yang berdekatan datang sembahyang subuh di masjid tersebut. Mereka merasa agak aneh kenapa saya dan Kakek tidak turut serta sembahyang berjamaah bersama mereka. Dari gerakan dan kedipan mata mereka membayangkan kesangsian. Agaknya, mereka mengira saya dan Kakek berlainan mazhab atau menerima ajaran agama yang sesat. Bila mereka selesai sembahyang, Mohammad Tammat menghampiri Kakek.
“Kenapa tidak berjamaah sekalian?” tanya Mohammad Tammat.
”Kami sudah sembahyang berjamaah"
“Dengan siapa?”
“Tadi ramai orang-orang datang penuhi satu masjid”
“Haa..!”
“Tidak aneh. Saya tadi berbicara dengan pak imam. Saya bertukar senyum dengan bilal muda”
Mohammad Tammat mengerutkan keningnya. Dia termenung sejenak. Cepat‐cepat dia menuju ke sudut masjid sebelah kanan dan mengambil sebotol air jernih. Dia datang pada Kakek kembali.
“Kamu bermimpi sepertinya?”
“Saya berbicara sebenarnya. Air dalam botol yang kamu ambil itu pemberian pak imam”
“Aneh”
Saya lihat muka Mohammad Tammar berubah lagi. Bibirnya digigit sekuat hati hingga menimbulkan bekas pada bibir sebelah bawah.
“Kamu berjamaah dengan jin”
"Alhamdulillah, saya bersyukur atas kebesaran Allah,” Kakek pun menadahkan ke dua belah tangannya.
Orang‐orang kampung pun mulai meninggalkan masjid begitu juga dengan Mohammad Tammat.
Quote:
Bila matahari mulai terbit di kaki langit, saya dan Kakek pun keluar untuk mandi embun. Kami melangkah ke bagian belakang masjid yang berdekatan dengan kawasan pekuburan.
Lubang telinga Kakek dan saya mulai dipenuhi dengan suara orang menjerit dan menangis. Saya dan Kakek menuju ke arah bunyi suara itu. Matahari pagi mulai memancarkan sinarnya yang lembut, air embun di ujung daun yang terkena sinaran matahari nampak bermanik‐manik. Burung‐burung mulai melompat dari dahan ke dahan sambil berkicau riang.
Bila saya dan Kakek sampai ke kuburan anak Omari, saya lihat Mohammad Tammat terbunguk ‐bungkuk menyiramkan air dari dalam botol ke atas tanah kubur. Saya dan Kakek terus menghampiri Mohammad Tammat. Dia tidak memperdulikan kedatangan kami.
Kakek terus duduk di bagian kepala kubur. Kakek membaca sesuatu. Air yang di siram oleh Mohammad Tammat habis satu botol. Mohammad Tammat pun meletakkan botol kosong itu dekat batu nisan. Saya terkejut, botol kosong itu bergerak‐gerak bagaikan disentuh oleh manusia, akhirnya botol itu hilang.
"Kejadian itu satu hal biasa,” kata Mohammad Tammat memberitahu saya yang keheranan.
Suara dari dalam kubur tidak sekuat tadi. Tetapi saya dapat mendengar dengan jelas apa yang keluar dari dalam perut bumi itu.
"Aduh panasnya. Ampunkan saya emak, ampunkan saya,” itulah yang dapat ditangkap oleh gendang telinga saya di pagi yang hening itu. Kakek masih membisu seribu bahasa. Sinaran matahari yang memancar ke atas kuburan cukup keras, walaupun hari masih pagi benar. Saya perhatikan dengan penuh teliti, memang terdapat kepulan asap tipis keluar dari tanah kuburan. Di bagian kaki yang berdekatan dengan batu nisan saya lihat tanah di situ bagaikan retak-retak kecil.
Saya segera menyatakan apa yang saya lihat itu pada Kakek.
Kakek menyuruh saya diam.
Mohammat Tammat meninggalkan kami berdua di situ. Kakek terus membaca ayat‐ayat suci. Saya tetap berada di samping Kakek. Bila Kakek selesai membaca ayat‐ayat suci dan menoleh ke kiri, saya dapati pak imam yang berjubah hijau berdiri disisinya. Pak imam bersalam dengan Kakek sambil berkata,“Dia anak durhaka”
Quote:
Pak imam itu lalu hilang. Suasana di tanah pekuburan terasa cukup sepi. Kicau burung tidak kedengaran, apa yang saya alami ialah rasa seram. Bulu tengkuk saya meremang tidak menentu. Suara dari dalam kubur terus hilang. Saya dan Kakek lalu pulang ke rumah Omari. Di rumah Omari Kakek duduk di ruang tengah memakai baju dan celana hitam siap dengan tanjaknya sekali. Kakek melihat ke arah matahari terbit.
Sebelah kanan lututnya tersusun beberapa batang pohon kayu kecil. Sebelah kiri lututnya terletak mangkuk putih tanpa air. Kakek bertafakur kira‐kira sepuluh menit. Semua yang Kakek lakukan itu diperhatikan oleh Omari dan saya penuh teliti. Kakek memejamkan matanya rapat ‐rapat. Saya mendengar suara orang batuk. Entah dari mana datangnya saya tidak tahu.
“Kau benar‐benar mau menolongnya?” terdengar suara ghaib.
”Ya, pak imam"
“Dosanya akan hilang sesudah diampuni oleh ibu yang melahirkannya”
“Lagi pak imam?”
“Dia harus juga meminta ampun pada ibu tirinya”
Begitu suara itu hilang, Kakek membukakan matanya. Di tangan kanan Kakek tergenggam sehelai kain berwarna hijau. Kain itu terus dibelitkan ke lehernya. Kakek melihat ke wajah Omari tepat‐tepat.
“Kau sayang anakmu?” tanya Kakek.
“Tentu”
Maka berceritalah Omari bahwa anaknya itu pernah menendang dan memaki ibunya sesuka hati. Malah pernah melukai perasan ibunya yang melarang dia bergaul dengan perempuan-perempuan nakal. Larangan itu tidak diperdulikan oleh anaknya. Akhirnya anak itu terlibat dalam group penghisap ganja dan jadi penggila ekor tiga nomor (masa itu judi empat nomor masih belum ada).
"Anak saya itu membuat perbuatan-perbuatan syirik. Menyembah pohon, pergi ke kuburan kuna untuk mencari nomor ekor yang akan keluar,” kata Omari dengan wajah yang amat muram.
Quote:
Kakek hanya mendengarkan penuh teliti. Omari juga menyatakan, ibunya menentang perbuatan itu hingga timbul pertengkaran. Anaknya tidak dapat menjaga perasaan dan emosi lalu memaki ibunya sendiri. Tiga bulan selepas peristiwa itu Omari bercerai dengan isterinya, lalu kimpoi lagi.
“Anak saya akhirnya bengkak kakinya dan tidak bisa berjalan. Isteri kedua saya merawatnya. Sewaktu merawat itulah anak saya melempar isteri muda saya dengan kayu hingga dahinya luka, isteri muda saya pun meninggalkan saya”
“Selepas itu apa yang terjadi?” tanya Kakek.
“Anak saya dimasukan ke rumah sakit Batu Pahat dan meninggal dunia”
“Kamu terlalu memanjakan anak,” keluh Kakek lagi.
"Memang. Dialah satu‐satunya anak saya,” suara Omari tersengal-sengal dan menangis.
Setelah mengadakan musyawarah dengan Omari, Kakek berusaha mencari isteri tuanya. Akhirnya, isteri tua Omari ditemukan di Pontian sudah menikah dengan saudara berketurunan Pakistan. Kakek membawa isteri tua ke rumah Omari. Isteri muda tidak dapat ditemukan. Menurut beberapa orang kampung di situ, isteri muda Omari sudah pulang ke kampung halamannya di Tanjung Balai Indonesia. Semua peristiwa yang terjadi diceritakan oleh Kakek pada isteri tua Omari. Perempuan itu menangis tersedu‐sedu. Hatinya merasa pilu atas perbuatan bekas suaminya yang tidak memberitahukan tentang kematian anaknya.
Malam itu, saya dan Kakek tidur di masjid jin lagi. Kali ini kami datang ke masjid agak lewat. Kira‐kira pukul satu tengah malam. Kedatangan kami disambut oleh pak imam berjubah hitam di muka pintu masjid.
“Kau sudah jumpa emaknya?” tanya imam itu.
“Ya, pak imam”
“Mana dia?"
“Dia ada di rumah adik Omari”
"Kita ke sana,” jawab pak imam berjubah hijau.
Kami pun menuju ke rumah adik Omari. Pak imam tetap berada di antara saya dengan Kakek. Suatu perkara aneh yang saya alami, orang lain tidak dapat memandang tubuh pak imam. Mereka hanya mendengar suaranya saja, sedangkan saya dan Kakek dapat melihat gerak‐gerik pak imam. Pak imam melakukan sembahyang dua rakaat di rumah adik Omari. Kemudian dia mengajak Kakek dan saya membaca surah Yassin hingga subuh. Sebelum matahari terbit pak imam itu memberi sebotol air jernih kepada Kakek.
Quote:
"Kau ajak ibunya ke kubur pada waktu pagi. Suruh dia siramkan air ini di atas tanah kubur itu dan suruh dia baca ayat ini,” pak imam beritahu pada Kakek sambil menyerahkan sehelai kertas yang bertulis jawi.
“Lagi pak imam?”
“Sesudah selesai semuanya itu, ibunya harus melakukan sembahyang tahajud tengah malam minta Allah mengampunkan dosa anaknya. Tetapi, dia terlebih dahulu dengan hati yang suci mesti mengampuni perbuatan anaknya itu terhadapnya”
Janda Omari dan iparnya termangu‐mangu mendengar suara gaib itu. Mereka hanya nampak sekilas pandangan bentuk tubuh imam yang berjubah hijau waktu berdiri di muka tangga sebelum menghilangkan diri dari kami semua.
Apa yang ditunjukkan oleh imam berjubah hijau itu dilaksanakan oleh janda Omari dengan sempurna. Kakek tidak banyak campur tangan dalam urusan tersebut, kecuali menemani janda Omari pergi ke kuburan selama delapan pagi berturut‐turut. Masuk hari yang ke empat belas, suara tangisan dari kubur sudah tidak kedengaran lagi. Dan janda Omari pun menyatakan hasratnya pada Kakek untuk pulang ke Pontian.
"Tangguhkanlah dulu,” kata Omari pada jandanya.
“Kenapa?”
“Selepas mengadakan kenduri syukuran malam jumaat ini, kau pulanglah. Aku minta padamu demi kasih sayang kita pada anak,” Omari menyatakan hasratnya.
Janda Omari termenung. Dalam hati dia menghitung hari. Dia menggigit bibir. Kalau dia memenuhi permintaan Omari berarti dia terpaksa bermalam lagi di Kampung Jorak Ilahi.
"Hari ini suami saya datang mengambil saya, tak dapat menunaikan hajat baik itu,” jawab janda Omari.
Kakek melihat muka Omari yang dijamah sinar matahari pagi.
“Kapan suami kamu datang?” Kakek bertanya wanita yang berwajah lembut.
Kedua belah kelopak matanya agak hitam karena kurang tidur dan terlalu banyak menangis mengenangkan perbuatan bekas suaminya.
"Tengah hari ini,” jawabnya pendek.
"Hari ini hari kamis. Dia tidak marah kalau kau tidur semalam lagi di sini,” celah Kakek.
Quote:
Wanita yang berwajah lembut menyimpan seribu penderitaan itu melihat wajah Kakek. Dalam sinaran mata yang redup itu tersembunyi seribu ketegasan diri yang tidak bisa diubah oleh siapapun. Begitulah firasat Kakek bila melihat bola mata wanita itu.
"Saya bisa menunaikan permintaan itu kalau mendapat izin dari suami saya. Tugas isteri membuat apa yang disukai oleh suami dan menjauhkan segala perbuatan yang tidak disukainya. Inilah ibadah dan pendirian saya untuk suami saya,” ujar perempuan itu dengan tenang.
Kakek tesenyum dalam hal ini ternyata Kakek kalah. Kakek bisa berhadapan dengan jin dan setan dengan gagah dan berani. Tetapi, Kakek terpaksa tunduk dengan wanita yang kuat iman dan mengikut perintah Allah.
"Itulah yang terbaik, memang yang baik itu untuk Allah dan yang jahat untuk setan dan nafsu,” suara Kakek lemah.
Kemudian Kakek dan Omari turun ke tanah. Wanita berwajah lembut duduk dimuka pintu menanti kedatangan suaminya.
Lebih kurang pukul sebelas pagi, suaminya datang dengan sebuah taksi. Kakek segera menemui suami perempuan itu. Berbicara sesuatu dengannya.
"Tak jadi halangan kalau untuk kebaikan,” balas suami perempuan itu.
Dengan tenang suami perempuan itu membayar ongkos taksi dan meminta taksi itu datang menjemputnya selepas sembahyang Jumat pada hari esoknya.
Malam itu, kenduri syukuran pun diadakan. Sebelum majlis dijalankan, Kakek berbicara dengan Omari sebentar. Tanpa memberitahu saya Kakek pun menghilangkan diri. Bila tetamu sudah penuh di anjung, Kakek secara mendadak saja tersembul dalam barisan orang kampung bersama seorang lelaki berjubah hijau. Lelaki itu saya lihat tidak banyak bicara. Dia hanya bersalam saja dengan orang yang datang. Kemudian duduk tunduk memutar tasbih.
Atas permintaan Kakek, orang yang berjubah hijau membacakan doa. Bila orang ramai menjamah hidangan, orang berjubah hijau tidak menjamahnya. Dia terus memutar tasbih. Bila semua orang selesai makan dan minta diri untuk pulang, orang berjubah hijau terus bangun dan berjabat salam. Tidak ada orang yang berani bertanya tentang dirinya baik kepada Kakek atau pada Omari. Mulut orang ramai bagaikan terkunci. Akhirnya, tinggallah saya, Kakek, Omari dan jandanya bersama suami dalam rumah itu melihat ke arah lelaki berjubah hijau.
"Bertaqwalah kamu semua kepada Allah, dan Allah akan memberikan kamu semua pengetahuan dan petunjuk yang baik,” ujar orang yang berjubah hijau itu.
Kemudian dia bagaikan kilat hilang dari pengelihatan kami. Karena semuanya sudah selesai, Kakek dan saya meninggalkan Kampung Jorak Ilahi. Kakek menolak pemberian Omari seperti kelapa, pisang dan uang sebanyak lima puluh ringgit.
"Saya tidak hidup atas ini. Saya melakukan pekerjaan karena Allah semata‐mata. Bersyukurlah pada Allah atas limpahan kurniaNya yang kita terima,” kata Kakek.
“Tapi ini pesan saudara saya. Lagi pula di sini perkara bagi duit pada orang yang berhasil macam kamu ini sudah jadi perkara biasa”
“Saya bukan orangnya. Sedekahlah pada anak‐anak yatim”
"Maafkan saya,” ujar Omari.
Kami pun berpamitan pulang...
Diubah oleh mufidfathul 11-05-2017 16:17
ciptoroso dan 3 lainnya memberi reputasi
2
Kutip
Balas
Tutup