- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80.2K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#133
JERITAN DALAM KUBUR
PART I

Saya dan Kakek menghentikan taksi yang dikemudikan oleh pemuda berbangsa Cina menuju ke pasar minggu Changkat Jering.
Memang, tujuan utama Kakek ke situ untuk membeli sebilah parang panjang. Setelah membayar harga taksi tersebut, saya dan Kakek lalu masuk ke dalam toko penjual buah‐buahan kampung hingga ke warung makanan, saya dengan Kakek berjalan dalam suasana tenang.
Akhirnya, kami pun sampai ke toko yang menjual golok serta parang kepunyaan Usman Rumba dari Sayong, Kuala Kangsar. Di samping menjual golok dan parang, Usman Rumba juga menjual labu sayung atau labu air yang terkenal itu. Kakek membeli sebilah parang panjang berulukan tanduk kerbau serta tiga biji labu air. Setelah membayar harga barang yang kami beli, Kakek pun mengajak saya pergi ke warung kopi yang berdekatan dengan kantor polisi di situ.
Waktu mau masuk ke toko tersebut, seorang angota polisi lengkap dengan pakaian seragam dengan pistol terselip di pinggang, berlari ke arah Kakek. polisi itu menepuk bahu Kakek dari belakang.
Darah saya tersirap.
"Apakah salah yang telah Kakek lakukan? Kenapa Kakek mesti di tangkap?" Pertanyaan-pertanyaan itu timbul dalam tengkorak kepala saya.
"Kau Atan?” ujar Kakek begitu matanya tertumpuk ke wajah anggota polisi yang berusia kira‐kira empat puluh tahun itu.
Anggota polisi itu menyatakan rasa kagumnya karena Kakek masih dapat mengingatnya, walaupun sudah hampir dua puluh tahun tidak bertemu.
Anggota polisi ini berasal dari Johor dan pernah bertugas di kantor polisi pasar Bruas sekitar tahun 1943‐1945. Awal tahun 1946 dia dipindahkan ke kantor polisi Umbai, Malaka. Sejak itu hubungannya dengan Kakek putus sama sekali.
“Ini siapa?” tanya anggota polisi itu pada Kakek sambil melihat muka saya.
"Tamar, cucuku,” jawab Kakek.
Anggota polisi tersenyum. Dia memberitahu Kakek bahwa anak sulungnya yang sebaya dengan saya sudah bekerja sebagai anggota polisi dan ditempatkan di Kuala Terung juga. Kemudian Atan (anggota polisi), mengajak saya dan Kakek ke rumahnya. Barangkali ada tujuan yang tertentu. Paling tidak, dia mau menuntut ilmu dari Kakek, fikir saya.
Memang tepat apa yang saya duga. Dia memang sudah lama mencari Kakek untuk diajak ke Batu Pahat. Dia menyatakan hanya Kakek seorang saja yang bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh pihak keluarganya. Sudah banyak pawang dan dukun terkenal dipanggil ke tempatnya. Tetapi, mereka tidak berhasil mengatasi masalah yang yang menimpa keluarga anggota polisi itu.
“Apa masalahnya?” tanya Kakek.
”Kuburan anak saudara saya berasap“
”Kuburannya berasap?" Kakek terkejut.
"Biasanya kuburan itu berasap pada waktu pagi dan senja. Bersama dengan itu, orang yang berdekatan dengan tanah kuburan mendengar suara orang menjerit minta tolong,” terang anggota polisi itu.
Kakek terdiam.
Kakek tidak jadi minum kopi yang dihidangkan oleh isteri Atan itu. Saya kira Kakek terkejut dengan apa yang didengarnya itu. Lama juga Kakek termenung. Dahinya berkerut. Belum pemah dia mendengar dan berhadapan dengan peristiwa aneh semacam itu.
“Apa ada photo anak saudara kau itu di sini Atan?” Kakek renung muka anggota polisi itu.
"Ada, nanti saya ambilkan!” Atan masuk ke dalam bilik dan keluar dengan selembar gambar ukuran poscard di tangan.
Gambar itu diserahkan pada Kakek. Lama juga Kakek melihat wajah keponakan Atan tesebut. Tanpa mengucapkan sesuatu, Kakek mengembalikan gambar tersebut kepada anggota polisi yang berasal dari Johor itu.
"Saya bisa coba,” pendek saja Kakek memberikan jawaban.
"Terima kasih,” wajah anggota polisi itu saya lihat berseri‐seri. Senyumnya tidak putus‐putus bermain dibibir.
"Kapan kita akan pergi?” tanpa sabar‐sabar lagi Atan itu mendesak.
Kakek menggigit bibir sambil melihat ke wajah saya. “Minggu depan, kita berangkat petang”
“Baguslah itu, saya bisa minta cuti”
"Cara nak pergi macam mana? Pergi bersama atau sendiri-sendiri?” Kakek mengajukan pertanyaan.
"Kita pergi dengan mobil saya,” lega hati saya mendengar pengakuan dari anggota polisi itu.
Saya tahu, kalau berasingan, Kakek akan menunggang harimau peliharaannya waktu malam. Satu cara yang amat tidak saya sukai. Seram sejak badan saya memaut batang leher harimau, meskipun harimau itu jinak dan bisa diurut ekor dan kepalanya. Kakek terus memberi alasan kenapa dia terpaksa pergi ke Batu Pahat minggu depan.
Pertama dia mau menemui isteri mudanya (orang bunian/Makhluk halus) sebelum berjalan jauh. Kedua, dia perlu menghubungi harimau peliharaannya untuk jadi teman ketika dia berada di sana. Dan ketiga Kakek perlu membuat persiapan‐persiapan khusus tertentu.
Sementara menanti minggu depan, saya dan Kakek pulang ke kampung. Ketika berada di kampung bisa dikatakan setiap malam Kakek memanggil harimau peliharaannya datang ke halaman rumah. Kakek memberi harimau itu makan tujuh biji bertih dan menyediakan air dalam bekas bambu gading. Kakek bermain‐main dengan harimau di bawah cahaya bulan yang sedang mengambang dan Kakek memberitahu pada harimau peliharaannya itu supaya pergi ke arah selatan.
Kadang‐kadang saya lihat Kakek duduk atas belakang harimau dengan isterinya orang(Makhluk) halus menuju ke arah Bukit Kota. Anehnya, bila saya bangun dari tidur pada esok harinya, saya dapati Kakek berada di rumah. Waktu kapan dia pulang saya sendiri tidak tahu.
Sosok Tubuh tanpa Kepala
Pagi Selasa itu, sebuah mobil Austin 1100 bercat merah yang dikemudikan oleh Atan (anggota polisi) datang ke rumah Kakek. Seluruh barang yang dirasakan perlu dimasukkan ke dalam bagian belakang mobil itu. Tepat pukul sepuluh kami pun berangkat.
Lebih kurang jam empat petang kami pun sampai di kantor polisi Cheras, Kuala Lumpur. Kami singgah di rumah Kadir Khan, kakak ipar Atan (Kadir Khan baru saja diangkat menjadi sersan di kantor polisi tersebut). Kantor polisi Cheras kami tinggalkan setelah menunaikan sembahyang Maghrib.
Sepanjang perjalanan Kakek tidak putus‐putusnya bercerita dengan Atan. Ternyata banyak yang Kakek tahu tentang keluarga dan sanak‐saudara Atan. Perjalanan yang amat membosankan itu saya penuhi dengan tidur. Bila terjaga saya akan melihat keluar. Pemandangan malam memang tidak menyenangkan hati saya.
Saya juga tidak pernah bertanya pada Kakek, bandar atau pasar yang dilintasi oleh mobil yang saya naik itu. Buat apa bertanya, buat penat mulut saja. Tidak banyak kendaraan yang kami temui atau bersimpangan dengan kami sepanjang perjalanan. Badan terasa cukup dingin. Bila saya melihat keluar, saya merasa takut melihat hutan dan bukit yang tertegun di kiri kanan jalan. Tiba‐tiba saya merasa Atan memperlahankan laju mobilnya.
“Pukul berapa?”saya mendengar suara Kakek.
Atan tidak tidak menjawab pertanyaan itu. Mobil bagaikan ditarik sesuatu dari belakang.
"Pukul dua”
“Kita dekat mana ini Atan?”
“Dekat Sungai Rambai, sudah dekat sempadan Johor”
Saya merasa cukup resah. Saya yakin mobil yang saya naiki itu tidak bergerak. Walaupun Atan menekan gas dan dan memutar steering. Saya panjangkan leher ke depan. Kepala saya hampir saja mau menyentuh kepala Atan. Saya sungguh sangat terkejut. Saya lihat wajah Atan pucat. Matanya tajam melihat ke depan. Ada sesuatu yang tidak kena terjadi pada kami.
"Kek,” saya menepuk bahu Kakek, ”mobil kita tidak berjalan, Kek,” tambah saya lagi.
Kakek menganggukkan kepala. Secara mengejutkan saja, Kakek menampar dahi Atan.
Saya lihat Atan tergagap-gagap seperti orang bangun tidur. Dia menyebutkan sesuatu mengenai mobil yang di kemudikannya tidak bergerak. Empat roda mobil bagaikan melekat pada sesuatu. Tidak ada sebuah mobil pun yang melintas untuk dimintai pertolongan. Suasana cukup gelap. Kakek membaca sesuatu dan menghembuskan pada pangkal telinga Atan.
"Mengucap Atan,” kata Kakek.
Atan pun mengucap dan Kakek tahu bahwa Atan sudah pulih dari keadaan hayalan. Bila Kakek bertanya pada Atan kenapa dia jadi demikian, Atan menyatakan bahwa ia merasa dirinya berada di satu tempat lain yang indah, diapit oleh wanita sambil mendayung sampan.
"Kau dihinggapi setan penunggu,” bisik Kakek ke telinga Atan.
Dalam keheningan malam dan liuk-liuk pepohonan yang menghalangi kilauan cahaya rembulan, dan dengan pertolongan lampu mobil, saya melihat sosok tubuh manusia tanpa kepala sedang mengendarai sepeda. Saya segera memberitahukan hal itu pada Kakek dan Atan. Rupanya mereka melihat apa yang saya lihat.
Sosok tubuh manusia tanpa kepala yang naik sepeda itu semakin dekat pada kami dan berhenti benar-benar di depan mobil yang dikemudikan oleh Atan. Bohlam mobil serta‐merta mati. Kakek membuka pintu mobil, saya dan Atan pun keluar bersama. Dada saya berdebar. Jalan raya itu terasa sunyi benar. Tidak ada kendaraan yang melintas, tidak ada manusia yang berjalan. Dari hutan kecil di kiri kanan jalan raya terdengar bermacam‐macam bunyi.
Ada bunyi air terjun, ada bunyi suara orang menyanyi. Hati saya menjadi kecut. Makhluk tanpa kepala itu turun dari sepeda. Saya melihat lehernya berlubang penuh dengan urat‐urat yang berjuntaian di atas dada. Darahnya meleleh di seluruh badan.
"Setan,”jerit Kakek.
Mulutnya membaca sesuatu. Kakek mengambil sekeping batu lalu melemparkannya ke arah sosok tubuh tanpa kepala. Makhluk itu menjerit dan terus melompat ke atas sepedanya. Kami segera masuk mobil. Kakek menyuruh Atan mengikuti makhluk itu.
Tetapi bila kami sampai ke kawasan Sungai Kesang, sosok tubuh tanpa kepala itu lalu menghilang.
Sampai ke Batu Pahat peristiwa mengerikan itu diceritakan oleh Atan pada kawan‐kawannya. Menurut kawan‐kawan Atan, tubuh tanpa kepala itu memang selalu mengganggu sopir-sopir kendaraan. Menurut mereka sosok tubuh tanpa kepala itu berasal dari tentara Gurkha yang dipancung oleh tentara Jepang dalam perang dunia kedua yang dulu.
Masjid Jin
Lebih kurang pukul sembilan pagi pada hari Senin, kami pun sampai ke Kampung Jorak Ilahi. Atan memperkenalkan Kakek dengan saudaranya yaitu, Omari, berusia lebih kurang enam puluh tahun. Punya ladang kelapa dan kopi.
Pada awalnya, Kakek membuat keputusan untuk menginap di masjid berdekatan dengan tanah pekuburan itu.
"Tidur di rumah saya saja. Masjid itu dijaga jin,” Omari memberitahu Kakek.
Kemudian Omari pun bercerita tentang beberapa keanehan yang terjadi pada masjid itu. Kakek tidak begitu tertarik dengan cerita tersebut. Kakek hanya tertarik tentang kuburan anak Omari yang berasap dan menjerit waktu senja dan pagi. Setelah berbincang dengan Omari dan Atan, Kakek menyetujui melihat kawasan kuburan yang di katakan itu.
Bila bunga senja mulai jatuh di seluruh Kampung Jorak Ilahi, Kakek pun memakai celana hitam dan baju hitam. Kakek ikat kepala dengan kain merah.
“Biar saya meninjau dulu dengan cucu saya,” beritahu Kakek pada Omari dan Atan.
Keduanya menganggukkan kepala tanda setuju. Omari menyerahkan pada Kakek sebatang anak kopi berdaun tiga. Memang, Kakek menyuruh Omari menyediakannya untuk penangkal. Waktu saya dan Kakek sampai di pinggir jalan kawasan pekuburan, tengkuk saya terasa berdiri, seram. Ada bunyi suara burung Murai Batu dan puyuh tanah. Suasana sekeliling sepi, hening, kelam dan samar. Kakek dan saya berdiri tenang menghadap ke arah batu‐batu nisan yang memenuhi tanah pekuburan.
Angin yang bertiup menolak dedaunan di tanah pekuburan. Dedaun itu saling beradu sendiri dan melahirkan bunyi air ombak diselangi dengan bunyi orang ketawa. Terdengar bunyi suara jampuk(celepuk) dan burung hantu kubur mengkais‐kais tanah.
Dengan mendadak saja saya memeluk tubuh Kakek, bila saya mendengar bunyi suara orang menjerit, melolong dan minta tolong di tanah pekuburan dalam suasana senja yang remang dan bertambah gelap.

Tanpa banyak berbicara, Kakek menyeret saya ke tengah kawasan pekuburan. Langkah kami terhenti bila berhadapan dengan sebuah kuburan yang mengeluarkan asap tipis dari rekahan tanah di antara dua batang nisan.
Kakek pun membakar liIin. Asap itu jelas kelihatan seperti uap yang keluar dari bongkahan es. Suara orang menghiba minta tolong dan ampun menendang gendang telinga saya. Suasana di kawasan pekuburan itu amat menakutkan saya.
Saya masih dapat menjaga perasaan takut. Kakek pun memadamkan api yang membakar sumbu lilin. Nyamuk mulai menggigit cuping telinga dan muka. Dalam samar‐samar senja itu Kakek memandang wajah saya dengan seksama dan mendalam.
"Kita balik saja,” kata Kakek.
“Kenapa?”
“Jangan banyak tanya, ikuti perkataan aku”
“Tapi kek..”
"Jalan!” pekik Kakek.
Saya melihat wajah Kakek berubah. Langkah Kakek cukup cepat. Saya lihat telapak kakinya bagaikan tidak menyentuh tanah. Agar tidak ketinggalan jauh darinya, saya terpaksa berlari tanpa memandang ke kiri-kanan. Kemudian saya mendengar suara yang aneh dari arah belakang, seperti bunyi langkah kaki orang memburu saya. Bila saya toleh ke belakang tidak ada sesuatu pun yang saya lihat kecuali dedaunan rumput menutupi tanah yang tertunduk terkena pijak.
Saya mendengar bunyi suara heriang rimba (jenis burung) yang bertalu-talu. Bunyinya berubah dari satu pohon ke satu pohon lain. Bunyinya cukup nyaring dan memanjang pula. Kata nenek, kalau reriang rimba berbunyi dalam bunga senja (sore mau magrib) dan bunyinya tidak putus, membawa alamat ada penghuni kampung yang akan meninggalkan kampung dan tidak akan kembali hingga hari kiamat.
“Siapakah yang akan mati?” timbul pertanyaan dalam hati kecil saya. Tentu saja pertanyaan itu tidak akan menerima jawaban dari siapapun. Barangkali kalau pertanyaan yang sama diajukan pada Kakek kemungkinan menerima jawabannya cukup meyakinkan. Sayang, saya tidak berani bertanya padanya.
Kakek terus melangkah. Saya melihat ke kiri. pohon Karet berdaun lebat tertegun kaku. Saya toleh ke kanan, pohon‐pohon Koko[l] (sejenis pakis) yang berbuah rapat tidak bergerak.
"Kek,” mendadak saja saya memanggil nama Kakek dalam warna senja yang kian gelap itu.
Kakek berhenti. Entah bagaimana sepasang mata saya tertumpu pada sepasang kakinya yang tidak memijak tanah. Saya kedutkan kening dan dahi. Belum pernah saya melihat Kakek dalam keadaan demikian. Hati saya mulai ragu‐ragu. Apakah saya berhadapan dengan Kakek atau dengan satu makhluk asing yang menyerupai Kakek.
Untuk membuktikan apakah Kakek yang wujud di depan saya itu Kakek yang sebenarnya atau sebaliknya, saya segera menarik ujung bajunya dengan sekuat hati.
Badan saya bagaikan ditarik oleh satu kekuatan yang menyebabkan saya terdorong ke depan. Bahu sebelah kanan saya menyodok pangkal belikat Kakek. Kemudian saya merasa satu hentakan yang amat kuat mengenai pangkal telinga kanan saya. Seluruh badan terasa lemah. Saya tidak mendengar apa‐apa. Semuanya terasa sunyi dan sepi. Saya tidak tahu, berapa lama saya dalam kondisi demikian.
PART I

Quote:
Saya dan Kakek menghentikan taksi yang dikemudikan oleh pemuda berbangsa Cina menuju ke pasar minggu Changkat Jering.
Memang, tujuan utama Kakek ke situ untuk membeli sebilah parang panjang. Setelah membayar harga taksi tersebut, saya dan Kakek lalu masuk ke dalam toko penjual buah‐buahan kampung hingga ke warung makanan, saya dengan Kakek berjalan dalam suasana tenang.
Akhirnya, kami pun sampai ke toko yang menjual golok serta parang kepunyaan Usman Rumba dari Sayong, Kuala Kangsar. Di samping menjual golok dan parang, Usman Rumba juga menjual labu sayung atau labu air yang terkenal itu. Kakek membeli sebilah parang panjang berulukan tanduk kerbau serta tiga biji labu air. Setelah membayar harga barang yang kami beli, Kakek pun mengajak saya pergi ke warung kopi yang berdekatan dengan kantor polisi di situ.
Waktu mau masuk ke toko tersebut, seorang angota polisi lengkap dengan pakaian seragam dengan pistol terselip di pinggang, berlari ke arah Kakek. polisi itu menepuk bahu Kakek dari belakang.
Darah saya tersirap.
"Apakah salah yang telah Kakek lakukan? Kenapa Kakek mesti di tangkap?" Pertanyaan-pertanyaan itu timbul dalam tengkorak kepala saya.
"Kau Atan?” ujar Kakek begitu matanya tertumpuk ke wajah anggota polisi yang berusia kira‐kira empat puluh tahun itu.
Anggota polisi itu menyatakan rasa kagumnya karena Kakek masih dapat mengingatnya, walaupun sudah hampir dua puluh tahun tidak bertemu.
Anggota polisi ini berasal dari Johor dan pernah bertugas di kantor polisi pasar Bruas sekitar tahun 1943‐1945. Awal tahun 1946 dia dipindahkan ke kantor polisi Umbai, Malaka. Sejak itu hubungannya dengan Kakek putus sama sekali.
“Ini siapa?” tanya anggota polisi itu pada Kakek sambil melihat muka saya.
"Tamar, cucuku,” jawab Kakek.
Anggota polisi tersenyum. Dia memberitahu Kakek bahwa anak sulungnya yang sebaya dengan saya sudah bekerja sebagai anggota polisi dan ditempatkan di Kuala Terung juga. Kemudian Atan (anggota polisi), mengajak saya dan Kakek ke rumahnya. Barangkali ada tujuan yang tertentu. Paling tidak, dia mau menuntut ilmu dari Kakek, fikir saya.
Quote:
Memang tepat apa yang saya duga. Dia memang sudah lama mencari Kakek untuk diajak ke Batu Pahat. Dia menyatakan hanya Kakek seorang saja yang bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh pihak keluarganya. Sudah banyak pawang dan dukun terkenal dipanggil ke tempatnya. Tetapi, mereka tidak berhasil mengatasi masalah yang yang menimpa keluarga anggota polisi itu.
“Apa masalahnya?” tanya Kakek.
”Kuburan anak saudara saya berasap“
”Kuburannya berasap?" Kakek terkejut.
"Biasanya kuburan itu berasap pada waktu pagi dan senja. Bersama dengan itu, orang yang berdekatan dengan tanah kuburan mendengar suara orang menjerit minta tolong,” terang anggota polisi itu.
Kakek terdiam.
Kakek tidak jadi minum kopi yang dihidangkan oleh isteri Atan itu. Saya kira Kakek terkejut dengan apa yang didengarnya itu. Lama juga Kakek termenung. Dahinya berkerut. Belum pemah dia mendengar dan berhadapan dengan peristiwa aneh semacam itu.
“Apa ada photo anak saudara kau itu di sini Atan?” Kakek renung muka anggota polisi itu.
"Ada, nanti saya ambilkan!” Atan masuk ke dalam bilik dan keluar dengan selembar gambar ukuran poscard di tangan.
Gambar itu diserahkan pada Kakek. Lama juga Kakek melihat wajah keponakan Atan tesebut. Tanpa mengucapkan sesuatu, Kakek mengembalikan gambar tersebut kepada anggota polisi yang berasal dari Johor itu.
"Saya bisa coba,” pendek saja Kakek memberikan jawaban.
"Terima kasih,” wajah anggota polisi itu saya lihat berseri‐seri. Senyumnya tidak putus‐putus bermain dibibir.
"Kapan kita akan pergi?” tanpa sabar‐sabar lagi Atan itu mendesak.
Kakek menggigit bibir sambil melihat ke wajah saya. “Minggu depan, kita berangkat petang”
Quote:
“Baguslah itu, saya bisa minta cuti”
"Cara nak pergi macam mana? Pergi bersama atau sendiri-sendiri?” Kakek mengajukan pertanyaan.
"Kita pergi dengan mobil saya,” lega hati saya mendengar pengakuan dari anggota polisi itu.
Saya tahu, kalau berasingan, Kakek akan menunggang harimau peliharaannya waktu malam. Satu cara yang amat tidak saya sukai. Seram sejak badan saya memaut batang leher harimau, meskipun harimau itu jinak dan bisa diurut ekor dan kepalanya. Kakek terus memberi alasan kenapa dia terpaksa pergi ke Batu Pahat minggu depan.
Pertama dia mau menemui isteri mudanya (orang bunian/Makhluk halus) sebelum berjalan jauh. Kedua, dia perlu menghubungi harimau peliharaannya untuk jadi teman ketika dia berada di sana. Dan ketiga Kakek perlu membuat persiapan‐persiapan khusus tertentu.
Sementara menanti minggu depan, saya dan Kakek pulang ke kampung. Ketika berada di kampung bisa dikatakan setiap malam Kakek memanggil harimau peliharaannya datang ke halaman rumah. Kakek memberi harimau itu makan tujuh biji bertih dan menyediakan air dalam bekas bambu gading. Kakek bermain‐main dengan harimau di bawah cahaya bulan yang sedang mengambang dan Kakek memberitahu pada harimau peliharaannya itu supaya pergi ke arah selatan.
Kadang‐kadang saya lihat Kakek duduk atas belakang harimau dengan isterinya orang(Makhluk) halus menuju ke arah Bukit Kota. Anehnya, bila saya bangun dari tidur pada esok harinya, saya dapati Kakek berada di rumah. Waktu kapan dia pulang saya sendiri tidak tahu.
Sosok Tubuh tanpa Kepala
Pagi Selasa itu, sebuah mobil Austin 1100 bercat merah yang dikemudikan oleh Atan (anggota polisi) datang ke rumah Kakek. Seluruh barang yang dirasakan perlu dimasukkan ke dalam bagian belakang mobil itu. Tepat pukul sepuluh kami pun berangkat.
Lebih kurang jam empat petang kami pun sampai di kantor polisi Cheras, Kuala Lumpur. Kami singgah di rumah Kadir Khan, kakak ipar Atan (Kadir Khan baru saja diangkat menjadi sersan di kantor polisi tersebut). Kantor polisi Cheras kami tinggalkan setelah menunaikan sembahyang Maghrib.
Sepanjang perjalanan Kakek tidak putus‐putusnya bercerita dengan Atan. Ternyata banyak yang Kakek tahu tentang keluarga dan sanak‐saudara Atan. Perjalanan yang amat membosankan itu saya penuhi dengan tidur. Bila terjaga saya akan melihat keluar. Pemandangan malam memang tidak menyenangkan hati saya.
Quote:
Saya juga tidak pernah bertanya pada Kakek, bandar atau pasar yang dilintasi oleh mobil yang saya naik itu. Buat apa bertanya, buat penat mulut saja. Tidak banyak kendaraan yang kami temui atau bersimpangan dengan kami sepanjang perjalanan. Badan terasa cukup dingin. Bila saya melihat keluar, saya merasa takut melihat hutan dan bukit yang tertegun di kiri kanan jalan. Tiba‐tiba saya merasa Atan memperlahankan laju mobilnya.
“Pukul berapa?”saya mendengar suara Kakek.
Atan tidak tidak menjawab pertanyaan itu. Mobil bagaikan ditarik sesuatu dari belakang.
"Pukul dua”
“Kita dekat mana ini Atan?”
“Dekat Sungai Rambai, sudah dekat sempadan Johor”
Saya merasa cukup resah. Saya yakin mobil yang saya naiki itu tidak bergerak. Walaupun Atan menekan gas dan dan memutar steering. Saya panjangkan leher ke depan. Kepala saya hampir saja mau menyentuh kepala Atan. Saya sungguh sangat terkejut. Saya lihat wajah Atan pucat. Matanya tajam melihat ke depan. Ada sesuatu yang tidak kena terjadi pada kami.
"Kek,” saya menepuk bahu Kakek, ”mobil kita tidak berjalan, Kek,” tambah saya lagi.
Kakek menganggukkan kepala. Secara mengejutkan saja, Kakek menampar dahi Atan.
Saya lihat Atan tergagap-gagap seperti orang bangun tidur. Dia menyebutkan sesuatu mengenai mobil yang di kemudikannya tidak bergerak. Empat roda mobil bagaikan melekat pada sesuatu. Tidak ada sebuah mobil pun yang melintas untuk dimintai pertolongan. Suasana cukup gelap. Kakek membaca sesuatu dan menghembuskan pada pangkal telinga Atan.
"Mengucap Atan,” kata Kakek.
Atan pun mengucap dan Kakek tahu bahwa Atan sudah pulih dari keadaan hayalan. Bila Kakek bertanya pada Atan kenapa dia jadi demikian, Atan menyatakan bahwa ia merasa dirinya berada di satu tempat lain yang indah, diapit oleh wanita sambil mendayung sampan.
Quote:
"Kau dihinggapi setan penunggu,” bisik Kakek ke telinga Atan.
Dalam keheningan malam dan liuk-liuk pepohonan yang menghalangi kilauan cahaya rembulan, dan dengan pertolongan lampu mobil, saya melihat sosok tubuh manusia tanpa kepala sedang mengendarai sepeda. Saya segera memberitahukan hal itu pada Kakek dan Atan. Rupanya mereka melihat apa yang saya lihat.
Sosok tubuh manusia tanpa kepala yang naik sepeda itu semakin dekat pada kami dan berhenti benar-benar di depan mobil yang dikemudikan oleh Atan. Bohlam mobil serta‐merta mati. Kakek membuka pintu mobil, saya dan Atan pun keluar bersama. Dada saya berdebar. Jalan raya itu terasa sunyi benar. Tidak ada kendaraan yang melintas, tidak ada manusia yang berjalan. Dari hutan kecil di kiri kanan jalan raya terdengar bermacam‐macam bunyi.
Ada bunyi air terjun, ada bunyi suara orang menyanyi. Hati saya menjadi kecut. Makhluk tanpa kepala itu turun dari sepeda. Saya melihat lehernya berlubang penuh dengan urat‐urat yang berjuntaian di atas dada. Darahnya meleleh di seluruh badan.
"Setan,”jerit Kakek.
Mulutnya membaca sesuatu. Kakek mengambil sekeping batu lalu melemparkannya ke arah sosok tubuh tanpa kepala. Makhluk itu menjerit dan terus melompat ke atas sepedanya. Kami segera masuk mobil. Kakek menyuruh Atan mengikuti makhluk itu.
Tetapi bila kami sampai ke kawasan Sungai Kesang, sosok tubuh tanpa kepala itu lalu menghilang.
Sampai ke Batu Pahat peristiwa mengerikan itu diceritakan oleh Atan pada kawan‐kawannya. Menurut kawan‐kawan Atan, tubuh tanpa kepala itu memang selalu mengganggu sopir-sopir kendaraan. Menurut mereka sosok tubuh tanpa kepala itu berasal dari tentara Gurkha yang dipancung oleh tentara Jepang dalam perang dunia kedua yang dulu.
Masjid Jin
Lebih kurang pukul sembilan pagi pada hari Senin, kami pun sampai ke Kampung Jorak Ilahi. Atan memperkenalkan Kakek dengan saudaranya yaitu, Omari, berusia lebih kurang enam puluh tahun. Punya ladang kelapa dan kopi.
Pada awalnya, Kakek membuat keputusan untuk menginap di masjid berdekatan dengan tanah pekuburan itu.
Quote:
"Tidur di rumah saya saja. Masjid itu dijaga jin,” Omari memberitahu Kakek.
Kemudian Omari pun bercerita tentang beberapa keanehan yang terjadi pada masjid itu. Kakek tidak begitu tertarik dengan cerita tersebut. Kakek hanya tertarik tentang kuburan anak Omari yang berasap dan menjerit waktu senja dan pagi. Setelah berbincang dengan Omari dan Atan, Kakek menyetujui melihat kawasan kuburan yang di katakan itu.
Bila bunga senja mulai jatuh di seluruh Kampung Jorak Ilahi, Kakek pun memakai celana hitam dan baju hitam. Kakek ikat kepala dengan kain merah.
“Biar saya meninjau dulu dengan cucu saya,” beritahu Kakek pada Omari dan Atan.
Keduanya menganggukkan kepala tanda setuju. Omari menyerahkan pada Kakek sebatang anak kopi berdaun tiga. Memang, Kakek menyuruh Omari menyediakannya untuk penangkal. Waktu saya dan Kakek sampai di pinggir jalan kawasan pekuburan, tengkuk saya terasa berdiri, seram. Ada bunyi suara burung Murai Batu dan puyuh tanah. Suasana sekeliling sepi, hening, kelam dan samar. Kakek dan saya berdiri tenang menghadap ke arah batu‐batu nisan yang memenuhi tanah pekuburan.
Angin yang bertiup menolak dedaunan di tanah pekuburan. Dedaun itu saling beradu sendiri dan melahirkan bunyi air ombak diselangi dengan bunyi orang ketawa. Terdengar bunyi suara jampuk(celepuk) dan burung hantu kubur mengkais‐kais tanah.
Dengan mendadak saja saya memeluk tubuh Kakek, bila saya mendengar bunyi suara orang menjerit, melolong dan minta tolong di tanah pekuburan dalam suasana senja yang remang dan bertambah gelap.

Tanpa banyak berbicara, Kakek menyeret saya ke tengah kawasan pekuburan. Langkah kami terhenti bila berhadapan dengan sebuah kuburan yang mengeluarkan asap tipis dari rekahan tanah di antara dua batang nisan.
Kakek pun membakar liIin. Asap itu jelas kelihatan seperti uap yang keluar dari bongkahan es. Suara orang menghiba minta tolong dan ampun menendang gendang telinga saya. Suasana di kawasan pekuburan itu amat menakutkan saya.
Saya masih dapat menjaga perasaan takut. Kakek pun memadamkan api yang membakar sumbu lilin. Nyamuk mulai menggigit cuping telinga dan muka. Dalam samar‐samar senja itu Kakek memandang wajah saya dengan seksama dan mendalam.
"Kita balik saja,” kata Kakek.
“Kenapa?”
“Jangan banyak tanya, ikuti perkataan aku”
“Tapi kek..”
"Jalan!” pekik Kakek.
Quote:
Saya melihat wajah Kakek berubah. Langkah Kakek cukup cepat. Saya lihat telapak kakinya bagaikan tidak menyentuh tanah. Agar tidak ketinggalan jauh darinya, saya terpaksa berlari tanpa memandang ke kiri-kanan. Kemudian saya mendengar suara yang aneh dari arah belakang, seperti bunyi langkah kaki orang memburu saya. Bila saya toleh ke belakang tidak ada sesuatu pun yang saya lihat kecuali dedaunan rumput menutupi tanah yang tertunduk terkena pijak.
Saya mendengar bunyi suara heriang rimba (jenis burung) yang bertalu-talu. Bunyinya berubah dari satu pohon ke satu pohon lain. Bunyinya cukup nyaring dan memanjang pula. Kata nenek, kalau reriang rimba berbunyi dalam bunga senja (sore mau magrib) dan bunyinya tidak putus, membawa alamat ada penghuni kampung yang akan meninggalkan kampung dan tidak akan kembali hingga hari kiamat.
“Siapakah yang akan mati?” timbul pertanyaan dalam hati kecil saya. Tentu saja pertanyaan itu tidak akan menerima jawaban dari siapapun. Barangkali kalau pertanyaan yang sama diajukan pada Kakek kemungkinan menerima jawabannya cukup meyakinkan. Sayang, saya tidak berani bertanya padanya.
Kakek terus melangkah. Saya melihat ke kiri. pohon Karet berdaun lebat tertegun kaku. Saya toleh ke kanan, pohon‐pohon Koko[l] (sejenis pakis) yang berbuah rapat tidak bergerak.
"Kek,” mendadak saja saya memanggil nama Kakek dalam warna senja yang kian gelap itu.
Kakek berhenti. Entah bagaimana sepasang mata saya tertumpu pada sepasang kakinya yang tidak memijak tanah. Saya kedutkan kening dan dahi. Belum pernah saya melihat Kakek dalam keadaan demikian. Hati saya mulai ragu‐ragu. Apakah saya berhadapan dengan Kakek atau dengan satu makhluk asing yang menyerupai Kakek.
Untuk membuktikan apakah Kakek yang wujud di depan saya itu Kakek yang sebenarnya atau sebaliknya, saya segera menarik ujung bajunya dengan sekuat hati.
Badan saya bagaikan ditarik oleh satu kekuatan yang menyebabkan saya terdorong ke depan. Bahu sebelah kanan saya menyodok pangkal belikat Kakek. Kemudian saya merasa satu hentakan yang amat kuat mengenai pangkal telinga kanan saya. Seluruh badan terasa lemah. Saya tidak mendengar apa‐apa. Semuanya terasa sunyi dan sepi. Saya tidak tahu, berapa lama saya dalam kondisi demikian.
Diubah oleh mufidfathul 11-05-2017 16:12
ciptoroso dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas
Tutup