- Beranda
- Stories from the Heart
Cahaya Ratih (18+/Thriller Genre)
...
TS
paycho.author
Cahaya Ratih (18+/Thriller Genre)
Quote:
GanSis, ane mau ngesharecerita ane berikutnya. Ini cerita udah ane bikin 4 tahun yang lalu tapi baru ane sharesekarang.
BTW, ini cerita genre thriller, crime, and romance.
Jangan lupa komennya, yah GanSis
Ini cerita ane yang sebelumnya. Full Romance dan lumayan bikin

Tapi 18+ juga
Kunjungin GanSis
BTW, ini cerita genre thriller, crime, and romance.
Jangan lupa komennya, yah GanSis

Ini cerita ane yang sebelumnya. Full Romance dan lumayan bikin


Tapi 18+ juga

Kunjungin GanSis
Quote:
DAFTAR ISI
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
CHARACTER'S BIO: NARA
PART 33
PART 34
CHARACTER'S BIO: RATIH
PART 35
CHARACTER'S BIO: DR. OKTA
PART 36
CHARACTER'S BIO: DR. Gladys
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
EPILOGUE
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
CHARACTER'S BIO: NARA
PART 33
PART 34
CHARACTER'S BIO: RATIH
PART 35
CHARACTER'S BIO: DR. OKTA
PART 36
CHARACTER'S BIO: DR. Gladys
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
EPILOGUE
Quote:
20rb 
Makasih yahhhhh.......moga2 bisa nyampe 100rb one day......

Makasih yahhhhh.......moga2 bisa nyampe 100rb one day......
Diubah oleh paycho.author 13-05-2017 07:23
junti27 dan 8 lainnya memberi reputasi
9
105K
Kutip
683
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
paycho.author
#379
PART 38
Quote:
Sambil membaca tulisan-tulisan Ratih, Nara menggambar kembali pohon Keluarga Yudisthira di dindingnya. Ia mencopot post it notesyang tidak ditaruh di tempat yang tepat dan menghapus garis yang salah dengan cat putih.
Ungtungnya Nara sudah menebak dengan benar kalau yang menjadi patriach adalah anggota keluarga tertua, kakek dari Ratih. Dari kesepuluh anaknya, disebutkan kalau Ayah Ratih lah yang akan mewarisi kakeknya.
Dan Keluarga Yudisthira adalah keluarga yang sangat kaya, wajar kalau pemerintah takut pada mereka. Beberapa tambang emas, perak, batu bara, dan minyak dikuasai secara pribadi. Lalu ada beberapa perusahaan skala besar mulai dari perusahaan agraris, industri, dan properti. Dengan kekayaan seperti ini wajar bila pemerintah takut pada keluarga itu, selain karena pengaruh yang kuat, di bawah dinasti keluarga ini bekerja hingga ratusan ribu orang dan bila pemerintah terang-terangan melawan keluarga ini dan menutup semua usahanya, maka akan terjadi keributan dan perekonomian akan terganggu. Setelah Keluarga Yudisthira hancur, seluruh perusahaannya diambil alih oleh pemerintah meski tidak semua asetnya berada di tangan pemerintah.
Itu berarti bila Ratih bisa membuktikan kalau ia adalah anggota Keluarga Yudisthira terakhir yang masih hidup, maka ia akan menjadi sangat kaya. Sebuah motivasi untuk agar segera menjadikan Ratih resmi miliknya.
Matre bener lu jadi cowok.
Menarik bagi Nara, semakin ia mempelajari, semakin ia paham, bahwa kasus ini lebih panjang daripada yang ia pikirkan dan mengait pada kasus lain, kasus yang dikenal betul oleh Nara.
Tidak hanya nama dan latar belakang ketiga belas pelaku, Ratih menuliskan pohon keluarga mereka. Beberapa nama diberi keterangan usia dan diberi tanda panah, berarti ada data selanjutnya di halaman lain. Beberapa nama dicoret dengan tinta merah.
Ratih tidak hanya membunuh para pelaku, tapi keluarga pelaku. Tiga belas orang tidak akan cukup untuk membalaskan kematian satu keluarga, karena itu pembunuhan pun menjalar. Ada pola dalam pembunuhan ini, dan itulah yang sekarang dipelajari oleh Nara.
Bagaimana cara Nara mempelajari gerakan bawah tanah yang konon dipimpin oleh ayah Ratih? Nara mencoba menghubungi beberapa temannya yang aktif dalam kegiatan mahasiswa yang sifatnya kontra pemerintah dan mencoba mengumpulkan data mengenai pergerakan beraliran kiri yang dipimpin ayah Ratih.
Mereka tahu benar nama Prometheus, tapi tidak banyak yang mengenal Prometheus secara pribadi dan tahu siapa nama aslinya. Mereka yang tahu langsung berkeyakinan kalau kematian Prometheus bukan karena perampokan biasa melainkan karena pembunuhan yang dilakukan oleh pihak pemerintah yang menganggap satu keluarga itu berbahaya. Ayah Ratih memang tidak bergerak sendiri, hampir seluruh keluarganya mendampingi perjuangan Prometheus.
“Tapi kamu jangan naif, Nara. Meski Prometheus dan keluarganya adalah oposisi, bukan berarti mereka keluarga suci, pejuang hak rakyat. Keluarga Yudisthira hanya berjuang untuk menaruh keluarga mereka pada posisi strategis, baik Keluarga Yudisthira dan penguasa menguasai sumber daya alam. Pihak penguasa berusaha untuk bernegosiasi agara Keluarga Yudisthira bergabung dengan pemerintah dan membiarkan pemerintah mengelolanya. Tapi tidak, Keluarga itu lebih memilih untuk melakukan monopoli dan menggulingkan pemerintah. Momentumnya tepat, Prometheus menyebarkan kebencian bersamaan dengan masyarakat yang lelah dipimpin diktator selama 27 tahun.” Salah seorang mantan dosen Nara, yang terlalu realistis untuk mengikuti gerakan bawah tanah namun terjebak dengan keluarga karena profesinya yang juga sebagai dari media yang dibredel karena dianggap anti-pemerintah.
“Saya bukan pendukung atau kontra pada Prometheus dan gerakan bawah tanahnya. Tapi sebagai warga negara yang baik, yang begini malah meresahkan. Alasan diktator bisa bertahan lama itu kebanyakan karena orang lebih senang bertahan di zona nyaman. Orang seperti Prometheus selalu dikhawatirkan akan memicu kerusuhan, belum tentu membawa kebaikan.” Nara mengangguk. Dosennya ini adalah satu-satunya yang mengatakan bahwa keluarga Ratih sebagai oposisi tidak benar-benar memperjuangkan rakyat, namun lebih pada perebutan pengaruh dan sumber daya.
Nama Dr. Sarwoyo memang tersebut oleh salah satu narasumber, ada beberapa yang menyebut nama terkenal lain, nama-nama yang disebutkan dalam buku harian Ratih yang membantunya menghabisi mereka yang membunuh keluarganya.
Mengapa mereka yang tidak terlibat dalam pembunuhan ini juga menjadi korban?
Beberapa nama yang dicoret oleh Ratih adalah korban penbunuhan yang pernah ditangani oleh Nara, dan banyak dari korban yang kematiannya tidak wajar.
Apakah Nara membuat kesalahan dalam penyidikannya hingga ia menjadikan ayahnya tersangka?
Tubuh Nara gemetar karena ia membayangkan kemungkinan ia melakukan sebuah kesalahan besar. Bagaimana bukti pembunuhan yang dilakukan oleh Ratih membawanya pada tersangka yang salah? Apakah ia telah menghukum orang yang tidak bersalah?
Mencoba untuk tetap berkepala dingin, Nara mencoba untuk membaca catatan Ratih yang lain.
Dan pandangan setiap orang pada Ratih ternyata berbeda-beda. Tidak semua korban Ratih menulis buku harian, namun beberapa yang menulis pernah menuliskan tentang Ratih di buku harian merekaRatih. Si Wanita ayahuasca misalnya bercerita tentang pertemuannya dengan seorang perempuan mungil, tapi ia sudah dewasa, hanya tubuhnya saja yang kecil. Mereka berbincang tentang tanaman dan ia tertarik pada Ratih yang mengetahui tumbuh-tumbuhan eksotik yang jarang sekali diketahui orang. Ratih digambarkan sebagai seorang wanita dengan tubuh kecil, kulitnya gelap, dan rambutnya kemerahan karena sering kerja lapangan. Sehari-hair kalau mereka bertemu, Ratih menggunakan baju lapangan, kemeja lengan panjang dan celana PDL. Inilah alasannya kenapa Nara menemukan banyak baju di dalam lemari Ratih yang tidak biasanya ia pakai. Ratih tidak hanya bermain-main dengan racun dan cara membunuh lainnya, tapi juga ia bisa bermain peran. Ia menggunakan make-up dan kostum untuk mengubah-ubah penampilannya. Hanya tingginya saja yang tidka bisa diubah.
Bibir Nara mengering, rasa tanggung jawab pada profesinya menggelegar, mungkin terlambat untuknya memperbaiki semua kasus yang telah ditutup, tapi hatinya tidak akan pernah tenang kalau ia tidak mengatakan kebenaran.
Okta semakin khawatir pada Nara dan ia merasa harus mengecek keadaannya. Seharusnya proses detoksifikasinya sudah selesai, kecuali kalau Nara ternyata memang mengkonsumsi psikotropika. Okta berniat untuk melaporkan Nara ke atasannya bila ia mengkonsumsi psikotropika.
“Lu kenapa lagi, Ra?”
Awalnya Nara tidak mau bilang dan hanya menaruh wajahnya di atas meja, rasanya ia ingin mati saja saat ini. Masalahnya Nara tidak bisa mengatakan apapun pada siapapun, bahkan pada Okta. Tidak akan ada yang percaya kalau Ratih masih hidup dan melakukan pembunuhan yang kasusnya sudah ditutup dan pelakunya sedang menjalani hukuman. Ia benar-benar bingung sekarang.
“Ngomong kenapa sih, Ra?”
“Ah, berisik aja lu!”
Dibentak seperti itu Okta langsung shock dan tidak berusaha mengejar Nara yang meninggalkannya tanpa bicara apa-apa lagi.
Ada tiga orang yang ingin Nara hadapi saat ini. Pertama adalah Ratih tentu saja, untuk meminta kejelasan apa yang sebenarnya terjadi. Kedua, Okta yang merupakan orang terdekat Dr. Sarwoyo yang bertanggungjawab karena telah membentuk Ratih dari seorang anak yang kebingungan karena kehilangan keluarganya hingga menjadi boneka pembunuh. Yang ketiga adalah Kompol Mahesa, ia ingin agar atasannya itu tahu apa yang sebenarnya terjadi dan memutuskan apa yang sebaiknya dilakukan oleh kepolisian pada korban salah tangkap itu.
Dalam keadaan bingung, Nara berjalan menuju ruangan atasannya. Mungkin Kompol Mahesa Yusuf akan mentertawakan apa yang dibicarakannya dan kecil kemungkinan atasannya itu mempercayainya. Tapi apa boleh buat, ia akan nencoba dan tidak akan menyerah sampai Kompol Mahesa mempercayainya.....atau mengancam akan memecatnya.
“Pak, boleh saya bicara?”
“Silahkan.”
Kompol Mahesa memiringkan kepalanya sedikit untuk memeriksa kenapa wajah Nara pucat sekali. Desas-desus yang terdengar kemarin adalah Okta mengerjakan tes darah Nara, berita ini membuat Kompol Mahesa khawatir dan ia berdoa mudah-mudahan, apapun yang dilakukan oleh mereka berdua, tidak ada hubungannya dengan narkoba.
“Pak, kalau saya melakukan suatu kesalahan, apakah saya akan kena hukuman?”
“Tergantung kesalahanmu.”
“Bagaimana kalau karena kesalahan saya itu, orang yang tidak bersalah jadi divonis bersalah?”
“Itu…..suatu kesalahan yang sangat berat, Nara. Sanksi untuk polisi yang salah tangkap sangat besar. Apa kau…..salah tangkap orang?”
“Kemungkinan kita semua salah tangkap orang dalam beberapa kasus, Pak?”
“Kamu serius?”
Nara bingung darimana ia harus mukai bercerita sekaligus menyesali keputusannya berbicara jujur pada atasannya, seharusnya ia bisa menyimpan masalah ini sendiri dan tidak perlu bertindak sebagai pahlawan. Satu institusi akan menghakiminya kalau berita ini tersebar.
“Pak, kemungkinan ada kasus yang melibatkan satu orang, namun kasus ditutup dengan tersangka lain yang mungkin tidak ada kaitannya.”
“Bagaimana? Saya benar-benar tidak paham.”
“Bapak masih ingat kasus besar sepuluh tahun yang lalu? Kasus Yudisthira?”
“Ya. Apa hubungannya? Kamu belum jadi polisi saat itu.”
“Pak, ada orang yang ingin membalaskan dendam pada orang-orang yang terlibat dalam kasus itu, Pak.”
Nara menceritakan hubungan-hubungan antar korban dengan pembantaian sepuluh tahun yang lalu, dan bagaimana Nara bisa sampai pada kesimpulan seperti itu. Atasannya hanya melihat dengan perasaan tidak nyaman, jauh dari percaya.
“Tidak benar kalau Keluarga Yudisthira itu adalah oposisi pemerintahan yang lalu dan ini hanya konspirasi. Tidak ada yang akan hadir membalaskan dendam mereka, apalagi membunuh keluarga mereka.”
“Tapi, Pak.....ada korban yang kita anggap mati tapi ternyata masih hidup.”
Kompol Mahesa Yusuf mengangkat kepalanya, namun tidak ada ketertarikan di wajahnya, malah ia merasa tidak senang dengan pernyataan Nara. Ia tidak suka anggota kesatuannya yang dianggap paling membanggakan justru menelan mentah-mentah gosip yang sempat meresahkan. Gosip yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
“Saya tahu siapa yang maksud dan jujur saja, saya kecewa karena kamu memakan teori konspirasi mentah-mentah.”
“Saya bisa membuktikan bahwa orang itu ada.”
“Nara, ketika kasus itu terjadi saya memang masih menjadi sepertimu, seorang penyidik. Dengan mata kepala saya sendiri saya lihat, tidak ada yang selamat pada kejadian perampokan itu. Bukti forensik dan bukti penyidikan semuanya menegaskan kalau kejadian ini adalah perampokan dan pembataian. Dan tidak ada yang selamat. Sudahlah Nara, sebelum habis sabar, sebaiknya kamu kembaki ke ruangan.”
“Pak, kita telah memenjarakan banyak orang yang salah. Apa ini tidak menggugah rasa keadilan Anda sebagai penegak hukum? Saya siap bertanggungjawab pada kesalahan ini apabila Bapak mau mndengarkan saya.”
“Begini, yah Nara.” Sambil terus menahan kekesalannya, Kompol Mahesa berdiri dan kedua tangannya menahan meja, ia mendekatkan tubuhnya dengan gerak mengancam, “ini hanya konspirasi. Kamu sudah melakukan kerja yang baik, dan semua kasus yang sudah ditutup sudah tidak perlu dibuka lagi. Hati-hati, yang begini bisa memicu huru-hara. Kembali ke tempatmu sebelum saya mengambil tindakan tegas.”
Sama seperti atasannya, Okta menolak untuk membicarakan Dr. Sarwoyo dengan Nara, apalagi mengenai Ratih. Okta tidak mengerti mengapa Nara begitu terobsesi dengan Ratih dan peristiwa 10 tahun yang lalu.
Bahkan Okta sampai menghindari Nara karena ia kesal dan tidak bisa menahan marahnya, lebih baik Okta menjauh daripada ia memulai perang dengan Nara yang ia yakini mulai tidak waras karena obsesinya.
Terakhir, Ratih.....
Nara tidak membayangkan bagaimana keadaan Ratih sekarang, dan ia sudah berniat untuk menghadapi Ratih apapun hukuman yang akan ia berikan padanya karena telah melanggar janji. Sulit memperkirakan apa yang akan Ratih lakukan, karena ia ahli dalam menyamarkan pola pembunuhannya. Sampai sekarang Nara tidak tahu mengapa Ratih membunuh orang yang tidak ada hubungannya dengan kasus 10 tahun yang lalu.
Tidak seperti biasanya rumah Ratih dibiarkan terbuka dan disinar oleh sinar matahari. Ratih sedang duduk di bangku harpsichordnya sambil memainkan nada-nada ceria. Dan tidak seperti biasanya ia mengenakan gaun berwarna cerah, hari ini ia memakai gaun putih dengan hiasan bunga-bunga di roknya dan bisban warna emas di ujung roknya, mengingatkan Nara pada cangkir yang digunakan oleh neneknya dulu. Rambutnya pun tidak seperti biasanya digelung rapi dan memperlihatkan lehernya. Dawon pun tidak seperti biasa nya terlihat tenang, ia tidur melingkar dengan di dekat kaki Ratih yang tidak menyentuh tanah. Keduanya seolah tidak memperhatikan kedatangan Nara, namun mereka menyadari itu, terlihat dari telinga Dawon yang bergerak dan permainan harpsichord Ratih yang melambat.
“Kita harus bicara, Ratih.” Ratih tidak menghentikan permainannya, ia hanya menengok sebentar dan kemudian lanjut berkonsentrasi pada tuts harpsichordnya.
“Ratih.....aku serius.....” permainan Ratih semakin cepat dan ia menekan tutsnya semakin kasar. Merasa tidak dihiraukan, Nara mencengkeram bahu Ratih dan membalik badannya. Dawon bangkit dan mengeong kencang, ia melompat ke arah Nata dan mengiggit tangannya, Nara mendepak Dawon hingga terjatuh. “Tolong, aku sudah hancur. Dengarkan aku.....”
“Bukankah aku sudah mengatakan, kalau kau terlalu ingin tahu maka kau akan celaka?” Ratih menepas tangan Nara dan melompat dari tempat duduknya. Ia mengambil Dawon yang masih terlihat kesakitan dan membelainya, “Kau sudah mengambil kesucianku, bahkan kau merudapaksaku. Aku bersabar saja karena aku percaya kau akan berhenti mencampuri hidupku setelah kau puas memperlakukan aku dengan tidak hormat. Tapi tidak. Sepertinya kau menang semua, kau merudapaksaku dan masih mengaduk-aduk rahasiaku untuk kemudian menghakimiku. Dan kini kau mulai merasakan akibatnya.”
“Ratih.....kamu menganggap aku merudapaksamu?”
“Kamu sengaja memaksaku malam itu agar dapat menjarah rumahku ketika aku tidak sadarkan diri. Tidak ada orang yang menang semuanya. Karena itu, tunggu saja apa yang akan terjadi. Kau terlalu ingin mencampuri urusanku karena ingin berlagak menjadi pahlawan.”
“Kamu telah mengorbankan orang yang tidak bersalah. Padahal kamu mengaku tidak pernah mengotori tanganmu.....ternyata terlalu banyak yang mati di tanganmu.”
“Itulah yang membuatmu menjadi berlagak. Kenapa kamu harus memikirkan orang-orang Yang tidak ada hubungannya denganmu? Aku berikan kau kesempatan terakhir.....”
Ratih membelai Dawon dan melepaskannya dari pelukannya. Ia berjinjit seperti seorang balerina dan mendekatkan tubuhnya pada Nara.
“Kamu punya waktu dua puluh empat jam. Seorang pahlawan seharusnya punya kecerdasan dan ketajaman. Aku ingin tahu apakah kamu memiliki keduanya.” Wajah Nara dibingkai oleh telapak tangannya, kemudian ia membelai wajah Nara dengan pandangan penuh kekaguman. “Wajahmu itu.....indah sekali. Terpahat sempurna. Sayang kalau mengingat hidupmu sebenarnya tidak diinginkan. Kalau bukan karena darah yang mengalir di tubuhmu kau seharusnya sudah mati.”
Ratih mencium bibir Nara, bahkan menggigit bibirnya sedikit kemudia melepaskan genggamannya dan berjalan naik ke tangga, sementara Dawon mengikuti di belakangnya. “Dua puluh empat jam, Nara. Carilah orang yang harus kamu selamatkan dalam waktu dua puluh empat jam. Kalau kamu bisa menyelamatkannya, maka aku berjanji ini akan menjadi yang terakhir. Berhati-hatilah dengan alat komunikasi, apapun itu.”
Ungtungnya Nara sudah menebak dengan benar kalau yang menjadi patriach adalah anggota keluarga tertua, kakek dari Ratih. Dari kesepuluh anaknya, disebutkan kalau Ayah Ratih lah yang akan mewarisi kakeknya.
Dan Keluarga Yudisthira adalah keluarga yang sangat kaya, wajar kalau pemerintah takut pada mereka. Beberapa tambang emas, perak, batu bara, dan minyak dikuasai secara pribadi. Lalu ada beberapa perusahaan skala besar mulai dari perusahaan agraris, industri, dan properti. Dengan kekayaan seperti ini wajar bila pemerintah takut pada keluarga itu, selain karena pengaruh yang kuat, di bawah dinasti keluarga ini bekerja hingga ratusan ribu orang dan bila pemerintah terang-terangan melawan keluarga ini dan menutup semua usahanya, maka akan terjadi keributan dan perekonomian akan terganggu. Setelah Keluarga Yudisthira hancur, seluruh perusahaannya diambil alih oleh pemerintah meski tidak semua asetnya berada di tangan pemerintah.
Itu berarti bila Ratih bisa membuktikan kalau ia adalah anggota Keluarga Yudisthira terakhir yang masih hidup, maka ia akan menjadi sangat kaya. Sebuah motivasi untuk agar segera menjadikan Ratih resmi miliknya.
Matre bener lu jadi cowok.
Menarik bagi Nara, semakin ia mempelajari, semakin ia paham, bahwa kasus ini lebih panjang daripada yang ia pikirkan dan mengait pada kasus lain, kasus yang dikenal betul oleh Nara.
Tidak hanya nama dan latar belakang ketiga belas pelaku, Ratih menuliskan pohon keluarga mereka. Beberapa nama diberi keterangan usia dan diberi tanda panah, berarti ada data selanjutnya di halaman lain. Beberapa nama dicoret dengan tinta merah.
Ratih tidak hanya membunuh para pelaku, tapi keluarga pelaku. Tiga belas orang tidak akan cukup untuk membalaskan kematian satu keluarga, karena itu pembunuhan pun menjalar. Ada pola dalam pembunuhan ini, dan itulah yang sekarang dipelajari oleh Nara.
Bagaimana cara Nara mempelajari gerakan bawah tanah yang konon dipimpin oleh ayah Ratih? Nara mencoba menghubungi beberapa temannya yang aktif dalam kegiatan mahasiswa yang sifatnya kontra pemerintah dan mencoba mengumpulkan data mengenai pergerakan beraliran kiri yang dipimpin ayah Ratih.
Mereka tahu benar nama Prometheus, tapi tidak banyak yang mengenal Prometheus secara pribadi dan tahu siapa nama aslinya. Mereka yang tahu langsung berkeyakinan kalau kematian Prometheus bukan karena perampokan biasa melainkan karena pembunuhan yang dilakukan oleh pihak pemerintah yang menganggap satu keluarga itu berbahaya. Ayah Ratih memang tidak bergerak sendiri, hampir seluruh keluarganya mendampingi perjuangan Prometheus.
“Tapi kamu jangan naif, Nara. Meski Prometheus dan keluarganya adalah oposisi, bukan berarti mereka keluarga suci, pejuang hak rakyat. Keluarga Yudisthira hanya berjuang untuk menaruh keluarga mereka pada posisi strategis, baik Keluarga Yudisthira dan penguasa menguasai sumber daya alam. Pihak penguasa berusaha untuk bernegosiasi agara Keluarga Yudisthira bergabung dengan pemerintah dan membiarkan pemerintah mengelolanya. Tapi tidak, Keluarga itu lebih memilih untuk melakukan monopoli dan menggulingkan pemerintah. Momentumnya tepat, Prometheus menyebarkan kebencian bersamaan dengan masyarakat yang lelah dipimpin diktator selama 27 tahun.” Salah seorang mantan dosen Nara, yang terlalu realistis untuk mengikuti gerakan bawah tanah namun terjebak dengan keluarga karena profesinya yang juga sebagai dari media yang dibredel karena dianggap anti-pemerintah.
“Saya bukan pendukung atau kontra pada Prometheus dan gerakan bawah tanahnya. Tapi sebagai warga negara yang baik, yang begini malah meresahkan. Alasan diktator bisa bertahan lama itu kebanyakan karena orang lebih senang bertahan di zona nyaman. Orang seperti Prometheus selalu dikhawatirkan akan memicu kerusuhan, belum tentu membawa kebaikan.” Nara mengangguk. Dosennya ini adalah satu-satunya yang mengatakan bahwa keluarga Ratih sebagai oposisi tidak benar-benar memperjuangkan rakyat, namun lebih pada perebutan pengaruh dan sumber daya.
Nama Dr. Sarwoyo memang tersebut oleh salah satu narasumber, ada beberapa yang menyebut nama terkenal lain, nama-nama yang disebutkan dalam buku harian Ratih yang membantunya menghabisi mereka yang membunuh keluarganya.
Mengapa mereka yang tidak terlibat dalam pembunuhan ini juga menjadi korban?
Beberapa nama yang dicoret oleh Ratih adalah korban penbunuhan yang pernah ditangani oleh Nara, dan banyak dari korban yang kematiannya tidak wajar.
Quote:
Salah satunya adalah pembunuhan wanita yang meninggal karena ayahuasca, ternyata Ratih adalah dalang di balik kematiannya, kemarin Nara menemukan tumbuhan penyebab kematian itu di lemari Ratih. Korban adalah putri salah satu dari ketigabelas pembunuh. Begitu juga kematian Julia yang menyeret ayahnya ke penjara, nama Julia ditulis sebagai salah satu anggota keluarga dari ketigabelas pembunuh itu.
Apakah Nara membuat kesalahan dalam penyidikannya hingga ia menjadikan ayahnya tersangka?
Tubuh Nara gemetar karena ia membayangkan kemungkinan ia melakukan sebuah kesalahan besar. Bagaimana bukti pembunuhan yang dilakukan oleh Ratih membawanya pada tersangka yang salah? Apakah ia telah menghukum orang yang tidak bersalah?
Mencoba untuk tetap berkepala dingin, Nara mencoba untuk membaca catatan Ratih yang lain.
Quote:
Kasus pertama Nara, kematian seorang remaja berusia 15 tahun karena alergi kacang. Seorang asisten rumah tangga ditangkap dan divonis bersalah sebagai tersangka pembunuhan berencana. Sebelumnya, Nara berhasil membuktikan adanya cekcok antara terdakwa dan majikannya yang diblackmailkarena ketahuan mencuri perhiasan majikan terdakwa untuk membeli narkoba. Terdakwa memang bertanggungjawab atas apa yang dimakan oleh tuannya dan ia diduga membuang obat alergi majikannya. Karena kasus inilah Nara dipuji oleh atasannya, karena ketika yang lain sudah menyerah dan menganggap kalau ini hanya ketidaksengajaan, Nara dengan sabar menghubungkan penemuan narkoba di tubuh tersangka dengan kasus ini. Ia menghitung gaji dan uang yang ia keluarkan untuk narkoba, kemudian apakah orangtua korban pernah kehilangan barang berharga. Akhirnya memang ketahuan sudah kalau anak majikan terdakwa memerasnya hingga akhirnya dibunuh.
Tapi dalam buku hariannya Ratih mengakui kalau pembunuhan itu adalah perbuatannya, ia berkunjung ke rumah korban pada waktu makan siang, dibawa oleh salah seorang pendukung Ayah Ratih yang kenal dengan keluarga korban. Saat itu dimanfaatkan oleh Ratih yang masih berusia empat belas tahun untuk menaruh kacang dimakanan korban dan menunggu hasilnya. Status korban yang penting digarisbawahi oleh Nara adalah bahwa ia adalah anak salah seorang pembunuh Keluarga Ratih.
Tapi dalam buku hariannya Ratih mengakui kalau pembunuhan itu adalah perbuatannya, ia berkunjung ke rumah korban pada waktu makan siang, dibawa oleh salah seorang pendukung Ayah Ratih yang kenal dengan keluarga korban. Saat itu dimanfaatkan oleh Ratih yang masih berusia empat belas tahun untuk menaruh kacang dimakanan korban dan menunggu hasilnya. Status korban yang penting digarisbawahi oleh Nara adalah bahwa ia adalah anak salah seorang pembunuh Keluarga Ratih.
Quote:
Dalam pembunuhan Julia, makhluk halus yang diduga menghantui Julia adalah Ratih, dengan luar biasa ia menciptakan ilusi yang membuatnya seperti malaikat yang sedang menghakimi Julia karena melakukan aborsi. Julia memang menggantung dirinya sendiri, ia dengan suka rela tidur di atas langit-langit kamar tidurnya dan akhirnya jatuh kemudian lehernya terjerat, bisikan Ratih yang meyakinkannya untuk melukan hal ini. Lebih tepatnya hallucinogenyang diberikan oleh Ratih lah yang membuatnya seolah-olah menjadi malaikat yang menghantuinya. Karena berada dalam pengaruh hallucinogen, Ratih bisa mengendalikan pikiran korban dan membuatnya bunuh diri.
Ilusi yang sama yang dilihat oleh Nara, ia melihat Ratih sebagai boneka porselen, dan kini ia menyadari itu hanya ilusi. kalau begitu berarti Ratih memiliki banyak wujud, ia dilihat sebagai wanita yang berbeda-beda. Dalam buku hariannya, Julia menggambarkan bagaimana ia melihat Ratih, seorang anak dengan mata bersinar yang tajam, dan rambut hitam, suaranya terdengar menggelegar dan menghakimi. Berbeda dengan Ratih yang dikenal Nara, yang manis, pendiam, mempesona dengan mata yang lembut dan suara yang manis.
Ilusi yang sama yang dilihat oleh Nara, ia melihat Ratih sebagai boneka porselen, dan kini ia menyadari itu hanya ilusi. kalau begitu berarti Ratih memiliki banyak wujud, ia dilihat sebagai wanita yang berbeda-beda. Dalam buku hariannya, Julia menggambarkan bagaimana ia melihat Ratih, seorang anak dengan mata bersinar yang tajam, dan rambut hitam, suaranya terdengar menggelegar dan menghakimi. Berbeda dengan Ratih yang dikenal Nara, yang manis, pendiam, mempesona dengan mata yang lembut dan suara yang manis.
Dan pandangan setiap orang pada Ratih ternyata berbeda-beda. Tidak semua korban Ratih menulis buku harian, namun beberapa yang menulis pernah menuliskan tentang Ratih di buku harian merekaRatih. Si Wanita ayahuasca misalnya bercerita tentang pertemuannya dengan seorang perempuan mungil, tapi ia sudah dewasa, hanya tubuhnya saja yang kecil. Mereka berbincang tentang tanaman dan ia tertarik pada Ratih yang mengetahui tumbuh-tumbuhan eksotik yang jarang sekali diketahui orang. Ratih digambarkan sebagai seorang wanita dengan tubuh kecil, kulitnya gelap, dan rambutnya kemerahan karena sering kerja lapangan. Sehari-hair kalau mereka bertemu, Ratih menggunakan baju lapangan, kemeja lengan panjang dan celana PDL. Inilah alasannya kenapa Nara menemukan banyak baju di dalam lemari Ratih yang tidak biasanya ia pakai. Ratih tidak hanya bermain-main dengan racun dan cara membunuh lainnya, tapi juga ia bisa bermain peran. Ia menggunakan make-up dan kostum untuk mengubah-ubah penampilannya. Hanya tingginya saja yang tidka bisa diubah.
Bibir Nara mengering, rasa tanggung jawab pada profesinya menggelegar, mungkin terlambat untuknya memperbaiki semua kasus yang telah ditutup, tapi hatinya tidak akan pernah tenang kalau ia tidak mengatakan kebenaran.
Okta semakin khawatir pada Nara dan ia merasa harus mengecek keadaannya. Seharusnya proses detoksifikasinya sudah selesai, kecuali kalau Nara ternyata memang mengkonsumsi psikotropika. Okta berniat untuk melaporkan Nara ke atasannya bila ia mengkonsumsi psikotropika.
“Lu kenapa lagi, Ra?”
Awalnya Nara tidak mau bilang dan hanya menaruh wajahnya di atas meja, rasanya ia ingin mati saja saat ini. Masalahnya Nara tidak bisa mengatakan apapun pada siapapun, bahkan pada Okta. Tidak akan ada yang percaya kalau Ratih masih hidup dan melakukan pembunuhan yang kasusnya sudah ditutup dan pelakunya sedang menjalani hukuman. Ia benar-benar bingung sekarang.
“Ngomong kenapa sih, Ra?”
“Ah, berisik aja lu!”
Dibentak seperti itu Okta langsung shock dan tidak berusaha mengejar Nara yang meninggalkannya tanpa bicara apa-apa lagi.
Ada tiga orang yang ingin Nara hadapi saat ini. Pertama adalah Ratih tentu saja, untuk meminta kejelasan apa yang sebenarnya terjadi. Kedua, Okta yang merupakan orang terdekat Dr. Sarwoyo yang bertanggungjawab karena telah membentuk Ratih dari seorang anak yang kebingungan karena kehilangan keluarganya hingga menjadi boneka pembunuh. Yang ketiga adalah Kompol Mahesa, ia ingin agar atasannya itu tahu apa yang sebenarnya terjadi dan memutuskan apa yang sebaiknya dilakukan oleh kepolisian pada korban salah tangkap itu.
Dalam keadaan bingung, Nara berjalan menuju ruangan atasannya. Mungkin Kompol Mahesa Yusuf akan mentertawakan apa yang dibicarakannya dan kecil kemungkinan atasannya itu mempercayainya. Tapi apa boleh buat, ia akan nencoba dan tidak akan menyerah sampai Kompol Mahesa mempercayainya.....atau mengancam akan memecatnya.
“Pak, boleh saya bicara?”
“Silahkan.”
Kompol Mahesa memiringkan kepalanya sedikit untuk memeriksa kenapa wajah Nara pucat sekali. Desas-desus yang terdengar kemarin adalah Okta mengerjakan tes darah Nara, berita ini membuat Kompol Mahesa khawatir dan ia berdoa mudah-mudahan, apapun yang dilakukan oleh mereka berdua, tidak ada hubungannya dengan narkoba.
“Pak, kalau saya melakukan suatu kesalahan, apakah saya akan kena hukuman?”
“Tergantung kesalahanmu.”
“Bagaimana kalau karena kesalahan saya itu, orang yang tidak bersalah jadi divonis bersalah?”
“Itu…..suatu kesalahan yang sangat berat, Nara. Sanksi untuk polisi yang salah tangkap sangat besar. Apa kau…..salah tangkap orang?”
“Kemungkinan kita semua salah tangkap orang dalam beberapa kasus, Pak?”
“Kamu serius?”
Nara bingung darimana ia harus mukai bercerita sekaligus menyesali keputusannya berbicara jujur pada atasannya, seharusnya ia bisa menyimpan masalah ini sendiri dan tidak perlu bertindak sebagai pahlawan. Satu institusi akan menghakiminya kalau berita ini tersebar.
“Pak, kemungkinan ada kasus yang melibatkan satu orang, namun kasus ditutup dengan tersangka lain yang mungkin tidak ada kaitannya.”
“Bagaimana? Saya benar-benar tidak paham.”
“Bapak masih ingat kasus besar sepuluh tahun yang lalu? Kasus Yudisthira?”
“Ya. Apa hubungannya? Kamu belum jadi polisi saat itu.”
“Pak, ada orang yang ingin membalaskan dendam pada orang-orang yang terlibat dalam kasus itu, Pak.”
Nara menceritakan hubungan-hubungan antar korban dengan pembantaian sepuluh tahun yang lalu, dan bagaimana Nara bisa sampai pada kesimpulan seperti itu. Atasannya hanya melihat dengan perasaan tidak nyaman, jauh dari percaya.
“Tidak benar kalau Keluarga Yudisthira itu adalah oposisi pemerintahan yang lalu dan ini hanya konspirasi. Tidak ada yang akan hadir membalaskan dendam mereka, apalagi membunuh keluarga mereka.”
“Tapi, Pak.....ada korban yang kita anggap mati tapi ternyata masih hidup.”
Kompol Mahesa Yusuf mengangkat kepalanya, namun tidak ada ketertarikan di wajahnya, malah ia merasa tidak senang dengan pernyataan Nara. Ia tidak suka anggota kesatuannya yang dianggap paling membanggakan justru menelan mentah-mentah gosip yang sempat meresahkan. Gosip yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
“Saya tahu siapa yang maksud dan jujur saja, saya kecewa karena kamu memakan teori konspirasi mentah-mentah.”
“Saya bisa membuktikan bahwa orang itu ada.”
“Nara, ketika kasus itu terjadi saya memang masih menjadi sepertimu, seorang penyidik. Dengan mata kepala saya sendiri saya lihat, tidak ada yang selamat pada kejadian perampokan itu. Bukti forensik dan bukti penyidikan semuanya menegaskan kalau kejadian ini adalah perampokan dan pembataian. Dan tidak ada yang selamat. Sudahlah Nara, sebelum habis sabar, sebaiknya kamu kembaki ke ruangan.”
“Pak, kita telah memenjarakan banyak orang yang salah. Apa ini tidak menggugah rasa keadilan Anda sebagai penegak hukum? Saya siap bertanggungjawab pada kesalahan ini apabila Bapak mau mndengarkan saya.”
“Begini, yah Nara.” Sambil terus menahan kekesalannya, Kompol Mahesa berdiri dan kedua tangannya menahan meja, ia mendekatkan tubuhnya dengan gerak mengancam, “ini hanya konspirasi. Kamu sudah melakukan kerja yang baik, dan semua kasus yang sudah ditutup sudah tidak perlu dibuka lagi. Hati-hati, yang begini bisa memicu huru-hara. Kembali ke tempatmu sebelum saya mengambil tindakan tegas.”
Sama seperti atasannya, Okta menolak untuk membicarakan Dr. Sarwoyo dengan Nara, apalagi mengenai Ratih. Okta tidak mengerti mengapa Nara begitu terobsesi dengan Ratih dan peristiwa 10 tahun yang lalu.
Bahkan Okta sampai menghindari Nara karena ia kesal dan tidak bisa menahan marahnya, lebih baik Okta menjauh daripada ia memulai perang dengan Nara yang ia yakini mulai tidak waras karena obsesinya.
Terakhir, Ratih.....
Nara tidak membayangkan bagaimana keadaan Ratih sekarang, dan ia sudah berniat untuk menghadapi Ratih apapun hukuman yang akan ia berikan padanya karena telah melanggar janji. Sulit memperkirakan apa yang akan Ratih lakukan, karena ia ahli dalam menyamarkan pola pembunuhannya. Sampai sekarang Nara tidak tahu mengapa Ratih membunuh orang yang tidak ada hubungannya dengan kasus 10 tahun yang lalu.
Tidak seperti biasanya rumah Ratih dibiarkan terbuka dan disinar oleh sinar matahari. Ratih sedang duduk di bangku harpsichordnya sambil memainkan nada-nada ceria. Dan tidak seperti biasanya ia mengenakan gaun berwarna cerah, hari ini ia memakai gaun putih dengan hiasan bunga-bunga di roknya dan bisban warna emas di ujung roknya, mengingatkan Nara pada cangkir yang digunakan oleh neneknya dulu. Rambutnya pun tidak seperti biasanya digelung rapi dan memperlihatkan lehernya. Dawon pun tidak seperti biasa nya terlihat tenang, ia tidur melingkar dengan di dekat kaki Ratih yang tidak menyentuh tanah. Keduanya seolah tidak memperhatikan kedatangan Nara, namun mereka menyadari itu, terlihat dari telinga Dawon yang bergerak dan permainan harpsichord Ratih yang melambat.
“Kita harus bicara, Ratih.” Ratih tidak menghentikan permainannya, ia hanya menengok sebentar dan kemudian lanjut berkonsentrasi pada tuts harpsichordnya.
“Ratih.....aku serius.....” permainan Ratih semakin cepat dan ia menekan tutsnya semakin kasar. Merasa tidak dihiraukan, Nara mencengkeram bahu Ratih dan membalik badannya. Dawon bangkit dan mengeong kencang, ia melompat ke arah Nata dan mengiggit tangannya, Nara mendepak Dawon hingga terjatuh. “Tolong, aku sudah hancur. Dengarkan aku.....”
“Bukankah aku sudah mengatakan, kalau kau terlalu ingin tahu maka kau akan celaka?” Ratih menepas tangan Nara dan melompat dari tempat duduknya. Ia mengambil Dawon yang masih terlihat kesakitan dan membelainya, “Kau sudah mengambil kesucianku, bahkan kau merudapaksaku. Aku bersabar saja karena aku percaya kau akan berhenti mencampuri hidupku setelah kau puas memperlakukan aku dengan tidak hormat. Tapi tidak. Sepertinya kau menang semua, kau merudapaksaku dan masih mengaduk-aduk rahasiaku untuk kemudian menghakimiku. Dan kini kau mulai merasakan akibatnya.”
“Ratih.....kamu menganggap aku merudapaksamu?”
“Kamu sengaja memaksaku malam itu agar dapat menjarah rumahku ketika aku tidak sadarkan diri. Tidak ada orang yang menang semuanya. Karena itu, tunggu saja apa yang akan terjadi. Kau terlalu ingin mencampuri urusanku karena ingin berlagak menjadi pahlawan.”
“Kamu telah mengorbankan orang yang tidak bersalah. Padahal kamu mengaku tidak pernah mengotori tanganmu.....ternyata terlalu banyak yang mati di tanganmu.”
“Itulah yang membuatmu menjadi berlagak. Kenapa kamu harus memikirkan orang-orang Yang tidak ada hubungannya denganmu? Aku berikan kau kesempatan terakhir.....”
Ratih membelai Dawon dan melepaskannya dari pelukannya. Ia berjinjit seperti seorang balerina dan mendekatkan tubuhnya pada Nara.
“Kamu punya waktu dua puluh empat jam. Seorang pahlawan seharusnya punya kecerdasan dan ketajaman. Aku ingin tahu apakah kamu memiliki keduanya.” Wajah Nara dibingkai oleh telapak tangannya, kemudian ia membelai wajah Nara dengan pandangan penuh kekaguman. “Wajahmu itu.....indah sekali. Terpahat sempurna. Sayang kalau mengingat hidupmu sebenarnya tidak diinginkan. Kalau bukan karena darah yang mengalir di tubuhmu kau seharusnya sudah mati.”
Ratih mencium bibir Nara, bahkan menggigit bibirnya sedikit kemudia melepaskan genggamannya dan berjalan naik ke tangga, sementara Dawon mengikuti di belakangnya. “Dua puluh empat jam, Nara. Carilah orang yang harus kamu selamatkan dalam waktu dua puluh empat jam. Kalau kamu bisa menyelamatkannya, maka aku berjanji ini akan menjadi yang terakhir. Berhati-hatilah dengan alat komunikasi, apapun itu.”
Diubah oleh paycho.author 07-05-2017 21:45
indrag057 memberi reputasi
1
Kutip
Balas