Kaskus

Story

bunbun.orenzAvatar border
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):


And I know
There's nothing I can say
To change that part

But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak

I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead



- Famous Last Words by MCR -


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha


Quote:


Spoiler for Special Thanks:


***



Spoiler for From Me:


Versi PDF Thread Sebelumnya:

MyPI PDF

Credit thanks to Agan njum26



[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)

Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini


Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
drakenssAvatar border
snf0989Avatar border
ugalugalihAvatar border
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
glitch.7
#3056
PART 42


Tujuh hari sudah Ayahanda berpulang dan selama itu juga pelaksanaan pengajian setiap ba'da maghrib di rumah Nenek kami selenggarakan. Hari-hari Gua setelah pernikahan dan kepulangan Ayahanda berjalan seperti biasa, bukan berarti segala duka dan pedih yang terasa sudah hilang, tapi seorang wanita yang kini selalu mendampingi Gua lah yang bisa mengikis sedikit demi sedikit kepedihan di dalam hati ini. Dia lah wanita pemilik cinta ini. Pendamping hidup Gua, Elsa.

...
...
...

Di pagi yang cerah masih di bulan agustus, Gua sedang bersama istri pergi ke rumah salah satu sahabat masa kecil kami, Dewi. Tidak jauh dari komplek rumah Nenek. Maka kami berdua pun menggunakan si RR untuk pergi ke rumahnya. Sesampainya di sana, sayang sekali Dewi sedang tidak ada di rumah kata keluarganya. Ya akhirnya kami menitipkan satu surat undangan kepada Ibunya.

Dari rumah Dewi, Gua memacu si RR kearah balkot dan singgah di salah satu kedai mie ayam pinggir jalan, sebenarnya ini bukan kedai sih, gerobak mie ayam biasa yang memakai terpal gitu, berada di dekat salah satu sekolah swasta elite kota Gua. Gua dan Echa duduk di bangku plastik dan memesan dua porsi mie ayam pangsit. Sambil menunggu pesanan jadi, Echa mengeluarkan setumpuk surat undangan dari tas kecilnya.

"Yang, dari sini kita ke rumah Ardi aja ya, kan deket dari sini...", ucapnya sambil memilih surat undangan dan mencari nama Ardi teman SD kami.

"Boleh, dari rumah si Ardi, langsung ke rumah Olla sama Mba Yu ya, kan deket tuh..", ucap Gua.

"Sip..", jawabnya sambil mengerlingkan satu mata dan mengangkat satu ibu jarinya.

Tidak lama kemudian, pesanan mie ayam kami datang, dan langsung kami santap. Singkat cerita kami sudah menghabiskan mie ayam, setelah beres makan dan membayar dua porsi mie ayam tersebut, Gua dan Echa pun naik ke atas motor dan berlalu untuk kembali mengantar undangan pernikahan kepada teman-teman sekolah kami.

Selesai mengantar undangan ke rumah Ardi, Gua dan Echa beranjak ke kediaman keluarga Olla, yang jaraknya cukup dekat. Tidak sampai 5 menit kami sudah berada di depan rumahnya. Gua membuka pagar rumah orangtua Olla, ada perasaan dari masa lalu yang menyeruak dalam hati Gua. Segala kenangan indah dan buruk pernah Gua lalui disini. Seorang perempuan di masa lalu yang pernah mengukir kenangan bersama Gua harus berakhir pilu pada hubungan kami saat itu. Tapi itu semua sudah lama Gua relakan, dan senang rasanya, benar-benar senang ketika Olla dan Indra sampai saat ini membina rumah tangganya dengan baik.

Gua bertemu Om Rambo, alias Papahnya Olla bersama istrinya. Dia memeluk Gua setelah Gua mencium tangannya, begitupun dengan sang istri. Sedikit melepas rindu dan saling menanyakan kabar sambil memperkenalkan istri Gua kepada orangtua Olla, akhirnya kami pun menitipkan dua surat undangan, tentunya untuk Indra dan Olla, dan yang satu lagi jelas untuk Bernat. Tidak begitu lama kami bertamu disini, karena masih cukup banyak surat undangan yang harus kami antar. Setelah Gua mendapatkan no.hp Olla dan Indra yang baru dari Papahnya, Gua dan Echa pun pamit pulang.

Gua kebut si RR karena matahari sudah mulai terasa panas menyapa tubuh ini, Gua bergeming ketika istri Gua yang duduk di belakang sambil memeluk pinggang ini tiba-tiba mencubit pelan perut Gua. Sekitar kurang dari 10 menit, akhirnya kami sampai di kediaman keluarga Mba Yu.

"Assalamualaikum", salam Gua dari depan pintu rumahnya yang terbuka.

"Walaikumsalam", jawab Desi sambil berjalan mengahampiri,
"Eh Mas Eza.. Oh ada Mba Echa juga, mari masuk..", ucapnya kemudian.

Gua dan Echa pun masuk ke dalam ruang tamu rumahnya dan duduk bersebelahan di salah satu sofa. Kemudian Desi memanggil Mba Yu yang berada di kamarnya.

"Hai Mas.. Eh sama Echa..", sapa Mba Yu setelah berdiri di dekat kami.

Istri Gua berdiri lalu memeluk Mba Yu dan mereka saling mencium pipi kanan-kiri. "Ganggu ya Mba.. Hehe", ucap Echa.

"Ah enggak kok, lagi santai aja di kamar, kamu dari mana De ?", tanya Mba Yu kali ini seraya duduk di sofa sebrang kami.

"Kita berdua lagi nganterin surat undangan Mba, tadi habis dari rumahnya Olla..", jawab Echa setelah duduk kembali disamping Gua.

"Olla ? Teman sekolah kalian ?", tanya Mba Yu sambil melirik kepada Gua dan Echa bergantian.

"Iya, kakak kelas kita berdua di SMA, tapi mantannya Eza juga sih.. Hihihi..", jawab Echa sambil tertawa pelan.

Gua menggelengkan kepala sambil tersenyum.

"Hmmm... Biasa deh ada yang gak cerita gituuu..", ucap Mba Yu sambil memicingkan matanya kepada Gua.

"Hahaha.. Apaan sih Mba, masa lalu ituu.. Da lama banget..", jawab Gua sambil tertawa.

"Hm.. Oh ya sebentar ya, aku bikinin minum dulu... Kamu mau kopi Mas ?", tanya Mba Yu seraya bangkit dari duduknya.

"Eh gak usah repot-repot Mba, kita gak lama kok..", ucap Echa.

"Loch kok gitu ? Santai dulu di sini De..".

"Enggak Mba, kita masih harus anter beberapa undangan nih, takut kesiangan udah mulai panas juga Mba, dan kita gak bawa mobil...", timpal Gua.

Ya akhirnya walaupun Mba Yu memaksa kami untuk sekedar ngobrol, Echa dan Gua tetap menolak secara halus tawarannya itu. Bukan tidak mau mengobrol, tapi memang banyaknya undangan yang belum disebar membuat kami berdua tidak bisa berlama-lama. Tidak lupa Gua juga menitipkan surat undangan untuk Ben cs kepada Mba Yu. Ada rasa tidak enak sebenarnya kepada Mba Yu, apalagi dia yang mengurus dan membantu Echa dalam mempersiapkan resepsi pernikahan, lebih tepatnya mencari E.O, dan alhamdulilah, berkat bantuannya, kami berdua bisa memakai jasa E.O yang harganya cocok dengan budget Gua. Belum lagi bantuan soal kenalannya ke butik dan salon milik Seus Ayu. Pokoknya Mba Yu adalah salah satu orang yang berjasa besar untuk resepsi Gua dan Echa.

Gua kembali naik ke atas si RR, Echa masih berdiri di samping Gua, lalu menaikkan zipper jaketnya keatas.

"Kita kemana lagi Za ?", tanyanya.

"Ke rumah Dini ya..", jawab Gua.

...

Hari ini cukup melelahkan, kami memutari kota sekitar 3 jam lamanya, yang sudah tentu mengantarkan surat undangan untuk teman-teman kami. Setelah memberikan surat undangan ke keluarga Dini, kami berdua ke rumah Wulan, Gladis, Shinta, Wildan, Sandhi, Gusmen, Topan, Airin, dan tidak lupa juga untuk Kang Dodo cs, pemilik fotocopy di dekat SMA kami dulu.

Sampai di rumah Nenek, Echa mengingatkan Gua untuk shalat dzuhur dulu, karena dirinya sedang berhalangan, maka Gua melakukan ibadah wajib itu seorang diri di dalam kamar, sedangkan Echa berada di dapur untuk menyiapkan makan siang untuk kami berdua. Selesai melaksanakan kewajiban, Gua berjalan kearah ruang makan, dan melihat Nenek sedang bersama Echa di meja makan, menyiapkan segala hidangan menu makan siang. Saat itu Nenek sedang berpuasa.

"Ayo Za makan dulu bareng istri mu", ucap Nenek sambil bangkit dari kursi meja makan.

"Ehm.. Iya Nek", jawab Gua.

Nenek menatap Gua dengan ekspresi bertanya "ada apa ?", tapi Gua hanya memberikan senyuman yang langsung dibalasnya juga dengan tersenyum. Lalu Nenek meninggalkan kami berdua di ruang makan ini. Echa sedang menyendok sayur sop ke mangkuk, Gua mendekatinya dan berdiri tepat di sampingnya.

"Lauknya mau ayam goreng atau gepuk sapi Za ?", tanyanya tanpa menoleh kearah Gua.

Echa masih sibuk mengambil beberapa lauk ke piring makan. "Teh..", panggil Gua.

Echa menengok kali ini, tersenyum dan menaruh piring makan di atas meja. "Aku sudah jadi istri kamu sayang, jangan panggil aku Teteh lagi", ucapnya dengan senyuman yang sangat manis dan tangan kanannya ditaruh ke dada Gua.

Gua tersadar lalu tertawa pelan seraya menepuk jidat Gua sendiri, "Hehehe.. Kebiasaan, maaf ya", jawab Gua masih terkekeh.

"Ada apa ?", tanyanya.

"Mmm.. Aku mau anter undangan dulu ya, sebentar kok..", jawab Gua.

"Makan dulu Za, sudah siang, tadi pagi kita cuma makan mie ayam kan..".

"Deket kok..", ucap Gua lagi.

"Heum ?",
"Kemana ?", tanyanya kali ini seraya menyelipkan helaian rambut kebelakang telinga kanannya.

"Ke rumah Pak Rw...", jawab Gua.

...

Sekitar pukul 2 siang Gua sedang makan dengan sang istri di teras depan kamar, panasnya sinar matahari di luar sana membuat kami enggan untuk keluar rumah lagi. Gua memandangi Echa yang sedang menyuap setiap sendok makanannya ke dalam mulut tanpa suara. Perempuan ini, ah bukan, wanita ini benar-benar memberikan keteduhan dalam hati Gua.

Segala apa yang sudah Gua lewati beberapa waktu lalu, dirinya lah yang paling mengerti akan kondisi batin ini. Ada banyak hal yang telah kami lalui bersama-sama sebelum sampai ke titik ini dengan waktu yang cukup singkat. Bukan hal yang mudah bagi Gua memutuskan untuk melamarnya dan akhirnya menikahinya saat ini. Tapi dengan segala pertimbangan yang terbilang terburu-buru, Gua mulai yakin, kalau ucapan Alm. Ayahanda benar adanya, Echa lah yang bisa meredam segala tingkah laku negatif dalam diri Gua. Dan Gua berharap, hati ini kini benar-benar bisa menerimanya dan melupakan nama seorang wanita lain.

...
...
...

Beberapa hari menjelang acara resepsi, Gua mengendarai si Black melintasi jalan tol, tidak ada kemacetan yang berarti dalam perjalanan ke ibu kota, mungkin karena Gua berangkat di waktu siang. Sekitar 1 jam Gua sudah keluar dari tol dan mulai mengarahkan mobil ke arah kampus. Sekitar pukul setengah 3 Gua sudah sampai di parkiran kampus, lalu turun dari mobil dan menuju kantin. Di sini tidak cukup banyak mahasiswa/i yang sedang bersantai, hanya ada beberapa orang saja, dan tidak ada yang Gua kenal, karena mereka kakak tingkat Gua sekaligus mahasiswa D4.

Gua duduk di salah satu bangku besi dan memesan segelas ice cappuccino. Lalu sambil menunggu minuman, Gua keluarkan hp untuk sekedar memberi kabar kepada istri Gua. Beres mengirim sms kepada Echa, Gua sms Lisa dan Kinan. Tidak lama minuman pun datang. Sambil menunggu Lisa, Gua membakar sebatang rokok.

Setengah jam Gua menunggu, dua orang perempuan datang menghampiri Gua bersama seorang lelaki.

"Wah ada manten baru...", ucap Pak Boy sambil berjalan mendekat.

Gua terkekeh mendengar ucapannya, lalu Kinan, Vero dan Pak Boy duduk bersama Gua di bangku kantin ini.

"Apa kabar Pak ?", sapa Gua.

Puuk..bahu kiri Gua ditepuk oleh Pak Boy.

"Sehat.. Hehehe..",
"Ngomong-ngomong Gua turut berduka cita atas meninggalnya Bapak ya Za", ucap Pak Boy.

"Iya Za, turut berduka cita atas meninggalnya Bapak Lo ya.. Sorry Gue gak dateng", timpal Veronica.

"Makasih ucapan belasungkawa nya", jawab Gua pelan seraya tersenyum tipis.

"Ah.. Mana nih undangan buat Gua ?", pinta Pak Boy sambil menyodorkan tangan kanannya.

"Adaaa, tenang aja..", ucap Gua sambil mengeluarkan beberapa surat undangan dari tas,
"Nih untuk Bapak, namanya benerkan ?", tanya Gua seraya memberikan satu undangan.

Pak Boy sok-sok mengecek nama yang diperuntukkan untuknya yang tertulis di bagian depan surat dengan ekspresi wajah yang serius, lalu Gua tertawa sambil menepuk paha kanannya. "Udeeh, bener ituu.. Kalo tulisannya salah tip-eks aja sendiri yaa, hahaha..", ucap Gua yang langsung membuatnya tertawa.

"Echa gak ikut Za ?", tanya Kinan kali ini.

"Nah iya, bini Lu kok gak dibawa Za, Gua pingin liat padahal..", timpal Pak Boy lagi.

"Lagi ada urusan dia, lagian nanti juga Bapak ketemu sama istri saya di resepsi kan..", jawab Gua,
"Oh ya, ini untuk Lu Vo", lanjut Gua seraya memberikan satu surat undangan kepada Veronica.

"Oh makasih Za, kirain Gue gak di undang, hihihihi..", jawabnya sambil menerima surat undangan.

"Gak mungkinlah Gua gak ngundang Lu Vo, jangan sampe gak dateng ya..".

"Sipp...", jawabnya sambil mengangkat satu ibu jarinya.

Setelah itu Gua menanyakan kabar perkuliahan kepada mereka, bukan soal kelas Gua, tapi soal kegiatan Vero dan Kinan lebih tepatnya. Sebenarnya ini hanya basa-basi saja, Gua tau betul kabar perkuliahan dari Tante Gua yang satu itu. Ya Kinan lah yang sebelumnya membantu Gua untuk mengambil cuti kuliah sebelum akad nikah. Dan sudah barang tentu setelah Gua cuti, Kinan pasti memberikan informasi seputar perkuliahan.

Lama kami mengobrol sampai akhirnya teman kelas Gua datang, Lisa dan Mat Lo menghampiri kami berempat. Lalu Gua juga memberikan surat undangan kepada mereka, tidak lupa beberapa lembar surat undangan untuk teman kelas yang lain. Tidak lama, Pak Boy pamit untuk pergi bekerja, ya rutinitas dia selain menjadi dosen dan pemilik cafe adalah sebagai manager Bar juga di salah satu hotel di Jakarta ini. Lalu disusul oleh Mat Lo yang harus menjemput adiknya dan Vero yang sudah ditunggu oleh kekasihnya di parkiran kampus.

Akhirnya, tinggallah Gua dan kedua perempuan yang berada di kantin ini.

"Lis, Bianca masih kost ditempat mu kan ?", tanya Gua kepada Lisa.

"Iya Za.. Ka Bianca masih kost di situ", jawabnya.

"Kira-kira dia ada di kost-an gak ya Lis ? Soalnya aku telpon dari kemarin nomornya gak aktif", jelas Gua.

"Oh dia ganti nomer hp Za, sebentar aku sms dulu ya", jawab Lisa seraya mengeluarkan hpnya lalu mengetik sms.

Sambil menunggu balasan sms dari Bianca ke hp Lisa, Gua menghabiskan minuman lalu membayarnya. Tidak lama setelah membayar minuman, Lisa memberitahukan kalau Bianca sudah membalas smsnya dan ada di kost-an.

Gua pun mengajak Kinan dan Lisa untuk ikut ke kost-an bertemu Bianca. Tapi Lisa tidak bisa menemani Gua dan Kinan karena hari ini dia sudah ada janji dengan teman kelasan Gua yang lain untuk mengerjakan tugas kelompok. Akhirnya Gua dan Kinan lah yang pergi ke kost-an. Kami berdua menggunakan mobil milik Kinan, sedangkan si Black Gua tinggal sementara di parkiran kampus. Gua mengemudikan mobil dan mengarahkannya ke tempat dimana Gua pernah tinggal di Jakarta ini pada awal kuliah. Ketika Gua sudah memasuki pelataran parkir kost, seketika itu juga beberapa kenangan yang masih baru Gua alami di tempat ini kembali hadir memenuhi pikiran Gua.

Gua dan Kinan turun dari mobil lalu berjalan kearah kamar no. 3, saat berjalan, Gua sempat tersenyum dan menengok ke kamar yang berada di sisi kanan, dimana di kamar no. 20 itu beberapa waktu lalu Gua tinggal di dalamnya.

Bianca membuka pintu kamar setelah Gua memanggil namanya sambil mengetuk pintu 2 kali.

"Rezaa!!", ucapnya seraya terkejut.

"Hai Ka'.. Apa kabar ?", tanya Gua.

"Alhamdulilah baik Za, ayo masuk Za, eh sama temen ya atau... Pacar nih ?", tanya Bianca lagi.

"Bukan.. Dia temen kampus Gua kok", jawab Gua seraya masuk ke dalam kamar kostnya bersama Kinan.

Gua kenalkan Kinan kepada Bianca. Lalu Bianca keluar kamar untuk membuatkan minuman, beberapa menit kemudian Bianca kembali ke dalam kamar dengan dua gelas sirup untuk Gua dan Kinan. Lalu kemudian dia duduk di hadapan Gua, kami bertiga duduk di lantai kamarnya ini.

"Kemana aja Lo..? Pergi dari kost-an gak bilang! Gue tanya Lisa dia bilang gak tau! Ada apa sih...? Pasti Lo ada masalah ya ? Gak cerita sama Gue..", ucapnya dengan wajah kesal.

Gua tersenyum lalu menghela napas pelan, Gua melirik kepada Kinan yang berada di samping kanan Gua. Kinan ikut tersenyum tipis kepada Gua dan mengangguk pelan.

"Ka'..",
"Maaf ya gak cerita selama ini, gak pamit waktu itu..", ucap Gua dengan nada yang pelan.

"Eh.. Ada apa sih ? Kok jadi gak enak gini Za.. Lo gak kenapa-kenapa kan ?", tanyanya mulai khawatir.

Gua ambil satu surat undangan dari dalam tas setelah menemukan untuk nama Bianca lalu Gua berikan kepadanya. Wajah Bianca semakin kebingungan sambil menerima surat undangan tersebut. "Ini... Ini undangan untuk Gue ?", tanyanya.

Gua mengangguk sambil memberikan senyuman kepada Bianca. "Buka aja Ka'...", jawab Gua.

Bianca membuka surat undangan tersebut dan membacanya dengan seksama. Lalu mulutnya terbuka yang sekaligus dia tutup dengan tangan kirinya. "Eza! Ini.. Ini nikahan Lo ?!", Bianca benar-benar terkejut kali ini.

"Iya".

"Oo.. Ookey.. Okey.. Kayaknya Lo perlu cerita semuanya deh.. Gue beneran gak paham.. Dan ini kok namanya bukan Siska Za ? Lo putus sama Siska ?",
"Za.. Cerita sama Gue.. Ada apa sebenarnya ? Lo tiba-tiba pergi dari kost-an terus gak ada kabar ke Gue dan sekarang tiba-tiba datang, bawa surat undangan nikahan pula.. Maksudnya gimana Za ?".

Gua mengambil gelas sirup dan meminumnya seteguk, lalu mengeluarkan sebungkus rokok dan mengambilnya sebatang. Gua bakar rokok dan menghembuskan asapnya keatas. Gua menghela napas dengan cepat. Lalu menatap Bianca lekat-lekat dan tersenyum. Bianca mengerenyitkan keningnya, menunggu semua penjelasan yang masuk akal untuk dia pahami, dan untuk kalian semua... Para pembaca cerita ini.
Diubah oleh glitch.7 07-05-2017 17:58
dany.agus
fatqurr
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.