- Beranda
- Stories from the Heart
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
...
TS
Shadowroad
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ane mau share novel buatan ane sendiri gan
Novel ane bergenre action, horror, romance, school-life dan supranatural
Inspirasi dapat dari alur game, film, anime, kehidupan, komik, mitologi, legenda dan novel yang pernah ane amati
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Spoiler for Begini gan ceritanya::
Cerita ini tentang seorang remaja dari Jakarta yang keluarganya terbunuh karena kaum vampire. Cowok remaja ini bernama Erik Calendula. Setelah selamat dari bencana yang dibuat kaum vampire, dia lalu memohon pada Arthur Pendragon. Arthur adalah salah satu dari beberapa pemburu vampire yang menyelamatkan Erik. Dibakar oleh tangisan, amarah dan dendam atas kematian keluarganya, Erik meminta Arthur untuk mendidiknya agar menjadi seorang pemburu vampire. Erik berniat menghancurkan organisasi vampire penebar bencana yang menjadi penyebab kematian orang tuanya.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Spoiler for Daftar Isi:
Prolog: Hotel Indonesia
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Gan, setelah baca mohon komennya, ya
Ane sangat menerima kritik dan saran
Pertanyaan juga sangat dianjurkan, supaya agan2 dapat lebih memahami cerita yang rumit ini
Kalau terjadi kesalahan seperti tanda baca, kurang jelas, ketidak konsistenan cerita mohon diingatkan ya gan
Terima kasih gan
Diubah oleh Shadowroad 26-11-2017 06:31
2
87K
Kutip
544
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Shadowroad
#469
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Spoiler for Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat:
Tim Arthur, Ervan dan Maul mendatangi sebuah area outlaw di Jakarta Utara. Area ini salah satu dari banyak area outlaw yang ada di Jakarta. Di tempat ini, berbagai macam tindak kriminalitas nyaris tak tersentuh hukum. Bisa dibilang area yang liar. Polisi junior yang membuat masalah di sini mungkin akan mati dibantai oleh para penjahat. Sedangkan polisi senior bisa dengan mudah dibayar oleh para penjahat kelas kakap agar tidak menyentuh tempat ini. Area outlaw ini bernama Pluit’s Boat.
Yang memasuki Pluit’s Boat adalah Arthur, Erik dan Maul. Dipimpin oleh Maul dan diikuti oleh Arthur dan Erik. Wajar karena Maul yang seorang polisi mengetahui dan memiliki kontak di tempat ini. Sedangkan Ervan, Dietrich dan Amanda berada di luar Pluit’s Boat. Mereka akan bertindak sebagai back up apabila Maul, Arthur dan Erik mendapat masalah.
Untuk menangkap James Wood, rencana awal para pemburu vampire adalah membangun koneksi dengan para konsumen. Karena mereka tidak ingin berhadapan dengan para vampire yang bersembunyi di tempat ini, mereka sengaja datang di siang hari. Tepatnya setelah sekolah Erik selesai.
Maul membuka pintu masuk apartemen. Para pemburu vampire ini disambut oleh dua orang tinggi dan kekar. Mereka langsung menghadang Maul. Erik tidak terlalu paham kenapa mereka seperti itu. Mungkin karena mengetahui bahwa Maul adalah polisi. Maul berbicara dengan sopan dan santai. Akhirnya dua orang tinggi dan kekar ini mengangguk dan membuka jalan.
Dua penjaga itu mengangguk lalu mengamati Arthur dan Erik. Mereka merasa yakin melihat tubuh Arthur. Namun mereka ragu ketika menatap Erik.
Maul, Arthur dan Erik berhenti di depan sebuah kamar. Maul beberapa kali mengetuk pintu. Seorang pria bertubuh kurus dan bergigi ompong membuka pintu. Meski terlihat teler, dia masih mengenali Maul. Dengan penampilan seperti itu, jelaslah bahwa pria ini adalah seorang pecandu.
Tiga anggota Silver Swords itu buru-buru masuk kamar. Keadaan kamarnya lumayan rapi untuk seorang pecandu. Namun yang membuat mereka penasaran adalah dua orang yang terkapar di dekat dapur. Mereka sama kurusnya dengan pemilik kamar dan jelaslah sama-sama pecandu seperti pemilik kamar. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa tubuh mereka terluka parah dan diperban. Dua orang pecandu itu tidur beralaskan karung beras.
Salah seorang pecandu terbangun dan memanggil-manggil Andika. Dia tiba-tiba mengalami kejang-kejang dan bola matanya mengarah ke atas. Arthur dan Erik mencoba bergerak untuk menolongnya namun dicegah oleh Maul. Andika membuka laci dapur dan mengambil satu genggam kristal meth. Kemudian dia berjongkok dan mendekatkan genggaman kristal meth itu ke hidung temannya. Dalam beberapa detik, si junkie berhenti kejang-kejang dan bernafas lebih tenang. Dia menghirup kristal meth dalam-dalam dan merebahkan tubuhnya lagi. Dua menit kemudian dia segera tertidur lagi.
Yang memasuki Pluit’s Boat adalah Arthur, Erik dan Maul. Dipimpin oleh Maul dan diikuti oleh Arthur dan Erik. Wajar karena Maul yang seorang polisi mengetahui dan memiliki kontak di tempat ini. Sedangkan Ervan, Dietrich dan Amanda berada di luar Pluit’s Boat. Mereka akan bertindak sebagai back up apabila Maul, Arthur dan Erik mendapat masalah.
Quote:
“Dimana tempatnya?” tanya Arthur.
“Apartemen tingkat enam,” jawab Maul seraya menunjuk apartemen bercat orange yang menjulang tinggi.
“Apartemen tingkat enam,” jawab Maul seraya menunjuk apartemen bercat orange yang menjulang tinggi.
Untuk menangkap James Wood, rencana awal para pemburu vampire adalah membangun koneksi dengan para konsumen. Karena mereka tidak ingin berhadapan dengan para vampire yang bersembunyi di tempat ini, mereka sengaja datang di siang hari. Tepatnya setelah sekolah Erik selesai.
Quote:
“Ingat, Erik. Apapun yang terjadi, jangan gunakan pengendalian listrikmu untuk menyerang,” kata Arthur, “Cukup bertahan saja.”
“Roger,” jawab Erik.
“Roger,” jawab Erik.
Maul membuka pintu masuk apartemen. Para pemburu vampire ini disambut oleh dua orang tinggi dan kekar. Mereka langsung menghadang Maul. Erik tidak terlalu paham kenapa mereka seperti itu. Mungkin karena mengetahui bahwa Maul adalah polisi. Maul berbicara dengan sopan dan santai. Akhirnya dua orang tinggi dan kekar ini mengangguk dan membuka jalan.
Quote:
“Apakah dua orang itu teman anda?” tanya salah seorang penjaga.
Maul mengangguk, “Benar. Mereka ingin melindungi para pecandu yang mengkonsumsi produk ‘mint’. Aku mendengar para konsumen produk ‘mint’ membutuhkan semacam pelindung.”
Maul mengangguk, “Benar. Mereka ingin melindungi para pecandu yang mengkonsumsi produk ‘mint’. Aku mendengar para konsumen produk ‘mint’ membutuhkan semacam pelindung.”
Dua penjaga itu mengangguk lalu mengamati Arthur dan Erik. Mereka merasa yakin melihat tubuh Arthur. Namun mereka ragu ketika menatap Erik.
Quote:
“Anda yakin?” bisik si penjaga pada Maul.
Maul paham maksudnya. Anggota Silver Swords yang juga bekerja di kepolisian itu menjawab, “Aku juga ragu, kawan. Tapi temanku yang besar menjadi semacam guru baginya. Dia akan melatihnya. Selain itu, otak bocah itu lebih bagus daripada gabungan dari otak kita.”
“Oh, silahkan masuk kalau begitu.”
“Bagaimana mungkin bisa semudah ini?” tanya Erik yang berjalan di belakang Maul.
\
“Atasanku adalah salah satu polisi korup yang kuceritakan pada kalian. Dia mempekerjakanku sebagai penghubung antara dirinya dengan para ‘petinggi’ tempat ini,” jawab Maul.
“Apa tidak masalah bekerja untuk orang korup? Bukankah nanti kau akan diburu oleh polisi-polisi yang bertugas untuk membasmi polisi-polisi korup?” tanya Erik.
“Aman, Erik,” tawa Maul, “Paladin memasukkan manipulator-manipulator dari Departemen Intel ke kepolisian. Salah satu manipulator yang bertugas membasmi polisi-polisi korup adalah temanku.”
“Lalu kenapa atasanmu tetap hidup?”
“Kalau dia mati, aku tidak bisa mengakses dan memantau tempat ini lagi. Aktivitas vampire dan manusia serigala di Pluit’s Boat lumayan aktif, lho.”
Maul paham maksudnya. Anggota Silver Swords yang juga bekerja di kepolisian itu menjawab, “Aku juga ragu, kawan. Tapi temanku yang besar menjadi semacam guru baginya. Dia akan melatihnya. Selain itu, otak bocah itu lebih bagus daripada gabungan dari otak kita.”
“Oh, silahkan masuk kalau begitu.”
“Bagaimana mungkin bisa semudah ini?” tanya Erik yang berjalan di belakang Maul.
\
“Atasanku adalah salah satu polisi korup yang kuceritakan pada kalian. Dia mempekerjakanku sebagai penghubung antara dirinya dengan para ‘petinggi’ tempat ini,” jawab Maul.
“Apa tidak masalah bekerja untuk orang korup? Bukankah nanti kau akan diburu oleh polisi-polisi yang bertugas untuk membasmi polisi-polisi korup?” tanya Erik.
“Aman, Erik,” tawa Maul, “Paladin memasukkan manipulator-manipulator dari Departemen Intel ke kepolisian. Salah satu manipulator yang bertugas membasmi polisi-polisi korup adalah temanku.”
“Lalu kenapa atasanmu tetap hidup?”
“Kalau dia mati, aku tidak bisa mengakses dan memantau tempat ini lagi. Aktivitas vampire dan manusia serigala di Pluit’s Boat lumayan aktif, lho.”
Maul, Arthur dan Erik berhenti di depan sebuah kamar. Maul beberapa kali mengetuk pintu. Seorang pria bertubuh kurus dan bergigi ompong membuka pintu. Meski terlihat teler, dia masih mengenali Maul. Dengan penampilan seperti itu, jelaslah bahwa pria ini adalah seorang pecandu.
Quote:
“Butuh pelindung, kan?” kata Maul sambil melirik Arthur dan Erik.
“Masuk! Cepat masuk!” kata si pecandu.
“Masuk! Cepat masuk!” kata si pecandu.
Tiga anggota Silver Swords itu buru-buru masuk kamar. Keadaan kamarnya lumayan rapi untuk seorang pecandu. Namun yang membuat mereka penasaran adalah dua orang yang terkapar di dekat dapur. Mereka sama kurusnya dengan pemilik kamar dan jelaslah sama-sama pecandu seperti pemilik kamar. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa tubuh mereka terluka parah dan diperban. Dua orang pecandu itu tidur beralaskan karung beras.
Quote:
“Perkenalkan, namanya Andika,” kata Maul pada Arthur dan Erik, “Andika, ini dua temanku yang akan bekerja untukmu. Yang besar ini Arthur dan yang kecil ini Erik.”
“Bahasa Inggrisku tidak terlalu lancar. Bagaimana kalau kau bantu menterjemahkan?” kata si pecandu.
“Tidak usah,” Maul menggeleng, “Cukup Bahasa Indonesia saja. Dia cukup lama tinggal di sini. Sehingga Bahasa Indonesianya sudah lancar.”
Andika mengangguk dan bersalaman dengan Arthur, “Dari Amerika Serikat? Sudah berapa lama di sini?”
“Inggris, sobat. Kalau lamanya ... aku tidak tahu dengan pasti ... tapi, kira-kira seratus tahun.”
Mereka berempat tertawa. Lalu Andika berkata, “Teman kita ini memang suka bercanda. Seratus tahun, hm? Pantas saja logatmu sudah seperti orang Indonesia. Silahkan duduk, Erik dan Arthur.”
“Teman-temanmu ... kenapa mereka seperti itu?” tanya Arthur.
Andika mengerutkan kening dan menunduk, “Pesaing James Wood. Mereka memaksa kami untuk membeli meth dan PCP buatannya. Harganya memang lebih murah. Namun aku lebih suka produk James Wood.”
“Pemasarannya tidak elegan,” kata Erik, “Lanjutkan.”
“Kami menolak membeli produknya dan keadaan menjadi seperti ini. Mereka sudah membunuh lima teman kami. Kami sudah beberapa kali mencoba melawan balik. Namun tetap saja kami kalah. Padahal jumlah kami jauh lebih banyak dari mereka.”
“Berapa jumlah mereka dan sekuat apa mereka?” tanya Arthur.
Andika menjawab, “Jumlah mereka awalnya ada delapan. Setelah bersusah payah dan pengorbanan yang besar, kami berhasil menghabisi dua. Kecepatan mereka ketika berlari benar-benar luar biasa. Ketika kami kabur, tahu-tahu mereka sudah ada di belakang kami. Aku bertaruh mereka pasti pernah menjadi atlet lari atau semacamnya. Meski kini tinggal enam, kami menyerah. Sudah cukup anggota kami yang mati. Bisa dibilang, sekarang kami dijajah oleh mereka.
Vampire!!! Pikir para anggota Silver Swords.
“Selain itu, mereka juga punya anjing yang sangat besar. Anjingnya berwarna hitam legam. Sebesar manusia mungkin. Gila! Darimana mereka mengimpor anjing sebesar itu??”
Werewolf!!! Pikir para anggota Silver Swords lagi.
“Apakah kalian sudah berkonsultasi pada pihak James Wood? Tentunya dia tak mau terjadi sesuatu pada konsumennya yang loyal, kan?”
“Sudah. Awalnya dia memberikan kami senjata dan bala bantuan. Karena kami kalah secara kualitas dan hanya berhasil membunuh dua orang, James Wood akhirnya mengubah strategi. Dia menyuruh kami mencari pembunuh yang berkualitas dan dia yang akan mengurus biayanya.”
“Sepuluh juta rupiah per kepala,” kata Arthur, “Total ada enam. Jika kami berhasil mendapatkan semuanya, maka harganya enam puluh juta.”
“Hei!” seru Andika, “Bukankah sudah kuberitahu bahwa lawan kita ada lima orang? Kok ada enam?”
“Anjing setan itu juga dihitung.”
“Hhhmmm ...,” Andika mengerutkan kening dan menggunakan fitur kalkulator di ponselnya, “US$ 1 sama dengan Rp 4000 ... maka enam puluh juta rupiah sama dengan US$ 15000. Boleh juga. Akan kutanyakan dulu pada distributor kami. Apakah dia berkenan dengan harga segitu.”
“Bahasa Inggrisku tidak terlalu lancar. Bagaimana kalau kau bantu menterjemahkan?” kata si pecandu.
“Tidak usah,” Maul menggeleng, “Cukup Bahasa Indonesia saja. Dia cukup lama tinggal di sini. Sehingga Bahasa Indonesianya sudah lancar.”
Andika mengangguk dan bersalaman dengan Arthur, “Dari Amerika Serikat? Sudah berapa lama di sini?”
“Inggris, sobat. Kalau lamanya ... aku tidak tahu dengan pasti ... tapi, kira-kira seratus tahun.”
Mereka berempat tertawa. Lalu Andika berkata, “Teman kita ini memang suka bercanda. Seratus tahun, hm? Pantas saja logatmu sudah seperti orang Indonesia. Silahkan duduk, Erik dan Arthur.”
“Teman-temanmu ... kenapa mereka seperti itu?” tanya Arthur.
Andika mengerutkan kening dan menunduk, “Pesaing James Wood. Mereka memaksa kami untuk membeli meth dan PCP buatannya. Harganya memang lebih murah. Namun aku lebih suka produk James Wood.”
“Pemasarannya tidak elegan,” kata Erik, “Lanjutkan.”
“Kami menolak membeli produknya dan keadaan menjadi seperti ini. Mereka sudah membunuh lima teman kami. Kami sudah beberapa kali mencoba melawan balik. Namun tetap saja kami kalah. Padahal jumlah kami jauh lebih banyak dari mereka.”
“Berapa jumlah mereka dan sekuat apa mereka?” tanya Arthur.
Andika menjawab, “Jumlah mereka awalnya ada delapan. Setelah bersusah payah dan pengorbanan yang besar, kami berhasil menghabisi dua. Kecepatan mereka ketika berlari benar-benar luar biasa. Ketika kami kabur, tahu-tahu mereka sudah ada di belakang kami. Aku bertaruh mereka pasti pernah menjadi atlet lari atau semacamnya. Meski kini tinggal enam, kami menyerah. Sudah cukup anggota kami yang mati. Bisa dibilang, sekarang kami dijajah oleh mereka.
Vampire!!! Pikir para anggota Silver Swords.
“Selain itu, mereka juga punya anjing yang sangat besar. Anjingnya berwarna hitam legam. Sebesar manusia mungkin. Gila! Darimana mereka mengimpor anjing sebesar itu??”
Werewolf!!! Pikir para anggota Silver Swords lagi.
“Apakah kalian sudah berkonsultasi pada pihak James Wood? Tentunya dia tak mau terjadi sesuatu pada konsumennya yang loyal, kan?”
“Sudah. Awalnya dia memberikan kami senjata dan bala bantuan. Karena kami kalah secara kualitas dan hanya berhasil membunuh dua orang, James Wood akhirnya mengubah strategi. Dia menyuruh kami mencari pembunuh yang berkualitas dan dia yang akan mengurus biayanya.”
“Sepuluh juta rupiah per kepala,” kata Arthur, “Total ada enam. Jika kami berhasil mendapatkan semuanya, maka harganya enam puluh juta.”
“Hei!” seru Andika, “Bukankah sudah kuberitahu bahwa lawan kita ada lima orang? Kok ada enam?”
“Anjing setan itu juga dihitung.”
“Hhhmmm ...,” Andika mengerutkan kening dan menggunakan fitur kalkulator di ponselnya, “US$ 1 sama dengan Rp 4000 ... maka enam puluh juta rupiah sama dengan US$ 15000. Boleh juga. Akan kutanyakan dulu pada distributor kami. Apakah dia berkenan dengan harga segitu.”
Salah seorang pecandu terbangun dan memanggil-manggil Andika. Dia tiba-tiba mengalami kejang-kejang dan bola matanya mengarah ke atas. Arthur dan Erik mencoba bergerak untuk menolongnya namun dicegah oleh Maul. Andika membuka laci dapur dan mengambil satu genggam kristal meth. Kemudian dia berjongkok dan mendekatkan genggaman kristal meth itu ke hidung temannya. Dalam beberapa detik, si junkie berhenti kejang-kejang dan bernafas lebih tenang. Dia menghirup kristal meth dalam-dalam dan merebahkan tubuhnya lagi. Dua menit kemudian dia segera tertidur lagi.
Quote:
“Apa yang ...,” kata Erik.
“Sakaw,” jawab Andika, “Dia pecandu yang lebih parah dariku.”
“Kenapa kalian tidak pindah saja dari tempat ini? Kan masih banyak tempat yang tidak tersentuh polisi seperti di sini.”
“Cukup banyak alasan kenapa kami memutuskan tetap di Pluit’s Boat. Salah satunya, kebanyakan dari kami sudah terikat dan mengenal Pluit’s Boat. Termasuk aku. Sejak kecil aku tinggal, tumbuh dan bekerja di Pluit’s Boat. Aku dan dua temanku yang terkapar itu bekerja sebagai petugas pembersih. Dengan cara itulah kami bisa tinggal di tempat ini dan mendapat gaji. Sesekali kami mendapat bonus jika aku berpartisipasi dalam menyelesaikan masalah yang muncul. Sekalipun kami pergi, mereka pasti akan mengejar kami”
“Sejak kecil?” tanya Maul, “Kau lahir di sini? Aku tak pernah melihat orang tuamu.”
Andika menggeleng, “Aku lahir di Surabaya. Ketika umur enam tahun, aku diculik, dijual dan berakhir di Pluit’s Boat ... hingga saat ini. Singkatnya, aku korban trafficking. Enam tahun itu mungkin kelas satu atau dua SD.”
“Traffic apa tadi?” tanya Erik, “Apa hubungannya dengan lalu lintas?”
“Trafficking, sobat... perdagangan manusia,” jawab Maul, “Bukan traffic lalu lintas.”
“Apa kau tidak ingin bertemu dengan dua orang tuamu lagi?” tanya Arthur.
“Tentu saja ingin,” jawab Andika, “Sejak tiga tahun yang lalu, aku berusaha mengumpulkan uang untuk pulang ke Surabaya. Namun uang yang sudah kukumpulkan langsung habis lagi gara-gara aku ketergantunganku pada narkotika. Umurku kini sudah sembilan belas tahun dan aku tetap tidak memiliki apa-apa untuk bertemu dengan orang tuaku.”
“Sakaw,” jawab Andika, “Dia pecandu yang lebih parah dariku.”
“Kenapa kalian tidak pindah saja dari tempat ini? Kan masih banyak tempat yang tidak tersentuh polisi seperti di sini.”
“Cukup banyak alasan kenapa kami memutuskan tetap di Pluit’s Boat. Salah satunya, kebanyakan dari kami sudah terikat dan mengenal Pluit’s Boat. Termasuk aku. Sejak kecil aku tinggal, tumbuh dan bekerja di Pluit’s Boat. Aku dan dua temanku yang terkapar itu bekerja sebagai petugas pembersih. Dengan cara itulah kami bisa tinggal di tempat ini dan mendapat gaji. Sesekali kami mendapat bonus jika aku berpartisipasi dalam menyelesaikan masalah yang muncul. Sekalipun kami pergi, mereka pasti akan mengejar kami”
“Sejak kecil?” tanya Maul, “Kau lahir di sini? Aku tak pernah melihat orang tuamu.”
Andika menggeleng, “Aku lahir di Surabaya. Ketika umur enam tahun, aku diculik, dijual dan berakhir di Pluit’s Boat ... hingga saat ini. Singkatnya, aku korban trafficking. Enam tahun itu mungkin kelas satu atau dua SD.”
“Traffic apa tadi?” tanya Erik, “Apa hubungannya dengan lalu lintas?”
“Trafficking, sobat... perdagangan manusia,” jawab Maul, “Bukan traffic lalu lintas.”
“Apa kau tidak ingin bertemu dengan dua orang tuamu lagi?” tanya Arthur.
“Tentu saja ingin,” jawab Andika, “Sejak tiga tahun yang lalu, aku berusaha mengumpulkan uang untuk pulang ke Surabaya. Namun uang yang sudah kukumpulkan langsung habis lagi gara-gara aku ketergantunganku pada narkotika. Umurku kini sudah sembilan belas tahun dan aku tetap tidak memiliki apa-apa untuk bertemu dengan orang tuaku.”
Diubah oleh Shadowroad 07-05-2017 11:55
0
Kutip
Balas