- Beranda
- Stories from the Heart
Cahaya Ratih (18+/Thriller Genre)
...
TS
paycho.author
Cahaya Ratih (18+/Thriller Genre)
Quote:
GanSis, ane mau ngesharecerita ane berikutnya. Ini cerita udah ane bikin 4 tahun yang lalu tapi baru ane sharesekarang.
BTW, ini cerita genre thriller, crime, and romance.
Jangan lupa komennya, yah GanSis
Ini cerita ane yang sebelumnya. Full Romance dan lumayan bikin

Tapi 18+ juga
Kunjungin GanSis
BTW, ini cerita genre thriller, crime, and romance.
Jangan lupa komennya, yah GanSis

Ini cerita ane yang sebelumnya. Full Romance dan lumayan bikin


Tapi 18+ juga

Kunjungin GanSis
Quote:
DAFTAR ISI
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
CHARACTER'S BIO: NARA
PART 33
PART 34
CHARACTER'S BIO: RATIH
PART 35
CHARACTER'S BIO: DR. OKTA
PART 36
CHARACTER'S BIO: DR. Gladys
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
EPILOGUE
PART 1
PART 2
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
CHARACTER'S BIO: NARA
PART 33
PART 34
CHARACTER'S BIO: RATIH
PART 35
CHARACTER'S BIO: DR. OKTA
PART 36
CHARACTER'S BIO: DR. Gladys
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
EPILOGUE
Quote:
20rb 
Makasih yahhhhh.......moga2 bisa nyampe 100rb one day......

Makasih yahhhhh.......moga2 bisa nyampe 100rb one day......
Diubah oleh paycho.author 13-05-2017 07:23
junti27 dan 8 lainnya memberi reputasi
9
104.9K
Kutip
683
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
paycho.author
#365
PART 37
Quote:
“Please, Ta. Bantu, dong, bantu.....”
Dr. Okta langsung pusing melihat banyaknya sample yang diminta Nara untuk dikerjakan, apalagi ia sedang banyak kerjaan.
"Dr. Gladys deh coba. Situ cabut sono, mahal tahu tes kayak begini."
Dan bahkan Nara pun berhenti merengek ketika Okta memperlihatkan berapa banyak uang yang harus dikeluarkan oleh Nara untuk melakukan tes yang ia minta.
Akhirnya memang Nara meminta tolong pada Dr. Gladys. Awalnya enggak enak juga, baru ngobrol kalau dia lagi butuh, biasanya NAra menghindar kalau Dr. Gladys ajak ngobrol.
"Kenapa, Ra?" Dr. Gladys langsung menutup pintu mobilnya lagi dan melihat Nara dengan malu-malu kucing, belum lagi deg-degannya. Enggak ada angin enggak ada hujan, Nara ngajak ngobrol.
"Gue mau minta tolong."
Langsung Nara menjelaskan pokok permasalahannya, tanpa menyinggung Ratih. Dengan seksama, Dr. Gladys memperhatikan apa yang Nara dan dia tertawa sedikit.
"He's avoiding you. You don't need......ehem, enggak.....perlu tes mahal-mahal, ini bisa dicari manual kok." Tiba-tiba Dr. Gladys sadar kalau Nara tidak suka dnegan gaya bicaranya yang setengah-setengah, langsung pindah ke satu bahasa. Dan menurut dia, Dr. Okta sedang mengindari Nara, mungkin karena pekerjaannya menumpuk.
Malam pertama Nara membuka-buka hasil jepretannya di rumah Ratih. Satu jepretan buku, satu lagi jepretan gambar Ratih.
Buku pertama yang ia buka adalah buku harian Ratih yang menceritakan kehidupannya setelah ia selamat dari bencana tragis yang menimpa keluarganya. Tulisannya khas tulisan seorang anak kecil, tapi cukup baik juga dan cukup rapi, baik itu bahasa maupun tulisannya.
Entri pertama saja sudah sangat menggoda Nara untuk membuka buku mengenai ketigabelas orang yang membantai keluarga Ratih, namun ia bersabar dan membaca tulisan Ratih yang kedua di diarynya.
Siapa bapak dokter itu? Tidak ada keterangan lanjut mengenai siapa bapak dokter itu. Ratih tidak pernah menuliskan nama dalam diarynya.
Nara langsung kaget. Dari situ ia memahami,ada orang yang berusaha untuk mencuci otak Ratih. Tidak hanya mencuci otaknya, ia melatih Ratih menjadi senjata pembunuh sejak usianya baru 10 tahun, segera setelah ia pulih dari kejadian yang menimpanya, Ratih diberi bekal yang menjadikannya berbahaya.
Nara membuka buku catatan pelaku yang pertama, pelaku mati karena keracunan. Dan dua bulan sebelum kematiannya, entri dalam diary Ratih mengatakan kalau ia belajar mengenai racun. Selebihnya mengenai apa yang terjadi dituliskan oleh Ratih dalam buku lain dan bahasa yang ia gunakan sudah jauh lebih rapi.
Nara mencocokan kasus kedua di buku harian Ratih, di arsip, dan gambarnya.
Satu nama terlintas ke otak Nara ketika ia membaca, Oktavius Wijaya.
Okta adalah satu-satunya orang yang masih aktif di bagian forensik yang terlibat langsung dalam pemeriksaan, Dr. Sarwoyo dan satu dokter lagi sudah meninggal dunia, sementara dokter yang sama-sama masih junior dengan Okta ada yang sedang sekolah lagi, ada yang tidak meneruskan karirnya dan menjadi dosen, ada yang pensiun dini. Hanya saja, sepertinya masalah ini sensitif untuk Okta sehingga Nara harus sangat hati-hati ketika bertanya pada Okta. Bagaimana caranya?
Okta hanya tidak akan pernah marah kalau ia sedang makan.
Karenanya untuk hari ini Nara rela membuka tabungannya untuk menyogok Okta dan berharap ia hatinya bisa senang karena sudah ditraktir. Kenapa belakangan ini Nara harus selalu mengeluarkan uang untuk mentraktir orang? Fix Nara salah gaul, ia terlalu banyak bergaul dnegan orang yang suka makan.
“Ta, maaf kalau gue jadi kaya nyogok lu. Tapi gue bener-bener harus dapet jawaban dari pertanyaan gue ini…..”
“Lu masih mau cari tahu tentang apa yang terjadi 10 tahun yang lalu, kan?”
“Please,Ta.”
Kalau sudah dirayu Okta pasti mengalah, oleh anak istrinya pun ia mudah sekali dirayu. Tidak banyak memang yang bisa disampaikan oleh Okta karena ia sendiri masih bingung apa yang sebenarnya terjadi 10 tahun yang lalu. Mungkin sebaiknya ia memberitahukan Nara apa yang sebenarnya terjadi dan membiarkan ia mencari kebenaran, karena Okta tidak berani mencari kebenaran itu dan terkadang tidurnya masih terganggu karena memikirkan hal ini. Bagaimana kalau diamnya itu membawa pengaruh fatal bagi orang lain? Kalau ternyata ia juga memiliki andil dalam menyembunyikan kebenaran dan menyesatkan orang lain?
Okta mengambil ponselnya dan membuka-buka galeri fotonya, kemudian memperlihatkan foto dirinya yang masih muda bersama anggota forensik junior dan seorang senior.
“Ini, bapak yang di tengah ini adalah Dr. Sarwoyo. Almarhum. Beliau adalah salah seorang dokter forensik terbaik, meninggal tujuh tahun yang lalu. Beliau ini yang memimpin tim forensik dalam peristiwa sepuluh tahun yang lalu, malam tersibuk kita itu, Ra.”
“Oke…..terus?”
“Yang paling lu pengen tahu, entah kenapa, pasti soal Dewi Ratih, kan?”
Nara mengangguk dengan tidak sabar, entah mengapa hari ini Okta bicara lebih lambat dari biasanya. Atau Nara saja yang tidak sabar?
“Dewi Ratih…..waktu itu hanya Dokter Sarwoyo yang menangani mayatnya. Seperti yang udah gue bilang, mayat Dewi Ratih itu datang lebih terlambat daripada mayat yang lainnya karena ditemukan di halaman belakang dekat dapur. Enggak ada mayat lain yang ditemukan dekat-dekat situ, dan matinya pun dalam keadaan terbakar. Hanya gue dan Dokter Sarwoyo yang menangani mayat itu, dan pertanyaan gue sama seperti pertanyaan lu, apa memeriksa DNA yang terdapat pada darah dan rambut yang ditemukan dekat TKP saja cukup? Bagaimana dengan tulang dan gigi? Gue liat dengan mata kepala gue sendiri, Dokter ambil sampel tulang dan gigi……tapi…..somehow, gue enggak percaya dengan hasilnya.”
“Kenapa? Ada yang aneh?”
“Gue pribadi enggak pernah melihat hasil tes DNAnya. Suatu waktu, gue lihat Dokter Sarwoyo membuka surat dari lab tempat kita tes DNA, tapi…..enggak ada lagi ceritanya tentang surat itu. Gue tanya hasilnya gimana, Dokter Cuma bilang positif, itu mayat Dewi Ratih…..dan gue rasa, alam bawah sadar gue yang paling yakin kalau Dokter bohong sama gue.”
“Menurut lu, apa ada alasan buat Dokter Sarwoyo untuk melindungi Ratih……Dewi Ratih? Kalau ternyata ia masih hidup?”
“Rumornya, ayah Dewi Ratih itu adalah pemimpin gerakan bawah tanah penentang pemerintah dan dianggap berbahaya. Nama samarannya Prometheus, di kepolisian nama itu sangat terlarang, tapi tidak ada yang tahu siapa dia. Dokter Sarwoyo itu…..sempat dicurigai sebagai simpatisan, tapi tidak ada bukti pada tuduhan tersebut da beliau adalah ahli forensik yang dihormati. Dulu enggak banyak dokter forensik di negara ini, jadi, dokter Sarwoyo bisa bekerja dengan tenang seumur hidupnya. Ada rumor juga kalau Prometheus itulah penyebab pembantaian keluarganya, bukan semata-mata karena perampokan biasa.”
Okta memandang ke arah Nara dengan mata yang terlihat lelah, ia menyimpan rasa penasaran dan rasa bersalahnya selama sepuluh tahun. Sebagai seorang dokter, ia disumpah untuk selalu mengatakan kebenaran, apalagi sekarang ia bekerja dengan kepolisian.
“Ra, banyak rumor tentang malam yang mengenaskan itu. Kami disumpah untuk tidak membicarakan apa yang terjadi dan media yang tahu pun dikontrol ketat. Siapapun…..siapapun yang terlibat malam itu hidupnya sampai sekarang dirundung rasa bersalah, Ra. Kalau lu bertanya kenapa dokter yang seangkatan gue itu habis, karena banyak dari mereka yang malam itu bekerja di bawah tekanan, banyak kebohongan yang harus kami sampaikan ke publik. Ada enam orang dokter waktu itu yang kerja bareng gue, keenamnya memilih keluar dari forensik atau ke luar negeri. Polisi dan petugas forensik pun begitu. Jujur gue kelepasan kemarin, Ra. Dan…..gue dipanggil atasan lu.”
“Kompol Mahesa?”
“Ya…..karena gue mengungkit peristiwa itu pas praktek.”
Yang disampaikan oleh Okta tidak sebanyak yang ia harapkan memang, tapi ia tidak bisa memaksanya lagi. Ia berusaha menyakinkan diri sendiri untuk percaya kalau Okta memang tidak tahu apa-apa lagi. Ia hanya dipaksa untuk terlibat, selebihnya bagi Okta dan orang lain yang dipaksa untuk terlibat, pasti hanya sebuah misteri yang membuat mereka gelisah. Mereka diminta untuk bersumpah dan mengatakan kebenaran, nyatanya waktu itu meereka dipaksa lagi untuk berbohong. Perdebatan batin dan etika melawan nalar dan insting untuk menyelamatkan diri pasti sangat hebat.
“Satu lagi, Ta. Gue janji.”
“Ya?”
“Tentang 13 orang yang.....”
“Tiga belas orang tersangka pembunuhan yang mati dengan cara-cara aneh di penjara? Jujur saja kami ketakutan waktu itu. Kluarga Yudisthira itu.....banyak cerita mengenai keluarga itu, termasuk ada yang bilang, siapapun yang terlibat dalam pembunuhan itu akan dikutuk. Awalnya kami tidak ambil peduli, tapi tiga belas tersangka mati itu bukan sekedar kebetulan. Kami tentu tidak percaya pada kutukan, tapi kami, percaya ada yang sengaja.....membalaskan dendam.”
Nara menganggukan kepalanya ia rasa sebaiknya ia meninggalkan Okta karena sudah terlalu banyak yang ia harus ceritakan.
Dr. Okta langsung pusing melihat banyaknya sample yang diminta Nara untuk dikerjakan, apalagi ia sedang banyak kerjaan.
"Dr. Gladys deh coba. Situ cabut sono, mahal tahu tes kayak begini."
Dan bahkan Nara pun berhenti merengek ketika Okta memperlihatkan berapa banyak uang yang harus dikeluarkan oleh Nara untuk melakukan tes yang ia minta.
Akhirnya memang Nara meminta tolong pada Dr. Gladys. Awalnya enggak enak juga, baru ngobrol kalau dia lagi butuh, biasanya NAra menghindar kalau Dr. Gladys ajak ngobrol.
"Kenapa, Ra?" Dr. Gladys langsung menutup pintu mobilnya lagi dan melihat Nara dengan malu-malu kucing, belum lagi deg-degannya. Enggak ada angin enggak ada hujan, Nara ngajak ngobrol.
"Gue mau minta tolong."
Langsung Nara menjelaskan pokok permasalahannya, tanpa menyinggung Ratih. Dengan seksama, Dr. Gladys memperhatikan apa yang Nara dan dia tertawa sedikit.
"He's avoiding you. You don't need......ehem, enggak.....perlu tes mahal-mahal, ini bisa dicari manual kok." Tiba-tiba Dr. Gladys sadar kalau Nara tidak suka dnegan gaya bicaranya yang setengah-setengah, langsung pindah ke satu bahasa. Dan menurut dia, Dr. Okta sedang mengindari Nara, mungkin karena pekerjaannya menumpuk.
Malam pertama Nara membuka-buka hasil jepretannya di rumah Ratih. Satu jepretan buku, satu lagi jepretan gambar Ratih.
Buku pertama yang ia buka adalah buku harian Ratih yang menceritakan kehidupannya setelah ia selamat dari bencana tragis yang menimpa keluarganya. Tulisannya khas tulisan seorang anak kecil, tapi cukup baik juga dan cukup rapi, baik itu bahasa maupun tulisannya.
Ini adalah permulaan bagiku, karena hidup itu tidak akan menjadi mudah setelah ini. Mama dan papa katanya akan mengawasiku di Surga sana tapi aku tidak percaya pada Surga. Surga tidak akan melindungiku, makanya aku sendiri yang harus bertahan. Ini akan datang pembalasan. Siapa yang bunuh keluargaku juga akan mati.
Entri pertama saja sudah sangat menggoda Nara untuk membuka buku mengenai ketigabelas orang yang membantai keluarga Ratih, namun ia bersabar dan membaca tulisan Ratih yang kedua di diarynya.
Bapak dokter bilang aku aman di sinirumah. Aku takut kalau tnggal sendiri. Tapi katanya Bapak dokter enggak apa-apa aku di sini sendiri. Kata Bapak dokter jangan bilang siapa-siapa kalau aku di sini.....ssstttt......
Siapa bapak dokter itu? Tidak ada keterangan lanjut mengenai siapa bapak dokter itu. Ratih tidak pernah menuliskan nama dalam diarynya.
Bapak dokter bilamg, yang membunuh papa dan mama dan oma dan opa sudah tertangkap semua. Tapi Bapak dokter bilang tidak adil hukuman mereka, karena itu Bapak dokter bilang aku harus mau berusaha agar mama dan papa mendapat keadilan. Karena katanya mama dan papa tidak akan tenang tidurnya sampai ada hukum yang adil.
Nara langsung kaget. Dari situ ia memahami,ada orang yang berusaha untuk mencuci otak Ratih. Tidak hanya mencuci otaknya, ia melatih Ratih menjadi senjata pembunuh sejak usianya baru 10 tahun, segera setelah ia pulih dari kejadian yang menimpanya, Ratih diberi bekal yang menjadikannya berbahaya.
Nara membuka buku catatan pelaku yang pertama, pelaku mati karena keracunan. Dan dua bulan sebelum kematiannya, entri dalam diary Ratih mengatakan kalau ia belajar mengenai racun. Selebihnya mengenai apa yang terjadi dituliskan oleh Ratih dalam buku lain dan bahasa yang ia gunakan sudah jauh lebih rapi.
Quote:
Aku masuk ke dalam penjara bersama bapak dokter dan menemui target. Sebelumnya, bapak dokter sudah membekaliku dengan alat (keterangan di hal. lain).
METODE:
Bapak dokter menyuruhku menggenggam alat dan berpura-pura kemudian mendekati makanan target dan batuk sambil menaruh kepalan tanganku hingga alat berjatuhan di makanannya. Bapak dokter bilang ia akan mati dalam beberapa jam.
Dalam buku sketsa Ratih terdapat gambar seorang pria yang sedang bertekuk lutut memegangi lehernya sambil berteriak kesakitan. Racun itu pasti mencekik lehernya hingga mati, mengerikan sekali gambar itu meski belum sebagus gambarnya sekarang.
Meski sangat menyadari ia sedang dalam pengawasan, Nara tidak bisa menahan diri dan masuk ke ruang arsip untuk membuka kasus-kasus sejak 10 tahun yang lalu untuk melihat seberapa besar kerapihan modi operandi yang dilakukan Ratih untuk menghabisi korbannya. Ratih tidak membunuh, ia menciptakan sebuah drama yang imdah dan rapi, hingga semua kasusnya ditutup tanpa kejelasan atau dianggap kecelakaan.
METODE:
Bapak dokter menyuruhku menggenggam alat dan berpura-pura kemudian mendekati makanan target dan batuk sambil menaruh kepalan tanganku hingga alat berjatuhan di makanannya. Bapak dokter bilang ia akan mati dalam beberapa jam.
Dalam buku sketsa Ratih terdapat gambar seorang pria yang sedang bertekuk lutut memegangi lehernya sambil berteriak kesakitan. Racun itu pasti mencekik lehernya hingga mati, mengerikan sekali gambar itu meski belum sebagus gambarnya sekarang.
Meski sangat menyadari ia sedang dalam pengawasan, Nara tidak bisa menahan diri dan masuk ke ruang arsip untuk membuka kasus-kasus sejak 10 tahun yang lalu untuk melihat seberapa besar kerapihan modi operandi yang dilakukan Ratih untuk menghabisi korbannya. Ratih tidak membunuh, ia menciptakan sebuah drama yang imdah dan rapi, hingga semua kasusnya ditutup tanpa kejelasan atau dianggap kecelakaan.
Nara mencocokan kasus kedua di buku harian Ratih, di arsip, dan gambarnya.
Quote:
Ratih paham betul kalau korban, atau Ratih lebih senang menyebutnya target, adalah seorangalpha male di penjara dengan dan ia sangat suka musik.
Satu waktu, ada panggung kecil-kecilan yang dimana para napi boleh bernyanyi. Target inilah yang pertama kali bernyanyi dan pada akhirnya tewas karena tersengat listrik. Mikrofon yang digunakan sudah diatur agar pmengalirkan listrik yang cukup ntuk membunuh orang dengan penyakit jantung. Kasus itu dianggap kecelakaan dan tidak ada yang mengungkit kasusnya lagi. Di luar sana pasti orang akan berspekulasi mengenai kematian dua orang napi dengan kasus yang sama dalam waktu yang berdekatan, tapi ini penjara, bukan dunia luar. Kasus aneh terjadi di penjara tiap saat dan percuma saja berspekulasi mengenai apa yang terjadi, bisa-bisa dipukuli sipir kalau terlalu banyak tanya.
Satu waktu, ada panggung kecil-kecilan yang dimana para napi boleh bernyanyi. Target inilah yang pertama kali bernyanyi dan pada akhirnya tewas karena tersengat listrik. Mikrofon yang digunakan sudah diatur agar pmengalirkan listrik yang cukup ntuk membunuh orang dengan penyakit jantung. Kasus itu dianggap kecelakaan dan tidak ada yang mengungkit kasusnya lagi. Di luar sana pasti orang akan berspekulasi mengenai kematian dua orang napi dengan kasus yang sama dalam waktu yang berdekatan, tapi ini penjara, bukan dunia luar. Kasus aneh terjadi di penjara tiap saat dan percuma saja berspekulasi mengenai apa yang terjadi, bisa-bisa dipukuli sipir kalau terlalu banyak tanya.
Quote:
Yang ketiga, kematian dengan siksaan psikologis. Yang bisa melakukan pembunuhan seperti ini hanyalah orang yang tahu benar kalau target bukanlah pembunuh profesional dan ia sangat tersiksa secara mentalnya setelah pembantaian yang ia lakukan. Target ketiga ini awalnya hanya ingin ikut menjarah barang-barang mewah di dalam rumah itu, tapi pada akhirnya ia terpaksa membunuh juga untuk melindungi diri. Ia bunuh diri dengan membenturkan kepalanya pada beban untuk barbel, setelah ia berteriak-teriak minta maaf setiap malam dalam tidurnya. Sebuah cara yang sangat menyakitkan untuk bunuh diri, tapi menurut orang, korban yang pertama ia bunuh adalah dengan cara membenturkan batu ke kepalanya, mungkin ia meniru cara itu. Sejak kematian ketiga, kemampuan menggambar Ratih sudah meningkat dan semakin nyata.
Satu nama terlintas ke otak Nara ketika ia membaca, Oktavius Wijaya.
Okta adalah satu-satunya orang yang masih aktif di bagian forensik yang terlibat langsung dalam pemeriksaan, Dr. Sarwoyo dan satu dokter lagi sudah meninggal dunia, sementara dokter yang sama-sama masih junior dengan Okta ada yang sedang sekolah lagi, ada yang tidak meneruskan karirnya dan menjadi dosen, ada yang pensiun dini. Hanya saja, sepertinya masalah ini sensitif untuk Okta sehingga Nara harus sangat hati-hati ketika bertanya pada Okta. Bagaimana caranya?
Okta hanya tidak akan pernah marah kalau ia sedang makan.
Karenanya untuk hari ini Nara rela membuka tabungannya untuk menyogok Okta dan berharap ia hatinya bisa senang karena sudah ditraktir. Kenapa belakangan ini Nara harus selalu mengeluarkan uang untuk mentraktir orang? Fix Nara salah gaul, ia terlalu banyak bergaul dnegan orang yang suka makan.
“Ta, maaf kalau gue jadi kaya nyogok lu. Tapi gue bener-bener harus dapet jawaban dari pertanyaan gue ini…..”
“Lu masih mau cari tahu tentang apa yang terjadi 10 tahun yang lalu, kan?”
“Please,Ta.”
Kalau sudah dirayu Okta pasti mengalah, oleh anak istrinya pun ia mudah sekali dirayu. Tidak banyak memang yang bisa disampaikan oleh Okta karena ia sendiri masih bingung apa yang sebenarnya terjadi 10 tahun yang lalu. Mungkin sebaiknya ia memberitahukan Nara apa yang sebenarnya terjadi dan membiarkan ia mencari kebenaran, karena Okta tidak berani mencari kebenaran itu dan terkadang tidurnya masih terganggu karena memikirkan hal ini. Bagaimana kalau diamnya itu membawa pengaruh fatal bagi orang lain? Kalau ternyata ia juga memiliki andil dalam menyembunyikan kebenaran dan menyesatkan orang lain?
Okta mengambil ponselnya dan membuka-buka galeri fotonya, kemudian memperlihatkan foto dirinya yang masih muda bersama anggota forensik junior dan seorang senior.
“Ini, bapak yang di tengah ini adalah Dr. Sarwoyo. Almarhum. Beliau adalah salah seorang dokter forensik terbaik, meninggal tujuh tahun yang lalu. Beliau ini yang memimpin tim forensik dalam peristiwa sepuluh tahun yang lalu, malam tersibuk kita itu, Ra.”
“Oke…..terus?”
“Yang paling lu pengen tahu, entah kenapa, pasti soal Dewi Ratih, kan?”
Nara mengangguk dengan tidak sabar, entah mengapa hari ini Okta bicara lebih lambat dari biasanya. Atau Nara saja yang tidak sabar?
“Dewi Ratih…..waktu itu hanya Dokter Sarwoyo yang menangani mayatnya. Seperti yang udah gue bilang, mayat Dewi Ratih itu datang lebih terlambat daripada mayat yang lainnya karena ditemukan di halaman belakang dekat dapur. Enggak ada mayat lain yang ditemukan dekat-dekat situ, dan matinya pun dalam keadaan terbakar. Hanya gue dan Dokter Sarwoyo yang menangani mayat itu, dan pertanyaan gue sama seperti pertanyaan lu, apa memeriksa DNA yang terdapat pada darah dan rambut yang ditemukan dekat TKP saja cukup? Bagaimana dengan tulang dan gigi? Gue liat dengan mata kepala gue sendiri, Dokter ambil sampel tulang dan gigi……tapi…..somehow, gue enggak percaya dengan hasilnya.”
“Kenapa? Ada yang aneh?”
“Gue pribadi enggak pernah melihat hasil tes DNAnya. Suatu waktu, gue lihat Dokter Sarwoyo membuka surat dari lab tempat kita tes DNA, tapi…..enggak ada lagi ceritanya tentang surat itu. Gue tanya hasilnya gimana, Dokter Cuma bilang positif, itu mayat Dewi Ratih…..dan gue rasa, alam bawah sadar gue yang paling yakin kalau Dokter bohong sama gue.”
“Menurut lu, apa ada alasan buat Dokter Sarwoyo untuk melindungi Ratih……Dewi Ratih? Kalau ternyata ia masih hidup?”
“Rumornya, ayah Dewi Ratih itu adalah pemimpin gerakan bawah tanah penentang pemerintah dan dianggap berbahaya. Nama samarannya Prometheus, di kepolisian nama itu sangat terlarang, tapi tidak ada yang tahu siapa dia. Dokter Sarwoyo itu…..sempat dicurigai sebagai simpatisan, tapi tidak ada bukti pada tuduhan tersebut da beliau adalah ahli forensik yang dihormati. Dulu enggak banyak dokter forensik di negara ini, jadi, dokter Sarwoyo bisa bekerja dengan tenang seumur hidupnya. Ada rumor juga kalau Prometheus itulah penyebab pembantaian keluarganya, bukan semata-mata karena perampokan biasa.”
Okta memandang ke arah Nara dengan mata yang terlihat lelah, ia menyimpan rasa penasaran dan rasa bersalahnya selama sepuluh tahun. Sebagai seorang dokter, ia disumpah untuk selalu mengatakan kebenaran, apalagi sekarang ia bekerja dengan kepolisian.
“Ra, banyak rumor tentang malam yang mengenaskan itu. Kami disumpah untuk tidak membicarakan apa yang terjadi dan media yang tahu pun dikontrol ketat. Siapapun…..siapapun yang terlibat malam itu hidupnya sampai sekarang dirundung rasa bersalah, Ra. Kalau lu bertanya kenapa dokter yang seangkatan gue itu habis, karena banyak dari mereka yang malam itu bekerja di bawah tekanan, banyak kebohongan yang harus kami sampaikan ke publik. Ada enam orang dokter waktu itu yang kerja bareng gue, keenamnya memilih keluar dari forensik atau ke luar negeri. Polisi dan petugas forensik pun begitu. Jujur gue kelepasan kemarin, Ra. Dan…..gue dipanggil atasan lu.”
“Kompol Mahesa?”
“Ya…..karena gue mengungkit peristiwa itu pas praktek.”
Yang disampaikan oleh Okta tidak sebanyak yang ia harapkan memang, tapi ia tidak bisa memaksanya lagi. Ia berusaha menyakinkan diri sendiri untuk percaya kalau Okta memang tidak tahu apa-apa lagi. Ia hanya dipaksa untuk terlibat, selebihnya bagi Okta dan orang lain yang dipaksa untuk terlibat, pasti hanya sebuah misteri yang membuat mereka gelisah. Mereka diminta untuk bersumpah dan mengatakan kebenaran, nyatanya waktu itu meereka dipaksa lagi untuk berbohong. Perdebatan batin dan etika melawan nalar dan insting untuk menyelamatkan diri pasti sangat hebat.
“Satu lagi, Ta. Gue janji.”
“Ya?”
“Tentang 13 orang yang.....”
“Tiga belas orang tersangka pembunuhan yang mati dengan cara-cara aneh di penjara? Jujur saja kami ketakutan waktu itu. Kluarga Yudisthira itu.....banyak cerita mengenai keluarga itu, termasuk ada yang bilang, siapapun yang terlibat dalam pembunuhan itu akan dikutuk. Awalnya kami tidak ambil peduli, tapi tiga belas tersangka mati itu bukan sekedar kebetulan. Kami tentu tidak percaya pada kutukan, tapi kami, percaya ada yang sengaja.....membalaskan dendam.”
Nara menganggukan kepalanya ia rasa sebaiknya ia meninggalkan Okta karena sudah terlalu banyak yang ia harus ceritakan.
indrag057 memberi reputasi
1
Kutip
Balas