Quote:
Vani : Kecewa? udah pasti gue kecewa Gri, tapi tetap aja gue gak bisa kecewa sama lo, karena terlanjur lo lah orang yang telah gue pilih, orang yang ingin gue titipkan perasaan gue
Gue : Tunggu Van, apa maksudnya ini? bukankah dengan gitu lo baru aja ngelanggar komitmen yang pernah kita buat bersama
Vani : Persetan dengan komitmen Gri, gue akan abaikan aja jika itu justru hanya bisa memberikan rasa sakit untuk gue, gue minta jangan pernah benturin sebuah perasaan dengan aturan yang telah lo buat, karena gue yakin gak akan pernah ada gunanya, sekarang gue mau pulang aja! (nangis)
Gue : (Raih tangannya) tunggu Van, semua pasti masih bisa kita bicaraain baik2 tanpa harus lo marah, baik akan gue temenin lo pulang, tapi selanjutnya gue minta lo jelasin semuanya
Vani : Lepasin tangan gue gak! apa yang masih dan perlu dijelaskan lagi! bukankah semua sudah cukup jelas! apa jawaban gue tadi terlalu sulit untuk bisa buat lo mengerti?
Selanjutnya gue hanya bisa merelakan kepergianya, melihatnya berlari pulang dalam keadaan menangis, sedang gue hanya bisa terduduk shock dipinggir jalan setelah mendengar pengakuanya, cukup lama setelah gue akhirnya memutuskan untuk pulang dan segera mendapati Vani telah berkemas pakaianya
Quote:
Gue : Lo mau kemana Van, lo gak mau jelasin dulu tentang yang tadi!
Vani : Itu bukan urusan lo! bukannya lo malah seneng ya? gue segera minggat dari sini sehingga gak akan ada lagi orang yang repotin hidup lo, mau dijelasin apa lagi? bukankah yang tadi udah cukup lo denger sendiri, atau jangan2 telinga lo emang udah tuli?
Gue : Gue bisa mendengarnya jelas Van, tapi sampai saat ini gue masih belum mengerti, untuk itu tolong kasih gue kesempatan sekali lagi untuk bisa mendengarnya lagi
Vani : Terlambat! apakah dengan gue jelaskan lagi akan banyak berpengaruh Gri? bahkan bisa merubah penilaian lo selanjutnya
Gue : Tentu aja bisa Van! apapun mungkin terjadi!
Vani : Hanya aja gue udah gak bisa lagi Gri, dan waktu gue sepertinya juga udah gak keburu jika harus menjelaskannya ke lo
Gue : Setidaknya kasih gue alasan, untuk gue bisa mengijinkan lo pergi dari sini!
Vani : Satu2nya alasan adalah bahwa keberadaan gue selama disini gak pernah sekalipun lo inginkan, kehadiran gue sama sekali gak lo butuhkan
Gue : Kata siapa? lo masih sangat gue butuhkan disini Van
Vani : Iya! hanya lo butuhkan sebagai seorang pembantu yang tak lebih hanya dapat selalu lo suruh2 sesuai keinginan lo, sekarang mikir Gri? apa masih ada di zaman sekarang orang yang sanggup seperti itu? bekerja dan gak pernah menuntut di upah, jika memang ada tunjukin ke gue siapa orangnya! padahal gak ada yang bisa setulus itu bisa melakukanya kecuali gue, silahkan aja lo bantah jika lo memang punya pendapat lain!
Gue : Sepertinya lo memang benar Van, dan maaf! karena gue baru menyadarinya sekarang, berikutnya beri gue kesempatan untuk bisa memperbaiki semuanya, untuk gue bisa lebih mengerti lo, agar gue dapat menghargai waktu lo ketika bersama gue
Vani : Jadi maksudnya?
Gue : Bener Van, sepertinya gue udah mulai bisa mengerti apa yang lo maksudkan, jadi mulai sekarang ijinkan gue untuk coba belajar menerima perasaan lo, gue juga akan berusaha mencari sesuatu tentang lo yang bisa buat gue tertarik
Vani : Tapi kenapa baru sekarang Gri? padahal gue sudah lama menunggu datangnya saat ini, inilah yang gue inginkan dari lo dari sejak dulu, sebuah penerimaan, bukan justru penyangkalan atas keberadaan gue selama disini, btw itu tetap masih belum sepenuhnya bisa maafin atas kesalahan lo tadi Gri
Gue : Apapun itu Van, jika lo minta! akan gue lakuin semuanya agar lo tak pergi, bilapun harus memohon akan gue lakukan demi lo, asal lo bisa tetap tinggal disini
Vani : Banarkah! lalu bagaimana caramu melakukanya?
Gue : Mungkin dengan ini akan cukup Van (segera menghampirinya kemudian mengecup tepat pada keningnya) cukup ketahuilah Van! biasanya gue gak bisa melakukan ini tanpa sebuah alasan sebelumnya, tapi yang membedakan lo dengan lainya, mungkin lo adalah orang spesial yang mampu membuat gue harus melakukanya untuk pertama kali
Vani : (Segera pipinya tampak merah, sedikit terlihat juga reaksi kaget) apakah ini berarti lo baru saja menemukan alasanya pada diri gue Gri
Gue : Masihkan perlu gue perjelas Van! gue emang bodoh Van untuk terlambat menyadarinya, bahwa gue sebenernya juga mulai ada perasaan yang sama seperti lo, tapi dulu emang gak bisa dan gak mungkin, karena gue adalah tipe orang yang selalu memegang teguh prinsip, tapi entah sejak kapan ketika bersama lo pandangan gue pada prinsip mulai berubah, jadi terima kasih sekali lagi kepada lo karena telah bisa menyadarkan gue, tanpa lo gue gak akan bisa jujur dengan perasaan gue sendiri, tanpa lo gue juga akan terus menjadi manusia yang menyebalkan, gue itu emang orang aneh Van di luar gue hanya ingin selalu dinilai orang sempurna, tapi pada kenyataanya gue adalah sosok yang rapuh, terbukti hanya dengan kehadiran lo, gue gak bisa terus bersandiwara memerankan menjadi orang lain, sebaliknnya gue juga gak bisa terus menyembunyikan jati diri gue yang sebenernya menyedihkan di hadapan lo, gak gue pungkiri bahwa baru2 ini juga gue mulai memiliki perasaan ke lo, walau sebenarnya akal pikiran gue sendiri berusaha mati2an untuk membantahnya, gue merasa bagai terlilit ribuan tali yang tak membiarkan gue terlepas dari prinsip yang telah terlanjur gue pilih, padahal dulu gue berprinsip untuk tak menerima lagi perempuan lain dalam hidup gue setelah gue banyak dikecewakan, setelah gue sadar hati gue telah terlanjur membatu, terlalu dalam terluka dan belum siap untuk berfungsi dengan semestinya, namun entah kenapa semua itu tak mempan terhadap lo Van, bagaimana hanya dengan lo seorang diri dapat melakukanya? membuat perubahan besar dalam hidup gue
Vani : Gue tak punya kuasa menjawabnya Gri! mungkin sudah disuratkannya demikian, satu yang masih dan selalu gue yakini bahwa hari ini pasti akan tiba, hari dimana gue akan mendengarkan langsung pengakuan lo, dan itu telah benar2 menjadi kenyataan sekarang
Berikutnya kita lewatkan hari dengan banyak obrolan, gue putuskan untuk hari itu sengaja bolos kerja demi mengkhususkan waktu bersama Vani di kost, obrolan kita berjalan dengan kusyuk hingga tak sadar telah melupakan berbagai rutinitas, melewatkan dua kali jam makan, melupakan mandi, hingga juga melupakan waktu sholat, astaughfirullah, ada banyak hal yang akhirnya gue ketahui dari obrolan kami tersebut, salah satu diantaranya adalah Vani ternyata bukan baru2 saja memiliki perasaan ke gue, lebih jauh dari itu sebenernya dari sejak SMP dia telah memiliki perasaan suka ke gue, kebetulan bertepatan di waktu yang sama dimana gue dulu pernah deket dengan Astri dan Aning, jadi sebenernya Vani itu berasal dari satu sekolah yang sama dengan gue, hanya aja dulu gue memang gak pernah menyadarinya, disamping dia sendiri juga mengaku ketika di SMP memang tak berpenampilan cukup menarik sehingga susah untuk mendapatkan perhatian gue, terlebih di waktu itu kebetulan telah ada 2 orang bidadari yang selalu setia mendampingi gue, yang selalu siap kemanapun menemani gue pergi, sejak saat itulah dia memilih untuk mulai mengubur impianya, impian untuk bisa lebih dekat dan menjadi pacar gue, dia puas hanya dengan menjadi seorang penggemar dan pengagum rahasia yang hanya dapat selalu me mention segala aktivitas gue, tanpa pernah sekalipun bertegur sapa, gak tau kenapa dia sudah cukup senang hanya dengan itu, padahal gue tahu sangat menyakitkan untuk orang yang berada di posisinya ketika itu, mengagumi lewat pujian dan mencintai dalam diam
Dia mengaku setelah lama memendam perasaanya, akhirnya perasaan itu justru tumbuh kembali setelah gue secara tak sengaja datang bertamu ke rumahnya, lebih tepatnya saat gue menjenguk abangnya (Irfan) dulu yang ketika diwaktu sebelumnya pernah gue bikin babak belur, gue inget waktu itu memang dia yang menyambut dan membukakan pintu, pun ketika awal gue datang pertama kali kerumahnya gue udah ngerasa sedikit aneh, waktu itu dia memang tak lepas memperhatikan gue, beberapa kali juga sempat ikut menyela dan menyahut pembicaraan antara gue dan Irfan, beberapa kali sempat mondar-mandir keluar masuk kamar Irfan untuk menanyakan keperluan, sambil tentunya mencuri2 pandang, saat gue pulang pun masih sama, tak berhenti dia terus mengembangkan senyum yang bagi gue malah lebih seperti menyeringai, menawarkan ke gue untuk sering2 mampir ke rumahnya, heran! karena waktu itu gue belum merasa kenal denganya, perbuatan dan tingkah laku konyolnya ini terus saja dia ceritakan waktu itu dengan sedikit malu2, beberapanya justru akhirnya membuat kita tertawa bersama, rupanya dia baru2 aja mengetahui bahwa hubungan gue dan Irfan dulu sebelumnya sebagai musuh, bahkan gue adalah orang yang telah membuat Irfan dulu hingga babak belur, dia juga mengatakan bahwa kami itu aneh, awalnya musuh tapi sekarang malah berteman baik (gue emang jadi lebih deket dengan Irfan setelah kepergian Aning dulu) untuk beberapa yang sering dia denger dari Irfan tentang gue, maupun yang sudah dia tau sendiri akhirnya dia memutuskan untuk coba mengenal gue lagi, diantaranya dengan mencari tahu tentang gue
Darinya pula akhirnya dia mengaku bahwa pertemuan kita kali ini sebelumnya memang sudah direncanakan olehnya, mengenai panggilan kerja untuk gue waktu itu, juga tentang rekomendasi mencari tempat kost ternyata ada sedikit campur tangan Irfan, terakhir dia juga mengaku bahwa orang kepercayaan yang disebutkan Irfan sebelumnya tak lain adalah dirinya sendiri, dialah orang yang lebih tau banyak tentang gue, orang yang telah menyelidiki hampir semuanya tentang gue, mungkin setelah melihat adanya sebuah kesempatan untuk bisa lebih dekat lagi dengan gue, setelah berhasil mengetahui kebenaran tentang kegagalan gue dalam membina sebuah hubungan di masa lalu, dia berusaha untuk mendekati gue lagi, merencanaan sebuah drama dan skenario ini hingga sedemikian rupa, dan berharap bahwa ini adalah akhir dari usahanya untuk bisa lebih dekat dengan gue, dan syukur2 jika dia bisa gue terima
Quote:
Vani : Atas semuanya gue minta maaf sebesar2nya pada lo Gri, gue sama sekali gak bermaksud buruk, gue juga gak bermaksud buat permainkan lo, gue hanya ingin memperbaiki atas ketidak mampuan gue dulu ketika masih belum berani menghadapi lo secara langsung, hingga sekarang setelah gue diberikan waktu dan kesempatan, gue tak akan lagi pernah menyia2kanya, maaf jika hanya cara ini satu2nya yang terpikir oleh gue
Gue : Tak apa2 Van, gue udah gak peduli bagaimana caramu hadir dalam hidup gue, dengan cara apa? bagaimana? dan dengan apa? gue gak pernah sekalipun lagi permasalahkan, terpenting sekarang lo telah berada disini bersama gue, dan untuk itu gue sangat bersyukur, jadi Van! tolong berjanjilah untuk lo gak pernah tinggalin gue seperti yang lainya?
Vani : Gue gak akan pernah punya alasan untuk dapat meninggalkan lo Gri, kendatipun karena sebuah masalah yang terlalu pelik yang mengharuskan kita kudu berpisah
Selanjutnya kita menjalani hari2 begitu sempurna, bersama kita juga semakin menyatu, bahkan ikatan perasaan kita pun semakin jelas, mungkin seperti inilah nanti gambaran kehidupan berumah tangga, seharian gue sibuk bekerja dan ketika pulang langsung disambut oleh senyum dan keceriaan Vani yang selalu siap melayani keperluan gue, subhanallah nikmat mana yang akan gue dustakan! sejak hari itu gue bermaksud untuk memperjelas lagi hubungan gue dan Vani, bila perlu akan sedikit meningkatkan statusnya, rencananya sebelum genap 6 bulan waktu yang sedia Vani habiskan bersama gue, setidaknya gue telah bisa mengikatnya dalam kesetiaan, beberapa hari setelahnya gue bermaksud untuk menemui Irfan secara langsung untuk menyampaikan rencana kita berdua, hingga pada suatu malam kita baru memiliki kesempatan tersebut
Quote:
Gue : Jadi begini Fan, langsung saja ya! maksud dan kedatangan kami kesini sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu, sebuah khabar baik sebenernya, tapi entah bagaimana nanti pendapat lo, ternyata bener kata lo, diantara kami rupanya telah terjadi sesuatu, belum genap 6 bulan ini kami tinggal bersama, kami telah merasa saling tertarik satu sama lain, dan telah saling suka, itulah sebab jika mungkin tak ada aral melintang, gue ingin segera menghalalkan Vani jadi milik gue Fan, dan mengenai sebab gue datang kemari karena gue menghargai lo sebagai kakaknya, sehingga gue ingin lo jadi yang pertama kali yang tahu tentang rencana kami, dan sekaligus meminta izin dan restu lo
Irfan : Begitu, seperti yang dulu pernah gue bilang juga ke lo kan! gue gak akan keberatan jika selama orang itu adalah lo Gri, kalau untuk gue pribadi tentu saja gue gak ada masalah, gue akan setuju dan merestui setiap rencana kalian nanti, hanya saja masalahnya ada pada kedua orang tua kami Gri, apakah mereka bisa merestui kalian, karena yang gue tau sendiri dan mungkin juga oleh Vani sudah sedikit diceritakan ke lo, orang tua kami itu sangat kolot, sangat sulit untuk bisa menentang apa kemauan mereka, terlebih Vani datang kesini pun dengan sedikit masalah, membantah untuk menuruti kemauan mereka dan menolak untuk dijodohkan, gue sangat tahu bahwa sebenernya lo jauh lebih baik dari calon yang dipilihkan oleh orang tua kami, tapi tentu saja penilaian itu tentunya hanya pada mereka, merekalah yang nanti bebas menentukan anaknya akan berjodoh dengan siapa, tapi sebagai seorang kakak gue akan selalu dukung kalian sebisa mungkin, walau sebandel2nya gue di masa lalu, tetap saja gue masih ikut bertanggung jawab atas hidup dan kebahagiaan adek gue satu2nya, tenang aja pasti ntar gue akan bantu bicarakan ini semua dengan mereka, terus saja berdo’a bahwa semua rencana baik ini akan dimudahkan pula jalannya
Gue : Amin Fan, gue mohon dengan sangat atas bantuanya
Irfan : Iya, terus kapan rencana kalian nanti menemui mereka?
Gue : Kemungkinan dalam waktu dekat ini Fan, bertepatan dengan hari raya Idul Fitri jadi sekalian mudik, tak lupa gue juga ingin memperkenalkan Vani dulu kepada orang tua gue dan meminta izin mereka
Irfan : Baiklah, semoga nanti gak akan ada masalah yang berarti, namun kalau boleh sedikit menyarankan, sebaiknya secepatnya aja disampaikan maksud baik ini kepada mereka, lebih cepat pasti akan lebih baik, jangan terus menunda2, siapa yang tau jika rencana baik ini akan didahului oleh orang lain
Gue : Gak perlu khawatir Fan, gue yakin hal itu gak akan terjadi, gue pasti bisa meyakinkan mereka nanti untuk bisa memberikan restunya pada kami
Haripun berganti hingga kita akhirnya telah tiba memasuki bulan ramadhan, berarti kurang dari 1 bulan lagi untuk menuju hari H yang gue janjikan untuk melamar Vani di depan kedua orang tuanya, hubungan kami sementara masih terjalin dengan cukup baik, ibadah kami pun juga semakin kusyuk dari hari2 sebelumnya, kami sama2 bermunajat semoga semua rencana2 dan harapan kami akan dikabulkan seperti yang kami inginkan, berlanjut setelah tiba 1 hari menjelang hari H tepat pada malam takbiran, gue telah sampai dirumah, namun kali ini gue tak datang sendirian, gue datang dengan menggandeng seorang gadis yang ingin gue perkenalkan kepada orang tua gue sebagai calon pasangan gue kelak, reaksi mereka tentu saja sangat kaget mengetahui gue telah berhasil move on dari kegagalan gue sebelumnya, mereka langsung menerima Vani saat itu bahkan berkata bahwa kami sangat cocok, mereka banyak memuji Vani tentang kecantikanya, kesopananya dalam bertutur kata bahkan memujinya dalam hal memasak, iya jadi kebetulan waktu itu demi menyambut kepulangan gue mereka membuat beberapa pesta kecil2an yang diantaranya adalah mempersiapkan hidangan yang kemudian kita santap bersama, malam itu juga Vani memutuskan menginap di rumah gue, menempati kamar gue yang sudah selama 6 bulan gak ditempati oleh tuanya, sedang gue sendiri tidur sekamar dengan Bang Bisma
Quote:
Bang Bisma : Kurang ajar emang Adek gue satu ini, belum juga ada setahun ditinggal nikah sama dua orang mantan, udah langsung dapet ganti aja yang baru! mana gak ada yang jelek semua pilihanya, asli dah semuanya cakep2, lah boro2 Abang mau milih2, ada yang mau aja Abang udah syukur
Gue : Lah itu emang udah nasib Abang dari sononya, btw dengan Mbak Sofi gimana Bang? lancar? kapan nih kira2 mau naik ke pelaminan? gak takut kesalip sama gue Bang? lama2 nungguin apa juga, umur kalian kan juga semakin tua?
Bang Bisma : Mengalihkan topik! alhamdulillah Abang dan Mbak Sofi masih baik2 aja hingga sekarang, berkat do’a lo juga, sebenernya bukan niat Abang sengaja ingin berlama2 dan menunda2, hanya aja Abang masih belum merasa cukup dan mampu memberi nafkah ke Mbak Sofi, lo tau sendiri kan kerjaan Abang masih belum bisa dibilang mapan, sedang Abang tau berumah tangga itu mebutuhkan banyak biaya, membutuhkan kemapanan finansial
Gue : Kata siapa Bang? banyak kok contohnya orang yang kurang beruntung hidupnya, tapi dia mampu menikah bahkan hidupnya juga bahagia, nikah itu jangan dilihat dari kebutuhan setelahnya Bang, jika Abang sekarang masih merasa takut karena alasan tersebut, Abang selamanya gak akan pernah bisa meraih kemajuan, jadikan pernikahan itu sebuah niat Bang, benar2 niat untuk menjalankan ibadah untuk memenuhi wajib dan sunnah Nya yang telah dicontohkan oleh Nabi kita, agar terhindar dari perbuatan zina, nafkah dan rejeki itu masih bisa dicari Bang, gak melulu kok orang hidup itu hanya untuk mengejar materi, karena yang gue tau orang hidup itu untuk mencari kebahagiaan dan keridhoanya di dunia dan akherat, sedang kebahagiaan itu sendiri tak lain bisa ditemukan salah satunya dari pernikahan, dalam hidup berumah tangga, sebenarnya dengan Abang terus mengejar materi siapa sih yang Abang carikan? dan untuk apa? bukankah nanti ujung2nya juga akan kembali diberikan kepada Anak2 dan Istri Abang? jadi untuk apa menunda? nikah gak akan menghambat rejeki Bang, justru rejeki kian bertambah setelah kita menikah
Bang Bisma : Wah kampret, bahasa lo udah kek Pak Ustad aja! tapi percaya wes! semua yang Mas katakan emang banyak benernya, mungkin mulai sekarang akan coba Abang renungkan
Gue : Bukan cuma direnungkan Bang, tapi segera diamalkan
Bang Bisma : Iya2 Abang tau, udah lo berhenti ngoceh dan segera tidur sana
Akhirnya gue mencoba untuk beristirahat, tapi entah kenapa mata gue sulit sekali untuk terpejam, ada rasa berdebar setelah mengetahui besok mungkin adalah hari yang sangat bersejarah bagi gue jika saja restu dari orang tua Vani telah gue dapatkan, semakin tak sabar rasanya menungu besok, hingga tiba2 HP gue bergetar tanda ada sms masuk
Quote:
Vani : Gri, kamar lo serem gila! gue takut tidur disini sendirian, lo bisa temenin gue gak? gue suka gak bisa tidur kalo gak ditemenin sama lo, seperti yang biasa di kost
Gue : Halah manja, maaf gue gak bisa kesana, gila aja bila gue ketahuan tidur sekamar sama lo, apa kata mereka nanti? jadi usahain buat dimerem2in aja
Vani : Yah! udah gue coba tapi tetep gak bisa, gimana nih? kalau gitu seperti biasa lo temenin gue ngobrol ya tapi lewat sms
Gue : Yaudah, begitu aja, btw gimana pendapat lo tentang keluarga gue
Vani : Overal keluarga lo semuanya asyik sih! gue suka, sepertinya gak akan ada masalah nantinya, mereka begitu welcome ke gue dan juga nampaknya kita akan mudah cocok, tapi sangat berbeda dengan keluarga gue Gri (emoticon nangis) lihat aja lah mereka besok, dan silahkan lo nilai sendiri, semoga besok kita mampu ya menghadapi mereka
Gue : Pasti, kita hanya perlu untuk yakin