MENYIBAK TABIR RANGGAWUNI part 1
kemeriahan alun2 kotaraja tiba2 berubah menjadi suasana yang menegangkan. nama ranggawuni yang telah dicap sebagai pemberontak. mahfum di telinga rakyat singasari. teriakan nama ranggawuni yang menggema. menstigmakan suasana saat itu sebagai usaha pemberontakan yang coba dilakukan oleh ranggawuni. seketika, lembu ampal memerintahkan pasukan bhayangkara membentuk formasi tertentu guna melindungi prabu tohjaya. sementara ia seorang diri memecah kerumunan masa dan mencari keberadaan ranggawuni. lembu tole dan pasukanya pun bertindak cepat.
Quote:
"umumkan keadaan darurat. dan perintahkan kepada seluruh penjaga gerbang untuk menutup pintu gerbang. cepat!!"seru lembu ampal kepada beberapa prajurit yang berada di lokasi.
maka saat itu juga. sangkakala ditiup sebagai pertanda keadaan darurat. dan pintu gerbang tertutup
"kakang lembu ampal, saya akan menyisir di seluruh pelosok kotaraja." seru lembu tole kepada lembu ampal
"tidak rayi! pecah pasukanmu menjadi 2. sebagian menyisir kotaraja. dan sebagian yang lain menyisir di sekitaran kotaraja dalam radius 10km. saya khawatir. ini siasat ranggawuni untuk mengacaukan suasana. dan ia akan menyerang dengan pasukan yang telah disiapkan di suatu tempat."
"baik kakang. ayo sebagian ikut saya!" perintah lembu tole beserta sebagian pasukanya
dari sebuah tempat. mpu sasi diam2 mengamati pergerakan lembu tole dan pasukanya.
"seluruh pasukan reguler semuanya berpencar. dan berkumpul di setiap gerbang kotaraja. bersiaplah untuk kemungkinan terburuk. hey kamu!" seru lembu tole kepada seorang prajurit yang kebetulan lewat
"siap gusti!"
"beri kabar ke resimen 3 untuk mengangkut logistik perang ke setiap gerbang. dan kabarkan juga kepada rakryan tabib untuk menyiapkan orang2nya di tempat2 strategis!"
"siap gusti!"
semua rakyat singasari yang berada di kotaraja. tertahan di dalamnya. mpu sasi mengamati situasi tersebut dengan seksama. ia memikirkan cara yang paling aman untuk menyelamatkan ghandali dalam situasi tersebut. suara kentongan saling bersahutan. semakin bersahutan dan semakin banyak pula prajurit singosari yang berkumpul di benteng kotaraja. terutama bagian gerbang selatan. mereka membuat penjagaan berlapis. rakyat singosari yang berada di kotaraja. hanya boleh meninggalkan kotaraja melalui pintu selatan. dan itu pun, setiap orang yang akan keluar di introgasi dan dipastikan identitasnya. setiap kuwuh (kepala dusun) di tempatkan di pintu tersebut. utuk mengenali setiap2 orang yang akan keluar. apakah benar2 orang singasari yang mereka kenal atau bukan
"siapa namamu?" tanya penjaga dengan tegas
"lawe gusti?" jawab salah seorang rakyat yang di introgasi
"dari daerah mana kamu berasal?"
"ngurawan gusti?"
"kepala desa ngurawan kemarilah!!" perintah penjaga
"apa benar dia warga desa ngurawan?" tanya penjaga
"benar gusti, dia adalah petani. dan rumahnya tidak jauh dari gerbang desa!"
"baiklah, kamu boleh keluar. ini hadiah dari gusti prabu. 2 keping emas. informasikan kepada kepala desa jika kamu mengetahui hal yang mencurigakan. terutama ranggawuni!"
"baik gusti"
"tuan kepala penjaga. gusti pranajaya memerintahkan untuk memberi imbalan kepada orang yang pertama kali mengenali ranggawuni. dan beliau mengundangnya secara pribadi ke kediamanya." bisik salah seorang prajurit kepada pimpinan penjaga gerbang selatan
"ah baik, nanti akan saya tanyakan kepada setiap orang. apakah mereka orang yang pertama kali melihat ranggawuni" gusti prabu tohjaya dan pranajaya mengawasi dari jauh apa yang terjadi di gerbang selatan. dan ia nampak puas dengan hal itu.
di sisi lain. ranggawuni dan arya. terus mencari akal untuk keluar dari kotaraja.
"bagaimana kakang?" tanya arya sembari berbisik
"mustahil kita bisa melewati penjagaan itu. atau setidaknya keluar dari kotaraja arya."
"kita coba cara itu lagi kakang"
"cara yang mana arya?"
arya mengambil sapu milik warga. kemudian ia mengambil tangkai sapu yang terbuat dari bambu kecil. dan mematahkanya menjadi 2 bagian
"pakai ini kakang?" jelas arya
kemudian ranggawuni teringat sewaktu mereka meloloskan diri di kali kedung. "aaahh benar. cara itu. lalu, bagaimana cara kita untuk keluar dari kerumunan ini dan menuju parid. bagaimana cara kita supaya tak ada satu orang pun penjaga yang curiga!"
arya memutar otaknya sejenak. pikiran liarnya mulai beraksi. remaja tanggung itu menemukan sebuah cara ganjil
"aduuhhh.... aduuhhh perutku!!! keluh arya
"kenapa kamu?" tanya ranggawuni cemas
arya hanya mengedipkan mata kepada ranggawuni sebagai isyarat "aduuhh. . aku tidak tahan lagii... aduuhh perutkuu!!" lalu tiba2 di tengah kerumunan orang. arya melepas celananya dan berjongkok
"hai bocah, apa yang kamu lakukan?!!" hardik seorang prajurit
"ampun gusti. saya tidak kuat lagi!!! . . . ." lalu arya mengejan dengan wajah merah padam "eeeemmmhhh. . ."
"plakkk" arya dilempar sandal prajurit tadi "hai bocah, sana kamu ke kali. berak di kali sana."
"baik tuan" lalu ranggawuni dan arya menuju parid/kali yang ada di kotaraja
"baiklah kakang. pasang bambu itu di mulut mu kakang.". . . . . ."nah sekarang kita akan masuk keparid setengah badan. seperti orang berak. setelah petugas lengah. kita menyelam dan keluar dari sini"
"baik arya. kamu memang bisa diandalkan untuk hal2 yang tidak terduga seperti ini"
"hehehehehe"
tak lama kemudian. . . "blubuk blubuk. . . . . blubuk" arya dan ranggawuni berhasil menyelam dan kabur melalui parid
tanpa sengaja. mpu sasi melihat polah arya. dia yakin. orang yang dimaksud gandhali adalah orang dewasa yang menceburkan diri. sekaligus ia meyakini kalau. 2 orang yang hanyut dengan bergelayut dibatang puhon di sungai brantas waktu itu adalah mereka.
mpu sasi tersenyum "dasar krama. . . kau masih ingat saja kejadian waktu itu." kisah mpu sasi mengenang kebersamaanya dengan mpu krama. lalu ia melakukan muslihat yang hampir sama dengan yang arya lakukan. dan.... mpu sasi dan gandhali juga berhasil keluar dari kotaraja melalui parid/kali/saluran air
beberapa saat berselang. setelah pemeriksaan. rakyat yang mengunjungi singasari kini tinggal tersisa sedikit saja yang masih mengantri.
Quote:
utusan pranajaya menghampiri penjaga gerbang selatan
"adakah pengunjung yang mencurigakan?"tanya utusan pranajaya
"belum. kami belum mendapatinya"
utusan pranajaya terlihat putus asa. pandanganya tertuju kepada kerumunan rakyat singosari yang tinggal sedikit "apa benar2 tidak ada satupun yang mencurigakan?"
"tidak ada. tapi kami sudah mendapati orang yang pertama kali melihat ranggawuni. sebagaimana perintah gusti pranajaya"
"baiklah. orang itu akan aku bawa ke kediaman gusti pranajaya"
di dalam balai ageng. prabu tohjaya dan pranajaya tengah sibuk menenangkan para undangan resmi negara. dengan segenap cara mereka meyakinkan kalau kondisi kotaraja singasari aman terkendali
Quote:
"maaf gusti pranajaya. ada prajurit yang hendak melapor kepada tuan"
"persilahkan dia masuk"
beberapa saat kemudian, prajurit tersebut masuk. ia menuju ke arah pranajaya dan membisikan sesuatu
"benarkah yang kamu katakan?"selidik pranajaya
"benar gusti. orang itu sekarang saya tempatkan di rumah gusti"
"ada apa paman pranajaya?" tanya gusti prabu penasaran
"ampun gusti. hamba sudah mengamankan orang yang pertama kali melihat dan mengenali ranggawuni."
"lalu apakah ranggawuni berhasil ditemukan?" tanya gusti prabu kembali
"ampun gusti. sampai dengan saat ini. penjaga gerbang, tidak satu pun yang mendapati sesuatu yang mencurigakan." imbuh pranajaya
"bagaimana aku menyampaikan keadaan ini kepada para tamu paman. mereka belum mau pulang sebelum keadanan diluar kotaraja benar2 aman. sementara keberadaan ranggawuni belum juga ditemukan."
"ampun gusti, menurut hemat hamba. sebaiknya gusti umumkan. bahwasanya. setelah diadakan pemeriksaan menyeluruh di gerbang kota. ternyata orang yang dimaksud adalah orang yang sangat mirip dengan ranggawuni. dalam keadaan itu, sehingga terjadi hal yang tidak diinginkan. keamanan kotaraja sudah kondusif, setelah sebagian pasukan lembu tole berpatroli. dan sebagian lagi menyisir keluar kotaraja dengan dipimpin langsung oleh lembu tole. gusti prabu bisa menyarankan agar para tamu kembali ke negaranya masing2. dengan pengawalan beberapa orang bhayangkara." jelas pranajaya
"lalu bagaimana dengan keamananku seandainya ranggawuni benar2 melakukan pemberontakan?" tegas gusti prabu gelisah
"bukankah masih ada lembu ampal dan barisan 1 pasukan bhayangkara. dalam hal ini. nama baik gusti prabu dan singasari dipertaruhkan." demikian pemaparan pranajaya dengan pengamatan politiknya (ring 1 adalah prajurit terkuat dari yang terkuat)
kemudian gusti prabu mengingat kejadian setahun lalu. sewaktu lembu ampal dan orang2nya yang kelelahan berhasil meredam serangan lembu tole. meskipun kalah jumlah berkali2 lipat "baiklah paman. aku turuti nasehatmu"
sejurus dengan nasehat pranajaya. gusti prabu tohjaya mengeluarkan sebuah titah. atas pertimbangan para tamu, dari isi titah itu. para tamu negara bersedia pulang saat itu juga. prabu tohjaya dan pranajaya melepas kepergian mereka di pintu barat dengan pengawalan penuh pasukan bhayangkara. dan setelah melepas para tamu. .
"pranajaya, ada hal penting yang ingin ku diskusikan denganmu. aku merasa ada beberapa hal yang ganjil" jelas gusti prabu
"sendiko gusti, hamba pun sependapat dengan gusti" jawab pranajaya
tak lama kemudian. prabu tohjaya dan pranajaya telah berada di kediaman pranajaya. disana mereka hanya duduk berdua. para pengawal dan pelayan pun diperintahkan untuk menjauh. seperti ada hal yang bersifat rahasia. yang akan mereka perbincangkan
Quote:
"paman pranajaya."panggil prabu tohjaya sembari memegang secawan tuak dan berjalan menuju jendela. lalu ia memandangi senja
"sendiko gusti" jawab pranajaya sembari memperhatikan gusti prabu tohjaya
"ingatkah paman tentang mimpi buruk ku?"
"tentu hamba ingat gusti"
"beberapa bulan yang lalu. telik sandi kita di dusun kalang. lereng gunung kelud mengabarkan bahwa di pondok mpu krama ada trah keturunan ken arok yang tersisa. yaitu ranggawuni. dan semenjak saat itu. hidupku semakin tak tenang paman. setiap hari aku selalu memikirkanya. lalu telik sandi kita juga melaporkan bahwa disana juga ada putra bungsu kakang mahesa wongateleng." jelas gusti prabu
"benar gusti prabu. hamba ingat betul. dan sejak saat itu kita terus mengawasi pondok mereka."
"apakah ada laporan. sejak kapan ranggawuni tinggal disana?"
"mmhhh" pranajaya mencoba mengingat "hamba rasa tidak ada laporan gusti. bahkan semenjak gusti anusapati berkuasa."
"apa mungkin kakang anusapati merahasiakan anak haramnya? tapi mengapa kakang mahesa wongateleng juga menitipkan putranya disana"
"aaa. . . gusti, lebih baik kita tanya saja kepada orang yang pertama kali melihat dan mengenali ranggawuni"
"baiklah, datangkan dia kemari"
tak lama berselang. pria yang pertama kali melihat dan mengenali ranggawuni di acara peringatan telah berada di antara pranajaya dan gusti prabu. pria itu menundukan pandangan. duduk berkhidmat dan memberi penghormatan sembari membungkuk2. suatu berkah baginya. bahwa penduduk kasta sudra sepertinya bisa bertemu dengan gusti prabu dan gusti mahapatih
"siapa namamu?" tanya pranajaya
"sendiko gusti, nama hamba radi gusti"
"kamu yang pertama kali meneriakan nama ranggawuni?"
"benar gusti?"
"darimana kamu berasal?"
"dari dusun mender gusti. dekat kaki gunung kelud"
"sudah berapa lama kamu tinggal disana?"
"ampun gusti. amba lahir dan besar disana"
"hmmm" pranajaya menuangkan tuak untuk pria itu "ini minumlah"
"ampun gusti, hamba tidak pantas"
"kamu berani menolak permintaanku?" kata pranajaya dengan nada mengintimidasi
"maaf gusti, hamba tidak berani" kemudian pria itu mengambil cawan dari tangan pranajaya dengan menundukan pandangan. dan ia terus memegangi cawan itu dengan pandangan tertunduk "gleek" pria itu meminum sedikit kemudian menunduk kembali
pranajaya beranjak dari tempat duduknya. menghampiri pria itu dan duduk di hadapanya. tangan kananya memegang pundak pria itu dan tangan kiri pranajaya memegang paha orang itu. sungguh permainan psikologi yang sangat luar biasa. pranajaya membuat pria tersebut serileks mungkin agar ingatanya tajam dan bicaranya lancar
"apa pekerjaanmu ngger?" pranajaya menyebutnya seperti sebutan untuk anak(keluarga) laki2
"ampun gusti, hamba hanya seorang petani. sehari2 hamba mencari kayu bakar dan membuka ladang di hutan"
"hmm. kamu sering berpapasan dengan orang2 di padepokan mpu krama?"
"sering gusti. terkadang ada juga orang padepokan yang ke dusun kami untuk sekedar menukar keprluan sehari2"
"hmm. sejak kapan kau bertemu dengan orang2 padepokan itu?"
"sudah bertahun2 sejak hamba mulai membantu orangtua hamba berkebun. sampai akhirnya hamba berkebun sendiri gusti."
"aaa aa aa. oh iya. sejak kapan kau saling kenal dengan ranggawuni?"
"tidak gusti. sebagian besar penduduk dusun kami tahu siapa itu ranggawuni. ia adalah murid kesayangan mpu krama. selain arya mahesa cempaka dan bawung"
"aaaa. . . . begitu rupanya. tapi kamu tahu siapa dia sebenarnya"
"bukankah dia itu pemberontak gusti?"
"bukan. bukan hal itu yang kumaksud. apakah kamu pernah mendengar kabar kalau ranggawuni adalah anak anusapati?"
"ampun gusti. hamba tidak begitu yakin. tapi hamba pernah mendengar dari beberapa orang padepokan yang mampir ke dusun kami. kalau ranggawuni dan mahesa cempaka adalah orang istana yang dititipkan disana"
"siapa yang menitipkan?"
"ampun gusti, hamba tidak tahu."
"sejak kapan kamu tahu kalau ranggawuni adalah pemberontak?"
"sejak beberapa bulan lalu. ketika banyak orang asing berseliweran di dusun kami. dan semakin banyak prajurit yang datang ke dusun kami gusti. mereka mengatakan hal tersebut."
kemudian pranajaya mengingat kejadian sewaktu ia membumi hanguskan padepokan mpu krama. ia memerintahkan pasukan lembu tole untuk meng isolasi dusun terdekat "emmhh. begitu. . jadi sebelum kejadian itu. kamu belum tau kalau ranggawuni adalah pemberontak?"
"belum gusti."
"emmhh. baiklah. terimakasih atas keteranganmu. ini upah untukmu" (pranajaya memberinya sekantong keping emas) "dan ini cinderamata untukmu. jika suatu hari engkau menemui kesusahan. tunjukan saja gelang itu kepada para abdi singasari" kata pranajaya sembari memerikan salah satu gelang yang menjadi ciri khasnya.
"terimakasih banyak gusti patih dan gusti prabu. hamba janji seumur hidup hamba akan hamba abdikan untuk gusti."
"siapa namamu tadi?" tanya gusti prabu
"radi gusti" kata pria itu memberikan penghormatan diiringi tangis haru
"sudah berapa lama kamu mengenal ranggawuni?" tanya gusti prabu
"kira2 setahun yang lalu gusti"
gusti prabu tohjaya dan pranajaya mengernyitkan dahinya
"benar setahun yang lalu?" selidik gusti prabu
"benar gusti prabu. orang2 di dusun hamba juga baru mengetahui ranggawuni semenjak kurang lebih setahun yang lalu. lebih lama dari itu. kami hanya mengenal bawung sebagai murid kesayangan mpu krama. dan juga gandhali. putri satu2nya mpu krama"
gusti prabu tohjaya dan juga pranajaya semakin dibuat penasaran dan terkejut mendengar informasi yang beru ia ketahui
"paman pranajaya. bukankah setahun yang lalu. . ." prabu tohjaya mengingat kejadian penyergapan sminingrat.
begitu pun pranajaya. ia paham dengan maksud gusti prabu "sebutkan ciri2 fisik ranggawuni yang kamu tahu radi?"
radi pun menceritakan ciri2 ranggawuni dengan sangat rinci. mulai dari wajah, perwakan, suara. cara bicara dan semua hal mengenai ranggawuni.
maka seketika itu juga mata gusti prabu dan pranajaya terbelalak saling pandang. seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"hai radi. apa yang kau ingat dari ranggawuni saat kau melihatnya tadi"
"ikat kepala coklat, pakaian putih dan....... mhhhhh" radi berusaha mengingatnya "haaaaa. . . ia mengenakan kalung dengan cincin giok merah sebagai liontinya"
"serupa inikah cincin yang kau lihat?" tanya gusti prabu sembari memperlihatkan cincin kebesaranya (lambang keluarga kerajaan utama. jalur pewaris tahta sah yang biasanya diperoleh setelah masuk dalam status mahamentri kartini)
"benar gusti prabu. namun warnanya merah hati" jawab radi mantap
seketika cawan gusti prabu terjatuh. wajahnya pucat JAGAD DHEW* BHATARA" ucap gusti prabu sembari terjatuh dengan posisi berlutut
pranajaya pun mengetahui hal yang sama sebagaimana gusti prabu tohjaya ketahui.
"radi, cepat tinggalkan tempat ini. dan apa yang terjadi di antara kita. jadikan ini rahasiamu sampai mati"
"baik gusti. hamba mohon diri"
setelah kepergian radi dari ruangan tersebut. pranajaya terlihat shock. ia tertunduk lesu.
"paman pranajaya. apa yang harus kita lakukan sekarang paman.?" tanya gusti prabu lemas
"pertama2 kita harus memastikan. apakah ranggawuni telah mengetahui jatidirinya sebagai sminingrat. sebab. saat pristiwa itu, jika pun sminingrat tetap hidup. ia akan kehilangan ingatanya. tapi yang hamba tidak habis pikir. bagaimana bisa ia tetap hidup sedangkan mahesa anengah wafat. dan lagi. kenapa mahesa cempaka ada bersamanya."
"lalu, apapun yang terjadi. jangan sampai senapati lembu ampal tahu kalau ternyata ranggawuni adalah sminingrat. tentu gusti prabu ingat. peristiwa penyergapan sminingrat dengan kawalan lembu ampal itu kan. kalau lembu ampal sampai tahu kejadian sesungguhnya bisa celaka kita. ingatlah keberpihakan lembu ampal kepada kita adalah kuncinya terang pranajaya menganalisa
"tok tok" suara pintu diketuk
"siapa disana. bukankah sudah kularang kalian mendekati ruangan ini kecuali jika kuperintah" keras pranajaya
"ini hamba gusti. ada hal penting yang ingin hamba sampaikan"
"baik silahkan masuk"
lalu prajurit kepercayaan pranajaya masuk (tangan kakan lembu tole)
"lapor gusti. saat kami tadi menyisir kedaton. kami seperti mendengar sesuatu di kaputren."
"apa yang kamu dengar"
"gusti guning bhaya, gusti ratri dan gusti waning hyun. mereka sama2 melihat sosok sminingrat dengan mata kepala mereka gusti. sewaktu kekacauan terjadi siang tadi" terang prajurit tersebut
"AAARRRGGHHHHH. . . . . KURANGGG. . . . . AJAARRRRRR. . . . ." umpat gusti prabu murka. ia pun mem porak porandakan apa saja yang ada di depanya
"perhatikan pesanku prajurit. apapun yang terjadi. jangan sampai identitas kita sebagai penyergap rombongan sminingrat setahun yang lalu bocor. segera kabarkan hal ini kepada lembu tole" pranajaya mewanti2 prajuritnya dengan sorot mata tajam, suara berat dan wajah merah padam
bersambunggggg.............................