Kaskus

Story

bunbun.orenzAvatar border
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):


And I know
There's nothing I can say
To change that part

But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak

I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead



- Famous Last Words by MCR -


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha


Quote:


Spoiler for Special Thanks:


***



Spoiler for From Me:


Versi PDF Thread Sebelumnya:

MyPI PDF

Credit thanks to Agan njum26



[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)

Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini


Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
drakenssAvatar border
snf0989Avatar border
ugalugalihAvatar border
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
glitch.7
#2755
PART 38


Gua berlari sambil menenteng pistol, menyelinap ke gang-gang yang lebih kecil dari jalanan depan rumah. Sepertinya hanya cukup untuk dua motor gang ini luasnya. Dibelakang Gua sudah ada Unang dengan ak-47 nya yang dia dekap di depan dada. Kami bak seorang prajurit dalam perang, mata kami tajam dan awas memandangi sekitar.

"Door.. Dorr.. Doorr..", suara tembakan dari mulut seorang anak SD kelas 3 terdengar antusias dari arah samping kanan.

"Mati atuh Nang... Licik Elu maa...", ucap si anak.

"Door..", Gua arahkan pistol ke kepalanya,
"Lu juga mati hahahaha...", lanjut Gua.

Kami bertiga tertawa ketika itu. Ya ketika dimana setiap lebaran kami selalu membeli mainan pistol bohongan untuk bermain ala prajurit yang sedang perang. Bermain perang-perangan. Dan Gua rasa bukan hanya kami saja yang sering bermain permainan ini. Sama halnya dengan kebanyakan anak di luar sana.

Saat itu, kami masih kelas 3 SD, bermain bersama dari mulai sepak bola tanpa alas kaki di lapangan dengan gawang yang dibuat dari sandal jepit kami, bermain petak umpat dan kelereng. Sampai masa dimana kenakalan kami pun bertambah seiring berjalannya waktu. Saat kami kelas 4 SD, Gua, Unang, Dewa dan Icol bermain di dekat taman kanak-kanak, dimana di sampingnya ada kebun singkong. Dan setiap minggu sore setelah ashar, kami mencuri singkong di kebun itu, yang pemiliknya adalah keluarga Robbi.

Selalu ada keceriaan di masa itu, bermain bersama sahabat-sahabat rumah. Saling bertukar pinjam komik dragon ball sampai goosebumps, bermain tazos, hingga mengintip seorang janda cantik di dekat sungai. Dan kami termasuk anak tahun 90-an yang pantang pulang sebelum maghrib.

Tidak ada rasa sakit hati ketika kami saling memanggil nama orangtua. Ya seperti halnya yang pernah kalian alami semua. Meledek dan menyebut teman A dengan nama bapaknya, begitupun balasan si B menyebut nama bapak si A. Gua sakit hati ? Enggak sama sekali, karena Gua bangga ketika itu. Nama Ayahanda terlalu bagus untuk menjadi bahan cemo'ohan.

Dari mulai Echa, Icol, Unang, Rekti, Robbi, sampai Dewa sekalipun tidak ada yang berani menyebut nama Ibu Gua, karena semua tau peristiwa apa yang terjadi pada keluarga Gua saat itu. Dan merekalah kebahagiaan Gua. Ketika masa anak-anak dengan perih dan sakit yang menahun dalam jiwa ini karena Ibu, merekalah yang setia menghibur Gua.

Gua rindu akan masa itu. Dimana kami saling mengejek dan bermain bersama tanpa ada yang tersakiti hatinya.

Saat itu adalah masa kelam Gua dalam keluarga, dan masa bersama sahabat-sahabat kecil Gua itu adalah penawar masa kelam yang terasa menyayat hati ini.

Tapi sekarang.. Semua itu sudah tidak ada lagi, semuanya sudah berubah. Dan perpecahan ini pun membawa kami ke jurang kehancuran dalam persahabatan yang teramat sulit untuk kami tapaki.

...
...
...


Buuaagh...

Sebuah tendangan memutar dari arah kanan Dewa tepat mengenai tengkuknya. Dewa terjerembab ke depan, tepat di samping kiri Gua dia terjatuh. Rekti, Gua dan Icol langsung memandangi Unang yang sudah emosi. Dewa mencoba kembali berdiri dengan susah payah, tapi usahanya sia-sia, tendangan Unang yang dia rasakan pada tengkuknya itu sudah pasti sangat sakit dan membuatnya meringis. Rekti lalu menahan tubuh Unang yang hendak mendekati Dewa.

"Wa, jangan kayak banci Lu.. Bawa-bawa orang yang udah gak ada", ucap Unang dengan nada emosi.

Gua berdiri dan berbalik badan, berjalan meninggalkan mereka. Gua berjalan pelan sampai ke rumah. Gua masuk lewat pintu utama, melewati ruang tamu dan melintasi kamar Nenek yang pintunya sedikit terbuka.

"Zaa", panggil Nenek dengan suara sedikit keras dari dalam kamarnya.

Gua berhenti melangkah tepat di samping meja makan. "Ya Nek..", saut Gua dengan posisi membelakangi kamarnya.

"Darimana ?".

"Main sama Dewa".

"Ooh, jangan pulang larut ya, hujan lagi nanti Za".

"Ya", jawab Gua seraya kembali berjalan ke arah gudang.

Gua putar kunci pintu gudang dan membukanya, Gua nyalakan lampu lalu masuk lebih dalam. Gua mengangkat beberapa barang yang berada di atas sebuah box berukuran cukup besar. Setelah itu Gua putar kombinasi gembok dan membuka box kayu tersebut. Gua singkirkan beberapa dokumen alm. Kakek dan beberapa barang pecah belah untuk menjangkau dasar box lebih dalam lagi. Sebuah benda yang selama ini tersimpan dan terlupakan oleh seluruh penghuni rumah Nenek, Gua angkat dengan hati-hati. Sedikit bergetar sebenarnya tangan Gua, tapi keraguan dan ketakutan Gua sirna ketika Gua mengulang-ulang ucapan Dewa tadi.

Salah satu cara agar emosi tetap berada di puncak adalah mengingat kejadian buruk tersebut, kejadian yang membuat hati kita terluka dan sakit. Jangan pernah pikiran positif memasuki otak, sekecil apapun celahnya. Jadi emosi yang sudah terbakar itu akan tetap menyala di dalam jiwa kita tanpa surut sedikitpun. Sambil kembali meletakkan semua barang pada tempatnya, Gua terus membakar emosi dengan mengulang ucapan Dewa di dalam hati dan otak Gua. Sampai akhirnya Gua keluar rumah.

Baru saja Gua keluar pintu rumah depan, Icol dan Unang sudah berada di teras depan kamar Gua.

"Za..",
"Udah cukup Za, Dewa emang berlebihan. Tapi Gua harap Lu ngerti emosinya Za", ucap Icol yang berjalan menghampiri Gua bersama Unang.

"Emosi yang mana maksud Lu ?", tanya Gua sambil menyeuka darah yang mulai mengering pada hidung dengan tangan kiri.

"Soal kejadian tadi", jawab Icol.

"Siska ?",
"Kurang ngerti apalagi Gua ?",
"Gua biarin dia ngelampiasin emosinya... Gua biarin dia mukulin Gua", ucap Gua,
"Tapi enggak dengan omongan terakhirnya", tandas Gua sambil kembali berjalan melewati mereka berdua.

Gua berjalan cepat dengan Icol dan Unang yang mengejar dari belakang, sampai akhirnya di persimpangan antara rumah Dewa dan Pak Rw, Icol menahan bahu Gua dari belakang.

"Za.. Za..", tahan Icol dan langsung berdiri dihadapan Gua.

Icol menggelengkan kepala sambil menatap Gua. Sedangkan Unang berdiri di depan kanan Gua.

"Bawa apaan Lu ?", tanya Unang kali ini yang daritadi memperhatikan tangan kanan Gua masuk kedalam saku sweater kanan.

"Apaan itu Za ?", timpal Icol yang ikut melihat ke saku kanan Gua dengan wajah waswas.

Gua menepis tangan kanan Icol dari bahu kiri Gua. "Bukan apa-apa.. Liat sendiri kan ?", jawab Gua sambil mengeluarkan tangan kanan dari saku dan menunjukkan telapak tangan yang kosong kepada mereka.

Icol sedikit lega dengan melihat telapak tangan kanan yang Gua angkat dan kosong itu. Tapi tidak dengan Unang, matanya tetap melirik pada saku sweater kanan Gua. Gua yang melihat Unang memperhatikan saku kanan, akhirnya membuat Unang melirik kepada Gua, dan dia menggelengkan kepala pelan dengan mata yang memohon. Gua hanya tersenyum tipis kepada Unang, lalu kembali berjalan kearah rumah Dewa. Icol dan Unang berada tepat di belakang.

Sampai Gua sudah di depan rumah Dewa, dan baru saja Gua mau memanggil namanya, Icol memberitahukan kalau Dewa dan Rekti ke rumah Meli. Gua menengok kepada Icol di samping kiri, mengerenyitkan kening. "Maksudnya ? Mau minta tolong Pak Rw gitu ?", tanya Gua kepada Icol.

Icol mendengus pelan sambil menaikkan bahunya. Tidak lama kemudian, suara derap langkah beberapa orang dari arah kanan kami bertiga terdengar jelas sampai akhirnya Gua melihat lima orang yang berjalan kearah kami. Mungkin sekitar empat meter mereka berhenti dari tempat kami berdiri. Disana, Gua lihat ada Rekti, Meli, Dewa, Pak Rw dan... Mba Siska.

"Za, kita omongin baik-baik", ucap Rekti.

"Lu mau ngapain ke rumah Gua ?", tanya Dewa.

Gua menatap Dewa lekat-lekat sambil berjalan kearah rumahnya. Dan duduk di atas tembok pembatas teras rumahnya dengan jalanan. "Sini Lu", ucap Gua menyuruh Dewa mendekat.

Dewa hendak melangkah tapi ditahan bahunya oleh Rekti. Sekarang malah Pak Rw yang berjalan kearah Gua. Belum sampai Pak Rw berjalan jauh dari tempatnya berdiri, Gua keluarkan benda yang Gua ambil di gudang tadi dari saku sweater kanan. Dan mengangkatnya setinggi bahu. Semua mata orang-orang yang melihat Gua terbelalak. Tidak percaya dengan apa yang Gua genggam pada tangan kanan ini. Mba Siska dan Meli sampai menutup mulutnya dengan tangan mereka. Gua lihat Dewa... Ya dia, Gua melihat tangannya sedikit bergetar.

"Bercanda Lu Za", ucap Unang.

Gua hanya menggeleng pelan lalu mengaitkan jari telunjuk kiri ke ring pin.

"Leeee'...!!",
"ISTIGFAR Lee!! Istigfar!", teriak Pak Rw kepada Gua.

Gua melirik kepada Mba Siska yang telah berurai airmata dengan tangan kanannya yang masih menutupi mulut. Lalu Gua lihat dia menggelengkan kepala. Rekti memegangi Dewa yang baru saja bersimpuh di jalan, dengan kedua lututnya menopang tubuh dan kedua tangannya mengatup, matanya mulai berair.

"Gua mohon sama Lu Za, maafin Gua",
"Gua emosi, Gua akuin udah kelewatan. Maafin Zaa... Guaa mohoooon.. Tolong Za maafin Gua", ucapnnya dengan tangan yang bergetar.

"Za.. Za.. Ini udah kelewatan Za, istigfar Za, Dewa salah, dan lebih baik Lu hajar dia biar impas Za, tapi enggak dengan granatitu Za.. Jangan gegabah Za, jangan tarik pin-nya Za..", ucap Rekti sambil memegangi bahu Dewa.

Kepala Gua serasa berat mendengar ocehan semua orang yang ada di sini, pandangan Gua gelap, lalu Gua menarik kaki hingga kini Gua sudah berada di teras rumah Dewa.

"Za, jangan bodoh", ucap Mba Siska seraya mengeluarkan revolver dari balik pinggangnya dan mengarahkannya kepada Gua.

Gua tertawa melihatnya menodongkan senjata kepada Gua. Lalu Gua angkat hand-grenade tersebut sebatas wajah. "Mba, kamu mau tembak aku ? Silahkan..", ucap Gua sambil mundur beberapa langkah hingga sampai di depan pintu rumah Dewa. Lalu mereka yang ada di luar sana mendekat sampai di depan teras.

"Ada siapa di dalam Wa ?".

"Gua mohon, Gua mohooon Za! Ampunin Gua! Di rumah cuma ada adek Gua Za, tolong Lu jangan sakitin dia..", jawab Dewa dari balik tembok teras yang sebatas pinggang.

Ceklek... Pintu terbuka, seorang anak berumur 5 tahun keluar dan menatap bingung kepada Gua. "Mas Eza ?", ucapnya.

Gua menatapnya sambil tersenyum, "Masuk Nis, main di dalam aja ya", jawab Gua.

Nissa hanya menatap Gua dengan kebingungan. Dan melirik ke arah tangan Gua yang masih menggenggam erat granat. "Itu apa Mas ?", tanyanya.

Gua menghela napas pelan. "Ini mainan baru", jawab Gua. "Ayo masuk sana, nanti Mas Eza kasih untuk kamu".

Nissa akhirnya masuk lagi ke dalam rumah tanpa menutup kembali pintunya. Gua kembali menatap Dewa yang masih berada di balik tembok teras bersama yang lainnya.

"Wa..", ucap Gua.
"Sorry..".

Trik.. Gua tarik pin granat hingga benar-benar terlepas.

"BAAAANGGSSAAAAAAAAAATTTT!!!!", teriak Dewa sekeras-kerasnya sambil meloncati tembok rumahnya dan berlari menghampiri Gua.

Gua lempar granat ke dalam rumahnya yang memang pintunya masih terbuka itu...

Sedetik kemudian Gua pun berlari menerjang Dewa, setelah jarak di antara kami cukup. Gua memutar badan dan melayangkan satu tendangan tepat ke arah wajahnya.

Buugh..

Dewa terhempas ke kanan dari arah Gua dan membentur dinding teras. Sedetik kemudian suara letusan terdengar nyaring...

Daaarrr...

Gua terhempas dan terjatuh. Nafas Gua berat, tangan kanan Gua memegangi pinggang yang terasa hangat, sebelum pandangan Gua menjadi gelap, Gua melirik ke kanan, dimana tubuh Dewa yang sudah terkapar. Dan saat suara derap langkah kaki menghampiri, pandangan Gua benar-benar menjadi gelap, lalu kesadaran Gua pun hilang...
Diubah oleh glitch.7 04-05-2017 20:47
dany.agus
fatqurr
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.