- Beranda
- Stories from the Heart
Aku dan Paman di Sekolah
...
TS
nanaren
Aku dan Paman di Sekolah

Hai, namaku Reni Himawari. Memang aku bukan orang Jepang. Semua orang aneh dengan namaku. Namun orang tuaku senang dengan nama itu. Barangkali bisa membawa keberuntungan. Aku adalah seorang gadis SMP biasa dengan rambut dikuncir dua. Imut sih. Tapi terlihat culun.
Di sekolah, aku sering menghabiskan waktu bersama paman penjaga sekolah. Namanya Paman Suryo. Walaupun aku tidak tahu siapa keluarganya, aku senang bisa bersama Paman. Aku juga suka membantunya.
David, anak terpopuler di sekolah. Dia seorang ketua OSIS dan kapten tim sepakbola sekolah kami. Dia tampan & baik hati, sehingga banyak perempuan yang tertarik.
Clara, seorang yang cantik. Dia wakil ketua OSIS. Dia juga seorang yang berbakat. Setiap ada rapat, dia setia mendampingi David. Dialah murid pertama yang mengenal David. Tapi dia keras kepala, suka seenaknya sendiri. Sombong sekali dia itu.
Penjual barang antik, dan semua teman-teman juga guru-guru, adik-adikku tersayang,
Inilah ceritaku.
Quote:
Terima kasih sudah membaca cerita saya. Nantikan cerita selanjutnya ya

Diubah oleh nanaren 14-04-2019 14:05
anasabila memberi reputasi
1
8.3K
43
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nanaren
#37
Episode 13
Begitu bahagia rasanya. Sekarang aku bisa berbicara akrab dengan David tanpa rasa gugup. Dia mengajaku tentang semuanya. Kehidupan, cinta, perjuangan, impian, dan banyak lagi. Aku bersyukur menjadi diriku sendiri.
Saat ini David telah menjadi teman istimewaku. Clara juga sudah tidak pernah mengejekku lagi. Paman Surya juga tidak usah pelit lagi memberi teh untuk David.
Setiap pagi kalau aku menyapu halaman, kadangkala David membantuku. Teman-teman juga tidak ada lagi yang merendahkan aku. Diriku bukan seperti yang dulu. Kini menjadi gadis yang cantik dan ceria. Rambutmu sudah tidak diikat dua lagi. Namun tergerai panjang dengan indahnya.
Ujian Nasional tiba. Waktu terasa panjang. Soal-soal yang biasanya terasa membosankan, sekarang aku bisa mengatasinya. Kupelajari semuanya. Berusaha dan seterusnya berusaha.
Usahaku berjaya. Aku lulus. Suatu hal yang aku inginkan tercapai juga. Usahaku tak sia-sia. Aku berhasil. Nilai ujianku lebih baik dari Cara. David lebih hebat.
"Selamat, Reni! Kamu lulus."
"Aku juga mau mengucapkan selamat untukmu."
"Ya, akhirnya kita bisa lulus. Apakah kita akan berpisah?"
"Kurasa tidak. Kita kan bisa masuk SMA yang sama."
"Kalau Cara?"
"Terserah dia saja."
"Kamu masih dendam?"
"Sebenarnya sih iya. Tapi biarlah. Dia pasti bisa mengurus dirinya sendiri."
David mengangguk-angguk.
"Masih mau main basket?"
"Masih. Tentu aku lebih jago darimu."
"Oh, mau nantang?"
"Oke. Jangan menyesal kalau Reni Himawari mengalahkanmu."
"Ah, Reni!" Keluhnya kesal.
Main basket memang mengasyikkan. Jago juga dia. Gerakannya lincah sekali. Mirip seperti waktu dia main sepakbola. Aku jadi susah meraih bolanya. Badannya lebih tinggi dariku. Rambutku juga selalu mengganggu.
David memasukkan bola ke gawang. Er, maksudku keranjang. Dia menang lagi. Kemudian dia men-drible bola itu. Aku mengambil karet pengikat rambut di sakuku. Kuikat rambutku agar tidak mengganggu. Baru selesai mengikat, David malah melemparkan bolanya. Bola itu menimpa kepalaku. Kepalaku terasa pening. Lalu aku terjatuh.
"Maaf, aku tidak sengaja. Kamu tidak apa-apa?"
"Tidak. Jangan khawatir!"
Dia meraih tanganku. Terasa hangat. Aku senang melihat David berada di dekatku. Tatapan matanya yang bersinar, senyuman manisnya, hatiku sampai takjub. Ketika dia menaruh bunga di telingaku, terasa semakin manis saja.
Wah wah wah! Pikiranku kok jadi begini. Terbawa suasana barangkali. David malah melambaikan tangan di depan mukaku.
"Kamu lihat apa sih?"
"Oh, i-iya! Tidak ada kok." Padahal sebenarnya aku sedang memikirkan yang tadi.
"Aku haus nih. Kamu juga pasti sudah lelah. Yuk kita minum teh." Ajaknya sembari meletakkan tangannya di kepala dan lututku.
"Aku gendong ya. Siap... "
"Tunggu sebentar...."
"Aku akan membawamu ke tempat istimewa, Putri. Pegangan yang kuat."
Aku terkejut bukan main. Jantungnya hampir copot. Dengan cepatnya dia berlari. Untung tidak menabrak orang. Bejat betul dia itu. Sampai juga kami di rumah Paman Suryo. Sekarang aku bisa turun dari gendongannya.
"Hei, apa-apaan kalian ini?"
Paman Suryo marah. Kurasa tadi beliau melihat perbuatan kami.
"Sudah buat teh, Paman?" David mengalihkan pembicaraan.
"Sudah habis."
"Yach.... Kita haus nih."
"Maaf. Aku hanya bercanda."
Paman cekikikan. Lalu mempersilakan kami masuk. Dengan baik hati beliau menuangkan tiga cangkir teh tersebut.
"Ini istimewa untuk kalian. Sebagai ucapan selamat, karena dia keponakanku yang cantik dan ganteng ini sudah lulus."
"Terima kasih." Kuminum teh itu.
Kupikirkan suatu hal. Sesuatu yang mengusik pikiranku. Aku mengkhawatirkan keadaan Paman Suryo saat kami harus meninggalkan sekolah ini untuk waktu yang lama.
"Selama ini Paman begitu baik. Telah banyak membantuku. Makanya aku jadi semangat untuk belajar. Belajar keras untuk pelajaran sekolah, juga belajar dari kesalahan agar menjadi sesuatu yang benar. Kuucapkan terima kasih banyak, Paman."
"Sudahlah, tidak apa-apa. Kalau kau senang Paman juga senang." Katanya tersenyum.
"Jadi, kita akan berpisah?"
"Berpisah? Ya...mungkin. Kalian kan akan masuk SMA."
Begitu yang Paman ucapkan.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Kami harus berpisah. Perpisahan ini membuat diriku amat sedih. Aku tidak bisa menemani Paman Suryo lagi, yang selama ini juga menemaniku di waktu sedih, saat aku dipermalukan, juga saat aku cemburu. Cemburu oleh David dan Clara.
"Reni melamun ya? Sedih ya kalau aku berpisah denganmu."
Paman Suryo menatap mataku yang berkaca-kaca. Dia membelai rambutku dengan penuh perhatian.
"Paman, apakah kita bisa bertemu lagi?"
"Tentu saja. Rumahmu kan dekat dari sini."
"Jadi aku bisa?"
"Ya. Kapanpun kau mau."
"Bagaimana denganku?" David mulai ikut-ikutan.
"Memangnya aku tidak mengizinkan, tadi kubilang 'ya'."
"Aku...aku bebas!" David mengangkat tangannya ke udara.
"Pasti Paman tidak tahu nanti kejadian yang akan dialami oleh aku dan Reni di SMA nanti. Paman tidak tahu apa yang akan aku lakukan pada Reni. Bagaimana kalau aku bercumbu dengannya?"
"Hei, itu tidak boleh! Tidak baik tau!"
"Tuh kan Paman cemburu."
"Apa kau bilang?"
Paman Suryo mulai berdiri dengan tubuh yang kaku. Menggepakkan meja dengan sangat keras. Aku dan David hanya senyum-senyum saja. Saking takutnya, kami pun keluar. Paman Suryo memang seram kalau sedang marah. Tapi kami tahu itu hanyalah canda belaka. Dan kami tertawa tergelak-gelak.
Perpisahan
Begitu bahagia rasanya. Sekarang aku bisa berbicara akrab dengan David tanpa rasa gugup. Dia mengajaku tentang semuanya. Kehidupan, cinta, perjuangan, impian, dan banyak lagi. Aku bersyukur menjadi diriku sendiri.
Saat ini David telah menjadi teman istimewaku. Clara juga sudah tidak pernah mengejekku lagi. Paman Surya juga tidak usah pelit lagi memberi teh untuk David.
Setiap pagi kalau aku menyapu halaman, kadangkala David membantuku. Teman-teman juga tidak ada lagi yang merendahkan aku. Diriku bukan seperti yang dulu. Kini menjadi gadis yang cantik dan ceria. Rambutmu sudah tidak diikat dua lagi. Namun tergerai panjang dengan indahnya.
Ujian Nasional tiba. Waktu terasa panjang. Soal-soal yang biasanya terasa membosankan, sekarang aku bisa mengatasinya. Kupelajari semuanya. Berusaha dan seterusnya berusaha.
Usahaku berjaya. Aku lulus. Suatu hal yang aku inginkan tercapai juga. Usahaku tak sia-sia. Aku berhasil. Nilai ujianku lebih baik dari Cara. David lebih hebat.
"Selamat, Reni! Kamu lulus."
"Aku juga mau mengucapkan selamat untukmu."
"Ya, akhirnya kita bisa lulus. Apakah kita akan berpisah?"
"Kurasa tidak. Kita kan bisa masuk SMA yang sama."
"Kalau Cara?"
"Terserah dia saja."
"Kamu masih dendam?"
"Sebenarnya sih iya. Tapi biarlah. Dia pasti bisa mengurus dirinya sendiri."
David mengangguk-angguk.
"Masih mau main basket?"
"Masih. Tentu aku lebih jago darimu."
"Oh, mau nantang?"
"Oke. Jangan menyesal kalau Reni Himawari mengalahkanmu."
"Ah, Reni!" Keluhnya kesal.
Main basket memang mengasyikkan. Jago juga dia. Gerakannya lincah sekali. Mirip seperti waktu dia main sepakbola. Aku jadi susah meraih bolanya. Badannya lebih tinggi dariku. Rambutku juga selalu mengganggu.
David memasukkan bola ke gawang. Er, maksudku keranjang. Dia menang lagi. Kemudian dia men-drible bola itu. Aku mengambil karet pengikat rambut di sakuku. Kuikat rambutku agar tidak mengganggu. Baru selesai mengikat, David malah melemparkan bolanya. Bola itu menimpa kepalaku. Kepalaku terasa pening. Lalu aku terjatuh.
"Maaf, aku tidak sengaja. Kamu tidak apa-apa?"
"Tidak. Jangan khawatir!"
Dia meraih tanganku. Terasa hangat. Aku senang melihat David berada di dekatku. Tatapan matanya yang bersinar, senyuman manisnya, hatiku sampai takjub. Ketika dia menaruh bunga di telingaku, terasa semakin manis saja.
Wah wah wah! Pikiranku kok jadi begini. Terbawa suasana barangkali. David malah melambaikan tangan di depan mukaku.
"Kamu lihat apa sih?"
"Oh, i-iya! Tidak ada kok." Padahal sebenarnya aku sedang memikirkan yang tadi.
"Aku haus nih. Kamu juga pasti sudah lelah. Yuk kita minum teh." Ajaknya sembari meletakkan tangannya di kepala dan lututku.
"Aku gendong ya. Siap... "
"Tunggu sebentar...."
"Aku akan membawamu ke tempat istimewa, Putri. Pegangan yang kuat."
Aku terkejut bukan main. Jantungnya hampir copot. Dengan cepatnya dia berlari. Untung tidak menabrak orang. Bejat betul dia itu. Sampai juga kami di rumah Paman Suryo. Sekarang aku bisa turun dari gendongannya.
"Hei, apa-apaan kalian ini?"
Paman Suryo marah. Kurasa tadi beliau melihat perbuatan kami.
"Sudah buat teh, Paman?" David mengalihkan pembicaraan.
"Sudah habis."
"Yach.... Kita haus nih."
"Maaf. Aku hanya bercanda."
Paman cekikikan. Lalu mempersilakan kami masuk. Dengan baik hati beliau menuangkan tiga cangkir teh tersebut.
"Ini istimewa untuk kalian. Sebagai ucapan selamat, karena dia keponakanku yang cantik dan ganteng ini sudah lulus."
"Terima kasih." Kuminum teh itu.
Kupikirkan suatu hal. Sesuatu yang mengusik pikiranku. Aku mengkhawatirkan keadaan Paman Suryo saat kami harus meninggalkan sekolah ini untuk waktu yang lama.
"Selama ini Paman begitu baik. Telah banyak membantuku. Makanya aku jadi semangat untuk belajar. Belajar keras untuk pelajaran sekolah, juga belajar dari kesalahan agar menjadi sesuatu yang benar. Kuucapkan terima kasih banyak, Paman."
"Sudahlah, tidak apa-apa. Kalau kau senang Paman juga senang." Katanya tersenyum.
"Jadi, kita akan berpisah?"
"Berpisah? Ya...mungkin. Kalian kan akan masuk SMA."
Begitu yang Paman ucapkan.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Kami harus berpisah. Perpisahan ini membuat diriku amat sedih. Aku tidak bisa menemani Paman Suryo lagi, yang selama ini juga menemaniku di waktu sedih, saat aku dipermalukan, juga saat aku cemburu. Cemburu oleh David dan Clara.
"Reni melamun ya? Sedih ya kalau aku berpisah denganmu."
Paman Suryo menatap mataku yang berkaca-kaca. Dia membelai rambutku dengan penuh perhatian.
"Paman, apakah kita bisa bertemu lagi?"
"Tentu saja. Rumahmu kan dekat dari sini."
"Jadi aku bisa?"
"Ya. Kapanpun kau mau."
"Bagaimana denganku?" David mulai ikut-ikutan.
"Memangnya aku tidak mengizinkan, tadi kubilang 'ya'."
"Aku...aku bebas!" David mengangkat tangannya ke udara.
"Pasti Paman tidak tahu nanti kejadian yang akan dialami oleh aku dan Reni di SMA nanti. Paman tidak tahu apa yang akan aku lakukan pada Reni. Bagaimana kalau aku bercumbu dengannya?"
"Hei, itu tidak boleh! Tidak baik tau!"
"Tuh kan Paman cemburu."
"Apa kau bilang?"
Paman Suryo mulai berdiri dengan tubuh yang kaku. Menggepakkan meja dengan sangat keras. Aku dan David hanya senyum-senyum saja. Saking takutnya, kami pun keluar. Paman Suryo memang seram kalau sedang marah. Tapi kami tahu itu hanyalah canda belaka. Dan kami tertawa tergelak-gelak.
0