- Beranda
- Stories from the Heart
[REAL STORY] Lika Liku Perjalanan Cinta
...
TS
rzrdn62
[REAL STORY] Lika Liku Perjalanan Cinta
⇝★Special Main cover by Special Somebody★⇜
![[REAL STORY] Lika Liku Perjalanan Cinta](https://s.kaskus.id/images/2017/04/30/9697908_20170430071846.jpg)
▓▓∷rvn894∷▓▓
╠⇌≪PERKENALAN≫⇋╣
╠⇌≪RULES≫⇋╣
![[REAL STORY] Lika Liku Perjalanan Cinta](https://s.kaskus.id/images/2017/04/30/9697908_20170430071846.jpg)
▓▓∷rvn894∷▓▓
Quote:
╠⇌≪PERKENALAN≫⇋╣
Quote:
╠⇌≪Frequently Asked Questions≫⇋╣
Spoiler for FAQ:
╠⇌≪RULES≫⇋╣
Spoiler for Rules:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
╠⇌≪INDEX≫⇋╣
Spoiler for LIST All of INDEX:
Diubah oleh rzrdn62 15-06-2017 23:45
efti108 dan anasabila memberi reputasi
2
80.4K
929
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rzrdn62
#773
Part 43: Kekecewaan
Tidak terasa hari sudah berjalan sangat cepat, sudah sekitar lima hari sejak kejadian dimana Aulia menampar gw karena gw yang memintanya. Yang bikin gw terkejut lagi adalah, Aulia menangis sehabis menampar gw. Entah mengapa dia menjadi seperti itu, tapi katanya dia tidak tega untuk melakukan hal yang terjadi di hari Senin yang lalu. Oh iya gw baru inget, Aulia pernah bilang ke gw kalau dia itu tidak suka bermain tangan karena orang tuanya sendiri yang mengajarinya demikian. Selepas kejadian itu hari demi hari gw lewati seperti biasanya, tidak ada yang berbeda bahkan dari Aulia sendiri. Justru dia sudah beberapa hari terus meminta mencari cari gw untuk meminta maaf akan hal yang sudah terjadi pada hari Senin lalu. Padahal itu bukan salahnya, itu salah gw. Dan gw juga sudah menjelaskan berkali kali ke dirinya kalau gw pantes untuk mendapatkan tamparan itu. Akan tetapi dia masih saja berdalih dan memohon kepada gw, bahkan dia juga bilang hari ini. Tepatnya hari Sabtu, sebagai permintaan maaf Aulia akan mengajak gw ke suatu kafe yang terletak di Jakarta.
Pagi ini gw awali seperti pagi hari lainnya. Chattingan dengan Erlin sampai jam pembelajaran di sekolahnya dimulai dan sesekali smsan dengan Aulia. Sialnya, kuota gw habis saat sedang asik chattingan dengan Erlin.
Pulsa gw juga tidak mencukupi untuk registrasi paket internet, dan alhasil gw hanya bisa mengabari Erlin lewat sms saja sambil sesekali membalas smsnya Aulia.
Hari ini gw bingung mau ngapain, niat mau ngelakuin sesuatu tapi gw lupa mau ngapain. Ya jadinya satu satunya hal bermain game. Hanya game yang bisa bikin gw rileks dari segala permasalahan...Dari SD memang gw sudah maniak dengan game. Waktu itu game pertama yang gw mainin di sega kalau gak salah semacam perang tank. Yang mana player diharuskan untuk melindungi lambang elang di dalam markas dari serangan tank musuh lainnya. Berlanjut ke game Klonoa, Army Men, dan banyak lah pokoknya. Sampai waktu itu gw nekat mencari game edisi paling langka dalam seri Syphon Filter dan Army Men series.
Tidak terasa perkembangan zaman begitu cepat, game yang tadinya masih memiliki grafik linier, kotak kotak, low pixel. Sekarang sudah lumayan bagus dan hampir menyamai kehidupan nyata. Disini gw ambil contoh Grand Theft Aero 4 di Ps3 keluaran 2006 atau 2008 kalau tidak salah. Game ini menjadi game favorit masa kini. Selain memiliki detail grafik yang begitu menawan dan visualisasi yang hampir sempurna jika menurut gw. Game ini memiliki beberapa seri dalam satu judul, seperti TBOGT (The Ballad Of Gay Tony) dan TLAD (The Lost And Damned). Yang paling gw suka sih versi TLAD dan standar gamenya.
TLAD menceritakan sebuah kisah sekelompok gang bermotor yang kalau tidak salah namanya The Lost MC atau apalah itu, yang mana alurnya menceritakan tentang perang gang, korupsi, prison break, serta pemberontakan dalam gang tersebut. TBOGT menceritakan tentang kehidupan seorang pebisnis yang bekerja sama dengan seorang pemilik diskotik bernama Tony, menurut gw sih versi ini rada rada berbau “Gay” karena ada beberapa percakapan fulgar di dalamnya antara cowok dengan cowok. Alurnya kompleks, singkron dengan versi TLAD dan juga main game. Nah, di versi standarnya sendiri menceritakan kehidupan seorang bernama Nico Bellic. Gw kurang tau persis di versi standar ini memfokuskan alur kemana, karena gw sendiri belum sepenuhnya selesai memainkan versi yang satu ini.
Hari ini gw memutuskan untuk bermain game tersebut, karena gw penasaran dengan cerita pada main gamenya yang belum sempat gw tamatkan sampai tuntas. Biasanya gw kalau bermain ini game, sehabis misi selesai pasti Cuma jalan jalan keliling kota. Mencari kerusuhan publik dan berperang melawan polisi. Gw lebih suka memainkannya tanpa cheat satupun karena tantangan dan adrenalinnya benar benar terasa. Karena gamers sejati itu tidak pernah bergantung kepada sebuah cheat.
-SKIP-
Gw pernah memberitau sebelumnya kan jika gw bermain game bisa menghabiskan waktu berapa jam? Ya, paling lama 10 – 12 jam. Gw berhenti hanya untuk makan, ke kamar mandi, atau sholat. Seterusnya? Ya lanjut lagi sampai gw benar benar bosan, atau minimal sampai gw merasa pusing. Biasanya gw merasakan pusing jika sudah menatap layar tv atau pc selama lebih dari 4 jam. Karena itu, gw divonis memiliki rabun jauh berskala -2. Tetapi gw memilih untuk tidak menggunakan kacamata, karena gw akan terlihat seperti bocah culun. Walaupun saat membaca dan melihat tulisan yang jauh kurang nyaman, tapi gw berusaha untuk membiasakan diri dengan hal ini.
Dan kalian tau sekarang sudah memasuki waktu apa? Sekarang sudah sore hari, sekitar jam 5 lewat seperempat menit. Gile kan? Inilah kebiasaan gw disaat waktu senggang. Disaat gw bosan dan tidak ada yang menemani. Bahkan, gw sampai lupa membuka hp dan tidak mengabari Erlin melalui chatting. Pikir gw, Erlin juga palingan sedang main dengan teman temannya ini. Mungkin nanti dia akan bertanya kepada gw tentang hal tersebut, tapi sekarang yang harus gw lakukan adalah mandi. Biasanya gw mandi jam segini karena keasikan bermain game. Tetapi jika tidak bermain game, paling telat gw mandi sekitar jam 9 atau jam 11 siang.
Back to the main topic...Selesai mandi dan sholat, gw langsung melanjutkan kembali bermain gamenya.
Karena sebentar lagi menjelang magrib, gw memutuskan untuk berkeliling dan mencari kerusuhan saja dengan para polisi. Gw mengawali kerusuhan dengan memukul polisi setempat yang sedang berjalan di trotoar dengan pemukul baseball. Gw hajarlah itu polisi sampai mati, hasilnya gw jadi mendapat dua bintang karena tindak kriminal tersebut. Untungnya ini hanya game, jadi gw bisa dengan bebas melakukan apa saja di dalam dunia virtual ini.
Tidak terasa adzan magrib sudah berkumandang. Gw langsung mematikan ps dan tv, berwudhu dan lekas sholat magrib. Selesai sholat gw langsung mengganti pakaian, mengeluarkan red dari sarang dan setelah izin kepada orang tua gw segera cabut kerumah Aulia. Hari ini malam minggu ya? Berarti kondisi jalanan sedang macet macetnya, apalagi wilayah Jakarta. Jangan bertanya seperti apa suasana disana disaat jam segini.
-SKIP-
Gw sampai dirumah Aulia, tepatnya ada di depan gerbang rumahnya. Gw mematikan Red, turun dan membunyikan bel rumah Aulia. Seketika Aulia keluar dari dalam rumahnya dan membukakan pintu gerbang. Gw langsung berjalan ke teras dan membiarkan Red diluar. Gw duduk di bangku yang berada di teras disusul oleh Aulia yang duduk di sebelah gw.
Gw: “Kamu udah bilang sama orang tua kamu?”
Aulia: “Aku udah bilang dari tadi siang kok. Maaf nih kak, aku malam minggu malah ngajak kamu jalan. Jadinya kamu ngga bisa pergi sama kak Erlin.”
Gw: “Iya gak apa apa Lia. Asal jangan terlalu lama ya disana. Tapi inget, aku nemenin kamu bukan karena hal lain selain untuk ngebales kebaikan kamu. Jadi jangan ada gandeng tangan atau apapun persis seperti waktu kita masi pacaran.”
Aulia: “Iya kak tenang aja.”
Gw: “Mau sekarang aja nih?”
Aulia: “Emang udah jam berapa kak sekarang?”
Gw: “Sekitar jam 7 kurang sih.”
Aulia: “Yaudah yuk kak.”
Kami berdua berjalan keluar meninggalkan teras. Gw naik ke atas Red, disusul oleh Aulia yang duduk di jok belakang. Dan kami pun langsung pergi ke kafe yang Aulia maksud. Malam ini kami sudah mulai bisa mengobrol lagi sepanjang perjalanan dan juga sedikit diselingi dengan candaan. Walaupun tidak seperti saat gw masih pacaran dengan Aulia, tapi gw pikir dengan ini bisa mencairkan suasana yang ada. Kali ini juga Aulia tidak berpegangan pada pinggang gw, tapi sesekali dia masih juga berpegangan sedikit. Mungkin karena dia takut kali ya?
-SKIP-
Akhirnya sampailah kami di kafe yang dimaksud Aulia. Kafe ini tidak asing bagi gw, karena sebelumnya gw pernah kesini bersama Erlin. Waktu gw berencana untuk memberikan kejutan untuk cewek tersebut, yang berujung pada momen tak terlupakan yang dilakukan oleh Erlin malam itu. Ya, ciuman pertama darinya untuk gw. Ah, jika diingat kembali rasanya gw jadi ingin melakukan hal itu lagi dengan Erlin.
Tapi nanti saja lah, lagipula kenyamanan yang didapat hanya sementara saja. Memang harus gw akui hal itu menyenangkan untuk dilakukan kepada kekasih tercinta, tapi gw sudah memberitahu Erlin jika gw tidak ingin melakukan hal itu sampai gw benar benar menikahinya kelak dimasa yang akan datang. Gw dan Aulia masuk ke dalam kafe, di dalam suasananya sangat ramai sekali. Kebanyakan anak anak muda yang membawa pacar dan temannya disini.
Gw: “Mau duduk dimana?”
Aulia: “Terserah kamu kak.”
Gw: “Yaudah deket jendela pojok itu ya? Kosong tuh.”
Aulia: “Yaudah kak.”
Kami langsung duduk di tempat yang gw tunjuk. Pelayan langsung datang menghampiri kami dan memberikan sebuah menu lalu pergi lagi.
Gw: “Mau pesan apa kamu Lia?”
Aulia: “Aku minum aja kak.”
Gw: “Gak mau makan?”
Aulia: “Ngga kak, aku udah makan tadi siang soalnya.”
Gw: “Tadi siang itu mah udah lama bener neng.”
Aulia: “Hehehe. Kalau kamu mau pesan apa kak?”
Gw: “Aku juga sama deh minuman aja. Es teh, hahaha. Soalnya kalo yang lain mahal mahal sih. Nanti uang kamu abis.”
Aulia: “Kalau gitu aku juga sama deh.”
Gw: “Ngikutin dasar.
”
Aulia: “Biarin.
”
Gw menandai pesanan kami, lalu berjalan ke arah tempat pemberian kertas pesanan dan menaruh pesanan gw disana lalu duduk kembali. Sambil menunggu pesanan tiba, gw dengan Aulia mengobrol seperti biasanya. Dia mengobrol tentang kegiatannya sehari hari di kelas, dan gw hanya menjadi pendengar yang baik kali ini sambil sesekali bertanya hal yang tidak gw ketahui. Terkadang juga dia menceritakan betapa rindunya dia kepada gw. Tidak lama pesanan kami akhirnya datang juga. Pelayan menaruh dua gelas es teh pesanan kami di atas meja, lalu pergi lagi.
Tiba tiba, muncul lah 3 orang cewek dari luar kafe. Yang mana gw mengenali semua cewek ini dengan baik. Inilah hal yang paling gw takutkan...Ya...Cewek tersebut adalah Erlin dengan kedua temannya Shinta dan Helena. Mampus gw, gw harus lari...Ah, tidak. Cuma seorang pengecut yang lari dari kesalahan yang telah dibuatnya. Berani berbuat, berani menanggung konsekuensinya. Itulah motto gw.
Erlin yang melihat gw sedang duduk bersama Aulia langsung segera keluar dari kafe itu, kedua temannya heran melihat Erlin keluar begitu saja. Aulia juga melihat bahwa Erlin sedang ada disini. Gw langsung berdiri dari kursi.
Gw: “Erlin!!”
Aulia: “Kejar kak, jangan biarin kak Erlin sendirian dalam kondisi begitu.”
Tanpa basa basi, gw langsung keluar dari kafe itu melewati kedua temannya Erlin dan berlari mengejarnya sambil memanggil manggil namanya. Seketika Erlin berhenti di di dekat parkiran mobil.
Erlin: “Aku...Aku bener bener kecewa Rez! Kecewa! Tega banget kamu ngelakuin ini sama aku...Cukup Rez...Ternyata, ini balasan dari ketulusan yang aku kasih ke kamu. Kamu tega Rez...Tega!” –ucapnya sambil tersedu sedu dan kemudian menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Gw: “Semua ini gak seperti yang kamu kira Lin, sumpah demi apapun...”
Erlin: “Aku udah ngeliat semuanya Rez, jelas! Aku ngeliat pake mata aku sendiri.”
Gw: “Lin...Kamu salah paham.”
Gw mendekati Erlin dan mencoba untuk mengelap air matanya yang berlinang, akan tetapi Erlin justru menyangkal tangan gw.
Erlin: “Jangan pegang pegang aku! Mudah mudahan kamu bahagia sama dia Rez...Makasih banyak.”
Gw: “Lin...Erlin!”
Erlin: “Pergiiii!!!” –teriaknya dengan nada keras sambil mendorong gw menjauh darinya.
Hal ini membuat orang orang sekitar jadi melihat ke arah gw dan Erlin. Jika saja dari awal gw mengetahui kalau Erlin akan kesini, lebih baik gw tidak mengiyakan ajakan Aulia. Gw rasa, gw sudah kehilangan cewek yang paling gw sayangi karena kebodohan gw sendiri. Erlin menghentikan sebuah taksi, lalu pergi dari sini. Gw hanya bisa terdiam dan meratapi semua yang telah terjadi. Sungguh menyedihkan memang...Cewek yang benar benar tulus mencintai gw dan rela menjauhi segala cowok di sekolahnya, harus gw sakiti dengan cara seperti ini. Tidak lama kemudian Aulia, Helena dan Shinta keluar dari dalam kafe dan berlari ke arah gw.
Shinta: “Erlin kenapa Rez? Lu parah banget anak orang sampe begitu.”
Helena: “He-eh. Tuh liat akibat dari ulah lu Rez.”
Shinta: “Yaudah, kita susulin aja kerumahnya Hel.”
Shinta dan Helena masuk ke salah satu mobil yang di berada parkiran, lalu mereka juga pergi menyusul Erlin kerumahnya. Sementara disini hanya tersisa gw dengan Aulia saja.
Aulia: “Maafin aku kak. Gara gara aku, hubungan kakak sama kak Erlin jadi berantakan. Tapi aku ngga bermaksud untuk ngancurin hubungan kalian kok.”
Gw: “Gak, aku yang salah...Sekarang kamu aku anter pulang ya. Abis itu aku mau kerumah Erlin.”
Aulia: “Jangan kak. Mendingan kita kerumah kak Erlin, biar aku jelasin nanti ke kak Erlin. Siapatau kak Erlin bisa baikan lagi.”
Gw: “Bahaya Lia. Aku tau persis sifat Erlin gimana, terutama kalo lagi marah, kesel atau cemburu. Dan sekarang situasinya lagi kaya begini. Yang ada kamu bisa kena marah dari dia. Biar aku sendiri yang kerumahnya nanti. Sekarang kita pulang ya. Pesenan udah dibayar kan?”
Aulia: “Iya kak udah aku bayar...Maaf banget malam ini aku jadi ngerusak hubungan kakak. Aku ngerasa bersalah banget kaak.”
Mata Aulia mulai terlihat berkaca kaca kembali, dengan raut wajahnya yang juga tidak seperti sebelumnya. Menurut gw ini bukan sepenuhnya salah Aulia, tapi ini adalah kesalahan gw. Kesalahan yang sangat fatal, yang sudah gw perkirakan pasti akan terjadi dari jauh jauh hari jika gw masih bersama dengan Aulia. Itu sebabnya gw ingin menjaga jarak dengan dirinya, akan tetapi karena gw merasa kasihan mengingat kejadian di hari Senin jadi gw mengiyakan ajakan Aulia. Entah akan bagaimana hubungan gw dengan Erlin kedepannya, apakah dia masih bisa mencintai dan menyayangi gw apa adanya seperti sedia kala? Atau justru sebaliknya? Gw pikir, biarlah waktu yang menentukan semuanya.
Pagi ini gw awali seperti pagi hari lainnya. Chattingan dengan Erlin sampai jam pembelajaran di sekolahnya dimulai dan sesekali smsan dengan Aulia. Sialnya, kuota gw habis saat sedang asik chattingan dengan Erlin.
Pulsa gw juga tidak mencukupi untuk registrasi paket internet, dan alhasil gw hanya bisa mengabari Erlin lewat sms saja sambil sesekali membalas smsnya Aulia.
Spoiler for Sms Erlin dan Gw:
Spoiler for Sms Aulia dan Gw:
Hari ini gw bingung mau ngapain, niat mau ngelakuin sesuatu tapi gw lupa mau ngapain. Ya jadinya satu satunya hal bermain game. Hanya game yang bisa bikin gw rileks dari segala permasalahan...Dari SD memang gw sudah maniak dengan game. Waktu itu game pertama yang gw mainin di sega kalau gak salah semacam perang tank. Yang mana player diharuskan untuk melindungi lambang elang di dalam markas dari serangan tank musuh lainnya. Berlanjut ke game Klonoa, Army Men, dan banyak lah pokoknya. Sampai waktu itu gw nekat mencari game edisi paling langka dalam seri Syphon Filter dan Army Men series.
Tidak terasa perkembangan zaman begitu cepat, game yang tadinya masih memiliki grafik linier, kotak kotak, low pixel. Sekarang sudah lumayan bagus dan hampir menyamai kehidupan nyata. Disini gw ambil contoh Grand Theft Aero 4 di Ps3 keluaran 2006 atau 2008 kalau tidak salah. Game ini menjadi game favorit masa kini. Selain memiliki detail grafik yang begitu menawan dan visualisasi yang hampir sempurna jika menurut gw. Game ini memiliki beberapa seri dalam satu judul, seperti TBOGT (The Ballad Of Gay Tony) dan TLAD (The Lost And Damned). Yang paling gw suka sih versi TLAD dan standar gamenya.
TLAD menceritakan sebuah kisah sekelompok gang bermotor yang kalau tidak salah namanya The Lost MC atau apalah itu, yang mana alurnya menceritakan tentang perang gang, korupsi, prison break, serta pemberontakan dalam gang tersebut. TBOGT menceritakan tentang kehidupan seorang pebisnis yang bekerja sama dengan seorang pemilik diskotik bernama Tony, menurut gw sih versi ini rada rada berbau “Gay” karena ada beberapa percakapan fulgar di dalamnya antara cowok dengan cowok. Alurnya kompleks, singkron dengan versi TLAD dan juga main game. Nah, di versi standarnya sendiri menceritakan kehidupan seorang bernama Nico Bellic. Gw kurang tau persis di versi standar ini memfokuskan alur kemana, karena gw sendiri belum sepenuhnya selesai memainkan versi yang satu ini.
Hari ini gw memutuskan untuk bermain game tersebut, karena gw penasaran dengan cerita pada main gamenya yang belum sempat gw tamatkan sampai tuntas. Biasanya gw kalau bermain ini game, sehabis misi selesai pasti Cuma jalan jalan keliling kota. Mencari kerusuhan publik dan berperang melawan polisi. Gw lebih suka memainkannya tanpa cheat satupun karena tantangan dan adrenalinnya benar benar terasa. Karena gamers sejati itu tidak pernah bergantung kepada sebuah cheat.

-SKIP-
Gw pernah memberitau sebelumnya kan jika gw bermain game bisa menghabiskan waktu berapa jam? Ya, paling lama 10 – 12 jam. Gw berhenti hanya untuk makan, ke kamar mandi, atau sholat. Seterusnya? Ya lanjut lagi sampai gw benar benar bosan, atau minimal sampai gw merasa pusing. Biasanya gw merasakan pusing jika sudah menatap layar tv atau pc selama lebih dari 4 jam. Karena itu, gw divonis memiliki rabun jauh berskala -2. Tetapi gw memilih untuk tidak menggunakan kacamata, karena gw akan terlihat seperti bocah culun. Walaupun saat membaca dan melihat tulisan yang jauh kurang nyaman, tapi gw berusaha untuk membiasakan diri dengan hal ini.
Dan kalian tau sekarang sudah memasuki waktu apa? Sekarang sudah sore hari, sekitar jam 5 lewat seperempat menit. Gile kan? Inilah kebiasaan gw disaat waktu senggang. Disaat gw bosan dan tidak ada yang menemani. Bahkan, gw sampai lupa membuka hp dan tidak mengabari Erlin melalui chatting. Pikir gw, Erlin juga palingan sedang main dengan teman temannya ini. Mungkin nanti dia akan bertanya kepada gw tentang hal tersebut, tapi sekarang yang harus gw lakukan adalah mandi. Biasanya gw mandi jam segini karena keasikan bermain game. Tetapi jika tidak bermain game, paling telat gw mandi sekitar jam 9 atau jam 11 siang.
Back to the main topic...Selesai mandi dan sholat, gw langsung melanjutkan kembali bermain gamenya.
Karena sebentar lagi menjelang magrib, gw memutuskan untuk berkeliling dan mencari kerusuhan saja dengan para polisi. Gw mengawali kerusuhan dengan memukul polisi setempat yang sedang berjalan di trotoar dengan pemukul baseball. Gw hajarlah itu polisi sampai mati, hasilnya gw jadi mendapat dua bintang karena tindak kriminal tersebut. Untungnya ini hanya game, jadi gw bisa dengan bebas melakukan apa saja di dalam dunia virtual ini.Tidak terasa adzan magrib sudah berkumandang. Gw langsung mematikan ps dan tv, berwudhu dan lekas sholat magrib. Selesai sholat gw langsung mengganti pakaian, mengeluarkan red dari sarang dan setelah izin kepada orang tua gw segera cabut kerumah Aulia. Hari ini malam minggu ya? Berarti kondisi jalanan sedang macet macetnya, apalagi wilayah Jakarta. Jangan bertanya seperti apa suasana disana disaat jam segini.
-SKIP-
Gw sampai dirumah Aulia, tepatnya ada di depan gerbang rumahnya. Gw mematikan Red, turun dan membunyikan bel rumah Aulia. Seketika Aulia keluar dari dalam rumahnya dan membukakan pintu gerbang. Gw langsung berjalan ke teras dan membiarkan Red diluar. Gw duduk di bangku yang berada di teras disusul oleh Aulia yang duduk di sebelah gw.
Gw: “Kamu udah bilang sama orang tua kamu?”
Aulia: “Aku udah bilang dari tadi siang kok. Maaf nih kak, aku malam minggu malah ngajak kamu jalan. Jadinya kamu ngga bisa pergi sama kak Erlin.”
Gw: “Iya gak apa apa Lia. Asal jangan terlalu lama ya disana. Tapi inget, aku nemenin kamu bukan karena hal lain selain untuk ngebales kebaikan kamu. Jadi jangan ada gandeng tangan atau apapun persis seperti waktu kita masi pacaran.”
Aulia: “Iya kak tenang aja.”
Gw: “Mau sekarang aja nih?”
Aulia: “Emang udah jam berapa kak sekarang?”
Gw: “Sekitar jam 7 kurang sih.”
Aulia: “Yaudah yuk kak.”
Kami berdua berjalan keluar meninggalkan teras. Gw naik ke atas Red, disusul oleh Aulia yang duduk di jok belakang. Dan kami pun langsung pergi ke kafe yang Aulia maksud. Malam ini kami sudah mulai bisa mengobrol lagi sepanjang perjalanan dan juga sedikit diselingi dengan candaan. Walaupun tidak seperti saat gw masih pacaran dengan Aulia, tapi gw pikir dengan ini bisa mencairkan suasana yang ada. Kali ini juga Aulia tidak berpegangan pada pinggang gw, tapi sesekali dia masih juga berpegangan sedikit. Mungkin karena dia takut kali ya?
-SKIP-
Akhirnya sampailah kami di kafe yang dimaksud Aulia. Kafe ini tidak asing bagi gw, karena sebelumnya gw pernah kesini bersama Erlin. Waktu gw berencana untuk memberikan kejutan untuk cewek tersebut, yang berujung pada momen tak terlupakan yang dilakukan oleh Erlin malam itu. Ya, ciuman pertama darinya untuk gw. Ah, jika diingat kembali rasanya gw jadi ingin melakukan hal itu lagi dengan Erlin.
Tapi nanti saja lah, lagipula kenyamanan yang didapat hanya sementara saja. Memang harus gw akui hal itu menyenangkan untuk dilakukan kepada kekasih tercinta, tapi gw sudah memberitahu Erlin jika gw tidak ingin melakukan hal itu sampai gw benar benar menikahinya kelak dimasa yang akan datang. Gw dan Aulia masuk ke dalam kafe, di dalam suasananya sangat ramai sekali. Kebanyakan anak anak muda yang membawa pacar dan temannya disini.Gw: “Mau duduk dimana?”
Aulia: “Terserah kamu kak.”
Gw: “Yaudah deket jendela pojok itu ya? Kosong tuh.”
Aulia: “Yaudah kak.”
Kami langsung duduk di tempat yang gw tunjuk. Pelayan langsung datang menghampiri kami dan memberikan sebuah menu lalu pergi lagi.
Gw: “Mau pesan apa kamu Lia?”
Aulia: “Aku minum aja kak.”
Gw: “Gak mau makan?”
Aulia: “Ngga kak, aku udah makan tadi siang soalnya.”
Gw: “Tadi siang itu mah udah lama bener neng.”
Aulia: “Hehehe. Kalau kamu mau pesan apa kak?”
Gw: “Aku juga sama deh minuman aja. Es teh, hahaha. Soalnya kalo yang lain mahal mahal sih. Nanti uang kamu abis.”
Aulia: “Kalau gitu aku juga sama deh.”
Gw: “Ngikutin dasar.
”Aulia: “Biarin.
”Gw menandai pesanan kami, lalu berjalan ke arah tempat pemberian kertas pesanan dan menaruh pesanan gw disana lalu duduk kembali. Sambil menunggu pesanan tiba, gw dengan Aulia mengobrol seperti biasanya. Dia mengobrol tentang kegiatannya sehari hari di kelas, dan gw hanya menjadi pendengar yang baik kali ini sambil sesekali bertanya hal yang tidak gw ketahui. Terkadang juga dia menceritakan betapa rindunya dia kepada gw. Tidak lama pesanan kami akhirnya datang juga. Pelayan menaruh dua gelas es teh pesanan kami di atas meja, lalu pergi lagi.
Quote:
Tiba tiba, muncul lah 3 orang cewek dari luar kafe. Yang mana gw mengenali semua cewek ini dengan baik. Inilah hal yang paling gw takutkan...Ya...Cewek tersebut adalah Erlin dengan kedua temannya Shinta dan Helena. Mampus gw, gw harus lari...Ah, tidak. Cuma seorang pengecut yang lari dari kesalahan yang telah dibuatnya. Berani berbuat, berani menanggung konsekuensinya. Itulah motto gw.
Erlin yang melihat gw sedang duduk bersama Aulia langsung segera keluar dari kafe itu, kedua temannya heran melihat Erlin keluar begitu saja. Aulia juga melihat bahwa Erlin sedang ada disini. Gw langsung berdiri dari kursi.
Gw: “Erlin!!”
Aulia: “Kejar kak, jangan biarin kak Erlin sendirian dalam kondisi begitu.”
Tanpa basa basi, gw langsung keluar dari kafe itu melewati kedua temannya Erlin dan berlari mengejarnya sambil memanggil manggil namanya. Seketika Erlin berhenti di di dekat parkiran mobil.
Erlin: “Aku...Aku bener bener kecewa Rez! Kecewa! Tega banget kamu ngelakuin ini sama aku...Cukup Rez...Ternyata, ini balasan dari ketulusan yang aku kasih ke kamu. Kamu tega Rez...Tega!” –ucapnya sambil tersedu sedu dan kemudian menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Gw: “Semua ini gak seperti yang kamu kira Lin, sumpah demi apapun...”
Erlin: “Aku udah ngeliat semuanya Rez, jelas! Aku ngeliat pake mata aku sendiri.”
Gw: “Lin...Kamu salah paham.”
Gw mendekati Erlin dan mencoba untuk mengelap air matanya yang berlinang, akan tetapi Erlin justru menyangkal tangan gw.
Erlin: “Jangan pegang pegang aku! Mudah mudahan kamu bahagia sama dia Rez...Makasih banyak.”
Gw: “Lin...Erlin!”
Erlin: “Pergiiii!!!” –teriaknya dengan nada keras sambil mendorong gw menjauh darinya.
Hal ini membuat orang orang sekitar jadi melihat ke arah gw dan Erlin. Jika saja dari awal gw mengetahui kalau Erlin akan kesini, lebih baik gw tidak mengiyakan ajakan Aulia. Gw rasa, gw sudah kehilangan cewek yang paling gw sayangi karena kebodohan gw sendiri. Erlin menghentikan sebuah taksi, lalu pergi dari sini. Gw hanya bisa terdiam dan meratapi semua yang telah terjadi. Sungguh menyedihkan memang...Cewek yang benar benar tulus mencintai gw dan rela menjauhi segala cowok di sekolahnya, harus gw sakiti dengan cara seperti ini. Tidak lama kemudian Aulia, Helena dan Shinta keluar dari dalam kafe dan berlari ke arah gw.
Shinta: “Erlin kenapa Rez? Lu parah banget anak orang sampe begitu.”
Helena: “He-eh. Tuh liat akibat dari ulah lu Rez.”
Shinta: “Yaudah, kita susulin aja kerumahnya Hel.”
Shinta dan Helena masuk ke salah satu mobil yang di berada parkiran, lalu mereka juga pergi menyusul Erlin kerumahnya. Sementara disini hanya tersisa gw dengan Aulia saja.
Aulia: “Maafin aku kak. Gara gara aku, hubungan kakak sama kak Erlin jadi berantakan. Tapi aku ngga bermaksud untuk ngancurin hubungan kalian kok.”
Gw: “Gak, aku yang salah...Sekarang kamu aku anter pulang ya. Abis itu aku mau kerumah Erlin.”
Aulia: “Jangan kak. Mendingan kita kerumah kak Erlin, biar aku jelasin nanti ke kak Erlin. Siapatau kak Erlin bisa baikan lagi.”
Gw: “Bahaya Lia. Aku tau persis sifat Erlin gimana, terutama kalo lagi marah, kesel atau cemburu. Dan sekarang situasinya lagi kaya begini. Yang ada kamu bisa kena marah dari dia. Biar aku sendiri yang kerumahnya nanti. Sekarang kita pulang ya. Pesenan udah dibayar kan?”
Aulia: “Iya kak udah aku bayar...Maaf banget malam ini aku jadi ngerusak hubungan kakak. Aku ngerasa bersalah banget kaak.”
Mata Aulia mulai terlihat berkaca kaca kembali, dengan raut wajahnya yang juga tidak seperti sebelumnya. Menurut gw ini bukan sepenuhnya salah Aulia, tapi ini adalah kesalahan gw. Kesalahan yang sangat fatal, yang sudah gw perkirakan pasti akan terjadi dari jauh jauh hari jika gw masih bersama dengan Aulia. Itu sebabnya gw ingin menjaga jarak dengan dirinya, akan tetapi karena gw merasa kasihan mengingat kejadian di hari Senin jadi gw mengiyakan ajakan Aulia. Entah akan bagaimana hubungan gw dengan Erlin kedepannya, apakah dia masih bisa mencintai dan menyayangi gw apa adanya seperti sedia kala? Atau justru sebaliknya? Gw pikir, biarlah waktu yang menentukan semuanya.
-END OF CHAPTER 3-
Diubah oleh rzrdn62 03-05-2017 22:00
0
![[REAL STORY] Lika Liku Perjalanan Cinta](https://s.kaskus.id/images/2017/04/28/8656089_201704280710150445.jpg)

![[REAL STORY] Lika Liku Perjalanan Cinta](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/6955937_20170502044501.png)
![[REAL STORY] Lika Liku Perjalanan Cinta](https://s.kaskus.id/images/2017/05/03/6955937_20170503100444.png)
: “