Kaskus

Story

bunbun.orenzAvatar border
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):


And I know
There's nothing I can say
To change that part

But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak

I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead



- Famous Last Words by MCR -


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha


Quote:


Spoiler for Special Thanks:


***



Spoiler for From Me:


Versi PDF Thread Sebelumnya:

MyPI PDF

Credit thanks to Agan njum26



[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)

Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini


Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
drakenssAvatar border
snf0989Avatar border
ugalugalihAvatar border
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
glitch.7
#2686
PART 37


Dua hari sudah Gua sulit menghubungi Mba Siska setelah kejadian sebelumnya. Bukan Gua tidak mendatangi ke rumah kontrakannya, tapi selama dua hari ini dia tidak pulang ke kontrakannya itu. Ketika Gua berusaha mendatangi kantornya dan menunggunya di luar hingga dua jam lamanya, mobil crv nya tidak pernah keluar dari dalam kantor. Hp nya tidak aktif. Bukan perkara mudah datang ke kantor Mba Siska dan menanyakan keberadaannya, ini kantor kan beda dari kantor pada umumnya, mau nanya salah satu personil mereka kok rasanya Gua malah seperti orang yang mencurigakan, masa iya Gua mau bilang 'mencari pacar saya Pak'. Malu dan gak enak aja kalau sampai Gua mencari informasi ke rekan kerjanya yang tidak Gua kenal sama sekali.

Sampai hari ketiga ini, di hari sabtu. Gua pun pulang ke rumah ketika selesai kuliah, dan Gua yakin Mba Siska juga pulang.

Ketika itu langit sudah gelap dengan diiringi hujan gerimis sedari sore. Selesai ibadah maghrib dan mandi, Gua mengenakan kaos oblong hitam yang dibalut lagi dengan sweater hitam dan celana jeans biru tua. Sekitar pukul 7 malam Gua keluar rumah, berjalan kearah rumah Pak Rw. Sesampainya di sana, Gua melihat pintu rumahnya yang terbuka. Sedikit obrolan yang berasal dari ruang tamu rumahnya terdengar ketika Gua sudah berada di ambang pintu.

"Assalamualaikum", salam Gua.

"Walaikumsalam", jawab beberapa orang yang berada di dalam ruang tamu.

Gua melihat ada Bapak, Ibu, Meli adiknya Mba Siska, dan Dewa. Disitu Gua tidak melihat sang kekasih.

"Ayo masuk sini Le'..", ucap Pak Rw.

"Eh iya Pak De..", jawab Gua sambil melangkah masuk dan menyalami kedua orangtuanya dan berjabat tangan dengan Meli dan juga Dewa.

"Sudah pulang dari sore Le' ?", tanya Bu Rw.

"Iya Bu De, tadi sampai rumah pas maghrib",
"Maaf Bu De, mmm... Mba Siska nya ada ?", tanya Gua.

Gua memandangi wajah-wajah yang sedikit ragu dari semua orang yang ada di ruang tamu ini untuk menjawab pertanyaan Gua itu.

"Ehm..", Pak Rw berdeham,
"Emm.. Siska nya sedang pergi Le' sama temannya, mungkin baru pulang malam nanti, ada acara ulang tahun katanya", lanjutnya.

"Oh gitu...", ucap Gua sambil menggaruk tengkuk,
"Kalo gitu saya pamit dulu Pak De, nanti saya balik lagi aja kalo Mba Siska belum terlalu malam pulangnya", lanjut Gua.

"Minum dulu Le', nih kan ada Dewa juga", sela Bu Rw menawarkan Gua bertamu dulu.

"Nanti aja Bu De, makasih, gak enak ganggu Meli sama Dewa nya, hehehe", jawab Gua sambil melirik Meli dan Dewa.

Tapi ada tatapan yang aneh dari kedua bola mata sahabat Gua itu, entahlah, apa hanya perasaan Gua saja.

Lalu Gua pun pamit kepada mereka dan kembali keluar rumahnya untuk pulang.

Sampai di rumah, Gua duduk di sofa teras depan kamar, Gua membakar sebatang rokok sambil mengeluarkan hp, mencoba untuk menghubungi sang kekasih, tapi hasilnya tetaplah nihil, nomor hpnya masih tidak aktif. Pada akhirnya Gua hanya bisa menyandarkan punggung ke bahu sofa dan pikiran Gua menerawang ke dua hari yang lalu.

Saat itu, ketika pintu kamar kontrakan Mba Siska tertutup rapat karena kesalahan yang Gua buat, Mba Siska menangis di dalam kamarnya, ya Gua masih bisa mendengar suara tangisnya dari ruang tamu. Gua mencoba mengetuk pintu kamarnya, berusaha dan berharap dia mau membuka pintu, agar Gua bisa memohon maaf kepadanya, dan memeluknya. Tapi semua itu percuma, karena hatinya sudah sakit, dan segala logika yang ada di dalam pikirannya saat ini tidaklah cukup untuk bisa membuatnya mau mendengar segala penjelasan Gua.

Gua tidak pulang, Gua tertidur di sofa ruang tamu kontrakannya. Hingga subuh menjelang, Gua terbangun karena suara seseorang yang sedang memasak di dapur. Gua bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur, melihat seorang perempuan yang membelakangi Gua sedang memasak. Gua berjalan mendekatinya lagi hingga 2 meter Gua berhenti tepat di belakangnya.

"Mba".

Mba Siska tidak menjawab, dia sibuk dengan spatula pada genggaman tangan kanannya, mengaduk nasi goreng pada wajan di atas kompor di depannya.

"Aku tau semua ini udah gak berjalan dengan baik",
"Aku yang merusak semuanya".

Mba Siska masih memasak dengan tenangnya, tapi Gua yakin dia mendengarkan Gua.

"Rasanya apapun alasan yang aku jelasin ke kamu nanti, gak akan membuat hubungan kita bertahan",
"Tapi aku cuma mau kamu tau, kenapa aku sampai begitu tanpa ada kebohongan lagi... Aku akan jujur sejujurnya ke kamu soal hubungan aku dengan Bianca".

Dan Gua pun menceritakan perihal hubungan Gua dengan Bianca selama ini tanpa ada kejadian yang Gua tutupi lagi. Seburuk-buruknya kelakuan Gua, kalau sudah pada ujung tanduk seperti ini, kejujuran adalah hal yang Gua pilih. Maka hati yang memang sudah sakit itu akan semakin sakit setelah Gua jujur. Jahat ? Ya kalau menilainya pada poin ini sudah pasti Gua jahat dan Gua akui itu. Tapi apa yang sudah Gua perbuat dan sangat salah ini hanya di lihat dari ujung kesalahan Gua pada pandangan Mba Siska. Ya dia hanya melihat ketika Gua mencium Bianca di klub malam itu. Alasan Gua jujur adalah cerita dari kejadian sebelum malam dimana Gua mencium Bianca.

Gua menceritakan segala kebersamaan Gua selama ini dengan Bianca, dari mulai sekedar ngobrol di depan kamar kost hingga jalan malam untuk sekedar mencari makan. Sampai akhirnya untuk pertama kali Gua ikut ke tempat kerja Bianca dan berakhir dengan tidur bersama di kamarnya. Dan Gua pun menceritakan kalau kami tidak melakukan ML saat itu, benar-benar tidak melakukannya sama sekali.

Tubuh Mba Siska bergetar, spatula yang dia genggam pun terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai. Suara isak tangisnya memenuhi dapur kontrakannya ini. Gua melangkah lagi mendekatinya dan kini berdiri tepat di belakangnya dengan jarak yang teramat dekat, sampai Gua bisa mencium aroma tubuhnya. Tangan Gua berat untuk Gua gerakan, sekedar memegang bahunya saja Gua tidak berani. Bukan Gua takut dia akan memukul Gua, tapi Gua tau, saat ini dia membenci Gua, membenci lelaki yang pernah dia cintai.

"Maafin semua kesalahan aku Mba, aku akui udah ngelanggar janji untuk gak deket dengan Bianca",
"Tapi dengan semua kejujuran aku ini, aku harap kamu percaya satu hal",
"Kalau aku benar-benar enggak punya perasaan apapun untuk Bianca",
"Semua itu terjadi karena suasana dan pengaruh minuman Mba",
"Aku gak nyalahin siapapun".

Mba Siska masih menangis dan semakin menangis setelah Gua jelaskan semuanya. Akhirnya Gua tidak sanggup lagi melihatnya menangis seperti itu, dengan segala perasaan yang sangat bersalah kepadanya, Gua beranikan diri untuk memegang lengan kanannya dan membalikkan tubuhnya. Hati Gua menclos melihat wajahnya yang sudah bersimbah air mata, tanpa bisa Gua tahan lagi, Gua tarik cepat tubuhnya untuk kemudian Gua peluk dengan erat. Karena Gua tau, setelah semua ini, belum tentu ada kesempatan bisa mendekapnya lagi di lain waktu...

Gua membelai lembut punggungnya, mengucapkan kata maaf berulang-ulang, dan menciumi ubun-ubunnya.

"Maafin aku yang terlalu bodoh ini",
"Aku gak bisa lagi kasih alasan ke kamu untuk mertahanin hubungan kita",
"Bukan aku gak mau minta kesempatan kedua Mba, tapi ini semua berat untuk kamu terima kan ?",
"Dan hanya kata maaf ini yang bisa aku ucapkan sekarang".

Mba Siska masih menangis dengan wajah yang terbenam ke dada Gua, sedangkan kedua tangannya hanya terjuntai ke bawah tanpa membalas pekukkan Gua.

"Aku sayang sama kamu Mba...", ucap Gua setelah beberapa saat kami terdiam dan hanya suara tangisnya yang terdengar.

Saat itulah kedua tangannya bergerak dan memeluk tubuh Gua.

Tubuhnya kembali bergetar dengan isakkan yang semakin kuat. Gua menyandarkan wajah ke ubun-ubun kepalanya, memeluknya lebih erat, berharap dia tau kalau perasaan sayang untuknya bukanlah buaian belaka.

Setelah kejadian itu, Mba Siska meminta Gua untuk tidak menghubunginya dulu. Tidak ada kata putus diantara kami, tidak ada kata dimaafkan juga yang dia ucapkan untuk Gua. Maka alasan inilah yang membuat Gua harus mengejarnya lagi, antara meminta kejelasan soal hubungan kami atau sekedar kata maaf yang ia terima dan memaaafkan Gua.

Tapi sulit menemuinya, entah berangkat jam berapa dia untuk bekerja, sampai-sampai jam 5 subuh pun Gua tidak melihat mobilnya terparkir di halaman rumah kontrakannya itu.

Kembali dimana Gua duduk di sofa teras depan kamar rumah Nenek, merenungi segala kesalahan yang sudah Gua perbuat kepada seorang perempuan cantik dan berwatak keras. Sebatang rokok yang hanya Gua hisap dua kali itu ternyata sudah habis terbakar dengan sendirinya, sampai ke ujung puntung. Gua matikan rokok ke asbak di atas meja teras. Lalu Gua berdiri dari sofa dan masuk ke dalam kamar.

Gua menghempaskan tubuh ke atas kasur. Memandangi kipas yang berputar di langit-langit kamar. Hati Gua tidak karuan rasanya, perasaan Gua cemas memikirkan sang kekasih. Gua lirik jam pada dinding kamar yang sudah menunjukkan pukul 8 malam, lalu Gua tarik bantal untuk menutupi wajah Gua.

Lama Gua memejamkan mata dengan wajah yang tertutupi bantal, tapi rasa kantuk tidak juga datang menghampiri. Rasa lelah berkendara dari Jakarta ke rumah dengan diguyur hujan sore tadi, tidak juga membuat Gua bisa tertidur saat ini. Pikiran Gua hanya tetuju ke satu nama perempuan. Siska Syailendra Azizah.

Masih dalam posisi yang sama, Gua mendengar suara langkah kaki yang berjalan dari luar kamar dan berhenti.

"Reeza..", ucap suara seorang lelaki.

Gua menarik bantal yang menutupi wajah dan bangun dari kasur. Gua berjalan ke luar setelah sebelumnya melihat jam dinding yang kini menunjukkan angka 8.40 malam. Pintu kamar Gua memang terbuka daritadi, jadi ketika Gua berjalan dari kamar menuju teras, Gua langsung bisa melihat sosok lelaki itu.

"Oi Wa, tumben Lu kesini", ucap Gua yang masih melangkah ke teras.

Ya, ternyata Dewa yang memanggil Gua dari halaman rumah.

"Ada perlu sama Lu", jawabnya dengan wajah yang nampak serius.

"Wiih, tumben banget", ucap Gua ketika sudah berdiri di hadapannya,
"Serius amat tuh muka Lu Wa, ada apaan nih ?", tanya Gua lagi.

"Ada yang perlu Gua selesainsama Lu", jawabnya penuh penekanan.

Gua sadar betul, dari ucapan terakhirnya itu dan tatapan matanya yang tajam kepada Gua, ada hal yang serius. Gua tersenyum simpul lalu mengajaknya masuk ke teras.

"Oke, ayo duduk kalo gitu Wa", ajak Gua seraya membalikkan badan.

"Enggak disini Za",
"Kita ke lapangan..", jawabnya.

...

Gua mengikuti Dewa yang berjalan di depan Gua hingga kami sampai di lapangan sepak bola komplek rumah, kami berada di sisi Gawang. Dan Gua cukup terkejut ketika melihat ada ketiga sahabat Gua yang lain sudah ada di sini. Hanya Robbi yang tidak hadir, karena dia memang ditugaskan di luar kota setelah menjalani pendidikan solip.

"Oi Bro, apa kabar ?", sapa Unang kepada Gua.

"Hei Nang, alhamdulilah sehat",
"Pada ngapain nih ngumpul, tumben banget", ucap Gua sambil melirik kepada Unang, Icol dan Rekti.

Gua lihat Icol dan Unang hanya terdiam tanpa menunjukkan ekspresi apapun, sedangkan Rekti tersenyum tipis kepada Gua.

"Pesta nih ?", tanya Gua lagi.

"Cuma kita berdua yang bakal pesta Za", jawab Dewa sambil membalikkan tubuhnya.

Sedetik kemudian, dengan jarak yang cukup dekat, sebuah kepalan tangan menghantam pipi kiri Gua.

Bugh...

Gua terhuyung ke kanan tapi tidak sampai jatuh. Pernah nerima pukulan dari orang bertubuh kurus ? Rasanya kayak gimana ? Tenaganya gak ada, tapi sakitnya cukup terasa. Karena isinya cuma tulang doang, dan pasti peureus, tulang ngehantam pipi gais.

Kepala Gua tertunduk sedikit dengan posisi yang miring ke kanan, sedangkan Dewa sudah ditahan oleh Rekti setelah memukul Gua tadi. Gua menepuk-nepuk pipi kiri yang masih terasa pedas karena pukulan Dewa tadi. Lalu Gua menengok ke kiri, dimana Dewa dengan raut muka yang emosi menatap Gua sedang dihalangi oleh Rekti.

"Lu janji gak ada kekerasan Wa", ucap Rekti sambil menahan tubuh Dewa.

"Gua udah muak liat kelakuan bang*sat satu ini Ti!!", jawab Dewa dengan penuh emosi.

"Tapi bukan gini caranya Wa!", bentak Rekti.

"Gua minta, sekarang Lu harus punya cukup alasan yang masuk akal kenapa sampe mukul Gua Wa", sela Gua diantara mereka berdua.

"Eh anj*ing, gak sadar diri Lu ya!",
"Berapa kali Lu mainin hati perempuan Hah ?!!", teriak Dewa kepada Gua.

Gua melangkah mendekati Dewa yang dihalangi Rekti. Gua tatap matanya yang penuh emosi itu.

"Apa maksud Lu ?", tanya Gua.

"Lu paham maksud Gua Jing!",
"Playboy baji*ngan macam Lu emang harus dikasih pelajaran!", jawab Dewa.

"Ini semua soal Siska ?", tanya Gua lagi.

"Gak ada hormatnya Lu ama orang yang lebih dewasa ya Jing!", balas Dewa lagi yang semakin emosi karena Gua hanya menyebut nama sang kekasih.

Gua menggelengkan kepala seraya tersenyum lebar. "Urusan Lu apa sih sebenarnya sama hubungan Gua dan pacar Gua ? Heum ?", tanya Gua dengan nada suara yang pelan.

"Adiknya pacar Gua! Dan urusan kakaknya berarti urusan Gua juga!", ucap Dewa.

Gua tertawa sekeras mungkin mendengar jawabannya, that's fakin amazing!!

"Wow.. Hahaha.. Gilaa.. Ini gilaaaa", kelakar Gua sambil mendongakkan kepala ke langit gelap di atas sana,
"Hebat Lu ya, cari muka dihadapan keluarga Siska", ucap Gua kali ini dengan tersenyum kepada Dewa.

"Lepas Ti, biar Gua abisin ini Bang*sat", ucap Dewa sambil mencoba melepaskan tangan Rekti dari kedua bahunya.

"Enggak ada kekerasan Wa, gak ada", jawab Rekti dingin tapi Gua rasa matanya menatap tajam kepada Dewa.

"Eh bang*sat, Lu pikir udah berapa kali Lu nyakitin hati Mba Siska hah ?!", ucap Dewa lagi kepada Gua,
"Dulu kalo enggak bokin Gua yang ngeliat Echa nginep di rumah Lu, gak akan Lu berhenti nyakitin Mba Siska!!", lanjutnya,
"Sekarang! Lu dengan enaknya ciuman ama per*ek di tempat clubbing! Bang*sat emang Lu!!".

Gua menghela napas pelan, memejamkan mata sebentar, mencoba menahan emosi yang mulai tersulut karena kata pe*ek yang Dewa ucapkan untuk Bianca tidak bisa Gua terima. Perlahan Gua atur nafas agar emosi Gua mereda.

"Wa..", ucap Gua masih mengatur nafas,
"Tau darimana Lu kalo perempuan yang Gua cium itu perempuan gak bener ?",
"Enggak semua perempuan yang clubbing itu gak bener Wa.. Dan satu hal yang harus Lu tau...",
"Namanya Bianca.. Dan dia bukan per*ek..", ucap Gua dengan suara yang Gua tahan senormal mungkin.

Bianca... Dia perempuan yang gak bener ? Mungkin ya karena penyimpangan masalah seksualnya. Tapi dia bukan perempuan yang suka menjajakan tubuhnya untuk laki-laki berduit. Tau darimana Gua ? Bukannya Gua baru kenal sebentar ? Ya, memang Gua baru kenal dengan Bianca belum lama ini, tapi dengan penyimpangan masalah seksual yang dia punya, seharusnya itu udah cukup membuktikan kalau Bianca bukanlah kupu-kupu malam. Di dunia ini, siapa yang mau jadi manusia berlumur dosa ? Enggak ada. Enggak ada sama sekali. Tanya hati kecil mereka. Harapan mereka adalah menjadi manusia yang berguna, sekecil apapun, dan setidaknya bagi orang-orang di sekitarnya.

"Lu denger sendiri Ti, dia bela itu pe*rek yang temen Gua bilang mereka ciuman Ti", ucap Dewa kepada Rekti.

Ops.. I heard that's...

"Lu liat sendiri ?", tanya Gua dengan heran kepada Dewa.

Dewa seperti sadar akan ucapannya yang salah. Salah harus dia ucapkan di depan Gua.

"Wa, Lu ada di klub itu ?", tanya Gua lagi.

"Dia gak liat Lu ciuman Za, temen kampusnya yang liat Lu..", Rekti kali ini yang menjawab pertanyaan Gua.

Gua heran dan bingung, kok bisa teman kampus Dewa tau kalo Gua ini temannya Dewa juga. Gimana maksudnya.

"Gua gak paham, gak ada satu pun temen kampus Lu yang kenal sama Gua Wa..", ucap Gua lagi.

Dan kali ini, Rekti meminta Dewa jujur dan menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Gua. Di malam itu, saat pertama kalinya Gua memasuki klub malam, ternyata satu jam kemudian ada teman-teman kampus Dewa yang hadir. Saat Gua mencium Bianca, dengan lihainya salah satu teman Dewa mengabadikan kejadian tersebut lewat kamera hp. Teman kampus Dewa memang tidak kenal dengan Gua ataupun Bianca. Dan yang membuat Dewa mengetahui foto tersebut karena keesokan harinya, mereka bertemu di kampus, ya namanya dapat foto yang sedikit hot so pasti ditunjukkan ke teman lainnya, dan teman lainnya ini adalah si Dewa. Walaupun tidak begitu jelas, tapi cukup menunjukkan bahwa Gua adalah lelaki di dalam foto tersebut, yang otomatis Dewa langsung meminta bluetooth foto itu dari temannya. Dan... Kalian semua sekarang tau, darimana Mba Siska bisa mendapatkan foto itu.

Gua tidak menyalahkan Dewa, ya memang ini salah Gua sepenuhnya. Gua mengakui kalau apa yang sudah Gua lakukan dengan Bianca salah, gak perlu mencari alasan apapun lagi.

"Sekarang Lu ngaku salah dengan mudahnya, waktu Lu ngelakuin kesalahan itu dimana nama Mba Siska hah ?!", ucap Dewa setelah menjelaskan soal foto dan mendengar penyesalan Gua.

"Sekarang mau Lu apa ?", tanya Gua pelan,
"Jangan dikira Gua enggak berusaha minta maaf dan gak menyesal sama Siska..", ucap Gua.

"Gua muak sama omongan sampah Lu!",
"Lepasin Gua Ti, biar Gua hajar nih Bang*sat satu!!", ucap Dewa lagi mencoba melepaskan tangan Rekti lagi.

"Ti..",
"Lepasin Dewa..", ucap Gua.

Rekti menengok ke belakang kepada Gua. Gua tersenyum dan mengangguk pelan. Seketika itu juga Rekti langsung melepaskan kedua tangannya pada bahu Dewa. Dan sekian detik kemudian Dewa langsung maju menghampiri Gua dengan cepat.

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, sekian sekian sekian.

Entah berapa pukulan tangan dan tendangan yang Dewa hantamkan kepada tubuh Gua. Gua terima semua hantaman itu tanpa melawannya sedikitpun, Gua hanya melindungi wajah dan kepala dengan kedua tangan. Semakin menggila dan membabi buta serangan yang Dewa berikan ke tubuh ini. Tapi Gua masih kokoh berdiri dengan semua terjangannya itu. Sampai akhirnya mungkin dia kelelahan sendiri. Dengan nafas yang terengah-engah, Dewa mundur beberapa langkah dan mengatur nafasnya.

Gua menurunkan kedua tangan yang awalnya menutupi wajah dan kepala Gua. Gua pun mengatur nafas, walaupun Gua tidak terjatuh, tapi rasa sakit dan perih langsung merambat di sekujur tubuh Gua, dan yang paling terasa adalah pinggang Gua. Ya di situlah Dewa banyak menghantamkan pukulan juga tendangannya. Gua mengurut-ngurut pinggang kiri yang terasa sakit. Gua tarik sweater berikut kaos sebatas dada, untuk melihat luka lebam yang berada di pinggang itu, tapi inilah dimana Gua lengah, baru saja Gua menatap pinggang yang sakit, sebuah tendangan telak menghantam wajah Gua, dan sukses membuat Gua terjatuh dengan posisi berbaring.

Gua meringis kesakitan memegangi wajah, lebih tepatnya hidung. Sakit dan sangat sakit. Gua terkapar, sakit menahan perih di hidung. Gua sempat melihat Rekti dan Unang menahan Dewa yang hendak menerjang Gua lagi, dan dengan menahan sakit, Gua mencoba untuk duduk. Setelah berhasil terduduk, Gua menyeuka hidung yang sudah bersimbah darah hingga masuk ke dalam mulut, dan rasa darah pun menyapa lidah Gua.

"Lepas!!", ucap Dewa.

"Cukup! Cukup Wa! Enggak perlu lagi Lu ngehajar sahabat Lu sendiri!", ucap Rekti dengan nada yang menyentak.

"Okey.. Gua gak akan hajar lagi si Bang*sat itu", jawab Dewa sambil melirik kepada Gua,
"Gua cuma mau ngomong", lanjutnya.

Rekti menatap tajam kepada Dewa, dan Dewa langsung meyakinkan Rekti lagi. "Gua janji gak akan ngehajar dia lagi Ti", lanjutnya.

Rekti melepaskan tangannya, begitu juga dengan Unang. Lalu Dewa mendekati Gua yang terduduk di atas rumput dan dia berjongkok tepat dihadapan Gua.

Puk.. Tangan kanannya menepuk bahu kiri Gua.

"Za, lepasin Mba Siska", ucapnya dengan mata yang tajam menatap Gua,
"Dia gak akan bahagia sama cowok macem Lu", ucapannya kali ini diiringi cengkraman kuat tangan kanannya pada bahu kiri Gua.

Lalu Dewa berdiri dan menatap Gua dari atas. "Za..", ucapnya lagi. "Lu emang pantes di buang sama nyokap Lu".

DEGH!!!

Emosi Gua pecah ketika itu juga, Gua tidak lagi bisa melihat mana yang baik dan buruk. Mulai sekarang, enggak ada lagi yang namanya sahabat diantara kita. Gak akan ada.
Dan saat ini, kepala Dewa adalah satu-satunya bagian tubuh yang ingin Gua belah menjadi dua.

Diubah oleh glitch.7 03-05-2017 22:24
dany.agus
dany.agus memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.