- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.5KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#2633
PART 36
Sekitar pukul 5 sore Gua sudah menunggu di kursi teras kontrakan Mba Siska, Gua memang diberikan kunci ganda gembok pagar kontrakannya oleh sang kekasih hati, tapi Gua menolak untuk menerima kunci rumah. Gua membakar sebatang rokok di sore yang gerimis ini. Selang 15 menit kemudian sebuah mobil crv berhenti tepat di depan pagar, Gua berdiri lalu berjalan kearah pagar untuk membukakan gerbang. Setelah mobilnya terparkir rapih, turunlah pujaan hati dari pintu kemudi, lalu dia berjalan kebelakang membuka pintu tengah dan mengambil satu kantung plastik yang cukup besar.
"Udah daritadi Za ?", tanyanya ketika Gua berdiri di sampingnya.
"Baru 15 menitan Mba..",
"Sini aku bantu bawa", ucap Gua menawarkan.
Kemudian Gua mengambil alih kantung plastik yang isinya baju bersih Mba Siska, rupanya baru diambil dari laundry. Kemudian Gua mengikutinya dari belakang, berjalan kearah rumah. Setelah Mba Siska membuka pintu, Gua pun ikut masuk kedalam.
"Mau kopi atau makan dulu ?", tanyanya sambil menaruh tas kerja di salah satu sofa ruang tamu.
"Kopi aja dulu Mba, eh.. Kecuali kamu udah lapar, ya kita makan dulu aja", jawab Gua setelah menaruh kantung plastik juga.
"Yaudah aku ganti pakaian dulu sebentar..".
Gua menunggu di ruang tamu, sedangkan Mba Siska masuk kedalam kamar dan mengganti pakaiannya. Tidak berapa lama Mba Siska keluar lagi dengan pakaian yang lebih santai. Celana jeans biru dengan sweater warna hitam membalut kaos putih di dalamnya. Kami pun kembali keluar rumah. Tau dia mau makan di luar sih, ini mobil gak usah di parkir ke dalam tadi, hadeuh.
Kami berdua sekarang sudah berada di dalam mobil, Gua yang mengemudi, sedangkan Mba Siska duduk manis di jok samping. Ramainya jalan raya membuat Gua mengalihkan mobil ke jalan alternatif. Selama di dalam mobil tidak banyak yang kami obrolkan karena Mba Siska sedang menelpon Ibunya. Singkat cerita, setengah jam lebih kami sudah sampai di basement sebuah mall.
Gua mengikuti Mba Siska yang naik ke eskalator untuk menuju lantai 3, dimana resto chinese food berada. Setelah sampai di resto, kami pun memesan makanan. Sambil menunggu makanan kami diantar dan tersaji. Gua memulai obrolan dengan sang kekasih.
"Mba, ehm..".
"Ya ?".
"Maaf soal pagi tadi..",
"Aku semalam begadang Mba..".
"Habis begadang ngapain emangnya Za ?", tanyanya dengan nada menyelidik.
Gua sudah memikirkan alasan apa yang akan Gua berikan kepada sang kekasih hati ini. Mau tidak mau Gua harus berbohong kepadanya sekarang, bukan Gua cari selamat untuk diri sendiri, tapi untuk hubungan kami.
"Aku main bola di PS Mba, sama temen kampus di kost-an dan..", ucap Gua tertahan.
"Dan apa ?".
"Minum Mba..", jawab Gua pelan dan hati-hati.
Ya seenggaknya Gua tidak bohong 100% lah. Soal minum kan memang Gua semalam minum juga sampai jackpot. Bedanya tempat aja toh, di klub apa di kost-an.
"Jadi kalau kalah, dia yang minum tiga gelas whiskey..", lanjut Gua,
"Dan aku kalah dua kali Mba", ucap Gua kali ini seraya menundukkan kepala.
Mba Siska menyandarkan punggungnya ke bahu kursi, lalu melipat kedua tangannya di depan dada dengan menggelengkan kepala pelan seraya menatap Gua tajam. Jiiirr... Ciut nyali Gua kalau dia udah gini. Maaf Mba maafin aku deh.
"Maaf Mba, maafin aku ya", ucap Gua lagi.
"Pinjam hp kamu Za", ucapnya.
Gua mengerenyitkan kening menatap wajahnya. Lalu satu tangannya diulurkan ke depan Gua dengan telapak tangan yang terbuka. Tanpa berpikir dua kali dan menunggunya meminta lagi, Gua keluarkan hp dari saku jaket dan memberikannya. Mba Siska langsung mengotak-atik hp Gua. Sambil tetap menatap layar hp Gua yang berada di genggamannya itu dia bertanya lagi ke Gua.
"Siapa nama teman kampus kamu..?".
Degh
Anjir dikroscek ampe ke akarnya ini ma.
"Mat Lo Mba..", jawab Gua.
"Nama kontaknya di hp kamu siapa ?".
"Mamat Pelo..".
Tidak lama kemudian Mba Siska serius memainkan hp Gua. Gua tidak tau apa yang dia kerjakan, karena kami duduk berhadapan. Mana mungkin Gua bisa tenang kalo sudah begini, dengan hati yang waswas Gua menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, karena kini hp Gua sudah diletakkan di atas meja, tepat di sisi tangannya yang juga ditaruh di atas meja. Jari tangannya mengetuk-ngetuk meja sambil menatap Gua dengan senyuman yang... Yang kamvret banget asli. Gua cemas, gundah, waswas, gak tenang dengan permainan yang dia lakukan sekarang. Sue bener ini sore!!!
Tidak lama kemudian makanan pun datang yang diantar oleh pramusaji, lalu dihidangkan di atas meja. Pas saat si pramusaji meninggalkan meja kami, hp Gua berdering dua kali tanda sms masuk. Mba Siska menaruh sumpit pada genggamannya lalu mengambil hp Gua yang berada di sampingnya. Keningnya berkerut sesaat lalu satu sudut bibirnya tersenyum sekali.
"Nih", ucapnya seraya memberikan hp Gua.
Gua menatap wajahnya sambil menerima hp. Gua tidak langsung melihat isi sms yang masuk tadi, cemas dan takut rasanya mata ini melirik ke layar hp. Mba Siska kembali mengambil sumpit.
"Ayo makan dulu sayang", ucapnya seraya menyumpit mie goreng seafood dihadapannya.
Gua hiraukan ajakannya itu, perlahan Gua angkat hp ditangan kanan, lalu membaca isi sms yang masuk tadi.
Gua tersenyum simpul, lalu menahan tawa, sumpah Gua menahan tawa yang sudah diujung mulut, dan tak ayal kedua pipi Gua pun mengembung agar tidak lepas ini tawa kamvret. Gua menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Kemudian setelah bisa mengendalikan diri agar tidak tertawa, Gua buru-buru menekan keypad hp, masuk ke menu kontak, mencari sebuah nama, setelah menemukannya Gua edit langsung. Yang awalnya Gua beri nama Mamat Pelo, Gua ubah menjadi Real Man. Yooo you are the real MVP Brooowww...
Mundur kebeberapa jam sebelum Gua datang ke kontrakan Mba Siska.
Tepat sehabis dzuhur, Gua menelpon Mat Lo.
Apalagi ternyata Mba Siska tadi sms dengan gaya bahasanya sendiri, makin seneng aja Gua. Karena Gua yakin Mat Lo juga tau, kalo Gua gak pernah menggunakan kata 'pusing' menjadi 'pusink' dan 'kali' menjadi 'x'.
Begitulah Gais Gua merencanakan alasan yang ciamik untuk sang kekasih hati tadi siang.
Back to resto chinese food with Yayank Siskaaah...
"Hei, kok diem aja, ayo di makan Za..", ucap Mba Siska membuyarkan lamunan Gua.
"Eh iya Mba hehehe..".
Ya si kadal selamat sekarang, makan lah dia dengan nikmat, tidak ada lagi perasaan waswas dan cemas. Hanya makanan pedas yang sekarang dia santap bersama Mba Siska yang membuatnya gemassss... Massss.. Massss.. Huahahahahaha.
...
Sekarang Gua dan sang kekasih sudah berada di kontrakannya setelah beres makan malam tadi. Gua duduk di sofa ruang tamunya. Segelas kopi hitam sudah tersedia di atas meja depan Gua. Sedangkan Mba Siska membilas tubuh di kamar mandi. Gua membakar sebatang rokok lalu menghisapnya kuat-kuat, senyum lebar menghiasi wajah Gua sambil menghembuskan asap. Ya ya yaa.. Dibilang jahat kan gak juga, masa iya sih Gua mau jujur ama Mba Siska yang galak itu. Cari mati Lu pade mau jujur clubbing sama perempuan yang pacar Lu benci ? Huehehehe. Cari aman lah kita Gais, gile aja kaleeee...
Gua hendak meminum kopi yang sudah minta diseruput, tapi langsung Gua lepas lagi tangan ini dari gelas kopi, tumben panas banget ini aernya, baru ngegolak kali ya. Tidak lama kemudian sang kekasih berjalan dari arah dapur dan duduk di samping Gua, daster tidurnya yang tanpa lengan sudah ia kenakan, rambutnya terbalut handuk. Hmm.. Wangi khas sabun mandi favoritnya menyeruak kedalam hidung Gua, semeriwing wanginyaaa.. Manteub manteub manteub.
"Duuh wangiinyaa pacar Ku ini..", goda Gua sambil mencolek lengannya.
Mba Siska hanya tersenyum tanpa menoleh kepada Gua, karena sekarang dia sedang memakai cream kulit ke kakinya. Entah apa karena 'aksi solo' si Bianca tadi malam, membuat Gua jadi ingin mesra-mesraan dengan ini perempuan yang berada di samping Gua sekarang. Bukan apa-apa Gais, si Bianca ma enak menjamah Gua dengan bebasnya, mana Gua enggak merasakan sensasi apapun. Kan kamvretos itu. Nah sekarang bolehlah Gua bermanja-manja gemas dengan Ayank Siskah.
Gua melingkarkan tangan kiri ke sisi pinggang kirinya dari arah kanan, duduk merapat kayak angkot yang penuh penumpang. Pipi kiri Gua sandarkan ke bahu kanannya,dan tangan kanan Gua meraih tangan kanannya, yang otomatis menghentikan olesan cream pada kakinya itu. Gua terkekeh pelan saat wajahnya menengok kepada Gua dengan ekspresi yang bingung.
Lalu Gua dekatkan wajah dan mengecup pipinya sesaat. Gua tersenyum yang dia balas dengan rengutan bingung pada wajahnya lagi.
"Kenapa kamu ?", tanyanya heran.
Gua menggeleng pelan lalu menaik turunkan alis dengan cepat. Jiiirr engas Gua ini, fak!
"Aneun Mba..", jawab Gua sok manja-manja tapi najis. Yaiyalah najis Gua kalo inget momen ini. Hahahaha.
"Aneun ?", tanyanya semakin bingung.
"Kangen sayaaang.. Kangen banget aku sama kamu", jawab Gua.
Mba Siska tersenyum simpul lalu menggelengkan kepalanya seraya menjauhkan wajahnya beberapa centi dari Gua. Dan sebuah ucapan dari mulutnya keluar dengan nada yang merdu. "Emang semalam gak cukup Za ciuman sama Bianca ?".
WHAT THE FAK ?!!!
Hati Gua menclos, nafas Gua berat, tenggorokkan Gua tercekat, serta merta tengkuk Gua dingin lalu menjalar ke seluruh tubuh. Dan sialnya... Mba Siska santai saja melanjutkan olesan cream ke kakinya lagi. Gua mundur dan melepaskan pelukkan. Menelan ludah yang sedari tadi susah untuk Gua telan.
"Diminum dulu Za kopinya", ucap Mba Siska santai tanpa menoleh kepada Gua.
Gua yang blank karena tidak percaya oleh ucapan sebelumnya itu langsung mengangkat gelas kopi dan meneguknya tanpa curiga sedikit pun.
"Ppuuueehhh... Pleehh..",
"Ciiih.. Plleeeh... Aaah.. Mbaa.. Ini kopi apaan".
Hanjir, Gua lepeh (muntahkan) kopi yang baru sampai menyentuh lidah Gua itu. Gila kopi rasanya asin ama asem gini sih.
"Kenapa ?", tanyanya setelah selesai mengoleskan cream kulit dengan ekspresi wajah yang dingin.
"Ini kopi kok asin asem sih Mba ?", tanya Gua sambil menjulurkan lidah dengan mata yang berkerut.
"Oh di dapur abis gulanya",
"Aku racik sama garam dan cuka, kali aja kamu doyan", jawabnya masih santai dengan wajah dinginnya.
Buangkeeeee... Kopi macam apa dikasih garam ama cukaaaa.. Fak!
"Racikan apa itu Mbaaa, gak enak gini heuuh..".
Syit, Mba Siska melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya tajam menatap Gua. "Abisin", ucapnya dengan nada penuh ancaman.
Hanjir, hanjir ini sih. Mules dah perut Gua kalo beneran minum ini kopi kevarat.
Gelas yang berisi kopi kevarat itu masih pada genggaman tangan Gua. Gua melirik kepada si kevarat kopi lalu melirik ke Mba Siska, begitu terus, berharap Mba Siska tidak sungguh-sungguh dengan permintaannya tadi.
"Minum atau pulang sekarang juga Za", ucapnya yang melihat Gua ragu-ragu.
Pulang ? Ah itu pilihan terbaik saat ini. Agar bisa terhindar dari hukuman kamvret dan amukkan macan betina di depan Gua sekarang. Tapi sorry, itu pilihan buat laki-laki yang menghindari masalah setelah ketahuan punya salah. Dan Gua sudah terlanjur basah, apalagi yang Gua bisa jawab selain menerima hukuman yang dia berikan sekarang.
Tanpa pikir panjang lagi Gua minum itu kopi enak gurih gurih enyoy sampai habis dengan nafas yang Gua tahan lalu memejamkan mata, seolah-olah Gua menenggak telur mentah dari cangkangnya. Wajah Gua mengkerut dengan mata yang terpejam, punggung tangan kanan Gua menyeuka bibir ini. Lalu... Lalu Gua berlari sekuat tenaga hingga menabrak meja ruang tamu, Gua lari ke luar rumah, memuntahkan kopi kevarat yang sebenarnya sudah bersemayam di dalam lambung ini. Faaaakkk.... Gua memuntahkan makanan yang tadi Gua santap juga ternyata. Sial.. Airmata mengalir dari sudut mata Gua, bukan sakit atau sedih coy, euneuk.. Eeeuuunnneeeuukk banget kamvreeeetttt. Keluar sudah makanan dan minuman yang gak jelas bentuknya dari mulut Gua, tumpah ke rumput pekarangan rumah kontrakan Mba Siska.
Gua berjongkok, lemes lagi anjir. Dua kali Gua JP dalam waktu kurang dari 24 jam. Hanjiir ini hanjir banget. Lemas tubuh abang dek...
Gua rasakan pijatan pada tengkuk Gua dari tangan yang lembut. Gua masih berjongkok dengan tubuh yang lemas, mata Gua masih terpejam dengan memegangi perut. Kemudian Gua seuka airmata dari sudut mata. Gua berusaha berdiri yang langsung dibantu oleh sang kekasih hati di belakang Gua.
Gua dipapah olehnya untuk kembali masuk ke dalam ruang tamu. Gua kembali duduk di sofa, menyandarkan tubuh ke belakang, ke bahu sofa. Lalu Mba Siska berjalan kearah dapur yang tidak lama kemudian membawa segelas air mineral hangat. Dia meminta Gua meminum air hangat itu, tapi jujur saja, Gua masih curiga sih. Tapi sepertinya kekhawatiran Gua itu terbaca oleh Mba Siska.
"Itu beneran air anget",
"Enggak aku campur apapun", ucapnya.
Lalu Gua pun meminum air hangat tersebut, dan lega memang ini air beneran tanpa campuran aneh-aneh kayak si kopi kevarat tadi. Setengah gelas Gua habiskan lalu Gua taruh di meja. Mba Siska duduk di samping Gua. Dengan keadaan yang masih lemas, Gua berusaha duduk biasa lagi tanpa bersandar. Gua raih tangan kirinya dan menciumnya sekali.
"Aku minta maaf, dan aku harap kamu mau dengerin dulu semua penjelasan Aku Mba..", ucap Gua.
Mba Siska memandang meja ruang tamu di depan kami, lalu tangan yang Gua genggam dilepasnya. Dia meraih hpnya yang tergeletak diatas meja. Dan memainkan hpnya sesaat lalu hp itu dia berikan kepada Gua dengan kasar ke dada Gua. Dengan hentakan kaki dia bangkit dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar dan membanting pintunya dengan keras. Gua dengar putaran kunci dari dalam.
Gua berlari mengejarnya dan mengetuk pintu kamarnya. Tapi tidak ada tanda-tanda pintu akan dibuka dari dalam, Gua mencoba membuka handle pintu tapi sudah terkunci rapat. Lalu dengan langkah gontai, Gua kembali duduk di sofa ruang tamu dan meraih hpnya.
Tubuh Gua masih lemas karena memuntahkan isi perut, dan sekarang semakin lemas tubuh ini. Seakan tulang Gua rontok bersama hati yang ikut menclos... Karena layar hpnya itu menunjukkan sebuah foto dua orang yang sedang berciuman di atas stage sebuah klub malam...
I become fakin moron rite now!!!
"Udah daritadi Za ?", tanyanya ketika Gua berdiri di sampingnya.
"Baru 15 menitan Mba..",
"Sini aku bantu bawa", ucap Gua menawarkan.
Kemudian Gua mengambil alih kantung plastik yang isinya baju bersih Mba Siska, rupanya baru diambil dari laundry. Kemudian Gua mengikutinya dari belakang, berjalan kearah rumah. Setelah Mba Siska membuka pintu, Gua pun ikut masuk kedalam.
"Mau kopi atau makan dulu ?", tanyanya sambil menaruh tas kerja di salah satu sofa ruang tamu.
"Kopi aja dulu Mba, eh.. Kecuali kamu udah lapar, ya kita makan dulu aja", jawab Gua setelah menaruh kantung plastik juga.
"Yaudah aku ganti pakaian dulu sebentar..".
Gua menunggu di ruang tamu, sedangkan Mba Siska masuk kedalam kamar dan mengganti pakaiannya. Tidak berapa lama Mba Siska keluar lagi dengan pakaian yang lebih santai. Celana jeans biru dengan sweater warna hitam membalut kaos putih di dalamnya. Kami pun kembali keluar rumah. Tau dia mau makan di luar sih, ini mobil gak usah di parkir ke dalam tadi, hadeuh.
Kami berdua sekarang sudah berada di dalam mobil, Gua yang mengemudi, sedangkan Mba Siska duduk manis di jok samping. Ramainya jalan raya membuat Gua mengalihkan mobil ke jalan alternatif. Selama di dalam mobil tidak banyak yang kami obrolkan karena Mba Siska sedang menelpon Ibunya. Singkat cerita, setengah jam lebih kami sudah sampai di basement sebuah mall.
Gua mengikuti Mba Siska yang naik ke eskalator untuk menuju lantai 3, dimana resto chinese food berada. Setelah sampai di resto, kami pun memesan makanan. Sambil menunggu makanan kami diantar dan tersaji. Gua memulai obrolan dengan sang kekasih.
"Mba, ehm..".
"Ya ?".
"Maaf soal pagi tadi..",
"Aku semalam begadang Mba..".
"Habis begadang ngapain emangnya Za ?", tanyanya dengan nada menyelidik.
Gua sudah memikirkan alasan apa yang akan Gua berikan kepada sang kekasih hati ini. Mau tidak mau Gua harus berbohong kepadanya sekarang, bukan Gua cari selamat untuk diri sendiri, tapi untuk hubungan kami.
"Aku main bola di PS Mba, sama temen kampus di kost-an dan..", ucap Gua tertahan.
"Dan apa ?".
"Minum Mba..", jawab Gua pelan dan hati-hati.
Ya seenggaknya Gua tidak bohong 100% lah. Soal minum kan memang Gua semalam minum juga sampai jackpot. Bedanya tempat aja toh, di klub apa di kost-an.
"Jadi kalau kalah, dia yang minum tiga gelas whiskey..", lanjut Gua,
"Dan aku kalah dua kali Mba", ucap Gua kali ini seraya menundukkan kepala.
Mba Siska menyandarkan punggungnya ke bahu kursi, lalu melipat kedua tangannya di depan dada dengan menggelengkan kepala pelan seraya menatap Gua tajam. Jiiirr... Ciut nyali Gua kalau dia udah gini. Maaf Mba maafin aku deh.
"Maaf Mba, maafin aku ya", ucap Gua lagi.
"Pinjam hp kamu Za", ucapnya.
Gua mengerenyitkan kening menatap wajahnya. Lalu satu tangannya diulurkan ke depan Gua dengan telapak tangan yang terbuka. Tanpa berpikir dua kali dan menunggunya meminta lagi, Gua keluarkan hp dari saku jaket dan memberikannya. Mba Siska langsung mengotak-atik hp Gua. Sambil tetap menatap layar hp Gua yang berada di genggamannya itu dia bertanya lagi ke Gua.
"Siapa nama teman kampus kamu..?".
Degh
Anjir dikroscek ampe ke akarnya ini ma.
"Mat Lo Mba..", jawab Gua.
"Nama kontaknya di hp kamu siapa ?".
"Mamat Pelo..".
Tidak lama kemudian Mba Siska serius memainkan hp Gua. Gua tidak tau apa yang dia kerjakan, karena kami duduk berhadapan. Mana mungkin Gua bisa tenang kalo sudah begini, dengan hati yang waswas Gua menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, karena kini hp Gua sudah diletakkan di atas meja, tepat di sisi tangannya yang juga ditaruh di atas meja. Jari tangannya mengetuk-ngetuk meja sambil menatap Gua dengan senyuman yang... Yang kamvret banget asli. Gua cemas, gundah, waswas, gak tenang dengan permainan yang dia lakukan sekarang. Sue bener ini sore!!!
Tidak lama kemudian makanan pun datang yang diantar oleh pramusaji, lalu dihidangkan di atas meja. Pas saat si pramusaji meninggalkan meja kami, hp Gua berdering dua kali tanda sms masuk. Mba Siska menaruh sumpit pada genggamannya lalu mengambil hp Gua yang berada di sampingnya. Keningnya berkerut sesaat lalu satu sudut bibirnya tersenyum sekali.
"Nih", ucapnya seraya memberikan hp Gua.
Gua menatap wajahnya sambil menerima hp. Gua tidak langsung melihat isi sms yang masuk tadi, cemas dan takut rasanya mata ini melirik ke layar hp. Mba Siska kembali mengambil sumpit.
"Ayo makan dulu sayang", ucapnya seraya menyumpit mie goreng seafood dihadapannya.
Gua hiraukan ajakannya itu, perlahan Gua angkat hp ditangan kanan, lalu membaca isi sms yang masuk tadi.
Quote:
Gua tersenyum simpul, lalu menahan tawa, sumpah Gua menahan tawa yang sudah diujung mulut, dan tak ayal kedua pipi Gua pun mengembung agar tidak lepas ini tawa kamvret. Gua menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Kemudian setelah bisa mengendalikan diri agar tidak tertawa, Gua buru-buru menekan keypad hp, masuk ke menu kontak, mencari sebuah nama, setelah menemukannya Gua edit langsung. Yang awalnya Gua beri nama Mamat Pelo, Gua ubah menjadi Real Man. Yooo you are the real MVP Brooowww...
Mundur kebeberapa jam sebelum Gua datang ke kontrakan Mba Siska.
Tepat sehabis dzuhur, Gua menelpon Mat Lo.
Quote:
Apalagi ternyata Mba Siska tadi sms dengan gaya bahasanya sendiri, makin seneng aja Gua. Karena Gua yakin Mat Lo juga tau, kalo Gua gak pernah menggunakan kata 'pusing' menjadi 'pusink' dan 'kali' menjadi 'x'.
Begitulah Gais Gua merencanakan alasan yang ciamik untuk sang kekasih hati tadi siang.

Back to resto chinese food with Yayank Siskaaah...
"Hei, kok diem aja, ayo di makan Za..", ucap Mba Siska membuyarkan lamunan Gua.
"Eh iya Mba hehehe..".
Ya si kadal selamat sekarang, makan lah dia dengan nikmat, tidak ada lagi perasaan waswas dan cemas. Hanya makanan pedas yang sekarang dia santap bersama Mba Siska yang membuatnya gemassss... Massss.. Massss.. Huahahahahaha.
...
Sekarang Gua dan sang kekasih sudah berada di kontrakannya setelah beres makan malam tadi. Gua duduk di sofa ruang tamunya. Segelas kopi hitam sudah tersedia di atas meja depan Gua. Sedangkan Mba Siska membilas tubuh di kamar mandi. Gua membakar sebatang rokok lalu menghisapnya kuat-kuat, senyum lebar menghiasi wajah Gua sambil menghembuskan asap. Ya ya yaa.. Dibilang jahat kan gak juga, masa iya sih Gua mau jujur ama Mba Siska yang galak itu. Cari mati Lu pade mau jujur clubbing sama perempuan yang pacar Lu benci ? Huehehehe. Cari aman lah kita Gais, gile aja kaleeee...
Gua hendak meminum kopi yang sudah minta diseruput, tapi langsung Gua lepas lagi tangan ini dari gelas kopi, tumben panas banget ini aernya, baru ngegolak kali ya. Tidak lama kemudian sang kekasih berjalan dari arah dapur dan duduk di samping Gua, daster tidurnya yang tanpa lengan sudah ia kenakan, rambutnya terbalut handuk. Hmm.. Wangi khas sabun mandi favoritnya menyeruak kedalam hidung Gua, semeriwing wanginyaaa.. Manteub manteub manteub.
"Duuh wangiinyaa pacar Ku ini..", goda Gua sambil mencolek lengannya.
Mba Siska hanya tersenyum tanpa menoleh kepada Gua, karena sekarang dia sedang memakai cream kulit ke kakinya. Entah apa karena 'aksi solo' si Bianca tadi malam, membuat Gua jadi ingin mesra-mesraan dengan ini perempuan yang berada di samping Gua sekarang. Bukan apa-apa Gais, si Bianca ma enak menjamah Gua dengan bebasnya, mana Gua enggak merasakan sensasi apapun. Kan kamvretos itu. Nah sekarang bolehlah Gua bermanja-manja gemas dengan Ayank Siskah.
Gua melingkarkan tangan kiri ke sisi pinggang kirinya dari arah kanan, duduk merapat kayak angkot yang penuh penumpang. Pipi kiri Gua sandarkan ke bahu kanannya,dan tangan kanan Gua meraih tangan kanannya, yang otomatis menghentikan olesan cream pada kakinya itu. Gua terkekeh pelan saat wajahnya menengok kepada Gua dengan ekspresi yang bingung.
Lalu Gua dekatkan wajah dan mengecup pipinya sesaat. Gua tersenyum yang dia balas dengan rengutan bingung pada wajahnya lagi.
"Kenapa kamu ?", tanyanya heran.
Gua menggeleng pelan lalu menaik turunkan alis dengan cepat. Jiiirr engas Gua ini, fak!
"Aneun Mba..", jawab Gua sok manja-manja tapi najis. Yaiyalah najis Gua kalo inget momen ini. Hahahaha.
"Aneun ?", tanyanya semakin bingung.
"Kangen sayaaang.. Kangen banget aku sama kamu", jawab Gua.
Mba Siska tersenyum simpul lalu menggelengkan kepalanya seraya menjauhkan wajahnya beberapa centi dari Gua. Dan sebuah ucapan dari mulutnya keluar dengan nada yang merdu. "Emang semalam gak cukup Za ciuman sama Bianca ?".
WHAT THE FAK ?!!!
Hati Gua menclos, nafas Gua berat, tenggorokkan Gua tercekat, serta merta tengkuk Gua dingin lalu menjalar ke seluruh tubuh. Dan sialnya... Mba Siska santai saja melanjutkan olesan cream ke kakinya lagi. Gua mundur dan melepaskan pelukkan. Menelan ludah yang sedari tadi susah untuk Gua telan.
"Diminum dulu Za kopinya", ucap Mba Siska santai tanpa menoleh kepada Gua.
Gua yang blank karena tidak percaya oleh ucapan sebelumnya itu langsung mengangkat gelas kopi dan meneguknya tanpa curiga sedikit pun.
"Ppuuueehhh... Pleehh..",
"Ciiih.. Plleeeh... Aaah.. Mbaa.. Ini kopi apaan".
Hanjir, Gua lepeh (muntahkan) kopi yang baru sampai menyentuh lidah Gua itu. Gila kopi rasanya asin ama asem gini sih.
"Kenapa ?", tanyanya setelah selesai mengoleskan cream kulit dengan ekspresi wajah yang dingin.
"Ini kopi kok asin asem sih Mba ?", tanya Gua sambil menjulurkan lidah dengan mata yang berkerut.
"Oh di dapur abis gulanya",
"Aku racik sama garam dan cuka, kali aja kamu doyan", jawabnya masih santai dengan wajah dinginnya.
Buangkeeeee... Kopi macam apa dikasih garam ama cukaaaa.. Fak!
"Racikan apa itu Mbaaa, gak enak gini heuuh..".
Syit, Mba Siska melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya tajam menatap Gua. "Abisin", ucapnya dengan nada penuh ancaman.
Hanjir, hanjir ini sih. Mules dah perut Gua kalo beneran minum ini kopi kevarat.
Gelas yang berisi kopi kevarat itu masih pada genggaman tangan Gua. Gua melirik kepada si kevarat kopi lalu melirik ke Mba Siska, begitu terus, berharap Mba Siska tidak sungguh-sungguh dengan permintaannya tadi.
"Minum atau pulang sekarang juga Za", ucapnya yang melihat Gua ragu-ragu.
Pulang ? Ah itu pilihan terbaik saat ini. Agar bisa terhindar dari hukuman kamvret dan amukkan macan betina di depan Gua sekarang. Tapi sorry, itu pilihan buat laki-laki yang menghindari masalah setelah ketahuan punya salah. Dan Gua sudah terlanjur basah, apalagi yang Gua bisa jawab selain menerima hukuman yang dia berikan sekarang.
Tanpa pikir panjang lagi Gua minum itu kopi enak gurih gurih enyoy sampai habis dengan nafas yang Gua tahan lalu memejamkan mata, seolah-olah Gua menenggak telur mentah dari cangkangnya. Wajah Gua mengkerut dengan mata yang terpejam, punggung tangan kanan Gua menyeuka bibir ini. Lalu... Lalu Gua berlari sekuat tenaga hingga menabrak meja ruang tamu, Gua lari ke luar rumah, memuntahkan kopi kevarat yang sebenarnya sudah bersemayam di dalam lambung ini. Faaaakkk.... Gua memuntahkan makanan yang tadi Gua santap juga ternyata. Sial.. Airmata mengalir dari sudut mata Gua, bukan sakit atau sedih coy, euneuk.. Eeeuuunnneeeuukk banget kamvreeeetttt. Keluar sudah makanan dan minuman yang gak jelas bentuknya dari mulut Gua, tumpah ke rumput pekarangan rumah kontrakan Mba Siska.

Gua berjongkok, lemes lagi anjir. Dua kali Gua JP dalam waktu kurang dari 24 jam. Hanjiir ini hanjir banget. Lemas tubuh abang dek...

Gua rasakan pijatan pada tengkuk Gua dari tangan yang lembut. Gua masih berjongkok dengan tubuh yang lemas, mata Gua masih terpejam dengan memegangi perut. Kemudian Gua seuka airmata dari sudut mata. Gua berusaha berdiri yang langsung dibantu oleh sang kekasih hati di belakang Gua.
Gua dipapah olehnya untuk kembali masuk ke dalam ruang tamu. Gua kembali duduk di sofa, menyandarkan tubuh ke belakang, ke bahu sofa. Lalu Mba Siska berjalan kearah dapur yang tidak lama kemudian membawa segelas air mineral hangat. Dia meminta Gua meminum air hangat itu, tapi jujur saja, Gua masih curiga sih. Tapi sepertinya kekhawatiran Gua itu terbaca oleh Mba Siska.
"Itu beneran air anget",
"Enggak aku campur apapun", ucapnya.
Lalu Gua pun meminum air hangat tersebut, dan lega memang ini air beneran tanpa campuran aneh-aneh kayak si kopi kevarat tadi. Setengah gelas Gua habiskan lalu Gua taruh di meja. Mba Siska duduk di samping Gua. Dengan keadaan yang masih lemas, Gua berusaha duduk biasa lagi tanpa bersandar. Gua raih tangan kirinya dan menciumnya sekali.
"Aku minta maaf, dan aku harap kamu mau dengerin dulu semua penjelasan Aku Mba..", ucap Gua.
Mba Siska memandang meja ruang tamu di depan kami, lalu tangan yang Gua genggam dilepasnya. Dia meraih hpnya yang tergeletak diatas meja. Dan memainkan hpnya sesaat lalu hp itu dia berikan kepada Gua dengan kasar ke dada Gua. Dengan hentakan kaki dia bangkit dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar dan membanting pintunya dengan keras. Gua dengar putaran kunci dari dalam.
Gua berlari mengejarnya dan mengetuk pintu kamarnya. Tapi tidak ada tanda-tanda pintu akan dibuka dari dalam, Gua mencoba membuka handle pintu tapi sudah terkunci rapat. Lalu dengan langkah gontai, Gua kembali duduk di sofa ruang tamu dan meraih hpnya.
Tubuh Gua masih lemas karena memuntahkan isi perut, dan sekarang semakin lemas tubuh ini. Seakan tulang Gua rontok bersama hati yang ikut menclos... Karena layar hpnya itu menunjukkan sebuah foto dua orang yang sedang berciuman di atas stage sebuah klub malam...
I become fakin moron rite now!!!
Diubah oleh glitch.7 02-05-2017 19:38
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 

:
: