- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#2599
PART 35
Gua suka berjalan-jalan melintasi jalan raya Ibu Kota akhir-akhir ini di malam hari bersama si RR, entah mungkin karena awalnya si Bianca yang mengajak Gua untuk sekedar wisata malam ke berbagai jajanan kuliner pinggir jalan. Setelah itu malah Gua sendiri yang sering keluar jalan-jalan, walaupun tidak selalu membeli makanan. Pernah suatu ketika Gua sedang jenuh di kost-an ketika malam hari, jadi Gua memilih keluar sendirian menggunakan motor kesayangan. Sampai tidak sadar Gua malah melintas ke arah kampus UI. Oke, mungkin itu masih tidak terlalu jauh, beda cerita ketika di lain waktu Gua pergi lagi sendirian malam-malam yang ujungnya sampai ke utara Jakarta, Ancol, pulangnya Gua malah nongkrong di Monas hingga pukul 2 pagi.
Suatu malam setelah hujan mengguyur Ibu Kota sedari sore. Gua dan Bianca kembali berwisata malam, sekedar mencari bandrek dan roti bakar. Pukul 10 malam kami berdua sudah berada di satu warkop yang menyediakan makanan penghangat malam. Gua memesan roti bakar pisang keju dengan segelas bansus, Bianca memilih pisang bakar keju dengan teh tarik hangat sebagai pesanannya. Beberapa pengunjung seperti kami lumayan memenuhi warkop ini, tapi kami bersyukur masih mendapatkan tempat duduk di dalam. Daripada harus duduk di luar dan menggelar karpet di jalanan yang basah.
Cukup lama kami menunggu pesanan datang, karena banyaknya yang memesan juga sebelum kami. Sekitar 15 menit lebih akhirnya pesanan makanan kami jadi juga, dan diantar ke meja di depan kami berdua. Kami langsung menyantap makanan masing-masing, udara malam yang dingin setelah hujan sukses membuat cacing dalam perut Gua meronta meminta asupan makanan yang berlebih, Sampai-sampai setelah Gua menghabiskan rotbak sendiri, Gua menyicipi pisang bakar milik Bianca.
"Laper Bang ?".
"Banget Neng..".
Dan Bianca hanya terkekeh pelan ketika Gua mencomot sedikit potongan pisang bakar miliknya. Selesai menghabiskan rotbak dan minuman, Gua pun membayar makanan kami berdua, dan mengajak Bianca balik kanan alias pulang ke kost-an. Sepanjang perjalanan pulang Gua dipeluk dari belakang oleh Bianca di atas motor, kepalanya disandarkan ke punggung Gua.
Pernah juga kami makan di restoran yang menyediakan menu roti panggang lainnya ala italiano, a.k.a Pizza. Saat itu Bianca yang merengek minta diantar Gua untuk membeli pizza pukul 8.30 malam. Setelah diiming-imingi dia yang akan mentraktir Gua, barulah Gua semangat mengantarnya. Sesampainya di sana kami tidak jadi membungkus makanan yang niat awalnya mau take-away, malah makan di tempat.
...
Di lain waktu, untuk pertama kalinya Gua main ke tempat kerja Bianca. Sekitar pukul 10 malam Gua dan Bianca berangkat dari kost-an menuju salah satu klub malam, dimana Bianca akan perform. Atmosfer tempat hiburan malam itu sangat berbeda, apalagi ini bukanlah hal yang biasa Gua lakukan. Kerasnya dentuman musik techno mengalahkan banyaknya suara manusia di dalam sini. Gila ini tempat, katanya masih 'sore' untuk party, tapi kok udah banyak aja orang-orang di klub ini, batin Gua dalam hati.
Gua mengikuti Bianca yang berjalan di depan, dia menghampiri seorang Captain Bar lalu menyapanya. Setelah sedikit basa-basi, Bianca memperkenalkan Gua dengan si Captain Bar tadi. Sebut saja namanya Frank, karena memang orang keturunan. Setelah berkenalan, Gua diminta menunggu di counter bar ini. Tentu saja Bianca sudah memesankan satu gelas minuman alkohol untuk Gua, yang pasti Gua tidak tau apa ini nama minumannya. Bianca pamit kepada Gua, dia berjalan menuju pintu lainnya di dalam klub ini, yang Gua yakin pasti ada sebuah kantor dan semacamnya lah, karena khusus untuk karyawan. Sambil menunggu Bianca, Gua pun membakar sebatang nikotin dan berusaha menerima lantunan musik yang awam ditelinga Gua.
"Bro, diminumlah cocktail nya..", ucap Frank kepada Gua sambil membuat satu minuman untuk tamu lain.
"Oh iya iya gampang Bro..", jawab Gua.
Gua memperhatikan Frank yang dengan tangan terampilnya meracik minuman alkohol dalam sebuah alat cocktail shaker, sedikit atraksi juggling dia tunjukkan dihadapan Gua, Lalu minuman pun disajikan ke gelas dan diberikan kepada tamu. Gua terpukau dengan kemampuan Frank meracik minuman tadi, rasanya keren aja gitu melihatnya melempar-lempar alat shaker tadi. Kami pun kembali larut dalam obrolan ringan mengenai kehidupan malam di klub malam ini, yang pada akhirnya Gua tau kalau Bianca baru 6 bulan bekerja sebagai FDJ disini, berarti sebelumnya dia bekerja di klub lain. Lalu Gua pun menceritakan soal jurusan kuliah yang Gua ambil saat ini, dan membuat Frank semakin tertarik untuk memberikan Gua masukkan soal pekerjaannya, bagaimanapun jurusan kuliah yang Gua ambil masih berbanding lurus dengan profesi Frank sekarang.
Gua bersyukur bertemu Frank, bukan apa-apa, dari dia lah Gua mendapatkan beberapa ilmu seputar meracik minuman, tips dan trik bekerja di Bar, sampai upah yang ia terima. Gua cukup tercengang ketika mendengar uang tips dari tamu kadang bisa melebih gajinya perbulan, mantapkan tuh. Karena Frank menceritakan hal-hal yang menarik seputar pekerjaannya, sampai membuat pikiran Gua ingin menjadi seorang bartender. Kami mengobrol tidak secara intens, karena semakin malam semakin ramai pengunjung atau clubbers yang datang, membuat Frank semakin sibuk bersama kedua anak buahnya.
Cukup lama rasanya Gua menunggu penampilan Bianca, sampai akhirnya Gua menikmati segelas minuman yang Frank sajikan tadi, Gua mencicipi sedikit minuman ini, dan Mmm... Rasanya manis, asam dan sedikit ada rasa asinnya karena memang ada bubuhan garam pada bibir gelas. Gua sempat menanyakan nama minuman ini kepada anak buah Frank saat melintas di depan Gua, dan sepertinya segelas 'Margarita'ini sudah cukup untuk membuat Gua menikmati malam yang masih panjang. Ya, walaupun Gua tau akhirnya, kalau jenis minuman ini ternyata lebih disukai oleh para perempuan, tapi rasanya dari sinilah awal Gua menyukai berbagai macam cocktail yang rasanya tidak strong. Daripada harus menenggak pure vodka yang bisa membuat Gua keleyengan.
Gua melirik jam dipergelangan tangan kiri, dan waktu sudah menunjukkan tengah malam lewat 5 menit ketika Bianca keluar dari pintu di bagian belakang tempat DJ perform. Di stage itulah dia mulai bekerja. Gua tersenyum melihat Bianca yang atraktif, bukan karena pakaiannya yang teramat seksi, tapi pikiran Gua membayangkan bagaimana seorang perempuan diatas sana sedang bekerja, entah hobi atau bukan, yang jelas dirinya membuat Gua sadar akan ucapan Ayahanda. Dimana setiap manusia berhak memilah jalan hidupnya masing-masing, walaupun kita tidak tau apakah pilihan itu yang terbaik untuknya atau bukan.
Lantunan musik yang Bianca mainkan ternyata dari seorang DJ terkenal dunia. Dia memainkan lagu techno yang berjudul 'adagio for strings'. Semakin malam, semakin larut saja semua clubbers menggerakkan badannya, mengikuti hentakkan musik yang Bianca mainkan. Entah sudah berapa lagu yang Bianca mainkan.
Gua masih terduduk di counter Bar, hanya dua kali Gua beranjak dari tempat duduk untuk ke toilet. Dan sepertinya ini sudah gelas cocktail keempat yang Gua minum. Tentunya Gua mencicipi jenis yang berbeda dari minuman sebelumnya. Dan yaa.. Sepertinya Gua memang cocok dengan minuman cocktail, karena kesadaran Gua masih normal walaupun tidak 100%. Bosan hanya duduk saja disini, Gua mencoba memeberanikan diri untuk bergabung dengan para clubbers lain menggerakkan tubuh ditengah-tengah kerumunan. Lama-kelamaan Gua pun larut bersama yang lainnya, menikmati setiap dentuman musik yang masuk menyapa pendengaran Gua. Sambil memejamkan mata, tubuh Gua bergerak santai mengikuti alunan musik techno. Hingga keringat mulai keluar dari kening Gua.
Lama Gua ikut bergoyang bersama clubbers lain, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarik pergelangan tangan kanan Gua. Gua membuka mata dan melihat siapa orang yang menarik tangan Gua ini, tapi karena tubuhnya membelakangi Gua dan kami berada ditengah-tengah kerumunan, mata ini tidak cukup baik untuk mengenali perempuan yang menarik tangan Gua. Sampai akhirnya langkah kaki Gua terhenti ketika akan menaiki tangga stage dimana DJ perform. Dan ternyata dia adalah teman kost Gua, ya Bianca yang menarik tangan Gua ini. Sambil membalikkan badan dia tersenyum kepada Gua dan kembali mengajak Gua naik ke stage yang berukuran kecil itu.
Bianca kembali memainkan alat musiknya itu, yang terlampau banyak untuk Gua ingat, dari mulai dj mixer, headphones yang melingkar ke lehernya hingga laptop. Yang Gua heran, untuk apa Bianca mengajak Gua naik keatas sini. Apalagi ini tangan... Duh, Bianca menaruh kedua tangan Gua kedepan perut ratanya, ya tangan Gua kini melingkar ke pinggang dan perutnya itu, awalnya masih ada jarak antara tubuh Gua dengan bagian tubuh belakangnya, tapi lama-lama tubuh Gua ini maju hingga berhimpitan dengan tubuhnya. Sambil menggoyangkan tubuhnya, satu tangan Bianca bertumpuk diatas tangan kiri Gua yang masih melingkar ke perutnya dan tangannya yang lain sibuk bekerja memutar dj mixer.
Bohonglah kalo Gua tidak larut dalam gerakkan yang Bianca lakukan, apalagi tubuh kami merapat seperti sekarang, itu bumper belakangnya cuuuyyy, menghentak si Jojo. Fak!
Gua terbius ketika tidak sengaja menghirup aroma parfum dari tubuh Bianca, ditambah keringat yang membuat tengkuk Bianca mengkilat, ini gila, sungguh gila. Akhirnya, tubuh Gua tidak sinkron dengan hentakkan musik yang terdengar. Gua malah seperti orang yang menikmati lagu sendu, karena dagu Gua sudah bersandar pada bahu Bianca, dan gerakkan tubuh perlahan terhenti. Hanya gerakkan kecil nan pelan yang Gua lakukan.
Bukan musik dan suasana crowded di klub ini yang Gua nikmati, seolah-olah kesadaran Gua hilang akan suasana sekitar. Fak! Bibir ini mulai mengecup leher jenjang milik perempuan seksi di pelukkan Gua itu. Mata Gua terpejam menghirup aroma tubuh Bianca, dan sesekali masih saja bibir Gua mengecup pelan lehernya.
"Hey..", ucap Bianca menengok ke kanan, dimana Gua bersandar pada bahunya.
"Heum ?", gumam Gua membuka mata sedikit.
Entah apa maksud senyumannya. Yang pasti Gua hanya mendengar suara riuh clubbers bersorak 'Wooooowwww' ketika bibirnya menerjang bibir Gua. Let them see what we've got here.
Eksibisionis rasanya dengan apa yang kami tunjukkan. Kami berciuman cukup panas di atas stage dengan puluhan pasang mata yang memandang dari bawah sana atau mungkin ratusan, entahlah. Dan ketika tangan ini mulai otomatis menanjak ke dada Bianca, kesadaran Gua kembali. Ya untung saja tangan Bianca menahan tangan Gua dan menghentikan ciuman kami. Gua lihat Bianca terkekeh pelan lalu berbisik ke telinga Gua. "Sabar yaa..".
Kami berdua pulang pukul 3 dini hari, tentunya dengan Bianca di jok kemudi. Sedangkan Gua terkapar lemas di samping kemudi. Memejamkan mata dan berharap sampai di kost-an dengan segera. Tidak ada aksi yang kami pertontonkan lagi untuk clubbers diatas stage tadi. Karena setelah bisikkan Bianca itu, Gua undur diri turun ke bawah dan kembali duduk di counter Bar. Lalu memesan whiskey hingga 3 gelas dan itu semua sukses membuat Gua jackpot di toilet. I'm drunk and need a rest dude... Btw, bukan tanpa alasan Gua memilih mabuk daripada kembali menggerakkan badan lagi bersama para clubbers. Karena nafsu Gua yang tinggi akibat perlakuan Bianca sebelumnya itulah Gua memilih lebih baik mabuk untuk menurunkan hasrat Jojo. Yaps... Mabuk memang bisa membuat hasrat seksual Gua turun. Aneh gak ? Entah ya kalau ada yang sebaliknya. Tapi dari beberapa teman Gua yang suka mabuk, jarang ada yang menginginkan seks ketika sedang mabuk berat. Ingat mabuk berat. Bukan half or little tipsy. Ya kali udah jackpot dan lemas masih nafsu aja. Mungkin saja anda sex addict, bukan kaskus addict.
Malam yang memusingkan untuk Gua, dan kasur kamar kost-an adalah tempat terindah saat ini. Dengan dibantu oleh pelukan Bianca, Gua berjalan gontai memasuki kamar dan menghempaskan tubuh diatas kasur. Gak ada lagi yang Gua inginkan selain tidur selama mungkin untuk mengistirahatkan tubuh.
...
Gua terbangun dengan kepala yang berat dan tubuh yang terasa kaku. Perlahan Gua bergerak untuk duduk diatas kasur lalu menyandarkan tubuh ke dinding kamar. Mata Gua masih terpejam, jemari Gua mengurut pelan kening ini. Lalu sebuah bunyi pintu yang terbuka membuat Gua menengok kearah kamar mandi.
"Siang Za, udah bangun ?", sapa Bianca dengan balutan handuk yang melingkar di tubuhnya.
Gua tidak langsung menanggapi ucapannya itu karena kesadaran Gua masih berusaha sampai ke angka 100. Gua malah menggaruk kepala yang tidak gatal. Lalu tersenyum ketika Bianca menyodorkan segelas air mineral. "Thanks..", ucap Gua ketika menerima gelas dan meminum isinya setengah.
"Cape ya semalam ? Gimana pusingnya ? Udah ilang sekarang ?".
"Aduh, satu-satulah nanyanya",
"Masih loading ini otak Gua".
"Hahaha... Ada-ada aja Lo", jawabnya seraya membuka lemari pakaian.
Lama Gua memperhatikan Bianca yang asyik memilih pakaian hingga Gua merasakan ada sesuatu yang tidak lazim ketika Bianca mengambil satu kaos yang besar tanpa lengan dan melemparnya keatas kasur, dekat kaki Gua. Dan perasaan Gua semakin tidak karuan ketika sebuah Bra dan cd berenda dengan warna senada ikut dilempar dan mendarat lagi di dekat kaki Gua.
Oh syiiittt... Ini bukan kamar Gua!
Ya, ternyata Gua berada di kamar no.3 sekarang. Dan bodohnya lagi, Gua baru sadar kalau... Kalau Gua tidak mengenakan pakaian sama sekali, hanya bed-cover berwarna ungu yang menutupi tubuh ini. Gua mengangkat sedikit bed-cover, dan mengintip ke dalam, disana... Oh No.. Jojo bangun dengan sendirinya seperti biasa tanpa ada yang menutupinya lagi. Jiiirrr... Apa-apaan ini. Semalam Gua ngapsssss sama Bianca.
"Ka'..", panggil Gua.
"Heum..", jawabnya cuek dan asyik dengan cream tubuh yang dia oleskan ke tangannya.
"Semalem..",
"Semalem kitaa..", ucap Gua ragu.
Bianca menghentikan aktifitasnya lalu menengok kearah Gua. Dia tersenyum lalu berjalan kearah Gua dan duduk disisi kasur. Tangan kanannya diletakkan diatas dada Gua yang terpampang tanpa balutan baju. "Makasih ya Za", ucapnya.
Makasih ? Apa yang makasih ? Bingung Gua dengan ucapan terimakasih nya itu.
"Untuk apa ?", tanya Gua bingung.
"Untuk semalem", jawabnya semakin tersenyum.
"Bentar-bentar Ka'..", Gua mengusap-usap wajah dengan cepat,
"Kita emang ngapain semalem ?", tanya Gua lagi.
Bianca tertawa pelan lalu mencubit lembut hidung Gua. "Wajar kalo Lo gak inget apa-apa...", ucapnya seraya melepas cubitannya.
"Iya, yang Gua inget cuma Gua tidur abis dianter ke kamar.. Eh ini lagian Gua bisa di kamar Lu nih.. Aah bingung Gua Ka'..", kembali Gua mengurut kening yang masih sedikit terasa keleyengan.
Bianca menubruk tubuh Gua tanpa sungkan, dia memeluk Gua, menyandarkan kepalanya miring ke dada Gua. Tangannya melingkar ke belakang punggung ini. "Za, semalem kita gak sampe ML kok..", ucapnya pelan tapi masih bisa Gua dengar dengan jelas.
"Terus kok ini Gua bisa enggak pake apa-apa nih..".
"Gue cuma sedikit ngetes diri Gue aja Za.. Bisa apa enggak", jawabnya.
"Ngetes ?",
"Ah ya ya.. Gua paham, terus apa yang Lu lakuin ?".
Bianca mendongakkan kepalanya dan menyandarkan dagunya di dada Gua. Matanya lekat menatap mata Gua, bibirnya menyunggingkan senyuman tipis dan... Butiran air disudut matanya mulai keluar dengan sendirinya.
"Gue rasa sekarang Gue bisa kembali jadi perempuan seutuhnya Za..", lirih suaranya itu mengiringi air yang mengalir dengan pelan ke pipinya yang bersih tanpa make-up.
Gua sedikit paham maksud dari ucapannya. Ya Gua rasa dia melakukan hal-hal yang menguji diri dan jiwanya tadi malam pada tubuh Gua sebagai objeknya. Karena Gua melihat beberapa tanda merah pada dada Gua hingga perut. Cukup banyak hingga ada satu tanda yang warnanya ungu berbeda dari tanda lainnya. Ah Lu main sendiri ya Ka', egois Lu, gak nunggu Gua sadar.
Setelah itu barulah Gua mendengar penjelasannya yang masuk akal. Bianca yang memang sedang berusaha kembali ke 'jalannya' sebagai perempuan mencoba untuk menerima tubuh seorang laki-laki, dalam artian yang sebenarnya, mencoba menikmati bahwa tubuh laki-laki adalah hal yang sepantasnya dia terima, bukan dari sesama jenisnya. Dari mulai belaian hingga kecupannya dia berikan ke tubuh Gua. Sampai... Ya sampai... Sampai Jojo juga sih katanya. Awalnya ragu ketika dia ingin bermain bersama Jojo. Tapi ini yang membuat Gua tidak percaya sekaligus kaget. Karena hasratnya kurang, Bianca memaksakannya dengan menelan ineks. Lalu setelah tinggi, barulah dia kembali bergerilya lagi hingga Jojo pun tidak luput dari... Yaaaa.. Darii... Dariiii...
Mulutnya.
Gua hanya bisa menggaruk-garuk kepala mendengar ceritanya itu. Enak apa enggak ya jelaslah gak enak, wong Gua nya terkapar tidur ke alam mimpi, mana bisa nikmatin coba. Dan satu hal lainnya membuat Gua heran lagi, dari pengakuannya itu, dia bilang she's still virgin. Wow amazing amat deh, selama ini belok berarti gak maen tusuktusuk.pake.doldi dong ya, hmm...
.
.
.
Karena hal diatas, Gua tidak menjemput sang kekasih apalagi berangkat kuliah. Toh sekarang sudah jam 11, mau gimana lagi.
Selesai mandi di kamar sendiri, Gua menyeduh kopi hitam dan duduk di depan kamar. Dengan sebatang rokok yang sudah terbakar dan terselip di bibir ini, Gua mengeluarkan hp dari saku celana. And guess what...? 10 missed call dan 6 sms muncul di layar hp. Gua menelan ludah, dengan hati yang sedikit was-was Gua beranikan jemari ini membuka notifikasi tersebut. Pertama daftar missed call... Muncul lah nama sang kekasih tanpa ada nama lainnya. Dan Gua buka sms yang semua nama pengirimnya sama dengan nama kontak dari ke-10 missed call tadi. Gua lewati 5 sms pertama dan hanya membuka 1 sms terakhir.
Suatu malam setelah hujan mengguyur Ibu Kota sedari sore. Gua dan Bianca kembali berwisata malam, sekedar mencari bandrek dan roti bakar. Pukul 10 malam kami berdua sudah berada di satu warkop yang menyediakan makanan penghangat malam. Gua memesan roti bakar pisang keju dengan segelas bansus, Bianca memilih pisang bakar keju dengan teh tarik hangat sebagai pesanannya. Beberapa pengunjung seperti kami lumayan memenuhi warkop ini, tapi kami bersyukur masih mendapatkan tempat duduk di dalam. Daripada harus duduk di luar dan menggelar karpet di jalanan yang basah.
Cukup lama kami menunggu pesanan datang, karena banyaknya yang memesan juga sebelum kami. Sekitar 15 menit lebih akhirnya pesanan makanan kami jadi juga, dan diantar ke meja di depan kami berdua. Kami langsung menyantap makanan masing-masing, udara malam yang dingin setelah hujan sukses membuat cacing dalam perut Gua meronta meminta asupan makanan yang berlebih, Sampai-sampai setelah Gua menghabiskan rotbak sendiri, Gua menyicipi pisang bakar milik Bianca.
"Laper Bang ?".
"Banget Neng..".
Dan Bianca hanya terkekeh pelan ketika Gua mencomot sedikit potongan pisang bakar miliknya. Selesai menghabiskan rotbak dan minuman, Gua pun membayar makanan kami berdua, dan mengajak Bianca balik kanan alias pulang ke kost-an. Sepanjang perjalanan pulang Gua dipeluk dari belakang oleh Bianca di atas motor, kepalanya disandarkan ke punggung Gua.
Pernah juga kami makan di restoran yang menyediakan menu roti panggang lainnya ala italiano, a.k.a Pizza. Saat itu Bianca yang merengek minta diantar Gua untuk membeli pizza pukul 8.30 malam. Setelah diiming-imingi dia yang akan mentraktir Gua, barulah Gua semangat mengantarnya. Sesampainya di sana kami tidak jadi membungkus makanan yang niat awalnya mau take-away, malah makan di tempat.
...
Di lain waktu, untuk pertama kalinya Gua main ke tempat kerja Bianca. Sekitar pukul 10 malam Gua dan Bianca berangkat dari kost-an menuju salah satu klub malam, dimana Bianca akan perform. Atmosfer tempat hiburan malam itu sangat berbeda, apalagi ini bukanlah hal yang biasa Gua lakukan. Kerasnya dentuman musik techno mengalahkan banyaknya suara manusia di dalam sini. Gila ini tempat, katanya masih 'sore' untuk party, tapi kok udah banyak aja orang-orang di klub ini, batin Gua dalam hati.
Gua mengikuti Bianca yang berjalan di depan, dia menghampiri seorang Captain Bar lalu menyapanya. Setelah sedikit basa-basi, Bianca memperkenalkan Gua dengan si Captain Bar tadi. Sebut saja namanya Frank, karena memang orang keturunan. Setelah berkenalan, Gua diminta menunggu di counter bar ini. Tentu saja Bianca sudah memesankan satu gelas minuman alkohol untuk Gua, yang pasti Gua tidak tau apa ini nama minumannya. Bianca pamit kepada Gua, dia berjalan menuju pintu lainnya di dalam klub ini, yang Gua yakin pasti ada sebuah kantor dan semacamnya lah, karena khusus untuk karyawan. Sambil menunggu Bianca, Gua pun membakar sebatang nikotin dan berusaha menerima lantunan musik yang awam ditelinga Gua.
"Bro, diminumlah cocktail nya..", ucap Frank kepada Gua sambil membuat satu minuman untuk tamu lain.
"Oh iya iya gampang Bro..", jawab Gua.
Gua memperhatikan Frank yang dengan tangan terampilnya meracik minuman alkohol dalam sebuah alat cocktail shaker, sedikit atraksi juggling dia tunjukkan dihadapan Gua, Lalu minuman pun disajikan ke gelas dan diberikan kepada tamu. Gua terpukau dengan kemampuan Frank meracik minuman tadi, rasanya keren aja gitu melihatnya melempar-lempar alat shaker tadi. Kami pun kembali larut dalam obrolan ringan mengenai kehidupan malam di klub malam ini, yang pada akhirnya Gua tau kalau Bianca baru 6 bulan bekerja sebagai FDJ disini, berarti sebelumnya dia bekerja di klub lain. Lalu Gua pun menceritakan soal jurusan kuliah yang Gua ambil saat ini, dan membuat Frank semakin tertarik untuk memberikan Gua masukkan soal pekerjaannya, bagaimanapun jurusan kuliah yang Gua ambil masih berbanding lurus dengan profesi Frank sekarang.
Gua bersyukur bertemu Frank, bukan apa-apa, dari dia lah Gua mendapatkan beberapa ilmu seputar meracik minuman, tips dan trik bekerja di Bar, sampai upah yang ia terima. Gua cukup tercengang ketika mendengar uang tips dari tamu kadang bisa melebih gajinya perbulan, mantapkan tuh. Karena Frank menceritakan hal-hal yang menarik seputar pekerjaannya, sampai membuat pikiran Gua ingin menjadi seorang bartender. Kami mengobrol tidak secara intens, karena semakin malam semakin ramai pengunjung atau clubbers yang datang, membuat Frank semakin sibuk bersama kedua anak buahnya.
Cukup lama rasanya Gua menunggu penampilan Bianca, sampai akhirnya Gua menikmati segelas minuman yang Frank sajikan tadi, Gua mencicipi sedikit minuman ini, dan Mmm... Rasanya manis, asam dan sedikit ada rasa asinnya karena memang ada bubuhan garam pada bibir gelas. Gua sempat menanyakan nama minuman ini kepada anak buah Frank saat melintas di depan Gua, dan sepertinya segelas 'Margarita'ini sudah cukup untuk membuat Gua menikmati malam yang masih panjang. Ya, walaupun Gua tau akhirnya, kalau jenis minuman ini ternyata lebih disukai oleh para perempuan, tapi rasanya dari sinilah awal Gua menyukai berbagai macam cocktail yang rasanya tidak strong. Daripada harus menenggak pure vodka yang bisa membuat Gua keleyengan.
Gua melirik jam dipergelangan tangan kiri, dan waktu sudah menunjukkan tengah malam lewat 5 menit ketika Bianca keluar dari pintu di bagian belakang tempat DJ perform. Di stage itulah dia mulai bekerja. Gua tersenyum melihat Bianca yang atraktif, bukan karena pakaiannya yang teramat seksi, tapi pikiran Gua membayangkan bagaimana seorang perempuan diatas sana sedang bekerja, entah hobi atau bukan, yang jelas dirinya membuat Gua sadar akan ucapan Ayahanda. Dimana setiap manusia berhak memilah jalan hidupnya masing-masing, walaupun kita tidak tau apakah pilihan itu yang terbaik untuknya atau bukan.
Lantunan musik yang Bianca mainkan ternyata dari seorang DJ terkenal dunia. Dia memainkan lagu techno yang berjudul 'adagio for strings'. Semakin malam, semakin larut saja semua clubbers menggerakkan badannya, mengikuti hentakkan musik yang Bianca mainkan. Entah sudah berapa lagu yang Bianca mainkan.
Gua masih terduduk di counter Bar, hanya dua kali Gua beranjak dari tempat duduk untuk ke toilet. Dan sepertinya ini sudah gelas cocktail keempat yang Gua minum. Tentunya Gua mencicipi jenis yang berbeda dari minuman sebelumnya. Dan yaa.. Sepertinya Gua memang cocok dengan minuman cocktail, karena kesadaran Gua masih normal walaupun tidak 100%. Bosan hanya duduk saja disini, Gua mencoba memeberanikan diri untuk bergabung dengan para clubbers lain menggerakkan tubuh ditengah-tengah kerumunan. Lama-kelamaan Gua pun larut bersama yang lainnya, menikmati setiap dentuman musik yang masuk menyapa pendengaran Gua. Sambil memejamkan mata, tubuh Gua bergerak santai mengikuti alunan musik techno. Hingga keringat mulai keluar dari kening Gua.
Lama Gua ikut bergoyang bersama clubbers lain, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarik pergelangan tangan kanan Gua. Gua membuka mata dan melihat siapa orang yang menarik tangan Gua ini, tapi karena tubuhnya membelakangi Gua dan kami berada ditengah-tengah kerumunan, mata ini tidak cukup baik untuk mengenali perempuan yang menarik tangan Gua. Sampai akhirnya langkah kaki Gua terhenti ketika akan menaiki tangga stage dimana DJ perform. Dan ternyata dia adalah teman kost Gua, ya Bianca yang menarik tangan Gua ini. Sambil membalikkan badan dia tersenyum kepada Gua dan kembali mengajak Gua naik ke stage yang berukuran kecil itu.
Bianca kembali memainkan alat musiknya itu, yang terlampau banyak untuk Gua ingat, dari mulai dj mixer, headphones yang melingkar ke lehernya hingga laptop. Yang Gua heran, untuk apa Bianca mengajak Gua naik keatas sini. Apalagi ini tangan... Duh, Bianca menaruh kedua tangan Gua kedepan perut ratanya, ya tangan Gua kini melingkar ke pinggang dan perutnya itu, awalnya masih ada jarak antara tubuh Gua dengan bagian tubuh belakangnya, tapi lama-lama tubuh Gua ini maju hingga berhimpitan dengan tubuhnya. Sambil menggoyangkan tubuhnya, satu tangan Bianca bertumpuk diatas tangan kiri Gua yang masih melingkar ke perutnya dan tangannya yang lain sibuk bekerja memutar dj mixer.
Bohonglah kalo Gua tidak larut dalam gerakkan yang Bianca lakukan, apalagi tubuh kami merapat seperti sekarang, itu bumper belakangnya cuuuyyy, menghentak si Jojo. Fak!
Gua terbius ketika tidak sengaja menghirup aroma parfum dari tubuh Bianca, ditambah keringat yang membuat tengkuk Bianca mengkilat, ini gila, sungguh gila. Akhirnya, tubuh Gua tidak sinkron dengan hentakkan musik yang terdengar. Gua malah seperti orang yang menikmati lagu sendu, karena dagu Gua sudah bersandar pada bahu Bianca, dan gerakkan tubuh perlahan terhenti. Hanya gerakkan kecil nan pelan yang Gua lakukan.
Bukan musik dan suasana crowded di klub ini yang Gua nikmati, seolah-olah kesadaran Gua hilang akan suasana sekitar. Fak! Bibir ini mulai mengecup leher jenjang milik perempuan seksi di pelukkan Gua itu. Mata Gua terpejam menghirup aroma tubuh Bianca, dan sesekali masih saja bibir Gua mengecup pelan lehernya.
"Hey..", ucap Bianca menengok ke kanan, dimana Gua bersandar pada bahunya.
"Heum ?", gumam Gua membuka mata sedikit.
Entah apa maksud senyumannya. Yang pasti Gua hanya mendengar suara riuh clubbers bersorak 'Wooooowwww' ketika bibirnya menerjang bibir Gua. Let them see what we've got here.
Eksibisionis rasanya dengan apa yang kami tunjukkan. Kami berciuman cukup panas di atas stage dengan puluhan pasang mata yang memandang dari bawah sana atau mungkin ratusan, entahlah. Dan ketika tangan ini mulai otomatis menanjak ke dada Bianca, kesadaran Gua kembali. Ya untung saja tangan Bianca menahan tangan Gua dan menghentikan ciuman kami. Gua lihat Bianca terkekeh pelan lalu berbisik ke telinga Gua. "Sabar yaa..".
Kami berdua pulang pukul 3 dini hari, tentunya dengan Bianca di jok kemudi. Sedangkan Gua terkapar lemas di samping kemudi. Memejamkan mata dan berharap sampai di kost-an dengan segera. Tidak ada aksi yang kami pertontonkan lagi untuk clubbers diatas stage tadi. Karena setelah bisikkan Bianca itu, Gua undur diri turun ke bawah dan kembali duduk di counter Bar. Lalu memesan whiskey hingga 3 gelas dan itu semua sukses membuat Gua jackpot di toilet. I'm drunk and need a rest dude... Btw, bukan tanpa alasan Gua memilih mabuk daripada kembali menggerakkan badan lagi bersama para clubbers. Karena nafsu Gua yang tinggi akibat perlakuan Bianca sebelumnya itulah Gua memilih lebih baik mabuk untuk menurunkan hasrat Jojo. Yaps... Mabuk memang bisa membuat hasrat seksual Gua turun. Aneh gak ? Entah ya kalau ada yang sebaliknya. Tapi dari beberapa teman Gua yang suka mabuk, jarang ada yang menginginkan seks ketika sedang mabuk berat. Ingat mabuk berat. Bukan half or little tipsy. Ya kali udah jackpot dan lemas masih nafsu aja. Mungkin saja anda sex addict, bukan kaskus addict.
Malam yang memusingkan untuk Gua, dan kasur kamar kost-an adalah tempat terindah saat ini. Dengan dibantu oleh pelukan Bianca, Gua berjalan gontai memasuki kamar dan menghempaskan tubuh diatas kasur. Gak ada lagi yang Gua inginkan selain tidur selama mungkin untuk mengistirahatkan tubuh.
...
Gua terbangun dengan kepala yang berat dan tubuh yang terasa kaku. Perlahan Gua bergerak untuk duduk diatas kasur lalu menyandarkan tubuh ke dinding kamar. Mata Gua masih terpejam, jemari Gua mengurut pelan kening ini. Lalu sebuah bunyi pintu yang terbuka membuat Gua menengok kearah kamar mandi.
"Siang Za, udah bangun ?", sapa Bianca dengan balutan handuk yang melingkar di tubuhnya.
Gua tidak langsung menanggapi ucapannya itu karena kesadaran Gua masih berusaha sampai ke angka 100. Gua malah menggaruk kepala yang tidak gatal. Lalu tersenyum ketika Bianca menyodorkan segelas air mineral. "Thanks..", ucap Gua ketika menerima gelas dan meminum isinya setengah.
"Cape ya semalam ? Gimana pusingnya ? Udah ilang sekarang ?".
"Aduh, satu-satulah nanyanya",
"Masih loading ini otak Gua".
"Hahaha... Ada-ada aja Lo", jawabnya seraya membuka lemari pakaian.
Lama Gua memperhatikan Bianca yang asyik memilih pakaian hingga Gua merasakan ada sesuatu yang tidak lazim ketika Bianca mengambil satu kaos yang besar tanpa lengan dan melemparnya keatas kasur, dekat kaki Gua. Dan perasaan Gua semakin tidak karuan ketika sebuah Bra dan cd berenda dengan warna senada ikut dilempar dan mendarat lagi di dekat kaki Gua.
Oh syiiittt... Ini bukan kamar Gua!
Ya, ternyata Gua berada di kamar no.3 sekarang. Dan bodohnya lagi, Gua baru sadar kalau... Kalau Gua tidak mengenakan pakaian sama sekali, hanya bed-cover berwarna ungu yang menutupi tubuh ini. Gua mengangkat sedikit bed-cover, dan mengintip ke dalam, disana... Oh No.. Jojo bangun dengan sendirinya seperti biasa tanpa ada yang menutupinya lagi. Jiiirrr... Apa-apaan ini. Semalam Gua ngapsssss sama Bianca.
"Ka'..", panggil Gua.
"Heum..", jawabnya cuek dan asyik dengan cream tubuh yang dia oleskan ke tangannya.
"Semalem..",
"Semalem kitaa..", ucap Gua ragu.
Bianca menghentikan aktifitasnya lalu menengok kearah Gua. Dia tersenyum lalu berjalan kearah Gua dan duduk disisi kasur. Tangan kanannya diletakkan diatas dada Gua yang terpampang tanpa balutan baju. "Makasih ya Za", ucapnya.
Makasih ? Apa yang makasih ? Bingung Gua dengan ucapan terimakasih nya itu.
"Untuk apa ?", tanya Gua bingung.
"Untuk semalem", jawabnya semakin tersenyum.
"Bentar-bentar Ka'..", Gua mengusap-usap wajah dengan cepat,
"Kita emang ngapain semalem ?", tanya Gua lagi.
Bianca tertawa pelan lalu mencubit lembut hidung Gua. "Wajar kalo Lo gak inget apa-apa...", ucapnya seraya melepas cubitannya.
"Iya, yang Gua inget cuma Gua tidur abis dianter ke kamar.. Eh ini lagian Gua bisa di kamar Lu nih.. Aah bingung Gua Ka'..", kembali Gua mengurut kening yang masih sedikit terasa keleyengan.
Bianca menubruk tubuh Gua tanpa sungkan, dia memeluk Gua, menyandarkan kepalanya miring ke dada Gua. Tangannya melingkar ke belakang punggung ini. "Za, semalem kita gak sampe ML kok..", ucapnya pelan tapi masih bisa Gua dengar dengan jelas.
"Terus kok ini Gua bisa enggak pake apa-apa nih..".
"Gue cuma sedikit ngetes diri Gue aja Za.. Bisa apa enggak", jawabnya.
"Ngetes ?",
"Ah ya ya.. Gua paham, terus apa yang Lu lakuin ?".
Bianca mendongakkan kepalanya dan menyandarkan dagunya di dada Gua. Matanya lekat menatap mata Gua, bibirnya menyunggingkan senyuman tipis dan... Butiran air disudut matanya mulai keluar dengan sendirinya.
"Gue rasa sekarang Gue bisa kembali jadi perempuan seutuhnya Za..", lirih suaranya itu mengiringi air yang mengalir dengan pelan ke pipinya yang bersih tanpa make-up.
Gua sedikit paham maksud dari ucapannya. Ya Gua rasa dia melakukan hal-hal yang menguji diri dan jiwanya tadi malam pada tubuh Gua sebagai objeknya. Karena Gua melihat beberapa tanda merah pada dada Gua hingga perut. Cukup banyak hingga ada satu tanda yang warnanya ungu berbeda dari tanda lainnya. Ah Lu main sendiri ya Ka', egois Lu, gak nunggu Gua sadar.
Setelah itu barulah Gua mendengar penjelasannya yang masuk akal. Bianca yang memang sedang berusaha kembali ke 'jalannya' sebagai perempuan mencoba untuk menerima tubuh seorang laki-laki, dalam artian yang sebenarnya, mencoba menikmati bahwa tubuh laki-laki adalah hal yang sepantasnya dia terima, bukan dari sesama jenisnya. Dari mulai belaian hingga kecupannya dia berikan ke tubuh Gua. Sampai... Ya sampai... Sampai Jojo juga sih katanya. Awalnya ragu ketika dia ingin bermain bersama Jojo. Tapi ini yang membuat Gua tidak percaya sekaligus kaget. Karena hasratnya kurang, Bianca memaksakannya dengan menelan ineks. Lalu setelah tinggi, barulah dia kembali bergerilya lagi hingga Jojo pun tidak luput dari... Yaaaa.. Darii... Dariiii...
Mulutnya.
Gua hanya bisa menggaruk-garuk kepala mendengar ceritanya itu. Enak apa enggak ya jelaslah gak enak, wong Gua nya terkapar tidur ke alam mimpi, mana bisa nikmatin coba. Dan satu hal lainnya membuat Gua heran lagi, dari pengakuannya itu, dia bilang she's still virgin. Wow amazing amat deh, selama ini belok berarti gak maen tusuktusuk.pake.doldi dong ya, hmm...
.
.
.
Karena hal diatas, Gua tidak menjemput sang kekasih apalagi berangkat kuliah. Toh sekarang sudah jam 11, mau gimana lagi.
Selesai mandi di kamar sendiri, Gua menyeduh kopi hitam dan duduk di depan kamar. Dengan sebatang rokok yang sudah terbakar dan terselip di bibir ini, Gua mengeluarkan hp dari saku celana. And guess what...? 10 missed call dan 6 sms muncul di layar hp. Gua menelan ludah, dengan hati yang sedikit was-was Gua beranikan jemari ini membuka notifikasi tersebut. Pertama daftar missed call... Muncul lah nama sang kekasih tanpa ada nama lainnya. Dan Gua buka sms yang semua nama pengirimnya sama dengan nama kontak dari ke-10 missed call tadi. Gua lewati 5 sms pertama dan hanya membuka 1 sms terakhir.
Quote:
Diubah oleh glitch.7 02-05-2017 11:34
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
3
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 

: