- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80.1K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#117
PART IV
Kami berpisah dengan Uda Lodin di ujung jalan simpang. Dia lalu menuju ke rumah tempat dia menginap.
Kami meneruskan perjalanan.
Kakek bagaikan mengetahui langkah kami diikuti oleh manusia atau makhluk yang tidak dapat dilihat. Kakek menyuruh kami berjalan secepat mungkin. Bila sampai di dekat pohon besar, Kakek menyuruh kami bersembunyi di balik pohon itu.
"Sudahah dekat waktu Maghrib ini”, Kata Kakek yang juga bersembunyi di balik pohon besar. Kakek mengambil tiga helai daun Serunai laut yang mati pangkal. Daun itu Kakek genggam sambil membaca sesuatu. Kakek pun memberikan daun itu kepada kami.
"Kalau kamu mau menyaksikan setan, lekatkan daun ini ke kelopak mata kamu. Kemudian kamu gigit pangkalnya dan lihat ke depan”
Arahan yang Kakek keluarkan itu kami patuhi. Dada saya berdebar. Apa yang saya lihat amat menakutkan. Saya menyaksikan satu makhluk berjalan terloncat‐loncat. Bagian bawah makhluk itu tidak sampai ke bumi. Dia bagaikan meloncat di atas udara permukaan tanah.
Bagian atas atau kepala makhluk itu menajam ke atas. Kain putih yang membalut tubuh makhluk itu sudah terkoyak penuh dengan darah kering dan lumpur tanah merah. Makhluk itu menoleh ke arah kami. Bagian mukanya sudah hancur.
Lubang matanya lowong ke dalam. Bagian daging yang tinggal kelihatan menggerutu (berkerut-kerut) seperti kulit katak puru. Tulang pipinya menonjol ke depan.
Hidungnya sudah tiada, tetapi giginya masih kukuh dengan rambut hitam terurai di atas bahu.

Makhluk itu mengeluarkan suara. Sekejap seperti suara orang menangis dan sekejap seperti suara orang mengeluh.
Tiba-tiba terdengar bunyi suara gagak dan suara burung tukang ( Caprimulgus sp ) sayup‐sayup bertingkah dengan bunyi suara burung puyuh jantan.
Suasana terasa amat mencekam. Makhluk itu lalu meloncat ke depan tanpa menoleh ke arah kami lagi. Kakek pun meminta daun serunai laut dari kami. Daun itu Kakek genggam lalu ditanam ke dalam tanah. Dua kali Kakek melangkahi tanah yang sudah dikubur di dalamnya daun serunai laut tersebut.
"Itulah isteri kamu. Selagi kamu tidak memaafkan perbuatannya, dia tidak akan aman. Tetap berkeliaran di atas dunia hingga hari kiamat”, Beritahu Kakek pada lelaki itu.
Saya menggigit jari sambil melirik ke wajah lelaki itu.
Air mukanya nampak berubah mengandung rasa kesal yang amat sangat. Belum sempat lelaki itu memberikan suatu jawaban Kakek lalu mengajak kami pulang.
Kakek mengajak lelaki bersembahyang Maghrib di surau. Lelaki itu menolak dengan alasan kepalanya terasa pening. Jadi, saya dengan Kakek lalu ke surau, sesudah mengambil air sembahyang di kulah, saya berjumpa dengan Uda Lodin di kaki tangga surau.
Atas permintaan orang‐orang kampung, Kakek lalu jadi imam untuk sembahyang Maghrib, jadi tugas Kakek bersambung lagi.
Waktu sembahyang isya mereka juga
minta Kakek jadi imam. Permintaan itu Kakek kabulkan.
Selepas menunaikan sembahyang isya Kakek berbicara sesuatu dengan ketua kampung. Entah apa yang mereka bicarakan saya tidak tahu. Tetapi, selesai berbicara ketua kampung lalu bangun dan berbicara dengan lantang.
"Saya minta orang yang ada disini mengikuti saya ke rumah orang yang ditinggal mati isterinya bersama orang tua ini”, Ujar ketua kampung sambil menuding jari kelingkingnya ke arah Kakek.
Ketua kampung memerintahkan tiga orang kampung mengambil cangkul dan daun pisang abu. Orang yang diperintahkan itu segera keluar dari surau. Beberapa saat kemudian orang yang diperintahkan mencari cangkul dan daun pisang pun tiba.
Kakek melarang mereka masuk ke dalam surau. Kakek menyuruh mereka duduk di kaki tangga surau.
Angin malam berlalu, bertiup kencang. Kakek mengambil lampu petromaks di tengah surau lalu dibawa turun. Orang yang berada di dalam surau mengikuti Kakek turun.
"Kita kesana semuanya. Tetapi, sepanjang jalan menuju ke rumah itu saya minta orang yang ada ini membaca surah Alfatihah dan Qulya di dalam hati, jika ada sesuatu yang aneh jangan ditegur atau dilihat”
Tiba‐tiba semua orang yang berada di halaman surau terkejut. Lampu petromaks padam dengan sendirinya, beberapa ketul tanah merah melayang dalam gelap malam mengenai tubuh badan orang yang berkumpul. Suasana menjadi gawat.
Kakek pun menekup kedua belah telinganya dengan telapak tangan. Bila Kakek
menjatuhkan kedua belah tangannya seperti sedia kala, bau busuk mulai menerpa ke dalam lubang hidung orang ramai bersama dengan bunyi suara orang ketawa yang amat panjang. Bunyi bergegar, bagaikan digoyang oleh satu tenaga yang amat kuat.
Lampu petromaks kembali menyala. Saya melihat beberapa kumpulan kunang-kunang datang menuju ke arah kami. Cahaya yang keluar dari kunang-kunang itu menerangi sebagian dari pada halaman surau. Kakek membuka kain ikat kepalanya lalu mengibaskan ke arah kunang-kunang itu hingga kumpulan kunang-kunang itu terpecah dan hilang.
Beberapa orang yang berkumpul di halaman surau lalu melarikan diri. Jamaah yang berjumlah lebih dari dua puluh orang itu menjadi kecil jumlahnya. Tinggal kira‐kira lima orang. Kakek tersenyum, dia tahu jamaah yang lain sudah pulang ke rumah masing‐masing. Tidak sanggup berhadapan dengan gangguan dari setan.
"Kita bergerak sekarang”, Kata Kakek.
Jamaah yang tersisa pun bergerak menuju ke rumah lelaki itu.
Semuanya berjalan dengan tenang dan jaraknya tidak jauh antara satu sama lain. Lebih kurang setengah rantai (1 rantai= 20 m) mau sampai ke kawasan rumah lelaki itu. Dua orang dari jamaah itu melarikan diri setelah mereka melihat satu makhluk besar setinggi pohon kelapa berdiri di halaman rumah lelaki itu.
"Begini, saya tidak mau rencana ini gagal. Saya minta siapapun yang tidak sanggup bersama saya, silahkan beritahu saya!”, Kata Kakek.
Uda Lodin muncul di depan Kakek bersama ketua kampung. Mereka menyatakan tidak sanggup untuk menyertai Kakek. Dengan rela hati Kakek mengizinkan mereka pergi. Tinggallah saya bersama Kakek dan seorang penduduk kampung yang bernama Kamal. Kami meneruskan perjalanan dan masuk ke dalam kawasan rumah lelaki itu. Baru saja sampai di depan tangga rumah lelaki itu, Kamal lalu jatuh pingsan sesudah dia melihat wajah seorang perempuan yang amat buruk memangku kepala lelaki di muka pintu.
Kakek terpaksa mengeluarkan sehelai daun sirih dari saku baju sebelah kiri. Daun sirih itu di kunyah‐kunyahnya hingga hancur. Kakek menyemburkan daun sirih itu ke muka Kamal sehingga Kamal sadar dari pingsannya.
"Kau makan daun sirih ini”, Kakek mengulurkan sehelai daun sirih lain kepada Kamal. Kamal lalu mengunyahnya hingga mukanya jadi merah.
"Apa yang kamu rasakan? Ada rasa takut?”, Tanya Kakek lagi.
"Tak ada”, Jawab Kamal.
Segera dengan itu wajah perempuan buruk di muka pintu lalu gaib, hilang.
Yang tertinggal hanya tubuh lelaki dengan bekas terkena gigit di bagian pipi dan pangkal leher. Bila saya mau menyentuh tubuh lelaki itu Kakek segera melarangnya.
"Jangan disentuh nanti kau kena badinya”, Kata Kakek.
Saya terdiam. Kakek pun memulihkan lelaki yang tidak sadarkan diri itu. Lelaki yang kelihatan lesu itu tidak bisa bangun dan terpaksa diusung ke tanah. Kakek membiarkan lelaki itu terkapar di halaman.
Dengan pertolongan sinar petromaks, saya melihat lelaki itu mencoba bangun tetapi dia tidak berdaya. Kakek dan saya serta Kamal lalu masuk ke bawah rumah. Dalam beberapa saat makhluk perempuan itu muncul dan mencoba menghampiri lelaki yang terkapar di halaman. Lelaki itu mencoba menjerit.
Suaranya tidak bisa keluar. Lelaki itu mencoba bangun tapi ternyata dia tidak berdaya. Kakek menepuk tanah dengan tangan kirinya sebanyak tiga kali.
Makhluk dengan wajah yang amat menakutkan itu melihat ke arah kami. Saya dan Kamal tidak sanggup memandangnya, segera melihat ke arah lain.
Kakek bangkit dan menghampiri makhluk itu. Kakek dan makhluk itu berhadapan antara satu sama lain. Sekali lagi saya lihat mulut Kakek berkumat‐kamit membaca sesuatu. Makhluk itu bagaikan ditekan oleh sesuatu kekuatan segera sujud di kaki Kakek. Kakek tidak ambil pusing lalu mengambil tanah dan dikepal‐kepalnya tanah itu dengan tangan.
"Dari tanah asalmu, ke tanahlah kembalimu”, Suara Kakek cukup lantang.
Tanah yang dikepalnya dilemparkan pada bagian tubuh makhluk itu.
Satu jeritan yang amat menakutkan terdengar di malam yang sepi. Makhluk itu hilang dan tempatnya segera digantikan dengan beribu‐ribu kunang-kunang sambil mengeluarkan cahaya yang amat terang. Kunang-kunang itu berkumpul dan memanjang naik ke udara. Kakek segera menyuruh Kamal mengambil cangkul dan kami bertiga bergegas malam itu menuju ke tanah pekuburan.
Saya membawa lampu petromaks. Kami segera menuju ke kuburan perempuan yang kami temui siang tadi. Kakek tanpa membuang waktu lalu merebut cangkul dari tangan Kamal.
Lubang yang lowong segera Kakek timbun. Begitu lubang ditimbun, terdengar suara ribut yang amat kuat, dahan‐dahan kering berjatuhan. Batu nisan di pekuburan saya lihat bagaikan bergerak‐gerak. Bila suara ribut hilang tanah pekuburan kelihatan terang oleh cahaya kunang-kunang yang datang beribu‐ribu banyaknya. Saya mendengar suara orang menangis.
"Kita pulang. Dia akan berkeliaran di muka bumi ini hingga hari kiamat”, Kata Kakek dan kami pun lalu pulang.
Waktu kami sampai di rumah lelaki itu, hari sudah subuh. Lelaki malang itu masih terkapar atas tanah. Kakek lalu merawatnya hingga pulih.
"Kau maafkanlah dosa isterimu!”, Bisik Kakek pada lelaki itu.
"Saya bersedia memaafkannya. Tetapi saya sendiri tidak tahu bagaimana caranya”, Kata lelaki itu dengan jujur.
Hari berangsur cerah. Fajar mulai terbit di kaki langit. Kakek membawa lelaki itu ke perigi lalu memandikannya.
Kakek pun membasuh kepala dan muka lelaki itu dengan air daun pisang dara. Kakek juga membasuhkan seluruh tubuh lelaki itu dengan air bunga tujuh jenis dan tujuh warna. Kedua belah telapak kaki dan tangan lelaki itu dibasuh oleh Kakek dengan air tanah liat.
Akhirnya, Kakek menyiramkan dengan pelan air penawar dari kepala ke kaki lelaki itu.
Kakek membungkus badan lelaki dengan kain hitam sebanyak tiga kali.
Dengan penuh teliti, Kakek menyarungkan kain pelikat ke badan lelaki malang itu dalam keadaan terbalik.
Cara menyarungnya juga agak aneh yaitu, dari kepala ke kaki. Kakek membawa lelaki tersebut pulang ke rumahnya. Kakek minta lelaki itu berbaring di muka pintu dan Kakek meletakkan batang Tepus di atas dada lelaki itu. Kakek berdiri di penghujung anak tangga sambil matanya menatap wajah lelaki itu.
"Kau sekarang bangun perlahan dengan tangan kiri kau menolak batang Tepus hingga ke ujung kaki”, Kata Kakek dan lelaki itu mematuhi dengan segala apa yang dikatakan oleh Kakek.
"Sekarang, tak ada suatu apapun yang mesti kau takutkan. Tugas aku sudah selesai”, Beritahu Kakek pada lelaki itu sambil melangkah ke dalam rumah.
Kakek duduk menyandarkan badannya pada tiang seri.
Saya bersandar dekat dinding. Matahari pagi kian meninggi, sudah masuk pukul sepuluh pagi. Saya pikir bila pekerjaan Kakek sudah selesai tentu dia akan pulang.
Paling lama jam tiga atau empat petang kami akan meninggalkan Kuala Terong, fikir saya dalam hati.
Lelaki yang sudah diobati oleh Kakek lalu menghidangkan kopi pada saya dan Kakek. Lelaki itu sendiri menuangkan air kopi ke dalam cawan.
"Minumlah. Goreng pisang belum masak”, Ujar lelaki itu.
Kakek tersenyum. Saya lalu menghirup kopi. Tiba‐tiba saya tersedak. Air kopi tersembur ke atas lantai.
“Kenapa?”, Suara Kakek keras.
Biji matanya terbeliak melihat wajah saya. Hati saya menjadi kecut bila Kakek memandang demikian.
"Kopi ini panas, Kek!”, Ujar saya.
"Kalau sudah tahu panas, kenapa engkau telan. Apa kau tak bisa menunggu sampai air itu dingin!?”, Tekanan suara Kakek cukup keras dan meninggi.
Wajahnya masam. Saya tahu, Kakek memang tidak senang dengan perangai berangasan saya itu. Kakek mau saya menjadi manusia yang penuh sopan santun, bila menghadapi hidangan terutama sekali bila berada di rumah orang.
“Tidak apa-apa. Tapi Kamal mana dia?”, Tanya lelaki itu sambil menyapu air kopi yang tumpah di lantai dengan kain buruk.
"Dia sudah balik”, Jawab saya.
"Oh begitu, saya tak sadar. Uda Lodin juga tak kelihatan batang hidungnya”, Tanya lelaki itu lagi.
"Uda Lodin kecapekan”, Kakek bersuara tenang.
Lelaki itu tersenyum.
Tanpa memberitahu saya dan Kakek, lelaki itu lalu ke dapur. Datang kembali sambil membawa sepiring goreng pisang. Kami pun makan bersama. Memang sedap makan goreng pisang panas sambil minum kopi. Bila sarapan pagi sudah selesai, Kakek menghampiri lelaki yang isterinya menjadi hantu itu sambil berkata:
“Kau maafkan dosa isterimu?”
“Saya maafkan”
“Kalau begitu, malam ini kita adakan majlis tahlil”
“Saya tidak ada uang”
"Aku beri kau uang”, Nada suara Kakek cukup tegas.
Kakek merogoh saku dan mengeluarkan uang. Dengan wajah yang agak cemas lelaki itu menerima uang pemberian Kakek. Saya juga heran dari mana Kakek memperolehi uang. Setahu saya sewaktu datang dulu, Kakek tidak banyak membawa uang. Saya segera menghampiri Kakek dan bertanya dari mana dia dapat uang. Kakek menerangkan pada saya, bahwa uang yang diberikan pada lelaki itu adalah daun‐daun kering. Dalam tempo tertentu uang itu akan akan jadi daun kembali.
“Kenapa Kakek berbuat begitu?”
“Untuk menolong orang susah”
“Rugilah orang yang menjual barang padanya?”
“Tidak. Sebelum uang kertas itu bertukar menjadi daun seperti asalnya, orang bunian (bangsa Halus) isteriku akan datang dan menukarkan uang yang betul pada penjual barang tersebut”
Saya menarik nafas panjang mendengar penjelasan Kakek itu.
Sebenarnya Kakek bagaikan merahasiakan dengan diri saya tentang ilmu kepandaian yang ada pada dirinya. Dia hanya menunjukkan kebolehannya dalam waktu yang tertentu tanpa diduga atau dijangka oleh siapapun. Berdasarkan pada hal itulah saya lebih senang mengikutinya walau ke mana‐mana.
Dan majlis tahlil pun berlangsung di rumah lelaki itu. Lima belas orang telah hadir. Kakek sendiri jadi tukang masak dan membacakan doa. Bila acara majlis itu selesai, Kakek memberitahu pada orang yang datang itu bahwa apa yang berlaku itu adalah petunjuk dari Allah untuk diperlihatkan kepada manusia yang masih hidup.
"Jadikanlah ini sebagai contoh dan tauladan. Allah dapat menunjukan kebesaran dan kekuasaanNya pada suatu saat”, Nada suara Kakek menurun.
Orang yang berada dalam rumah tertegun. Konsentrasi perhatian mereka kepada pembicaraan Kakek.
”Jika kamu sayang isteri kamu, coba jaga atau kawal diri mereka dari jadi pendurhaka pada kamu. Isteri yang durhaka pada suami, tidak akan mencium bau surga”
"Tetapi, suami akan berdosa besar kalau menggunakan taat setia seorang isteri untuk mencari kesempatan”, Kakek mengakhiri bicaranya.
Bila semua para tamu malam itu pulang, saya dan Kakek mengambil tempat di ruang berhadapan untuk tidur.
Lelaki itu tidur dalam bilik, manakala Uda Lodin tidur di rumah lain.
Uda Lodin bimbang kalau dia tidur di situ, pengalaman ngeri yang dilalui akan terulang lagi. Lebih kurang pukul dua belas malam lelaki itu mengejutkan Kakek. Saya secepat kilat bangkit dari pembaringan.
“Ada apa?” Tanya Kakek.
”Bagaimana cara saya akan ampunkan isteri saya?"
“Hum..”, Kakek menggaruk pangkal kening.
"Saya mimpi dia menangis di atas tanah lapang”, Ujar lelaki itu lagi.
Saya sandarkan badan ke tepi dinding. Kakek pun bertanya kepada lelaki itu waktu bila ia mengalami mimpi itu.
Apakah waktu dia mau tidur tadi badannya bersih dan juga membaca ayat‐ayat suci.
"sewaktu saya masuk tidur saya ada air sembahyang. Sebelum tidur saya membaca ayat al Kursi”, Jawab lelaki itu.
“Isteri kau mengharapkan keampunan darimu?”
“Apa yang mesti saya perbuat?” Tanyanya lagi.
Kakek bangkit dari tidur. Kakek berjalan di kawasan ruang itu dua tiga kali. Suasana malam cukup sepi.
“Kau pergi ke kuburan isterimu setiap pagi selama seminggu. Bacakan surah Yassin. Setiap kali kau sembahyang subuh, berdoalah pada Allah minta dosa isterimu dimaafkan”, Itu nasehat Kakek pada lelaki malang itu.
"Saya akan lakukan. Saya mau rohnya tenang dan damai. Saya ampunkan dosanya”, Kata lelaki itu.
Dia pun meninggalkan saya dan Kakek. Malam itu tidur saya cukup nyenyak. Bila bangun pagi, badan terasa segar lebih‐lebih lagi bila mandi embun bersama Kakek. Kulit badan terasa sejuk dan kelihatan kemerah‐merahan.
Pagi itu saya bersama Kakek meninggalkan Kuala Terung menuju ke pasar pasar Terung. Kakek lalu menemui Uda Lodin yang memang menanti kedatangannya.
“Kita balik sendiri-sendiri”, Beritahu Kakek pada Uda Lodin.
”Kenapa?"
“Aku akan pergi ke pasar minggu di Changkat Jering. Aku akan beli parang”
“Bagaimana ongkos pengobatan menolong orang itu? Saya sudah minta pada orang kampung tiga ratus ringgit. Mereka setuju bayar”
Dahi Kakek bergerak‐gerak. Biji matanya seperti berputar‐putar melihat muka Uda Lodin. Kakek lalu memegang batang leher Uda Lodin.
"Kenapa ini?”, Uda Lodin terkejut.
"Ingat! Aku bukan cari makan dengan cara ini. Aku menolong orang karena Allah, bukan niat aku mencari harta dengan ilmu yang ada pada aku ini. Ilmu ini pemberian Allah untuk menolong orang. Aku akan hidup mesti berusaha cara lain. sekali lagi kau berbicara seperti itu, aku patahkan batang leher kau”, Cukup keras suara Kakek.
Dua tiga orang yang lalu lalang di situ berhenti. Mereka mendekati Kakek dan Uda Lodin. Salah seorang dari mereka menyangka Kakek dan Uda Lodin berkelahi, lalu menasehati Kakek dan Uda Lodin supaya berdamai.
"Jangan turut campur, ini urusan kami!”, Ujar Kakek pada orang itu.
Dengan wajah yang tersipu‐sipu orang itu menjauhkan diri dari Kakek dan Uda
Lodin.
"Kau pergi beritahu pada orang yang kau minta uang, katakan pada mereka apa yang aku kerjakan itu semuanya karena Allah. Tidak perlu bayar satu sen pun”, Kakek mengeluarkan perintah pada Uda Lodin.
Tanpa banyak bicara Uda Lodin lalu naik bus yang memang menanti penumpang untuk pergi ke Kuala Terung. Kakek terasa lega.
"Kawan ini adakalanya jadi racun”, Rungkut Kakek begitu bus bergerak menuju ke Kuala Terung.
Kakek yakin Uda Lodin akan memberitahu kepada orang-orang apa yang dikatakan oleh Kakek padanya.
Quote:
Kami berpisah dengan Uda Lodin di ujung jalan simpang. Dia lalu menuju ke rumah tempat dia menginap.
Kami meneruskan perjalanan.
Kakek bagaikan mengetahui langkah kami diikuti oleh manusia atau makhluk yang tidak dapat dilihat. Kakek menyuruh kami berjalan secepat mungkin. Bila sampai di dekat pohon besar, Kakek menyuruh kami bersembunyi di balik pohon itu.
"Sudahah dekat waktu Maghrib ini”, Kata Kakek yang juga bersembunyi di balik pohon besar. Kakek mengambil tiga helai daun Serunai laut yang mati pangkal. Daun itu Kakek genggam sambil membaca sesuatu. Kakek pun memberikan daun itu kepada kami.
"Kalau kamu mau menyaksikan setan, lekatkan daun ini ke kelopak mata kamu. Kemudian kamu gigit pangkalnya dan lihat ke depan”
Arahan yang Kakek keluarkan itu kami patuhi. Dada saya berdebar. Apa yang saya lihat amat menakutkan. Saya menyaksikan satu makhluk berjalan terloncat‐loncat. Bagian bawah makhluk itu tidak sampai ke bumi. Dia bagaikan meloncat di atas udara permukaan tanah.
Bagian atas atau kepala makhluk itu menajam ke atas. Kain putih yang membalut tubuh makhluk itu sudah terkoyak penuh dengan darah kering dan lumpur tanah merah. Makhluk itu menoleh ke arah kami. Bagian mukanya sudah hancur.
Lubang matanya lowong ke dalam. Bagian daging yang tinggal kelihatan menggerutu (berkerut-kerut) seperti kulit katak puru. Tulang pipinya menonjol ke depan.
Hidungnya sudah tiada, tetapi giginya masih kukuh dengan rambut hitam terurai di atas bahu.
Spoiler for cuma gambar:

Makhluk itu mengeluarkan suara. Sekejap seperti suara orang menangis dan sekejap seperti suara orang mengeluh.
Tiba-tiba terdengar bunyi suara gagak dan suara burung tukang ( Caprimulgus sp ) sayup‐sayup bertingkah dengan bunyi suara burung puyuh jantan.
Suasana terasa amat mencekam. Makhluk itu lalu meloncat ke depan tanpa menoleh ke arah kami lagi. Kakek pun meminta daun serunai laut dari kami. Daun itu Kakek genggam lalu ditanam ke dalam tanah. Dua kali Kakek melangkahi tanah yang sudah dikubur di dalamnya daun serunai laut tersebut.
"Itulah isteri kamu. Selagi kamu tidak memaafkan perbuatannya, dia tidak akan aman. Tetap berkeliaran di atas dunia hingga hari kiamat”, Beritahu Kakek pada lelaki itu.
Saya menggigit jari sambil melirik ke wajah lelaki itu.
Air mukanya nampak berubah mengandung rasa kesal yang amat sangat. Belum sempat lelaki itu memberikan suatu jawaban Kakek lalu mengajak kami pulang.
Quote:
Kakek mengajak lelaki bersembahyang Maghrib di surau. Lelaki itu menolak dengan alasan kepalanya terasa pening. Jadi, saya dengan Kakek lalu ke surau, sesudah mengambil air sembahyang di kulah, saya berjumpa dengan Uda Lodin di kaki tangga surau.
Atas permintaan orang‐orang kampung, Kakek lalu jadi imam untuk sembahyang Maghrib, jadi tugas Kakek bersambung lagi.
Waktu sembahyang isya mereka juga
minta Kakek jadi imam. Permintaan itu Kakek kabulkan.
Selepas menunaikan sembahyang isya Kakek berbicara sesuatu dengan ketua kampung. Entah apa yang mereka bicarakan saya tidak tahu. Tetapi, selesai berbicara ketua kampung lalu bangun dan berbicara dengan lantang.
"Saya minta orang yang ada disini mengikuti saya ke rumah orang yang ditinggal mati isterinya bersama orang tua ini”, Ujar ketua kampung sambil menuding jari kelingkingnya ke arah Kakek.
Ketua kampung memerintahkan tiga orang kampung mengambil cangkul dan daun pisang abu. Orang yang diperintahkan itu segera keluar dari surau. Beberapa saat kemudian orang yang diperintahkan mencari cangkul dan daun pisang pun tiba.
Kakek melarang mereka masuk ke dalam surau. Kakek menyuruh mereka duduk di kaki tangga surau.
Angin malam berlalu, bertiup kencang. Kakek mengambil lampu petromaks di tengah surau lalu dibawa turun. Orang yang berada di dalam surau mengikuti Kakek turun.
"Kita kesana semuanya. Tetapi, sepanjang jalan menuju ke rumah itu saya minta orang yang ada ini membaca surah Alfatihah dan Qulya di dalam hati, jika ada sesuatu yang aneh jangan ditegur atau dilihat”
Tiba‐tiba semua orang yang berada di halaman surau terkejut. Lampu petromaks padam dengan sendirinya, beberapa ketul tanah merah melayang dalam gelap malam mengenai tubuh badan orang yang berkumpul. Suasana menjadi gawat.
Kakek pun menekup kedua belah telinganya dengan telapak tangan. Bila Kakek
menjatuhkan kedua belah tangannya seperti sedia kala, bau busuk mulai menerpa ke dalam lubang hidung orang ramai bersama dengan bunyi suara orang ketawa yang amat panjang. Bunyi bergegar, bagaikan digoyang oleh satu tenaga yang amat kuat.
Lampu petromaks kembali menyala. Saya melihat beberapa kumpulan kunang-kunang datang menuju ke arah kami. Cahaya yang keluar dari kunang-kunang itu menerangi sebagian dari pada halaman surau. Kakek membuka kain ikat kepalanya lalu mengibaskan ke arah kunang-kunang itu hingga kumpulan kunang-kunang itu terpecah dan hilang.
Quote:
Beberapa orang yang berkumpul di halaman surau lalu melarikan diri. Jamaah yang berjumlah lebih dari dua puluh orang itu menjadi kecil jumlahnya. Tinggal kira‐kira lima orang. Kakek tersenyum, dia tahu jamaah yang lain sudah pulang ke rumah masing‐masing. Tidak sanggup berhadapan dengan gangguan dari setan.
"Kita bergerak sekarang”, Kata Kakek.
Jamaah yang tersisa pun bergerak menuju ke rumah lelaki itu.
Semuanya berjalan dengan tenang dan jaraknya tidak jauh antara satu sama lain. Lebih kurang setengah rantai (1 rantai= 20 m) mau sampai ke kawasan rumah lelaki itu. Dua orang dari jamaah itu melarikan diri setelah mereka melihat satu makhluk besar setinggi pohon kelapa berdiri di halaman rumah lelaki itu.
"Begini, saya tidak mau rencana ini gagal. Saya minta siapapun yang tidak sanggup bersama saya, silahkan beritahu saya!”, Kata Kakek.
Uda Lodin muncul di depan Kakek bersama ketua kampung. Mereka menyatakan tidak sanggup untuk menyertai Kakek. Dengan rela hati Kakek mengizinkan mereka pergi. Tinggallah saya bersama Kakek dan seorang penduduk kampung yang bernama Kamal. Kami meneruskan perjalanan dan masuk ke dalam kawasan rumah lelaki itu. Baru saja sampai di depan tangga rumah lelaki itu, Kamal lalu jatuh pingsan sesudah dia melihat wajah seorang perempuan yang amat buruk memangku kepala lelaki di muka pintu.
Kakek terpaksa mengeluarkan sehelai daun sirih dari saku baju sebelah kiri. Daun sirih itu di kunyah‐kunyahnya hingga hancur. Kakek menyemburkan daun sirih itu ke muka Kamal sehingga Kamal sadar dari pingsannya.
"Kau makan daun sirih ini”, Kakek mengulurkan sehelai daun sirih lain kepada Kamal. Kamal lalu mengunyahnya hingga mukanya jadi merah.
"Apa yang kamu rasakan? Ada rasa takut?”, Tanya Kakek lagi.
"Tak ada”, Jawab Kamal.
Segera dengan itu wajah perempuan buruk di muka pintu lalu gaib, hilang.
Yang tertinggal hanya tubuh lelaki dengan bekas terkena gigit di bagian pipi dan pangkal leher. Bila saya mau menyentuh tubuh lelaki itu Kakek segera melarangnya.
"Jangan disentuh nanti kau kena badinya”, Kata Kakek.
Saya terdiam. Kakek pun memulihkan lelaki yang tidak sadarkan diri itu. Lelaki yang kelihatan lesu itu tidak bisa bangun dan terpaksa diusung ke tanah. Kakek membiarkan lelaki itu terkapar di halaman.
Quote:
Dengan pertolongan sinar petromaks, saya melihat lelaki itu mencoba bangun tetapi dia tidak berdaya. Kakek dan saya serta Kamal lalu masuk ke bawah rumah. Dalam beberapa saat makhluk perempuan itu muncul dan mencoba menghampiri lelaki yang terkapar di halaman. Lelaki itu mencoba menjerit.
Suaranya tidak bisa keluar. Lelaki itu mencoba bangun tapi ternyata dia tidak berdaya. Kakek menepuk tanah dengan tangan kirinya sebanyak tiga kali.
Makhluk dengan wajah yang amat menakutkan itu melihat ke arah kami. Saya dan Kamal tidak sanggup memandangnya, segera melihat ke arah lain.
Kakek bangkit dan menghampiri makhluk itu. Kakek dan makhluk itu berhadapan antara satu sama lain. Sekali lagi saya lihat mulut Kakek berkumat‐kamit membaca sesuatu. Makhluk itu bagaikan ditekan oleh sesuatu kekuatan segera sujud di kaki Kakek. Kakek tidak ambil pusing lalu mengambil tanah dan dikepal‐kepalnya tanah itu dengan tangan.
"Dari tanah asalmu, ke tanahlah kembalimu”, Suara Kakek cukup lantang.
Tanah yang dikepalnya dilemparkan pada bagian tubuh makhluk itu.
Satu jeritan yang amat menakutkan terdengar di malam yang sepi. Makhluk itu hilang dan tempatnya segera digantikan dengan beribu‐ribu kunang-kunang sambil mengeluarkan cahaya yang amat terang. Kunang-kunang itu berkumpul dan memanjang naik ke udara. Kakek segera menyuruh Kamal mengambil cangkul dan kami bertiga bergegas malam itu menuju ke tanah pekuburan.
Saya membawa lampu petromaks. Kami segera menuju ke kuburan perempuan yang kami temui siang tadi. Kakek tanpa membuang waktu lalu merebut cangkul dari tangan Kamal.
Lubang yang lowong segera Kakek timbun. Begitu lubang ditimbun, terdengar suara ribut yang amat kuat, dahan‐dahan kering berjatuhan. Batu nisan di pekuburan saya lihat bagaikan bergerak‐gerak. Bila suara ribut hilang tanah pekuburan kelihatan terang oleh cahaya kunang-kunang yang datang beribu‐ribu banyaknya. Saya mendengar suara orang menangis.
"Kita pulang. Dia akan berkeliaran di muka bumi ini hingga hari kiamat”, Kata Kakek dan kami pun lalu pulang.
Waktu kami sampai di rumah lelaki itu, hari sudah subuh. Lelaki malang itu masih terkapar atas tanah. Kakek lalu merawatnya hingga pulih.
"Kau maafkanlah dosa isterimu!”, Bisik Kakek pada lelaki itu.
"Saya bersedia memaafkannya. Tetapi saya sendiri tidak tahu bagaimana caranya”, Kata lelaki itu dengan jujur.
Quote:
Hari berangsur cerah. Fajar mulai terbit di kaki langit. Kakek membawa lelaki itu ke perigi lalu memandikannya.
Kakek pun membasuh kepala dan muka lelaki itu dengan air daun pisang dara. Kakek juga membasuhkan seluruh tubuh lelaki itu dengan air bunga tujuh jenis dan tujuh warna. Kedua belah telapak kaki dan tangan lelaki itu dibasuh oleh Kakek dengan air tanah liat.
Akhirnya, Kakek menyiramkan dengan pelan air penawar dari kepala ke kaki lelaki itu.
Kakek membungkus badan lelaki dengan kain hitam sebanyak tiga kali.
Dengan penuh teliti, Kakek menyarungkan kain pelikat ke badan lelaki malang itu dalam keadaan terbalik.
Cara menyarungnya juga agak aneh yaitu, dari kepala ke kaki. Kakek membawa lelaki tersebut pulang ke rumahnya. Kakek minta lelaki itu berbaring di muka pintu dan Kakek meletakkan batang Tepus di atas dada lelaki itu. Kakek berdiri di penghujung anak tangga sambil matanya menatap wajah lelaki itu.
"Kau sekarang bangun perlahan dengan tangan kiri kau menolak batang Tepus hingga ke ujung kaki”, Kata Kakek dan lelaki itu mematuhi dengan segala apa yang dikatakan oleh Kakek.
"Sekarang, tak ada suatu apapun yang mesti kau takutkan. Tugas aku sudah selesai”, Beritahu Kakek pada lelaki itu sambil melangkah ke dalam rumah.
Kakek duduk menyandarkan badannya pada tiang seri.
Saya bersandar dekat dinding. Matahari pagi kian meninggi, sudah masuk pukul sepuluh pagi. Saya pikir bila pekerjaan Kakek sudah selesai tentu dia akan pulang.
Paling lama jam tiga atau empat petang kami akan meninggalkan Kuala Terong, fikir saya dalam hati.
Lelaki yang sudah diobati oleh Kakek lalu menghidangkan kopi pada saya dan Kakek. Lelaki itu sendiri menuangkan air kopi ke dalam cawan.
"Minumlah. Goreng pisang belum masak”, Ujar lelaki itu.
Kakek tersenyum. Saya lalu menghirup kopi. Tiba‐tiba saya tersedak. Air kopi tersembur ke atas lantai.
“Kenapa?”, Suara Kakek keras.
Biji matanya terbeliak melihat wajah saya. Hati saya menjadi kecut bila Kakek memandang demikian.
"Kopi ini panas, Kek!”, Ujar saya.
"Kalau sudah tahu panas, kenapa engkau telan. Apa kau tak bisa menunggu sampai air itu dingin!?”, Tekanan suara Kakek cukup keras dan meninggi.
Wajahnya masam. Saya tahu, Kakek memang tidak senang dengan perangai berangasan saya itu. Kakek mau saya menjadi manusia yang penuh sopan santun, bila menghadapi hidangan terutama sekali bila berada di rumah orang.
“Tidak apa-apa. Tapi Kamal mana dia?”, Tanya lelaki itu sambil menyapu air kopi yang tumpah di lantai dengan kain buruk.
"Dia sudah balik”, Jawab saya.
"Oh begitu, saya tak sadar. Uda Lodin juga tak kelihatan batang hidungnya”, Tanya lelaki itu lagi.
"Uda Lodin kecapekan”, Kakek bersuara tenang.
Lelaki itu tersenyum.
Quote:
Tanpa memberitahu saya dan Kakek, lelaki itu lalu ke dapur. Datang kembali sambil membawa sepiring goreng pisang. Kami pun makan bersama. Memang sedap makan goreng pisang panas sambil minum kopi. Bila sarapan pagi sudah selesai, Kakek menghampiri lelaki yang isterinya menjadi hantu itu sambil berkata:
“Kau maafkan dosa isterimu?”
“Saya maafkan”
“Kalau begitu, malam ini kita adakan majlis tahlil”
“Saya tidak ada uang”
"Aku beri kau uang”, Nada suara Kakek cukup tegas.
Kakek merogoh saku dan mengeluarkan uang. Dengan wajah yang agak cemas lelaki itu menerima uang pemberian Kakek. Saya juga heran dari mana Kakek memperolehi uang. Setahu saya sewaktu datang dulu, Kakek tidak banyak membawa uang. Saya segera menghampiri Kakek dan bertanya dari mana dia dapat uang. Kakek menerangkan pada saya, bahwa uang yang diberikan pada lelaki itu adalah daun‐daun kering. Dalam tempo tertentu uang itu akan akan jadi daun kembali.
“Kenapa Kakek berbuat begitu?”
“Untuk menolong orang susah”
“Rugilah orang yang menjual barang padanya?”
“Tidak. Sebelum uang kertas itu bertukar menjadi daun seperti asalnya, orang bunian (bangsa Halus) isteriku akan datang dan menukarkan uang yang betul pada penjual barang tersebut”
Saya menarik nafas panjang mendengar penjelasan Kakek itu.
Sebenarnya Kakek bagaikan merahasiakan dengan diri saya tentang ilmu kepandaian yang ada pada dirinya. Dia hanya menunjukkan kebolehannya dalam waktu yang tertentu tanpa diduga atau dijangka oleh siapapun. Berdasarkan pada hal itulah saya lebih senang mengikutinya walau ke mana‐mana.
Dan majlis tahlil pun berlangsung di rumah lelaki itu. Lima belas orang telah hadir. Kakek sendiri jadi tukang masak dan membacakan doa. Bila acara majlis itu selesai, Kakek memberitahu pada orang yang datang itu bahwa apa yang berlaku itu adalah petunjuk dari Allah untuk diperlihatkan kepada manusia yang masih hidup.
"Jadikanlah ini sebagai contoh dan tauladan. Allah dapat menunjukan kebesaran dan kekuasaanNya pada suatu saat”, Nada suara Kakek menurun.
Orang yang berada dalam rumah tertegun. Konsentrasi perhatian mereka kepada pembicaraan Kakek.
”Jika kamu sayang isteri kamu, coba jaga atau kawal diri mereka dari jadi pendurhaka pada kamu. Isteri yang durhaka pada suami, tidak akan mencium bau surga”
"Tetapi, suami akan berdosa besar kalau menggunakan taat setia seorang isteri untuk mencari kesempatan”, Kakek mengakhiri bicaranya.
Quote:
Bila semua para tamu malam itu pulang, saya dan Kakek mengambil tempat di ruang berhadapan untuk tidur.
Lelaki itu tidur dalam bilik, manakala Uda Lodin tidur di rumah lain.
Uda Lodin bimbang kalau dia tidur di situ, pengalaman ngeri yang dilalui akan terulang lagi. Lebih kurang pukul dua belas malam lelaki itu mengejutkan Kakek. Saya secepat kilat bangkit dari pembaringan.
“Ada apa?” Tanya Kakek.
”Bagaimana cara saya akan ampunkan isteri saya?"
“Hum..”, Kakek menggaruk pangkal kening.
"Saya mimpi dia menangis di atas tanah lapang”, Ujar lelaki itu lagi.
Saya sandarkan badan ke tepi dinding. Kakek pun bertanya kepada lelaki itu waktu bila ia mengalami mimpi itu.
Apakah waktu dia mau tidur tadi badannya bersih dan juga membaca ayat‐ayat suci.
"sewaktu saya masuk tidur saya ada air sembahyang. Sebelum tidur saya membaca ayat al Kursi”, Jawab lelaki itu.
“Isteri kau mengharapkan keampunan darimu?”
“Apa yang mesti saya perbuat?” Tanyanya lagi.
Kakek bangkit dari tidur. Kakek berjalan di kawasan ruang itu dua tiga kali. Suasana malam cukup sepi.
“Kau pergi ke kuburan isterimu setiap pagi selama seminggu. Bacakan surah Yassin. Setiap kali kau sembahyang subuh, berdoalah pada Allah minta dosa isterimu dimaafkan”, Itu nasehat Kakek pada lelaki malang itu.
"Saya akan lakukan. Saya mau rohnya tenang dan damai. Saya ampunkan dosanya”, Kata lelaki itu.
Dia pun meninggalkan saya dan Kakek. Malam itu tidur saya cukup nyenyak. Bila bangun pagi, badan terasa segar lebih‐lebih lagi bila mandi embun bersama Kakek. Kulit badan terasa sejuk dan kelihatan kemerah‐merahan.
Pagi itu saya bersama Kakek meninggalkan Kuala Terung menuju ke pasar pasar Terung. Kakek lalu menemui Uda Lodin yang memang menanti kedatangannya.
“Kita balik sendiri-sendiri”, Beritahu Kakek pada Uda Lodin.
”Kenapa?"
“Aku akan pergi ke pasar minggu di Changkat Jering. Aku akan beli parang”
“Bagaimana ongkos pengobatan menolong orang itu? Saya sudah minta pada orang kampung tiga ratus ringgit. Mereka setuju bayar”
Dahi Kakek bergerak‐gerak. Biji matanya seperti berputar‐putar melihat muka Uda Lodin. Kakek lalu memegang batang leher Uda Lodin.
"Kenapa ini?”, Uda Lodin terkejut.
"Ingat! Aku bukan cari makan dengan cara ini. Aku menolong orang karena Allah, bukan niat aku mencari harta dengan ilmu yang ada pada aku ini. Ilmu ini pemberian Allah untuk menolong orang. Aku akan hidup mesti berusaha cara lain. sekali lagi kau berbicara seperti itu, aku patahkan batang leher kau”, Cukup keras suara Kakek.
Dua tiga orang yang lalu lalang di situ berhenti. Mereka mendekati Kakek dan Uda Lodin. Salah seorang dari mereka menyangka Kakek dan Uda Lodin berkelahi, lalu menasehati Kakek dan Uda Lodin supaya berdamai.
"Jangan turut campur, ini urusan kami!”, Ujar Kakek pada orang itu.
Dengan wajah yang tersipu‐sipu orang itu menjauhkan diri dari Kakek dan Uda
Lodin.
"Kau pergi beritahu pada orang yang kau minta uang, katakan pada mereka apa yang aku kerjakan itu semuanya karena Allah. Tidak perlu bayar satu sen pun”, Kakek mengeluarkan perintah pada Uda Lodin.
Tanpa banyak bicara Uda Lodin lalu naik bus yang memang menanti penumpang untuk pergi ke Kuala Terung. Kakek terasa lega.
"Kawan ini adakalanya jadi racun”, Rungkut Kakek begitu bus bergerak menuju ke Kuala Terung.
Kakek yakin Uda Lodin akan memberitahu kepada orang-orang apa yang dikatakan oleh Kakek padanya.
Diubah oleh mufidfathul 06-05-2017 22:31
ciptoroso dan erman123 memberi reputasi
2
Kutip
Balas
Tutup