- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80.1K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#116
PART III
Bila suara jeritan perempuan itu hilang, semua pelita dalam rumah padam. Bila dinyalakan kembali, perempuan itu sudah hilang.
Kakek menepuk dahi suaminya tiga kali sambil mengurut lehernya.
Sang Suami tersadar dari tidur.
Dengan nada suara yang keras Kakek menyuruh saya membakar sumbu pelita
yang padam. Seluruh ruangan rumah terang. Uda Lodin masih terpaku dekat dinding rumah. Saya lihat Uda Lodin membongkokkan badannya sambil menekan perut.
“Kau sadar apa yang terjadi?”, Tanya Kakek pada lelaki yang baru sadar dari tidur.
Lelaki itu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Kakek pun menceritakan semua yang terjadi pada lelaki (suami perempuan yang jadi hantu) tersebut. Lelaki itu mengeluh panjang.
“Sewaktu isteri kamu mau meninggal, apakah ada sesuatu aneh yang kau saksikan yang terjadi padanya?”, Kakek mengajukan pertanyaan.
Lelaki itu terdiam memikirkan sesuatu. Tiba‐tiba dia tersenyum sambil melihat tajam ke arah Kakek.
”Tak ada yang aneh, cuma..”, Lelaki itu berhenti berbicara.
Dia menelan air liur. Saya dan Kakek berpandangan dan lelaki itu menyambung kata‐katanya:
"Sewaktu mengusung jenazahnya dulu, banyak orang mengatakan terlalu berat”
“Siapa yang bicara?”, Tanya Kakek.
“Anak‐anak saya”
Kakek tidak dapat bertanya lebih lanjut lagi karena diganggu oleh suara Uda Lodin.
Kakek segera menghampiri Uda Lodin yang berada dalam keadaan cemas. Perbuatan pertama yang Kakek lakukan pada Uda Lodin ialah memegang betis kakinya dan mengurut‐urut dengan perlahan‐lahan.
Usaha Kakek ini tidak mendatangkan faedah atau manfaat.
"Ambilkan aku sehelai sirih”, Kakek mengeluarkan perintah.
Barang yang Kakek inginkan saya berikan. Kakek melipat daun sirih menjadi segi tujuh dan diletakkan atas tapak tangan kiri.
Saya saksikan daun sirih itu lalu layu bagaikan terkena bara panas. Dari celah‐celah jari Kakek keluar asap menipis naik bersama bau kemenyan.
Kakek membalutkannya ke leher Uda Lodin. Uda Lodin melompat dan menjerit. Sakit perutnya serta merta hilang. Daun sirih yang ditempelkan ke pangkal leher Uda Lodin Kakek ambil lalu beliau meremas‐remasnya hingga hancur.
"Kau kena badi (efek buruk) hantu perempuan”, Kakek memberitahu Uda Lodin yang pucat pasi itu.
Kakek mengurut‐urut bagian belakang Uda Lodin hingga mukanya kembali merah. Kakek menyuruh Uda Lodin melakukan gerakan senam kucing mencangkung.
“Bagaimana rasanya?”, Tanya saya pada Uda Lodin.
“Baru terasa segar sedikit”
"Kau baca ayat ini”, Kakek mengulurkan sepotong kertas yang bertulis huruf Jawa pada Uda Lodin. Kakek kembali mendekati lelaki tuan rumah. Lelaki itu masih terpaku duduk di sudut dinding. Barangkali dia memikirkan sesuatu.
“Ada berapa anak kau?”, Dengan tenang Kakek mengajukan pertanyaan.
Saya segera duduk di sebelah Kakek. Uda Lodin juga begitu.
“Empat orang, semuanya lelaki”
“Ada di mana?”, Saya buka mulut bertanya.
"Semua sudah bekerja. Dua di Singapura dan dua lagi di Kuala Lumpur. Tinggal dan menyewa di Kampung Pandan”, Lelaki itu menerangkan dengan jujur.
Kakek segera menyiku bahu kanan saya dengan maksud supaya saya berhenti dari mengajukan sembarangan pertanyaan pada lelaki itu.
Uda Lodin lalu menggeliat. Suasana terasa cukup dingin sekali. Angin malam yang bertiup di luar menampar dahan-dahan pohon getah yang melahirkan bermacam‐macam bunyi.
Saya menguap dan mata terasa cukup mengantuk.
"Masih dini hari lagi. Baiklah kita tidur”, Kata Kakek.
Saya secara tiba‐tiba terasa mau buang air kecil. Saya lalu merebahkan badan dengan harapan saya akan terlena dan tidak akan membuang air kecil pada waktu subuh.
Ternyata rencana saya tidak berhasil. Saya tidak bisa menahan lagi. Seluruh pangkal pinggang saya terasa sakit. Saya menggapai lampu teplok
lalu ke bagian dapur untuk buang air kecil. Selesai buang air kecil saya pun melangkah untuk masuk ke ruang tengah. Kaki kanan saya menyepak sesuatu. Lampu teplok pun saya rendahkan.
Dengan pertolongan cahaya lampu teplok saya dapat melihat seketul tanah merah bersama secarik kain putih yang ada terlihat darah kering. Bila kain dan tanah itu saya dekatkan ke lubang hidung, baunya amat tidak menyenangkan.
Cukup busuk, semacam bau bangkai.
Bulu tengkok saya mulai meremang. Saya meletakkan lampu teplok ke tempat asalnya lalu merebahkan diri di sisi Kakek.
Tetapi, saya tidak dapat tidur. Bermacam‐macam bunyi saya dengar di Iuar. Seperti ada bunyi tapak di kaki orang melangkah dan memijak sesuatu di bawah rumah.
Saya juga mendengar bunyi suara ayam berkokok dalam reban dengan kuatnya. Saya coba bangun untuk melihat dari jendela. Kakek segera memegang dan menekan bahu kanan saya. Dia memaksa saya tidur.
"Orang mencuri ayam, Kek?”
“Bukan”
“Kalau bukan kenapa ayam direban berbunyi?”
“Kau tidurlah, jangan banyak bicara!"
Saya tidak dapat berkata apa‐apa. Saya berbaring kembali dan akhirnya terlena. Sedang asyik dibuai mimpi, Kakek membangunkan saya untuk sembahyang subuh.
Uda Lodin lalu menjadi imam sembahyang subuh. Bila matahari terbit di kaki langit, saya dan Kakek pun mandi embun. Kemudian Kakek mengajak saya pergi ke reban ayam kepunyaan lelaki pemilik rumah itu.
Saya sangat terkejut besar bila menyaksikan pemandangan beberapa ekor ayam mati dengan tali perutnya berjuntaian keluar.
Saya meIihat bagian perut dirobek dengan kuku. Bila Kakek memeriksa seluruh kawasan reban ayam, Kakek menemukan beberapa sobekan kain putih yang ada terlihat darah kering dan tanah merah. Sedang Kakek asyik membelek‐belek berketul-ketul tanah dan kain putih itu, lelaki tuan rumah menghampiri Kakek.
"Setiap kali Makhluk itu datang, habis perut ayam dimakannya”, Ujar lelaki itu, dan Kakek anggukan kepala.
Kakek meletakkan tanah merah dan kain ke tempat asalnya.
Saya termenung panjang. Kakek mengajak lelaki itu masuk ke ruang dapur rumah. Semua kuali dan periuk dan nasi berserakan.
Lebih kurang pukul sepuluh pagi beberapa orang penduduk setempat datang menemui Kakek. Mereka bercerita pada Kakek, sejak berlakunya peristiwa aneh di kampung tersebut, banyak ayam peliharaan mereka mati akibat dirobek perutnya oleh makhluk aneh itu.
Manakala bagian dapur rumah mereka hampir setiap malam terkena geledah. Nasi yang tinggal di periok habis dimakan oleh makhluk aneh itu. Biasanya periuk yang sudah disentuh oleh makhluk aneh itu tidak bisa digunakan lagi. Meninggalkan bau yang sangat busuk. Seperti biasa, selalu Kakek memberikan janji untuk membantu mereka mengatasi masalah tersebut. Kakek juga meminta mereka supaya jangan melakukan sesuatu terhadap lelaki yang isterinya menjadi makhluk aneh.
"Semuanya terjadi bukan atas kemauannya. Tentu tidak baik orang lain yang membuat salah dan orang lain pula yang menerima hukuman”, Kata Kakek memberitahu mereka.
Ternyata keterangan yang Kakek berikan amat memuaskan hati mereka.
Dan mereka pun pulang.
Selepas sembahyang zuhur, Kakek dan saya dengan ditemani oleh Uda Lodin lalu menemui Ahli Jawatan kuasa Kemajuan Kampung. Mereka mengadakan musyawarah kecil. Semua Ahli Jawatan kuasa Kemajuan Kampung setuju menyerahkan pada Kakek untuk mengatasi masalah yang menimpa kampung. Mereka berjanji akan memberi pertolangan sekiranya Kakek memerlukan pertolongan.
Bila musyawarah itu berakhir, Kakek mengajak semua Ahli Jawatan kuasa Kemajuan kampung sembahyang Asar di surau.
Kakek jadi imarnnya. Dari surau kecil, kami pun menuju ke tanah pekuburan. Lelaki malang itu lalu menunjukkan kepada Kakek, kuburan isterinya. Seluruh kawasan kuburan isteri lelaki itu di periksa.
Tidak terdapat suatu keanehan. Nisan yang dibuat dari kayu Teras berbentuk bunga Rebung tetap utuh dibagian kepala dan kaki. Pohon Puding tetap hidup subur.
Uda Lodin lalu mengkais-kais dedaunan pohon Karet kering yang memenuhi tanah pekuburan itu dengan ranting pohon Karet. Beberapa orang Ahli Jawatan kuasa Kemajuan kampung meminta diri untuk pulang karena mereka ada urusan masing‐masing.
Matahari petang kian menurun. Suasana di tanah pekuburan terasa sunyi. Dua kali saya mengajak Kakek pulang.
Kakek tak mau pulang.
Dia masih mau mencari sesuatu di situ. Uda Lodin lalu membersihkan kuburan dan lelaki yang kematian isteri termenung di pangkal pohon Karet.
“Pukul berapa sekarang?”, Tanya Uda Lodin pada Kakek.
Cepat‐cepat Kakek lihat ke langit. Kakek mengkerutkan dahi sambil melihat muka
Uda Lodin.
"Lebih kurang pukul empat setengah”, Kata Kakek pendek.
Lelaki yang duduk di pangkal pohon Karet tiba-tiba bangun. Bangkit lalu berjalan menuju kebagian batu nisan dibagian kaki. Dia lalu menyingkirkan segala dedaunan kering yang terdapat di situ.
"Lubang!”, Katanya.
Saya segera meluncur ke situ.
Memang terdapat satu lubang dalam ukuran satu kaki bulat. Bila saya mau menjenguk ke dalam lubang, Kakek datang dan mendorong saya ke tepi.
Karena hari sudah berangsur gelap saya tidak dapat menduga berapa dalam lubang itu. Kakek mau menimbun lubang, namun hasrat Kakek tidak terlaksana karena kami tidak membawa cangkul.
Uda Iodin menutup lubang itu dengan daun‐daun kayu kering.
“Dah berapa lama isteri kamu meninggal?”, Mendadak saja Kakek bertanya kepada lelaki itu.
Uda Lodin melihat ke arah tepi kawasan pekuburan yang penuh dengan pepohonan Keduduk dan anak‐anak pohon Karet yang tegak terdiam dalam kesamaran senja yang kian gelap. Suasana cukup sepi. Saya mulai terasa takut . Saya takut melihat batu‐batu nisan yang terpacak.
"Hari ini genap 44 hari”, Jawab lelaki itu.
Mendadak saya mendengar pohon‐pohon kecil di pinggir kawasan pekuburan digoncang orang.
Saya menoleh ke arah bunyi itu. Disebabkan suasana bertambah gelap saya tidak melihat jelas apakah pohon‐pohon di situ bergoyang atau tidak. Saya juga mulai mendengar bunyi orang mencabik-cabik kain dan bunyi papan terkena ketuk. Semuanya datang dari arah hutan kecil di pinggir kawasan pekuburan. Bila bunyi itu hilang, saya mendengar bunyi suara orang perempuan menangis.
Pada mulanya saya mengira semuanya imaginasi dari perasaan saya yang takut. Bila Uda Lodin sendiri memberitahu saya bahwa dia juga mendengar seperti apa yang saya dengar, ternyata saya tidak berkhayal. Satu kenyataan yang berlaku di depan mata yang tidak boleh dilihat.
"Ada bermacam‐macam bunyi saya dengar, seperti suara isteri saya”, Lelaki kematian isteri menyatakan pada Kakek dan saya.
Kakek diam. Perasaan saya sudah tidak tenang. Saya sentiasa berdiri dekat Kakek. Kemudian Kakek pun mengajak kami pulang. Sepanjang jalan pulang kami mendengar bunyi tapak kaki manusia mengikuti langkah kami. Bila dilihat kebelakang, tidak ada apa‐apa yang kelihatan.
Quote:
Bila suara jeritan perempuan itu hilang, semua pelita dalam rumah padam. Bila dinyalakan kembali, perempuan itu sudah hilang.
Kakek menepuk dahi suaminya tiga kali sambil mengurut lehernya.
Sang Suami tersadar dari tidur.
Dengan nada suara yang keras Kakek menyuruh saya membakar sumbu pelita
yang padam. Seluruh ruangan rumah terang. Uda Lodin masih terpaku dekat dinding rumah. Saya lihat Uda Lodin membongkokkan badannya sambil menekan perut.
“Kau sadar apa yang terjadi?”, Tanya Kakek pada lelaki yang baru sadar dari tidur.
Lelaki itu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Kakek pun menceritakan semua yang terjadi pada lelaki (suami perempuan yang jadi hantu) tersebut. Lelaki itu mengeluh panjang.
“Sewaktu isteri kamu mau meninggal, apakah ada sesuatu aneh yang kau saksikan yang terjadi padanya?”, Kakek mengajukan pertanyaan.
Lelaki itu terdiam memikirkan sesuatu. Tiba‐tiba dia tersenyum sambil melihat tajam ke arah Kakek.
”Tak ada yang aneh, cuma..”, Lelaki itu berhenti berbicara.
Dia menelan air liur. Saya dan Kakek berpandangan dan lelaki itu menyambung kata‐katanya:
"Sewaktu mengusung jenazahnya dulu, banyak orang mengatakan terlalu berat”
“Siapa yang bicara?”, Tanya Kakek.
“Anak‐anak saya”
Kakek tidak dapat bertanya lebih lanjut lagi karena diganggu oleh suara Uda Lodin.
Kakek segera menghampiri Uda Lodin yang berada dalam keadaan cemas. Perbuatan pertama yang Kakek lakukan pada Uda Lodin ialah memegang betis kakinya dan mengurut‐urut dengan perlahan‐lahan.
Usaha Kakek ini tidak mendatangkan faedah atau manfaat.
"Ambilkan aku sehelai sirih”, Kakek mengeluarkan perintah.
Quote:
Barang yang Kakek inginkan saya berikan. Kakek melipat daun sirih menjadi segi tujuh dan diletakkan atas tapak tangan kiri.
Saya saksikan daun sirih itu lalu layu bagaikan terkena bara panas. Dari celah‐celah jari Kakek keluar asap menipis naik bersama bau kemenyan.
Kakek membalutkannya ke leher Uda Lodin. Uda Lodin melompat dan menjerit. Sakit perutnya serta merta hilang. Daun sirih yang ditempelkan ke pangkal leher Uda Lodin Kakek ambil lalu beliau meremas‐remasnya hingga hancur.
"Kau kena badi (efek buruk) hantu perempuan”, Kakek memberitahu Uda Lodin yang pucat pasi itu.
Kakek mengurut‐urut bagian belakang Uda Lodin hingga mukanya kembali merah. Kakek menyuruh Uda Lodin melakukan gerakan senam kucing mencangkung.
“Bagaimana rasanya?”, Tanya saya pada Uda Lodin.
“Baru terasa segar sedikit”
"Kau baca ayat ini”, Kakek mengulurkan sepotong kertas yang bertulis huruf Jawa pada Uda Lodin. Kakek kembali mendekati lelaki tuan rumah. Lelaki itu masih terpaku duduk di sudut dinding. Barangkali dia memikirkan sesuatu.
“Ada berapa anak kau?”, Dengan tenang Kakek mengajukan pertanyaan.
Saya segera duduk di sebelah Kakek. Uda Lodin juga begitu.
“Empat orang, semuanya lelaki”
“Ada di mana?”, Saya buka mulut bertanya.
"Semua sudah bekerja. Dua di Singapura dan dua lagi di Kuala Lumpur. Tinggal dan menyewa di Kampung Pandan”, Lelaki itu menerangkan dengan jujur.
Kakek segera menyiku bahu kanan saya dengan maksud supaya saya berhenti dari mengajukan sembarangan pertanyaan pada lelaki itu.
Uda Lodin lalu menggeliat. Suasana terasa cukup dingin sekali. Angin malam yang bertiup di luar menampar dahan-dahan pohon getah yang melahirkan bermacam‐macam bunyi.
Saya menguap dan mata terasa cukup mengantuk.
"Masih dini hari lagi. Baiklah kita tidur”, Kata Kakek.
Quote:
Saya secara tiba‐tiba terasa mau buang air kecil. Saya lalu merebahkan badan dengan harapan saya akan terlena dan tidak akan membuang air kecil pada waktu subuh.
Ternyata rencana saya tidak berhasil. Saya tidak bisa menahan lagi. Seluruh pangkal pinggang saya terasa sakit. Saya menggapai lampu teplok
lalu ke bagian dapur untuk buang air kecil. Selesai buang air kecil saya pun melangkah untuk masuk ke ruang tengah. Kaki kanan saya menyepak sesuatu. Lampu teplok pun saya rendahkan.
Dengan pertolongan cahaya lampu teplok saya dapat melihat seketul tanah merah bersama secarik kain putih yang ada terlihat darah kering. Bila kain dan tanah itu saya dekatkan ke lubang hidung, baunya amat tidak menyenangkan.
Cukup busuk, semacam bau bangkai.
Bulu tengkok saya mulai meremang. Saya meletakkan lampu teplok ke tempat asalnya lalu merebahkan diri di sisi Kakek.
Tetapi, saya tidak dapat tidur. Bermacam‐macam bunyi saya dengar di Iuar. Seperti ada bunyi tapak di kaki orang melangkah dan memijak sesuatu di bawah rumah.
Saya juga mendengar bunyi suara ayam berkokok dalam reban dengan kuatnya. Saya coba bangun untuk melihat dari jendela. Kakek segera memegang dan menekan bahu kanan saya. Dia memaksa saya tidur.
"Orang mencuri ayam, Kek?”
“Bukan”
“Kalau bukan kenapa ayam direban berbunyi?”
“Kau tidurlah, jangan banyak bicara!"
Saya tidak dapat berkata apa‐apa. Saya berbaring kembali dan akhirnya terlena. Sedang asyik dibuai mimpi, Kakek membangunkan saya untuk sembahyang subuh.
Uda Lodin lalu menjadi imam sembahyang subuh. Bila matahari terbit di kaki langit, saya dan Kakek pun mandi embun. Kemudian Kakek mengajak saya pergi ke reban ayam kepunyaan lelaki pemilik rumah itu.
Saya sangat terkejut besar bila menyaksikan pemandangan beberapa ekor ayam mati dengan tali perutnya berjuntaian keluar.
Quote:
Saya meIihat bagian perut dirobek dengan kuku. Bila Kakek memeriksa seluruh kawasan reban ayam, Kakek menemukan beberapa sobekan kain putih yang ada terlihat darah kering dan tanah merah. Sedang Kakek asyik membelek‐belek berketul-ketul tanah dan kain putih itu, lelaki tuan rumah menghampiri Kakek.
"Setiap kali Makhluk itu datang, habis perut ayam dimakannya”, Ujar lelaki itu, dan Kakek anggukan kepala.
Kakek meletakkan tanah merah dan kain ke tempat asalnya.
Saya termenung panjang. Kakek mengajak lelaki itu masuk ke ruang dapur rumah. Semua kuali dan periuk dan nasi berserakan.
Lebih kurang pukul sepuluh pagi beberapa orang penduduk setempat datang menemui Kakek. Mereka bercerita pada Kakek, sejak berlakunya peristiwa aneh di kampung tersebut, banyak ayam peliharaan mereka mati akibat dirobek perutnya oleh makhluk aneh itu.
Manakala bagian dapur rumah mereka hampir setiap malam terkena geledah. Nasi yang tinggal di periok habis dimakan oleh makhluk aneh itu. Biasanya periuk yang sudah disentuh oleh makhluk aneh itu tidak bisa digunakan lagi. Meninggalkan bau yang sangat busuk. Seperti biasa, selalu Kakek memberikan janji untuk membantu mereka mengatasi masalah tersebut. Kakek juga meminta mereka supaya jangan melakukan sesuatu terhadap lelaki yang isterinya menjadi makhluk aneh.
"Semuanya terjadi bukan atas kemauannya. Tentu tidak baik orang lain yang membuat salah dan orang lain pula yang menerima hukuman”, Kata Kakek memberitahu mereka.
Ternyata keterangan yang Kakek berikan amat memuaskan hati mereka.
Dan mereka pun pulang.
Selepas sembahyang zuhur, Kakek dan saya dengan ditemani oleh Uda Lodin lalu menemui Ahli Jawatan kuasa Kemajuan Kampung. Mereka mengadakan musyawarah kecil. Semua Ahli Jawatan kuasa Kemajuan Kampung setuju menyerahkan pada Kakek untuk mengatasi masalah yang menimpa kampung. Mereka berjanji akan memberi pertolangan sekiranya Kakek memerlukan pertolongan.
Bila musyawarah itu berakhir, Kakek mengajak semua Ahli Jawatan kuasa Kemajuan kampung sembahyang Asar di surau.
Quote:
Kakek jadi imarnnya. Dari surau kecil, kami pun menuju ke tanah pekuburan. Lelaki malang itu lalu menunjukkan kepada Kakek, kuburan isterinya. Seluruh kawasan kuburan isteri lelaki itu di periksa.
Tidak terdapat suatu keanehan. Nisan yang dibuat dari kayu Teras berbentuk bunga Rebung tetap utuh dibagian kepala dan kaki. Pohon Puding tetap hidup subur.
Uda Lodin lalu mengkais-kais dedaunan pohon Karet kering yang memenuhi tanah pekuburan itu dengan ranting pohon Karet. Beberapa orang Ahli Jawatan kuasa Kemajuan kampung meminta diri untuk pulang karena mereka ada urusan masing‐masing.
Matahari petang kian menurun. Suasana di tanah pekuburan terasa sunyi. Dua kali saya mengajak Kakek pulang.
Kakek tak mau pulang.
Dia masih mau mencari sesuatu di situ. Uda Lodin lalu membersihkan kuburan dan lelaki yang kematian isteri termenung di pangkal pohon Karet.
“Pukul berapa sekarang?”, Tanya Uda Lodin pada Kakek.
Cepat‐cepat Kakek lihat ke langit. Kakek mengkerutkan dahi sambil melihat muka
Uda Lodin.
"Lebih kurang pukul empat setengah”, Kata Kakek pendek.
Lelaki yang duduk di pangkal pohon Karet tiba-tiba bangun. Bangkit lalu berjalan menuju kebagian batu nisan dibagian kaki. Dia lalu menyingkirkan segala dedaunan kering yang terdapat di situ.
"Lubang!”, Katanya.
Saya segera meluncur ke situ.
Memang terdapat satu lubang dalam ukuran satu kaki bulat. Bila saya mau menjenguk ke dalam lubang, Kakek datang dan mendorong saya ke tepi.
Karena hari sudah berangsur gelap saya tidak dapat menduga berapa dalam lubang itu. Kakek mau menimbun lubang, namun hasrat Kakek tidak terlaksana karena kami tidak membawa cangkul.
Uda Iodin menutup lubang itu dengan daun‐daun kayu kering.
“Dah berapa lama isteri kamu meninggal?”, Mendadak saja Kakek bertanya kepada lelaki itu.
Quote:
Uda Lodin melihat ke arah tepi kawasan pekuburan yang penuh dengan pepohonan Keduduk dan anak‐anak pohon Karet yang tegak terdiam dalam kesamaran senja yang kian gelap. Suasana cukup sepi. Saya mulai terasa takut . Saya takut melihat batu‐batu nisan yang terpacak.
"Hari ini genap 44 hari”, Jawab lelaki itu.
Mendadak saya mendengar pohon‐pohon kecil di pinggir kawasan pekuburan digoncang orang.
Saya menoleh ke arah bunyi itu. Disebabkan suasana bertambah gelap saya tidak melihat jelas apakah pohon‐pohon di situ bergoyang atau tidak. Saya juga mulai mendengar bunyi orang mencabik-cabik kain dan bunyi papan terkena ketuk. Semuanya datang dari arah hutan kecil di pinggir kawasan pekuburan. Bila bunyi itu hilang, saya mendengar bunyi suara orang perempuan menangis.
Pada mulanya saya mengira semuanya imaginasi dari perasaan saya yang takut. Bila Uda Lodin sendiri memberitahu saya bahwa dia juga mendengar seperti apa yang saya dengar, ternyata saya tidak berkhayal. Satu kenyataan yang berlaku di depan mata yang tidak boleh dilihat.
"Ada bermacam‐macam bunyi saya dengar, seperti suara isteri saya”, Lelaki kematian isteri menyatakan pada Kakek dan saya.
Kakek diam. Perasaan saya sudah tidak tenang. Saya sentiasa berdiri dekat Kakek. Kemudian Kakek pun mengajak kami pulang. Sepanjang jalan pulang kami mendengar bunyi tapak kaki manusia mengikuti langkah kami. Bila dilihat kebelakang, tidak ada apa‐apa yang kelihatan.
Diubah oleh mufidfathul 06-05-2017 22:25
ciptoroso dan erman123 memberi reputasi
2
Kutip
Balas
Tutup