- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#115
PART II
Karena setiap kali pertanyaan yang berhubungan dengan isterinya ditanyakan hanya itulah jawaban yang diberikan oleh lelaki itu kepada Kakek.
Akhirnya, Kakek membuat kesimpulan bahwa hubungan lelaki itu dengan isterinya agak terbatas dan penuh rahasia.
Ada rahasia‐rahasia rumah tangga yang disembunyikan oleh si isteri dari pengetahuan suaminya.
“Tak apalah kamu tak tahu. Saya coba berikhtiar mengatasi masalah ini,” Kakek memberikan janji itu kepada lelaki tersebut.
“Memang itulah yang saya harapkan.”
“Kamu pernah bertengkar dengannya?” Tanya Kakek lagi.
“Dulu, saya ini memang liar. Suka beristeri banyak. Isteri saya yang mati itu adalah isteri yang kelima.” Lelaki itu membuka rahasia.
Kakek menggigit bibir. Secara tidak langsung, dia sudah dapat mengetahui rahasia diri lelaki yang nampak cemas itu.
“Isteri yang lain itu, ke mana perginya?”
“Semua saya ceraikan. Tetapi dengan isteri yang baru meninggal ini saya tak sanggup berbuat begitu.”
“Kenapa?”
“Saya tak tahu. Saya cukup sayang dan akur mendengar perintahnya. Ada kalanya, saya jadi bodoh bila berhadapan dengannya.”
“Begitu.” Suara Kakek lembut.
Dan Kakek tidak meneruskan sembarang pertanyaan terhadap diri lelaki itu.
Karena waktu Maghrib sudah tiba, Kakek menyuruh saya mengambil air sembahyang di perigi. Saya lantas memberitahu Kakek bahwa saya lebih senang mengambil air sembahyang bersamanya.
“Kenapa?” Tanya Kakek.
“Periginya jauh, Kek. Saya merasa seram.”
“Pergi! Tidak ada benda yang mesti kau takutkan,” Nada suara Kakek yang keras sungguh menciutkan hati.
Saya tidak ada pilihan lain. Saya terpaksa pergi. Berdebar juga hati saya bila memijak bumi di tengah cahaya yang sama‐samar itu.
Yang lebih menakutkan, sepanjang jalan menuju ke perigi, terdapat beberapa pohon Beringin yang besar dan akar berjuntaian.
Angin pun ketika itu tidak bertiup. Beberapa ekor burung gagak liar terbang rendah pulang ke sarang sambil berbunyi. Bunyi gagak itu saya amat‐amati macam bunyi orang menyobek kain kafan.
Saya tahu, kalau saya berputar balik, tentu Kakek naik darah.
Saya lalu melangkah. Langkah kaki saya bak kena setrum bila seekor kucing hutan melompat di hadapan saya. Sebelum kucing hutan itu melompat ke dalam hutan, kucing itu melihat saya sambil membuka mulutnya dengan lebar bersama suara yang nyaring dan kuat.
Hari bertambah gelap. Pondok perigi nampak samar-samar di depan. Saya berlari dan terus masuk ke dalam pondok perigi yang berdindingkan tepus ( Achasma megalacheilos ) tanpa atap. Pepohonan rumbia (palm) yang berdiri berdekatan pondok perigi kelihatan kaku dan menakutkan.
Saya lalu membaca niat dan membasuh muka. Dengan tiba‐tiba saya mencium bau busuk yang amat sangat. Serentak dengan itu saya merasakan dinding pondok perigi diraba orang dari luar.
Saya resah tidak menentu.
Kemudian saya merasakan ada orang berdiri di belakang saya.
Saya coba melirik karena keadaan bertambah kabur, saya tidak dapat memastikan dengan tepat siapakah yang berdiri di belakang saya. Perasaan saya cukup cemas.
“Orang baru, mau ambil air sembahyang?” Lubang telinga saya dibisikkan dengan suara perempuan.
Saya lalu menoleh ke belakang. Tidak ada apa-apa yang bisa saya lihat kecuali bau busuk yang cukup hebat. Tengkuk saya jadi berdiri. Tanpa berfikir panjang saya lalu berlari dengan sekuat hati menuju ke rumah.
“Kenapa?” Tanya Kakek sambil melihat wajah saya yang pucat lesi.
“Ada suara perempuan dan bau busuk.”
“Tak apa, itu perkara biasa,” Balas Kakek sambil melirik ke wajah tuan rumah yang berdiri di sebelahnya.
Tuan rumah saya lihat resah tidak menentu.
“Itulah dia!” Tiba‐tiba keluar suara dari mulut tuan rumah.
Tanpa membuang waktu lagi, Kakek mengajak tuan rumah pergi mengambil air sembahyang di perigi. Saya terpaksa tinggal sendirian di rumah.
Untuk menghilangkan rasa takut, saya duduk di atas anak tangga sambil menyanyikan lagu ‘Tudung Periok’.
Saya pasti benar sedang ketakutan. Lagu yang saya nyanyikan lintang pukang tak tentu nadanya. Nada atau iramanya sumbang.
Karena menghiburkan hati yang takut, saya menyanyi terus.
Saya mendengar ayam di reban berketak dengan kuat laksana melihat sesuatu. Kucing kepunyaan tuan rumah lari tidak menentu macam dikejar sesuatu. Suara ayam kian keras dan kemudiannya hilang. Saya mulai tercium bau busuk. Macam ada kelebatan manusia melintas di depan saya.
Dan saya lihat lampu minyak tanah terpasang dengan sendirinya di ruang tengah. Daun jendela tertutup dengan sendirinya.
“Kamu siapa? Apa tujuanmu? Aku rasa, aku adik beradik aku dan suami aku, tak mempunyai saudara jauh macam muka kamu.” Saya mendengar suara perempuan dalam rumah.
Saya terdiam. Kemudian saya terdengar bunyi pinggan mangkuk dan periuk berlaga sesama sendiri di bagian dapur, semacam orang mencari sesuatu. Saya juga mendengar suara perempuan merungut sesuatu. Bau busuk bertambah hebat.
Hari bertambah gelap. Saya tidak sadar bila Kakek dan tuan rumah sudah berada di depan saya.
“Cucuku, mari kita sembahyang,” Kata Kakek. Saya memberitahu Kakek tentang bau busuk dan peristiwa yang saya alami. Kakek tidak peduli. Saya dan tuan rumah lalu sembahyang maghrib diimami oleh Kakek.
Aneh, setelah memberi salam terakhir, bau busuk sudah tiada lagi. Kakek menyuruh tuan rumah turun ke dapur melihat periuk dan pinggan mangkuk. Tuan rumah patuh dengan perintah Kakek.
“Baki nasi saya habis dimakannya, dia membasuh pinggan mangkuk yang kotor,” Dengan wajah yang tenang tuan rumah memberitahu Kakek sesudah memeriksa barang‐barang di dapurnya.
‘Kalau begitu, kau masak nasi sekarang dan masukkan ujung batang tepus ini ke dalamnya,” Ujar Kakek sambil memberi batang tepus yang sudah dipotong sedikit.
Tuan rumah lalu memasak nasi dan menggoreng ikan kering. Bila semuanya sudah siap, saya dan tuan rumah makan. Atas permintaan Kakek, nasi di bagian atas ditinggalkan dalam periuk.
Lebih kurang pukul dua malam, Kakek pun mengejutkan saya dari tidur. Kakek menyalakan api pada sebatang lilin. Uda Lodin yang datang ke rumah itu lepas waktu isya juga dibangunkan oleh Kakek dari tidurnya.
Tuan rumah yang tidur dekat tiang seri, tidak dikejutkan oleh Kakek. Dengkur tuan rumah cukup keras.
Kakek lalu bertafakur setelah mengenakan baju hitam, celana hitam ke badan serta melilitkan kepalanya dengan kain merah sebesar dua jari.
Kemudian dia menyuruh saya mengatur tujuh helai daun sirih di muka pintu. Dia juga menyuruh Uda Lodin meletakkan batang tepus dalam keadaan selang-seling di pintu dapur. Kakek pun menepuk dahi tuan rumah sebanyak tiga kali dan meraba urat lehernya.
“Apa yang kamu buat padanya?” Tanya Uda Lodin pada Kakek.
“Saya menyirep dia supaya tidur terus,” Jawab Kakek pendek sambil mengemas sila duduknya.
Kakek pun menyuruh kami duduk tanpa bergerak.
Kakek ke dapur dan mengambil periuk yang berisi nasi lalu meletakkannya di tiang seri.
Suasana malam itu cukup sepi. Rasa dingin terasa menyentuh kulit muka dan badan. Sekali-kali angin bertiup dengan kuatnya di luar menggugurkan dahan‐dahan pohon yang mati.
Suara jampuk tidak kedengaran, suara burung hantu juga begitu, kecuali suara itik dan ayam di reban, macam melihat sesuatu.
Bau busuk mulai menusuk ke lubang hidung. Kakek lalu membuka pintu. Dalam jarak tiga atau empat kaki dari daun pintu, Kakek membentang kain hitam yang bersegi tiga.
Kakek duduk bersila di situ. Sebatang lagi lilin Kakek nyalakan. Lilin yang baru dibakar sumbunya itu Kakek letakkan betul‐betul di tengah pintu.
Kakek lalu bertafakur. Dia membaca sesuatu. Mendadak, api lilin di tengah pintu padam. Bunyi tapak kaki orang melangkah jelas kedengaran. Kakek bangun sambil mendekap tangan.
“Siapa?” Terdengar suara perempuan.
“Tamu suami kamu.” Jawab Kakek.
“Ada apa?”
“Hanya datang.”
“Aku akan masuk ke rumah. Pergi kau dari situ.”
“Masuklah, ini rumah kamu, tapi nyalakan api lilin yang padam.” Begitu Kakek selesai berbicara, Api lilin yang padam lalu menyala.
Bau busuk bertambah kuat. Muka saya terasa dilekati sesuatu. Saya raba dan cium. Ternyata muka saya dilekati lumpur dari kubur. Baunya juga cukup busuk. Bunyi tapak kaki orang melangkah kian kuat.
Dengan pertolongan cahaya lilin, saya melihat satu makhluk memakai kain putih
yang sudah koyak dan penuh lumpur.
“Kain kafan,” Kata hati saya.
Makhluk itu bagaikan tahu apa yang bergolak dalam hati saya. Lalu sepotong kain kafan yang busuk dicampakkan kepada saya.
Bentuk mukanya tidak dapat saya lihat dengan jelas.
“Aku lapar,” Saya mendengar lagi suara perempuan itu.
“Makanlah!” Sahut Kakek.
Saya lihat periuk nasi bergerak dan saya mendengar suara orang mengunyah sesuatu. Saya menggigit bibir. Uda lodin mendekap lubang hidungnya dengan tangan.
Dalam cahaya yang samar‐samar itu juga, saya melihat makhluk yang berkain kafan kotor menghampiri suaminya. Duduk mencangkung di situ sambil meraba‐raba pipi dan rambut suaminya.
Perempuan itu menangis tersedu‐sedu.
Darah saya tersirap karena jari jemari perempuan itu sudah tidak berdaging lagi. Hanya tulang jari dengan kuku yang panjang jelas kelihatan berlari‐lari atas pipi dan tengkuk suaminya. Beberapa daging lengan dan pahanya yang sudah reput (lapuk, reyot) jatuh ke lantai.
Kakek lalu melompat dan memukul belakang perempuan itu dengan batang tepus tujuh kali. Kakek juga menyuruh Uda Lodin memasang api pada pelita minyak tanah.
Bila pelita sudah dipasang, wajah perempuan itu jelas kelihatan. Matanya sudah berlubang, daging pipinya jatuh satu persatu ke lantai, macam habuk(debu, bubuk) kayu yang baru diketam. Giginya masih kuat dan kelihatan putih bersih.
Saya tidak sanggup memandang wajah yang amat menakutkan itu.
“Apa yang kau lakukan pada suamimu?” Tanya Kakek.
Perempuan itu tidak menjawab. Dia berjalan ke arah periuk nasi. Kedua belah kakinya dikangkangkan dan periuk nasi itu betul‐betul berada di celah kangkangnya.

Beberapa ketul daging yang busuk di bagian punggung jatuh ke dalam periuk tersebut.
Dengan beberapa saat, periuk itu diberikan kepada suaminya.
Seperti ada suatu kekuatan yang luar biasa, suaminya bangun lalu memakan nasi itu dengan lahapnya, kemudian suaminya tidur kembali.
“Kau berikan suamimu nasi tangas?” Tanya Kakek.
“Ya, saya sangat sayang sama dia, saya mau dia mendengar perkataan dari saya dan tidak mencari perempuan lain.”
“Perbuatan ini dikutuk tuhan dan berdosa besar!”
Perempuan itu tidak menjawab. Dia lalu duduk melihat wajah suaminya sambil memukul‐mukul dadanya.
“Dari siapa kau dapat ilmu ini?” Tanya Kakek. Perempuan itu tetap membisu.
Kakek pukul lagi hingga perempuan itu mengakui bahwa dia menuntut ilmu dari seorang perempuan tua yang memang menaruh dendam pada lelaki.
Menurutnya, perempuan itu memang seorang perempuan yang baik. Tetapi suaminya yang kuat berjudi itu selalu memukulnya bila kalah main judi dan bahkan kemudian dia dimadu oleh suaminya dengan seorang perempuan.
Mulai dari hari itulah dia mencari ilmu nasi tangas untuk diberikan pada suaminya. Hingga suaminya jadi bodoh dan tidak bisa menghitung hingga sepuluh kecuali ditunjukkan atau diajarkan olehnya sendiri.
Kakek terdiam. Saya dan Uda Lodin berpandangan sesama sendiri. Saya lihat Kakek membuka kain yang melilit kepalanya. Kakek membuka bajunya dan menyarungkan ke tubuhnya dalam keadaan terbalik.
“Kau tahu, perbuatanmu bertentangan dengan ajaran agama, dan kau tidak diterima bumi. Roh kau ditolak ke dunia merayau‐rayau (berkeliaran) selama empat puluh hari sebelum diumpankan ke neraka.”
“Saya tidak tahu.”
“Suami kau seorang lelaki yang baik. Kenapa kau buat hal begini?” Tanya Kakek lagi.
Perempuan itu diam. Dia coba bangun dan mau menerkam ke arah Kakek. Cepat‐cepat Kakek memukul badannya dengan batang tepus. Ternyata pukulan itu tidak mendatangkan pengaruh.
Dia membuka kain kafannya lalu melemparkannya kepada Kakek. Kakek menahannya dengan kedua belah tangannya hingga kain kapan itu berbalik semula kepadanya.
Kakek kemudian membaca beberapa potong ayat suci sehingga perempuan yang sudah tinggal rangka itu terperosok ke tepi dinding sambil menutup mukanya. Dia kelihatan takut dan cemas sekali.
“Roh engkau tidak akan diterima Allah selagi kau takut minta ampun dan maaf pada suamimu.”
“Memang engkau siapa yang menyuruh aku berbuat begitu?” Balas perempuan itu dengan kuat.
Kakek lalu mengambil sebatang tepus lagi lalu menekan ke dada perempuan itu.
“Engkau setan, engkau setan!” Ujar Kakek sambil membaca beberapa ayat suci lagi.
Ternyata hantu perempuan itu tidak mau mengaku kalah.
Barangkali, rasa sabar Kakek telah hilang. Kakek lalu menepuk kedua belah tangannya. Perempuan itu menjerit seperti kena sesuatu yang panas lalu bersuara minta ampun dari suaminya.
Quote:
Karena setiap kali pertanyaan yang berhubungan dengan isterinya ditanyakan hanya itulah jawaban yang diberikan oleh lelaki itu kepada Kakek.
Akhirnya, Kakek membuat kesimpulan bahwa hubungan lelaki itu dengan isterinya agak terbatas dan penuh rahasia.
Ada rahasia‐rahasia rumah tangga yang disembunyikan oleh si isteri dari pengetahuan suaminya.
“Tak apalah kamu tak tahu. Saya coba berikhtiar mengatasi masalah ini,” Kakek memberikan janji itu kepada lelaki tersebut.
“Memang itulah yang saya harapkan.”
“Kamu pernah bertengkar dengannya?” Tanya Kakek lagi.
“Dulu, saya ini memang liar. Suka beristeri banyak. Isteri saya yang mati itu adalah isteri yang kelima.” Lelaki itu membuka rahasia.
Kakek menggigit bibir. Secara tidak langsung, dia sudah dapat mengetahui rahasia diri lelaki yang nampak cemas itu.
“Isteri yang lain itu, ke mana perginya?”
“Semua saya ceraikan. Tetapi dengan isteri yang baru meninggal ini saya tak sanggup berbuat begitu.”
“Kenapa?”
“Saya tak tahu. Saya cukup sayang dan akur mendengar perintahnya. Ada kalanya, saya jadi bodoh bila berhadapan dengannya.”
“Begitu.” Suara Kakek lembut.
Dan Kakek tidak meneruskan sembarang pertanyaan terhadap diri lelaki itu.
Quote:
Karena waktu Maghrib sudah tiba, Kakek menyuruh saya mengambil air sembahyang di perigi. Saya lantas memberitahu Kakek bahwa saya lebih senang mengambil air sembahyang bersamanya.
“Kenapa?” Tanya Kakek.
“Periginya jauh, Kek. Saya merasa seram.”
“Pergi! Tidak ada benda yang mesti kau takutkan,” Nada suara Kakek yang keras sungguh menciutkan hati.
Saya tidak ada pilihan lain. Saya terpaksa pergi. Berdebar juga hati saya bila memijak bumi di tengah cahaya yang sama‐samar itu.
Yang lebih menakutkan, sepanjang jalan menuju ke perigi, terdapat beberapa pohon Beringin yang besar dan akar berjuntaian.
Angin pun ketika itu tidak bertiup. Beberapa ekor burung gagak liar terbang rendah pulang ke sarang sambil berbunyi. Bunyi gagak itu saya amat‐amati macam bunyi orang menyobek kain kafan.
Saya tahu, kalau saya berputar balik, tentu Kakek naik darah.
Saya lalu melangkah. Langkah kaki saya bak kena setrum bila seekor kucing hutan melompat di hadapan saya. Sebelum kucing hutan itu melompat ke dalam hutan, kucing itu melihat saya sambil membuka mulutnya dengan lebar bersama suara yang nyaring dan kuat.
Hari bertambah gelap. Pondok perigi nampak samar-samar di depan. Saya berlari dan terus masuk ke dalam pondok perigi yang berdindingkan tepus ( Achasma megalacheilos ) tanpa atap. Pepohonan rumbia (palm) yang berdiri berdekatan pondok perigi kelihatan kaku dan menakutkan.
Saya lalu membaca niat dan membasuh muka. Dengan tiba‐tiba saya mencium bau busuk yang amat sangat. Serentak dengan itu saya merasakan dinding pondok perigi diraba orang dari luar.
Saya resah tidak menentu.
Kemudian saya merasakan ada orang berdiri di belakang saya.
Spoiler for kira-kira:
Saya coba melirik karena keadaan bertambah kabur, saya tidak dapat memastikan dengan tepat siapakah yang berdiri di belakang saya. Perasaan saya cukup cemas.
Quote:
“Orang baru, mau ambil air sembahyang?” Lubang telinga saya dibisikkan dengan suara perempuan.
Saya lalu menoleh ke belakang. Tidak ada apa-apa yang bisa saya lihat kecuali bau busuk yang cukup hebat. Tengkuk saya jadi berdiri. Tanpa berfikir panjang saya lalu berlari dengan sekuat hati menuju ke rumah.
“Kenapa?” Tanya Kakek sambil melihat wajah saya yang pucat lesi.
“Ada suara perempuan dan bau busuk.”
“Tak apa, itu perkara biasa,” Balas Kakek sambil melirik ke wajah tuan rumah yang berdiri di sebelahnya.
Tuan rumah saya lihat resah tidak menentu.
“Itulah dia!” Tiba‐tiba keluar suara dari mulut tuan rumah.
Tanpa membuang waktu lagi, Kakek mengajak tuan rumah pergi mengambil air sembahyang di perigi. Saya terpaksa tinggal sendirian di rumah.
Untuk menghilangkan rasa takut, saya duduk di atas anak tangga sambil menyanyikan lagu ‘Tudung Periok’.
Saya pasti benar sedang ketakutan. Lagu yang saya nyanyikan lintang pukang tak tentu nadanya. Nada atau iramanya sumbang.
Karena menghiburkan hati yang takut, saya menyanyi terus.
Saya mendengar ayam di reban berketak dengan kuat laksana melihat sesuatu. Kucing kepunyaan tuan rumah lari tidak menentu macam dikejar sesuatu. Suara ayam kian keras dan kemudiannya hilang. Saya mulai tercium bau busuk. Macam ada kelebatan manusia melintas di depan saya.
Dan saya lihat lampu minyak tanah terpasang dengan sendirinya di ruang tengah. Daun jendela tertutup dengan sendirinya.
“Kamu siapa? Apa tujuanmu? Aku rasa, aku adik beradik aku dan suami aku, tak mempunyai saudara jauh macam muka kamu.” Saya mendengar suara perempuan dalam rumah.
Saya terdiam. Kemudian saya terdengar bunyi pinggan mangkuk dan periuk berlaga sesama sendiri di bagian dapur, semacam orang mencari sesuatu. Saya juga mendengar suara perempuan merungut sesuatu. Bau busuk bertambah hebat.
Quote:
Hari bertambah gelap. Saya tidak sadar bila Kakek dan tuan rumah sudah berada di depan saya.
“Cucuku, mari kita sembahyang,” Kata Kakek. Saya memberitahu Kakek tentang bau busuk dan peristiwa yang saya alami. Kakek tidak peduli. Saya dan tuan rumah lalu sembahyang maghrib diimami oleh Kakek.
Aneh, setelah memberi salam terakhir, bau busuk sudah tiada lagi. Kakek menyuruh tuan rumah turun ke dapur melihat periuk dan pinggan mangkuk. Tuan rumah patuh dengan perintah Kakek.
“Baki nasi saya habis dimakannya, dia membasuh pinggan mangkuk yang kotor,” Dengan wajah yang tenang tuan rumah memberitahu Kakek sesudah memeriksa barang‐barang di dapurnya.
‘Kalau begitu, kau masak nasi sekarang dan masukkan ujung batang tepus ini ke dalamnya,” Ujar Kakek sambil memberi batang tepus yang sudah dipotong sedikit.
Tuan rumah lalu memasak nasi dan menggoreng ikan kering. Bila semuanya sudah siap, saya dan tuan rumah makan. Atas permintaan Kakek, nasi di bagian atas ditinggalkan dalam periuk.
Lebih kurang pukul dua malam, Kakek pun mengejutkan saya dari tidur. Kakek menyalakan api pada sebatang lilin. Uda Lodin yang datang ke rumah itu lepas waktu isya juga dibangunkan oleh Kakek dari tidurnya.
Tuan rumah yang tidur dekat tiang seri, tidak dikejutkan oleh Kakek. Dengkur tuan rumah cukup keras.
Kakek lalu bertafakur setelah mengenakan baju hitam, celana hitam ke badan serta melilitkan kepalanya dengan kain merah sebesar dua jari.
Kemudian dia menyuruh saya mengatur tujuh helai daun sirih di muka pintu. Dia juga menyuruh Uda Lodin meletakkan batang tepus dalam keadaan selang-seling di pintu dapur. Kakek pun menepuk dahi tuan rumah sebanyak tiga kali dan meraba urat lehernya.
“Apa yang kamu buat padanya?” Tanya Uda Lodin pada Kakek.
“Saya menyirep dia supaya tidur terus,” Jawab Kakek pendek sambil mengemas sila duduknya.
Quote:
Kakek pun menyuruh kami duduk tanpa bergerak.
Kakek ke dapur dan mengambil periuk yang berisi nasi lalu meletakkannya di tiang seri.
Suasana malam itu cukup sepi. Rasa dingin terasa menyentuh kulit muka dan badan. Sekali-kali angin bertiup dengan kuatnya di luar menggugurkan dahan‐dahan pohon yang mati.
Suara jampuk tidak kedengaran, suara burung hantu juga begitu, kecuali suara itik dan ayam di reban, macam melihat sesuatu.
Bau busuk mulai menusuk ke lubang hidung. Kakek lalu membuka pintu. Dalam jarak tiga atau empat kaki dari daun pintu, Kakek membentang kain hitam yang bersegi tiga.
Kakek duduk bersila di situ. Sebatang lagi lilin Kakek nyalakan. Lilin yang baru dibakar sumbunya itu Kakek letakkan betul‐betul di tengah pintu.
Kakek lalu bertafakur. Dia membaca sesuatu. Mendadak, api lilin di tengah pintu padam. Bunyi tapak kaki orang melangkah jelas kedengaran. Kakek bangun sambil mendekap tangan.
“Siapa?” Terdengar suara perempuan.
“Tamu suami kamu.” Jawab Kakek.
“Ada apa?”
“Hanya datang.”
“Aku akan masuk ke rumah. Pergi kau dari situ.”
“Masuklah, ini rumah kamu, tapi nyalakan api lilin yang padam.” Begitu Kakek selesai berbicara, Api lilin yang padam lalu menyala.
Bau busuk bertambah kuat. Muka saya terasa dilekati sesuatu. Saya raba dan cium. Ternyata muka saya dilekati lumpur dari kubur. Baunya juga cukup busuk. Bunyi tapak kaki orang melangkah kian kuat.
Dengan pertolongan cahaya lilin, saya melihat satu makhluk memakai kain putih
yang sudah koyak dan penuh lumpur.
Quote:
“Kain kafan,” Kata hati saya.
Makhluk itu bagaikan tahu apa yang bergolak dalam hati saya. Lalu sepotong kain kafan yang busuk dicampakkan kepada saya.
Bentuk mukanya tidak dapat saya lihat dengan jelas.
“Aku lapar,” Saya mendengar lagi suara perempuan itu.
“Makanlah!” Sahut Kakek.
Saya lihat periuk nasi bergerak dan saya mendengar suara orang mengunyah sesuatu. Saya menggigit bibir. Uda lodin mendekap lubang hidungnya dengan tangan.
Dalam cahaya yang samar‐samar itu juga, saya melihat makhluk yang berkain kafan kotor menghampiri suaminya. Duduk mencangkung di situ sambil meraba‐raba pipi dan rambut suaminya.
Perempuan itu menangis tersedu‐sedu.
Darah saya tersirap karena jari jemari perempuan itu sudah tidak berdaging lagi. Hanya tulang jari dengan kuku yang panjang jelas kelihatan berlari‐lari atas pipi dan tengkuk suaminya. Beberapa daging lengan dan pahanya yang sudah reput (lapuk, reyot) jatuh ke lantai.
Kakek lalu melompat dan memukul belakang perempuan itu dengan batang tepus tujuh kali. Kakek juga menyuruh Uda Lodin memasang api pada pelita minyak tanah.
Bila pelita sudah dipasang, wajah perempuan itu jelas kelihatan. Matanya sudah berlubang, daging pipinya jatuh satu persatu ke lantai, macam habuk(debu, bubuk) kayu yang baru diketam. Giginya masih kuat dan kelihatan putih bersih.
Saya tidak sanggup memandang wajah yang amat menakutkan itu.
“Apa yang kau lakukan pada suamimu?” Tanya Kakek.
Perempuan itu tidak menjawab. Dia berjalan ke arah periuk nasi. Kedua belah kakinya dikangkangkan dan periuk nasi itu betul‐betul berada di celah kangkangnya.
Spoiler for kira-kira:

Beberapa ketul daging yang busuk di bagian punggung jatuh ke dalam periuk tersebut.
Dengan beberapa saat, periuk itu diberikan kepada suaminya.
Seperti ada suatu kekuatan yang luar biasa, suaminya bangun lalu memakan nasi itu dengan lahapnya, kemudian suaminya tidur kembali.
“Kau berikan suamimu nasi tangas?” Tanya Kakek.
“Ya, saya sangat sayang sama dia, saya mau dia mendengar perkataan dari saya dan tidak mencari perempuan lain.”
“Perbuatan ini dikutuk tuhan dan berdosa besar!”
Perempuan itu tidak menjawab. Dia lalu duduk melihat wajah suaminya sambil memukul‐mukul dadanya.
“Dari siapa kau dapat ilmu ini?” Tanya Kakek. Perempuan itu tetap membisu.
Quote:
Kakek pukul lagi hingga perempuan itu mengakui bahwa dia menuntut ilmu dari seorang perempuan tua yang memang menaruh dendam pada lelaki.
Menurutnya, perempuan itu memang seorang perempuan yang baik. Tetapi suaminya yang kuat berjudi itu selalu memukulnya bila kalah main judi dan bahkan kemudian dia dimadu oleh suaminya dengan seorang perempuan.
Mulai dari hari itulah dia mencari ilmu nasi tangas untuk diberikan pada suaminya. Hingga suaminya jadi bodoh dan tidak bisa menghitung hingga sepuluh kecuali ditunjukkan atau diajarkan olehnya sendiri.
Kakek terdiam. Saya dan Uda Lodin berpandangan sesama sendiri. Saya lihat Kakek membuka kain yang melilit kepalanya. Kakek membuka bajunya dan menyarungkan ke tubuhnya dalam keadaan terbalik.
“Kau tahu, perbuatanmu bertentangan dengan ajaran agama, dan kau tidak diterima bumi. Roh kau ditolak ke dunia merayau‐rayau (berkeliaran) selama empat puluh hari sebelum diumpankan ke neraka.”
“Saya tidak tahu.”
“Suami kau seorang lelaki yang baik. Kenapa kau buat hal begini?” Tanya Kakek lagi.
Perempuan itu diam. Dia coba bangun dan mau menerkam ke arah Kakek. Cepat‐cepat Kakek memukul badannya dengan batang tepus. Ternyata pukulan itu tidak mendatangkan pengaruh.
Dia membuka kain kafannya lalu melemparkannya kepada Kakek. Kakek menahannya dengan kedua belah tangannya hingga kain kapan itu berbalik semula kepadanya.
Kakek kemudian membaca beberapa potong ayat suci sehingga perempuan yang sudah tinggal rangka itu terperosok ke tepi dinding sambil menutup mukanya. Dia kelihatan takut dan cemas sekali.
“Roh engkau tidak akan diterima Allah selagi kau takut minta ampun dan maaf pada suamimu.”
“Memang engkau siapa yang menyuruh aku berbuat begitu?” Balas perempuan itu dengan kuat.
Kakek lalu mengambil sebatang tepus lagi lalu menekan ke dada perempuan itu.
“Engkau setan, engkau setan!” Ujar Kakek sambil membaca beberapa ayat suci lagi.
Ternyata hantu perempuan itu tidak mau mengaku kalah.
Barangkali, rasa sabar Kakek telah hilang. Kakek lalu menepuk kedua belah tangannya. Perempuan itu menjerit seperti kena sesuatu yang panas lalu bersuara minta ampun dari suaminya.
Diubah oleh mufidfathul 01-05-2017 17:11
ciptoroso dan erman123 memberi reputasi
2
Kutip
Balas
Tutup