- Beranda
- Stories from the Heart
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
...
TS
pakdhegober
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
Assalamualaikum, semoga agan dan aganwati semua sehat, punya pacar dan enggak kehabisan uang.
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Spoiler for Prolog:
Quote:
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 112 suara
Part bagusnya pake foto ilustrasi apa nggak?
Pake, biar makin ngefeel
42%
nggak usah, ane penakut
11%
terserah TS, yang penting gak kentang
47%
Diubah oleh pakdhegober 14-05-2022 11:55
bebyzha dan 141 lainnya memberi reputasi
128
1.2M
3.4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pakdhegober
#2
Part 2: Perkenalan
Rumah ini rupanya memiliki basement yang terdiri atas beberapa kamar. Lain dari bentuknya yang bagus dari luar, kamar basement tidak cukup terawat. Ada kamar mandi besar untuk bersama, namun airnya menggenang semata kaki. Aku pastikan itu bukan kamar mandi yang berguna. Padahal ada bathub lengkap dengan mesin pemanas di dalamnya.
Kuperhatikan kamar mandi itu. Hmm, memang sudah tidak berfungsi. Bahkan lampunya dibiarkan pecah.
"Mari Mas, naik ke sini," pria tua itu kembali menunjukkan suaranya yang tenang.
Wina sudah di atas rupanya. Aku ikut menaiki tangga besi spiral. Kelihatannya Wina tak mengacuhkan apa-apa di rumah ini.
"Yang, agak-agak gimana nggak, sih?"
Aku tak paham benar ucapan Wina, balik bertanya, "Agak jorok ya? Iya sih, kamar mandinya pun begitu."
"Maksudnya agak horor, bukan?" Wina mengatakan itu sambil tak mau melepas menatapku.
Astaga! kenapa dia berpikir sejauh itu. Aku hanya menggeleng, sialnya dia justru menuntut kepastian. Ia pikir memangnya aku pintar soal beginian, protesku dalam hati.
Pertanyaan Wina terputus oleh gonggongan anjing. Pria yang tadi membuka pintu. Kami masuk ke sebuah ruangan yang lain. Lebih besar, lebih rapi, dan lebih bersih. Bangunannya kombinasi kayu dan semen. Lantainya granit, tampak mengkilap. Ceiling tinggi dan, oh, ada semacam mezanin dengan beberapa kamar tampaknya.
Aku dan Wina sama-sama menatap takjub bercampur penasaran; seperti apa kamar yang kosong itu.
Tetapi anjing itu tak berhenti menyalak. Badannya kuntet saja, jenis mini pom, tetapi agresif dan agak-agaknya tak segan menyerang. Lantaran baru pertama kali mengendus bau kami, pertemuan ini pasti istimewa buatnya. Aku hanya mematung, karena dasar takut anjing. Wina lebih berani, dibantu pengalamannya pernah memelihara.
Akhirnya ada seorang perempuan muncul dari sebuah ruangan di bawah. Raut wajahnya lugas, kakinya yang jenjang melangkah cepat untuk mengusir unyil, kali ini aku sudah tahu nama anjing itu.
"Silakan naik, mas, maaf si unyil memang lincah kalau ketemu orang baru," perempuan itu berusaha mengatasi kecemasanku.
Kamarnya di mezanin ternyata. Wina berjalan mengiringi aku. Ada tangga kayu, jati pula penampakannya. Tangga ini sedikit melengkung, di ujungnya ditutup pintu ala koboi. Bunyinya khas sekali. Hap! Lega sudah meninggalkan si unyil. Nafasku lebih teratur sekarang.
"Kamu takut banget gitu sama anjing?" Wina terkekeh puas, mungkin akan meledak kalau berada di luar. Ya, kami baru satu bulan berpacaran, belum cukup kenal. Aku biarkan saja dia meledek ketakutanku.
Pria itu membuka kamar di depan tangga. Tanpa masuk aku sudah mengira luas kamar ini. Pertanyaan Wina di depan pagar sekarang kuulang pada diri sendiri, apa tidak mahal?
Benar saja, kamar ini bukan main besar untuk Wina dan barangkali koceknya. Kira-kira luasnya 28 meter persegi, springbed nomor 1, meja rias dan...Apa!? Aku Cumiik dalam hati. Kamar ini memiliki lemari tanam. Bahkan terdapat meja santai model bulat. Dan semua furniture yang tersebut tadi berbahan jati.
Wina melihat-lihat semua bidang, sepertinya ia merasa ada yang kurang.
"Kamar mandi di sini bersama, ada di sebelah," kata pria itu seakan-akan baru membedah isi kepala Wina.
"Ada berapa kamar di sini, pak?" tanya Wina.
"Cuma 4 di atas ini, kalau bawah dan basement punya sendiri."
Bapak itu keluar dari kamar, meninggalkan Wina dan aku. Tapi kupikir perlu membuat perkenalan dengan pria yang bersikap seperti penjaga rumah kos itu. Maka aku juga meninggalkan Wina sendiri memeriksa kamar.
Wi, demikian ia memanggil diri sendiri. Wi? Aku mengulang di hati. Singkat begini namanya. Untung hidupnya tiga kali lebih lama dari usiaku sekarang. Jadi aku memanggilnya Pak Wi. Dengan begitu namanya sedikit lebih panjang.
"Panggil saja Wi," dia mengejutkanku. Ah, ini hanya caranya membuat perkenalan lebih cair, bukan. Senyumku mengembang tipis untuk menghormati selera humor Pak Wi.
"Kalau kami orang-orang dalem selalu muda, walaupun saya sedikit lagi kepala tujuh." ucapannya yang ini datar. Tetapi aku segera menyadari bahwa tebakanku tentang umurnya salah.
Pak Wi mencabut rokok sebatang lalu membakarnya. Isapan rokoknya tandas. Kretek berbungkus merah. Dia menawarkan tetapi kutolak halus.
Apa maksudnya barusan? Atau memang begini caranya mengobrol dengan orang baru?
"Jadi Pak Wi masih abdi dalem keraton?"
Aku tidak yakin atas pertanyaanku sendiri. Bagaimana pun, percakapan harus dihormati.
Dia terkekeh nyaris tak terdengar tanpa menatapku. Aku bersandar di pagar kayu yang membatasi mezanin kemudian ikut membakar rokok. Dengan segera saja asap berkepul merayapi rumah ini.
"Ini kamar paling bagus," Pak Wi mulai mengerahkan jurus menjual, tangannya yang mengapit rokok tak mau jauh dari mulut. "Udara adem di dalam, makanya kami tak pasang AC di sini."
Terang saja, aku tertarik. Namun yang paling berhak memutuskan Wina.
"Omong-omong, berapa sewanya?"
"600 ribu."
Tidak mungkin! Aku tak percaya kata-katanya. Oh, mungkin maksudnya untuk satu pekan. Kudengar beberapa indekos mewah bisa disewa tujuh harian. Jadi kemudian kupastikan, "Kalau sebulan berapa?"
"Memang ada yang sewa mingguan?" Pak Wi bertanya balik sembari tersipu. Jelas sekali dia menganggap aku lucu.
"Maksud saya..."
"Kalau mau ditawar ya monggo saja," Pak Wi menyela kalimatnya demi menghisap kretek, "Nanti saya bilang ke Non Fani."
Pikiranku jadi rumit. Enteng benar dia berkata begitu. Sebenarnya penjaga kos macam apa dia ini. Pertanyaan seperti itu mulai tumbuh. Non Fani? Aku melirik ke bawah, perempuan yang tadi menahan si unyil duduk di meja makan sambil menimang bayi. Usianya kira-kira baru masuk 30.
Entah siapa yang membisiki, wanita bernama Fani itu mendongak, menangkap basah mataku yang sedang meliriknya. Aku langsung memalingkan wajah.
"Bagaimana? Sudah mantap atau masih pikir-pikir?" Pak Wi membimbingku ke pembicaraan awal.
"Ehmm, yaa..sebenarnya..."
Brakk!
Ucapanku yang tidak tentu terpotong suara barusan. Nyata-nyata itu dari kamar kosong di depanku. Tidak salah, teriakan Wina terdengar nyaring. Pasti ia kaget, aku langsung masuk ke dalam.
Rupanya bunyi jendela terhempas angin. Kudapati Wina mengelus dada sambil mengatur nafas. Aku menghampiri jendela.
"Gede banget kamarnya, bagus! Tapi..." Langkahnya terdengar menghampiriku. Jendela kubuka, sekali ini aku menahannya dengan pengait. Aneh, tidak terasa angin dari luar sana.
Ketika melihat Wina, aku kaget wajahnya berkeringat jagung.
"Kamu kenapa?"
"Kaget!" tangannya mengelap keringat, "Lagi gerah banget, ya. "
"Selain itu?" kupikir dia menemukan sesuatu yang mencurigakan.
"Maksudnya? Kamu sudah tanya harganya?"
Aku mengatakan yang kutahu. Ia terperanjat, semua orang pasti setuju harga sewanya terlalu murah.
"Jangan-jangan..."
"Hush, ngaco!" Aku mencegahnya dari berpikir yang aneh-aneh.
"Terus apa lagi alasannya?"
Wina tahu itu tidak perlu dijawab. Ia meninggalkan kamar, sepertinya melihat-lihat kamar mandi.
Tak lama kemudian aku seperti mendapat petunjuk untuk menjawab pertanyaannya. Kebetulan saja aku membuka laci meja rias dan...
Aku menemukan setangkai mawar. Masih segar, kelopaknya mulus, durinya tegak.
Ini bukan mawar dari toko bunga. Ini kembang yang baru dipetik.
Organ di dalam kepalaku berdenyut. Tidak, ini masih bisa dijelaskan. Bukannya aku menihilkan gaib. Sebaliknya, sangat percaya. Tetapi aku lebih suka mendahulukan nalar.
Sebentar saja aku menemukan alasan. Bisa saja kamar ini baru kosong pagi tadi, apa salahnya?
Kututup kembali laci meja rias. Benda ini masih begitu bagus. Lidahku berdecak mengagumi kayu ukir tanpa cela seraya mengelus furniture ini. Namun yang selanjutnya membuat tengkukku berdesir.
Aku membalikkan telapak tangan. Kesat! Debu tebal menempel di situ. Dengan sendirinya aku mundur menjauh dari meja rias.
Sesuatu di cermin menarik langkahku kembali maju. Itu...aku tak yakin, tapi kakiku menurut begitu saja ke depan.
Kaca rias ini berselimut debu. Aku berupaya mengumpulkan nalar, tetapi sangat sulit. Tangkai mawar yang segar dan meja rias penuh debu. Sengkarut.
Didorong penasaran, kuseka cermin rias itu. Benar, aku bisa melihat jelas bekas telapak tanganku di sana. Sekaanku semakin luas, hingga berhenti seketika. Sebuah bayangan putih mendekat, berdiri di pintu. Badanku mulai lemas.
"Gimana, mas? Apa masih mau pikir-pikir?"
Kuhela nafasku sedalam mungkin bersama kesadaran yang kembali pulih. Ternyata itu Pak Wi. Ya Tuhan, padahal amat jelas di cermin, kenapa aku bereaksi berlebihan?
Belum sempat menjawab, Pak Wi meninggalkan kamar. Aku diam-diam malu mengingat reaksi barusan. Setelah sadar aku meninggalkan kamar menyusul Wina.
Tampak olehku sekilas, Pak Wi tengah memandangi sebuah lukisan yang terpaku di dinding luar kamar ini. Itu urusannya, tak baik terlalu ikut campur.
Kamar mandi bersebelahan persis dengan kamar yang kosong. Pintunya berderit saat dibuka. Wina sesaat langsung menarik lenganku, mengajak bicara serius.
"Yakin tinggal di sini?"
Aku mengangkat bahu, "Kamu yang paling tahu."
"Aku butuh pertimbangan," ucapannya serius.
"Kamu juga sudah tertarik, lagi pula murah."
"Kayanya tempat ini agak freak deh."
Sekarang ini aku tak menepis firasatnya. Apakah itu pertanda nalarku mulai lemah, entahlah. Tetapi egoku harus dibela. Jujur saja, mencari kos baru mulai membuatku lelah. Aku harus meyakinkan Wina, harus!
"Aku juga sempat berpikir sama," aku memulai.
"Tuh kan. Cari yang lain saja?"
"Tapi kalau horor, kenapa kamarnya penuh?"
Ia tak menjawab. Ini kesempatanku membuatnya yakin.
"Tadi aku ngobrol sama Pak Wi, bapak yang tua tadi. Katanya penghuni di sini anak lama semua."
Wina menatapku tajam, menuntut arah yang lebih lugas. Yang barusan kukatakan sebetulnya menebak saja, berbohong.
"Kamu sendiri bilang teman kamu si Ruben sudah tinggal di sini 2 tahun."
"Jadi, ambil saja?"
Aku hanya menjawab dengan isyarat wajah, tetapi ia mengerti. Kemudian Wina keluar kamar mandi, meninggalkanku sendirian.
Ruangan yang satu ini juga cukup luas. Masih porselen lama. Sayangnya bak air sudah bocor, aku memastikannya dari sebuah ember besar penuh air di samping bak. Sedangkan klosetnya model duduk generasi terdahulu tanpa tombol flush.
Sepertinya kamar mandi ini tidak terlalu mengganggu. Buktinya aku mendadak kebelet buang air. Dengan cepat aku mengatasinya, hufft, bisa-bisanya urine ini minta dikeluarkan tanpa aba-aba. Tetapi aku ingat kata-kata salah seorang temanku yang berdarah Sunda, “Kalau ke tempat baru tahu-tahu kebelet dan numpang buang di situ, tandanya bakal kembali lagi.”
Selesai hajat aku bergegas keluar. Sial, dari tadi pintu kubiarkan terbuka sedikit. Aku memaki ketidak sopananku.
Langkahku kian mendekati pintu, namun ada seseorang yang menariknya dari luar hingga tertutup rapat. Aku bisa mendengar langkahnya yang tipis. Bukan main malu diri ini. Apalagi jika itu Wina.
Beberapa detik kemudian aku keluar. Tidak ada siapa-siapa rupanya. Pandanganku berpaling ke kiri, terdapat tiga kamar yang tertutup, satu di antaranya digembok dari luar.
Kini aku hampir berani membenarkan Wina tentang firasatnya.
Aku mencari Wina di kamar yang bakal disewa. Kosong semata-mata kosong. Sayup-sayup suara Wina terdengar. Kuhampiri suara itu, ia sudah di bawah. Bagaimana ceritanya!?
Kedua kaki ini segera menyusulnya. Pintu koboy sekali lagi beradu, menimbulkan bunyi tersendiri. Pertahanan diriku kembali kususun, Wina tak mengenali kepanikan di wajahku. Meski tak mudah, aku mencoba tenang, tetapi lebih irit bicara. Kudengar Wina bertanya menusuk pada Pak Wi.
"Pak, rumah ini sepertinya agak menakutkan, ya?"
Sungguh pertanyaan yang tidak terduga. Namun Pak Wi terlihat begitu tenang. Ia mendekatkan wajahnya pada Wina, berkata dengan suara pelan, bahkan lebih pantas disebut lirih, "Ketakutan itu datangnya hanya dari diri sendiri saja."
Kami mematung seperti baru digendam. Kurang ajar betul kalimat misterius itu. Namun Pak Wi tak mengubah sikapnya, malah berjalan mengantarkan kami keluar. Melintasi ruang makan, aku melihat Mbak Fani sibuk di dapur. Ia melempar senyum dari parasnya yang tegas, dan tentu saja kubalas. Bahkan aku menahan pandangan lebih lama sambil terus berjalan, hingga sosoknya hilang.
Suara anjing mungil yang sok gagah itu kembali memecah nyaliku. Ia menyalak dengan suara parau. Mbak Fani hanya memanggil namanya berulang-ulang, mungkin tanggung memasak.
Kupercepat langkah dan akhirnya menggapai pintu. Namun aku baru menyadari sesuatu yang tidak biasa. Si unyil tidak menggonggong padaku, melainkan ke sebuah taman air di bawah tangga. Ekornya berkibas tak teratur. Dan suaranya itu masih keras sampai kami sudah meninggalkan ruangan utama.
Di luar pagar, Pak Wi sekali lagi meminta kejelasan. Dia sungguh pandai menuntut. Wina berjanji memastikan kabarnya besok. Tetapi ada yang perlu kutanyakan tentang penghuni kamar yang terdahulu. Kemudian jawaban yang kuterima begini.
"Saya yang tinggal di kamar itu. Tapi sementara saja, kira-kira baru 3 minggu. Cuma buat tidur di sana, sekalian simpan beberapa baju. Kamar saya mau direnovasi, itu di sana," Pak Wi menunjukkan dengan ibu jari.
Penjelasan itu menimbulkan prasangka buruk. Apalagi baru sekarang ia berkata panjang.
"Tetapi bapak suka..." aku menghentikan pertanyaan soal mawar itu, "bapak suka anjing?"
Ini pertanyaan kampungan dan Pak Wi cuma tersenyum tipis. Kami pun segera meminta diri dan mengucapkan terima kasih. Ia tersenyum sekali lagi dan hilang di balik pagar hitam.
Beberapa langkah kuayun, Suara Pak Wi menembang di telingaku, "Wernomu abang...lambangke kekendelan."
Aku tahu ia baru saja mengatakan tentang bunga mawar.
(Bunga mawar itu layu, si unyil akhirnya tidak lagi berisik. Namun aku melihat lebih banyak kembang di dalam cawan)
Rumah ini rupanya memiliki basement yang terdiri atas beberapa kamar. Lain dari bentuknya yang bagus dari luar, kamar basement tidak cukup terawat. Ada kamar mandi besar untuk bersama, namun airnya menggenang semata kaki. Aku pastikan itu bukan kamar mandi yang berguna. Padahal ada bathub lengkap dengan mesin pemanas di dalamnya.
Kuperhatikan kamar mandi itu. Hmm, memang sudah tidak berfungsi. Bahkan lampunya dibiarkan pecah.
"Mari Mas, naik ke sini," pria tua itu kembali menunjukkan suaranya yang tenang.
Wina sudah di atas rupanya. Aku ikut menaiki tangga besi spiral. Kelihatannya Wina tak mengacuhkan apa-apa di rumah ini.
"Yang, agak-agak gimana nggak, sih?"
Aku tak paham benar ucapan Wina, balik bertanya, "Agak jorok ya? Iya sih, kamar mandinya pun begitu."
"Maksudnya agak horor, bukan?" Wina mengatakan itu sambil tak mau melepas menatapku.
Astaga! kenapa dia berpikir sejauh itu. Aku hanya menggeleng, sialnya dia justru menuntut kepastian. Ia pikir memangnya aku pintar soal beginian, protesku dalam hati.
Pertanyaan Wina terputus oleh gonggongan anjing. Pria yang tadi membuka pintu. Kami masuk ke sebuah ruangan yang lain. Lebih besar, lebih rapi, dan lebih bersih. Bangunannya kombinasi kayu dan semen. Lantainya granit, tampak mengkilap. Ceiling tinggi dan, oh, ada semacam mezanin dengan beberapa kamar tampaknya.
Aku dan Wina sama-sama menatap takjub bercampur penasaran; seperti apa kamar yang kosong itu.
Tetapi anjing itu tak berhenti menyalak. Badannya kuntet saja, jenis mini pom, tetapi agresif dan agak-agaknya tak segan menyerang. Lantaran baru pertama kali mengendus bau kami, pertemuan ini pasti istimewa buatnya. Aku hanya mematung, karena dasar takut anjing. Wina lebih berani, dibantu pengalamannya pernah memelihara.
Akhirnya ada seorang perempuan muncul dari sebuah ruangan di bawah. Raut wajahnya lugas, kakinya yang jenjang melangkah cepat untuk mengusir unyil, kali ini aku sudah tahu nama anjing itu.
"Silakan naik, mas, maaf si unyil memang lincah kalau ketemu orang baru," perempuan itu berusaha mengatasi kecemasanku.
Kamarnya di mezanin ternyata. Wina berjalan mengiringi aku. Ada tangga kayu, jati pula penampakannya. Tangga ini sedikit melengkung, di ujungnya ditutup pintu ala koboi. Bunyinya khas sekali. Hap! Lega sudah meninggalkan si unyil. Nafasku lebih teratur sekarang.
"Kamu takut banget gitu sama anjing?" Wina terkekeh puas, mungkin akan meledak kalau berada di luar. Ya, kami baru satu bulan berpacaran, belum cukup kenal. Aku biarkan saja dia meledek ketakutanku.
Pria itu membuka kamar di depan tangga. Tanpa masuk aku sudah mengira luas kamar ini. Pertanyaan Wina di depan pagar sekarang kuulang pada diri sendiri, apa tidak mahal?
Benar saja, kamar ini bukan main besar untuk Wina dan barangkali koceknya. Kira-kira luasnya 28 meter persegi, springbed nomor 1, meja rias dan...Apa!? Aku Cumiik dalam hati. Kamar ini memiliki lemari tanam. Bahkan terdapat meja santai model bulat. Dan semua furniture yang tersebut tadi berbahan jati.
Wina melihat-lihat semua bidang, sepertinya ia merasa ada yang kurang.
"Kamar mandi di sini bersama, ada di sebelah," kata pria itu seakan-akan baru membedah isi kepala Wina.
"Ada berapa kamar di sini, pak?" tanya Wina.
"Cuma 4 di atas ini, kalau bawah dan basement punya sendiri."
Bapak itu keluar dari kamar, meninggalkan Wina dan aku. Tapi kupikir perlu membuat perkenalan dengan pria yang bersikap seperti penjaga rumah kos itu. Maka aku juga meninggalkan Wina sendiri memeriksa kamar.
Wi, demikian ia memanggil diri sendiri. Wi? Aku mengulang di hati. Singkat begini namanya. Untung hidupnya tiga kali lebih lama dari usiaku sekarang. Jadi aku memanggilnya Pak Wi. Dengan begitu namanya sedikit lebih panjang.
"Panggil saja Wi," dia mengejutkanku. Ah, ini hanya caranya membuat perkenalan lebih cair, bukan. Senyumku mengembang tipis untuk menghormati selera humor Pak Wi.
"Kalau kami orang-orang dalem selalu muda, walaupun saya sedikit lagi kepala tujuh." ucapannya yang ini datar. Tetapi aku segera menyadari bahwa tebakanku tentang umurnya salah.
Pak Wi mencabut rokok sebatang lalu membakarnya. Isapan rokoknya tandas. Kretek berbungkus merah. Dia menawarkan tetapi kutolak halus.
Apa maksudnya barusan? Atau memang begini caranya mengobrol dengan orang baru?
"Jadi Pak Wi masih abdi dalem keraton?"
Aku tidak yakin atas pertanyaanku sendiri. Bagaimana pun, percakapan harus dihormati.
Dia terkekeh nyaris tak terdengar tanpa menatapku. Aku bersandar di pagar kayu yang membatasi mezanin kemudian ikut membakar rokok. Dengan segera saja asap berkepul merayapi rumah ini.
"Ini kamar paling bagus," Pak Wi mulai mengerahkan jurus menjual, tangannya yang mengapit rokok tak mau jauh dari mulut. "Udara adem di dalam, makanya kami tak pasang AC di sini."
Terang saja, aku tertarik. Namun yang paling berhak memutuskan Wina.
"Omong-omong, berapa sewanya?"
"600 ribu."
Tidak mungkin! Aku tak percaya kata-katanya. Oh, mungkin maksudnya untuk satu pekan. Kudengar beberapa indekos mewah bisa disewa tujuh harian. Jadi kemudian kupastikan, "Kalau sebulan berapa?"
"Memang ada yang sewa mingguan?" Pak Wi bertanya balik sembari tersipu. Jelas sekali dia menganggap aku lucu.
"Maksud saya..."
"Kalau mau ditawar ya monggo saja," Pak Wi menyela kalimatnya demi menghisap kretek, "Nanti saya bilang ke Non Fani."
Pikiranku jadi rumit. Enteng benar dia berkata begitu. Sebenarnya penjaga kos macam apa dia ini. Pertanyaan seperti itu mulai tumbuh. Non Fani? Aku melirik ke bawah, perempuan yang tadi menahan si unyil duduk di meja makan sambil menimang bayi. Usianya kira-kira baru masuk 30.
Entah siapa yang membisiki, wanita bernama Fani itu mendongak, menangkap basah mataku yang sedang meliriknya. Aku langsung memalingkan wajah.
"Bagaimana? Sudah mantap atau masih pikir-pikir?" Pak Wi membimbingku ke pembicaraan awal.
"Ehmm, yaa..sebenarnya..."
Brakk!
Ucapanku yang tidak tentu terpotong suara barusan. Nyata-nyata itu dari kamar kosong di depanku. Tidak salah, teriakan Wina terdengar nyaring. Pasti ia kaget, aku langsung masuk ke dalam.
Rupanya bunyi jendela terhempas angin. Kudapati Wina mengelus dada sambil mengatur nafas. Aku menghampiri jendela.
"Gede banget kamarnya, bagus! Tapi..." Langkahnya terdengar menghampiriku. Jendela kubuka, sekali ini aku menahannya dengan pengait. Aneh, tidak terasa angin dari luar sana.
Ketika melihat Wina, aku kaget wajahnya berkeringat jagung.
"Kamu kenapa?"
"Kaget!" tangannya mengelap keringat, "Lagi gerah banget, ya. "
"Selain itu?" kupikir dia menemukan sesuatu yang mencurigakan.
"Maksudnya? Kamu sudah tanya harganya?"
Aku mengatakan yang kutahu. Ia terperanjat, semua orang pasti setuju harga sewanya terlalu murah.
"Jangan-jangan..."
"Hush, ngaco!" Aku mencegahnya dari berpikir yang aneh-aneh.
"Terus apa lagi alasannya?"
Wina tahu itu tidak perlu dijawab. Ia meninggalkan kamar, sepertinya melihat-lihat kamar mandi.
Tak lama kemudian aku seperti mendapat petunjuk untuk menjawab pertanyaannya. Kebetulan saja aku membuka laci meja rias dan...
Aku menemukan setangkai mawar. Masih segar, kelopaknya mulus, durinya tegak.
Ini bukan mawar dari toko bunga. Ini kembang yang baru dipetik.
Organ di dalam kepalaku berdenyut. Tidak, ini masih bisa dijelaskan. Bukannya aku menihilkan gaib. Sebaliknya, sangat percaya. Tetapi aku lebih suka mendahulukan nalar.
Sebentar saja aku menemukan alasan. Bisa saja kamar ini baru kosong pagi tadi, apa salahnya?
Kututup kembali laci meja rias. Benda ini masih begitu bagus. Lidahku berdecak mengagumi kayu ukir tanpa cela seraya mengelus furniture ini. Namun yang selanjutnya membuat tengkukku berdesir.
Aku membalikkan telapak tangan. Kesat! Debu tebal menempel di situ. Dengan sendirinya aku mundur menjauh dari meja rias.
Sesuatu di cermin menarik langkahku kembali maju. Itu...aku tak yakin, tapi kakiku menurut begitu saja ke depan.
Kaca rias ini berselimut debu. Aku berupaya mengumpulkan nalar, tetapi sangat sulit. Tangkai mawar yang segar dan meja rias penuh debu. Sengkarut.
Didorong penasaran, kuseka cermin rias itu. Benar, aku bisa melihat jelas bekas telapak tanganku di sana. Sekaanku semakin luas, hingga berhenti seketika. Sebuah bayangan putih mendekat, berdiri di pintu. Badanku mulai lemas.
"Gimana, mas? Apa masih mau pikir-pikir?"
Kuhela nafasku sedalam mungkin bersama kesadaran yang kembali pulih. Ternyata itu Pak Wi. Ya Tuhan, padahal amat jelas di cermin, kenapa aku bereaksi berlebihan?
Belum sempat menjawab, Pak Wi meninggalkan kamar. Aku diam-diam malu mengingat reaksi barusan. Setelah sadar aku meninggalkan kamar menyusul Wina.
Tampak olehku sekilas, Pak Wi tengah memandangi sebuah lukisan yang terpaku di dinding luar kamar ini. Itu urusannya, tak baik terlalu ikut campur.
Kamar mandi bersebelahan persis dengan kamar yang kosong. Pintunya berderit saat dibuka. Wina sesaat langsung menarik lenganku, mengajak bicara serius.
"Yakin tinggal di sini?"
Aku mengangkat bahu, "Kamu yang paling tahu."
"Aku butuh pertimbangan," ucapannya serius.
"Kamu juga sudah tertarik, lagi pula murah."
"Kayanya tempat ini agak freak deh."
Sekarang ini aku tak menepis firasatnya. Apakah itu pertanda nalarku mulai lemah, entahlah. Tetapi egoku harus dibela. Jujur saja, mencari kos baru mulai membuatku lelah. Aku harus meyakinkan Wina, harus!
"Aku juga sempat berpikir sama," aku memulai.
"Tuh kan. Cari yang lain saja?"
"Tapi kalau horor, kenapa kamarnya penuh?"
Ia tak menjawab. Ini kesempatanku membuatnya yakin.
"Tadi aku ngobrol sama Pak Wi, bapak yang tua tadi. Katanya penghuni di sini anak lama semua."
Wina menatapku tajam, menuntut arah yang lebih lugas. Yang barusan kukatakan sebetulnya menebak saja, berbohong.
"Kamu sendiri bilang teman kamu si Ruben sudah tinggal di sini 2 tahun."
"Jadi, ambil saja?"
Aku hanya menjawab dengan isyarat wajah, tetapi ia mengerti. Kemudian Wina keluar kamar mandi, meninggalkanku sendirian.
Ruangan yang satu ini juga cukup luas. Masih porselen lama. Sayangnya bak air sudah bocor, aku memastikannya dari sebuah ember besar penuh air di samping bak. Sedangkan klosetnya model duduk generasi terdahulu tanpa tombol flush.
Sepertinya kamar mandi ini tidak terlalu mengganggu. Buktinya aku mendadak kebelet buang air. Dengan cepat aku mengatasinya, hufft, bisa-bisanya urine ini minta dikeluarkan tanpa aba-aba. Tetapi aku ingat kata-kata salah seorang temanku yang berdarah Sunda, “Kalau ke tempat baru tahu-tahu kebelet dan numpang buang di situ, tandanya bakal kembali lagi.”
Selesai hajat aku bergegas keluar. Sial, dari tadi pintu kubiarkan terbuka sedikit. Aku memaki ketidak sopananku.
Langkahku kian mendekati pintu, namun ada seseorang yang menariknya dari luar hingga tertutup rapat. Aku bisa mendengar langkahnya yang tipis. Bukan main malu diri ini. Apalagi jika itu Wina.
Beberapa detik kemudian aku keluar. Tidak ada siapa-siapa rupanya. Pandanganku berpaling ke kiri, terdapat tiga kamar yang tertutup, satu di antaranya digembok dari luar.
Kini aku hampir berani membenarkan Wina tentang firasatnya.
Aku mencari Wina di kamar yang bakal disewa. Kosong semata-mata kosong. Sayup-sayup suara Wina terdengar. Kuhampiri suara itu, ia sudah di bawah. Bagaimana ceritanya!?
Kedua kaki ini segera menyusulnya. Pintu koboy sekali lagi beradu, menimbulkan bunyi tersendiri. Pertahanan diriku kembali kususun, Wina tak mengenali kepanikan di wajahku. Meski tak mudah, aku mencoba tenang, tetapi lebih irit bicara. Kudengar Wina bertanya menusuk pada Pak Wi.
"Pak, rumah ini sepertinya agak menakutkan, ya?"
Sungguh pertanyaan yang tidak terduga. Namun Pak Wi terlihat begitu tenang. Ia mendekatkan wajahnya pada Wina, berkata dengan suara pelan, bahkan lebih pantas disebut lirih, "Ketakutan itu datangnya hanya dari diri sendiri saja."
Kami mematung seperti baru digendam. Kurang ajar betul kalimat misterius itu. Namun Pak Wi tak mengubah sikapnya, malah berjalan mengantarkan kami keluar. Melintasi ruang makan, aku melihat Mbak Fani sibuk di dapur. Ia melempar senyum dari parasnya yang tegas, dan tentu saja kubalas. Bahkan aku menahan pandangan lebih lama sambil terus berjalan, hingga sosoknya hilang.
Suara anjing mungil yang sok gagah itu kembali memecah nyaliku. Ia menyalak dengan suara parau. Mbak Fani hanya memanggil namanya berulang-ulang, mungkin tanggung memasak.
Kupercepat langkah dan akhirnya menggapai pintu. Namun aku baru menyadari sesuatu yang tidak biasa. Si unyil tidak menggonggong padaku, melainkan ke sebuah taman air di bawah tangga. Ekornya berkibas tak teratur. Dan suaranya itu masih keras sampai kami sudah meninggalkan ruangan utama.
Di luar pagar, Pak Wi sekali lagi meminta kejelasan. Dia sungguh pandai menuntut. Wina berjanji memastikan kabarnya besok. Tetapi ada yang perlu kutanyakan tentang penghuni kamar yang terdahulu. Kemudian jawaban yang kuterima begini.
"Saya yang tinggal di kamar itu. Tapi sementara saja, kira-kira baru 3 minggu. Cuma buat tidur di sana, sekalian simpan beberapa baju. Kamar saya mau direnovasi, itu di sana," Pak Wi menunjukkan dengan ibu jari.
Penjelasan itu menimbulkan prasangka buruk. Apalagi baru sekarang ia berkata panjang.
"Tetapi bapak suka..." aku menghentikan pertanyaan soal mawar itu, "bapak suka anjing?"
Ini pertanyaan kampungan dan Pak Wi cuma tersenyum tipis. Kami pun segera meminta diri dan mengucapkan terima kasih. Ia tersenyum sekali lagi dan hilang di balik pagar hitam.
Beberapa langkah kuayun, Suara Pak Wi menembang di telingaku, "Wernomu abang...lambangke kekendelan."
Aku tahu ia baru saja mengatakan tentang bunga mawar.
(Bunga mawar itu layu, si unyil akhirnya tidak lagi berisik. Namun aku melihat lebih banyak kembang di dalam cawan)
Diubah oleh pakdhegober 15-08-2019 17:08
bebyzha dan 17 lainnya memberi reputasi
16
Tutup