Semua manusia di dunia ini sudah mempunyai takdir yang berbeda masing-masing. Jujur, gue sendiri masih belum menyangka jika seseorang yang ditakdirkan untuk hadir menemani gue sepanjang hidup gue adalah seseorang yang sudah gue kenal dan bersahabat sejak kami berdua masih kecil. Seseorang perempuan yang membuat gue bisa melakukan hal gila untuk mempertahakan dirinya agar ia selalu menemani gue di sepanjang sisa hidup gue.
*****
Jakarta, 2017
Sore itu gue sedang berada di jalanan ibukota yang sangat padat karena volume kendaraan yang sangat tinggi dan berbanding terbalik dengan jalanan yang berada di kota ini. Gue yang masih berseragam lengkap layaknya orang kantoran hanya bisa diam dan mengamati jalanan ibukota dengan geram.
Beberapa saat kemudian, Handphone gue berbunyi tanda adanya pesan masuk.
“lo udah sampe, ron?”
“belom nih, masih macet di semanggi. Lo udah?”
“gue udah di parkiran sih, gue duluan ke tempatnya ya biar bisa reservasi dulu. Lo tau kan tempat ini harus reservasi kalo mau makan?”
“okeey, sabar ya”
“just take your time. Kayak baru pertama kali di Jakarta aja lo hahaha”
Gue pun hanya membaca chat tersebut dan masih terfokus kepada jalanan ibukota. Hampir tigapuluh menit gue berada di jalan, gue akhrinya sampai dan langsung memarkirkan mobil gue.
Beberapa saat kemudian, gue langsung mengabarinya bahwa gue sudah sampai dan akan menuju tempat janjian kami.
Gue melihat dia dari kejauhan, sesaat kemudian dia langsung melambaikan tangannya untuk memastikan bahwa itu memang benar dirinya.
“hai ron” ucap ghina kepada gue sambil tersenyum
Gue kembali mendengar suara tersebut. Suara yang sudah lama sekali tidak gue dengar. Terakhir gue mendengar suaranya adalah pada saat dia datang ke pernikahan gue. Aroma parfum yang dia pakai pun tidak berubah, gue masih ingat aroma parfum inilah yang biasa menemani gue dulu ketika kami sma, ketika kami bertemu di suatu café pada saat kuliah dan menyatakan perasaan kami masing-masing, ketika gue harus menemani dia mengurusi pernikahannya, dan yang terakhir adalah hari ini.
“apa kabar?” tanya gue
“alhamdulillah baik, lo gimana kabarnya? Bytheway mending lo mesen dulu gih”
“eh lo udah ngomong ke Audrey kan kita mau ketemu?” candanya
Gue tersenyum dan langsung mengambil menu untuk memilih minuman yang akan gue pesan. Sesaat kemudian gue baru menjawab pertanyaannya.
“baik juga. Gue udah bilang ke Audrey ghin hahaha tenang aja”
“jadii? Tumben dua hari yang lalu lo ngeline gue ngajak ketemuan?” tanya ghina
gue sama sekali tidak menjawab pertanyaan ghina dan hanya focus kepada rokok yang baru saja gue bakar.
“gue buat cerita tentang hidup gue”
“dan udah gue publish di suatu forum cerita gitu,disini gue mau ngasih tau lo kalo banyak cerita tentang lo juga”
“tapi tenang, semua namanya gue samarin. Entah itu nama gue, nama lo, nama Audrey, dan semuanya”
“kok bisa? Emang lo bisa nulis?
“nggatau, awalnya iseng. Lama-lama ya jadi terbiasa aja.”
Ghina mulai tertawa dengan menutup tangan kirinya tepat di mulutnya.
“ron,ron… kapan-kapan gue mau baca dong?”
“boleh, nanti gue kirim linknya ya. Inget nama lo ghina disana hahaha”
“ooh iya, kalo lo ada urusan apaan juga? Kemaren di line katanya mau ngomong juga?” tanya gue lagi
“jadi, lo masih inget tulisan-tulisan kita di post it binder gue pas sma?”
Gue menggeleng pelan.
“engga”
Ghina terdiam, tangan kanannya terlihat mulai sibuk mengaduk hot chocolate kesukaannya dengan sendok kecil yang disediakan.
“bentar deh, pas gue lagi beres-beresin barang gue nemu binder gue beserta post it yang masih ketempel di halaman depan. Kalo nggasalah gue foto di handphone gue ron”
“nah nih ketemu, lo baca deh” ucapnya lagi sambil memberikan handphonenya kepada gue.
Kemudian gue mengambil handphone tersebut dan mulai melihat beberapa foto yang ada di handphone ghina. Sebuah foto beberapa lembar kertas berwarna warni dengan banyak tulisan dan harapan kami disana.
Foto pertama adalah tentang keinginan kami untuk melanjutkan di suatu universitas beserta jurusannya. Suatu kertas berwarna merah tertulis tulisan kampus yang ghina inginkan dan satu kertas berwarna biru tertulis tulisan kampus yang gue inginkan.
Foto kedua adalah tentang keinginan kami untuk terus menjalin pertemanan sampai kami tua. Di dalam satu kertas berwarna hijau muda milik ghina dan kuning milik gue sama-sama memiliki keinginan yang sama, yaitu “gaboleh lost contact”.
“lo liat foto ketiga deh ron”
Foto ketiga adalah tentang cita-cita kami di masa mendatang. Di dalam satu kertas berwarna biru muda milik ghina tertulis keinginannya untuk lulus cepat, kerja dengan sukses ,menikah dengan pilihannya, mempunyai dua anak, yaitu satu perempuan dan satu laki-laki. Sedangkan di dalam kertas hijau milik gue tertulis keinginan yang sama namun sedikit perbedaan dalam hal anak, yaitu keinginan gue untuk mempunyai anak kembar.
“terus?” tanya gue sambil memiringkan kepala gue
“I’m pregnant. Dan kata dokter anaknya laki! Lo kapan sama Audrey mau punya anak?”
“seriously? Congrats!” ucap gue
“liat nanti aja, pasti bakal nyusul kok hahahha”
“wah kalo laki nanti gedenya gue ajarin ya ghin jadi kayak gue?” canda gue lagi
Dengan satu kata penuh arti, ghina pun langsung membalas pertanyaan gue barusan.
“NO!”
“mending kayak bapaknya hahaha”
“btw, masih ada foto terakhir, coba aja liat” ucapnya lagi
Gue mengangguk dan mulai melihat sebuah foto terakhir tentang post it tersebut. Didalam foto itu terlihat jelas dengan berjudul “ I have a hope for you”. Lalu gue melihat satu buah kertas berwarna pink milik ghina yang tertulis tentang harapan-harapannya kepada gue di masa yang akan datang, yaitu : berhenti merokok! inget umur!, sholat dijaga, jangan sering minum alcohol dan harus menjadi pribadi yang baik buat anak dan istri lo.
Sontak, gue hanya bisa tersenyum melihat foto tersebut. Lalu, gue melihat satu buah kertas berwarna biru milik gue yang tertulis : jangan galak-galak sama suami, jangan sering sakit, jadi wanita yang kuat dan yang terpenting gue berharap semoga lo selalu mendapatkan kehidupan yang terbaik untuk lo.
Setelah selesai membaca tulisan-tulisan tersebut, gue langsung memberikan handphone ghina kepadanya kembali.
“gimana? Lo ngerti maksud gue?” tanya ghina
“hmm…”
“berhenti ngerokok?” tanya gue
Ghina mengangguk dengan mantap.
“sekarang gue udah bisa batasin itu kok. Jatah rokok gue udah diatur sama Audrey hahaha” ucap gue
“ya jangan yang ngerokok doang, kalo bisa semuanya lo lakuin. Ya gue tau itu udah jadi kewajiban lo lah”
“begitupun dengan lo ghin, gue juga berharap lo bisa menjadi pribadi yang gue tulis disitu”
“tapi emang gue ga galak sih sama suami gue” canda ghina yang disusul oleh tawanya
Gue ikut tertawa dengan keras dan hanya bisa memandangi wajahnya yang nampak sudah jauh lebih dewasa dibanding sebelumnya.
Setelah kedua minuman kami habis, gue memutuskan untuk mengantarkan ghina menuju lokasi parker tempat mobilnya berada.
Setelah sampai tepat di samping mobilnya, kami berdua hanya mengepal tangan kami dan mulai melakukan tos tangan yang biasanya kami lakukan dulu. Tak lupa, kami berdua tersenyum sesaat sebelum ghina melajukan mobilnya dan pergi dari tempat ini.
*****
Gue duduk di sofa ruang tamu apartemen gue dengan berhadapan dengan laptop, menghisap dalam-dalam rokok yang gue bakar dan focus terhadap tugas kantor yang sedang gue kerjakan. Tak lupa, di sebelah gue terlihat Audrey yang daritadi hanya sibuk menonton film favoritnya yang sedang tayang di channel tv.
Gue mencoba mencuri-curi pandangan gue kepadanya, melihat seseorang perempuan yang sekarang sudah resmi menjadi istri gue dan hanya bisa tersenyum simpul.
“heh, kamu kenapa liatin aku mulu?”
Gue langsung membuang muka dan kembali terfokus kepada laptop gue.
“yee ditanyain malah sok sok an, aku tau kok kamu liatin aku daritadi”
Perlahan gue mulai kembali menatapnya dalam-dalam, mengelus pipinya pelan, dan mencoba menggelitikinya.
“apasih!”
“galakan kamu, serem ih” hardik gue
“ya lagian tiba-tiba gajelas gelitikin orang”
“hehehe tapi jangan galak- galak ah sama suami” canda gue
Audrey cemberut lalu menyilangkan kedua tangannya di dada.
“lagian punya suami kenapa suka banget bercanda begini ya”
“ngeselin jadinya”
Gue menjulurkan lidah gue tanda mengejek lalu mencoba untuk menggelitikinya kembali.
“nanti sore keluar yuk” ajak gue
“kemana?”
“ke ancol, makan disana”
“boleh!!!” ucapnya dengan penuh semangat
*****
Suara-suara Ombak pada sore hari ini menemani kami yang sedang duduk berdua di salah satu restaurant yang cukup terkenal di tempat ini. Gue melihat raut wajah Audrey yang cukup menikmati keadaan pemandangan tempat ini. Tempat yang menyimpan banyak sekali kenangan gue bersamanya sejak kami masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.
langit dan laut
dan hal-hal yang tak kita bicarakan
langit dan laut
dan hal-hal yang tak kita bicarakan
biar jadi rahasia
menyublim ke udara
hirup dan sesalkan jiwa
jiwa
“menurut kamu hidup tuh kayak apa?” tanyanya tiba-tiba
“maksud kamu?”
Spontan Audrey menghadap ke gue, menatap gue dalam-dalam dan tersenyum simpul dengan snagat indah.
“ya kayak gini nih, menurut aku kayak theory of lock and key”
“kamu inget pelajaran sma dulu?”
Gue menggeleng pasrah dan mencoba mendengar setiap ucapannya dengan baik
“itu pelajaran biologi, aku lupa antara kelas satu sma atau dua sma. Jadi menurut teori lock and key, cara kerja enzim mirip dengan mekanisme kerja kunci dan gembok. Enzim diibaratkan sebagai kunci yang memiliki sisi aktif, sedangkan substratnya diibaratkan sebagai gembok."
"Substrat memasuki sisi aktif dari enzim seperti halnya kunci memasuki gembok. Substrat tersebut kemudian diubah menjadi produk tertentu. Produk inilah yang kemudian dilepaskan dari sisi aktif enzim untuk kemudian enzim siap menerima substrat baru”
“terus?” tanya gue
“Layaknya theory of lock and key, semua kunci tuh udah dipasangin sama gemboknya masing-masing. Ya sama kayak hidup, semua udah ada jalannya dan apapun yang pergi kalau itu memamng milik kita ya pasti bakal balik lagi”
“sama kayak aku ke kamu, aku itu ibarat substrat yang tepat buat kamu, aku gembok yang dari dulu kamu cari-cari dan kamu adalah kunci atas hati aku dari dulu sampai detik ini juga.”
Gue mengangguk dan mulai mengerti setiap ucapan yang Audrey katakan kepada gue.
“tapi kamu pernah ngerasa lucu ngga sih kalo inget kita yang sahabatan dari dulu bisa jadi suami istri kayak sekarang?” tanya gue
Audrey tersenyum, lalu dia mencoba menggengam tangan gue dengan sangat erat.
“ya awalnya sih heran, tapi aku bangga kok. Kapan lagi sahabat dai kecil bisa nikah? Jarang loh orang kayak kita”
“kamu kenapa bisa sayang sama aku?” tanyanya lagi
Gue diam mematung beberapa saat. Pertanyaan yang sangat sederhana namun bisa menjadi boomerang untuk gue.
“I don’t know, I just feel it”
“but, the worst thing in my life is if I didn’t know you and love you” ucap dina
Gue mengusap rambutnya pelan, kemudian memandangi setiap centi wajahnya yang begitu cantik di mata gue.
“if I don’t know you, I will find you, love you, and marry you.because you make me want to be a better man” Ucap gue
Gue menatapnya lekat-lekat lalu mulai tersenyum simpul. Spontan Audrey pun kut tersenyum. Kemudian, gue mengusap pelan pipinya dengan perlahan dan mencium keningnya dengan lembut ditemani oleh suara-suara ombak dan matahari yang sudah mulai berada di penghujung petang.
Kiss me, we're on fire, babe
Love me, take me to outer space
Kiss me, we're on fire, babe
Love me, take me to outer space
Melting like ice on a summer day
Hold me like you mean, take me far away
Bodies moving in, temperature rising
Take me to the top then watch me fall in
The End.