- Beranda
- Stories from the Heart
H I L A N G
...
TS
indraprasta89
H I L A N G
Quote:
Quote:
Quote:
INDEKS
PROLOG
TITIK PERTEMUAN
LANGKAH PERTAMA Part 1
LANGKAH PERTAMA Part 2
LANGKAH PERTAMA part 3
Diubah oleh indraprasta89 28-04-2017 10:12
anasabila memberi reputasi
1
4.3K
27
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
indraprasta89
#23
LANGKAH PERTAMA part 3
Windy pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih duduk terdiam, bukan Windy yang aku pikirkan, tapi kecemasanku akan berhasilnya rencana pendakian ini. Aku harus segera bertemu dengan Ray dan Pink, menyusun rencana lebih matang agar Windy ataupun David tidak curiga.
Kuraih telepon genggam dalam saku celanaku, sebuah pesan singkat aku kirimkan untuk Pink. Tidak lama sebuah pesan muncul di layar monokromku.
'Kita masih di PERPUSDA, ke sini aja!'
Aku segera berjalan setengah berlari menuju PERPUSDA, diiringi rintik hujan yang mulai kembali turun. Hujan itu seharusnya romantis, tapi tidak untukku kali ini, dingin, membuat meriang.
Ray dan Pinkan sedang asik-asiknya mengobrol saat aku datang dengan muka yang sedikit kusut. Ray tertawa mengejek, dia seakan bisa menebak apa yang baru saja terjadi.
"Wes, nggak usah dipikir, nanti juga nggak ngambek lagi Windy." ujar Ray saat aku kembali bergabung ke meja diskusi.
"Asu! Bukan ngambek nya yang aku pikirin, tapi dia sepertinya curiga. Ini bahaya untuk rencana kita." jelasku pada mereka berdua.
Wajah Ray dan Pink yang tadinya bahagia mengejekku berubah menjadi serius.
"Wah, bahaya!" sahut Pink.
"Kita harus ganti strategi, nih!" sambung Ray.
"Itu dia, harus ganti strategi. Bagaimana kira-kira? Aku wes mumet!" kugaruk kepalaku yang tidak gatal.
Mencoba berpikir bagaimana cara agar rencana ini berjalan lancar.
"Windy curiganya bagaimana?" tanya Pink.
"Minggu depan dia ngajak pergi, jelas aku nggak bisa, kita kan mau naik gunung.
Alasanku kurang masuk akal buat dia. Bagaimana aku bisa bohong, aku ini kan pria baik-baik yang jujur dan setia." ujarku sedikit bercanda.
"Munyuk kowe! Iki masalah serius. Malah guyon!" seru Ray kesal. Aku suka bercanda di saat-saat seperti ini, agar tidak terlalu stres.
"Mumet bikin stres, hahahaha!" timpaku.
"Ngerokok sek wae lah, biar gak mumet," Ray merogoh kotak rokok di celananya.
Wajah Pink yang duduk disampimngnya berubah kesal.
"Kowe ngerokok, mas?" tanya Pinkan. Ini dia, aku lupa, Pinkan sama sekali tidak suka rokok, tapi Ray, sangat suka rokok. Tragedi!
"Iya, kenapa? Ada masalah?" jawab Ray.
"Jangan di depanku mas, aku pusing kalo kena asap rokok!" larang Pinkan.
"Oke, oke. Ngalah aku!" Ray memasukkan kembali batang rokok yang tadi sudah diambilnya.
Pinkan tersenyum lega.
"Gini aja!" seruku mengejutkan mereka berdua.
"Kita ajukan waktu naik gunung nya!" sambungku lagi.
"Kampret! Ngagetin orang!" Ray berseru kesal.
"Windy kan tahunya minggu depan aku nggak bisa, dia pasti akan cari tahu kenapa.
Sebelum dia tahu jawabannya, kita harus sudah berangkat. Kita majukan rencana kita! Bagaimana?" jelasku pada Ray dan Pink.
Mereka tampak ikut berpikir.
"Ide bagus!" ujar Ray kemudian.
"Trus kapan mau berangkat? Aku belum ada persiapan. Aku nggak ngerti apa-apa soal naik gunung." keluh Pinkan.
"Tenang, kita yang siapin semuanya, kamu tinggal berangkat aja. Enaknya kapan ya Ray?" aku bertanya pada Ray.
Jarinya mengetuk-ngetuk meja, tanda otaknya sedang bekerja.
"3 hari lagi, aku rasa semua sudah siap." ujarnya.
"Oke, aku setuju. Aku bantu persiapan agar lebih cepat selesai, bos!" balasku semangat.
"Tapi." Pinkan tampak meragu.
"Kenapa?" tanyaku pada Pinkan yang memasang wajah bingung.
"Harus ada yang izin ke orang tuaku, salah satu dari kalian." jelas Pink.
Betul, harus ada yang datang ke rumah Pinkan, meminta izin orang tuanya, meyakinkan kalau anaknya akan kembali dengan selamat dan utuh.
"Deon, kamu saja. Orang tua Pink kan kenalnya kamu, bukan aku. Kalau aku yang minta izin pasti nggak akan dikasih." ujar Ray kemudian.
"Oke, nggak masalah. Besok aku ke rumahmu Pink. Aku mintakan izin untuk pendakian perdanamu!" balasku.
Wajah Pinkan yang tadinya bingung berubah sumringah.
Aku tidak sabar, sungguh tidak sabar, melihat indahnya gunung Prau, bersama dua sahabatku.
Bersambung LANGKAH KEDUA
Windy pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih duduk terdiam, bukan Windy yang aku pikirkan, tapi kecemasanku akan berhasilnya rencana pendakian ini. Aku harus segera bertemu dengan Ray dan Pink, menyusun rencana lebih matang agar Windy ataupun David tidak curiga.
Kuraih telepon genggam dalam saku celanaku, sebuah pesan singkat aku kirimkan untuk Pink. Tidak lama sebuah pesan muncul di layar monokromku.
'Kita masih di PERPUSDA, ke sini aja!'
Aku segera berjalan setengah berlari menuju PERPUSDA, diiringi rintik hujan yang mulai kembali turun. Hujan itu seharusnya romantis, tapi tidak untukku kali ini, dingin, membuat meriang.
Ray dan Pinkan sedang asik-asiknya mengobrol saat aku datang dengan muka yang sedikit kusut. Ray tertawa mengejek, dia seakan bisa menebak apa yang baru saja terjadi.
"Wes, nggak usah dipikir, nanti juga nggak ngambek lagi Windy." ujar Ray saat aku kembali bergabung ke meja diskusi.
"Asu! Bukan ngambek nya yang aku pikirin, tapi dia sepertinya curiga. Ini bahaya untuk rencana kita." jelasku pada mereka berdua.
Wajah Ray dan Pink yang tadinya bahagia mengejekku berubah menjadi serius.
"Wah, bahaya!" sahut Pink.
"Kita harus ganti strategi, nih!" sambung Ray.
"Itu dia, harus ganti strategi. Bagaimana kira-kira? Aku wes mumet!" kugaruk kepalaku yang tidak gatal.
Mencoba berpikir bagaimana cara agar rencana ini berjalan lancar.
"Windy curiganya bagaimana?" tanya Pink.
"Minggu depan dia ngajak pergi, jelas aku nggak bisa, kita kan mau naik gunung.
Alasanku kurang masuk akal buat dia. Bagaimana aku bisa bohong, aku ini kan pria baik-baik yang jujur dan setia." ujarku sedikit bercanda.
"Munyuk kowe! Iki masalah serius. Malah guyon!" seru Ray kesal. Aku suka bercanda di saat-saat seperti ini, agar tidak terlalu stres.
"Mumet bikin stres, hahahaha!" timpaku.
"Ngerokok sek wae lah, biar gak mumet," Ray merogoh kotak rokok di celananya.
Wajah Pink yang duduk disampimngnya berubah kesal.
"Kowe ngerokok, mas?" tanya Pinkan. Ini dia, aku lupa, Pinkan sama sekali tidak suka rokok, tapi Ray, sangat suka rokok. Tragedi!
"Iya, kenapa? Ada masalah?" jawab Ray.
"Jangan di depanku mas, aku pusing kalo kena asap rokok!" larang Pinkan.
"Oke, oke. Ngalah aku!" Ray memasukkan kembali batang rokok yang tadi sudah diambilnya.
Pinkan tersenyum lega.
"Gini aja!" seruku mengejutkan mereka berdua.
"Kita ajukan waktu naik gunung nya!" sambungku lagi.
"Kampret! Ngagetin orang!" Ray berseru kesal.
"Windy kan tahunya minggu depan aku nggak bisa, dia pasti akan cari tahu kenapa.
Sebelum dia tahu jawabannya, kita harus sudah berangkat. Kita majukan rencana kita! Bagaimana?" jelasku pada Ray dan Pink.
Mereka tampak ikut berpikir.
"Ide bagus!" ujar Ray kemudian.
"Trus kapan mau berangkat? Aku belum ada persiapan. Aku nggak ngerti apa-apa soal naik gunung." keluh Pinkan.
"Tenang, kita yang siapin semuanya, kamu tinggal berangkat aja. Enaknya kapan ya Ray?" aku bertanya pada Ray.
Jarinya mengetuk-ngetuk meja, tanda otaknya sedang bekerja.
"3 hari lagi, aku rasa semua sudah siap." ujarnya.
"Oke, aku setuju. Aku bantu persiapan agar lebih cepat selesai, bos!" balasku semangat.
"Tapi." Pinkan tampak meragu.
"Kenapa?" tanyaku pada Pinkan yang memasang wajah bingung.
"Harus ada yang izin ke orang tuaku, salah satu dari kalian." jelas Pink.
Betul, harus ada yang datang ke rumah Pinkan, meminta izin orang tuanya, meyakinkan kalau anaknya akan kembali dengan selamat dan utuh.
"Deon, kamu saja. Orang tua Pink kan kenalnya kamu, bukan aku. Kalau aku yang minta izin pasti nggak akan dikasih." ujar Ray kemudian.
"Oke, nggak masalah. Besok aku ke rumahmu Pink. Aku mintakan izin untuk pendakian perdanamu!" balasku.
Wajah Pinkan yang tadinya bingung berubah sumringah.
Aku tidak sabar, sungguh tidak sabar, melihat indahnya gunung Prau, bersama dua sahabatku.
Bersambung LANGKAH KEDUA
0

