- Beranda
- Stories from the Heart
Balai desa merah
...
TS
achanyoe
Balai desa merah
Quote:
]
Untuk Agan agan pembaca setia thread ane terimakasih ane ucapkan atas kesetiannya. Mau menunggu dan bersabar, Ane setelah rutin nulis ini sering diteror gan, mulai dari mimpi aneh. Dan beberapa kejadian yang aneh seperti laptop rusak yang sebelumnya gak kenapa kenapa. Jatuh juga gak padahal dan kemarin sempet sakit juga. Jadi ane ucapkan terimakasih buat pembaca setia thread ane yang mau bersabar.
Dan juga ane ucapkan Mohon maaf lahir dan batin karena ini masih suasana lebaran. Terimakasih.
Yaudah gan langsung aja di nikmati threadnya gan.

Untuk Agan agan pembaca setia thread ane terimakasih ane ucapkan atas kesetiannya. Mau menunggu dan bersabar, Ane setelah rutin nulis ini sering diteror gan, mulai dari mimpi aneh. Dan beberapa kejadian yang aneh seperti laptop rusak yang sebelumnya gak kenapa kenapa. Jatuh juga gak padahal dan kemarin sempet sakit juga. Jadi ane ucapkan terimakasih buat pembaca setia thread ane yang mau bersabar.
Dan juga ane ucapkan Mohon maaf lahir dan batin karena ini masih suasana lebaran. Terimakasih.

Yaudah gan langsung aja di nikmati threadnya gan.

Balai desa merah
Quote:
Part I
Wanita penjaga pintu masuk
Wanita penjaga pintu masuk
Spoiler for Kuntilanak:

Quote:
Waktu itu, gerimis menyambut kedatanganku. Suasana gelap ditambah sepinya jalan yang kulalui membuat suasana malam itu jadi sedikit menakutkan. Supir becak yang umurnya sudah lumayan tua, mengayuh becak dengan tenaga ala kadarnya. Jadilah perjalananku menuju kampugku terasa begitu lama. Waktu itu pukul 9 malam, namun tidak ada satupun warga yang kelihatan. Mungkin faktor gerimis membuat orang orang malas keluar rumah. Jalanan yang kulalui banyak lubang sana sini. Menambah ketidaknyamanan perjalanan ku. Aku heran kenapa jalanan yang sudah hancur lebur seperti ini masih dipiara saja. Apa yang dilakukan pak lurah selama menjabat. Untuk memecah keheningan aku coba mengajak supir becak yang dari tadi susah payah mengayuh becaknya bicara
.
Aku : “Pak ini ko jalan gak dibenerin sih pak, udah ancur gini padahal?”
Pak Becak :“Oh nganu mas, ga tau juga saya udah lama gak dibenerin udah 6 tahun dibiarin gini aja mas”
Aku : “ Udah lama juga yah pak, terakhir saya kesini 6 tahun lalu pak, makannya saya bingung ko jalannya bukan nambah bagus malah nambah parah. Apa ngga ditanyain sama lurahnya Pak”
Pak becak : “ Sudah mas, tapi jawabnya ya gitu mas. Dananya belum ada katanya”
Saat asik berbicara tiba tiba ada sekelebat bayangan lewat tepat didepan becak. Tiba tiba saja aku merinding.
Aku : “ Pak tadi liat ada bayangan lewat ga pak?”
Pak becak tidak menjawab pertanyaanku. Aku coba bertanya lagi namun pak becak masih diam seribu bahasa. Tapi entah kenapa aku merasa becaknya melaju lebih cepat dari sebelumnya. Aku lihat kebelakang pak becak nampak berkeringat disekujur tubuhnya. Lantas ia memberi isyarat kepadaku untuk jangan berbicara. Aku tidak mengerti maksud pak becak. Namun aku yakin isyarat itu ada hubungannya dengan bayangan yang lewat tadi. Aku menurut saja dengan pak becak. Sepanjang jalan kami hanya diam. Dan sepanjang jalan itu juga bulu kudukku merinding bukan main. Sampai akhirnya kami melewati sebuah balai desa. Balai desa itu adalah balai desa kampungku. Balai desa yang tidak terlalu besar namun memiliki lapangan yang luas. Di sisi kanannya ada pohon beringin besar. Didepan balai desa ada 4 pohon cemara yang sudah sangat tinggi. Entah kenapa tepat sampai disini aku merasa pak becak semakin cepat mengayuh becaknya. Firasatku makin tak enak, sepertinya pak becak tau sesuatu tentang tempat ini. Becak melaju dengan cepat gerimis masih menemani perjalanan kami sepi lengang ditambah dengan suasana ganjil ini. Sampai akhirnya kita akan melewati sebuah jembatan. Aku melihat ada wanita yang sedang duduk dijembatan itu. Mengadap kebelakang sambil mengayun ayunkan kakinya. Aku tau kalau itu bukan manusia. Malam malam begini ditambah suasana ganjil ini mana mungkin wanita itu manusia. Aku merinding bukan main. Aku menengok ke pak becak. Terlihat kringat pak becak makin membanjir Dia menggeleng gelengkan kepala dan memberi isyarat kepadaku untuk tetap diam. Aku tak tau harus bagaimana jadi aku menurut saja dengan yang dikatakan oleh pak becak. Wanita itu masih ada di jembatan itu masih mengayun ayukan kakinya. Rambutnya panjang sepinggang. Baju putih yang sudah tercampur dengan tanah menjadi lusuh dan berwarna kecoklat coklatan. Hingga akhirnya kami lewat tepat dibelakangnya aku tak berani menoleh. Bau busuk menusuk hidung. Benar benar busuk baunya sampai sampai aku mau muntah. Kami makin jauh melewati wanita tadi sekarang baunya sudah tidak begitu terasa. Pak becak mulai menghela nafas, becak kembali berjalan lambat. Aku pun sudah tidak mencium bau busuk lagi. Aku mulai memberanikan diri bertanya kembali dengan pak becak.
Aku : “ Pak yang tadi itu bukan manusia kan ?”
Pak becak : “ Demit itu mas, mana mungkin manusia malem malem duduk dijembatan sendirian. Mana perempuan lagi, sebenernya bayangan yang mas liat itu perempuan yang tadi dijembatan mas’
Aku : “ Owh, saya bener bener takut pak. Hampir kencing dicelana saya. Terus tadi kenapa bapak suruh saya diem aja?
Pak Becak : “ Mas emang pas 6 tahun lalu kesini ga tau apa apa mas tentang cerita kampung mas?”
Aku : “ Gak pak, Saya kesini 6 tahun lalu kesini Cuma main beberapa hari aja. Itupun saya naik mobil tau tau udah sampai rumah nenek.”
Pak becak : “ Jalan yang pas mas liat bayangan itu pintu masuk kampung demit mas, didesa mas ini ada kampung demit mas. Nah balai desa sampai ngelewatin jembatan itu pasarnya mas. Kenapa saya suruh mas diem aja. Soalnya konon kalau kita liat penampakan perempuan tadi terus dia noleh kekita terus senyum sambil nunjukin wajah ancurnya dia bakalan buka pintu pasar demitnya mas. Dan kita bisa kesasar disana mas. Kalau kita diem dia kira kita sopan mas.
Aku : Waduh serem amat pak, terus kalau sampai masuk pasar itu gimana pak?
Pak becak : Ya kalau kita ga kuat bisa pingsan dijalan pak. Disana bakalan ditampakin penduduk desa demitnya mas,
Dalam hati aku bersyukur untung ga sampai mampir kepasar demit. Hufft,ibu ku kenapa ga cerita masalah ini yah. Kalau saja sudah diceritakan kan jadi ada persiapan, Mau kirim anaknya buat sekolah dikampung tapi ga bilang apa apa. Untung aja anakmu ga pingsan dijalan.
Pak becak : Mas kan rumahnya deket balai desa jangan aja main kesitu lebih dari jam 9 malem yah mas..
Aku : Emangnya kenapa pak ? Angker yah..
Pak becak : Entar mas juga tau dari orang sini ,, saya ga berani cerita ini masih wilayahnya soalnya mas...
Bersambung ke part II..... lanjut besok ya merinding disko nih ngetiknya
.
Aku : “Pak ini ko jalan gak dibenerin sih pak, udah ancur gini padahal?”
Pak Becak :“Oh nganu mas, ga tau juga saya udah lama gak dibenerin udah 6 tahun dibiarin gini aja mas”
Aku : “ Udah lama juga yah pak, terakhir saya kesini 6 tahun lalu pak, makannya saya bingung ko jalannya bukan nambah bagus malah nambah parah. Apa ngga ditanyain sama lurahnya Pak”
Pak becak : “ Sudah mas, tapi jawabnya ya gitu mas. Dananya belum ada katanya”
Saat asik berbicara tiba tiba ada sekelebat bayangan lewat tepat didepan becak. Tiba tiba saja aku merinding.
Aku : “ Pak tadi liat ada bayangan lewat ga pak?”
Pak becak tidak menjawab pertanyaanku. Aku coba bertanya lagi namun pak becak masih diam seribu bahasa. Tapi entah kenapa aku merasa becaknya melaju lebih cepat dari sebelumnya. Aku lihat kebelakang pak becak nampak berkeringat disekujur tubuhnya. Lantas ia memberi isyarat kepadaku untuk jangan berbicara. Aku tidak mengerti maksud pak becak. Namun aku yakin isyarat itu ada hubungannya dengan bayangan yang lewat tadi. Aku menurut saja dengan pak becak. Sepanjang jalan kami hanya diam. Dan sepanjang jalan itu juga bulu kudukku merinding bukan main. Sampai akhirnya kami melewati sebuah balai desa. Balai desa itu adalah balai desa kampungku. Balai desa yang tidak terlalu besar namun memiliki lapangan yang luas. Di sisi kanannya ada pohon beringin besar. Didepan balai desa ada 4 pohon cemara yang sudah sangat tinggi. Entah kenapa tepat sampai disini aku merasa pak becak semakin cepat mengayuh becaknya. Firasatku makin tak enak, sepertinya pak becak tau sesuatu tentang tempat ini. Becak melaju dengan cepat gerimis masih menemani perjalanan kami sepi lengang ditambah dengan suasana ganjil ini. Sampai akhirnya kita akan melewati sebuah jembatan. Aku melihat ada wanita yang sedang duduk dijembatan itu. Mengadap kebelakang sambil mengayun ayunkan kakinya. Aku tau kalau itu bukan manusia. Malam malam begini ditambah suasana ganjil ini mana mungkin wanita itu manusia. Aku merinding bukan main. Aku menengok ke pak becak. Terlihat kringat pak becak makin membanjir Dia menggeleng gelengkan kepala dan memberi isyarat kepadaku untuk tetap diam. Aku tak tau harus bagaimana jadi aku menurut saja dengan yang dikatakan oleh pak becak. Wanita itu masih ada di jembatan itu masih mengayun ayukan kakinya. Rambutnya panjang sepinggang. Baju putih yang sudah tercampur dengan tanah menjadi lusuh dan berwarna kecoklat coklatan. Hingga akhirnya kami lewat tepat dibelakangnya aku tak berani menoleh. Bau busuk menusuk hidung. Benar benar busuk baunya sampai sampai aku mau muntah. Kami makin jauh melewati wanita tadi sekarang baunya sudah tidak begitu terasa. Pak becak mulai menghela nafas, becak kembali berjalan lambat. Aku pun sudah tidak mencium bau busuk lagi. Aku mulai memberanikan diri bertanya kembali dengan pak becak.
Aku : “ Pak yang tadi itu bukan manusia kan ?”
Pak becak : “ Demit itu mas, mana mungkin manusia malem malem duduk dijembatan sendirian. Mana perempuan lagi, sebenernya bayangan yang mas liat itu perempuan yang tadi dijembatan mas’
Aku : “ Owh, saya bener bener takut pak. Hampir kencing dicelana saya. Terus tadi kenapa bapak suruh saya diem aja?
Pak Becak : “ Mas emang pas 6 tahun lalu kesini ga tau apa apa mas tentang cerita kampung mas?”
Aku : “ Gak pak, Saya kesini 6 tahun lalu kesini Cuma main beberapa hari aja. Itupun saya naik mobil tau tau udah sampai rumah nenek.”
Pak becak : “ Jalan yang pas mas liat bayangan itu pintu masuk kampung demit mas, didesa mas ini ada kampung demit mas. Nah balai desa sampai ngelewatin jembatan itu pasarnya mas. Kenapa saya suruh mas diem aja. Soalnya konon kalau kita liat penampakan perempuan tadi terus dia noleh kekita terus senyum sambil nunjukin wajah ancurnya dia bakalan buka pintu pasar demitnya mas. Dan kita bisa kesasar disana mas. Kalau kita diem dia kira kita sopan mas.
Aku : Waduh serem amat pak, terus kalau sampai masuk pasar itu gimana pak?
Pak becak : Ya kalau kita ga kuat bisa pingsan dijalan pak. Disana bakalan ditampakin penduduk desa demitnya mas,
Dalam hati aku bersyukur untung ga sampai mampir kepasar demit. Hufft,ibu ku kenapa ga cerita masalah ini yah. Kalau saja sudah diceritakan kan jadi ada persiapan, Mau kirim anaknya buat sekolah dikampung tapi ga bilang apa apa. Untung aja anakmu ga pingsan dijalan.
Pak becak : Mas kan rumahnya deket balai desa jangan aja main kesitu lebih dari jam 9 malem yah mas..
Aku : Emangnya kenapa pak ? Angker yah..
Pak becak : Entar mas juga tau dari orang sini ,, saya ga berani cerita ini masih wilayahnya soalnya mas...
Bersambung ke part II..... lanjut besok ya merinding disko nih ngetiknya
Part II Penampakan 4 pocong
Part III Indra
Part IV Si mata merah
Part V Cerita dibalik Kesurupan
Part VI Kembalinya kuntilanak
Part VII Pocong dan Kunti
Thread ane lain di SFTH Tanpa Kaca Mata.. Mampir yah gan
Part VIII - Kebenaran dukun desa
Part IX - Andi, Joni Dan Kuntilanak Merah
Part X - Kamis Sore Horror
Part XI - The Dukun Is Back
Part XII - Kesurupan Bagian Kedua
Part XIII - Penampakan Jin Pendamping
Part XIV - Teror jin pendamping
Part XV - Review Part I - Part XIV
Part XVI - Pak Joko Si Tukang kebun
Part XVII - Pertempuran pak Joko Vs jin Pendamping aka Khadam
Part XVIII - Firasat
Part XIX - Seminggu sebelum kematian pak joko
Part XX - Malam paling mencekam Part I
Part XXI - Malam paling Mencekam Part II
Part XXII - Misteri yang terpecahkan
Part XXIII - Identitas dibalik mbah ngadiman dukun desa misterius
Part XXIV - Kisah Yudi
Part XXV - Munculnya Penolong Baru
Part XXVI - Mendekati akhir cerita
Part XXVII - Bersekutu dengan jin
Part XXVIII - Hidup Atau Mati
Part XIX - Yang Nyata dan Tidak Nyata
Sekuel Balai Desa Merah
Quote:
Original Posted By pipiettripitaka►kebayang kalo jadi film, tp yg garap sineas thailand, kebayang tuh ngeri luar biasa. tengkyu udah berbagi cerita gan,, 5* buat agan,,
Quote:
Original Posted By paking.disgrace►Bagus gan critanya
Bisa membawa pembaca larut dalam alur ceritanya plus ada twist nya
Kasihan juga dengan pak joko, niat menolong nya kuat, sayang agak over PD ketika sukses menundukkan jin pendamping malah langsung nantang ke balai desa.
Udah gregetan pas agan disuruh minum tu air sumur, duh kenapa diminum sih, katanya klo ada hidangan dari jin jangan pernah disentuh.
Dari crita agan dan hasil penjelasan dari ust danu di TV, ternyata emang manusia dan jin berdampingan. Dan klo mo lawan jin, manusia/dukun akan juga mengandalkan jin juga. Mereka yg akan bertempur saling adu kuat. Dan makanan jin adalah sesaji dan memakai tumbal untuk memperbesar kekuatan mereka.
Yg paling baik emang berharap ke Allah semata, yg maha memiliki kekuatan.
Thx gan, atas critanya, jadi memperjelas apa yg selama ini ust danu sering cerita kan
Bisa membawa pembaca larut dalam alur ceritanya plus ada twist nya
Kasihan juga dengan pak joko, niat menolong nya kuat, sayang agak over PD ketika sukses menundukkan jin pendamping malah langsung nantang ke balai desa.
Udah gregetan pas agan disuruh minum tu air sumur, duh kenapa diminum sih, katanya klo ada hidangan dari jin jangan pernah disentuh.
Dari crita agan dan hasil penjelasan dari ust danu di TV, ternyata emang manusia dan jin berdampingan. Dan klo mo lawan jin, manusia/dukun akan juga mengandalkan jin juga. Mereka yg akan bertempur saling adu kuat. Dan makanan jin adalah sesaji dan memakai tumbal untuk memperbesar kekuatan mereka.
Yg paling baik emang berharap ke Allah semata, yg maha memiliki kekuatan.
Thx gan, atas critanya, jadi memperjelas apa yg selama ini ust danu sering cerita kan
Diubah oleh achanyoe 20-01-2019 16:15
arieaduh dan 37 lainnya memberi reputasi
38
146K
Kutip
749
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
achanyoe
#339
Quote:
Part XVII
Pertempuran pak Joko Vs jin Pendamping aka Khadam
Pertempuran pak Joko Vs jin Pendamping aka Khadam
Quote:
Hari ini hari kamis, bel berbunyi nyaring tanda pulang sekolah. Ane pergi ke halaman sekolah. Mencari pak joko, tapi entah kenapa pak joko gak ada. Ane cari disekeliling sekolah juga gak ada, ane tanya tukang kebun lain. Katanya ane disuruh kerumahnya aja dibelakang sekolah. Akhirnya ane kerumahnya sampainya dirumah, ane ketok dan pak joko keluar dari rumah dengan pakaian mirip pakaian yang dibiasa untuk latihan silat. Ane bingung sebenernya ini mau ngusir preman atau hantu si kok pakaiannya pakaian silat. Tapi usut punya usut pak joko selain bisa ngusir setan dia juga bisa silat. Makannya dia pakai baju silat. Ane masuk kerumah pak joko, ane liat di dalem rumahnya ada pedang, dan beberapa keris. Ane males nanya nanya lebih lanjut tentang kehidupan pak joko. Karena doi kalau ditanya ngeselin. Jawabannya pendek pendek. Kaya gak antusias jawab pertanyaan ane. Ane emang males nanya tapi pak joko beberapa kali nanya salah satunya kenapa ane bisa punya khadam. Ane jelasin panjang lebar tentang asal usul jin pendamping ane. Ane juga jelasin sering diganggu jin balai desa. Doi entah karena jago atau sombong, dia bilang kalau jin balai desa bakalan tunduk kalau dia samperin. Tapi ane Cuma bisa berprasangka baik sambil berharap kalau pak joko beneran jago dan bisa bantuin ane ngusir itu khadam laknat yang udah gangguin orang orang kesayangan ane. Syukur syukur kalau pak joko bisa bantuin ane ngusir jin balai desa. Hee.. kan enak bukan Cuma ane yang tenang, warga disekitar balai desa juga ikutan tenang.
Waktu nunjukin pukul jam 4 sore ane dan pak joko siap siap mau kerumah ane. Pak joko Cuma bawa 1 keris dan sebilah bambu kuning kecil. Ane mbonceng motornya pak joko. Dijalan kita gak banyak omong. Karena pak joko bukan orang yang suka ditanya tanya. Sampai dirumah hampir magrib, ane panggil nenek, ane kenalin dan ane jelasin maksud pak joko kesini. Pak joko suruh nenek ane tunjukin tempat nenek ane naro sesaji. Setelah adzan isya pak joko mulai beraksi, dia duduk tepat didepan sesaji yang udah disiapin nenek. Dia duduk disitu agak lama sekitar 15 menit sambil baca mantra apa ane juga gak tau. Karena ane jaga jarak sama pak joko. Setelah selesai baca mantra pak joko ambil sesajinya, dan langsung buang sesaji itu ke halaman belakang rumah. Belakang rumah ane itu kebon kosong gan.
Setelah dia buang sesajinya dia nanya ane, dimana ane paling sering liat penampakan itu khadam. Ane jawab dikamar ane pak, terus dia minta izin kekamar ane. Waktu itu sekitar jam 8 lebih. Pak joko sendirian dikamar ane. Ane diruang tamu sama nenek. Gak lama setelah pak joko masuk kamar, ane ngerasa suasana rumah nenek ane waktu itu bener bener beda, kaya ada aura yang bikin ane itu merinding. Dan bener aja, ane denger suara kaca pecah dikamar ane. Ane sama nenek kaget. Abis suara kaca pecah ane denger suara raungan gitu, asalnya dari kamar tapi menggema sampai keluar. Dan abis itu ada suara benda besar yang jatoh, suaranya kenceng banget. Pas suara itu ane langsung buru buru kekamar liat apa yang terjadi. Ternyata itu gelas yang buat minum pak joko pecah, dan lemari ane jatoh pantes suaranya kenceng banget. Tapi yang bikin ane kaget banget jin khadam keliatan dikaca kamar, dan pak joko tepat ada didepannya. Jin khadamnya tapi gak ada dikamar ane Cuma keliatan dikaca, dikaca dia keliatan marah banget sama pak joko. Pas liat ane jin khadam langsung melotot kearah ane, muka gosong dan rusaknya bikin ane takut buat natep balik kekaca. Ane nunduk gak berani liat kekaca. Pak joko teriak dalam bahasa jawa, “ Lawanmu kui dudu bocah kae, tapi aku. Metu mene yen wani” pas pak joko ngomong gitu ane coba liat kekaca lagi. Sialnya itu jin khadam masih melotot kearah ane, dalam hati ane ngomong ini kenapa jinnya melototnya ke ane. Kan yang buang sesajinya pak joko.
Pas ane mau nunduk buat ngehindarin tatapannya. Tiba tiba ane kedorong kebelakang posisi ane yang tadinya jauh dari tembok jadi nyender tembok. Bukan Cuma itu aja, tiba tiba ane ngerasa kaya lagi dicekek. Tapi gak keliatan siapa yang nyekek, walaupun sih ya pasti jin khadamnya. Ane teriak kesakitan, pak joko langsung keluarin bambu kuningnya. Dia sabetin tepat didepan ane, walaupun gak kena ane. Pas dia sabetin bambunya kedengeran suara raungan yang cukup keras. Seteleah beberapa kali sabetan ane akhirnya bisa lolos dari cekekan jin khadam ane. Ane jaga jarak lagi dari pak joko. Pak joko baca mantra lagi, belum selesai baca mantra giliran pak joko yang tiba tiba kaya terdoronng Keras sampe nabrak tembok. Abis nabrak tembok tangan pak joko langsung ambil posisi nyekek gitu. Tapi jin khadamnya gak keliatan. Dalam posisi mencekik pak joko lanjut baca mantra. Setelahnya pak joko ambil keris yang ada dipunggunya dan langsung menikam beberapa kali kearah depannya. Beberapa kali juga terdengar suara rintihan. Ane ngerasa sedikit lega karena ane ngerasa yang ditikam itu jin khadamnya. Setelah itu pak joko nyuruh ane buat ambil air, masih dalam posisi mencekik pak joko semburin air kedepannya. Dan usai sudah kehebohan dirumah ane malem itu. Ane seneng karena jin khadamnya kalah, tapi kesel lemari ane jadi rusak walaupun masih bisa dipakai si.
Setelah selesai melawan jin khadam, dia cerita kalau jin khadamnya udah dia usir dan dia buat banyak luka. Kemungkinan dia bakalan mati. Ane baru tau pas itu kalau jin juga bisa mati. Dan dia bilang kalau jin khadamnya adalah salah satu yang terkuat yang pernah dia hadapi. Karena gak semua jin bisa nggerakin benda. Apalagi sampai bisa jatohin lemari. Butuh energi yang besar yang harus dipunya jin itu.
Selesai cerita perihal jin khadam pak joko izin pamit, tapi sebelum itu dia minta dianter kebalai desa. Ane sama nenek Cuma nunjukin aja karena emang balai desanya gak jauh dari rumah nenek ane.
Malam itu jam 9 lebih pak joko pamit pulang. Malem itu ane gak bisa tidur, tapi ane sama sekali gak ngeliat penampakan jin khadam. Biasanya kan kalau sesajinya abis dibuang dia bakalan ngamuk semaleman. Tapi malam ini gak ada penampakan jin khadam sama sekali. Kira kira jam 1 ane akhirnya bisa terlelap.
Besoknya disekolah ane cari cari pak joko, ane mau cerita kalau semalem ana udah gak digangguin jin khadam lagi. Ane cari ke sekeliling sekolah dia gak ada, harusnya kalau belum pulang sekolah pak joko ada disekolah. Ane tanya tukang kebun lain. Katanya pak joko hari ini gak masuk. Ane akhirnya kerumahnya.
Pas ane ketok ketok yang buka pintu istrinya, kemarin gak ada istrinya karena lagi dirumah orang tuanya. Ane nanya pak joko nya ada bu. Istrinya bilang ada, pak joko lagi sakit dikamar. Tadinya istrinya gak izinin ane ketemu pak joko karena biar istirahat tapi pak joko denger suara ane. Dan suruh ane masuk. Jadi ane di izinin ketemu pak joko.
Pak joko rebahan aja dikamarnya, pakai selimut yang lumayan tebel, mukannya sedikit pucat. Belum sempet ane nanya kenapa pak joko. Pak joko langsung nyuruh ane duduk. Dan dia langsung cerita kalau semalem dia ke balai desa. Dia sempet ngelawan dengan jin mata merah, dan luka bakar yang masih mengeluarkan bara disekujur tubuhnya. Ane langsung nebak itu pasti jin penguasan balai desa Pak joko kalah telak, dan meninggalkan bekas luka lebam di punggung dan dilehernya. Sambil gemeteran pak joko bilang kalau jin balai desa itu bahaya dan mungkin ane dalam bahaya kalau gak pergi dari desa itu. Ane sempet nanya apakah gak bisa dilawan aja jinnya. Pak joko Cuma bisa geleng geleng. Karena dia ajah kalah telak gimana yang lain.
Setelah selesai dari pak joko ane balik ke sekolah sambil pusing mikirin jin balai desa yang udah bikin pak joko terkapar dikamarnya.
Bersambung....
Waktu nunjukin pukul jam 4 sore ane dan pak joko siap siap mau kerumah ane. Pak joko Cuma bawa 1 keris dan sebilah bambu kuning kecil. Ane mbonceng motornya pak joko. Dijalan kita gak banyak omong. Karena pak joko bukan orang yang suka ditanya tanya. Sampai dirumah hampir magrib, ane panggil nenek, ane kenalin dan ane jelasin maksud pak joko kesini. Pak joko suruh nenek ane tunjukin tempat nenek ane naro sesaji. Setelah adzan isya pak joko mulai beraksi, dia duduk tepat didepan sesaji yang udah disiapin nenek. Dia duduk disitu agak lama sekitar 15 menit sambil baca mantra apa ane juga gak tau. Karena ane jaga jarak sama pak joko. Setelah selesai baca mantra pak joko ambil sesajinya, dan langsung buang sesaji itu ke halaman belakang rumah. Belakang rumah ane itu kebon kosong gan.
Setelah dia buang sesajinya dia nanya ane, dimana ane paling sering liat penampakan itu khadam. Ane jawab dikamar ane pak, terus dia minta izin kekamar ane. Waktu itu sekitar jam 8 lebih. Pak joko sendirian dikamar ane. Ane diruang tamu sama nenek. Gak lama setelah pak joko masuk kamar, ane ngerasa suasana rumah nenek ane waktu itu bener bener beda, kaya ada aura yang bikin ane itu merinding. Dan bener aja, ane denger suara kaca pecah dikamar ane. Ane sama nenek kaget. Abis suara kaca pecah ane denger suara raungan gitu, asalnya dari kamar tapi menggema sampai keluar. Dan abis itu ada suara benda besar yang jatoh, suaranya kenceng banget. Pas suara itu ane langsung buru buru kekamar liat apa yang terjadi. Ternyata itu gelas yang buat minum pak joko pecah, dan lemari ane jatoh pantes suaranya kenceng banget. Tapi yang bikin ane kaget banget jin khadam keliatan dikaca kamar, dan pak joko tepat ada didepannya. Jin khadamnya tapi gak ada dikamar ane Cuma keliatan dikaca, dikaca dia keliatan marah banget sama pak joko. Pas liat ane jin khadam langsung melotot kearah ane, muka gosong dan rusaknya bikin ane takut buat natep balik kekaca. Ane nunduk gak berani liat kekaca. Pak joko teriak dalam bahasa jawa, “ Lawanmu kui dudu bocah kae, tapi aku. Metu mene yen wani” pas pak joko ngomong gitu ane coba liat kekaca lagi. Sialnya itu jin khadam masih melotot kearah ane, dalam hati ane ngomong ini kenapa jinnya melototnya ke ane. Kan yang buang sesajinya pak joko.
Pas ane mau nunduk buat ngehindarin tatapannya. Tiba tiba ane kedorong kebelakang posisi ane yang tadinya jauh dari tembok jadi nyender tembok. Bukan Cuma itu aja, tiba tiba ane ngerasa kaya lagi dicekek. Tapi gak keliatan siapa yang nyekek, walaupun sih ya pasti jin khadamnya. Ane teriak kesakitan, pak joko langsung keluarin bambu kuningnya. Dia sabetin tepat didepan ane, walaupun gak kena ane. Pas dia sabetin bambunya kedengeran suara raungan yang cukup keras. Seteleah beberapa kali sabetan ane akhirnya bisa lolos dari cekekan jin khadam ane. Ane jaga jarak lagi dari pak joko. Pak joko baca mantra lagi, belum selesai baca mantra giliran pak joko yang tiba tiba kaya terdoronng Keras sampe nabrak tembok. Abis nabrak tembok tangan pak joko langsung ambil posisi nyekek gitu. Tapi jin khadamnya gak keliatan. Dalam posisi mencekik pak joko lanjut baca mantra. Setelahnya pak joko ambil keris yang ada dipunggunya dan langsung menikam beberapa kali kearah depannya. Beberapa kali juga terdengar suara rintihan. Ane ngerasa sedikit lega karena ane ngerasa yang ditikam itu jin khadamnya. Setelah itu pak joko nyuruh ane buat ambil air, masih dalam posisi mencekik pak joko semburin air kedepannya. Dan usai sudah kehebohan dirumah ane malem itu. Ane seneng karena jin khadamnya kalah, tapi kesel lemari ane jadi rusak walaupun masih bisa dipakai si.
Setelah selesai melawan jin khadam, dia cerita kalau jin khadamnya udah dia usir dan dia buat banyak luka. Kemungkinan dia bakalan mati. Ane baru tau pas itu kalau jin juga bisa mati. Dan dia bilang kalau jin khadamnya adalah salah satu yang terkuat yang pernah dia hadapi. Karena gak semua jin bisa nggerakin benda. Apalagi sampai bisa jatohin lemari. Butuh energi yang besar yang harus dipunya jin itu.
Selesai cerita perihal jin khadam pak joko izin pamit, tapi sebelum itu dia minta dianter kebalai desa. Ane sama nenek Cuma nunjukin aja karena emang balai desanya gak jauh dari rumah nenek ane.
Malam itu jam 9 lebih pak joko pamit pulang. Malem itu ane gak bisa tidur, tapi ane sama sekali gak ngeliat penampakan jin khadam. Biasanya kan kalau sesajinya abis dibuang dia bakalan ngamuk semaleman. Tapi malam ini gak ada penampakan jin khadam sama sekali. Kira kira jam 1 ane akhirnya bisa terlelap.
Besoknya disekolah ane cari cari pak joko, ane mau cerita kalau semalem ana udah gak digangguin jin khadam lagi. Ane cari ke sekeliling sekolah dia gak ada, harusnya kalau belum pulang sekolah pak joko ada disekolah. Ane tanya tukang kebun lain. Katanya pak joko hari ini gak masuk. Ane akhirnya kerumahnya.
Pas ane ketok ketok yang buka pintu istrinya, kemarin gak ada istrinya karena lagi dirumah orang tuanya. Ane nanya pak joko nya ada bu. Istrinya bilang ada, pak joko lagi sakit dikamar. Tadinya istrinya gak izinin ane ketemu pak joko karena biar istirahat tapi pak joko denger suara ane. Dan suruh ane masuk. Jadi ane di izinin ketemu pak joko.
Pak joko rebahan aja dikamarnya, pakai selimut yang lumayan tebel, mukannya sedikit pucat. Belum sempet ane nanya kenapa pak joko. Pak joko langsung nyuruh ane duduk. Dan dia langsung cerita kalau semalem dia ke balai desa. Dia sempet ngelawan dengan jin mata merah, dan luka bakar yang masih mengeluarkan bara disekujur tubuhnya. Ane langsung nebak itu pasti jin penguasan balai desa Pak joko kalah telak, dan meninggalkan bekas luka lebam di punggung dan dilehernya. Sambil gemeteran pak joko bilang kalau jin balai desa itu bahaya dan mungkin ane dalam bahaya kalau gak pergi dari desa itu. Ane sempet nanya apakah gak bisa dilawan aja jinnya. Pak joko Cuma bisa geleng geleng. Karena dia ajah kalah telak gimana yang lain.
Setelah selesai dari pak joko ane balik ke sekolah sambil pusing mikirin jin balai desa yang udah bikin pak joko terkapar dikamarnya.
Bersambung....

Diubah oleh achanyoe 27-04-2017 23:04
pulaukapok dan 10 lainnya memberi reputasi
9
Kutip
Balas
Tutup