- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#2449
PART 32
Kesibukkan perkuliahan mulai semakin terasa menjelang akhir bulan november, berbagai tugas dan beberapa makalah yang harus dicetak membuat Gua berpikir untuk membeli sebuah laptop dan printer juga modem internet. Gimana enggak, dalam seminggu sudah empat kali Gua print tugas dan delapan kali bolak-balik ke rental komputer. Andaikan komputer di kamar rumah Gua ada di kost-an mungkin lain cerita. Tapi Gua malas untuk membawanya, belum penggunaan daya listrik yang tidak kecil jika Gua membawa CPU.
Gua sudah berniat untuk membeli laptop, maka ketika Gua sudah pulang kuliah, Gua mengajak Tante Gua untuk pergi ke Glodok menggunakan mobilnya. Ya bukan apa-apa, kan Gua di Jakarta hanya membawa si RR, jadi rasanya lebih efisien memakai mobil untuk belanja elektronik semacam ini. Gua dan Kinan sudah berada di dalam mobilnya melintasi jalan raya ibu kota, dan Kinan lah yang mengendarai mobil, karena Gua tidak hapal jalan dari kampus ke Harco Glodok.
Sekitar 1 jam kami sampai di pusatnya barang elektronik ini. Gua menuju lantai 3 bersama Kinan, lalu masuk ke salah satu toko. Gua sudah berniat membeli salah satu laptop dengan merk S dengan spesifikasi yang lebih dari cukup untuk menunjang kebutuhan tugas kuliah, karena pada dasarnya tugas perkuliahan Gua tidak membutuhkan grafis yang high-performance layaknya kebutuhan tugas Teteh tercinta. Jadi Gua rasa sebuah laptop dengan mid-entry level sudah lebih dari cukup. Game ? Dari dulu gw lebih menyukai bermain via console daripada PC atau Lapie. Setelah memilih laptop, Gua pun membeli sebuah printer di toko yang sama. Biar sekalian lah. Btw, ini laptop cuman dikasih bonus tas doang, gak ada yang lain apa, kayak card reader atau mouse pad gitu... Hadeuh.
...
Singkat cerita Gua dan Kinan sekarang sudah berada di resto fast food mekdih. Sambil menyantap pesenan masing-masing, kami membicarakan hal remeh perkuliahan, hingga Gua lupa bagaimana awalnya kami berdua malah membahas satu topik yang Gua sendiri belum tau harus bagaimana dengan janji-janji yang pernah terucap.
"Jadi Za, kamu belum cerita soal hubungan kamu dengan Mba Siska ke Vera ?", tanya Kinan setelah mendengar cerita Gua soal beberapa perempuan yang dekat dengan Gua akhir-akhir ini.
Tangan Gua mengaduk beberapa fried fries ke saos sambal dan langsung menyantapnya sekaligus.
Gua menggelengkan kepala, menatap Kinan yang sedang meminum cola dari sedotan. "Belum Kak..", jawab Gua akhirnya setelah menelan makanan.
"Kamu gimana sih Za",
"Gak kasihan sama Vera ?",
"Belum lagi Echa dan Sherlin", ucapnya dengan sedikit mendengus pelan.
Gua sadar maksud ucapan Kinan, tapi mau gimana lagi, sekarang keadaannya Gua sudah memacari Mba Siska. Gua tidak langsung menanggapi ucapannya itu, kening Gua berkerut lalu ibu jari dan telunjuk mengurut tulang hidung sembari memejamkan mata ini. Pusing Gua memikirkan ke-empat perempuan yang ada di daftar polling cerita.
"Iya aku paham, tapi asal kamu tau Kak...",
"Untuk Sherlin nih, dia udah dekat dengan cowok lain, mantannya..",
"Malah aku gak tau dia balikkan lagi apa enggak sama mantannya yang namanya Feri itu", ucap Gua.
"Poin nya bukan itu Za".
"Terus ?".
"Kamu terlalu gampang ngucapin janji yang belum pasti bisa kamu tepati".
Degh!
Ah Kinan.. Tante Gua ini kalau ngomong suka bener aja deh. Duh Nan.. Aku mesti gimana lagi coba ? da kepalang ke ucap. Mana yang aku janjiin hampir semuanya lagi. Bukan perkara sembarangan sebanarnya, tapi Gua cuma ber-empati kepada mereka, tega apa Gua mupus harapan Teteh tercinta selama ini, dari sejak kami SD hingga sekarang, belum Nona Ukhti juga dari kelas 1 SMA. Kuat bener dah itu perempuan dua. Tambahan ada Mbak Yu, seenggaknya Mba Yu pernah pacaran lah selama 2 tahunan ama Gua. Mba Siska ? Duh yang ini nih yang bahaya, enggak tau nunggu apa enggak, yang jelas kami saling pendam perasaan selama beberapa waktu walaupun hanya tersirat. Apalagi sekarang pas Gua pacarin... Permintaannya ituuu.. Ah sudahlah...
"Iya mungkin aku terlalu ngegampangin setiap harapan mereka, tapi Kak bukan soal aku mau ngasih janji joni..", ucap Gua.
"Janji Joni..?".
"Hehehe.. Iya, filmya Nicholas tahun kemaren, gak bisa nepatin janji kan dia hahaha..", jawab Gua mengingat film tahun 2005 itu.
"Diih dasar",
"Udah deh Za, aku cuma kasih saran aja, kamu harus bisa benar-benar milih diantara mereka, kamu tau kan semuanya gak main-main, bukan pacaran cinta monyet walaupun kita tergolong masih abg",
"Lain cerita kalo kamu emang mau cari perempuan untuk sekedar pacaran kayak anak SMP", tandasnya.
Gua hanya bisa mengangguk pelan menanggapi wejangannya itu. Iya sih apa yang diucapkan Tante Gua ini ada benarnya. Semua perempuan yang dekat dengan Gua saat ini bukan cari kesenangan sesaat, mereka memiliki harapan besar. Gua bicara fakta bukan omong kosong. Terserah orang mau anggap terlalu dini mikirin cinta-cintaan kayak jaman bocah. Lah yang cinta monyet aja kalo putus galau menahun, kan Pe'a. Gak ngaca broh ?.
"Kamu itu beruntung Za, banyak perempuan yang suka sama kamu, yang tulus..",
"Sampai yang di depan mata kamu aja, kamu enggak sadar kalo perempuan ini udah naruh perasaan untuk kamu dari dulu...".
Degh!
Loch... Loch... Loch... Yang di depan mata ? Maksudnya ? Kamu Kak ? Aduh kenapa ujungnya baper lagi kamu sih.
"Duh Kak, untuk itu maaf banget.. Duh gimana yaa.. Eeuu..", ucap Gua pusing, salah tingkah menjawab ucapannya itu.
"Ha ha ha ha.. Udah udah gak usah dipikirin, aku udah jadi Tante kamu sekarang hihihi...".
Senyuman yang Gua paksakan yang hanya bisa Gua berikan untuk Kinanti. Ada perasaan bersalah dan gak enak hati kepadanya. Ini kelemahan Gua, selalu gak tega dan gak enak hati kepada perempuan. Yang menjadikan Gua kadang terlalu mudah memberikan harapan dan berbaik hati kepada mereka. Yang ujungnya membuat Gua pusing 7 keliling setelah menjalaninya. Polanya harus diubah kayaknya. Sekali-kali harus jadi manusia tega seperti pada saat Gua memilih Mba Yu saat di SMA dulu daripada kedua perempuan lainnya.
...
...
...
Lampu natal yang berkerlap-kerlip menghiasi pepohonan di cafe ini membuat suasana malam menjadi indah untuk dinikmati, apalagi lantunan lagu blues yang keluar dari beberapa speaker sudut cafe semakin menambah asyiknya malam minggu. Memang hari raya natal masih jauh, tapi hiasan lampu yang membalut pohon besar itu sungguh membuat suasana berbeda. Cafe yang terletak di salah satu sudut selatan jakarta ini memang memiliki tema outdoor. Di jaman Gua (2006) jarang ada cafe yang out of the box konsepnya, berbeda dengan jaman sekarang, yang mana sudah menjamur dan sudah banyak sekali cafe dengan tema uniknya masing-masing.
Gua duduk bersama sang kekasih hati di kursi kayu, kami saling berhadapan dengan penghalang meja kayu di depan kami. Lilin pada gelas mungil menghiasi setiap meja cafe. Gua memang baru pertama kali kesini, dan overall almost perfect nih tempat. Cuma satu kekurangannya, harga menu makanan dan minimumannya amit-amit. Bukan untuk kaum mahasiswa apalagi abg SMA, udah masuk golongan kelas pekerja aja ini ma. Emang sih services dan menunya western, wajarlah. Tapi bukan berarti Gua mau belaga sok nongkrong di sini. Melainkan pemilik cafe ini yang sudah beberapa hari lalu mempromosikan tempat usahanya kepada Gua setiap hari di kampus. Si Dosum, alias Pak Boy, Dosen F n' B service Gua di kampus itulah Sang pemilik cafe.
"Wah datang juga ente Za", ucap Pak Boy kepada Gua sambil berjalan mendekat.
"Eh Pak, iya nih hehehe, abis Bapak tiap hari minta ane maen ke sini kan..", jawab Gua ketika dia sudah berdiri di samping Gua.
"Hehehe iyalah, biar tau tempat nongkrong berkelas Lu di Jakarta ini..", ucapnya lagi,
"Wah sama siapa nih Za ? Pacarnya Lu nih Za ?", tanyanya sambil melirik kepada Mba Siska.
"Iyalah, pacar saya Pak, malam minggu gini masa ngajakin si Mat Lo, kayak gay aja nanti saya jalan berdua ama dia", timpal Gua sambil nyengir.
"Hahahaha.. Bisa aja Lu, tapi kapan-kapan ajak Mat Lo ama temen-temen kelas Lu ke sini lah, biar makin rame", lanjutnya, dan Gua hanya mengangguk sambil tersenyum,
"Oh ya, kenalin Mba, Saya pemilik cafe ini sekaligus Dosennya Reza di kampus", ucap Pak Boy sambil menyodorkan tangan kepada Mba Siska.
"Salam kenal Pak, saya Siska", jawab sang kekasih menyambut tangannya Pak Boy.
"Maaf ya Mba, maaf nih..", ucap Pak Boy lagi setelah melepaskan jabatan tangannya.
"Kenapa Pak ?", tanya Mba Siska kebingungan.
"Saya cuma mastiin aja, bukannya gak percaya hehehe",
"Mba bener pacarnya mahasiswa saya yang satu ini nih..", tanya Pak Boy sambil menunjuk Gua dengan dagunya.
"Ooh..",
"Bukan kok Pak", jawab Mba Siska sambil tersenyum penuh arti.
"Naaah... Ketauan Lu boong ye ama Gua", timpal Pak Boy sambil menyenggol bahu Gua dengan tangan kanannya.
"Loch.. Loch.. Loch.. Kok bukan sih Mba ?", tanya Gua kaget seraya menatap Mba Siska.
Mba Siska tersenyum lebar dengan balik menatap mata Gua. "Saya bukan pacarnya Reza", katanya. "Tapi saya calon istrinya Reza, hi hi hi hi..", lanjutnya jahil kali ini.
Gua pun tergelak tertawa mendengar jawaban jahil kekasih hati itu. Sekitar pukul 8 malam kami sudah menghabiskan hidangan yang kami pesan sebelumnya. Tentunya Gua mendapatkan diskon harga dari Pak Boy. Btw, walaupun ini cafe miliknya, Pak Boy tetap memiliki pekerjaan sebagai Bar Mananger disalah satu hotel bintang 4 Jakarta.
...
...
...
Kini sudah masuk satu minggu di bulan desember. Hubungan Gua dengan Mba Siska berjalan mulus tanpa ada persoalan yang berarti, Gua menikmati setiap momen bersamanya. Sedangkan Bianca, kami masih menjalankan program normalisasi walaupun belum ada kemajuan yang berarti, kami masih sering jalan berdua, makan bersama, dan selalu menghabiskan waktu untuk sekedar ngobrol di depan kamarnya.
Everything looks normal, until...
Suatu malam di bulan Desember, Gua baru pulang dari rumah kontrakan Mba Siska ke kost-an. Setelah memarkirkan si RR, Gua berjalan menuju kamar. Tapi Gua melihat ada sedikit, ya sedikit keramaian di depan kamar no. 19. Dimana letak kamar Mas Wisnu berada. Gua lihat disana sudah ada Bianca, Mas Berry (pengacara muda sebelah kamar Bianca) dan Koh Ayung si pengusaha counter hp bersama Ci Alin istrinya yang tinggal di kamar no. 18.
Gua sampai juga di depan kamar, tapi mata Gua tetap memperhatikan Mas Berry yang berdiri di depan kamar no. 19 yang pintunya terbuka, sedangkan Bianca, Koh Ayung dan istrinya sudah masuk ke dalam kamar Mas Wisnu.
"Za, sini..", ucap Mas Berry setelah menengok ke arah Gua.
"Oh, iya Mas..", jawab Gua seraya berjalan mendekatinya,
"Ada apa Mas ?", tanya Gua ketika sudah berada di sampingnya.
Mas Berry hanya menggeleng pelan lalu menengok ke depan, ke dalam kamar di depan kami, "Ka', Eza udah datang nih..", ucap Mas Berry dari depan pintu ke arah dalam kamar.
Tidak lama Bianca keluar dari dalam dan langsung memeluk Gua.
"Loch ? Ada apa ini ?", tanya Gua bingung.
Lama kelamaan tubuh Bianca bergetar dan suara isak tangisnya pecah. Wajahnya terbenam ke dada Gua, Gua hanya bisa membalas pelukannya dan mengelus lembut punggungnya. Di belakang Bianca, dimana Mas Berry masih berdiri.
"Za..", ucap Mas Berry lagi kepada Gua,
"Calon istrinya Mas Wisnu..",
"Meninggal...".
Hati Gua menclos mendengarnya. Tidak percaya dengan ucapan Mas Berry tentang kabar duka itu. Pelukkan Bianca semakin erat Gua rasakan dengan isak tangis yang semakin nyaring terdengar. Kemudian Gua menaruh dagu diatas kepala Bianca, dan tanpa terasa airmata Gua pun turun membasahi pipi ini.
...
Umur seseorang memang sudah ada yang atur, tanpa pernah kita tau kapan akan kembali pulang kepada sang pencipta. Bisa jadi hari ini kita masih tertawa bersamanya, tapi esok hari dia sudah pergi meninggalkan kita semua.
Mas Wisnu adalah perantau yang bekerja di Jakarta, sedangkan calon istrinya seorang perawat RS di kota besar provinsi Jawa Timur. Kejadian meninggalnya sang calon pendamping hidup Mas Wisnu itu akibat kecelakaan tunggal sepeda motor. Yang Gua dengar dari Bianca, calon istrinya Mas Wisnu pulang larut malam setelah bekerja shift sore hingga pulang pukul 11 malam, entah mengantuk atau akibat letih setelah bekerja, motor yang dikendarainya itu melintasi lubang jalan yang rusak sehingga menyebabkan motor tidak seimbang dan menghajar bahu jalan, yang parahnya... Si pengemudi terpelanting dari motor dan jatuh ke sungai. Ya karena jalanan yang dilintasi adalah sebuah jembatan. Almarhumah meninggal di tempat setelah terhempas dan bagian kepalanya membentur batu sungai di bawah.
Gua tidak bisa berkata apa-apa mendengar cerita Bianca itu, karena awal tahun 2007 nanti rencanaya Mas Wisnu dan pasangannya itu akan melangsungkan pernikahan di kota mereka. Segalanya sudah dipersiapkan dengan matang, hanya kartu undangan saja yang memang belum dibagikan. Gua tidak berani mengambil gambaran bagaimana jika Gua yang mengalami hal tersebut seperti Mas Wisnu. Hancur sehancurnya ini hati. Pasti.
Gua pernah merasakan kehilangan ditinggalkan kekasih saat SMP dulu, dengan kejadian yang sama, kecelakaan lalu-lintas. Tapi kalau dipikir-pikir beda perkara. Ini orang mau menikah kurang dari satu bulan lagi, sedangkan Gua hanyalah berpacaran, tapi hati Gua sakit dan terpuruk ketika itu. Apalagi Mas Wisnu sekarang.
Gua hanya bisa ikut ber-belasungkawa kepada Mas Wisnu. Gua tidak berani bicara macam-macam. Hanya ucapan itulah yang bisa Gua sampaikan kepada tetangga kost-an Gua. Esok harinya Mas Wisnu pulang kampung.
...
"Za, Gue gak tega lihat Mas Wisnu", ucap Bianca setelah kepulangan Mas Wisnu tadi pagi.
"Hmm.. Sama Ka', tapi ya inilah hidup Ka'..", ucap Gua,
"Kita enggak tau hal apa yang akan kita hadapi di masa depan..",
"Kita udah merencanakan segala sesuatunya dengan matang, tapi kembali lagi, hanya Tuhan lah yang berkehendak..".
Sore ini, Gua sedang berada di depan kamar Bianca setelah pulang kuliah tadi. Duka yang masih kami rasakan sejak tadi malam masih meliputi, tidak terkecuali teman dekat kami, Mas Berry, Koh Ayung dan Ci Alin. Hanya kamilah yang cukup dekat dengan Mas Wisnu.
Gua bergidik ketika membayangkan jika Gua yang berada di posisi Mas Wisnu sekarang. Takut, teramat takut dan Gua yakin belum tentu Gua bisa sekuat Mas Wisnu walaupun Gua juga yakin hati dan jiwa Mas Wisnu hancur menerima kenyataan pahit ini.
.
.
.
.
.
.
Semoga semuanya akan baik-baik saja untuk Gua dan semuanya.... Ya semoga...
Gua sudah berniat untuk membeli laptop, maka ketika Gua sudah pulang kuliah, Gua mengajak Tante Gua untuk pergi ke Glodok menggunakan mobilnya. Ya bukan apa-apa, kan Gua di Jakarta hanya membawa si RR, jadi rasanya lebih efisien memakai mobil untuk belanja elektronik semacam ini. Gua dan Kinan sudah berada di dalam mobilnya melintasi jalan raya ibu kota, dan Kinan lah yang mengendarai mobil, karena Gua tidak hapal jalan dari kampus ke Harco Glodok.
Sekitar 1 jam kami sampai di pusatnya barang elektronik ini. Gua menuju lantai 3 bersama Kinan, lalu masuk ke salah satu toko. Gua sudah berniat membeli salah satu laptop dengan merk S dengan spesifikasi yang lebih dari cukup untuk menunjang kebutuhan tugas kuliah, karena pada dasarnya tugas perkuliahan Gua tidak membutuhkan grafis yang high-performance layaknya kebutuhan tugas Teteh tercinta. Jadi Gua rasa sebuah laptop dengan mid-entry level sudah lebih dari cukup. Game ? Dari dulu gw lebih menyukai bermain via console daripada PC atau Lapie. Setelah memilih laptop, Gua pun membeli sebuah printer di toko yang sama. Biar sekalian lah. Btw, ini laptop cuman dikasih bonus tas doang, gak ada yang lain apa, kayak card reader atau mouse pad gitu... Hadeuh.
...
Singkat cerita Gua dan Kinan sekarang sudah berada di resto fast food mekdih. Sambil menyantap pesenan masing-masing, kami membicarakan hal remeh perkuliahan, hingga Gua lupa bagaimana awalnya kami berdua malah membahas satu topik yang Gua sendiri belum tau harus bagaimana dengan janji-janji yang pernah terucap.
"Jadi Za, kamu belum cerita soal hubungan kamu dengan Mba Siska ke Vera ?", tanya Kinan setelah mendengar cerita Gua soal beberapa perempuan yang dekat dengan Gua akhir-akhir ini.
Tangan Gua mengaduk beberapa fried fries ke saos sambal dan langsung menyantapnya sekaligus.
Gua menggelengkan kepala, menatap Kinan yang sedang meminum cola dari sedotan. "Belum Kak..", jawab Gua akhirnya setelah menelan makanan.
"Kamu gimana sih Za",
"Gak kasihan sama Vera ?",
"Belum lagi Echa dan Sherlin", ucapnya dengan sedikit mendengus pelan.
Gua sadar maksud ucapan Kinan, tapi mau gimana lagi, sekarang keadaannya Gua sudah memacari Mba Siska. Gua tidak langsung menanggapi ucapannya itu, kening Gua berkerut lalu ibu jari dan telunjuk mengurut tulang hidung sembari memejamkan mata ini. Pusing Gua memikirkan ke-empat perempuan yang ada di daftar polling cerita.
"Iya aku paham, tapi asal kamu tau Kak...",
"Untuk Sherlin nih, dia udah dekat dengan cowok lain, mantannya..",
"Malah aku gak tau dia balikkan lagi apa enggak sama mantannya yang namanya Feri itu", ucap Gua.
"Poin nya bukan itu Za".
"Terus ?".
"Kamu terlalu gampang ngucapin janji yang belum pasti bisa kamu tepati".
Degh!
Ah Kinan.. Tante Gua ini kalau ngomong suka bener aja deh. Duh Nan.. Aku mesti gimana lagi coba ? da kepalang ke ucap. Mana yang aku janjiin hampir semuanya lagi. Bukan perkara sembarangan sebanarnya, tapi Gua cuma ber-empati kepada mereka, tega apa Gua mupus harapan Teteh tercinta selama ini, dari sejak kami SD hingga sekarang, belum Nona Ukhti juga dari kelas 1 SMA. Kuat bener dah itu perempuan dua. Tambahan ada Mbak Yu, seenggaknya Mba Yu pernah pacaran lah selama 2 tahunan ama Gua. Mba Siska ? Duh yang ini nih yang bahaya, enggak tau nunggu apa enggak, yang jelas kami saling pendam perasaan selama beberapa waktu walaupun hanya tersirat. Apalagi sekarang pas Gua pacarin... Permintaannya ituuu.. Ah sudahlah...
"Iya mungkin aku terlalu ngegampangin setiap harapan mereka, tapi Kak bukan soal aku mau ngasih janji joni..", ucap Gua.
"Janji Joni..?".
"Hehehe.. Iya, filmya Nicholas tahun kemaren, gak bisa nepatin janji kan dia hahaha..", jawab Gua mengingat film tahun 2005 itu.
"Diih dasar",
"Udah deh Za, aku cuma kasih saran aja, kamu harus bisa benar-benar milih diantara mereka, kamu tau kan semuanya gak main-main, bukan pacaran cinta monyet walaupun kita tergolong masih abg",
"Lain cerita kalo kamu emang mau cari perempuan untuk sekedar pacaran kayak anak SMP", tandasnya.
Gua hanya bisa mengangguk pelan menanggapi wejangannya itu. Iya sih apa yang diucapkan Tante Gua ini ada benarnya. Semua perempuan yang dekat dengan Gua saat ini bukan cari kesenangan sesaat, mereka memiliki harapan besar. Gua bicara fakta bukan omong kosong. Terserah orang mau anggap terlalu dini mikirin cinta-cintaan kayak jaman bocah. Lah yang cinta monyet aja kalo putus galau menahun, kan Pe'a. Gak ngaca broh ?.
"Kamu itu beruntung Za, banyak perempuan yang suka sama kamu, yang tulus..",
"Sampai yang di depan mata kamu aja, kamu enggak sadar kalo perempuan ini udah naruh perasaan untuk kamu dari dulu...".
Degh!
Loch... Loch... Loch... Yang di depan mata ? Maksudnya ? Kamu Kak ? Aduh kenapa ujungnya baper lagi kamu sih.

"Duh Kak, untuk itu maaf banget.. Duh gimana yaa.. Eeuu..", ucap Gua pusing, salah tingkah menjawab ucapannya itu.
"Ha ha ha ha.. Udah udah gak usah dipikirin, aku udah jadi Tante kamu sekarang hihihi...".
Senyuman yang Gua paksakan yang hanya bisa Gua berikan untuk Kinanti. Ada perasaan bersalah dan gak enak hati kepadanya. Ini kelemahan Gua, selalu gak tega dan gak enak hati kepada perempuan. Yang menjadikan Gua kadang terlalu mudah memberikan harapan dan berbaik hati kepada mereka. Yang ujungnya membuat Gua pusing 7 keliling setelah menjalaninya. Polanya harus diubah kayaknya. Sekali-kali harus jadi manusia tega seperti pada saat Gua memilih Mba Yu saat di SMA dulu daripada kedua perempuan lainnya.
...
...
...
Lampu natal yang berkerlap-kerlip menghiasi pepohonan di cafe ini membuat suasana malam menjadi indah untuk dinikmati, apalagi lantunan lagu blues yang keluar dari beberapa speaker sudut cafe semakin menambah asyiknya malam minggu. Memang hari raya natal masih jauh, tapi hiasan lampu yang membalut pohon besar itu sungguh membuat suasana berbeda. Cafe yang terletak di salah satu sudut selatan jakarta ini memang memiliki tema outdoor. Di jaman Gua (2006) jarang ada cafe yang out of the box konsepnya, berbeda dengan jaman sekarang, yang mana sudah menjamur dan sudah banyak sekali cafe dengan tema uniknya masing-masing.
Gua duduk bersama sang kekasih hati di kursi kayu, kami saling berhadapan dengan penghalang meja kayu di depan kami. Lilin pada gelas mungil menghiasi setiap meja cafe. Gua memang baru pertama kali kesini, dan overall almost perfect nih tempat. Cuma satu kekurangannya, harga menu makanan dan minimumannya amit-amit. Bukan untuk kaum mahasiswa apalagi abg SMA, udah masuk golongan kelas pekerja aja ini ma. Emang sih services dan menunya western, wajarlah. Tapi bukan berarti Gua mau belaga sok nongkrong di sini. Melainkan pemilik cafe ini yang sudah beberapa hari lalu mempromosikan tempat usahanya kepada Gua setiap hari di kampus. Si Dosum, alias Pak Boy, Dosen F n' B service Gua di kampus itulah Sang pemilik cafe.
"Wah datang juga ente Za", ucap Pak Boy kepada Gua sambil berjalan mendekat.
"Eh Pak, iya nih hehehe, abis Bapak tiap hari minta ane maen ke sini kan..", jawab Gua ketika dia sudah berdiri di samping Gua.
"Hehehe iyalah, biar tau tempat nongkrong berkelas Lu di Jakarta ini..", ucapnya lagi,
"Wah sama siapa nih Za ? Pacarnya Lu nih Za ?", tanyanya sambil melirik kepada Mba Siska.
"Iyalah, pacar saya Pak, malam minggu gini masa ngajakin si Mat Lo, kayak gay aja nanti saya jalan berdua ama dia", timpal Gua sambil nyengir.
"Hahahaha.. Bisa aja Lu, tapi kapan-kapan ajak Mat Lo ama temen-temen kelas Lu ke sini lah, biar makin rame", lanjutnya, dan Gua hanya mengangguk sambil tersenyum,
"Oh ya, kenalin Mba, Saya pemilik cafe ini sekaligus Dosennya Reza di kampus", ucap Pak Boy sambil menyodorkan tangan kepada Mba Siska.
"Salam kenal Pak, saya Siska", jawab sang kekasih menyambut tangannya Pak Boy.
"Maaf ya Mba, maaf nih..", ucap Pak Boy lagi setelah melepaskan jabatan tangannya.
"Kenapa Pak ?", tanya Mba Siska kebingungan.
"Saya cuma mastiin aja, bukannya gak percaya hehehe",
"Mba bener pacarnya mahasiswa saya yang satu ini nih..", tanya Pak Boy sambil menunjuk Gua dengan dagunya.
"Ooh..",
"Bukan kok Pak", jawab Mba Siska sambil tersenyum penuh arti.
"Naaah... Ketauan Lu boong ye ama Gua", timpal Pak Boy sambil menyenggol bahu Gua dengan tangan kanannya.
"Loch.. Loch.. Loch.. Kok bukan sih Mba ?", tanya Gua kaget seraya menatap Mba Siska.
Mba Siska tersenyum lebar dengan balik menatap mata Gua. "Saya bukan pacarnya Reza", katanya. "Tapi saya calon istrinya Reza, hi hi hi hi..", lanjutnya jahil kali ini.
Gua pun tergelak tertawa mendengar jawaban jahil kekasih hati itu. Sekitar pukul 8 malam kami sudah menghabiskan hidangan yang kami pesan sebelumnya. Tentunya Gua mendapatkan diskon harga dari Pak Boy. Btw, walaupun ini cafe miliknya, Pak Boy tetap memiliki pekerjaan sebagai Bar Mananger disalah satu hotel bintang 4 Jakarta.
...
...
...
Kini sudah masuk satu minggu di bulan desember. Hubungan Gua dengan Mba Siska berjalan mulus tanpa ada persoalan yang berarti, Gua menikmati setiap momen bersamanya. Sedangkan Bianca, kami masih menjalankan program normalisasi walaupun belum ada kemajuan yang berarti, kami masih sering jalan berdua, makan bersama, dan selalu menghabiskan waktu untuk sekedar ngobrol di depan kamarnya.
Everything looks normal, until...
Suatu malam di bulan Desember, Gua baru pulang dari rumah kontrakan Mba Siska ke kost-an. Setelah memarkirkan si RR, Gua berjalan menuju kamar. Tapi Gua melihat ada sedikit, ya sedikit keramaian di depan kamar no. 19. Dimana letak kamar Mas Wisnu berada. Gua lihat disana sudah ada Bianca, Mas Berry (pengacara muda sebelah kamar Bianca) dan Koh Ayung si pengusaha counter hp bersama Ci Alin istrinya yang tinggal di kamar no. 18.
Gua sampai juga di depan kamar, tapi mata Gua tetap memperhatikan Mas Berry yang berdiri di depan kamar no. 19 yang pintunya terbuka, sedangkan Bianca, Koh Ayung dan istrinya sudah masuk ke dalam kamar Mas Wisnu.
"Za, sini..", ucap Mas Berry setelah menengok ke arah Gua.
"Oh, iya Mas..", jawab Gua seraya berjalan mendekatinya,
"Ada apa Mas ?", tanya Gua ketika sudah berada di sampingnya.
Mas Berry hanya menggeleng pelan lalu menengok ke depan, ke dalam kamar di depan kami, "Ka', Eza udah datang nih..", ucap Mas Berry dari depan pintu ke arah dalam kamar.
Tidak lama Bianca keluar dari dalam dan langsung memeluk Gua.
"Loch ? Ada apa ini ?", tanya Gua bingung.
Lama kelamaan tubuh Bianca bergetar dan suara isak tangisnya pecah. Wajahnya terbenam ke dada Gua, Gua hanya bisa membalas pelukannya dan mengelus lembut punggungnya. Di belakang Bianca, dimana Mas Berry masih berdiri.
"Za..", ucap Mas Berry lagi kepada Gua,
"Calon istrinya Mas Wisnu..",
"Meninggal...".
Hati Gua menclos mendengarnya. Tidak percaya dengan ucapan Mas Berry tentang kabar duka itu. Pelukkan Bianca semakin erat Gua rasakan dengan isak tangis yang semakin nyaring terdengar. Kemudian Gua menaruh dagu diatas kepala Bianca, dan tanpa terasa airmata Gua pun turun membasahi pipi ini.
...
Umur seseorang memang sudah ada yang atur, tanpa pernah kita tau kapan akan kembali pulang kepada sang pencipta. Bisa jadi hari ini kita masih tertawa bersamanya, tapi esok hari dia sudah pergi meninggalkan kita semua.
Mas Wisnu adalah perantau yang bekerja di Jakarta, sedangkan calon istrinya seorang perawat RS di kota besar provinsi Jawa Timur. Kejadian meninggalnya sang calon pendamping hidup Mas Wisnu itu akibat kecelakaan tunggal sepeda motor. Yang Gua dengar dari Bianca, calon istrinya Mas Wisnu pulang larut malam setelah bekerja shift sore hingga pulang pukul 11 malam, entah mengantuk atau akibat letih setelah bekerja, motor yang dikendarainya itu melintasi lubang jalan yang rusak sehingga menyebabkan motor tidak seimbang dan menghajar bahu jalan, yang parahnya... Si pengemudi terpelanting dari motor dan jatuh ke sungai. Ya karena jalanan yang dilintasi adalah sebuah jembatan. Almarhumah meninggal di tempat setelah terhempas dan bagian kepalanya membentur batu sungai di bawah.
Gua tidak bisa berkata apa-apa mendengar cerita Bianca itu, karena awal tahun 2007 nanti rencanaya Mas Wisnu dan pasangannya itu akan melangsungkan pernikahan di kota mereka. Segalanya sudah dipersiapkan dengan matang, hanya kartu undangan saja yang memang belum dibagikan. Gua tidak berani mengambil gambaran bagaimana jika Gua yang mengalami hal tersebut seperti Mas Wisnu. Hancur sehancurnya ini hati. Pasti.
Gua pernah merasakan kehilangan ditinggalkan kekasih saat SMP dulu, dengan kejadian yang sama, kecelakaan lalu-lintas. Tapi kalau dipikir-pikir beda perkara. Ini orang mau menikah kurang dari satu bulan lagi, sedangkan Gua hanyalah berpacaran, tapi hati Gua sakit dan terpuruk ketika itu. Apalagi Mas Wisnu sekarang.
Gua hanya bisa ikut ber-belasungkawa kepada Mas Wisnu. Gua tidak berani bicara macam-macam. Hanya ucapan itulah yang bisa Gua sampaikan kepada tetangga kost-an Gua. Esok harinya Mas Wisnu pulang kampung.
...
"Za, Gue gak tega lihat Mas Wisnu", ucap Bianca setelah kepulangan Mas Wisnu tadi pagi.
"Hmm.. Sama Ka', tapi ya inilah hidup Ka'..", ucap Gua,
"Kita enggak tau hal apa yang akan kita hadapi di masa depan..",
"Kita udah merencanakan segala sesuatunya dengan matang, tapi kembali lagi, hanya Tuhan lah yang berkehendak..".
Sore ini, Gua sedang berada di depan kamar Bianca setelah pulang kuliah tadi. Duka yang masih kami rasakan sejak tadi malam masih meliputi, tidak terkecuali teman dekat kami, Mas Berry, Koh Ayung dan Ci Alin. Hanya kamilah yang cukup dekat dengan Mas Wisnu.
Gua bergidik ketika membayangkan jika Gua yang berada di posisi Mas Wisnu sekarang. Takut, teramat takut dan Gua yakin belum tentu Gua bisa sekuat Mas Wisnu walaupun Gua juga yakin hati dan jiwa Mas Wisnu hancur menerima kenyataan pahit ini.
.
.
.
.
.
.
Semoga semuanya akan baik-baik saja untuk Gua dan semuanya.... Ya semoga...
Diubah oleh glitch.7 27-04-2017 12:10
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..


(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 
