- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80.2K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#110
PART III
Kakek meneruskan perjalanannya. Bau wangi tetap menyumbat lubang hidungnya. Daun‐daun hutan yang tua berguguran ke tanah. Angin bukit yang bertiup menyegarkan badannya. Rasa pening di kepalanya hilang. Kakek berhadapan dengan pohon‐pohon bunga yang beraneka rupa. Kakek tidak peduli dengan semuanya itu. Dia menyimpang ke kiri, masuk ke arah hutan kelubi. Di situ juga Kakek bersua dengan pohon‐pohon bunga.
Di ujung pohon‐pohon bunga itu terdapat jalan tanah setapak. Kakek lalu ikut jalan itu , karena kokok ayam hutan datangnya dari situ. Kakek berhenti berjalan, bila dia berpandangan dengan seorang perempuan tua berdiri di ujung jalan. Bila melihat Kakek berhenti, perempuan itu segera menghampirinya.
“Kau tersesat?” Kata perempuan itu.
“Tidak.”
“Habis bagaimana kau bisa ke mari?”
“Saya berburu ayam.”
“Pantaslah ayam aku banyak yang hilang.” “Saya….”
“Sudah. Mari singgah di rumah aku dulu.”
Kakek lalu mengikuti perempuan tua itu ke rumahnya.
Karena perempuan itu mendakwa, bahwa ayam yang tergantung di pinggang Kakek itu, adalah ayam kepunyaanya, tanpa tanya jawab Kakek lalu menyerahkannya. Ayam itu dijadikan gulai yang kemudiannya dijadikan hidangan makan malam buat Kakek. Selain dari perempuan tua itu Kakek dapat berkenalan dengan seorang perempuan muda yang tinggal serumah dengan perempuan tersebut.
Kakek diberitahu oleh perempuan tua itu bahwa perempuan muda itu adalah anaknya. Kakek cuma menganggukkan kepala saja, kemudian Kakek minta perempuan itu menghantarkannya ke kaki Bukit Kota. Permintaan Kakek itu tidak dapat dipenuhi oleh perempuan tua tersebut. Dia meminta Kakek bermalam di rumahnya.
“Baiklah, tapi besok pagi saya mesti pulang,” Kata Kakek.
“Boleh, kami tidak pernah ingkar janji.”
“Antarkan saya sampai ke kaki bukit.”
“Tentulah boleh, tapi kau mesti berjanji kepada kami.”
“Janji apa ? ”
“Jangan menembak binatang ternakan kami.”
Kakek terdiam. Apa hak perempuan tua ini menahan kesukaannya. Kakek menatap wajah wanita tua itu cukup lama.
Wanita tua itu tersenyum.
“Kau merasa susah dengan syarat itu?”
“Tak susah, tapi….”
“Berburulah di tempat lain tapi jangan di sini.” “Baiklah.”
“Kalau kau ingkari janji buruk akibatnya.” Orang tua itu mengingatkan Kakek dengan nada yang keras.
Bulu tengkuk Kakek meremang.
Malam itu Kakek tidak tidur. Wanita tua itu mengajak Kakek berdiskusi hingga menjelang subuh.
Secara diam‐diam Kakek jatuh hati pada perempuan muda yang nampak berperilaku sopan santun. Cantik orangnya dengan sepasang mata yang bersinar. Berkulit putih dan rambut terurai di atas bahu.
Subuh itu Kakek terpaksa sembahyang subuh di surau bersama dengan penduduk di kampung tersebut. Orang di situ menerima Kakek dengan mesra.
Seperti yang dijanjikan, Wanita tua itu bersama anaknya menghantar Kakek hingga ke kaki Bukit Kota. Sebagai tanda kenangan wanita tua itu menghadiahkan kepada Kakek sebilah keris pendek.
“Ingat, jadilah manusia yang teguh pada janji, tidak menipu dan menyiksa sesama mahkluk!” Kata orang tua, bila bertemu dengan jalan dia mulai masuk ke hutan dulu.
“Kalau mau ayam minta pada kami, jangan menembaknya atau mencurinya,” Sambung perempuan tua itu.
Kakek menganggukkan kepala sambil menoleh ke kanan. Bila Kakek menoleh ke kiri kembali, perempuan tua dan anaknya hilang.
Kakek pulang tanpa ayam hutan tapi membawa keris pendek yang terpaksa diusap dengan kemenyan setiap malam Jumat. Itu pesan perempuan tua yang mesti dipatuhinya, tapi setiap kali keris itu diusap, anak perempuan tua itu akan menjelma. Satu perkara yang tidak disenangi oleh Kakek.
Lantas Kakek mengambil keputusan untuk memulangkan keris itu. Dia pun pergi ke Bukit Kota.
Satu hari satu malam dia berada di situ. Dia tidak juga bertemu rumah perempuan tua itu. Tempat yang ditandainya dulu, ternyata hutan besar yang menakutkan dan penuh dengan pohon‐pohon besar dan akar kayu berjuntaian.
Dari kawan Kakek yang membuat pondok di kaki Bukit Kota, Kakek mengetahui bahwa kampung yang dimasukinya dulu ialah kampung orang Bunian (Bangsa halus. Selanjutnya dalam cerita ini diterjemahkan dengan bangsa halus. Saya sesuaikan dengan terjemahan di detik.com disalah satu artikel yang saya lampirkan sebagai perbandingan).
Dan Kakek termasuk dalam orang yang beruntung, karena bangsa Halus itu berkenan padanya karena itu dia dilayani, kalau bangsa Halus tidak berkenan, sudah pasti Kakek tersesat di dalam hutan berbulan‐bulan.
Walaupun begitu, Kakek masih bisa menjalin silaturahmi dengan bangsa Halus dengan baik. Malah dia telah dianggap sebagai salah seorang anggota bangsa Halus. Kakek mengetahui semuanya ini melalui anak gadis wanita tua melalui keris pendek yang diusapnya pada tiap‐tiap malam Jumat.
“Ingat, berbuat baik sesama manusia, jangan tamak dalam hidup, bersihkan diri dari perasaan hasad dan dengki,” Kata perempuan tua itu pada Kakek pada suatu malam.
“Saya tahu,” jawab Kakek.
Kemudian perempuan itu menghilang di tengah‐tengah bau kemenyan yang semerbak.
Dua minggu kemudian, Kakek menghilang selama seminggu. Seluruh anak cucunya jadi gempar.
Masuk minggu yang kedua, Kakek pulang dan memberitahu nenek bahwa dia telah kimpoi dengan bangsa Halus.
Nenek terdiam. Tidak memberikan suatu komentar apapun.
Sudah seminggu Hari Raya berlalu, tapi rumah Kakek tetap sibuk dengan anak cucu yang datang berhari raya ke rumahnya. Pada malam 27 qamariyah yang lalu, Kakek turut bersama memasang lampu di halaman rumah dengan anak cucu.
Kakek membelikan mercon untuk anak cucunya. Sesungguhnya, Kakek amat menyayangi semua anak cucunya dan memang menjadi kebiasaan dalam hidup Kakek, pada Hari Raya pertama dia akan mungumpulkan anak cucunya di anjung rumah, makan lemang dan rendang bersama anak cucu, kemudian akan memimpin anak cucunya pergi ke masjid untuk sembahyang Hari Raya.
Setelah itu, Kakek akan mengajak semua anak cucunya pergi ke tanah pekuburan menziarahi kuburan nenek moyang yang sudah pergi.
Kakek pun menunjukkan kuburan Kakek nenek pada anak cucu sambil menyebutkan keistimewaan Kakek nenek pada masa hayatnya dulu.
Dalam suasana yang sibuk itu, tiba‐tiba Kakek menghilang. Tidak ada siapapun yang tahu ke mana Kakek pergi. Bila salah seorang cucu menyarankan supaya kehilangkan Kakek itu dilaporkan pada pihak polisi, nenek dengan tenang bersuara:
“Tidak usah bimbang, dia akan pulang dalam sehari dua ini.”
“Dia berhari raya ke rumah bini yang satu lagi.” Jawaban nenek itu, menghilangkan keraguan anak cucu.
Nenek pun menceritakan pada anak cucu, sepanjang bulan puasa yang lalu, Kakek tidak pergi berburu, dia banyak menghabiskan waktunya di kampung bangsa Halus, bersama isteri barunya. Setiap kali Kakek pulang, dia membawa buah tangan untuk nenek yang dibekalkan oleh bangsa Halus, madunya.
Sebagai isteri yang setia, nenek tidak pernah bertanya tentang isteri muda Kakek.
Nenek tahu, kalau ditanya dan ditanya jawab nanti Kakek naik darah, akibatnya akan berlaku pertengkaran. Kalau sudah bertengkar nanti mudah masam muka. Kalau ini terjadi tentulah tidak elok. Malu pada anak menantu dan cucu cicit.
Demi menjaga kerukunan rumah tangga dan anak menantu ada baiknya perkara itu dibiarkan.
Itulah pendapat nenek.
Dia merasa bersyukur pada Tuhan, kalau Kakek sehat dan bisa makan dengan baik, itu sudah cukup.
Bagi nenek, kalau dia ngotot mengikat Kakek sepenuh hati pun tidak ada gunanya, satu hari, salah seorang dari mereka akan berpisah juga atas kehendak Allah yang maha besar.
Barang kali besok atau lusa dia akan meninggalkan Kakek, bila nyawa miliknya diambil oleh Tuhan, begitu juga dengan Kakek, tidak ada yang abadi di dunia ini melainkan Allah yang maha bijaksana.
Nenek menghitung semuanya ini, karena itu dia tetap bersikap tenang dan senang atas apa yang terjadi pada diri Kakek.
Akhirnya anak cucu Kakek yang berkumpul di rumah terpaksa meninggalkan rumah Kakek karena urusan pribadi masing‐masing. Ada yang sudah bekerja sendiri dan tidak kurang pula yang makan gaji.
Mobil yang berjajar di depan rumah Kakek, sebuah demi sebuah meninggalkan halaman rumah Kakek, pulang ke tempat masing‐masing. Nenek berpeluk‐pelukan dengan anak cucu sambil mendoakan keselamatan mereka sewaktu dalam perjalanan.
Nenek berharap pada Hari Raya tahun depan anak cucu akan kembali ke kampung.
Cuma yang membuat nenek sesak pikiran hanya satu saja, yaitu sewaktu mobil anak cucunya bergerak, Kakek tidak dapat melambaikan tangan. Kakek tidak dapat memeluk anak cucu dengan penuh mesra. Mengingat ini semua, mata nenek jadi sayu, perasaannya cukup menghiba.


“Sampaikan salam pada Kakek,” Kata Ahmad Zaki cucu Kakek yang kedua belas. Matanya merenung muka nenek.
“Boleh, jangan bimbang,” Nenek memberikan penekanan.
Ahmad Zaki yang pergi pertama kali meninggalkan rumah Kakek. Dia bertugas sebagai guru mengajar di Sekolah Menengah Dr Burhanuddin di Taiping.
Tatkala semua anak cucu sudah pergi, nenek kembali dengan pekerjanya sehari-hari, membelah pohon sirih di belakang rumah, melihat ayam yang bertelur di reban serta memetik kacang panjang.
Kalau mengikuti kata hati, nenek mau saja mengikuti salah seorang dari anak cucunya.
Duduk bersama mereka.
Tidak berguna kalau duduk di rumah sendiri sedangkan suami selalu saja meninggalkannya.
Tapi bila nenek mengkaji kembali hal ini dengan sedalam‐dalamnya, Dia tidak rela meninggalkan Kakek. Dia menganggap semua yang terjadi atas dirinya adalah atas kehendak Tuhan yang maha besar.
Sudah tiga jam anak cucunya pergi, tapi telinga nenek masih dapat mendengar suara anak cucunya, bagaikan terbayang tingkah laku anak cucu di depan matanya.

Nenek tidak tahu pukul berapa anak cucunya pergi meninggalkannya, yang pasti waktu anak cucunya pergi tadi matahari baru naik segalah, tapi sekarang matahari sudahpun berada di pucuk kelapa...
Spoiler for 1:
Kakek meneruskan perjalanannya. Bau wangi tetap menyumbat lubang hidungnya. Daun‐daun hutan yang tua berguguran ke tanah. Angin bukit yang bertiup menyegarkan badannya. Rasa pening di kepalanya hilang. Kakek berhadapan dengan pohon‐pohon bunga yang beraneka rupa. Kakek tidak peduli dengan semuanya itu. Dia menyimpang ke kiri, masuk ke arah hutan kelubi. Di situ juga Kakek bersua dengan pohon‐pohon bunga.
Di ujung pohon‐pohon bunga itu terdapat jalan tanah setapak. Kakek lalu ikut jalan itu , karena kokok ayam hutan datangnya dari situ. Kakek berhenti berjalan, bila dia berpandangan dengan seorang perempuan tua berdiri di ujung jalan. Bila melihat Kakek berhenti, perempuan itu segera menghampirinya.
“Kau tersesat?” Kata perempuan itu.
“Tidak.”
“Habis bagaimana kau bisa ke mari?”
“Saya berburu ayam.”
“Pantaslah ayam aku banyak yang hilang.” “Saya….”
“Sudah. Mari singgah di rumah aku dulu.”
Kakek lalu mengikuti perempuan tua itu ke rumahnya.
Karena perempuan itu mendakwa, bahwa ayam yang tergantung di pinggang Kakek itu, adalah ayam kepunyaanya, tanpa tanya jawab Kakek lalu menyerahkannya. Ayam itu dijadikan gulai yang kemudiannya dijadikan hidangan makan malam buat Kakek. Selain dari perempuan tua itu Kakek dapat berkenalan dengan seorang perempuan muda yang tinggal serumah dengan perempuan tersebut.
Kakek diberitahu oleh perempuan tua itu bahwa perempuan muda itu adalah anaknya. Kakek cuma menganggukkan kepala saja, kemudian Kakek minta perempuan itu menghantarkannya ke kaki Bukit Kota. Permintaan Kakek itu tidak dapat dipenuhi oleh perempuan tua tersebut. Dia meminta Kakek bermalam di rumahnya.
“Baiklah, tapi besok pagi saya mesti pulang,” Kata Kakek.
“Boleh, kami tidak pernah ingkar janji.”
“Antarkan saya sampai ke kaki bukit.”
“Tentulah boleh, tapi kau mesti berjanji kepada kami.”
“Janji apa ? ”
“Jangan menembak binatang ternakan kami.”
Kakek terdiam. Apa hak perempuan tua ini menahan kesukaannya. Kakek menatap wajah wanita tua itu cukup lama.
Wanita tua itu tersenyum.
“Kau merasa susah dengan syarat itu?”
“Tak susah, tapi….”
“Berburulah di tempat lain tapi jangan di sini.” “Baiklah.”
“Kalau kau ingkari janji buruk akibatnya.” Orang tua itu mengingatkan Kakek dengan nada yang keras.
Bulu tengkuk Kakek meremang.
Spoiler for 2:
Malam itu Kakek tidak tidur. Wanita tua itu mengajak Kakek berdiskusi hingga menjelang subuh.
Secara diam‐diam Kakek jatuh hati pada perempuan muda yang nampak berperilaku sopan santun. Cantik orangnya dengan sepasang mata yang bersinar. Berkulit putih dan rambut terurai di atas bahu.
Subuh itu Kakek terpaksa sembahyang subuh di surau bersama dengan penduduk di kampung tersebut. Orang di situ menerima Kakek dengan mesra.
Seperti yang dijanjikan, Wanita tua itu bersama anaknya menghantar Kakek hingga ke kaki Bukit Kota. Sebagai tanda kenangan wanita tua itu menghadiahkan kepada Kakek sebilah keris pendek.
“Ingat, jadilah manusia yang teguh pada janji, tidak menipu dan menyiksa sesama mahkluk!” Kata orang tua, bila bertemu dengan jalan dia mulai masuk ke hutan dulu.
“Kalau mau ayam minta pada kami, jangan menembaknya atau mencurinya,” Sambung perempuan tua itu.
Kakek menganggukkan kepala sambil menoleh ke kanan. Bila Kakek menoleh ke kiri kembali, perempuan tua dan anaknya hilang.
Kakek pulang tanpa ayam hutan tapi membawa keris pendek yang terpaksa diusap dengan kemenyan setiap malam Jumat. Itu pesan perempuan tua yang mesti dipatuhinya, tapi setiap kali keris itu diusap, anak perempuan tua itu akan menjelma. Satu perkara yang tidak disenangi oleh Kakek.
Lantas Kakek mengambil keputusan untuk memulangkan keris itu. Dia pun pergi ke Bukit Kota.
Spoiler for 3:
Satu hari satu malam dia berada di situ. Dia tidak juga bertemu rumah perempuan tua itu. Tempat yang ditandainya dulu, ternyata hutan besar yang menakutkan dan penuh dengan pohon‐pohon besar dan akar kayu berjuntaian.
Dari kawan Kakek yang membuat pondok di kaki Bukit Kota, Kakek mengetahui bahwa kampung yang dimasukinya dulu ialah kampung orang Bunian (Bangsa halus. Selanjutnya dalam cerita ini diterjemahkan dengan bangsa halus. Saya sesuaikan dengan terjemahan di detik.com disalah satu artikel yang saya lampirkan sebagai perbandingan).
Dan Kakek termasuk dalam orang yang beruntung, karena bangsa Halus itu berkenan padanya karena itu dia dilayani, kalau bangsa Halus tidak berkenan, sudah pasti Kakek tersesat di dalam hutan berbulan‐bulan.
Walaupun begitu, Kakek masih bisa menjalin silaturahmi dengan bangsa Halus dengan baik. Malah dia telah dianggap sebagai salah seorang anggota bangsa Halus. Kakek mengetahui semuanya ini melalui anak gadis wanita tua melalui keris pendek yang diusapnya pada tiap‐tiap malam Jumat.
“Ingat, berbuat baik sesama manusia, jangan tamak dalam hidup, bersihkan diri dari perasaan hasad dan dengki,” Kata perempuan tua itu pada Kakek pada suatu malam.
“Saya tahu,” jawab Kakek.
Kemudian perempuan itu menghilang di tengah‐tengah bau kemenyan yang semerbak.
Dua minggu kemudian, Kakek menghilang selama seminggu. Seluruh anak cucunya jadi gempar.
Masuk minggu yang kedua, Kakek pulang dan memberitahu nenek bahwa dia telah kimpoi dengan bangsa Halus.
Nenek terdiam. Tidak memberikan suatu komentar apapun.
Sudah seminggu Hari Raya berlalu, tapi rumah Kakek tetap sibuk dengan anak cucu yang datang berhari raya ke rumahnya. Pada malam 27 qamariyah yang lalu, Kakek turut bersama memasang lampu di halaman rumah dengan anak cucu.
Kakek membelikan mercon untuk anak cucunya. Sesungguhnya, Kakek amat menyayangi semua anak cucunya dan memang menjadi kebiasaan dalam hidup Kakek, pada Hari Raya pertama dia akan mungumpulkan anak cucunya di anjung rumah, makan lemang dan rendang bersama anak cucu, kemudian akan memimpin anak cucunya pergi ke masjid untuk sembahyang Hari Raya.
Spoiler for 4:
Setelah itu, Kakek akan mengajak semua anak cucunya pergi ke tanah pekuburan menziarahi kuburan nenek moyang yang sudah pergi.
Kakek pun menunjukkan kuburan Kakek nenek pada anak cucu sambil menyebutkan keistimewaan Kakek nenek pada masa hayatnya dulu.
Dalam suasana yang sibuk itu, tiba‐tiba Kakek menghilang. Tidak ada siapapun yang tahu ke mana Kakek pergi. Bila salah seorang cucu menyarankan supaya kehilangkan Kakek itu dilaporkan pada pihak polisi, nenek dengan tenang bersuara:
“Tidak usah bimbang, dia akan pulang dalam sehari dua ini.”
“Dia berhari raya ke rumah bini yang satu lagi.” Jawaban nenek itu, menghilangkan keraguan anak cucu.
Nenek pun menceritakan pada anak cucu, sepanjang bulan puasa yang lalu, Kakek tidak pergi berburu, dia banyak menghabiskan waktunya di kampung bangsa Halus, bersama isteri barunya. Setiap kali Kakek pulang, dia membawa buah tangan untuk nenek yang dibekalkan oleh bangsa Halus, madunya.
Sebagai isteri yang setia, nenek tidak pernah bertanya tentang isteri muda Kakek.
Nenek tahu, kalau ditanya dan ditanya jawab nanti Kakek naik darah, akibatnya akan berlaku pertengkaran. Kalau sudah bertengkar nanti mudah masam muka. Kalau ini terjadi tentulah tidak elok. Malu pada anak menantu dan cucu cicit.
Demi menjaga kerukunan rumah tangga dan anak menantu ada baiknya perkara itu dibiarkan.
Itulah pendapat nenek.
Dia merasa bersyukur pada Tuhan, kalau Kakek sehat dan bisa makan dengan baik, itu sudah cukup.
Bagi nenek, kalau dia ngotot mengikat Kakek sepenuh hati pun tidak ada gunanya, satu hari, salah seorang dari mereka akan berpisah juga atas kehendak Allah yang maha besar.
Barang kali besok atau lusa dia akan meninggalkan Kakek, bila nyawa miliknya diambil oleh Tuhan, begitu juga dengan Kakek, tidak ada yang abadi di dunia ini melainkan Allah yang maha bijaksana.
Spoiler for 5:
Nenek menghitung semuanya ini, karena itu dia tetap bersikap tenang dan senang atas apa yang terjadi pada diri Kakek.
Akhirnya anak cucu Kakek yang berkumpul di rumah terpaksa meninggalkan rumah Kakek karena urusan pribadi masing‐masing. Ada yang sudah bekerja sendiri dan tidak kurang pula yang makan gaji.
Mobil yang berjajar di depan rumah Kakek, sebuah demi sebuah meninggalkan halaman rumah Kakek, pulang ke tempat masing‐masing. Nenek berpeluk‐pelukan dengan anak cucu sambil mendoakan keselamatan mereka sewaktu dalam perjalanan.
Nenek berharap pada Hari Raya tahun depan anak cucu akan kembali ke kampung.
Cuma yang membuat nenek sesak pikiran hanya satu saja, yaitu sewaktu mobil anak cucunya bergerak, Kakek tidak dapat melambaikan tangan. Kakek tidak dapat memeluk anak cucu dengan penuh mesra. Mengingat ini semua, mata nenek jadi sayu, perasaannya cukup menghiba.


“Sampaikan salam pada Kakek,” Kata Ahmad Zaki cucu Kakek yang kedua belas. Matanya merenung muka nenek.
“Boleh, jangan bimbang,” Nenek memberikan penekanan.
Ahmad Zaki yang pergi pertama kali meninggalkan rumah Kakek. Dia bertugas sebagai guru mengajar di Sekolah Menengah Dr Burhanuddin di Taiping.
Tatkala semua anak cucu sudah pergi, nenek kembali dengan pekerjanya sehari-hari, membelah pohon sirih di belakang rumah, melihat ayam yang bertelur di reban serta memetik kacang panjang.
Kalau mengikuti kata hati, nenek mau saja mengikuti salah seorang dari anak cucunya.
Duduk bersama mereka.
Tidak berguna kalau duduk di rumah sendiri sedangkan suami selalu saja meninggalkannya.
Tapi bila nenek mengkaji kembali hal ini dengan sedalam‐dalamnya, Dia tidak rela meninggalkan Kakek. Dia menganggap semua yang terjadi atas dirinya adalah atas kehendak Tuhan yang maha besar.
Sudah tiga jam anak cucunya pergi, tapi telinga nenek masih dapat mendengar suara anak cucunya, bagaikan terbayang tingkah laku anak cucu di depan matanya.

Nenek tidak tahu pukul berapa anak cucunya pergi meninggalkannya, yang pasti waktu anak cucunya pergi tadi matahari baru naik segalah, tapi sekarang matahari sudahpun berada di pucuk kelapa...
Diubah oleh mufidfathul 26-04-2017 22:40
Araka dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas