- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80.1K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#109
PART II
Kakek mengambil keputusan yang tepat. Dia melupakan tentang perempuan cantik itu. Tapi, perangainya yang suka berburu itu tidak dapat dikikisnya dari hati. Kalau sehari dia tidak pergi berburu, dia merasa hidupnya terlalu sepi. Semua yang dilakukannya serba tidak kena dan salah.
Akhirnya, Kakek teringat tentang hutan kecil di pinggir Bukit Kota. Menurut orang‐orang yang berladang di pinggir bukit itu, ayam hutan cukup banyak terdapat di situ. Pelanduk dan landak juga selalu ditemui oleh mereka.
Karena Bukit Kota tidak termasuk dalam kawasan hitam, Kakek pun mengambil keputusan untuk berburu ke tempat tersebut.
Kakek berusaha mengumpulkan beberapa orang kawannya. Mereka diajak berunding untuk berburu ayam hutan. Semua kawan‐kawannya menolak dengan alasan takut bersua dengan komunis atau terjumpa dengan anggota tentara.
“Jangan bodoh, kawasan itu, kawasan putih!” Kata Kakek pada kawan‐kawannya dengan nada suara yang keras sambil meraba‐raba kumis tebalnya.
“Kami tak mau pergi!” Jawab kawan‐kawan Kakek.
Kemudian mereka meninggalkan Kakek sendirian di anjung rumah. Cerita orang‐orang yang berladang di pinggir Bikit Kota berjumpa dengan komunis, bukanlah perkara baru. Sudah jadi buah mulut orang ramai. Sudah sampai ke pengetahuan kepala Kampung Kota dan penghulu. Itu pun Sudah dilaporkan kepada pihak polisi. Orang‐orang komunis itu memang suka melintas jalan mengikuti Bukit Kota dari Segari menuju ke Ulu Perak, akhirnya masuk ke dalam kawasan Thailand. Orang‐orang yang berladang di kaki bukit merasa beruntung dan berbahagia karena orang‐orang komunis itu tidak menggangu mereka.
Walaupun kawan‐kawannya tidak mau pergi, Kakek tetap meneruskan rencananya. Dia berazam mau menembak ayam hutan sebanyak yang bisa ditembak, disamping itu dia berharap juga akan dapat menembak seekor dua pelanduk atau landak.
Tidak ada persiapan tertentu yang diatur oleh Kakek untuk pergi berburu kecuali sehari sebelum masuk hutan, dia membakar kemenyan di ujung bendul sambil membasuh mukanya dengan air kelapa muda tiga kali.
Pagi itu, Kakek bertolak dari rumah sesudah makan nasi dan minum kopi. Dia menaiki sepeda sejauh dua batu untuk sampai ke kaki Bukit Kota. Memang, sudah dirancangnya untuk berburu ayam hutan pada waktu pagi. Dia berpendapat pergi berburu pada waktu pagi banyak untungnya, bisa berkeliaran di hutan hingga matahari jatuh.
Waktu Kakek sampai di kaki Bukit Kota, matahari sudah meninggi. Air embun di ujung daun nampak bersinar‐sinar dipanah matahari. Kakek tidak segera masuk ke dalam hutan. Dia singgah dulu di sebuah pondok kepunyaan kawannya. Dia bertanya pada kawannya, arah mana terdapat bunyi kokok ayam hutan. Kawannya itu pun menunjukkan arahnya.
“Batalkan saja rencana kau itu.” Ujar kawannya dengan tenang sambil merenung ke arah pohon‐pohon hutan. Kakek tersenyum sambil mengusap moncong senapannya dua tiga kali dengan tapak tangan.
“Kenapa?” Kakek menimang senapannya. Kawannya terdiam tapi merenung pada tali pinggang Kakek yang digayuti peluru.
“Berbahaya.”
“”Kau takut aku ditangkap komunis? Kalau tidak kenapa kau tahan aku?”
Kakek meletakkan buntut senapan ke tanah. Dia merenung pada puncak Bukit Kota. Kakek mendengar bunyi kokok ayam hutan atau ayam denak.
Mata Kakek bercahaya. Kokok ayam itu bertalu‐talu dan bersahutan‐sahutan pula. Kakek sudah tidak bisa bersabar lagi. Dia segera meletakkan senapan atas bahu dan bersiap untuk melangkah masuk ke dalam hutan.
“Jangan terburu‐buru nanti buruk akibatnya!” Kawan Kakek yang bertahi lalat di pipi mengingatkan Kakek.
“Kau tidak usah banyak bicara, kalau mau daging ayam hutan, bicara terang‐terang, aku boleh beri! Berapa ekor kau mau?” Balas Kakek dan dia pun mengatur langkah menuju lorong ke dalam hutan.
Kawannya segera mengejarnya. Tiba‐tiba saja hati Kakek jadi panas dengan perbuatan kawannya itu.
“Tidak Usah pergi!” Tahan kawannya.
“Ini urusan aku, kau tunggu di pondok milikmu!”
“Aku tak mau apa yang kau dapat! Tapi kau mesti ingat tempat ini bukan tempat sembarangan, banyak orang yang tersesat di dalamnya!”
“Dia orang itu siapa? Dan aku siapa? Kalau tak cukup syarat di dada aku tak menjadi pemburu tahu!” Kakek mula membanggakan diri. Dan Kakek lalu masuk ke dalam hutan.
Kawannya geleng-geleng kepala.
Makin jauh Kakek melintasi hutan, makin sering didengannya suara kokok ayam jantan.
Kakek pun sampai ke satu kawasan agak lapang. Kakek berhenti di situ.
Tiba‐tiba dia memandang sekumpulan ayam hutan keluar dari celah‐celah pohon menuju ke kawasan tanah lapang, mencakar‐cakar tanah di situ, kemudian masuk ke dalam semak kembali. "Memang tidak salah lagi inilah tempatnya", Kata Kakek dalam hati.
Dia merangkak perlahan‐lahan menuju ke balik batang pohon besar.
Dia duduk di situ. Matahari berangsur terik, tapi sinar matahari itu tidak dapat menjamah batang tubuh Kakek karena dia dilindungi oleh rimbun pohon hutan.
Kakek memasukkan peluru ke dalam laras senapan. Kakek mendengar kokok ayam hutan di atas kepalanya. Kakek dongakkan kepala. Dia melihat seekor ayam jantan dengan bulu yang berkilat bertengger atas dahan. Ayam itu mengepak‐ngepakkan sayapnya. Ekornya yang panjang berkilat bergerak‐gerak dimainkan angin.
Kakek melompat, seekor lipan bara sepanjang satu jengkal keluar dari celah daun‐daun kering merayap atas sandal. Karena sangat kuat Kakek melompat lipan itu terpelanting atas tanah. Kakek segera memijaknya hingga lipan itu mati. Ayam jantan di atas kepala terbang dan hilang. Kakek kecewa.
Dia lalu memaki lipan yang sudah hancur itu. Kakek membuat rencana lain. Dia mau berganti tempat karena Kakek yakin ayam‐ayam itu tidak akan datang ke situ lagi.
Baru lima langkah Kakek melangkah dia mendengar kokok ayam. Kakek berputar balik ke tempat asal. Kakek duduk di situ sambil menghisap rokok daun nipah.
Sepuluh menit masa berlalu, ayam hutan tidak juga datang ke tanah lapang. Waktu Kakek mencampakkan puntung rokoknya ke pangkal pohon meranti patah cabang, Kakek mendengar kokok ayam lagi.
Kakek tersenyum. Dia yakin ayam‐ayam itu akan datang juga ke situ.
Memang benar dugaan Kakek. Ranting pohon sebelah kanannya bergerak‐gerak. Seekor ayam hinggap di situ, kemudian turun ke tanah lapang. Ayam itu memanggil kawan‐kawannya yang lain. Dua tiga ekor ayam betina keluar dari celah‐celah pohon lalu menghampiri ayam jantan.
Satu peluang yang baik bagi Kakek. Dia melepaskan tembakan. Ayam jantan menggelepar atas tanah. Kakek segera menerkam lalu menyembelihnya. Sewaktu Kakek mengikat kaki ayam untuk digantung ke pinggangnya, seekor ayam betina mengejarnya lalu berputar di depan Kakek dua tiga kali. Kakek segera menangkapnya. Mata golok yang tajam pun memutuskan urat di tengkuk ayam. Bila Kakek memeriksa badan ayam itu ternyata pangkal paha ayam itu sudah ditembus peluru.
Dua ekor ayam hutan tergantung di pinggang Kakek. Cukup senang hatinya. Dan Kakek berencana salah seekor dari ayam itu akan diberikan pada kawannya yang berladang di kaki bukit.
Panas kian terik dan Kakek mengambil keputusan untuk pulang saja.
Pada petang hari nanti dia akan datang lagi berburu ke situ.
Kakek mendongak ke langit. Matahari sudah agak condong ke barat. Kakek senyum, dia dapat menduga pukul berapa sekarang. “Masih awal lagi, kalau tak salah baru pukul tiga,” Kata Kakek dalam hati.
Dengan mendadak saja dia membatalkan rencananya untuk pulang. Dia mau berburu lagi. Sebelum matahari jatuh di kaki langit, dia berniat untuk menembak paling kurang lima ekor ayam lagi. Mumpung ada kesempatan berburu biar puas. Esok lusa belum tentu bisa datang lagi ke sini. Siapa tahu entah esok, entah lusa kawasan ini akan dijadikan 'Black Area'.
"Sebelum semuanya terjadi biar aku gunakan peluang ini"Itulah yang difikirkan oleh Kakek.
Dia mengisi peluru ke dalam laras senapan. Putar kiri putar kanan, akhirnya Kakek berjalan ke arah utara mengikuti lorong ayam hutan dengan harapan di ujung lorong itu dia akan bertemu dengan barang yang dicarinya. Baru lima ela (1 ela= 91,4 cm) berjalan Kakek sudah mendengar kokok ayam jantan.
“Kali ini kawan‐kawan yang tidak mau ikut aku berburu tentu rugi,” kata Kakek dalam hati sambil mematah dahan pohon hutan.
Kakek kian jauh masuk ke dalam hutan. Kakek mendengar bunyi suara orang berbicara. Dia segera menyembunyikan diri di celah rimbunan pohon hutan. Suara orang berbicara itu semakin lama semakin dekat berselang-seling dengan bunyi kokok ayam dan suara itik.
Sesekali Kakek mendengar bunyi orang mengukur kelapa.
Cukup lama Kakek melihat kiri kanan, dia tidak melihat satu pun bayangan manusia. Kakek mengira itu cuma perasaannya saja. Dia segera keluar dari tempat persembunyian dan meneruskan perjalanannya. Kakek merasa kepalanya pening dan dia mencium bau wangi di sekelilingnya. Dia menduga penunggu Bukit Kota mau menguji dirinya. Cepat‐cepat Kakek membaca sesuatu, tetapi bau wangi itu semakin kuat datang. Kepalanya terasa berdenyut‐denyut.
“Aneh!” Kata Kakek sambil menggaru tanah. Dengan ujung goloknya.
Kakek membuat goresan segi tiga di tanah. Tapi ujung goresan itu dipancangnya dengan ranting kayu. Mulut Kakek lalu membaca sesuatu dengan tenang. Kemudian dia menghembus pancang yang dicacaknya itu dengan mulut. Ketiga‐tiga pancang itu rebah ke tanah.
Tahulah Kakek, bahwa dia tidak berhadapan dengan penunggu Bukit Kota, tapi dia berhadapan dengan makhluk lain yang serba aneh.
Spoiler for 1:
Kakek mengambil keputusan yang tepat. Dia melupakan tentang perempuan cantik itu. Tapi, perangainya yang suka berburu itu tidak dapat dikikisnya dari hati. Kalau sehari dia tidak pergi berburu, dia merasa hidupnya terlalu sepi. Semua yang dilakukannya serba tidak kena dan salah.
Akhirnya, Kakek teringat tentang hutan kecil di pinggir Bukit Kota. Menurut orang‐orang yang berladang di pinggir bukit itu, ayam hutan cukup banyak terdapat di situ. Pelanduk dan landak juga selalu ditemui oleh mereka.
Karena Bukit Kota tidak termasuk dalam kawasan hitam, Kakek pun mengambil keputusan untuk berburu ke tempat tersebut.
Kakek berusaha mengumpulkan beberapa orang kawannya. Mereka diajak berunding untuk berburu ayam hutan. Semua kawan‐kawannya menolak dengan alasan takut bersua dengan komunis atau terjumpa dengan anggota tentara.
“Jangan bodoh, kawasan itu, kawasan putih!” Kata Kakek pada kawan‐kawannya dengan nada suara yang keras sambil meraba‐raba kumis tebalnya.
“Kami tak mau pergi!” Jawab kawan‐kawan Kakek.
Kemudian mereka meninggalkan Kakek sendirian di anjung rumah. Cerita orang‐orang yang berladang di pinggir Bikit Kota berjumpa dengan komunis, bukanlah perkara baru. Sudah jadi buah mulut orang ramai. Sudah sampai ke pengetahuan kepala Kampung Kota dan penghulu. Itu pun Sudah dilaporkan kepada pihak polisi. Orang‐orang komunis itu memang suka melintas jalan mengikuti Bukit Kota dari Segari menuju ke Ulu Perak, akhirnya masuk ke dalam kawasan Thailand. Orang‐orang yang berladang di kaki bukit merasa beruntung dan berbahagia karena orang‐orang komunis itu tidak menggangu mereka.
Walaupun kawan‐kawannya tidak mau pergi, Kakek tetap meneruskan rencananya. Dia berazam mau menembak ayam hutan sebanyak yang bisa ditembak, disamping itu dia berharap juga akan dapat menembak seekor dua pelanduk atau landak.
Tidak ada persiapan tertentu yang diatur oleh Kakek untuk pergi berburu kecuali sehari sebelum masuk hutan, dia membakar kemenyan di ujung bendul sambil membasuh mukanya dengan air kelapa muda tiga kali.
Pagi itu, Kakek bertolak dari rumah sesudah makan nasi dan minum kopi. Dia menaiki sepeda sejauh dua batu untuk sampai ke kaki Bukit Kota. Memang, sudah dirancangnya untuk berburu ayam hutan pada waktu pagi. Dia berpendapat pergi berburu pada waktu pagi banyak untungnya, bisa berkeliaran di hutan hingga matahari jatuh.
Spoiler for 2:
Waktu Kakek sampai di kaki Bukit Kota, matahari sudah meninggi. Air embun di ujung daun nampak bersinar‐sinar dipanah matahari. Kakek tidak segera masuk ke dalam hutan. Dia singgah dulu di sebuah pondok kepunyaan kawannya. Dia bertanya pada kawannya, arah mana terdapat bunyi kokok ayam hutan. Kawannya itu pun menunjukkan arahnya.
“Batalkan saja rencana kau itu.” Ujar kawannya dengan tenang sambil merenung ke arah pohon‐pohon hutan. Kakek tersenyum sambil mengusap moncong senapannya dua tiga kali dengan tapak tangan.
“Kenapa?” Kakek menimang senapannya. Kawannya terdiam tapi merenung pada tali pinggang Kakek yang digayuti peluru.
“Berbahaya.”
“”Kau takut aku ditangkap komunis? Kalau tidak kenapa kau tahan aku?”
Kakek meletakkan buntut senapan ke tanah. Dia merenung pada puncak Bukit Kota. Kakek mendengar bunyi kokok ayam hutan atau ayam denak.
Mata Kakek bercahaya. Kokok ayam itu bertalu‐talu dan bersahutan‐sahutan pula. Kakek sudah tidak bisa bersabar lagi. Dia segera meletakkan senapan atas bahu dan bersiap untuk melangkah masuk ke dalam hutan.
“Jangan terburu‐buru nanti buruk akibatnya!” Kawan Kakek yang bertahi lalat di pipi mengingatkan Kakek.
“Kau tidak usah banyak bicara, kalau mau daging ayam hutan, bicara terang‐terang, aku boleh beri! Berapa ekor kau mau?” Balas Kakek dan dia pun mengatur langkah menuju lorong ke dalam hutan.
Kawannya segera mengejarnya. Tiba‐tiba saja hati Kakek jadi panas dengan perbuatan kawannya itu.
“Tidak Usah pergi!” Tahan kawannya.
“Ini urusan aku, kau tunggu di pondok milikmu!”
“Aku tak mau apa yang kau dapat! Tapi kau mesti ingat tempat ini bukan tempat sembarangan, banyak orang yang tersesat di dalamnya!”
“Dia orang itu siapa? Dan aku siapa? Kalau tak cukup syarat di dada aku tak menjadi pemburu tahu!” Kakek mula membanggakan diri. Dan Kakek lalu masuk ke dalam hutan.
Kawannya geleng-geleng kepala.
Spoiler for 3:
Makin jauh Kakek melintasi hutan, makin sering didengannya suara kokok ayam jantan.
Kakek pun sampai ke satu kawasan agak lapang. Kakek berhenti di situ.
Tiba‐tiba dia memandang sekumpulan ayam hutan keluar dari celah‐celah pohon menuju ke kawasan tanah lapang, mencakar‐cakar tanah di situ, kemudian masuk ke dalam semak kembali. "Memang tidak salah lagi inilah tempatnya", Kata Kakek dalam hati.
Dia merangkak perlahan‐lahan menuju ke balik batang pohon besar.
Dia duduk di situ. Matahari berangsur terik, tapi sinar matahari itu tidak dapat menjamah batang tubuh Kakek karena dia dilindungi oleh rimbun pohon hutan.
Kakek memasukkan peluru ke dalam laras senapan. Kakek mendengar kokok ayam hutan di atas kepalanya. Kakek dongakkan kepala. Dia melihat seekor ayam jantan dengan bulu yang berkilat bertengger atas dahan. Ayam itu mengepak‐ngepakkan sayapnya. Ekornya yang panjang berkilat bergerak‐gerak dimainkan angin.
Kakek melompat, seekor lipan bara sepanjang satu jengkal keluar dari celah daun‐daun kering merayap atas sandal. Karena sangat kuat Kakek melompat lipan itu terpelanting atas tanah. Kakek segera memijaknya hingga lipan itu mati. Ayam jantan di atas kepala terbang dan hilang. Kakek kecewa.
Dia lalu memaki lipan yang sudah hancur itu. Kakek membuat rencana lain. Dia mau berganti tempat karena Kakek yakin ayam‐ayam itu tidak akan datang ke situ lagi.
Baru lima langkah Kakek melangkah dia mendengar kokok ayam. Kakek berputar balik ke tempat asal. Kakek duduk di situ sambil menghisap rokok daun nipah.
Sepuluh menit masa berlalu, ayam hutan tidak juga datang ke tanah lapang. Waktu Kakek mencampakkan puntung rokoknya ke pangkal pohon meranti patah cabang, Kakek mendengar kokok ayam lagi.
Kakek tersenyum. Dia yakin ayam‐ayam itu akan datang juga ke situ.
Memang benar dugaan Kakek. Ranting pohon sebelah kanannya bergerak‐gerak. Seekor ayam hinggap di situ, kemudian turun ke tanah lapang. Ayam itu memanggil kawan‐kawannya yang lain. Dua tiga ekor ayam betina keluar dari celah‐celah pohon lalu menghampiri ayam jantan.
Spoiler for 4:
Satu peluang yang baik bagi Kakek. Dia melepaskan tembakan. Ayam jantan menggelepar atas tanah. Kakek segera menerkam lalu menyembelihnya. Sewaktu Kakek mengikat kaki ayam untuk digantung ke pinggangnya, seekor ayam betina mengejarnya lalu berputar di depan Kakek dua tiga kali. Kakek segera menangkapnya. Mata golok yang tajam pun memutuskan urat di tengkuk ayam. Bila Kakek memeriksa badan ayam itu ternyata pangkal paha ayam itu sudah ditembus peluru.
Dua ekor ayam hutan tergantung di pinggang Kakek. Cukup senang hatinya. Dan Kakek berencana salah seekor dari ayam itu akan diberikan pada kawannya yang berladang di kaki bukit.
Panas kian terik dan Kakek mengambil keputusan untuk pulang saja.
Pada petang hari nanti dia akan datang lagi berburu ke situ.
Kakek mendongak ke langit. Matahari sudah agak condong ke barat. Kakek senyum, dia dapat menduga pukul berapa sekarang. “Masih awal lagi, kalau tak salah baru pukul tiga,” Kata Kakek dalam hati.
Dengan mendadak saja dia membatalkan rencananya untuk pulang. Dia mau berburu lagi. Sebelum matahari jatuh di kaki langit, dia berniat untuk menembak paling kurang lima ekor ayam lagi. Mumpung ada kesempatan berburu biar puas. Esok lusa belum tentu bisa datang lagi ke sini. Siapa tahu entah esok, entah lusa kawasan ini akan dijadikan 'Black Area'.
"Sebelum semuanya terjadi biar aku gunakan peluang ini"Itulah yang difikirkan oleh Kakek.
Dia mengisi peluru ke dalam laras senapan. Putar kiri putar kanan, akhirnya Kakek berjalan ke arah utara mengikuti lorong ayam hutan dengan harapan di ujung lorong itu dia akan bertemu dengan barang yang dicarinya. Baru lima ela (1 ela= 91,4 cm) berjalan Kakek sudah mendengar kokok ayam jantan.
“Kali ini kawan‐kawan yang tidak mau ikut aku berburu tentu rugi,” kata Kakek dalam hati sambil mematah dahan pohon hutan.
Kakek kian jauh masuk ke dalam hutan. Kakek mendengar bunyi suara orang berbicara. Dia segera menyembunyikan diri di celah rimbunan pohon hutan. Suara orang berbicara itu semakin lama semakin dekat berselang-seling dengan bunyi kokok ayam dan suara itik.
Sesekali Kakek mendengar bunyi orang mengukur kelapa.
Cukup lama Kakek melihat kiri kanan, dia tidak melihat satu pun bayangan manusia. Kakek mengira itu cuma perasaannya saja. Dia segera keluar dari tempat persembunyian dan meneruskan perjalanannya. Kakek merasa kepalanya pening dan dia mencium bau wangi di sekelilingnya. Dia menduga penunggu Bukit Kota mau menguji dirinya. Cepat‐cepat Kakek membaca sesuatu, tetapi bau wangi itu semakin kuat datang. Kepalanya terasa berdenyut‐denyut.
“Aneh!” Kata Kakek sambil menggaru tanah. Dengan ujung goloknya.
Kakek membuat goresan segi tiga di tanah. Tapi ujung goresan itu dipancangnya dengan ranting kayu. Mulut Kakek lalu membaca sesuatu dengan tenang. Kemudian dia menghembus pancang yang dicacaknya itu dengan mulut. Ketiga‐tiga pancang itu rebah ke tanah.
Tahulah Kakek, bahwa dia tidak berhadapan dengan penunggu Bukit Kota, tapi dia berhadapan dengan makhluk lain yang serba aneh.
Diubah oleh mufidfathul 26-04-2017 22:18
Araka dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas