Benar kata orang hidup di rantau memang gak gampang, kita mesti dituntut harus mandiri dalam mengerjakan setiap hal, mulai menjaga kebersihan diri hingga lingkungan, mempersiapkan bekal, hingga lain2 termasuk urusan cuci strika semuanya kini harus gue lakukan sendiri, suatu pagi di hari libur kerja, ketika gue sedang berberes kamar, datang sebuah panggilan masuk dari nomor Erin, dalam pembicaraan di telepon dia hanya mengingatkan ihwal rencana resepsi pernikahannya yang sedia digelar dalam waktu dekat, juga menanyakan kebersediaan gue untuk dapat hadir disana, sempat sebelumnya gue beralasan bahwa gue sibuk sehingga kemungkinan tak dapat hadir, tapi Erin sama sekali gak bisa menerima alasan tersebut yang justru dia terus memaksa gue untuk datang, gue hanya bisa memberi balasan yang ngambang, bahwa gue akan mencoba memikirkanya lagi, bukan bermaksud setuju tapi juga bukan pula menolak
Tiba pada hari bahagia Erin, akhirnya gue benar2 tak dapatkan sebuah alasan selain saat itu turut hadir, karena kebetulan malam sebelumnya Bang Bisma telah repot2 datang ke kost demi untuk ngejemput gue, kurang tau juga gimana justru malah Abang gue yang menggebu2 pengen datang kesana, padahal khabar pernikahan Erin sendiri belum pernah sekalipun gue pernah cerita padanya, dan yang belakangan baru gue tau bahwa itu adalah sebagian rencana Abang gue dan Mbak Sofi, ya ternyata sejak dulu gue kasih no teleponnya sepertinya mereka jadi kian deket, kita akhirnya berangkat menggunakan mobil dinas Abang gue, kendaraan berplat nomor AD, plat nomor sebuah kota di jawa tengah, begitu tiba di acara resepsi, setelah sebelumnya salaman kepada sang tuan rumah yaitu nyokap Erin beserta juga kakak2nya dan kedua mempelai, selanjutnya gue langsung membaur bersama para tamu undangan lainya, berbeda seperti prosesi adat jawa biasanya, gue tak melihat ada dekorasi disana, tempat biasa sang mempelai akan duduk pada singgasananya, mungkin dikarenakan kedua mempelai sama2 berkebutuhan khusus jadi hal seperti itu tak dibutuhkan, kedua mempelai justru berada di depan ikut menyalami para tamu
Acara tersebut kebetulan di helat pada pagi hari sehingga tak begitu banyak tamu yang hadir, sedang gue baru tiba disana ketika menjelang siang hari, setelah bubar acara tersebut sekitar jam 4 sore mereka segera bergabung semeja dengan gue, disana ada Mbak sofi yang ketika itu sudah tak canggung lagi mengambil tempat duduknya mepet di sebelah Abang gue, Mbak Widia serta juga Erin dan suaminya, mereka duduk mengelilingi gue, dalam posisi seperti ini lantas saja membuat gue berasa khawatir, gue sadar berikutnya pasti akan ada sesi interogasi dari mereka, mungkin gak jauh2 perihal pernikahan gue yang batal, namun sebelumnya gue merasa perlu menyatakan permintaan maaf gue kepada Erin
Quote:
Gue : Maaf Rin, sepertinya gue memang bener2 gak bisa wujudin janji gue dulu ke lo, untuk bisa ajak pasangan gue kemari, maaf juga atas tempo hari yang udah bikin lo khawatir (serentak setelahnya semua wanita yang berada disana pada berlinangan air mata, padahal gue sudah berusaha memilih2 kata yang hendak gue ungkapkan supaya tak berkesan mellow dan sentimentil)
Erin : Ya gue tau kok Gri dan gue amat bisa maklum, sekarang yang jadi masalahnya gue ingin tau penyebabnya?
Gue : Maaf, untuk yang satu ini gue gak bisa beritahu kalian, biar cukup gue sendiri aja yang simpan rapat2 rahasia tersebut, satu2nya alasan mungkin dikarenakan sejak awalnya memang kamintak berjodoh, ketika saat gue diberi kepercayaan untuk menjaganya dulu, rupanya gue tak mampu akibat dari kebodohan gue sendiri
Erin : Apakah setiap harinya lo masih makan dengan teratur? masihkah juga mendapatkan waktu istirahat
Gue : Jangan khawatir Rin! gue masih sanggup jaga diri gue sendiri, gak akan tejadi apa2 dengan gue kedepan, gue janji!, pola makan dan istirahat gue insyaallah cukup kok, biarpun hidup di rantau dan harus indekost alhamdulillah gue masih bisa jajan yang bergizi
Erin : Syukurlah kalau begitu, selanjutnya yang ingin gue tau, apakah sudah ada planning untuk kehidupan lo kedepan nanti? sudahkah terjadwal dan tertarget seperti semestinya
Gue : Sementara ini gue gak akan ngoyo Rin, gue akan syukuri dulu apa yang masih bisa gue dapatkan hari ini, masalah rencana biarlah sang waktu nanti yang akan tentukan, gue gak akan pernah memberi patokan, karena kalau kita mengukur dan membatasi sesuatu berdasarkan target, suatu hari pabila kita justru tak dapat mencapainya, kita hanya akan mendapatkan kecewa, sebaliknya gue hanya akan mencoba jalani hidup mengikuti arus, seperti air mengalir yang mengisi ruang2 kosong dan celah2 di tanah, sedang dalam hubunganya dengan rencana hidup gue, gue hanya akan pasrah atas nasib yang ditakdirkan untuk gue, sambil terus mencoba untuk melupakan kenangan2 dimasa lalu, dan memulai kembali lembaran hidup yang baru
Erin : Amin, gue hanya bisa sekedar mendo’akan agar apapun yang sedang lo kerjakan dan niatkan semoga terlaksana dan tercapai semuanya
Sampai tiba waktu untuk gue berpamitan, karena rupanya cukup lama juga gue berada disana, kepada Erin gue menitipkan sebuah do’a untuknya agar senantiasa bahagia bersama pasangannya, menjadi wanita yang patuh terhadap suaminya, menjadi ibu yang bijak bagi anak2nya kelak, kepada suaminya gue juga menitipkan agar dia bisa menjadi imam dan panutan yang baik dalam keluarga, dapat selalu diandalkan dalam menjaga dan melindungi Erin nantinya, menggantikan peran dan memberikan apa saja yang dulu belum sempat gue beri dan wujudkan kepada Erin, finally semoga mereka menjadi keluarga yang samawa, dicukupkan dalam hal nafkah dan rejeki, dijaga selalu kesehatanya, dan terakhir semoga juga dikaruniai anak yang sholeh dan sholehah (ketika gue selesai mengucapkanya Erin gak berhenti menangis)
Selanjutnya pandangan gue berikutnya justru mengarah kepada pasangan baru itu, yaitu Abang gue dan Mbak Sofi, yang dengan sangat biadab malah sengaja mengumbar kemesraan mereka di depan gue, tangan mereka sedari tadi gak pernah lepas gandengan, bikin gue ngiri aja, jadilah gue isengin
Quote:
Gue : Woi belum muhrim tuh! nikah dulu baru halal nanti pegang2an nya
Bang Bisma : Eh Mas! wah lo bisanya ganggu orang aja, iya2 nih gue lepas
Gue : Lhah emang betul gitu kan Mbak Sofi?
Mbak Sofi : Eh.. ! kalo gue sih gak tau ya! coba lo tanya ke Abang lo aja deh! (wajahnya memerah)
Gue : Ngomong2 kapan nih traktiranya, kualat loh telantarin orang yang udah comblangin kalian berdua?
Bang Bisma : Iya2 Abang ngerti gak usah sering di ingetin juga napa, yuk Dek Mas pamit sekarang ya! (pamit ke Mbak Sofi pake bahasa Mas Adek an) tante saya pamit sekarang, dan Erin semoga berbahagia
Mbak Sofi : Ya Mas nanti ati2 pulangnya, kalo sudah sampe tujuan segera kabari!
Nyokap Aning : Ya Nak Bisma, Nak Agri kalian berdua nanti sering-sering ya kunjungin tante disini, isyaallah jawab kami berdua
Kita akhirnya bertolak pulang, dibutuhkan kurang dari 3 jam perjalanan sampai akhirnya kami tiba kembali di kost gue, kita nyampe pas hari udah gelap sekitar jam 8 malam, sempet gue tawari Abang gue untuk nginap, dan meneruskan perjalanan keesokan paginya, namun justru ditolaknya dia memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan, dia pamit ke gue setelah meyerahkan beberapa lembar ratusan ribu rupiah
Quote:
Bang Bisma : Nih buat lo! emang gak banyak tapi mungkin bisa buat bantu2 kebutuhan lo selama disini
Gue : Eh, ini apaan maksudnya, sumpah yang tadi itu gue maksudkan bercanda aja kok Bang
Bang Bisma : Udah gak pa2 lo ambil aja, itung2 untuk ganti sebuah traktiran, juga sebagai uang jasa karena lo udah berhasil bantuin deketin Abang dengan Mbak Sofi, terserah mau lo gunain buat apa, Abang udah ridho buat kasih ke lo
Gue : Wah bener juga nih bisa buat pesta, borong whisky vodka, nyimeng dll (ya dari tempat rantau ini gue akhirnya jadi tahu macem2 nama benda haram tersebut, gue hanya sering denger dari anak2 kost, tapi gak pernah sekalipun coba, bahkanpun make)
Bang Bisma : Eh kunyuk, gue kasih itu bukan untuk keperluan lo mabok juga kali, awas aja ntar kalo lo pake aneh2, lo itu ditempat jauh bukanya jaga diri malah bikin ulah
Gue : Yah masak gitu aja Abang percaya, santai aja Bang gue gak mungkin tergoda make yang gitu2an kok, btw makasih ya
Bang Bisma : Yah biar lo lebih ati2 aja hidup di kota orang, jangan ngikut2 hal yang gak bener, yaudah Abang pamit sekarang, Assalamualaikum
Setelah mobil Bang Bisma menghilang di jalanan, gue pun segera masuk ke dalam, kamar kost gue kebetulan berada di paling ujung berada dekat dengan pintu gerbang, jadi jalan gak ada beberapa puluh meter udah nyampe, gue inget pas pagi sebelumnya gue menitip kunci kost gue ke Irfan saat gue pergi, kebetulan emang dia tinggal gak gitu jauh cuma berjarak beberapa kamar dari gue, niat hati ingin mengambil kunci kesana, namun kemudian segera gue urungkan setelah mengetahui lampu dikamar gue dalam keadaan nyala, sedang pintu juga belum tertutup dengan sempurna, gue pikir mungkin Irfan sedang berada di dalam, karena biasanya sehari2 dia memang selalu numpang ngadem di kamar, kebetulan gue punya kipas angin di dalem, awal2 gue gak naruh curiga sekalipun setelah menemukan ada sepasang sepatu milik wanita di rak depan, gue pikir mungkin milik salah seorang penghuni kost yang menitip, namun setelah gue coba buka pintu gue justru langsung shock, gue bukan hanya gak dapetin Irfan berada disana, tapi gue justru dapatin ada seorang wanita yang ketika itu posisinya sedang duduk membelakangi gue, tepatnya menghadap ke arah kipas angin, sedang tak mengenakan kemeja atasanya, sehingga dapat dengan jelas gue lihat tali BH nya, Damn! gue segera balik keluar dan menutup pintu, gue suruh kepada cew tersebut untuk kembali berpakaian, dan gak butuh waktu berapa lama setelah gue nunggu sampai akhirnya pintu kamar kemudian terbuka, dan dibaliknya terdapat wajah seorang wanita yang lumayan cantik sedang menunjukan ekspresi nampak malu2, sedikit gue gambarkan tentangnya, cew tersebut hampir memiliki penampilan seperti Astri, baik dari segi fisik pun juga wajah
Quote:
Cew : Silahkan masuk Gri! dan selamat datang! maaf untuk yang tadi gue gak sengaja
Gue : OK! sekarang tolong lo jelasin siapa lo? darimana lo tau nama gue? dan bagaimana caranya lo bisa masuk kesini
Cew : Emang lo beneran udah gak inget sama gue ya?
Gue : Lhah! emang dulu kita pernah kenal? (sempat awalnya gue ragu2 dan menduga bahwa dia adalah Risma, tapi melihat perubahannya sepertinya gak mungkin bila bisa se signifikan ini, lagian juga kalo dia Risma gimana dia tahu gue sedang berada di kota ini, gimana dia tahu alamat detail tentang tempat kost ini, sepertinya sangat mustahil bila dia Risma)
Cew : Ohya maaf dulu kita sepertinya belum sempet kenalan ya! kenalin kalau gitu, nama gue Vani, gue adeknya Irfan, mungkin lo udah lupain gue, tapi gue gak pernah bisa lupa wajah lo semenjak kita dulu ketemu pertama kali, gue bisa ada disini dan masuk ke kamar lo, ya karena atas suruhan Irfan! jadi Gri kira2 dibolehin gak kalau misalnya gue sementara numpang tinggal disini selama beberapa hari
Gue : Hah! mana bisa begitu, kita aja bukan sodara juga bukan apa2, gimana bisa kita tinggal dalam satu atap, gimana kata tetangga2 nanti? sekarang dimana Irfan nya?
Vani : Sekarang Irfannya lagi ada dikamarnya, eh tapi lo mau ngapain? jangan dulu deh, jangan kesana sekarang!
Gue : Gue cuma mau ngomong aja sama dia, jadi gue minta lo gak usah berisik
Vani : Yaudah, padahal udah gue bilangin, ntar kalau lihat apa2 jangan pernah nyesel dan salahin gue karena gak kasih tau sebelumnya
Segera gue buka pintu kamar Irfan yang gue tau memang gak pernah di kunci, langsung gue dobrak dengan maksud mau gue kagetin namun yang terjadi selanjutnya justru malah gue sendiri yang kaget, jadi pemandangan yang gue dapati disana adalah Irfan sedang menindih tubuh seorang perempuan dibawahnya, sedang pakaian mereka berdua sama2 tertanggal dan polos, (sumpah demi apa hari ini gue diperlihatkan pemandangan seperti ini bahkan hampir 2 kali) buru2 gue tutup pintu lagi, sambil mengumpat dari luar pintu kamarnya “kampret, kalau mau gituan bisa kunci pintu dulu kali, biar gak ada orang tau” Gue buru2 balik ke kamar gue yang malah segera disambut tawa Vani
Quote:
Vani : Gimana? dapet penampakan apa tadi disana?
Gue : Kampret, Abang lo tuh lagi kumpul kebo, ngapa lo malah ketawa2, gue lagi kesel tau!
Vani : Tadi dibilangin juga apa, gak nurut sih sama gue! yaudah biar lo gak tambah kesel, sekarang gue bikinin teh anget ya?
Gue : Eh..! adanya gue yang harusnya nawarin lo minum, lo kan yang tamu disini!
Vani : Udah gak pa2 itung2 gue mau cepat beradaptasi dengan tempat ini!
Gue : Lah yakin banget Mbak bakal gue terima disini? gue belum kasih ijin ya!
Vani : Ya yakinlah! pasti gue akan diterima, soalnya sebelumnya belum pernah ada seorang cow pun yang bisa nolak permintaan gue
Gue : Mungkin dengan gue bisa lo jadikan sebuah pengecualian, mungkin hanya gue nanti satu2nya orang yang bisa nolak permintaan lo
Vani : Cukup kita lihat aja nanti, Eh! ini gula dan teh nya lo simpen dimana?
Gue : Mbak pernah denger yang namanya lemari pendingin gak? konon katanya tuh lemari sungguh ajaib, bisa simpen segala macam bahan makanan biar tetap awet
Vani : Iya2 gue tau, ga usah nyolot gitu juga jawabnya, gue kan nanya nya baik2 karena gue beneran gak tau, kalo gelas2 ada dimana?
Gue : Gue gak ada perabotan macem itu, jadi kalo gue mau ngopi, biasa gue selalu minjem ke tetangga, males, repot dan ribet kalo disuruh harus cuci2 gituan
Vani : Emang dasarnya lo nya aja itu pelit, lah ini apa namanya kalo bukan gelas, (tunjukin sebuah wadah mug dari dalam kulkas)
Gue : Kalau disini gue nyebutnya mug Mbak bukan gelas, itu benda yang beda, lagian itu sengaja gue khususin buat gue nyeduh mie
Vani : Halah sama aja bentuknya, fungsinya juga sama, ribet banget sih jadi lo, Nih! (serahin teh yang barusan tadi dia buat) gulanya mau berapa sendok?
Gue : Cukup 4 sendok aja
Vani : Gila! yang bener aja, lo mau mati kena diabetes? dah satu sendok aja cukup, jangan konsumsi gula berlebihan, itu gak baik
Gue : Kalau segitu, ibarat makan rujak kita gak berasa pedesnya Mbak, tambahin lah dikit!
Vani : Udah nurut aja apa gue bilang, demi kebaikan lo juga kok
Gue : Kok gue berasa jadi tamu ya di rumah gue sendiri
Berikutnya dateng Irfan beserta seorang perempuan yang baru bisa gue kenali sebagai Winda, Winda adalah salah seorang temen Aning dulu di komplek perumahanya, kita pernah sekali waktu bertemu saat dulu Aning sempet dirawat di rumah sakit, ketika itu dia datang menjenguk
Quote:
Gue : Masuk Fan, Win sumpah bercanda kalian tadi parah, begituan kok di dalem kost, gak takut lo digrebek sama Pak Kost, lagian hubungan kalian itu apa? gak takut dosa apa kalian berdua?
Irfan : Yah, gue mana nyangka bahwa akan ada bocah slonong boy yang main masuk ke kamar kita, takut? lah kenapa? orang kita udah halal kok, kita udah ijab kabul setahun yang lalu, tinggal resepsinya aja yang belum, kalo gak percaya tanya aja Vani sama Winda?
Gue : Begitu ya, maafin gue kalau gitu Fan, Win, karena udah nuduh kalian tadi, lagian jangan salahkan gue juga dong, karena selama 2 minggu gue tinggal disini, gue gak pernah sekalipun pernah lihat Winda selama di kost
Irfan : Oh itu karena sebelum lo datang, Winda sempet mudik karena ada salah satu family nya meninggal, ada sekitar 1 bulanan dia di kampung dan baru balik hari ini
Gue : Yaudah, terus sekarang masalah Vani ini gimana Fan? serius lo percaya ke gue gitu aja untuk izinin dia tinggal sama gue disini? gak takut adek lo nanti gue apa2in?
Irfan : Jika memang lo orang berengsek seperti itu, mungkin bersama pacar2 lo dulu pasti udah pernah lo lakukan Gri, tapi kenyataanya enggak kan? gue kenal lo kok Gri bahkan hampir luar dalemnya, terakhir lo gagal nikah dengan anaknya Bu **** kan? mungkin itulah sebab akhirnya lo terdampar disini, gue tau lo kesini bukan semata2 karena hal kerjaan, karena melihat gaji lo di kantor lo sebelumnya seharusnya sudah lebih dari cukup untuk bisa penuhi semua kebutuhan lo, dibanding disini yang hanya sebagai buruh, yang digaji dan diupah sesuai UMR, lagian semua fasilitas di kamar lo saat ini, tentu saja sangat mencolok dengan keadaan lo sekarang, yang kalo dapat gue tebak, tepatnya lo disini hanya sekedar menghibur diri, atau sekedar mencari suasana baru sekaligus melupakan masalah2 yang sedang menimpa lo, jika hanya dengan itu, gue yakin lo gak akan mungkin macem2in adek gue selama disini
Gue : Emang begitu mudah ditebak ya Fan, padahal gue udah susah payah berusaha sembunyiin ini semua dari lo
Irfan : Sebenernya di awal2 lo udah berhasil Gri untuk bisa kelabuhin gue, tapi kemudian gue mulai bisa menyadari bahwa ada yang gak biasa dengan tingkah lo, berawal dari rasa curiga itu kemudian gue mulai mencari tau, kebetulan gue ada kenalan orang yang dapat gue percaya untuk bisa mengorek sedikit tentang kisah hidup lo di masa lalu sebelum akhirnya memutuskan untuk hijrah ke sini, dan darinya lah gue akhirnya tahu kebenaranya, sehingga bisa mengantarkan gue pada sebuah kesimpulan tersebut
Gue : Tebakan lo hampir semuanya benar Fan, dan emang benar gue akui sekarang, selanjutnya gue gak ada masalah jika akhirnya lo tau kebenaranya, sekarang tentang masalah Vani Fan! lo gak bisa percayain dia ke gue gitu aja kan? karena setelah apa yang terjadi ke gue, sebenernya gue masih rapuh dengan kehadiran seorang wanita dalam hidup gue
Irfan : Percayalah bahwa semuanya akan baik2 aja kedepan, dengan di bantu Vani gue yakin lo akan lebih cepat melupakan semua masalah lo, dan luka di hati lo juga akan lebih cepat untuk pulih, Vani sebenarnya datang kemari tak lain juga dengan masalah yang hampir sama dengan lo, dengan kesamaan akan nasib kalian, gue pikir kalian nanti akan lebih cepat akrab, bisa saling menguatkan, dan bisa saling mengobati
Gue : Baiklah Fan! Insyaallah akan gue coba saran lo, tapi untuk masalah tidur nanti gimana? mana bisa gue tidur bersama orang asing di kamar gue, terlebih dia seorang cew dan bahkan juga adik lo, biar dia tidur sama Winda aja gimana?
Irfan : Maaf sekali lagi Gri jika mengecewakan, sepertinya gue gak bisa! kami sedang ikut program hamil soalnya karena sudah setahun ini dari pernikahan kami, momongan yang kami tunggu2 belum juga hadir
Gue : Yah Fan kok gitu sih?
Irfan : Udah tenang aja, gak akan kenapa2 kok dengan kalian, jika memang terjadi sesuatu dengan kalian nanti, gue akan ridho, karena jika hanya dengan lo jadi calon adek ipar gue, gue gak akan khawatir Gri, sama sekali gue gak keberatan, jadi tenanglah! btw udah ya kami cabut dulu, selamat beristirahat buat kalian
Irfan dan Winda pun akhirnya meninggalkan kamar kost gue, serba salah rasanya dalam posisi gue sekarang, sebelumnya gue memang belum pernah tinggal seatap dengan orang asing, meskipun untuk seorang laki2 bahkan pun terlebih perempuan, gimana gue akan melewati hari ini, apakah gue akan bisa tidur dengan nyenyak