Kaskus

Story

rzrdn62Avatar border
TS
rzrdn62
[REAL STORY] Lika Liku Perjalanan Cinta
★Special Main cover by Special Somebody★

 [REAL STORY] Lika Liku Perjalanan Cinta

▓▓∷rvn894∷▓▓








Quote:







╠⇌≪PERKENALAN≫⇋╣


Quote:






╠⇌≪Frequently Asked Questions≫⇋╣

Spoiler for FAQ:





╠⇌≪RULES≫⇋╣
Spoiler for Rules:




Quote:


Quote:


Quote:


Quote:





╠⇌≪INDEX≫⇋╣
Spoiler for LIST All of INDEX:

Diubah oleh rzrdn62 15-06-2017 23:45
anasabilaAvatar border
efti108Avatar border
efti108 dan anasabila memberi reputasi
2
80.4K
929
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
rzrdn62Avatar border
TS
rzrdn62
#303
Part 31: Cobaan Yang Berat
Sungguh, semua hal yang gw rasakan ini sangatlah membuat gw bingung. Hanya karena terlena dengan hal yang namanya “Cinta”, seseorang pasti akan tenggelam di dalamnya. Lantas, bagaimana jika ada dua cinta yang sekaligus yang menghampiri? Jika ada dua orang yang sama sama sangat menyayangi diri kita, akan tetapi kita tidak sanggup untuk memilih salah satu dari mereka dan justru malah menerima kedua cinta yang datang tersebut. Hal ini yang akan menjadikan seseorang lupa akan dirinya sendiri, yang sanggup mengubah orang baik menjadi seorang yang begitu jahat. Ya, jahat...Itu adalah kata kata yang tepat untuk diri gw sekarang ini.

Bersembunyi di balik kenyataan, bermain diantara dua cinta...Adalah sebuah cara yang sangat sadis, untuk membalas cinta yang telah diberikan oleh seseorang yang mencintai kita dengan begitu tulus. Inilah...Cobaan, sebuah cobaan yang berat dalam kisah kasih yang gw jalani. Apakah gw bisa kembali menjadi diri gw yang seperti sedia kala? Dan apakah gw masih bisa mendapatkan “Relationship Goals”? Gw harap demikian, karena...Gw merasa sangat tidak nyaman menjadi diri gw yang seperti ini. Seperti bajingan yang hanya memainkan perasaan seorang perempuan, bajingan keparat!

Seorang pria dapat berubah menjadi lebih baik dengan kehadiran sosok perempuan yang baik pula, yang mendorongnya untuk membuang semua sisi buruk yang ada pada dirinya...Hanya demi perempuan tersebut.

Setelah kejadian hari Sabtu kemarin, saat Aulia mengatakan hal yang membuat hati gw seakan terpukul karena perbuatan gw sendiri. Gw berencana akan mengakhiri semua ini dengan cepat, entah apakah gw akan memilih Erlin atau Aulia. Ataupun tidak memilih keduanya.

Siang ini, tepatnya di hari Minggu...Dan berhubung hari ini juga berepatan pada hari dimana hubungan gw dengan Erlin sudah beranjak 1 bulan. Gw memutuskan akan segera mendatangi Erlin ke rumahnya hari ini. Gw tidak mengharapkan apa apa darinya, yang gw harapkan hanyalah sebuah ketulusan cinta darinya...Akan tetapi gw merasa ada yang aneh, sedari tadi pagi tidak ada chat sama sekali dari Erlin. Bahkan dia juga tidak memperbaharui statusnya, yang mana biasanya sehari dia bisa beberapa kali membuat status. Telepon pun juga tidak diangkat olehnya. Disini gw menjadi semakin khawatir.

Untuk lebih meyakinkan kembali, gw pun langsung berangkat kerumahnya Erlin siang ini. Untungnya gw sudah mandi sedari pagi. Setelah mengganti pakaian dan mengeluarkan Red, gw langsung berangkat menuju ke kediaman Erlin.

-SKIP-

Sesampainya di rumah Erlin, gw langsung membunyikan bel yang berada di depan gerbangnya sampai beberapa kali. Namun, jika biasanya Erlin langsung keluar dari dalam rumah dan menyambut gw dengan senyumnya. Sekarang tidak ada siapapun yang menyambut gw di depan sini.

Beberapa menit kemudian, datanglah bi Dede dari luar sambil membawa buah buahan dan juga belanjaan.

Gw: “Assalammualaikum bi.” –ucap gw sambil mencium tangan bi Dede.
Bi Dede: “Waalaikumsalam den.”
Gw: “Bibi tau gak orang rumah pada kemana, bi?”
Bi Dede: “Atuh den, non Erlin...Dia di rawat di rumah sakit dari kemarin pagi, penyakitnya kambuh soalnya.”
Gw: “Serius bi? Bibi gak bercanda kan? Terus dia sekarang ada dirumah sakit mana bi?”
Bi Dede: “Iya den serius pisan. Dia dirawat di Rs Prima. Non Erlin nitipin ini buat aden. Bibi mau masuk dulu ya. Nanti sore bibi baru kerumah sakit lagi nganterin buah ke non Erlin.” –ucapnya sambil menyerahkan sebuah kertas.

Gw mengambil kertas tersebut lalu membuka dan membacanya.

Spoiler for Isi Surat:

Membaca surat tersebut, seluruh tubuh gw langsung bergidik tegang. Tangan gw seketika mulai bergetar. Tanpa pikir panjang, gw langsung menaiki Red lalu segera menuju ke rumah sakit yang bi Dede maksud. Karena saking paniknya, gw mengendarai si Red pun seperti sudah kerasukan setan drag race. Menyalip mobil dan motor tanpa memperdulikan resikonya.

-SKIP-

Sesampainya dirumah sakid yang dimaksud, gw mengambil tiket parkir di gerbang masuk dan memarkirkan Red di parkiran yang tersedia. Tempat parkirnya lumayan jauh dari gedung utama rumah sakit ini. Setelah memarkirkan Red, gw langsung berlari menuju ke gedung utama dan masuk lewat pintu selatan. Setau gw, ruang rawat inap disini berada di lantai 2 dan 3 tergantung kelas yang dipilih oleh pasiennya. Kelas reguler berada di lantai 2, dan kelas vip berada di lantai 3.

Walaupun tersedia beberapa lift, tapi karena di kondisi seperti ini gw tidak bisa dengan tenang. Jadi gw tidak menunggu lift turun sampai lantai dasar, melainkan gw memilih untuk menaiki tangga saja. Di lantai 2, gw langsung ke resepsionis dan menanyakan sebuah informasi mengenai Erlin dan juga letak kamarnya.

Gw: “Permisi mbak...Apa ada pasien yang bernama Erlinda yang dirawat disini? Umurnya sekitar 17 tahun kira kira.” –ucap gw dengan nafas terenggah enggah.
Resepsionis: “Maaf, kalau boleh tau mas ini siapanya ya?”
Gw: “Saya keluarga dari pasien yang bersangkutan mbak.”
Resepsionis: “Sebentar ya mas saya cek dulu...” –ucapnya sambil melihat buku dafar nama pasien yang dirawat. “Pasien yang mas maksud ada di ruang kelas VIP nomor 32B.”
Gw: “Terimakasih mbak.”

Gw langsung bergegas menuju ke lantai 3 dengan menaiki tangga lagi. Satu persatu anak tangga gw naiki dengan tergesah gesah. Sesampainya di lantai 3 gw menelusuri koridor untuk mencari ruangan yang dimaksud. Tidak memerlukan waktu yang lama untuk menemukan kamar yang dimaksud, karena kamar ini terletak di ujung koridor. Sesampainya di sana gw segera mengetuk pintu kamar lalu masuk ke dalam.

Ketika gw berada di dalam, gw melihat Erlin sedang tertidur pada sebuah ranjang yang berada di pojok ruangan dengan selang infus yang menempel kepada lengan kirinya. Dia ditemani bersama ibunya yang duduk di samping ranjang Erlin.

Gw: “Assalammualaikum tante.” –ucap gw lalu menghampiri ibu Erlin dan mencium tangannya.
Ibu Erlin: “Waalaikumsalam, nak Reza kok tau kalau Erlin dirawat disini?”
Gw: “Iya tan, saya tau dari bi Dede. Tadi ketemu di depan gerbang rumah. Kondisi Erlin sekarang gimana tan?”
Ibu Erlin: “Kalau gitu syukur lah nak Reza datang. Kondisi Erlin masih belum pulih sepenuhnya. Dia kena penyakit tukak lambung, karena kebiasaannya yang jarang makan. Soalnya Erlin paling susah nak Rez kalau soal makan. Tante sendiri juga bingung.”
Gw: “...” –gw hanya terdiam mendengar ucapan ibunya Erlin sambil menatapi Erlin yang sedang tertidur di atas ranjang dengan wajahnya yang terlihat pucat.
Ibu Erlin: “Oh iya, tante minta tolong nak Reza temenin Erlin dulu ya. Soalnya tante mau ke kantor, tadinya mau gantian jagain sama bi Dede jagain Erlin. Tapi karen nak Reza sudah disini, jadi tante minta tolong sama kamu saja untuk menjaga Erlin. Papahnya nanti malam bakal kesini juga kok.”
Gw: “Iya tante, saya bersedia untuk jagain Erlin hari ini.”
Ibu Erlin: “Makasih ya nak Reza. Erlinnya jangan lupa disuruh minum obat sebelum sama sesudah makan. Obatnya ada di dalam drawer lemari disamping ranjang. Yaudah tante langsung berangkat ya, Assalammualaikum.”
Gw: “Iya tante. Waalaikumsalam.”

Ibunya Erlin langsung keluar dari kamar ini, dan sekarang waktunya gw untuk menjaga Erlin dan memantau terus kondisinya. Sempat terlintas rasa resah serta prihatin dengan keadaan Erlin yang sekarang. Melihat orang yang paling gw sayangi terbaring lemas diatas ranjang, gw semakin tidak tega dengannya.

Gw duduk di kursi yang ada di samping ranjang Erlin, lalu mengelus lembut kening serta rambutnya yang terurai. Suhu tubuhnya terasa begitu panas ketika gw menyentuh keningnya.

Gw: “Lin...Aku disini...Disamping kamu. Sekarang kamu gak usah khawatir lagi. Kamunya bandel sih kalo dibilangin makan jangan telat, jadinya begini kan. Cepet sembuh ya Lin...Biar kita bisa main lagi kaya biasanya. Ketawa dan bercanda bercanda lagi. Si Red juga kangen sama kamu tuh.” –ucap gw sambil mengelus rambutnya lalu mengenggam erat tangan kanannya yang terasa begitu panas.

Untuk saat ini gw mematikan Hp dan menaruhnya di atas meja agar tidak ada yang menganggu gw saat sedang menemani Erlin. Setiap menit, detik yang berlalu gw lewati hanya dengan memandangi Erlin. Sesekali gw menempelkan tangan Erlin pada wajah gw dan mencium tangannya. Jika gw mengingat perlakuan gw yang sudah dilakukan, yaitu menduakan cintanya Erlin. Gw merasa sangat merasa sedih sekaligus bersalah. Erlin...Seorang perempuan yang mampu mencintai gw apa adanya, ternyata melakukan hal yang selama ini tidak gw lakukan kepadanya.

Ketika Erlin rela menjauhi semua cowok yang mencoba untuk dekat dengannya, sementara gw malah menyambut kehadiran seorang cewek yang mencoba dekat dengan gw. Bahkan, cewek tersebut sudah menganggap gw sebagai pacarnya. Sungguh menyedihkan jika gw mengingat hal tersebut...Erlin. Dia pantas mendapatkan apa yang seharusnya hanya menjadi miliknya seorang, yaitu mendapatkan cinta serta kasih sayang yang juga tulus dari gw. Gw akan mencoba, mencoba untuk melangkah maju dan menyelesaikan ini semua. Demi seseorang yang paling gw cintai.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.