- Beranda
- Stories from the Heart
Black Part Of Woman
...
TS
anism
Black Part Of Woman
Spoiler for Peringatan:
Spoiler for Anissa : Aku Bukan pramuria:
Spoiler for Ibu?!:
Spoiler for I Must Found a Father for You:
Wanita itu unik. Karena itu perlakuan terhadap mereka pun berbeda-beda dan spesial.
mereka selalu punya cerita menarik yang pantas disimak
Anism & (edit by) Fanzangela
Diubah oleh anism 30-05-2019 11:43
devarisma04 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
48.2K
379
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
anism
#104
Profesi
“Oh, ya. Jadi kamu sibuk apa aja sekarang Nak. Daritadi kayaknya tante belum ada dengar kamu mengungkit kerjaan kamu. Kamu masih sekolah?”, tanya mama Anissa.
“Saya bekerja di galeri tante.”, jawab Ario. Napas Anissa menjadi berat.
“Galeri? Pelukis?”, mama Anissa mengernyit.
“Saya tukang tato, tante.”,jawab Ario mantap.
Keheningan kembali mengisi ruang tamu Anissa. Ario tahu ini akan terjadi. Tapi sejak awal dia merasa tidak bisa berbohong. Karena ia merasa perasaannya dengan Anissa adalah jujur. Jadi dia tidak akan melakukan kebohongan demi kelanjutan hubungan mereka.
“Tante, saya tahu mungkin pekerjaan saya agak mengecewakan bagi tante. Mungkin tante berpikir bahwa tukang tato dekat dengan rokok dan obat-obatan. Saya sangat jarang merokok. Anissa bahkan belum pernah melihat saya merokok. Jika tante tidak senang, saya akan pelan-pelan beralih pekerjaan.”, ujar Ario meyakinkan.
“Ini….”, mama Anissa kehabisan kata-kata. Ia tidak berpikir bahwa putrinya akan bersama pria seperti ini. Seorang tukang tato. Hanya dia melihat kebahagiaan di mata putrinya sejak tadi. Yang tidak bisa ia berikan lagi selama beberapa tahun ini, karena hubungannya dengan sang suami yang retak. Ia merasa tidak tega untuk menghancurkan lagi satu senyuman yang putrinya temukan sendiri.
“Memang kalian sudah pacaran?”, pertanyaan mama Anissa ini sontak mengagetkan mereka berdua. Benar juga. Mereka kan belum ada hubungan apa-apa. Kenapa mereka seserius itu?
Lalu mengapa Ario berusaha meyakinkan mamanya dalam hal pekerjaannya. Hanya untuk status teman. Seribet itukah?
“Belum tante. Cuma saya takut Anda merasa saya tidak pantas menjadi teman Anissa.”, jawab Ario.
Belum? Memangnya pacaran itu rencana jalan-jalan? Ario menyukainyakah? Dia tidak tahu hal itu. Sejak kapan? Kapan?
Anissa merasa waktu berjalan sangat lambat dan pikirannya kosong. Sebenarnya bukan kosong. Ia shock dan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia hanya merasa melihat ada pembicaraan dua sisi yang dimana ia hanya terlibat sebagai pendengar.
“Maaf. Aku agak pusing. Aku ke kamar dulu.”, Anissa mau segera menyingkir dari sana. Entah kenapa beberapa waktu ini ia merasa hidupnya sangat penuh drama dan tidak terkira. Kepalanya sakit dan ia harus tidur. Tidur untuk melarikan diri dari kenyataan yang belum siap Ia terima.
Pertemuannya dengan papa, mama yang tiba-tiba sangat ramah dengan kedatangan Ario. Dan yang paling gila adalah pengakuan perasaan secara tidak langsung yang diungkapkan Ario.
“Oh, ya. Jadi kamu sibuk apa aja sekarang Nak. Daritadi kayaknya tante belum ada dengar kamu mengungkit kerjaan kamu. Kamu masih sekolah?”, tanya mama Anissa.
“Saya bekerja di galeri tante.”, jawab Ario. Napas Anissa menjadi berat.
“Galeri? Pelukis?”, mama Anissa mengernyit.
“Saya tukang tato, tante.”,jawab Ario mantap.
Keheningan kembali mengisi ruang tamu Anissa. Ario tahu ini akan terjadi. Tapi sejak awal dia merasa tidak bisa berbohong. Karena ia merasa perasaannya dengan Anissa adalah jujur. Jadi dia tidak akan melakukan kebohongan demi kelanjutan hubungan mereka.
“Tante, saya tahu mungkin pekerjaan saya agak mengecewakan bagi tante. Mungkin tante berpikir bahwa tukang tato dekat dengan rokok dan obat-obatan. Saya sangat jarang merokok. Anissa bahkan belum pernah melihat saya merokok. Jika tante tidak senang, saya akan pelan-pelan beralih pekerjaan.”, ujar Ario meyakinkan.
“Ini….”, mama Anissa kehabisan kata-kata. Ia tidak berpikir bahwa putrinya akan bersama pria seperti ini. Seorang tukang tato. Hanya dia melihat kebahagiaan di mata putrinya sejak tadi. Yang tidak bisa ia berikan lagi selama beberapa tahun ini, karena hubungannya dengan sang suami yang retak. Ia merasa tidak tega untuk menghancurkan lagi satu senyuman yang putrinya temukan sendiri.
“Memang kalian sudah pacaran?”, pertanyaan mama Anissa ini sontak mengagetkan mereka berdua. Benar juga. Mereka kan belum ada hubungan apa-apa. Kenapa mereka seserius itu?
Lalu mengapa Ario berusaha meyakinkan mamanya dalam hal pekerjaannya. Hanya untuk status teman. Seribet itukah?
“Belum tante. Cuma saya takut Anda merasa saya tidak pantas menjadi teman Anissa.”, jawab Ario.
Belum? Memangnya pacaran itu rencana jalan-jalan? Ario menyukainyakah? Dia tidak tahu hal itu. Sejak kapan? Kapan?
Anissa merasa waktu berjalan sangat lambat dan pikirannya kosong. Sebenarnya bukan kosong. Ia shock dan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia hanya merasa melihat ada pembicaraan dua sisi yang dimana ia hanya terlibat sebagai pendengar.
“Maaf. Aku agak pusing. Aku ke kamar dulu.”, Anissa mau segera menyingkir dari sana. Entah kenapa beberapa waktu ini ia merasa hidupnya sangat penuh drama dan tidak terkira. Kepalanya sakit dan ia harus tidur. Tidur untuk melarikan diri dari kenyataan yang belum siap Ia terima.
Pertemuannya dengan papa, mama yang tiba-tiba sangat ramah dengan kedatangan Ario. Dan yang paling gila adalah pengakuan perasaan secara tidak langsung yang diungkapkan Ario.
Diubah oleh anism 25-04-2017 20:33
mmuji1575 memberi reputasi
1