Kaskus

Story

8313090Avatar border
TS
8313090
Pelangi Sebelum Hujan
Quote:


Quote:
Diubah oleh 8313090 15-05-2017 09:43
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
6.1K
45
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
8313090Avatar border
TS
8313090
#28
Part 3
Aku lihat wajah Putri begitu serius mendengarkan, walau belum ada satu kata pun yang keluar dari mulut ini. Aku bingung harus memulainya darimana. Apakah dari awal aku menyukainya. Ah sial, bukan itu yang ingin aku obrolkan.
Akhirnya aku sejenak meminum sisa kopi yang ada di gelasku. Ampas kopi yang aku rasakan berada dalam mulutku.

“Cepetan sih, mau curhat apa, jangan bikin penasaran gitu deh.” Putri sedikit mengeluh menunggu kata-kata yang akan terucap. Namun aku belum bisa menemukan darimana aku harus memulai.

“Iya, sebentar lagi mikir nih biar enak masuknya,” ucapku sambil menyimpan gelasku. “Jadi gini Put, tadi waktu pulang aku kan pake becak, berdua sama Ibu aku-”

“Ih, sudah lama aku enggak naik becak deh,” ucapnya memotong omonganku.

“Orang mau curhat malah dipotong,” keluhku. Senyum manisnya merekah, membuat api amarahku menjadi api asmara. Oh Tuhan, aku rela bila menikah dengannya walau jadi bahan cacian orang, cacian atas merusak hubungan tunangannya.

“Jadi waktu pulang tadi aku sama Ibu aku ngobrolkan di becak,” aku coba menahan tangisku pecah kali ini, “Ibu aku bilang kalau dia mau lihat pelangi.”

Wajah Putri kini tampak bingung dengan perkataanku, “Pelangi?, yang keluar setelah hujan itu?” tanyanya sedikit bingung.
“Bukan, tapi pelangi sebelum hujan,” ucapku sambil tersenyum lebar.
“Mana ada pelangi sebelum hujan, yang ada mendung,” ucap Putri yang membuat aku benar-benar berfikir, apakah saat ini pertanda mendung atau pertanda indah.

Aku pun lalu menceritakan kejadian waktu aku kecil, bagaimana bisa ibuku menyebut anakku, maksudku anakku yang akan lahir kelak dengan sebutan pelangi. Aku pun sempat memperlihatkan gambarku yang ibu simpan.

Kertas putih dari buku gambar itu sudah berubah kuning dibagian tengahnya, dan sedikit hitam di ujung-ujungnya. Hampir dua puluh tahun gambar itu tak lelah berada disana, aku pun tak menyangka bagaimana masa kecilku bisa menggambar, bahkan berpikir hal tersebut.

Wajah Putri pun tersenyum terharu, mungkin dia gemas pada anak yang menggambarnya atau pada anak yang ada di gambar itu.
“Sudah mengertikan maksud aku?” ucapku menghentikan lamunannya.

“Jadi maksudnya, pelangi itu anak kamu dan cucu ibu kamu?” jawabnya kembali bertanya.
“Iya, dan waktu tadi Ibu aku sempet bilang kalau dia sudah pasrah dan tidak masalah kalau tiap bulan ke rumah sakit demi bisa melihat pelangi,” jelasku. Wajah Putri tampak sedikit bingung dengan kata-kata aku barusan.
“Maksud aku, uang tabungan yang seharusnya buat biaya penyembuhan, ibu suruh aku gunakan untuk menikah, ngerti?” jelasku sebelum Putri kembali bertanya.

Akhirnya aku bisa menceritakan inti dari masalah aku. Memang seharusnya aku simpan dibagian tengah atau akhir acara sesi curhat ini, tapi di awal pun tidak masalah tampaknya.

“Ya sudah, kamu memang benar-benar harus cari pasangan, kalau aku belum tunangan aku mau kok sama kamu.” Kata-kata itu akhirnya terucap dari mulut Putri. Mulutku menganga, jatungku berdegup kencang dan tatapanku tajam menatap Putri seperti mengirim pesan agar dirinya membatalkan pertunangannya. Khayalku memang liar.
“Aku coba kirim pesan dulu ke Windi kalau gitu,” ucapku sambil meraih ponsel, “ngomong-ngomong kapan terakhir ketemu sama dia?” tanyaku.

“Kalau enggak salah sih pas kelulusan SMA deh, lima tahun yang lalu ada mungkin,” ucapnya sambil sedikit mengingat.
Aku hanya mengirim pesan sebatas menyapa pada Windi, semoga nomor ini masih dia gunakan dan bahkan dia masih sendiri. “Put, terus kamu sama tunangan kamu kabarnya gimana?” tanyaku sambil menunggu balasan dari Windi.

“Ya, gitu deh, banyak godaannya kalau udah deket-deket nikah,” ucapnya santai.
“Terus kenapa cincinnya enggak dipakai, lagi marahan?” tanyaku yang lebih tepatnya harapku.
Putri akhirnya meminum minuman yang disuguhkan oleh ibuku sejak tadi. Aku lihat ada suatu beban di wajahnya, memang tidak terlalu terlihat jelas. “Ya, enggak apa-apa sih, cuma aku kurang nyaman aja pakai cincin,” belanya.

“Perasaan waktu awal-awal dipakai terus cincinnya,” ucapku seperti menyudutkannya. Maaf Put, aku jahat kali ini, aku masih berharap padamu.
“Perasaan kamu aja kali, Dri,” ucapnya sambil tertawa kecil.

Kami memang masih selalu jalan-jalan bersama, kadang-kadang dengan teman lainnya atau hanya berdua. Sekedar melepas penatku, dan bahkan dia yang mengajakku terlebih dahulu.

Dalam hening ini, ponselku bergetar di atas meja, suaranya terdengar cukup kencang sampai Putri terlihat cukup kaget. Aku melihat sebuah pesan dari seseorang, dan saat aku buka, wajahku tersenyum menatap Putri.

“Put, dibales sama dia,” ucapku sangat senang saat itu, namun wajah Putri hanya tersenyum tanggung.
Aku pun menyimpan kembali ponselku tanpa membuka pesan tersebut. Aku lebih mementingkan orang yang berada di dekatku ketimbang harus membalas pesan dari orang yang jauh, kecuali dari atasanku.
Diubah oleh 8313090 29-04-2017 06:16
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.