- Beranda
- Stories from the Heart
F A R B E
...
TS
noobwriter
F A R B E
Sekali Lagi
oleh: NW
Yang paling menyedihkan ialah yang ditulis
Kau berarti untuk kuingat sekali lagi
Laksana rintik itu yang mebawamu
Sekali lagi harus kuingat
Sekali lagi...
Sekali lagi..
Jika ada, hanya sekali lagi.
Takkan kuingat kau layaknya elegi pagi.
Derunya sekuat rintik yang membawamu.
Pergi teriring lantunan nan biru
10.35 010517
Spoiler for MUST READ! :
1. TS sangat mengharapkan kritik dan komentar reader (asal bukan hinaan, TS udah cukup hina kok
), biar makin kebukanya wawasan TS, sama biar ceritanya makin bagus. TS masih pemula soalnya gan! 2. Kalo tiba tiba lagi baca terus eneg-eneg gitu mending minum air dulu gan, tulisan TS kadang suka terlalu mellow emang

3. Kalo ada kejadian yang mirip-mirip ya maafin deh ya gan, gak sengaja kok TSnya
4. Panggil TS "Noob" aja ya gan. Biar lebih santai bawaannya
Spoiler for last.:
Fiktif atau Non Fiktif?
Hehehehe, bisa dibilang fiktif, tapi non-fiktif juga. Gitu lah pokoknya!
misalnya Fiktif: TS ganteng. TS anak sastra.
misalnya non-fiktif: TS ganteng banget. Rambut TS keriting
ps: ada yang di fiktif-in untuk jaga privasi TS.
Spoiler for INDEKS:
Diubah oleh noobwriter 01-05-2017 10:44
anasabila memberi reputasi
1
2.3K
Kutip
25
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
noobwriter
#22
Spoiler for Bulan Pertama (1) :
Secara Psikologis, seseorang baru akan terbiasa akan sesuatau hal jika sudah melakukannya secara rutin selama 21 hari. Dan aku rasa aku sudah mulai terbiasa dengan kegiatan-kegiatanku sebagai pengangguran di bulan pertamaku ini.
Bulan pertamaku sebagai pengangguran yang tinggal di kos ku gunakan untuk berusaha terbiasa dengan lingkungan di sekitaku. Karena sebagai seseorang yang sedang mencari sudut pandang baru, aku harus dapat merasa nyaman tinggal disini. Jika aku nyaman tinggal disini, maka aku akan dapat dengan mudah mendapat ilham atau ide-ide menulis.
Rata-rata penghuni kos-kosan ini adalah mahasiswa atau mahasiswi. Ya, kosan ini adalah kosan campuran. Yang berarti baik putra maupun putri dapat kos disini. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa mahasiswa yang aslinya berasal dari luar Jabodetabek. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa-mahasiswa Universitas Indonesia atau Gunadharma.
Aku tinggal di lantai dua, kamar paling pojok. Di samping kamarku tinggal seorang mahasiswa UI, yang bernama Imron. Imron berperawakan tinggi cungkring dengan rambut yang selalu tersisir rapi dan baju polo yang seperti menjadi ciri khas darinya, karena kemana-mana dia selau memakai baju polo. Setahuku, umurnya 3 tahun lebih muda dariku. Ada satu hal yang menyebabkan aku dapat dengan mudah bergaul dengan Imron. Kami berdua sama-sama pencinta band asal Inggris, The Beatles. Walaupun kadang kami suka berdebat. Menurutnya anggota The Beatles terkeren adalah Paul McCartney, sementara menurutku John Lennon lah yang paling keren. Menurutnya juga lagu terbaik dari The Beatles adalah Hey Jude, sementara menurutku Piggies lah yang terbaik dari The Beatles.
Penghuni-penghuni kos lainnya tidak begitu akrab denganku. Karena rata-rata mereka sangat sibuk, sedangkan aku selalu meluangkan waktuku dengan santai di kamarku. Karena memang untuk beberapa saat, inilah pekerjaanku. Mencari sudut pandang baru.
“Kapan sih lo mau pulang, Mas?”
“Nanti kali.”
“Nanti kapan?”
“Abis maghrib”
“Gak jelas dasar” ambek Sasa.
“Belom tau lah, Sa. Nanti kali kalo udah dapet ide.”
“Dapet ide buat?”
“Buat nulis buku, atau naskah drama, atau naskah film malah”
“Ya kalo nulis buku kan bisa di rumah, Mas. Lagian gak sayang uang apa sampe segala ngekos buat nulis buku.”
“Idenya gak mau mampir ke rumah masalahnya, Sa.”
“Maksudnya?”
“Ya, kalo di rumah, perasaannya tuh gak ada ide. Tau gak kenapa gua sampe ngekos?”
“Kenapa?”
"Karena gua pengen punya ide cerita yang mendekati nyata. Yang enggak melulu soal cinta-cintaan palsu. Dimana si cowok suka sama si cewek, terus mereka jadian, ada salah paham, terus si cowok berjuang buat si cewek, terus mereka nikah, dan hidup bahagia selama lamanya. Aasl lu tau ya, Sa." aku berdehem, lalu melanjutkan, "Cinta itu jauh lebih kompleks dari yang kita baca, atau kita tonton. Tiap tiap orang dasarnya punya alur ceritanya masing masing. Punya konfliknya masing masing. Intinya, gua pengen punya alur cerita yang belum pernah gua liat. Dengan cara tinggal sementara di tempat lain biar bisa dapet sudut pandang lain, yang lebih kompleks."
Sasa tersenyum kecil mendengar penjelasanku. Lalu dia berkata, "Duh. Ribet banget sih anak sastra." Dia lalu berdiri, dan menenteng tasnya, sebelum pergi, Sasa berkata, "Kadang lo tuh aneh tau ga, Mas? Mau cari alur cerita lain, padahal alur cerita sendiri juga menarik kalo lo sadar. Kalo kata pribahasa nih ya, Gajah di pelupuk mata tak tampak, Semut di seberang lautan tampak. Gue pulang dulu ya, Mas. Udah sore."
Sore itu, Sasa berlalu. Kepulangannya hanya kuiringi dengan segelas kopi instan yang baru saja kuseduh. Sasa, kata-katanya selalu pas. Seandainya aku dapat memilih takdir maka aku akan memilih menjadi seseorang yang ebrarti selamanya untuknya. Sedari kecil, perpisahan dengannya adalah hal yang sulit, meskipun itu hanya perpisahan karena hari sudah malam, dan kami harus kembali pulang ke rumah masing-masing setelah seharian bermain. Dahulu, jarak beberapa langkah saja sudah terasa sangat jauh. Sekarang aku dan Sasa harus terpisah jarak dan waktu. Jarak rumahnya dan ksoanku yang cukup jauh, dan waktu yang Ia miliki tidak lagi sebanyak dulu. Ia sedang sibuk mengurus pendirian cafe yang sedari dulu ia inginkan. Sedangkan aku, sedang sibuk mengurus ide-ide yang masih harus kugali sedalam-dalamnya.
“Lu tuh kebiasaan ya Dim.” Imron menepuk tangannya di pundakku lalu duduk di sampingku.
“Kebiasaan apa?”
“Bengong. Kayaknya lu lulusan fakultas bengong deh.”
“Bisa aja lu mahasiswa kupu-kupu.”
“Apaan tuh?”
“Kuliah-Pulang. Kuliah-Pulang. Emangnya lu gak mau ikut organisasi-organisasian apa?”
“Enggak, males. Mending di kosan. Oiya, Dim. Besok Kakak gua mau dateng.”
“Iya, terus?”
“Ya lu jangan kaget liat kecantikannya. “
“Gak mungkin kakaknya cantik kalo adeknya kayak lu, Ron.”
“Sembarangan, liat aja besok!” Imron lalu masuk ke kamarnya
Tidak lama, handphone ku bergetar. Aku melihat ada pesan dari Sasa. Yang isinya : “Besok jam 1 kerumah! Temenin ketemu Investor!” yang langsung ku jawab dengan singkat, "Siap bu manajer!"
0
Kutip
Balas