Yang paling menyedihkan ialah yang ditulis
Kau berarti untuk kuingat sekali lagi
Laksana rintik itu yang mebawamu
Sekali lagi harus kuingat
Sekali lagi...
Sekali lagi..
Jika ada, hanya sekali lagi.
Takkan kuingat kau layaknya elegi pagi.
Derunya sekuat rintik yang membawamu.
Pergi teriring lantunan nan biru
10.35 010517
Spoiler for MUST READ! :
1. TS sangat mengharapkan kritik dan komentar reader (asal bukan hinaan, TS udah cukup hina kok ), biar makin kebukanya wawasan TS, sama biar ceritanya makin bagus. TS masih pemula soalnya gan!
2. Kalo tiba tiba lagi baca terus eneg-eneg gitu mending minum air dulu gan, tulisan TS kadang suka terlalu mellow emang
3. Kalo ada kejadian yang mirip-mirip ya maafin deh ya gan, gak sengaja kok TSnya
4. Panggil TS "Noob" aja ya gan. Biar lebih santai bawaannya
Spoiler for last.:
Fiktif atau Non Fiktif?
Hehehehe, bisa dibilang fiktif, tapi non-fiktif juga. Gitu lah pokoknya!
misalnya Fiktif: TS ganteng. TS anak sastra.
misalnya non-fiktif: TS ganteng banget. Rambut TS keriting ps: ada yang di fiktif-in untuk jaga privasi TS.
“Sa, bangun woi. Udah jam 3 nih, lu emang gak ada kerjaan lagi?”
Sasa membuka matanya, lalu menguap sebentar sebelum akhirnya dia duduk. “Udah 4 jam dong gue tidur, Dim?”
“Iya Sa, malah ngorok lagi”
Sasa melempar bantal ke arahku, ‘Sembarangan” katanya. “Maaf ya, Mas jadi gak ikut bantuin deh. Capek banget abisnya”
“Iya gapapa. Lu makan dulu nih gua beliin bubur” kataku sambil menyerahkan bubur yang baru saja kubeli.
“Wah pengertian banget sih lo.” Sasa langsung memakan bubur itu dengan lahap. Untuk ukuran seorang cewek, gaya makan Sasa tidak
biasa. Setiap dia selesai makan, maka pasti ada sisa-sisa bumbu atau terkadang nasi yang masih menempel di lesung pipitnya.
“Lu kok gak ada jaim-jaimnya sih makan di depan gua, Sa?”
“Kenapa harus jaim? Sama lo ini, lagian gue laper” kata Sasa dengan mulutnya yang masih mengunyah
“Telen dulu, Sa. Baru ngomong.”
Sasa makan dengan lahap. Sepertinya dia memang sangat lelah setelah membantuku mengemas barang-barang pindahan ini.
Setelah beberapa saat, Sasa ternyata sudah menyelesaikan makannya. “Eh iya, si Daffa sama Farhan kemana?”
“Oh, mereka udah pulang dari tadi. Mau double date katanya.”
“Double date?”
“Iya, Farhan sama Prilly, si Daffa sama Trisna. Kaget kan pasti? Nih minum” aku menyodorkannya air kemasan yang kubeli saat membeli bubur tadi
“Gila, ya?” Sasa lalu meminum airnya
“Gila kenapa?”
“Gila lah, gak ngasih tau kita, eh tapi lebih gila lagi kita sih.” Katanya seraya menatap mataku dengan serius
“Gila kenapa?”
“Ya.. gila aja.”
“Gua sih gak gila, kalo lu ya mungkin gila”
“Ish, ngeselin” Sasa mencubitku, lalu berkata “Sekarang anterin gue pulang, gamau tau.” Seraya memanyunkan bibirnya
“Ayok deh, gua juga mau tidur di rumah dulu malem ini” kataku
“Ih gak jelas. Udah ngekos masih tidur di rumah.” Ledeknya
“Biarin”
Aku dan Sasa langsung berangkat dengan motorku. Melewati Juanda, lalu Margonda, UI, dan ahh.. ini semua adalah tempat tempat yang sudah tidak asing bagiku dan Sasa.
Aku dan Sasa sudah berteman sejak kecil. Kota Depok bukan tempat yang asing untuk kami. Biasanya setiap hari Jum'at kami menonton film di bioskop-bioskop sekitaran sini. Kebiasaan ini sudah berjalan selama bertahun-tahun. Tidak terbayang jika suatu hari nanti aku dan Sasa harus terpisah jauh. Jika nanti, misalnya aku harus pergi ke kota yang jauh untuk urusan urusanku, atau bahkan mungkin, misalnya Sasa yang harus pergi ke tempat yang jauh untuk urusan urusannya. Siapa yang tahu?
Jika suatu saat nanti hal itu terjadi, maka hal tersulit untukku nantinya adalah untuk belajar meninggalkan sejenak harum parfum Strawberry khas Sasa yang sudah biasa tercampur dengan imaji batas Depok-Jakarta di hari Jum'at yang dibawa oleh bising lalu lalang mobil di kiri, dan kanan. Mudah mudahan ini semua hanya ketakutan liarku saja. ketakutan karena sekarang aku adalah manusia dewasa sepenuhnya. Yang harus mulai belajar menapaki dunia dengan kaki sendiri.
Tetapi yang jelas, jika suatu saat aku pergi jauh dan harus pulang. Maka inilah rumahku, Sasa dan parfum Strawberrynya di imaji batas kota Depok-Jakarta di hari Jum'at.