Quote:
Mas Nugie : Kendatipun karena sebuah alasan kalian nanti tak dapat bersatu, sedang alasan itu bisa aja skenario terburuk yang telah dituliskan tuhan pada keluarga kami terutama Astri?
Gue : Eh maksudnya Mas?
Mas Nugie : Seperti yang tadi telah gue bilang, lo gak akan bisa bersatu dengan Astri Gri, mungkin dia bukan jodoh yang tepat buat lo, jadi mulai dari sekarang gue minta lo jauhin dia
Gue : Hah! apa Mas pikir ini akan adil buat gue, sedang Mas sendiri gak pernah bisa kasih tau gue alasanya, jika memang gue pernah ada salah sama Astri, kenapa harus Mas yang putuskan, gue akan lebih terima jika Astri sendiri yang bilang, dan benar2 dia sendiri yang menginginkanya
Mas Nugie : Bukan begitu masalahnya, ini semua gak ada kaitanya dengan itu, jujur gak ada masalah sama sekali dengan hubungan kalian dulu, sebenernya ini hanya faktor keadaan yang gue yakin lo sendiri gak akan sanggup menerimanya Gri
Gue : Lantas atas alasan apa yang sekiranya bagi gue gak sanggup nerima?
Mas Nugie : Demi kebaikanmu lebih baik lo gak perlu tau alasanya Gri, karena gue yakin lo gak akan sanggup mendengarnya, tentang kebenaran yang sesugguhnya
Gue : Apakah gue sama sekali gak berhak tau Mas, padahal baru saja Mas mencoba bahkan memaksa gue mengubur dalam2 harapan gue untuk bisa berbahagia dengan Astri, sedang Mas justru menyuruh gue untuk diam saja menerima, lantas dimana itu letak keadilan? setidaknya kasih gue kesempatan untuk gue dapat mendengarnya, biar nanti gue juga bisa memilih apa yang akan gue perbuat selanjutnya
Mas Nugie : Baiklah, walau agak berat sebenarnya untuk Mas menceritakan, tapi memang seharusnya lo perlu tau juga kebenaranya, semoga dengan alasanya ini lo akan bisa menerimanya
Gue : Ya, dan sekarang gue udah gak sabar untuk mendengarnya
Mas Nugie : Semua berawal sejak dari kemaren Gri, saat tiba2 saja Mas mendapati Astri pulang dengan keadaan awut2an sedang juga tak berhenti menangis, gue kira awalnya ada ribut2 antara kalian berdua karena gue lihat motor lo ada pada Astri waktu itu, sedang gue juga inget bahwa dari sejak paginya dia memang berangkat bareng lo kan, saat tadi coba Mas tanya reaksinya hampir sana seperti sikapnya tadi ke lo, dia juga mengacuhkan Mas dan memilih mengunci diri di dalam kamarnya, sempat lama Mas berusaha untuk membujuknya agar dia mau bercerita, Mas bilang padanya bahwa kita sudah tak lagi memiliki orang tua, sedang keluarga paling dekat denganya saat ini satu2nya hanyalah Mas, jadi Mas ingin jika dia memiliki sebuah masalah dia bisa membaginya bersama Mas, biarpun itu mungkin sebuah aib sekalipun, ya aib keluarga, dan kenyataanya Gri bahwa waktu itu dia baru saja mendapat tindak pelecehan seksual, itulah kenapa Mas kemudian memintamu meninggalkannya dan mencoba mengikhlaskanya, karena dengan keadaanya sekarang kedepan hanya akan menjadikan beban untukmu, hanya akan menjadi aib untuk keluargamu nanti, bagaimana bisa seorang wanita yang kurang berapa hari lagi akan menikah tapi dia tidak bisa menjaga kehormatanya, dan sangat disayangkan sekali bahwa orang yang tak beruntung itu adalah justru adik Mas sendiri, Mas tak bisa berhenti menyesalkan apa yang telah terjadi Gri pun juga memang tak bisa berbuat banyak, mungkin datangnya karma itu benar adanya, atas semua yang terjadi itu mungkin sudah suratan sang takdir, karena di keluarga kami kejadian ini bukan baru pertama kali terjadi, pertama dulu Ibu kami juga mengalaminya, dan berikutnya adalah Istri Mas Bayu dia dulu juga hamil di luar nikah, entahlah dalam hal ini siapa yang mesti dan harus disalahkan Mas sendiri juga binggung
Gue : (sempet gue gak bisa menguasai diri gue, karena amarah dan emosi gue udah memuncak mencapai ubun2, gue baru tersadar setelah ada beberapa kursi yang telah sukses gue banting) Jadi siapakah pelakunya Mas? dan bagaimana peristiwa itu terjadi?
Mas Nugie : Awalnya Astri bercerita ketika kalian berpisah terakhir hari itu, dalam perjalanan pulangnya dia kebetulan berpapasan dengan Endra temen Mas dulu yang ikut nginep disini, orang yang sama yang dulu pernah bawa kabur duit tabungan kalian, dan cerobohnya waktu itu Astri bukanya segera langsung hubungin Mas minta bantuan, tapi dia malah berinisiatif buat buntutin Endra sendirian, hingga sampailah dia ke sebuah rumah, mungkin maksud hati ketika itu Astri ingin menagih Endra supaya mengembalikan uang yang dulu telah dicurinya, tapi kenyataan waktu itu rupanya berbicara lain, di dalam rumah itu ternyata telah ramai dipakai orang untuk berpesta miras, jadilah dia yang seorang diri ketika itu disekap disana dan mendapatkan perlakuan tak senonoh tersebut, dari mulut Astri pula dia berkata bahwa pelakunya hanya seorang dan tak lain orang itu adalah anak Pak Kepala Desa ini, yang juga kebetulan adalah tetangga kami, dan begitulah ceritanya, sama seperti yang Astri kemaren sampaikan kepada Mas, darinya juga Mas tahu bahwa untuk sekarang dia takut dan malu bila harus menemuimu, jadi dia berpesan jika seandainya lo datang, dia suruh buat lo untuk mencoba melupakanya
Gue : Jadi dimana rumah si brengsek itu Mas? biar sekalian gue babat habis lehernya hingga mampus! gue benar2 gak terima
Mas Nugie : Sabar Gri! marah gak akan pernah bisa selesaiin masalah, yang ada malah bikin tambah urusan makin panjang, untuk sekarang tak ada yang bisa lo lakukan selain untuk berusaha mengikhlaskanya, lebih baik lo pilih yang tadi udah sempat Mas katakan dengan mencoba untuk menjauhinya, dan dengan demikian masalah akan selesai disini, biar Astri mendapat apa yang pantas untuk dia dapatkan, biar pelakunya nanti yang akan bertanggung jawab atas perbuatanya, sore hari ini sebenarnya kami juga babis dari sana, untuk mengadukan tentang ulah anaknya tersebut, dan sudah mendapatkan solusinya, mereka akhirnya juga sudah setuju dan bersedia bertanggung jawab, mereka akan menyerahkan seluruhnya kepada kami bagiamana baiknya, jadi buat sekarang tak ada pilihan lain bahwa pernikahan akan tetap berlangsung walau mungkin dengan berganti calon mempelai prianya, gue hanya minta supaya lo bisa merelakanya Gri demi kebahagiaan Astri juga
Gue : Tapi Mas tau kan, bahwa ini gak adil buatku, kenapa Mas gak lebih dulu minta pendapatku, padahal bagaimanapun keadaan Astri saat ini masih mungkin buat gue untuk dapat menerimanya, jangan berkata semata2 ini hanyalah demi kebahagiaan Astri, karena justru kebahagiaan Astri hanya guelah yang sanggup memberikanya bukan dari orang lain, sebuah kebahagiaan tidak akan mungkin bisa didapatkan dari orang yang telah memintanya dengan cara yang kotor, kenapa Mas bisa mempercayakan hidup adik Mas sendiri kepada orang semacam itu?
Mas Nugie : Tentu saja karena Mas terpaksa melakukanya Gri, jika seandainya Mas masih memiliki lagi sebuah pilihan tentu saja Mas akan lebih memilihmu sebagai satu2nya pilihan, namun setelah semua yang terjadi Mas tau akan lebih tak adil juga untukmu, lo masih pantas dan berpeluang untuk bisa mendapat yang lebih baik darinya, sekarang untuk terakhir kalinya, kembali Mas ingatkan untuk lo coba melupakanya
Gue : Begitukah adil menurut Mas? karena bagi gue adil itu jika gue lah orang yang dapat memiliki Astri di samping gue, jika bukan dengan itu! semuanya pasti ada yang salah
Mas Nugie : Sayang sekali bahwa semua sudah Mas putuskan, cukup terima saja kali ini dan jangan membantah, namun silahkan saja lo berbuat semaumu, hanya keputusan gue tetap tak akan berubah, setelah ini gue minta juga untuk lo jangan pernah ganggu hidup kami lagi
Gue : Pengganggu katamu Mas, bukankah itu kata yang lebih pantas disebutkan kepada orang berengsek itu yang telah mencuri kehormatan Astri, (emosi gue kali itu sudah tak terbendung, gue baru tersadar ketika tangan gue telah mencengkeram leher Mas Nugie, sedang salah satu tangan gue yang lain sedang memegang sebilah kayu, bekas remukan kursi yang tadi hancur saat gue banting, dan posisi gue waktu itu hendak menghantamkan kayu itu ke kepala Mas Nugie, Astaugfirullah buru2 gue ber istighfar)
Astri : Cukup Mas, Adek minta berhenti sekarang, ini semua gak ada hubunganya dengan Mas Nugie, jika Mas pingin tahu siapa dari ini semua yang salah? jawabnya Adeklah satu2nya yang bersalah, dan jika Mas ingin marah, marahlah cukup hanya kepada Adek, jangan pernah libatkan Mas Nugie karena dia sama sekali gak ada sangkut pautnya (gue gak sadar bahwa waktu itu Astri telah keluar dari kamarnya dan turut pula menyaksikan saat gue sedang mencekik leher kakaknya)
Gue : (gue segera membuang bilah kayu tersebut dan langsung menghambur menuju Astri dan kemudian memeluknya) gak As lo gak pantes untuk disalahkan, cukup hanya bilang pada Mas bahwa yang Mas dengar hari ini semuanya hanyalah kebohongan
Astri : Jikasaja aku juga dapat membantahnya Mas, tapi sayang sekali yang tadi diucapkan Mas Nugie adalah kenyataan yang sebenarnya, dan untuk itulah Adek sungguh menyesal meminta maaf
Gue : Tapi kenapa bisa seperti itu As, apa kamu bodoh sehingga gak berfikir lebih dulu? tapi tak mengapa jika benar seperti itu biarlah Mas nanti yang akan bertanggung jawab, Mas gak sanggup As bila harus berpisah denganmu lagi, apapun keadaan kamu saat ini Mas masih bisa menerimanya
Astri : Benar Mas! satu2nya alasan itu adalah karena kebodohanku, sekarang semua memang sudah gak mungkin lagi bagi kita dapat bersatu, dengan keadaan sekarang Adek udah gak pantas lagi mendampingi Mas, Adek sekarang telah kotor dan hina, jika Mas ingin tau seburuk2nya manusia contoh itu tepat ada dihadapan Mas sekarang, wanita yang gak bisa menjaga kehormatanya, lebih hina derajatnya dari seekor binatang (menangis)
Gue : Jangan pernah merasa rendah bagaikan pasir yang pantas di injak As, karena bagi Mas kamu masih tetaplah seperti dulu, tinggi bagaikan gemerlap bintang yang selalu dapat mengabulkan harapan
Astri : Tapi bintangmu itu kini sudah tak dapat lagi bersinar untukmu Mas, karena cahaya gemerlapnya kini telah dimiliki oleh orang lain, untuk itu jangan terus mencari sang bintang Mas karena suatu ketika dia tak akan pernah muncul, saat hari terik, saat langit berkabut dan tertutup awan mendung dia akan menghilang dari pandangan Mas, carilah udara Mas yang selalu dapat senantiasa Mas hirup, yang kehadiranya akan selalu Mas butuhkan setiap saat, yang keberadaanya terus dapat Mas rasakan disekitar Mas, jangan lagi berharap dari bintangmu yang dulu, yang tak bisa mengabulkan itu semua, biarlah bintang itu hanya cukup dikagumi oleh orang selainmu Mas
Gue : Apapun yang terjadi As, Mas gak rela jika kamu seandainya dimiliki orang lain, kehilanganmu sama berarti dengan akhir kehidupan juga buat Mas, kamu gak mau juga kan sampai itu terjadi?
Astri : Cukup yakinlah Mas bahwa yanhseperti itu itu takkan terjadi, setelah ini pasti semuanya akan menjadi baik2 saja, mungkin takdir jodoh kita hanya cukup berakhir sampai disini, setelah ini adek yakin Tuhan akan merencanakan takdir yang baru untuk hidup Mas, Tuhan akan membimbing Mas kepada jodoh Mas yang tepat, yang tentu saja lebih baik dan lebih sempurna dariku, tetap semangat Mas, masih banyak ikan yang dapat dijala diluar sana, masih banyak lahan untuk digarap, jadi jangan khawatir bahwa Mas telah kehabisan sebuah pilihan, dan telah kehilangan semua kesempatan, karena buat sekarang kehilanganku bukan satu2nya yang pantas untuk Mas sesalii, mungkin dibalik ini akan ada sebuah hikmah dan jalan untuk kehadiran lebih banyak pilihan lainya buat hidup Mas, dan untuk itu pilihlah salah satu diantaranya nanti yang paling pantas untuk mendampingi Mas
Gue : Apa kamu yakin seperti itu As, apa kamu dengan mudah begitu saja melupakan semua hal yang telah terjadi antara kita dahulu
Astri : Insyaallah Adek sudah yakin Mas, tentang kebersamaan kita dimasa lalu biarlah cukup Adek simpan jadi kenangan, sudah cukup bagi adek telah merasakan kebahagiaan itu, kesempatan untuk dapat lebih mengenal Mas, medapatkan kasih dan sayang dari Mas, sementara mungkin hanya itu satu2nya yang bisa selalu adek syukuri dalam kehidupan Adek, walau mungkin kesempatan untuk mendapatkan itu lagi masih ada, tapi adek gak sanggup untuk bisa mengulangnya lagi, biarlah kesempatan itu hanya dimiliki oleh calon pasangan Mas nanti, saat ini adek sudah tak pantas lagi untuk mendapatkan perlakuan yang sama seperti dulu
Gue : Baiklah jika itu kemauanmu, tapi paling tidak kasih Mas alasan kenapa kamu lebih memilihnya dari pada Mas, dengan apa yang telah terjadi hingga sekarang bisakah kamu tunjukan ke Mas, mana yang lebih baik dari kami
Astri : Sebenernya baik dan buruk sifat manusia bukan kita yang pantas untuk mengukurnya, tapi jika Mas benar penasaran ingin tahu, tentu saja dengan hanya melihat keadaan Mas sudah pasti mendapati sebuah kesimpulan, selamanya Adek akan selalu memilihmu Mas, namun begitu semuanya kini sudah habis masanya karena hanya satu hal yang tak dapat dirubah Mas, yaitu takdir! sedang satu2nya kelebihan orang tersebut sekarang tentu saja dia telah ditakdirkan berjodoh denganku, jauh mendahului rencana baik yang hendak Mas coba lakukan sebelumnya padaku
Gue : Omong kosong apa dengan takdir! karena selama ini takdir tak pernah bisa ramah terhadap Mas, coba hitung sudah berapa banyak kehilangan yang telah Mas rasakan dengan mempercayai akan takdir
Astri : Itulah yang membuat sekarang kita berbeda Mas, dengan Mas tak lagi bisa mempercayainya mungkin awal yang tepat bila kita harus benar2 berpisah, adek bahkan semakin mantab mengambil keputusan ini, adek gak bisa mempercayai orang yang begitu saja ingkar akan salah satu tanda2 kuasa Nya, cukuplah adek malas berdebat lagi dengan orang seperti itu, jadi adek minta ini menjadi kali terakhir kita dapat bertemu
Gue : Baiklah, kita tunggu saja akan menjadi seperti apa kamu nantinya dengan tetap mempercayai sebuah takdir itu, dengan orang berengsek yang telah kamu pilih itu apakah hidupmu nanti akan menjadi lebih baik, semoga suatu saat nanti kamu tak pernah menyesal atas apa yang pernah kamu katakan pada hari ini, (pernyataan ini sebenarnya hanyalah sekedar luapan kekesalan gue waktu itu, karena gue gak bisa menerima keputusan Astri, namun sangat gue sesali bahwa disuatu saat ternyata ini malah menjadi do’a untuknya)
Astri : Bagaimana sang takdir nanti menggariskan kehidupannya untuku, bukan Mas lah yang berhak mengomentarinya, karena bagi adek takdir itu selalu benar dan tak pernah salah dalam memilih
Hari itu mungkin menjadi salah satu hari terburuk dalam hidup gue, Dimana gue harus mendapatkan sebuah kenyataan pahit bahwa harapan gue untuk bisa lebih dekat menuju pelaminan bersama Astri dapat begitu saja sirna karena sebuah alasan yang tak sanggup gue terima, sebelum emosi gue tambah meledak gue putuskan untuk segera pulang, namun belum juga gue meninggalkan rumah Astri, justru datang dua orang tamu yang gue kenali mereka diantaranya adalah Wira dan Endra, ada perlu apa mereka datang kesana? segera gue standardkan motor dan menghadang kehadiran mereka, berikutnya terjadilah adu argument antara kita
Quote:
Wira : Eh njing ngapain lo masih berani keliaran disini? mau cari mati lo
Gue : Adanya lo tuh yang gue tanya, ada perlu apa lo datang kemari, berada jauh dari habitat lo mau gue bikin muka lo jadi bonyok lagi
Wira : Hahaha gak usah mimpi woi anjing! adanya lo tuh yang pantas khawatir, disini itu kampung gue, dan lagipula ini adalah rumah calon mempelai gue, lo paham kan sekarang! (ya akhirnya gue baru tau jika Wira ternyata juga sekampung sama Astri juga Irfan dulu, dan terakhir gue juga baru tahu bahwa dialah orang itu, orang yang telah menghancurkan mimpi2 gue, si brengsek anak kepala desa yang telah merenggut kehormatan Astri)
Gue : Jika benar begitu berarti klop sudah, kebetulan gue lagi butuh pemanasan dan sedikit olah raga nih
Tantangan gue tentu saja langsung berbalas, dan seperti biasa sangat mudah untuk gue bisa mengatasi serangan Wira, setelah lama gak ketemu rupanya dia masih sama seperti dulu, masih cemen untuk masalah berkelahi, lawan terberat justru pada Endra, beberapa kali seranganya telak mengenai muka gue, sedang tak pernah sekalipun gue dapat membalasnya, perkelahian itu akhirnya berakhir setelah dilerai oleh Mas Nugie dan beberapa orang tetangga, segera setelah itu kami disuruh masuk untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan
Quote:
Mas Nugie : Baiklah sekarang gue minta buat kalian semua tenang, kita selesaikan masalah ini secara kekeluargaan, pertama gue tanya ke lo dulu Ndra apa maksud dan kedatangan lo kesini lagi setelah dulu banyak memberi kerugian kepada kami, kedua lo Wir bisakah lo menjadi sedikit lebih dewasa, apa yang mau coba lo tunjukin dengan ribut2 di depan rumah calon mempelai lo sendiri, dan ketiga lo Gri setelah yang udah tadi gue dan Astri sempet sampaikan seharusnya lo udah bisa mengerti kan, cukup untuk tak mencampuri urusan keluarga kami lagi
Endra : Gue kesini bermaksud mengembalikan uang yang dulu pernah gue ambil Gie, sejak gue ambil dulu jujur belum pernah sekalipun gue pake dan gue belanjakan, jumlahnya masih sama seperti dulu, sekaligus gue sekalian ingin minta maaf kepada lo karena telah merusak kepercayaan yang dulu pernah lo kasih untuk gue, dan terakhir kepada Astri karena gue lah dia harus bernasib seperti ini, jika waktu itu dia gak ikutin gue semua gak akan mungkin terjadi seperti ini
Mas Nugie : Baiklah gue maafkan, walau sebenarnya gue sangat2 menyayangkan bahwa lo dulu bisa setega itu, untuk Astri mungkin sudah takdirnya memang seperti itu, gue gak bisa hanya salahin lo! terus lo Wir?
Wira : Tadi sebenernya gue dateng kesini gak mau ribut Bang, dia nya aja yang duluan manas2in kami sehingga terjadilah itu semua
Mas Nugie : Entahlah Wir apakah gue masih bisa maklum, tingkah lo seharusnya bisa lebih dewasa mengingat umur lo yang juga udah tua, tapi melihat lo tadi justru terlihat seperti seorang bocah daripada pantas disebut dewasa, dan selanjutnya lo Gri?
Gue : Apakah itu masih perlu ditanyakan Mas, bukankah sudah jelas apa yang menjadi alasan kenapa gue harus berbuat demikian, dialah orang yang sudah tega menghancurkan mimpi gue untuk membahagiakan Astri, jadi sangat masuk akal bagi gue jika dia mendapatkan sedikit pelajaran
Wira : Heh anjing, yang ada lo tuh yang telah menghancurkan impian gue dulu untuk jadi seorang tentara, karena lo gue jadi gak bisa lulus dan dikeluarkan sekolah, karena lo kehidupan dan masa depan gue juga turut hancur
Gue : Dengan orang seperti lo, itu adalah takdir yang pantas untuk diterima, jadi jangan hanya salahin gue, lagian kasihan untuk Negara ini jika mempunyai prajurit banci macem lo
Wira : Asu, lo emang gak tau siapa gue ya, kasihan! bokap gue adalah mantan pensiunan TNI berpangkat mayor, dia bisa aja loh rubah hidup lo jadi ancur sekarang, bahkan nyawa lo bisa aja beliau ambil bila beliau mau
Gue : Hahaha, sungguh jawaban bodoh dari seorang anak tentara berpangkat mayor, kasihan buat orang tua lo karena gak mampu mendidik anaknya sedikit lebih berguna, bocah labil yang hanya bisa mengadu kepada orang tuanya, bagi gue hanya seperti kotoran yang keberadaan nya hanya merusak pemandangan, mengganggu dengan baunya yang busuk, dan tentunya adanya dia sama sekali tak memiliki sebuah manfaat, lo hanya seorang bocah manja yang berlindung dibelakang topi baret dan jubah loreng bokap lo untuk gaya2an, sedang nyali lo sendiri hanya setipis kertas, tanpa sebuah wibawa lo hanya akan jatuh menjadi seorang pecundang, gue jadi kasihan dengan Astri yang telah menggantungkan harapanya kepada orang konyol seperti lo, sumpah gue gak rela bila gue harus kalah bersaing dari lo, orang yang sama sekali gak mempunyai nilai
Wira : Baik, setelah ini kita lihat aja apa yang bisa gue lakukan untuk lo, apakah lo masih akan bisa pulang dengan selamat, gue akan buat perhitungan dengan mulut kurang ajar lo itu
Gue : Ngapa harus nunggu nanti, sekarang aja woi!