- Beranda
- Stories from the Heart
Alonim
...
TS
akridaus277
Alonim
Spoiler for Cover:
Quote:
Daftar isi :
Part 1 - Frontline Syndrome
Part 2.1 - Rabu Malam, Malam Game Online
Part 2.2 - Traktiran
Part 2.3 - Untuk Thor
Part 2.4 - Restoran Pizza
Part 2.5 - Wild Tanngrisnir
Part 3.1 - Tentangku
Part 3.2 - "Rekan Satu Tim"
Part 3.3 - Gadis yang Hilang
Part 3.4 - Tukang Pos
Part 3.5 - 405 atau 406
Part 4.1 - Merasa Unik
Spoiler for Credit:
Diubah oleh akridaus277 04-03-2018 14:01
anasabila memberi reputasi
1
5.4K
32
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akridaus277
#20
Part 2 .4 - Restoran Pizza
Muncullah Reza dari balik pintu itu lalu menuju ke arah Aku dan Rani.
“Ayo, bro, kita berangkat,” ujar Reza.
“Ayo, Ran, kamu juga ikut,” ajakku.
“Ehhh?!?!” Rani dan Reza terkejut.
“Sudahlah ikut saja, nanti kita minta pizzanya dibuat enam potong,” ucapku.
“Aku ingin menyelesaikan ini secepat mungkin jadi diam dan lihat saja,” bisikku di telinga Rani.
“Pfftt... ekhm...” Reza menahan senyuman kudanya.
“Oy! Hentikan senyumanmu yang mirip Sofi itu ! Apapun yang ada di pikiranmu sekarang segeralah buang semua itu,” ujarku.
“Ok ok aku paham Tom, ayo berangkat,” ujar Reza mengedipkan matanya padaku.
“Sudah kubilang buang!”
Aku, Rian, Reza, Diki, Rico, dan Rani pergi ke restoran pizza di pusat kota. Letaknya tidak jauh dari sekolah kami. Hanya perlu naik angkot sekali dan itupun hanya butuh waktu sektar sepuluh menit untuk sampai di sana. Restoran ini tidak terlalu besar namun terkenal di kalangan pelajar, karena mereka menyediakan diskon khusus untuk para pelajar. Bukan harganya saja yang bisa dijangkau namun kualitas pizzanya pun tidak kalah dengan restoran-restoran pizza besar lainnya. Di atas pintu masuk restoran ini terpampang jelas logo restoran dengan gemerlap lampunya yang menghiasi dan di samping pintu masuknya terdapat papan berdiri yang tertulis menu-menu spesial hari ini. Beruntungnya porsi large dan extra cheese tertulis jelas di papan itu hari ini. Begitu masuk, Rico yang memesan dan kami berlima mencari tempat. Kulihat jam tanganku kini menunjukkan pukul 16:43. Begitu kami berlima duduk tidak lama kemudian Rani pergi ke toilet dan bersamaan dengan itu Rico datang.
“Hey! Si Kucing Manis ini rupanya berani juga gebet Rani,” Rian mengejekku.
“Hah?!?” Teriak Diki dan Rico.
“Jahat sekali kau, Tom, meninggalkan teman seperjuangan jomblomu ini mati kesepian,” ucap Rico.
“Aku iri, hiks,” Diki tersedu.
“Bukan!!!!” ujarku kesal.
“Dengar, perempuan itu mendesakku dengan licik agar aku mau mengikuti keinginannya, jika tidak harga diriku akan tercabik-cabik,” jelasku.
“Hmmm..... Aku mengerti, Tom, jadi kau lebih condong ke tipe M,” ucap Rico.
“Bukan!!! Ya ampun, sebenarnya apa yang terjadi di dalam otak kalian,” keluhku.
Obrolan terus berlanjut dari topik kesalahpahaman sampai taktik menaklukan tim lawan dalam game online yang kami mainkan kemarin. Saking asyiknya mengobrol kami hampir tidak sadar bahwa sedari tadi Rani belum kunjung kembali dari toilet. Pizza yang kami pesan sudah datang dan kami memakannya duluan sebelum Rani datang karena suara perut kami saat itu saling bersahutan seperti vocal grup sedang pentas. Aku melihat Rani berjalan ke arah kami dengan senyuman bahagia tapi matanya sedikit sembab. Apa karena dia kurang tidur ya? Tidak ada yang melihat kedatangannya kecuali aku.
“Waahh, curang makan duluan!” ucap Rani mengejutkan.
“Sorry nih kita udah makan sebagian, tapi punyamu masih utuh kok,” ucap Diki.
“Iya iya Dik, aku bisa melihatnya,” balas Rani.
“Eh ngomong-ngomong kalian suka main game online tembak-tembakan ya?” tanya Rani.
“Wah kau tahu dari mana, Ran?” tanya Rico.
“Adikkku juga suka main game itu,” jawab Rani.
“Hehehe, ada sesuatu yang menarik loh, Ran, mau tahu?” ucap Rian.
“Eh apaan?” tanya Rani penasaran.
“Tebak siapa dari kami yang memiliki nama akun ‘Adorable Cat’,” tantang Rian.
“Hmmm... Tomi?” Rani menebak seolah-olah tidak tahu.
“Hahaha tepat sekali,” gelak tawa segera mengiringi tebakan Rani itu.
“Kau pasti sudah menguping obrolan kami waktu di kantin, jangan pura-pura tidak tahu! Perempuan ini sungguh menyebalkan!”
“Ayo, bro, kita berangkat,” ujar Reza.
“Ayo, Ran, kamu juga ikut,” ajakku.
“Ehhh?!?!” Rani dan Reza terkejut.
“Sudahlah ikut saja, nanti kita minta pizzanya dibuat enam potong,” ucapku.
“Aku ingin menyelesaikan ini secepat mungkin jadi diam dan lihat saja,” bisikku di telinga Rani.
“Pfftt... ekhm...” Reza menahan senyuman kudanya.
“Oy! Hentikan senyumanmu yang mirip Sofi itu ! Apapun yang ada di pikiranmu sekarang segeralah buang semua itu,” ujarku.
“Ok ok aku paham Tom, ayo berangkat,” ujar Reza mengedipkan matanya padaku.
“Sudah kubilang buang!”
Aku, Rian, Reza, Diki, Rico, dan Rani pergi ke restoran pizza di pusat kota. Letaknya tidak jauh dari sekolah kami. Hanya perlu naik angkot sekali dan itupun hanya butuh waktu sektar sepuluh menit untuk sampai di sana. Restoran ini tidak terlalu besar namun terkenal di kalangan pelajar, karena mereka menyediakan diskon khusus untuk para pelajar. Bukan harganya saja yang bisa dijangkau namun kualitas pizzanya pun tidak kalah dengan restoran-restoran pizza besar lainnya. Di atas pintu masuk restoran ini terpampang jelas logo restoran dengan gemerlap lampunya yang menghiasi dan di samping pintu masuknya terdapat papan berdiri yang tertulis menu-menu spesial hari ini. Beruntungnya porsi large dan extra cheese tertulis jelas di papan itu hari ini. Begitu masuk, Rico yang memesan dan kami berlima mencari tempat. Kulihat jam tanganku kini menunjukkan pukul 16:43. Begitu kami berlima duduk tidak lama kemudian Rani pergi ke toilet dan bersamaan dengan itu Rico datang.
“Hey! Si Kucing Manis ini rupanya berani juga gebet Rani,” Rian mengejekku.
“Hah?!?” Teriak Diki dan Rico.
“Jahat sekali kau, Tom, meninggalkan teman seperjuangan jomblomu ini mati kesepian,” ucap Rico.
“Aku iri, hiks,” Diki tersedu.
“Bukan!!!!” ujarku kesal.
“Dengar, perempuan itu mendesakku dengan licik agar aku mau mengikuti keinginannya, jika tidak harga diriku akan tercabik-cabik,” jelasku.
“Hmmm..... Aku mengerti, Tom, jadi kau lebih condong ke tipe M,” ucap Rico.
“Bukan!!! Ya ampun, sebenarnya apa yang terjadi di dalam otak kalian,” keluhku.
Obrolan terus berlanjut dari topik kesalahpahaman sampai taktik menaklukan tim lawan dalam game online yang kami mainkan kemarin. Saking asyiknya mengobrol kami hampir tidak sadar bahwa sedari tadi Rani belum kunjung kembali dari toilet. Pizza yang kami pesan sudah datang dan kami memakannya duluan sebelum Rani datang karena suara perut kami saat itu saling bersahutan seperti vocal grup sedang pentas. Aku melihat Rani berjalan ke arah kami dengan senyuman bahagia tapi matanya sedikit sembab. Apa karena dia kurang tidur ya? Tidak ada yang melihat kedatangannya kecuali aku.
“Waahh, curang makan duluan!” ucap Rani mengejutkan.
“Sorry nih kita udah makan sebagian, tapi punyamu masih utuh kok,” ucap Diki.
“Iya iya Dik, aku bisa melihatnya,” balas Rani.
“Eh ngomong-ngomong kalian suka main game online tembak-tembakan ya?” tanya Rani.
“Wah kau tahu dari mana, Ran?” tanya Rico.
“Adikkku juga suka main game itu,” jawab Rani.
“Hehehe, ada sesuatu yang menarik loh, Ran, mau tahu?” ucap Rian.
“Eh apaan?” tanya Rani penasaran.
“Tebak siapa dari kami yang memiliki nama akun ‘Adorable Cat’,” tantang Rian.
“Hmmm... Tomi?” Rani menebak seolah-olah tidak tahu.
“Hahaha tepat sekali,” gelak tawa segera mengiringi tebakan Rani itu.
“Kau pasti sudah menguping obrolan kami waktu di kantin, jangan pura-pura tidak tahu! Perempuan ini sungguh menyebalkan!”
0