- Beranda
- Stories from the Heart
Pelangi Sebelum Hujan
...
TS
8313090
Pelangi Sebelum Hujan
Quote:
Quote:
Diubah oleh 8313090 15-05-2017 09:43
anasabila memberi reputasi
1
6.1K
45
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
8313090
#21
Part 2
Mataku terjaga saat aku mendengar ketukan keras dari pintu kamarku. Suara ketukan ini biasanya aku dengar jika aku tidak memberikan jawaban dalam waktu singkat.
“Iya, sebentar!” teriakku dan mencoba bangun. Suara ketukan itu akhirnya berhenti, aku meminum kopi yang sudah dingin, setidaknya bisa memberikan aku sedikit tenaga.
Dengan langkah gontai, aku menuju pintu dan membukanya. Terlihat ibuku memakai pakaian gamis berwarna hijau, aku rasa, ibu akan pergi ke pengajian rutinnya. Wajahnya tersenyum kali ini, seperti ada yang aneh, tidak seperti biasanya dia tersenyum. Biasanya, hanya mengetuk pintuku dan sambil berteriak akan pergi.
“Ada apa, Bu?” tanyaku singkat.
“Itu ada temen kamu, Ibu juga bentar lagi mau ke pengajian.” Aku lupa bahwa Putri akan datang ke sini, aku terlalu lelap dalam tidur sampai-sampai lupa.
“Sudah lama datangnya, Bu?” tanyaku sambil sedikit menata rambutku di depan cermin.
“Ya, sekitar sepuluh menit yang lalu, selama Ibu mengetuk pintu ini kamu enggak bangun-bangun,” ucap ibu sambil berlalu.
Aku lalu mengambil gelas yang tinggal berisi seperempat kopi, kemudian keluar dari kamarku. Terlihat Putri sedang duduk di sofa dan sedang memainkan ponselnya, seperti membuang sepi.
Sebenarnya aku suka dengan putri. Ya, tapi seperti kebanyakan laki-laki di muka bumi ini, aku takut menghancurkan persahabatan karena cinta. Biarlah sahabat menjadi sahabat, lagian dia pula sudah bertunangan dengan laki-laki pilihannya, mungkin bukan pilihan, tapi dia yang lebih dulu melamarnya. Sudahlah lupakan.
“Eh Put, sudah lama duduk di situ?” tanyaku pada Putri.
“Ya, baru sampai sih sebenarnya, baru sampai sejam maksud aku,” jawabnya bercanda di sambut tawanya sendiri.
Aku menyimpan gelasku di meja depan Putri, dan pergi menuju kamar mandi untuk membuang sedikit keluh kesah yang mengganggu perut bagian bawahku. Ibuku terlihat sedang membuat secangkir minuman di dapur saat aku akan masuk ke kamar mandi.
Sedikit terbayang dibenakku wajahnya tadi, walau tanpa polesan bedak, dia tetap cantik seperti dulu. Andai saja, waktu itu aku tidak melewatkannya.
Tak lama aku keluar dan kembali ke ruangan tamu. Ibuku sedang berbincang dengan Putri. Entah apa yang mereka perbincangkan, tapi aku bisa melihat wajah Putri terlihat sedikit memerah. Aku pun duduk di sebelah ibuku.
“Lagi pada ngobrol apa, sih?” tanyaku sambil mengambil gelasku dan meminum kopi yang tersisa.
Senyum ibuku merekah seperti mendapat kabar baik. “Ini pacar kamu, ya? ... kok enggak pernah dikenalin sih,” ucap ibu yang sekarang membuat muka aku menjadi merah.
“Apaan sih, Bu ... Putri juga sudah tunangan, liat aja jari manisnya,” ucapku membela diri.
Putri kemudian mengacungkan kedua tangannya, dan tidak ada sebuah cincin yang melingkar. Jarinya begitu lucu, aku rasa jari-jari itu akan pas bila berada di genggaman tanganku. Aku berkhayal.
Tatapan ibu seperti meledek padaku saat dia tidak melihat apapun yang melingkar di jari-jari Putri. Aku hanya terdiam tanpa memikirkan hal itu, biarkan dia senang dengan drama yang disajikan oleh Putri. Toh, aku masih mengharapkan Putri lebih dari sahabat.
Tak lama, teman pengajian ibuku datang, aku rasa dua ibu-ibu dengan pakaian seragam dengan ibuku. Akhirnya, ibu pergi meninggalkan kami berdua. Tatapan mata putri pun tidak berubah saat memandang diriku. Aku tidak mau terlalu berharap padanya, aku takut.
“Kok, kamu enggak pakai cincin tunangan kamu sih?” tanyaku sebagai pembuka dari obrolan-obrolan ke depan.
Dia tersenyum, “Enggak, cuma iseng aja sih, lagian kalau kamu hubungin aku pasti ujung-ujungnya mau curhat.”
Ya, memang. Curhat denganmu bisa membuat aku sedikit bahagia, aku rasa bukan masalah curhatnya, tetapi di dekat dirimu aku bisa merasakan itu. Andai aku berani mengucapkan itu padanya.
“Aku mau curhat soal jodoh, kamu punya temen perempuan enggak yang bisa aku deketin?” tanyaku tanpa basa-basi.
“Eh, kalau itu ada sih temen aku, temen SD cuma sudah lama enggak ketemu,” ucap Putri sambil membuka ponsel melihat-lihat kontaknya. “Ngomong-ngomong, tumben kamu tanya soal perempuan gini, biasanya jarang,” lanjutnya.
Aku hanya tersenyum kecil karena malu, “Iya, soalnya aku tahu kamu sudah tunangan, aku kan ada rasa sama kamu,” ucapku sontak membuat pandangan Putri menatapku, “eh, maksudnya aku juga ingin nyusul kamu.”
Sial, kenapa bibirku mendadak menjadi liar begini. Tak lama tatapan Putri kembali melihat ponselnya, aku malu. Aku takut dengan kata-kataku barusan membuatnya menjadi tidak nyaman terhadapku.
“Ngomong-ngomong, hari ini sibuk enggak?” tanyaku mencoba melupakan hal tadi.
“Enggak kok, emang kenapa?”
“Aku mau curhat sih, tapi agak panjang,” ucapku sedikit meminta ijinnya.
“Em, boleh sih, paling aku pulang jam delapan, ya,” ucapnya menyetujui.
Aku melihat jam di dinding, tepat jam setengah lima sekarang. Aku pun sedikit meminum kopiku sebelum memulai berbicara panjang.
Putri pun akhirnya menyimpan ponselnya, “Sudah aku kirim nomor teleponnya, namanya Windi, orangnya agak dingin gitu deh, coba aja.”
Aku pun melihat ponselku yang memang sudah terdapat pemberitahuan pesan masuk dari Putri. Aku melihat nomor yang dia kirim, dan aku simpan kembali ponselku.
“Oke, sekarang masuk sesi curhat, yah,” ucapku pada Putri dan dibalas anggukan berhias senyumnya tanda meng-iya-kan.
“Iya, sebentar!” teriakku dan mencoba bangun. Suara ketukan itu akhirnya berhenti, aku meminum kopi yang sudah dingin, setidaknya bisa memberikan aku sedikit tenaga.
Dengan langkah gontai, aku menuju pintu dan membukanya. Terlihat ibuku memakai pakaian gamis berwarna hijau, aku rasa, ibu akan pergi ke pengajian rutinnya. Wajahnya tersenyum kali ini, seperti ada yang aneh, tidak seperti biasanya dia tersenyum. Biasanya, hanya mengetuk pintuku dan sambil berteriak akan pergi.
“Ada apa, Bu?” tanyaku singkat.
“Itu ada temen kamu, Ibu juga bentar lagi mau ke pengajian.” Aku lupa bahwa Putri akan datang ke sini, aku terlalu lelap dalam tidur sampai-sampai lupa.
“Sudah lama datangnya, Bu?” tanyaku sambil sedikit menata rambutku di depan cermin.
“Ya, sekitar sepuluh menit yang lalu, selama Ibu mengetuk pintu ini kamu enggak bangun-bangun,” ucap ibu sambil berlalu.
Aku lalu mengambil gelas yang tinggal berisi seperempat kopi, kemudian keluar dari kamarku. Terlihat Putri sedang duduk di sofa dan sedang memainkan ponselnya, seperti membuang sepi.
Sebenarnya aku suka dengan putri. Ya, tapi seperti kebanyakan laki-laki di muka bumi ini, aku takut menghancurkan persahabatan karena cinta. Biarlah sahabat menjadi sahabat, lagian dia pula sudah bertunangan dengan laki-laki pilihannya, mungkin bukan pilihan, tapi dia yang lebih dulu melamarnya. Sudahlah lupakan.
“Eh Put, sudah lama duduk di situ?” tanyaku pada Putri.
“Ya, baru sampai sih sebenarnya, baru sampai sejam maksud aku,” jawabnya bercanda di sambut tawanya sendiri.
Aku menyimpan gelasku di meja depan Putri, dan pergi menuju kamar mandi untuk membuang sedikit keluh kesah yang mengganggu perut bagian bawahku. Ibuku terlihat sedang membuat secangkir minuman di dapur saat aku akan masuk ke kamar mandi.
Sedikit terbayang dibenakku wajahnya tadi, walau tanpa polesan bedak, dia tetap cantik seperti dulu. Andai saja, waktu itu aku tidak melewatkannya.
Tak lama aku keluar dan kembali ke ruangan tamu. Ibuku sedang berbincang dengan Putri. Entah apa yang mereka perbincangkan, tapi aku bisa melihat wajah Putri terlihat sedikit memerah. Aku pun duduk di sebelah ibuku.
“Lagi pada ngobrol apa, sih?” tanyaku sambil mengambil gelasku dan meminum kopi yang tersisa.
Senyum ibuku merekah seperti mendapat kabar baik. “Ini pacar kamu, ya? ... kok enggak pernah dikenalin sih,” ucap ibu yang sekarang membuat muka aku menjadi merah.
“Apaan sih, Bu ... Putri juga sudah tunangan, liat aja jari manisnya,” ucapku membela diri.
Putri kemudian mengacungkan kedua tangannya, dan tidak ada sebuah cincin yang melingkar. Jarinya begitu lucu, aku rasa jari-jari itu akan pas bila berada di genggaman tanganku. Aku berkhayal.
Tatapan ibu seperti meledek padaku saat dia tidak melihat apapun yang melingkar di jari-jari Putri. Aku hanya terdiam tanpa memikirkan hal itu, biarkan dia senang dengan drama yang disajikan oleh Putri. Toh, aku masih mengharapkan Putri lebih dari sahabat.
Tak lama, teman pengajian ibuku datang, aku rasa dua ibu-ibu dengan pakaian seragam dengan ibuku. Akhirnya, ibu pergi meninggalkan kami berdua. Tatapan mata putri pun tidak berubah saat memandang diriku. Aku tidak mau terlalu berharap padanya, aku takut.
“Kok, kamu enggak pakai cincin tunangan kamu sih?” tanyaku sebagai pembuka dari obrolan-obrolan ke depan.
Dia tersenyum, “Enggak, cuma iseng aja sih, lagian kalau kamu hubungin aku pasti ujung-ujungnya mau curhat.”
Ya, memang. Curhat denganmu bisa membuat aku sedikit bahagia, aku rasa bukan masalah curhatnya, tetapi di dekat dirimu aku bisa merasakan itu. Andai aku berani mengucapkan itu padanya.
“Aku mau curhat soal jodoh, kamu punya temen perempuan enggak yang bisa aku deketin?” tanyaku tanpa basa-basi.
“Eh, kalau itu ada sih temen aku, temen SD cuma sudah lama enggak ketemu,” ucap Putri sambil membuka ponsel melihat-lihat kontaknya. “Ngomong-ngomong, tumben kamu tanya soal perempuan gini, biasanya jarang,” lanjutnya.
Aku hanya tersenyum kecil karena malu, “Iya, soalnya aku tahu kamu sudah tunangan, aku kan ada rasa sama kamu,” ucapku sontak membuat pandangan Putri menatapku, “eh, maksudnya aku juga ingin nyusul kamu.”
Sial, kenapa bibirku mendadak menjadi liar begini. Tak lama tatapan Putri kembali melihat ponselnya, aku malu. Aku takut dengan kata-kataku barusan membuatnya menjadi tidak nyaman terhadapku.
“Ngomong-ngomong, hari ini sibuk enggak?” tanyaku mencoba melupakan hal tadi.
“Enggak kok, emang kenapa?”
“Aku mau curhat sih, tapi agak panjang,” ucapku sedikit meminta ijinnya.
“Em, boleh sih, paling aku pulang jam delapan, ya,” ucapnya menyetujui.
Aku melihat jam di dinding, tepat jam setengah lima sekarang. Aku pun sedikit meminum kopiku sebelum memulai berbicara panjang.
Putri pun akhirnya menyimpan ponselnya, “Sudah aku kirim nomor teleponnya, namanya Windi, orangnya agak dingin gitu deh, coba aja.”
Aku pun melihat ponselku yang memang sudah terdapat pemberitahuan pesan masuk dari Putri. Aku melihat nomor yang dia kirim, dan aku simpan kembali ponselku.
“Oke, sekarang masuk sesi curhat, yah,” ucapku pada Putri dan dibalas anggukan berhias senyumnya tanda meng-iya-kan.
Diubah oleh 8313090 29-04-2017 06:16
0