- Beranda
- Stories from the Heart
My Master (Dewasa, BB+++++)
...
TS
balada.tante
My Master (Dewasa, BB+++++)
Kalau dibredel lagi sama momod ya berarti nasib
Ini cerita dewasa yak, jadi tanggung jawab ditanggung penumpang
Diusahain update tiap hari, kecuali weekend atau hari libur atau kalau pas ngga sempat
TS ngga menjawab pertanyaan pribadi
ps: kalau dibredel nanti dipindah tempat ke blog ane gan
alamatnya ada di bio ane gan
pps: ngga usah cari pesan moral dari cerita ini gan. karena emang ngga ada
Indeks
1. Suatu hari di musim semi
2. Pertemuan di Bibir Pantai
3. My Master
4. Dia yang Membuatku Terpana
5. Lahirnya Seorang Sub
6. Kesadaran
7. Adaptasi
8. Sang Guru
Ini cerita dewasa yak, jadi tanggung jawab ditanggung penumpang
Diusahain update tiap hari, kecuali weekend atau hari libur atau kalau pas ngga sempat
TS ngga menjawab pertanyaan pribadi
ps: kalau dibredel nanti dipindah tempat ke blog ane gan
alamatnya ada di bio ane ganpps: ngga usah cari pesan moral dari cerita ini gan. karena emang ngga ada
Indeks
1. Suatu hari di musim semi
2. Pertemuan di Bibir Pantai
3. My Master
4. Dia yang Membuatku Terpana
5. Lahirnya Seorang Sub
6. Kesadaran
7. Adaptasi
8. Sang Guru
Diubah oleh balada.tante 28-04-2017 06:45
rendicf memberi reputasi
6
232.8K
Kutip
118
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
balada.tante
#61
Dia yang Membuatku Terpana
Aku berjalan mengikuti Joe. Kupandangi figurnya dari belakang. Laki-laki yang sangat jangkung. Aku tidak tau berapa tingginya, yang jelas aku perlu menengadahkan kepalaku untuk menatapnya saat berdekatan. Badannya yang ramping dibalut kemeja putih, celana dan jas warna hitam. Aku menatap sepatu yang ia kenakan dan tersenyum. Orang yang cukup rapi tapi bukan freak tentang kebersihan dan keteraturan. Rambutnya kelabu menunjukkan usianya yang jauh lebih tua dariku. Ada sesuatu tentangnya, yang membuatku tertarik, yang membuatku merasa aman dan nyaman di dekatnya.
Tak sampai 5 menit berjalan kaki, Joe membuka gerbang kayu besar sebuah bangunan tua dan mempersilakan aku masuk. Setelah aku melangkahkan kaki ke halaman bangunan tua tersebut, ia menutup kembali gerbang besar itu. Ada sesosok patung laki-laki berjubah yang tingginya hampir 3 meter. Pada saat yang bersamaan, kami berdua menyapa patung itu.
„Hello.“
Dan kamipun terbahak menyadari kejadian tersebut. Joe kemudian menunjukkan arah dan membuka pintu kedua. Setelah aku melangkah masuk ke gedung itu, Joe kembali berjalan di depanku menapaki tangga kayu tua perlahan. Hingga akhirnya kami sampai di depan sebuah pintu dan ia membukanya.
“Selamat datang di rumahku, Tara.”, ucap Joe lembut.
Ah suara itu. Begitu lembut dan maskulin. Suara yang sangat menenangkan hatiku.
Perlahan aku melangkah masuk ke apartmentnya. Aku tidak punya bayangan, seperti apa seorang dom hidup. Apa rumah seorang dom biasa saja layaknya rumah orang lain, ataukah ala gothic yang menyeramkan?
Aku melepaskan jaket yang kukenakan. Joe memberiku hanger untuk menggantungkannya. Seperti paham atas apa yang ada di kepalaku, ia mengajakku berkeliling apartmentnya. Sebuah rooftop apartment yang cukup luas dan hampir tanpa sekatan. Sebuah tempat tidur kayu berwarna coklat ukuran queen terletak di satu sisi. Jejeran foto orang tua dan kedua anaknya menghiasi rak di sisi ranjang. Beberapa lemari besar mengisi sisi kamar. Langkahku terhenti di depan rak buku dan mulai mengamati koleksi bukunya, sementara ia menungguku sambil duduk di kursi goyang milik kakeknya yang ada di dekatku. Setelah puas melihat buku-buku tersebut ia menunjukkanku bagian lain apartmentnya. Tatapanku terhenti melihat sebuah lukisan yang tampaknya seorang dewi di dinding.
“Joe, ini siapa?”, tanyaku penasaran.
‘Aku ngga tau. Aku dikasih sama yang buat lama banget dan aku suka. Jadi waktu pindah sini aku simpan dan bawa. Memang kenapa ?’ tanyanya balik.
‘I might know this deity.’ Jawabku ringkas tanpa bicara lebih lanjut.
Setelah menunjukkan kamar mandi dan toilet, kami melangkah ke living room. Sama sepertiku, Joe tidak punya TV. Hanya ada sebuah sofa panjang, kursi berlapiskan kulit dan meja coklat tua yang berat. Di salah satu sisi tampak lagi-lagi rak buku besar dengan koleksi bukunya. Tak jauh dari bagian yang ia gunakan sebagai living room, terdapat sebuah meja makan kayu dari mahoni yang besar dengan 4 buah kursi di sekelilingnya. Di dinding tampak jejeran ijazah, sertifikat dan penghargaan yang ia kumpulkan selama hidupnya. Aku tersenyum melihatnya.
“Akhirnya aku menemukan orang yang juga hobi mengumpulkan ijazah. Bedanya aku ngga majang di dinding.”, ucapku sambil tertawa.
Joe hanya tersenyum geli dan membuka kulkas.
„Aku tidak menyangka akan ada tamu, aku ngga ada cemilan. Pilihanmu hanya 3 Tara, air putih, white atau red wine.“, tawarnya padaku sambil mengernyitkan kening menyadari kulkasnya kosong.
Aku menghampirinya di sisi dapur dan memandangi pilihan wine yang ia miliki. Sambil mengernyitkan dahi aku menimbang mana yang akan aku pilih untuk dibuka.
„Gewürztraminer, please.“, ucapku sambil memberikan botol pilihanku.
„Dasar cewek.“, godanya sambil membuka botol wine.
“Karena aku kurang suka pinot noir. Besok lagi kamu siapkan yang aku suka kalau gitu yak.”, godaku balik.
Joe menyorongkan gelas padaku dan mengajakku untuk duduk di balkonnya yang luas. Kami duduk di balkon sambil memandang sungai, menghisap rokok dan melanjutkan percakapan yang terputus.
“Joe, di atas tangga itu ada apa?”, tanyaku penasaran sambil menunjuk tangga yang terletak di dekat dapur.
“Kamar tamu.”, jawabnya.
“Aku boleh lihat ngga?”, pintaku.
“Boleh aja.”, jawabnya dan berdiri mengajakku ke atas.
“Males ah, kapan-kapan aja.”, jawabku enteng.
Joe hanya menggelengkan kepalanya.
„Kamu masih takut?“, tanyanya.
„Ya. Aku seperti membuka sebuah pintu, masuk ke dalamnya dan aku ngga tau apa yang menantiku.“, jawabku sambil menyesap minumanku. „Lihat Joe, ada bebek di sungai.“
„Dan kamu lebih tertarik untuk bicara tentang bebek di sungai?“, tanya Joe menahan senyum.
„Ngga sih. Tapi aku suka bebek.“, jawabku lugu.
„Ke mari Tara. Duduklah di pangkuanku.“, ucapnya sambil menggapai tanganku.
Tanganku dingin, kemaluanku lembab, jantungku berdesir kencang. Telapak tangan Joe yang besarnya hampir dua kali lipat telapak tanganku meraih lenganku dengan lembut dan pada saat yang sama memiliki kuasa yang sangat kuat untuk membuatku patuh. Aku duduk di atas pangkuannya dan tertunduk tersipu malu. Hal aneh, biasanya aku yang membuat orang lain tersipu malu dan grogi.
‘Boleh aku menciummu, Tara ?’, tanya Joe padaku sambil menelungkupkan kedua telapak tangannya di wajahku.
Aku tersipu malu dan mengangguk kecil.
„Boleh aku menciummu dengan caraku, Tara? Kalau kamu tidak suka, kamu bilang dan aku akan berhenti’, tanyanya lagi.
Kembali aku menganggukkan kepalaku.
Telapak tangannya melingkari leherku. Aku seketika merasa lumer dan tunduk pada laki-laki asing, bernama Joe yang baru kutemui sekitar 2 jam yang lalu. Lidahnya agresif memasuki setiap sudut mulutku. Pada saat itu, aku paham yang ia maksud dengan hubungan antara seorang dom dan sub. Tidak pernah sekalipun dalam hidupku, aku merasakan ciuman yang begitu powerful. Bukan sekedar napsu untuk merasakan tubuh seseorang, tapi untuk menyatukan jiwa.
Joe melepaskan ciumannya dan tersenyum melihatku tersengal-sengal dibuatnya. Aku turun dari pangkuannya dan terpuruk di kakinya.
„And…? Apa menurutmu?“, tanyanya ringan sembari menyalakan rokok setelah meneguk white wine di hadapannya.
Aku hanya bisa bengong, tak mampu berkata apapun. Seluruh tubuh dan jiwaku ingin untuk dimiliki oleh laki-laki ini.
Melihatku terbengong, Joe menyodoriku sebatang rokok dan menyalakannya. Setelah itu ia mengulurkan gelas minumanku.
„Take your time.“, ucap Joe lembut sambil membelai lembut rambutku.
Aku mengangguk dan menikmati belaian tangan kokohnya di rambutku.
“Kamu menikmatinya?”, Tanya Joe setengah menggodaku.
Aku kembali mengangguk dan menghembuskan asap rokok. Ia memandangiku dan menyodorkan asbak untukku. Kumatikan api rokokku dan membuka mulut untuk bicara. Tapi kalah cepat dengan Joe. Jemarinya yang tadi membelai lembut rambutku tetiba mencengkeram kuat dan telapak tangan lainnya berada di leherku. Joe menarik rambutku sehingga aku tidak lagi duduk di lantai. Aku berjongkok dengan rambut dijambak dan ia menundukkan kepalanya untuk menciumku sekali lagi. Ciumannya lebih ganas dari yang pertama. Tangannya menarik rambutku dan membuatku makin menengadahkan kepalaku.
Sambil tetap terus menjelajahi bagian dalam mulutku, Joe berdiri perlahan dan menarik rambutku. Beda tinggi kami yang lebih dari 1 kaki, membuatku makin menengadahkan wajahku untuk menerima ciumannya. Jemarinya menjelajahi tubuhku di balik gaun mini yang kukenakan. Kedua telapak tangannya menggenggam erat pantatku dan meremasnya. Lalu ia menelusupkan jemarinya ke kemaluanku yang sudah sangat basah. Tidak menunggu lama, aku baik. Joe tersenyum melihatku pasrah dalam kenikmatan yang ia berikan.
„Buka kakimu, Tara.“, perintah Joe tenang.
Aku pun melebarkan kedua kakiku. Joe memukul pelan bagian dalam kedua pahaku, membuatku makin melebarkan kaki. Lalu ia memainkan jemarinya di kewanitaanku sambil terus melumat bibirku. Di bawahku terdapat genangan kecil yang berasal dari sela kedua kakiku.
Quote:
Aku berjalan mengikuti Joe. Kupandangi figurnya dari belakang. Laki-laki yang sangat jangkung. Aku tidak tau berapa tingginya, yang jelas aku perlu menengadahkan kepalaku untuk menatapnya saat berdekatan. Badannya yang ramping dibalut kemeja putih, celana dan jas warna hitam. Aku menatap sepatu yang ia kenakan dan tersenyum. Orang yang cukup rapi tapi bukan freak tentang kebersihan dan keteraturan. Rambutnya kelabu menunjukkan usianya yang jauh lebih tua dariku. Ada sesuatu tentangnya, yang membuatku tertarik, yang membuatku merasa aman dan nyaman di dekatnya.
Tak sampai 5 menit berjalan kaki, Joe membuka gerbang kayu besar sebuah bangunan tua dan mempersilakan aku masuk. Setelah aku melangkahkan kaki ke halaman bangunan tua tersebut, ia menutup kembali gerbang besar itu. Ada sesosok patung laki-laki berjubah yang tingginya hampir 3 meter. Pada saat yang bersamaan, kami berdua menyapa patung itu.
„Hello.“
Dan kamipun terbahak menyadari kejadian tersebut. Joe kemudian menunjukkan arah dan membuka pintu kedua. Setelah aku melangkah masuk ke gedung itu, Joe kembali berjalan di depanku menapaki tangga kayu tua perlahan. Hingga akhirnya kami sampai di depan sebuah pintu dan ia membukanya.
“Selamat datang di rumahku, Tara.”, ucap Joe lembut.
Ah suara itu. Begitu lembut dan maskulin. Suara yang sangat menenangkan hatiku.
Perlahan aku melangkah masuk ke apartmentnya. Aku tidak punya bayangan, seperti apa seorang dom hidup. Apa rumah seorang dom biasa saja layaknya rumah orang lain, ataukah ala gothic yang menyeramkan?
Aku melepaskan jaket yang kukenakan. Joe memberiku hanger untuk menggantungkannya. Seperti paham atas apa yang ada di kepalaku, ia mengajakku berkeliling apartmentnya. Sebuah rooftop apartment yang cukup luas dan hampir tanpa sekatan. Sebuah tempat tidur kayu berwarna coklat ukuran queen terletak di satu sisi. Jejeran foto orang tua dan kedua anaknya menghiasi rak di sisi ranjang. Beberapa lemari besar mengisi sisi kamar. Langkahku terhenti di depan rak buku dan mulai mengamati koleksi bukunya, sementara ia menungguku sambil duduk di kursi goyang milik kakeknya yang ada di dekatku. Setelah puas melihat buku-buku tersebut ia menunjukkanku bagian lain apartmentnya. Tatapanku terhenti melihat sebuah lukisan yang tampaknya seorang dewi di dinding.
“Joe, ini siapa?”, tanyaku penasaran.
‘Aku ngga tau. Aku dikasih sama yang buat lama banget dan aku suka. Jadi waktu pindah sini aku simpan dan bawa. Memang kenapa ?’ tanyanya balik.
‘I might know this deity.’ Jawabku ringkas tanpa bicara lebih lanjut.
Setelah menunjukkan kamar mandi dan toilet, kami melangkah ke living room. Sama sepertiku, Joe tidak punya TV. Hanya ada sebuah sofa panjang, kursi berlapiskan kulit dan meja coklat tua yang berat. Di salah satu sisi tampak lagi-lagi rak buku besar dengan koleksi bukunya. Tak jauh dari bagian yang ia gunakan sebagai living room, terdapat sebuah meja makan kayu dari mahoni yang besar dengan 4 buah kursi di sekelilingnya. Di dinding tampak jejeran ijazah, sertifikat dan penghargaan yang ia kumpulkan selama hidupnya. Aku tersenyum melihatnya.
“Akhirnya aku menemukan orang yang juga hobi mengumpulkan ijazah. Bedanya aku ngga majang di dinding.”, ucapku sambil tertawa.
Joe hanya tersenyum geli dan membuka kulkas.
„Aku tidak menyangka akan ada tamu, aku ngga ada cemilan. Pilihanmu hanya 3 Tara, air putih, white atau red wine.“, tawarnya padaku sambil mengernyitkan kening menyadari kulkasnya kosong.
Aku menghampirinya di sisi dapur dan memandangi pilihan wine yang ia miliki. Sambil mengernyitkan dahi aku menimbang mana yang akan aku pilih untuk dibuka.
„Gewürztraminer, please.“, ucapku sambil memberikan botol pilihanku.
„Dasar cewek.“, godanya sambil membuka botol wine.
“Karena aku kurang suka pinot noir. Besok lagi kamu siapkan yang aku suka kalau gitu yak.”, godaku balik.
Joe menyorongkan gelas padaku dan mengajakku untuk duduk di balkonnya yang luas. Kami duduk di balkon sambil memandang sungai, menghisap rokok dan melanjutkan percakapan yang terputus.
“Joe, di atas tangga itu ada apa?”, tanyaku penasaran sambil menunjuk tangga yang terletak di dekat dapur.
“Kamar tamu.”, jawabnya.
“Aku boleh lihat ngga?”, pintaku.
“Boleh aja.”, jawabnya dan berdiri mengajakku ke atas.
“Males ah, kapan-kapan aja.”, jawabku enteng.
Joe hanya menggelengkan kepalanya.
„Kamu masih takut?“, tanyanya.
„Ya. Aku seperti membuka sebuah pintu, masuk ke dalamnya dan aku ngga tau apa yang menantiku.“, jawabku sambil menyesap minumanku. „Lihat Joe, ada bebek di sungai.“
„Dan kamu lebih tertarik untuk bicara tentang bebek di sungai?“, tanya Joe menahan senyum.
„Ngga sih. Tapi aku suka bebek.“, jawabku lugu.
„Ke mari Tara. Duduklah di pangkuanku.“, ucapnya sambil menggapai tanganku.
Tanganku dingin, kemaluanku lembab, jantungku berdesir kencang. Telapak tangan Joe yang besarnya hampir dua kali lipat telapak tanganku meraih lenganku dengan lembut dan pada saat yang sama memiliki kuasa yang sangat kuat untuk membuatku patuh. Aku duduk di atas pangkuannya dan tertunduk tersipu malu. Hal aneh, biasanya aku yang membuat orang lain tersipu malu dan grogi.
‘Boleh aku menciummu, Tara ?’, tanya Joe padaku sambil menelungkupkan kedua telapak tangannya di wajahku.
Aku tersipu malu dan mengangguk kecil.
„Boleh aku menciummu dengan caraku, Tara? Kalau kamu tidak suka, kamu bilang dan aku akan berhenti’, tanyanya lagi.
Kembali aku menganggukkan kepalaku.
Telapak tangannya melingkari leherku. Aku seketika merasa lumer dan tunduk pada laki-laki asing, bernama Joe yang baru kutemui sekitar 2 jam yang lalu. Lidahnya agresif memasuki setiap sudut mulutku. Pada saat itu, aku paham yang ia maksud dengan hubungan antara seorang dom dan sub. Tidak pernah sekalipun dalam hidupku, aku merasakan ciuman yang begitu powerful. Bukan sekedar napsu untuk merasakan tubuh seseorang, tapi untuk menyatukan jiwa.
Joe melepaskan ciumannya dan tersenyum melihatku tersengal-sengal dibuatnya. Aku turun dari pangkuannya dan terpuruk di kakinya.
„And…? Apa menurutmu?“, tanyanya ringan sembari menyalakan rokok setelah meneguk white wine di hadapannya.
Aku hanya bisa bengong, tak mampu berkata apapun. Seluruh tubuh dan jiwaku ingin untuk dimiliki oleh laki-laki ini.
Melihatku terbengong, Joe menyodoriku sebatang rokok dan menyalakannya. Setelah itu ia mengulurkan gelas minumanku.
„Take your time.“, ucap Joe lembut sambil membelai lembut rambutku.
Aku mengangguk dan menikmati belaian tangan kokohnya di rambutku.
“Kamu menikmatinya?”, Tanya Joe setengah menggodaku.
Aku kembali mengangguk dan menghembuskan asap rokok. Ia memandangiku dan menyodorkan asbak untukku. Kumatikan api rokokku dan membuka mulut untuk bicara. Tapi kalah cepat dengan Joe. Jemarinya yang tadi membelai lembut rambutku tetiba mencengkeram kuat dan telapak tangan lainnya berada di leherku. Joe menarik rambutku sehingga aku tidak lagi duduk di lantai. Aku berjongkok dengan rambut dijambak dan ia menundukkan kepalanya untuk menciumku sekali lagi. Ciumannya lebih ganas dari yang pertama. Tangannya menarik rambutku dan membuatku makin menengadahkan kepalaku.
Sambil tetap terus menjelajahi bagian dalam mulutku, Joe berdiri perlahan dan menarik rambutku. Beda tinggi kami yang lebih dari 1 kaki, membuatku makin menengadahkan wajahku untuk menerima ciumannya. Jemarinya menjelajahi tubuhku di balik gaun mini yang kukenakan. Kedua telapak tangannya menggenggam erat pantatku dan meremasnya. Lalu ia menelusupkan jemarinya ke kemaluanku yang sudah sangat basah. Tidak menunggu lama, aku baik. Joe tersenyum melihatku pasrah dalam kenikmatan yang ia berikan.
„Buka kakimu, Tara.“, perintah Joe tenang.
Aku pun melebarkan kedua kakiku. Joe memukul pelan bagian dalam kedua pahaku, membuatku makin melebarkan kaki. Lalu ia memainkan jemarinya di kewanitaanku sambil terus melumat bibirku. Di bawahku terdapat genangan kecil yang berasal dari sela kedua kakiku.
Diubah oleh balada.tante 21-04-2017 20:58
-1
Kutip
Balas