Pertemuan di Bibir Pantai
Quote:
Ada 3 orang yang membuatku tertarik untuk melanjutkan komunikasi. Alec, Joe dan Marc. Persamaan mereka bertiga adalah mereka semua cerdas. Karena itu aku tertarik.
Dengan Alec kami berdiskusi melalui email tentang agama, politik dan antiaging. Dia seorang peneliti yang punya cita-cita untuk menemukan elixir of life. Aku tertawa saat mengetahuinya. Aku sepakat untuk menemuinya di keesokan hari.
“Aku akan datang jam 12 siang.”, tulisku dalam email.
“Aku akan tunggu kamu di meeting point. Kasih fotomu dong biar aku bisa kenali kamu.“, pintanya.
Aku menolak permintaannya dan sebaliknya memintanya untuk mengirim fotonya.
„Kamu pasti akan segera mengenaliku.“, balasku lewat email.
Keesokan harinya aku berdandan sedikit berbeda. Hari masih cukup dingin walau matahari bersinar cerah. Aku putuskan untuk memakai trench coat. Aku agak deg-degan.
„Sudah lama aku tidak melakukan hal ini. I wonder how it would be.“, pikirku dalam hati.
Aku melangkah dengan tenang menuju tempat bertemu yang telah kami sepakati. Dari jauh aku melihat sesosok laki-laki jangkung mengepit sebuah koran di ketiaknya. Laki-laki tampak kebingungan mencari-cari seseorang. Aku berhenti sejenak, kunyalakan sebatang rokok dan menikmati pemandangan itu dari kejauhan.
„Ia tidak sadar sedang aku perhatikan.“, ucapku dalam hati.
Kumatikan api rokokku dan kudekati dia. Kusapa dengan senyum teruntai di wajahku.
„Hi Alec. Aku Tara.“, ucapku sambil mengulurkan tangan untuk menjabat tangannya.
Alec terperangah menatapku. Dia hanya dapat membalas sapaanku dan terus terbelalak memandangku. Aku gamit tangannya dan mengajaknya berjalan keluar.
„Jadi kita makan siang di mana?“, tanyaku.
“Di dekat sini ada tempat yang bagus, tidak jauh dari bibir pantai. Kamu mau ?’’, tanyanya balik.
Aku menjawab pertanyaannya dengan anggukan kecil. Kami pun berjalan sambil bergandengan tangan. Sepintas orang akan menyangka kami hanyalah satu dari sekian juta pasangan yang berjalan bersama penuh mesra.
„Kamu cantik sekali.“, pujinya sambil tersipu.
„Terima kasih.“, jawabku dengan senyum mengembang sembari menikmati makan siang.
„Aku sempat khawatir kalau kamu ternyata jelek atau aneh. One of those freaks. Aku ngga nyangka kamu secantik ini. Lebih cantik dari yang aku bayangkan.”, ucapnya jujur penuh kekagetan.
“Memangnya kenapa?”, tanyaku padanya. Alec hanya tau kalau aku member baru di situs itu dan aku pun tidak merasa perlu menjelaskan padanya bahwa aku sudah kenal lama dengan situs tersebut.
“Aku beberapa kali ketemu dengan cewek-cewek yang jelek, gendut, bau. Jauh berbeda denganmu. Lebih heran lagi karena kamu mau datang ke sini. Biasanya kami para cowok yang akan bersedia mendatangi, memohon dan traktir. Kalian para cewek tinggal milih. Jadi aku ngga nyangka, yang mendatangi aku hari ini perempuan cantik yang harum. Aku sebetulnya sudah pasrah, kalaupun tidak seperti yang aku harapkan ya anggap saja aku ada teman buat makan siang.“, jawabnya malu-malu.
Aku tertawa geli mendengar jawabannya. „Sebagian orang lebih suka yang montok. Selama mereka bahagia kan ya ngga masalah. Judgement dari orang lain yang kerap membuat seseorang membenci dirinya sendiri. Dan tidak semua orang bisa beli parfum yang sesuai. As for lunch, aku ngga keberatan untuk bayar sendiri.“, jelasku.
Aku memang kurang suka dengan mereka yang menilai seseorang dari fisik luarnya, apalagi sambai membully. Aku juga lebih memilih kebebasanku, karena itu aku lebih suka membayar sendiri apa yang aku butuhkan, termasuk makan siangku saat itu.
“Please, biarkan aku traktir makan siangmu, Tara. Anggap saja ini undanganku untukmu yang meluangkan waktu sejam naik kereta untuk menemuiku.”, pintanya.
Akupun tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Kemudian kami berjalan menyusuri pantai . Kami menyempatkan diri untuk duduk di pantai menikmati matahari.
‘Di saat seperti ini, aku sangat merindukan kampungku yang selalu bermandikan matahari.‘, ucapku perlahan sambil duduk di pangkuannya.
Tangan Alec menelisik di balik mantel dan kemejaku. Ia mulai menciumi leher dan telingaku.
‘Ke tempatmu yuk. ‘, ajakku sambil menarik tangannya.
‘Jalan atau naik taksi ?’, tanyanya dengan mata menelanjangi seluruh lekuk tubuhku.
‘Taksi. ‘, jawabku sambil tertawa.
Sepanjang perjalanan kami terus bercumbu. Begitu memasukin apartmentnya ia langsung melucuti pakaianku satu persatu.
‘Sorry, aku kebelet pipis.’, ucapku sambil nyengir.
Alec manyun dan menunjukkan kamar mandinya padaku. Setelah panggilan alam aku kembali menghampirinya dan melanjutkan hal yang tertunda.
‘Gosh, aku sudah lama banget ngga ml. I need it badly.’, batinku.
Setelah selesai, aku bergegas mandi dan mengucapkan selamat tinggal padanya.
“Kamu ngga perlu antar aku ke stasiun. Cukup kasih tau di mana aku bisa cari tram.“, ucapku sembari memakai baju.
„Kamu keren banget. Bener-bener no drama dan bahkan ngga perlu diantar pulang.“, jawab Alec sambil bengong.
Kami berciuman sambil mengucapkan selamat tinggal. Aku bergegas pulang.
„It was nothing special.“, pikirku dalam hati. “Lumayan lah bisa orgasme dikit.”
Di perjalanan aku menulis email ucapan terima kasih padanya sudah meluangkan waktu untukku. Setelah itu aku sibuk berbalas pesan dengan Joe.