- Beranda
- Stories from the Heart
OP Warnet Yang Ga Kalah Dengan Karyawan Kantoran
...
TS
ajindaa
OP Warnet Yang Ga Kalah Dengan Karyawan Kantoran

gambar dari blogspot.com
OP Warnet alias operator warnet adalah salah satu profesi yang kebanyakan dilakoni oleh anak muda cewek/cowok yang menganggap sebagai kerjaan sampingan sembari menuntut ilmu, kebanyakan OP Warnet ini pun j digeluti oleh mahasiswa/i untuk bisa nyambung hidup
. Tapi dibalik kerjaan yang lebih banyak berkutat di depan PC dan ngurutin kabel ini, punya suatu hal yang pastinya ga bisa dianggap remeh. Sebenarnya ini cerita lama dari tahun 2005an ketika ane baru menginjak bumi pertiwi depok tercinta, menjadi operator warnet jadi profesi yang rela untuk digeluti agar bisa buat dapetin duit demi menyambung hidup (namanya juga mahasiswa gan..
).Sebenarnya banyak cerita asem manis saat menjadi OP Warnet yang bisa kita ambil jadi pelajaran hidup, dari gaji yang saiprit sampai dengan jam tidur yang berkurang, Bahkan yang namanya jam makan aja selalu berubah-ubah tergantung dari waktu senggang. Tetapi dibalik itu semua ada kisah menarik yang sepertinya bisa ane bagikan di forum ini.
Index :
Quote:
Jadi jangan kemana-mana yah gan, tetep pentengin cerita petualangan ane saat jadi operator warnet.
Diubah oleh ajindaa 20-04-2017 13:53
anasabila memberi reputasi
1
6K
31
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ajindaa
#24
Part 1: Modal Nekat, Berbekal 1 Juta 800 Ribu Rupiah
Namaku .. (sebut saja “Irfan”) perantau asal Jawa yang pernah menimba ilmu di depok dengan sempet ngerasain suka duka menjadi Operator Warnet. Aku terlahir dari keluarga yang biasa-biasa aja gan, bahkan bisa dibilang keluarga yang pas-pas an. Ibuku yang setiap hari berprofesi sebagai “buruh tani” banting tulang demi menghidupi kedua anaknya, karena kebetulan “Ayah” sudah meninggal ketika aku mengenyam bangku kelas 1 SMP, tepatnya di tahun 1998. Sama dengan orang lain yang ane sendiri pun punya sederet cita-cita yang berharap bisa terlaksana. Hingga setelah lulus SMA memutuskan untuk melancong ke Jekardah alias Jakarta (awalnya sih kepingin lanjut kuliah).
Sebenarnya ini adalah keputusan yang lumayan berat karena harus meninggalkan ibu sendirian di kampung, meskipun ini meniti jalan demi bisa menggapai apa yang udah ane cita-citakan. Dan masih inget banget, saat itu dengan perasaan sedih dan senang yang campur aduk akhirnya meninggalkan kampung tercinta dengan berbekal uang Rp. 1.800.000,- ini pun bekal dari Ibu yang terpaksa harus memecang celengan. (karena orang kampung, masih belum mengenal Bank). Dengan berbekal uang segitu, akhirnya coba meluncur ke Jakarta dengan bermaksud siapa tau bisa ketemu kampus yang murah dan bisa ambil kuliah malam. Hingga akhirnya, tibalah ane di terminal kampung rambutan yang semasa itu masih belum sebagus sekarang. Melewati proses tanya alamat sana sini, akhrinya sampailah di rumah teman sekampung yang berlokasi di Depok agar bisa numpang beberapa hari dan bisa bantuin untuk cari kampus dengan budget yang murah.
Berbeda dengan calon mahasiswa pada umumnya, yang beberapa orang merantau demi menempuh bangku sekolah dengan banyak bekal. Ada yang meluncur menggunakan Koper dengan berbagai bekal, bahkan sampa diantar oleh kedua orang tua untuk cari tempat kos. (Enak Banget Gan..) Berusaha untuk mendaftar di beberapa kampus swasta, ternyata hasilnya pun belum sesuai dengan budget yang ane miliki. Sampai akhirnya harus merelakan keinginan untuk kuliah dengan menunda dan memilih untuk bekerja terlebih dahulu. (dengan maksud bisa cari tambahan). Sampailah di posisi melamar sebagai Operator Warnet yang waktu itu tepatnya di Kelapa Dua, Depok.
Sebenarnya ini adalah keputusan yang lumayan berat karena harus meninggalkan ibu sendirian di kampung, meskipun ini meniti jalan demi bisa menggapai apa yang udah ane cita-citakan. Dan masih inget banget, saat itu dengan perasaan sedih dan senang yang campur aduk akhirnya meninggalkan kampung tercinta dengan berbekal uang Rp. 1.800.000,- ini pun bekal dari Ibu yang terpaksa harus memecang celengan. (karena orang kampung, masih belum mengenal Bank). Dengan berbekal uang segitu, akhirnya coba meluncur ke Jakarta dengan bermaksud siapa tau bisa ketemu kampus yang murah dan bisa ambil kuliah malam. Hingga akhirnya, tibalah ane di terminal kampung rambutan yang semasa itu masih belum sebagus sekarang. Melewati proses tanya alamat sana sini, akhrinya sampailah di rumah teman sekampung yang berlokasi di Depok agar bisa numpang beberapa hari dan bisa bantuin untuk cari kampus dengan budget yang murah.
Berbeda dengan calon mahasiswa pada umumnya, yang beberapa orang merantau demi menempuh bangku sekolah dengan banyak bekal. Ada yang meluncur menggunakan Koper dengan berbagai bekal, bahkan sampa diantar oleh kedua orang tua untuk cari tempat kos. (Enak Banget Gan..) Berusaha untuk mendaftar di beberapa kampus swasta, ternyata hasilnya pun belum sesuai dengan budget yang ane miliki. Sampai akhirnya harus merelakan keinginan untuk kuliah dengan menunda dan memilih untuk bekerja terlebih dahulu. (dengan maksud bisa cari tambahan). Sampailah di posisi melamar sebagai Operator Warnet yang waktu itu tepatnya di Kelapa Dua, Depok.
0